Anda di halaman 1dari 20

HIPEPPIChENTASI

8y dr.TanIa |ayarInI
WanIta selalu IngIn tampIl cantIk dan penuh percaya dIrI,para wanIta selalu rutIn melakukan
perawatan dIdokterdokter kecantIkan untuk mendapatkan kulIt yang mulus dan bentuk
tubuh yang proporsIonal, salah satu factor yang serIng mengganggu kecantIkan kulIt adalah
HIperpIgmentasI. HIperpIgmentasI adalah kelaInan pIgmen melanIn dImana terjadI
penIngkatan jumlah melanIn pada kulIt . AkIbatnya akan tImbul bercak kecoklatan yang
bersIfat lokal / menyeluruh. 8Ila kelebIhan InI terbatas hanya pada lapIsan epIdermIs, kulIt
akan terlIhat lebIh coklat darIpada normal dan bIla terdapat pada lapIsan dermIs,kulIt akan
terlIhat lebIh abuabu atau bIru.
Penyebab hIperpIgmentasI dIbagI menjadI 2 garIs besar yaItu genetIk (keturunan) atau dapat
terjadI karena banyak faktor sepertI paparan sInar mataharI, bahan kImIa (mercury), obat
obatan (obat malarIa, amIodarone, antIbIotIc mInosIklIn, pIl K8,dll), post ImflamasI, penyakIt
kulIt (jerawat), penyakIt sIstemIk (penyakIt AddIson, penyakot cushIng) dll. StImulus utama
bagI pembentukan melanIn kulIt adalah radIasI ultravIolet. FadIasI U7 mengakIbatkan
penIngkatan produksI melanosom, dIIkutI dengan penIngkatan pIgmentasI pada lapIsan basal
epIdermIs, sehIngga warna kulIt menjadI coklat. ApabIla stImulasI InI dIhentIkan maka warna
coklat akan menghIlang dan mengelupas seIrIng pergantIan normal epIdermIs, namun bIla
paparan terjadI lebIh lama lagI maka warna coklat akan menetap. Penyebab laIn yang dapat
mengakIbatkan hIperpIgmentasI adalah kehamIlan. HIperpIgmentasI yang tImbul saat
kehamIlan dIsebut juga gravIdarum / mask of pregnancy yang bIasanya akan menghIlang
secara perlahanlahan setelah persalInan.

8anyak pIlIhan therapy yang dapat dIgunakan untuk mengatasI hIperpIgmentasI, darI hanya
sekedar penggunaan krIm-krIm topIkal yang bersIfat menghambat pertumbuhan melanIn
sehIngga tIndakan InvasIve yang dIlakukan oleh dokter. Penggunaan sunscreen setIap harI
dengan spf 15 atau lebIh juga perlu dIlakukan selama terapI. HydroquInone merupakan
komposIsI yang bIasa dIgunakan dalam mengatasI hIperpIgmentasI karena memIlIkI fungsI
menghambat TyrosInase dan bersIfat SItotoksIk terhadap melanIn. KomposIsI laIn yang bIasa
dIgunakan selaIn HydroquInone adalah KojIc AcId, TretInoIn Alfa dan 8eta Hydroxyl AcId,
ArbutIn 7ItamIn C, Ekstrak |ulberI dan FesolcInol. SelaIn penggunaan Cream topIcal, jenIs
perawatan laIn yang dapat mengatasI hIperpIgmentasI contohnya, ChemIcal PellIng dan
|esoteraphy menggunakan alat dIharapkan dapat memasukan obat dengan konsentrasI lebIh
tInggI. SelaIn hIperpIgmentasI faktor kegemukan juga menjadI salah satu penyebab kurang
percaya dIrI para wanIta, dewasa remaja maupun kaum bu. 0ewI Salon E Spa
memperkenalkan alat HIdrotherapy yang berfungsI untuk membantu proses detoxIfIkas,
menghancur kan lemak E mencerahkan kulIt secara menyeluruh.

KelebIhan / keunggulan alat Hydrotherapy :
atural Ultra Sound, mengeluarkan lebIh darI satu juta busa/gelembung (bubles)kecIl yang
setIap menIt berbenturan dengan yang laIn menghasIlkan frekuensI tenaga natural (ultra
sound) yang tInggI, dImana dapat memanaskan tubuh darI dalam sepertI layaknya perawatan
menyeluruh, membersIhkan, mempercantIk, membentuk tubuh dan merasakan sepertI habIs
berolah raga / exercIse.
Dzone (D2) dan Ion negatIve, alat SC 2000, mengeluarkan ratarata 0,6 PP| Dzone yang
mampu menghIlangkan bakterI dan bahan kImIa, menghasIlkan ar dan udara berkualItas yang
dapat membantu proses pembersIhan SC 2000, yang mengeluarkan Ion negatIve.
Far nfra |erah, FadIasInya meresap kedalam tubuh dan membantu memanaskan badan,
untuk melancarkan peredaran darah, menIngkatkan tenaga, sebagaI antI agIng E antI kanker.

HIdrotherapy dIlakukan setelah proses lulur, akan memberIkan hasIl yang lebIh maksImal dan
memuaskan karena dengan massage terlebIh dahulu akan membuat tubuh lebIh relax dan
santaI setelah menggunakan alat hydrotherapy. Selamat mencoba.
hLLp//dewlgrlyakulcardcom/flles/1411316686r433php















TUGAS PERO KERACUNAN N
DEBTuLIng deseuse
KERACUNAN DAN DEBILITATING DISEASE
Penyakit periodontal adalah suatu keadaan peradangan dan degencrasi dari
jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Etiologi penyakit periodontal sangat kompleks.
Para ahli mengemukakan bahwa etiologi penyakit periodontal dapat dikelompokkan dalam
dua kelompok yaitu faktor lokal dan faktor sistemik, faktor lokal dan faktor sistemik sangat
erat hubungannya dan berperan sebagai penyebab terjadinya kerusakan jaringan
periodontal. Umumnya, penyebab utama penyakit periodontal adalah faktor lokal; keadaan
ini dapat diperberat oleh keadaan sistemik yang kurang menguntungkan, yang
memungkinkan terjadinya keadaan yang progresif. Faktor lokal adalah faktor yang
berakibat langsung pada jaringan periodonsium.. Faktor sistemik sebagai penyebab
penyakit periodontal antara lain adalah pengaruh hormonal pada masa pubertas,
kehamilan, menopause, defisiensi vitamin, diabetes mellitus, keracunan, dan penyakit
sistemik lainnya yang merupakan faktor predisposisi.
KERACUNAN
Keracunan bisa diartikan sebagai masuknya bahan-bahan asing ke dalam tubuh, melewati
dosis yang dibutuhkan tubuh.
Keracunan dapat diklasifikasikan berdasarkan lima bahan penyebabnya yaitu makanan,
bahan kimia, pestisida, alam, dan obat-obatan. Kelima bahan penyebab ini dapat
dijabarkan lagi menjadi obat, napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif), kimia industri
dan rumah tangga, pestisida pertanian dan rumah tangga, makanan dan minuman, obat
tradisional, tanaman beracun, pencemar lingkungan, dan hewan berbisa.
Pada intinya, segala sesuatu yang mengandung zat pelarut kimiawi dapat mengakibatkan
keracunan bagi penggunanya jika tidak ditangani secara benar. Misalnya pada bahan kimia
rumah tangga, seperti detergen, sabun cuci, dan parfum. Atau pada pestisida rumah
tangga, seperti obat nyamuk dan racun tikus. Sedangkan racun alam, terdapat dalam
tanaman atau hewan beracun. Misalnya singkong beracun atau gigitan ular berbisa. Udara
yang dihirup manusia pun bisa menyebabkan keracunan jika terlalu banyak mengandung
karbon monoksida. Darah seharusnya mengikat oksigen, sehingga jika terlalu banyak
karbonmonoksida yang terhirup, maka zat itulah yang diikat darah, yang lalu menyebabkan
keracunan.
Dari contoh jenis-jenis keracunan tadi, disimpulkan keracunan dapat terjadi tak hanya
melalui mulut (oral) saja. Jalur paparan racun dapat masuk ke dalam tubuh juga bisa
melalui pernafasan, kontak dengan kulit atau mata, dan suntikan. Seseorang yang terkena
keracunan, akan mengalami gejala yang berbeda, sesuai dengan penyebabnya. Akan
tetapi, secara umum gejala-gejala keracunan bisa terlihat dari luka fisik seperti luka bakar
atau kemerahan di sekitar mulut dan bibir akibat menelan racun, atau bau nafas seperti
bahan kimia jika menelan cat atau minyak tanah.
Seseorang yang terkena keracunan, lanjutnya, akan mengalami gejala yang berbeda,
sesuai dengan penyebabnya. Akan tetapi, secara umum gejala-gejala keracunan bisa
terlihat dari luka fisik seperti luka bakar atau kemerahan di sekitar mulut dan bibir akibat
menelan racun, atau bau nafas seperti bahan kimia jika menelan cat atau minyak tanah.
Pencemaran logam berat paling banyak berasal dari limbah industri karena senyawa ini
sangat banyak dimanfaatkan oleh berbagai industri . Dengan demikian makin banyak
limbah industri yang mengandung senyawa ini menjadikan logam berat tersebut sebagai
zat toksik yang potensial .
Salah satu etiologi penyakit periodontal adalah keracunan. Keracunan dalam hal ini
mencakup keracunan logam berat seperti timah, bismuth, fosfor, arsen, dan merkuri.
Merkuri (Hg)
Merkuri adalah logam non radioaktif yang paling beracun yang ada di lingkungan. Sangat
beracun bagi manusia dan dalam jumlah berapa pun berbahaya bagi sel dan jaringan tubuh
manusia
Gejala yang muncul karena keracunan merkurium biasanya berlangsung dalam jangka
waktu yang lama dan didapat dari beberapa sumber berbeda, seperti :
Masalah gastrointestinal (saluran cerna), Masalah sistem syaraf, Demam, Kedinginan,
Lelah, Sakit kepala, nsomnia (sulit tidur), Depresi, Mati rasa, Gemetar, Detak jantung yang
tidak beraturan, Nyeri dada, Gusi berdarah, Gangguan sistem kekebalan, Lahir cacat,
Kemandulan, Kerusakan otak dan ginjal, Rasa cemas, Lidah yang sensitif, Rasa logam
pada mulut, Alergi, Pusing, Katarak, Penurunan daya ingat, Gugup, Kelumpuhan,
Berkurangnya pengelihatan dan pendengaran, Konstipasi (sulit buang air) kronik, Luka
pada kulit yang berulang, pikiran berkabut (penurunan daya ingat), Berbicara sendiri (jika
terpapar cukup lama secara ekstrim), Kesulitan bernafas, Perdarahan di mata, Vertigo,
Rasa sakit seperti tertarik antara rahang bawah dan tulang selangka, Sakit persendian,
Rasa sakit pada bagian pungung bawah, Lemah otot, Tertekan, Rasa sakit; Jarum pada
simpul limfa (getah bening) di bawah lengan dan lipatan paha, juga di daerah hati;
Meningkatnya kebutuhan tidur, Lingkaran seperti cincin berwarna abu-abu di sekitar kornea
mata, Sulit berkonsentrasi
!enyakit yang terkait dengan keracunan merkurium:
Alzheimer's, Semua jenis kanker, Epilepsi, Radang sendi (arthritis), Radang paru-paru
(pneumonia), Bronchitis, Radang gusi (gingivitis), Sakit persyarafan, Parkinson's Disease
(penyakit gangguan saraf progresif yang bersifat kronis), Multiple Sclerosis (gangguan pada
otak atau tulang belakang yang dapat menyebabkan lumpuh sebagian atau total), SLE =
Systemic Lupus Erythematosus (penyakit jaringan penghubung yang tidak diketahui
penyebabnya dan utamanya terjadi pada wanita dengan gejalanya seperti demam, kulit
kemerah-merahan, arthritis, anemia hemolitik akut,dll), Lymphoma (sejenis tumor yang
bersifat menular pada jaringan lymphoid), ALS = Amyotrophic Lateral Sclerosis (Lou
Gehrig's Disease), Leukemia, Sinusitis, Asma kronik, Hipertensi, ADD = Attention Deficit
Disorder (minimal brain dysfunction), Chrohn's Disease, Candidiasis, Glomerulonephritis
(penyakit pada ginjal), Autis (merkuriumnya berasal dari vaksin), SDS = Sudden nfant
Death Syndrome, Anemia, Dermatitis , Eksim, Psoriasis, Bruxism (gigi tumbuh tidak
rata/bergelombang), Fibromyalgia, Chronic Fatigue Syndrome, nsomnia (sulit tidur),
Epstein Barr (sejenis penyakit karena virus herpes yang menyebabkan infeksi
mononukleusis).
Tanda-tanda dan gejaIa keracunan akibat tercemar merkurium

Akut :
Radang paru-paru (pnemonitis), Bronchitis, Rasa sakit pada dada (dada sesak), Batuk,
Rasa seperti logam, Mual, Sakit pada bagian abdomen, Daire dan muntah, Sakit kepala,
Garis gelap pada gusi (karena merkurium sulfida), Gigi lepas (copot), Luka pada bibir dan
dagu, Gejala-gejala psikopatologis, Otot gemetar
Kronis ( pada muIut dan wajah ) :
Peradangan, Gusi berasa tawar, Radang gusi (gingivitis), Gigi lepas (copot) karena
kerusakan rongga gigi, Berkurang atau bertambahnya air liur, Stomatitis (radang mulut) dan
lidah gemetar, ritasi pada nasal, Epistaxis (perdarahan pada hidung), Gangguan selera
dan bau, Kehilangan nafsu makan, Wajah terlihat pucat
Keracunan akut air raksa menunjukkan gejala-gejala seperti berkurangnya pengeluaran air
seni sampai berhenti sama sekali,rasa haus, adanya rasa sakit dan terbakar pada
kerongkongan dan perut, pusing, penyempitan lapang pandang, tremor, muntah darah,
diarhea disertai lendir dan darah, sukar berbicara, menelan dan bernapas, nadi cepat dan
tidak teratur serta kulit pucat dan dingin. Sedangkan pada keracunan kronis akan tampak
gejala mirip Parkinsonism seperti terjadi perubahan kepribadian, tremor dan kejang,
albuminuria, radang selaput mata serta kebutaan, ketidakteraturan bunyi jantung, urtikaria,
erythema, polineuropati halusinasi, depresi mental dan lain-lain.
Pada rongga mulut, gejala keracunan air raksa akan menunjukkan gejala-gejala seperti
perubahan warna gusi menjadi abu-abu yang menyebar, stomatitis, gigi geligi menjadi
goyang, nekrosis tulang alveolaris, saliva menjadi kental, mulut terasa panas, rasa gatal
dan rasa logam di lidah, ulserasi pada membran mukosa, palatum, faring, lidah bengkak,
sakit dan mengalami ulserasi, kelenjar ludah dan limfe membengkak dan sakit,
hipersalivasi.
TimbaI hitam (!b)
Plumbum (Pb) dikenal pula dengan Timbal atau Timah hitam merupakan salah satu unsur
logam berat yang merupakan sumber pencemaran dan sifatnya mempunyai
kecenderungan untuk terakumulasi di dalam tubuh.
Peningkatan kepadatan arus lalu lintas kendaraan yang kebanyakan memakai bahan bakar
bensin atau premiks yang mengandung tetra ethyl lead atau tetra methyl lead, hasil
pembakarannya merupakan polusi yang banyak mengandung timah hitam (Pb).
Faktor sistemik logam berat dapat mengakibatkan penurunan resistensi jaringan
periodontal sehingga dapat mempercepat terjadinya penyakit periodontal.
Dari berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa Pb merupakan bahan yang toksik dan
karsinogenik yang banyak terdapat di udara, air, makanan serta minuman. Pencemaran Pb
ini akan masuk keseluruh tubuh melalui system pernafasan dan pencernaan, sedangkan
sulkus gingival merupakan jaringan lunak rongga mulut yang merupakan salah satu bagian
saluran pencernaan yang banyak mengandung bakteri gr ( -).
Di daerah rongga mulut keracunan Pb menimbulkan tanda dan gejala antara lain terjadi
inflamasi yang merata, perubahan warna gingival dan biasanya diikuti bercak hitam,
kegoyangan gigi, kerusakan tulang alveolar, pembengkaan kelenjar saliva, mulut kering,
kadang terjadi hipersalivasi juga disertai stomatitis yang hampir menyeluruh.
Timah (Sn)
Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Sn (bahasa
Latin: stannum) dan nomor atom 50. Unsur ini merupakan logam miskin keperakan, dapat
ditempa ("malleable"), tidak mudah teroksidasi dalam udara sehingga tahan karat,
ditemukan dalam banyak aloy, dan digunakan untuk melapisi logam lainnya untuk
mencegah karat. Timah diperoleh terutama dari mineral cassiterite yang terbentuk
sebagai oksida.
Jumlah kecil timah dalam makanan kaleng tidak berbahaya terhadap manusia. Senyawa
timah trialkil dan triaril berbahaya bagi makhluk hidup dan harus ditangani secara hati-hati.
timah juga digunakan dalam pembuatan grenjeng rokok(timah putih),pada longsongan
pelurui(timah hitam).
Dalam rongga mulut dan jaringan periodontal timah dapat mengakibatkan adanya
hiperpigmentasi (penambahan kadar pigmen) pada gingiva sehingga warna gingiva menjadi
kehitaman, hipersalivasi, ulserasi pada membrane mukosa, adanya rasa logam timah yang
khas.
Bismuth (Bi)
Bismut adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Bi dannomor
atom 83. Logam dengan kristal trivalen ini memiliki sifat kimia mirip
dengan arsendan antimoni. Dari semua jenis logam, unsur ini paling
bersifat diamagnetik dan merupakan unsur kedua setelah raksa yang memiliki konduktivitas
termal terendah. Senyawa bismut bebas timbal sering digunakan sebagai
bahan kosmetik dan dalam bidang medis.
Diantara logam berat lainnya, bismut tidak berbahaya seperti unsur-unsur tetangganya
seperti Timbal, Thallium,and Antimon.Dulunya, bismut juga diakui sebagai elemen dengan
isotop yang stabil, tapi sekarang sekarang diketahui bahwa itu tidak benar.Tidak ada
material lain yang lebih natural diamakentik dibandingkan bismut.Bismut mempunyai
tahanan listrik yang tinggi.Ketika terbakar dengan oksigen, bismut terbakar dengan nyala
yang berwarna biru. Orang yang terpapar berlebihan logam bismuth akan menyebabkan
lidah sakit seperti rasa terbakar, peradangan gingiva dan lidah, adanya hiperpigmentasi
(penambahan kadar pigmen) pada gingiva sehingga warna gingiva menjadi kehitaman,
stomatitis.
Arsenik
Peracunan arsenik dapat terjadi secara akut akibat konsumsi arsen berlebih atau kronis
akibat terpapar terus-menerus meski dalam kadar rendah (misalnya karena meminum air
yang terkontaminasi arsen melebihi batas ambang aman tertinggi).
Arsenik banyak digunakan dalam bidang medis sejak berabad-abad, dan digunakan
dengan luas dalam perawatan sifilis sebelum ditemukannya penisilin; lalu diganti dengan
pengobatan lain seperti obat sulfa dan kemudian antibiotik.
Masuknya arsenik dalam jumlah besar ke dalam tubuh secara mendadak menyebabkan
serangan akut berupa rasa sangat sakit perut akibat sistem
pencernaan rusak, muntah,diare, rasa haus yang hebat, kram perut, dan
akhirnya syok, koma, dan kematian. Paparan dalam jangka waktu lama, seperti meminum
air terkontaminasi arsen, dapat menyebabkan nafas berbau, keringat berlebih, otot lunglai,
perubahan warna kulit(menjadi gelap), penyakit pembuluh
tepi, parestesia tangan dan kaki (gangguan saraf),-ackfoot disease dan kanker kulit,
adanya hiperpigmentasi (penambahan kadar pigmen) pada gingiva sehingga warna gingiva
menjadi kehitaman.
Karbonmonoksida (CO)
Karbon monoksida (CO) merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa,
dan non-iritatif, yang densitasnya relatif sedikit lebih rendah dibandingkan dengan udara.
Sumber utama karbon monoksida pada kasus kematian adalah kebakaran, knalpot mobil,
pemanasan tidak sempurna, dan pembakaran yang tidak sempurna dari produk-produk
terbakar, seperti bongkahan arang
Karbon monoksida menyebabkan hipoksia jaringan dengan cara bersaing dengan oksigen
untuk melakukan ikatan pada hemeprotein pembawa oksigen
DEBILITATING DISEASE
Konsep yang menyatakan bahwa penyakit periodontal dapat mempengaruhi kesehatan
secara umumnya bukan merupakan suatu hal yang baru.
Manifestasi jaringan periodontal dari penyakit sistemik bervariasi tergantung penyakit
spesifik, respon individual dan faktor lokal yang ada. Faktor sistemik terlibat dalam penyakit
periodontal dengan saling berhubungan dengan faktor lokal. Faktor sistemik saja tidak bisa
menyebabkan respon keradangan pada penyakit periodontal,tetapi harus ada faktor lokal
yang mendukung.
Akibat !enyakit Tertentu
Penyakit periodontal juga disebabkan oleh adanya penyakit tertentu di luar organ mulut
yang terjadi di dalam tubuh, seperti gangguan-gangguan pada organ pernapasan, lambung,
usus, ginjal, maupun organ lainnya.
pneumonia, tuberkulosis, sipillis, osteomielitis, endokarditis, meningitis dan septicemia,
hipertensi, nefritis, rheumatik.
ATR
Asidosis tubulus renalis (ATR) atau Renal tubular acidosis (RTA) adalah suatu penyakit
ginjal (rhenal) khususnya pada bagian tubulus renalis-nya. Menurut sejumlah literaturilmiah
bidang kesehatan, penyakit ATR ini memang tergolong penyakit langka, dengan
manifestasi klinis yang tidak spesifik sehingga diagnosis sering terlambat.
Dalam keadaan normal, ginjal menyerap asam sisa metabolisme dari darah dan
membuangnya ke dalam urin. Pada penderita penyakit ini, bagian dari ginjal yang bernama
tubulus renalis tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga hanya
sedikit asam yang dibuang ke dalam urin. Akibatnya terjadi penimbunan asam dalam darah,
yang mengakibatkan terjadinya asidosis, yakni tingkat keasamannya menjadi di atas
ambang normal.
Penyakit asidosis jika dibiarkan bisa menimbulkan dampak berikut:
- Rendahnya kadar kalium dalam darah. Jika kadar kalium darah rendah, maka terjadi
kelainan neurologis seperti kelemahan otot, penurunan refleks dan bahkan
kelumpuhan.
- Pengendapan kalsium di dalam ginjal yang dapat mengakibatkan pembentukanbatu
ginjal. Jika itu terjadi maka bisa bisa terjadi kerusakan pada sel-sel ginjal dan gagal
ginjal kronis.
- Kecenderungan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan)
- Pelunakan dan pembengkokan tulang yang menimbulkan rasa nyeri (osteomalasia
atau rakitis). Juga terjadi pada tulang alveolar.
- Gangguan motorik tungkai bawah merupakan keluhan utama yang sering ditemukan,
sehingga anak mengalami keterlambatan untuk dapat duduk, merangkak, dan
berjalan.
- Kecenderungan gangguan pencernaan, karena kelebihan asam
dalam lambungdan usus, sehingga pasien mengalami gangguan penyerapan zat gizi
dari usus ke dalam darah. Akibat selanjutnya pasien mengalami keterlambatan
tumbuh kembang (delayed development) dan berat badan kurang
Biasanya dokter tidak dapat memastikan penyebab ATR. Namun diduga penyakit ini
disebabkan faktor keturunan atau bisa timbul akibat obat-obatan, keracunan logam berat
atau penyakit autoimun (misalnya lupus eritematosus sistemik atau sindroma Sjgren).
!enyembuhan
Sejauh ini dunia kedokteran belum menemukan obat atau terapi untuk
menyembuhkannya, karena penyakit ini tergolong sebagai kerusakan organ tubuh, seperti
penyakit diabetes mellitus (akibat kerusakan kelenjar insulin).
Sementara ini penanganan ATR baru sebatas terapi untuk mengontrol tingkat keasaman
darah, yaitu dengan memberikan obat yang mengandung zat bersifat basa (alkalin) secara
berkala (periodik), sehingga tercapai tingkat keasaman netral, seperti pada orang normal.
Zat basa ini mengandung bahan aktif natrium bikarbonat (bicnat).
Dilihat dari bentuknya, sedikitnya ada tiga jenis bicnat di pasaran ndonesia: tablet, bubuk,
dan cairan.
Jika pasiennya anak-anak, maka kalau menggunakan obat dalam bentuk tablet, tablet
tersebut harus digerus terlebih dulu sebelum digunakan. Setelah itu dicampur dengan air
matang, lalu diberikan kepada pasien. Sedangkan jika menggunakan bentuk bubuk dan
cairan, tinggal dicampur air matang lalu diberikan kepada pasien, sesuai dengan dosisyang
ditentukan dokter.
DIABETES MELLITUS
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme
karbohidrat dimana terjadi penurunan sekresi hormon insulin secara relatif maupun absolut
oleh pankreas ke dalam sirkulasi darah dan ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa
darah. Diabetes mellitus tipe 1 dan 2 jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan
timbulnya komplikasi pada beberapa organ tubuh berupa diabetik neuropati, retinopati,
nefropati, kardiopati, angiopati dan makrovaskuler. Diabetes mellitus yang tidak terkontrol
dengan baik akan menimbulkan manifestasi di rongga mulut, diantaranya adalah:
xerostomia, burning mouth syndrome, kandidiasis, infeksi bakteri, gingivitis, periodontitis
dan pembesaran kelenjar saliva. Secara radiografi penderita diabetes mellitus yang tidak
terkontrol dapat ditemukan adanya pelebaran celah ligamen periodontal, resorbsi tulang
alveolar pada rahang atas dan rahang bawah serta adanya mobiliti gigi yang lama
kelamaan akan mengakibatkan kehilangan gigi.
Hipertensi
Meskipun terdapat prevalensi yang tinggi untuk hipertensi pada populasi secara umum dan
kepentingan prognostiknya, namun hanya sedikit penelitian yang dilakukan untuk
mengetahui hubungan antara tekanan darah dan penyakit periodontal. Pada satu
penelitian, didapatkan hasil bahwa tekanan darah sistolik meningkat progresif sejalan
dengan keparahan penyakit periodontal, sedangkan tekanan darah diastolik tidak
menunjukkan perubahan yang signifikan.

Berikut ini akan disampaikan beberapa
mekanisme yang menghubungkan antara penyakit periodontal dan hipertensi, berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan terdahulu.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Castelli et al., ditemukan proliferasi tunika
intima dengan penyempitan lumen pembuluh darah yang mendarahi membran periodontal
pada subjek penelitian yang menderita hipertensi. Sementara pada penelitian lain, diketahui
bahwa posisi dan pergerakan gigi dipengaruhi oleh kekuatan tekanan darah yang melalui
pembuluh darah periodontal.
Massa ventrikel kiri jatung meningkat secara abnormal pada sekitar 1/3 orang yang
menderita hipertensi, dan hipertrofi ventrikel kiri (LVH) berkaitan dengan peningkatan resiko
komplikasi kardiovaskuler akibat tekanan darah dan faktor resiko lainnya. Massa ventrikel
kiri juga menunjukkan peningkatan progresif dengan keparahan penyakit periodontal. Pada
subjek yang menderita hipertensi, jantung yang mengalami hipertrofi dan periodontium
dapat bersama-sama mengalami disfungsi mikrosirkulasi dan penipisan dinding arteriol dan
kapiler. Tekanan berlebihan dapat menyebabkan timbulnya LVH dan menyebabkan
penyempitan diameter lumen pembuluh darah kecil secara menyeluruh. Penipisan vaskuler
yang terjadi dapat menyebabkan iskemi pada jantung dan jaringan periodontal.
Gigi yang lepas dapat menyebabkan perubahan pola diet, sehingga meningkatkan
resiko hipertensi karena adanya perubahan pola diet yang dapat berkaitan dengan
hipertensi. Dalam sebuah penelitian terhadap wanita postmenopasue, ditemukan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara gigi yang lepas dengan peningkatan resiko
hipertensi. Berdasarkan hubungan kausal, beberapa hipotesis dapat dipertimbangkan
sebagai mekanisme yang menghubungkan gigi yang lepas dan peningkatan resiko
hipertensi. Asupan beberapa makanan bergizi serta kadar beta-karoten, folat dan vitamin C
dalam serum secara signifikan lebih rendah pada pengguna gigi palsu di Amerika Serikat.
Penurunan vitamin antioksidan dalam serum seperti vitamin C pada wanita postmenopause
dengan gigi yang lepas dalam penelitian ini dapat menyebabkan meningkatnya resiko
hipertensi.

Subjek dengan gigi yang lepas memiliki resiko penyakit periodontal yang lebih
besar, sehingga menyebabkan disfungsi endotel akibat inflamasi akibat infeksi oral dan
meningkatkan resiko hipertensi.
Gigi yang lepas juga dapat mencerminkan riwayat stress mental terdahulu yang
dapat menyebabkan resiko hipertensi. Namun, belum ada penelitian yang dapat
mendukung hipotesis ini. Sementara itu, tidak ada perbedaan yang signifikan pada aktivitas
ACE plasma, aktivitas renin plasma, atau konsentrasi angiotensin dalam plasma antara
subjek dengan dan tanpa gigi yang lepas. Temuan ini menunjukkan bahwa mekanisme
yang menghubungkan gigi yang lepas dengan peningkatan resiko hipertensi tidak berkaitan
dengan sistem renin-angiotensin.
Beberapa obat hipertensi dapat mengakibatkan mulut kering atau mengganggu
indera pengecap. Golongan kalsium antagonis, kadang dapat menyebabkan gusi
membengkak dan menebal, hingga sulit mengunyah. Pada beberapa kasus, gingivektomi
mungkin diperlukan.

Perlu diperhatikan juga pada prosedur gigi yang membutuhkan
anestesi, terutama jika obat anestesi mengandung epinefrin. Penggunaan epinefrin pada
beberapa pasien hipertensi dapat menyebabkan perubahan kardiovaskular, angina,
serangan jantung, dan aritmia.
DAFTAR !USTAKA
http://www.clair.or.jp/tagengo/medical_pdf/id/M-D05-04-01.pdf.
http://www. wikipedia.com
www.cdc.gov/Features/DiabetesAlert/
hLLp//paradlpLablogspoLcom/2009/03/LugasperlokeracunanndeblllLaLlnghLml






saya dahulu perokok..dan saya merasa gusi saya sudah menghitam d sertai bibir saya..adakah cara untuk
mengembalikan itu semua? karena saya sudah 2 bulan tidak merokok..apakah cara pembersihan gusi dapat
menghilangkan noda hitam digusi saya? dan bagaimana untuk di bibir saya..

terima kasih

Sarah ~ jakarta
Answer:
Kehitaman di rongga mulut, sering terjadi pada gingiva. Kehitaman atau pigmentasi ini bisa terjadi secara normal,
misalnya karena faktor genetik. Namun derajat pigmentasi dipengaruhi oleh stimulasi mekanik, fisik dan kimia.
Ditinjau dari faktor genetik, orang kulit hitam lebih memiliki kemungkinan pigmentasi pada gusi. Meski jumlah
melanosit pada tiap ras tidak jauh berbeda, namun pigmentasi ditentukan oleh jumlah melanosit yang aktif. Sebab
lain gusi bisa menghitam diantaranya adalah aktifitas kelenjar hormon endokrin yang berlebihan, rokok, obat anti
malaria, obat tertentu seperti obat anti malaria, minosiklin, pil kontrasepsi, mentol dan paparan logam berat seperti
emas, bismuth, merkuri, perak, timah, timbal. Juga dialami semasa kehamilan, penderita hipertiroid dan juga pada
orang yang kekurangan nutrisi. Pada perokok beberapa zat pada tembakau memicu stimulasi melanoblas sehingga
terjadi hiperpigmentasi. Pigmentasi ini secara perlahan akan menghilang selama beberapa bulan setelah berhenti
merokok. Bibir yang hitam juga merupakan suatu tanda adanya kehitaman gusi, sebab penelitian mengatakan 95%
perokok dengan bibir yang hitam gusinya pun hitam. Jadi bila sebab utama yakni merokok sudah dihentikan serta
tidak ada faktor lain yang menyertai, namun warna gusi masih belum memuaskan, bisa dilakukan terapi atau
perawatan untuk mengembalikan warna gusi. Alternatif perawatan adalah bedah, kimia, kauterisasi gusi
(electrosurgical), atau prosedur bedah beku (cryosurgical). Salah satu contoh depigmentasi (mengurangi kehitaman
gusi) bisa dilakukan dengan menggunakan sinar laser hidrokinetik (Er,Cr YSGG laser),. Jadi dengan kombinasi laser
(20Hz; 1,75W - 1,5W) dengan 20-40% udara dan 12-5% semprotan air, digunakan untuk mengangkat pigmen gusi
tanpa berkontak dengan jaringan. Satu minggu kemudian jaringan sembuh dan enam bulan kemudian dilakukan
follow up, ternyata warna gusi bisa tetap normal (tidak kembali menghitam). Di ndonesia, perawatan dengan sistem
laser mungkin masih jarang karena mahalnya peralatan laser, sehingga alternatif perawatan lainnya bisa dicoba.
Yang jelas, berhenti merokok yang sudah dilakukan patut diacungi jempol karena merupakan langkah pertama yang
paling penting sebelum perawatan lanjutan dilakukan. Demikian Sarah, Salam.

Drg C.Maulani













Berhubung sering sekali ngaskus ataupun nongkrong di Bluefame, kebetulan sekali saya dipercaya
mengasuh salah satu thread mengenai kesehatan gigi mulut di kedua forum tersebut.

Dalam tulisan kali ini, bukannya untuk menjelaskan apa isi thread tersebut, tapi saya akan sedikit
menjelaskan dari sekian banyak postingan thread, banyak sekali yang menanyakan "kenapa sih gusi
gw hitam? kenapa ya dok, gigi saya kuning sekali?" dan banyak sekali pertanyaan serupa.

Nah dari situlah saya ingin sekali sedikit menulis mengenai keluhan yang sering ditanyakan.

Dari apa yang dikeluhkan, jelas sekali itu merupakan kasus adanya "PIGMENTASI" dalam rongga
mulut.

Apa itu PIGMENTASI?

Pigmentasi dalam bahasa awamnya (bahasa dan pengertian saya ya tentunya) merupakan kondisi
adanya pewarnaan pada bagian tertentu karena adanya zat tertentu sebagai penyebabnya.

Nah dalam istilah kedokteran gigi, PIGMENTASI RONGGA MULUT merupakan kondisi adanya
pertambahan pigmen dalam lapisan sel-sel epitel mukosa mulut. Pertambahan pigmen ini berkaitan
dengan zat yang diserap pada kondisi tertentu.

Pigmentasi merupakan keadaan abnormal pada kulit dan membran mukosa dapat berupa
penambahan kadar pigmen (hiperpigmentasi) atau dapat juga pengurangan kadar pigmen
(hipopigmentasi). Pigmentasi pada mukosa mulut dapat terjadi secara fisiologis dan patologis, serta
berasal dari luar tubuh (eksogen) maupun dari dalam tubuh (endogen).
Faktor eksogen berupa berbagai keracunan zat asing yaitu bismuth, timah, mercury, perak, arsen,dan
fosfor, sedangkan gangguan pada kelenjar endokrin, hiperpituitary, Hormon sex wanita,
Neurofibromatosis, Hemacromatosis, Carotenemia, Kadar bilirubin yang meningkat merupakan faktor
endogen

Dalam kondisi normal, pada lapisan kulit manusia, terdapat banyak sel-sel epitel nah dibawah sel-sel
epitel ini terdapat sel-sel yang terus menerus berkembang, sebagai bentuk dari bagian pertahanan
tubuh juga dari adanya rangsangan dari luar.
Secara simpel, bila ada rangsang dari luar (misalnya sinar UV dari matahari) maka akan
meningkatkan sel-sel melanosit yang memiliki pigmen melanin, maka akan terbentuk lah penumpukan
pigmen melanin, dan secara klinis maka akibatnya kulit akan terlihat
lebih gelap karena adanya penumpukan melanin.

Begitu juga halnya dengan perokok berat, asap rokok dan panas yang dihasilkan oleh rokok akan
membuat terjadinya rangsangan yang berlebih terhadap sel-sel melanosit di mukosa mulut, sehingga
akan menyebabkan penumpukan pigmen-pigmen melanin, maka
efeknya pun jelas gusi, bibir perokok pun kan bertambah gelap warnanya.....

Bagaimana mengurangi pewarnaan pada gusi?

tentunya kalo memang etiologinya karena rokok, ya dikurangi konsumsi rokoknya atau kalo bisa
dihilangkan kebiasaan merokoknya. Dengan berkurangnya atau hilangnya zat pemicu, diharapkan
regenerasi sel-sel melanosit pada mukosa mulut akan kembali normal.

jadi sudah sedikit mengerti kan kenapa bisa menjadi hitam gusi nya....

Jangan merokok kalo begitu!

Read more: PIGMENTASI RONGGA MULUT | Life Free or Die Rich
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike

hLLp//wwwdlagnosalnfo/2008/07/plgmenLaslronggamuluLhLml













banyak sekali yang menanyakan "kenapa sih gusi gw hitam? kenapa ya dok, gigi saya
kuning sekali?" dan banyak sekali pertanyaan serupa.

Nah dari situlah saya ingin sekali sedikit menulis mengenai keluhan yang sering ditanyakan.

Dari apa yang dikeluhkan, jelas sekali itu merupakan kasus adanya "PGMENTAS" dalam
rongga mulut.
Apa itu !IGMENTASI?

Pigmentasi dalam bahasa awamnya (bahasa dan pengertian saya ya tentunya) merupakan
kondisi adanya pewarnaan pada bagian tertentu karena adanya zat tertentu sebagai
penyebabnya.

Nah dalam istilah kedokteran gigi, PGMENTAS RONGGA MULUT merupakan kondisi
adanya pertambahan pigmen dalam lapisan sel-sel epitel mukosa mulut. Pertambahan
pigmen ini berkaitan dengan zat yang diserap pada kondisi tertentu.

Pigmentasi merupakan keadaan abnormal pada kulit dan membran mukosa dapat berupa
penambahan kadar pigmen (hiperpigmentasi) atau dapat juga pengurangan kadar pigmen
(hipopigmentasi). Pigmentasi pada mukosa mulut dapat terjadi secara fisiologis dan
patologis, serta berasal dari luar tubuh (eksogen) maupun dari dalam tubuh (endogen).
Faktor eksogen berupa berbagai keracunan zat asing yaitu bismuth, timah, mercury, perak,
arsen,dan fosfor, sedangkan gangguan pada kelenjar endokrin, hiperpituitary, Hormon sex
wanita, Neurofibromatosis, Hemacromatosis, Carotenemia, Kadar bilirubin yang meningkat
merupakan faktor endogen

Dalam kondisi normal, pada lapisan kulit manusia, terdapat banyak sel-sel epitel nah
dibawah sel-sel epitel ini terdapat sel-sel yang terus menerus berkembang, sebagai bentuk
dari bagian pertahanan tubuh juga dari adanya rangsangan dari luar.
Secara simpel, bila ada rangsang dari luar (misalnya sinar UV dari matahari) maka akan
meningkatkan sel-sel melanosit yang memiliki pigmen melanin, maka akan terbentuk lah
penumpukan pigmen melanin, dan secara klinis maka akibatnya kulit akan terlihat
lebih gelap karena adanya penumpukan melanin.

Begitu juga halnya dengan perokok berat, asap rokok dan panas yang dihasilkan oleh rokok
akan membuat terjadinya rangsangan yang berlebih terhadap sel-sel melanosit di mukosa
mulut, sehingga akan menyebabkan penumpukan pigmen-pigmen melanin, maka
efeknya pun jelas gusi, bibir perokok pun kan bertambah gelap warnanya.....

Bagaimana mengurangi pewarnaan pada gusi?

tentunya kalo memang etiologinya karena rokok, ya dikurangi konsumsi rokoknya atau kalo
bisa dihilangkan kebiasaan merokoknya. Dengan berkurangnya atau hilangnya zat pemicu,
diharapkan regenerasi sel-sel melanosit pada mukosa mulut akan kembali normal.

jadi sudah sedikit mengerti kan kenapa bisa menjadi hitam gusi nya....

Jangan merokok kalo begitu!
SebeIumnya: Sebarkan Salam
SeIanjutnya : Stomatitis Aftosa
hLLp//kupukupulanglLmulLlplycom/[ournal/lLem/13?show_lnLersLlLlal1u2l[ournal2llLem




Smoker's meIanosis is characterized by flat, irregular hyperpigmentation of the connective
tissue underlying the oral mucosa resulting from tobacco smoking. Basal
cells and macrophages in the underlying connective tissue contain unusual amounts of melanin,
which creates the darker pigmentation. Macrophages are unable to degrade all of the melanin, a
phenomenon known as melanin incontinence.
[1]

Contents
[hide]
1 ncidence/Prevalence
2 Causes
3 Treatment and Prognosis
4 See also
5 References
[edit]ncidence/Prevalence
A study in Sweden showed that 21.5% of smokers and 3% of nonsmokers had lesions that
could be classified as smoker's melanosis.
[2]

[edit]Causes
Smoking is the cause in most cases, although similar hyperpigmentations can sometimes be
seen in nonsmokers. Similar hyperpigmentations can be due to physiological pigmentation,
amalgamtattoo, suntan, drug-related melasma, Addison's Disease (also known as primary
adrenal insufficiency), or Post-inflammatory hyperpigmentation.
[edit]Treatment and Prognosis
The lesion usually disappears if the patient stops smoking. f it does not disappear, however,
a biopsy can be used to verify the diagnosis. Smoker's melanosis is benign and does not
develop into cancer.
hLLp//enwlklpedlaorg/wlkl/Smokers_melanosls






AMALCAM 1A11CC
ou or your dentist may notice a gray, blue or black spot in your mouth that looks like a
tattoo. Dentists call these spots amalgam tattoos. They can appear in the mouth of
someone with amalgam fillings or metal false teeth (also known as "caps" or "crowns").
Amalgam fillings contain silver, tin, mercury, copper and zinc. Amalgam tattoos are made
up of tiny metal particles from the filling or crown that become embedded in the tissue.
They can appear on your gums, cheek, lips, tongue or the roof of the mouth (palate).
The tattoos are flat and usually quite small - only a few millimeters. But they're relatively
easy to see.
A tattoo can be created while your dentist is placing or removing fillings or crowns that
contain metal. It can also occur during many other dental procedures, such as tooth
extractions or root canal treatment. A tattoo also can appear over time. For example, a
filling on the outer side of a tooth may touch your inner cheek. Particles from the filling may
rub off over time.
Amalgam tattoos are quite common, although many people don't even know they have
them.
These tattoos are not dangerous and will not cause you harm. However, a small percentage
of gray/blue areas are not amalgam tattoos. These other areas can be precancerous, non-
cancerous or even a normal blood vessel. They need to be seen by a specialist, such as an
oral surgeon or a dentist with special training in pathology or oral medicine.
If a gray/blue area in your mouth grows larger or changes color, see your general dentist
right away. our dentist may be able to make a diagnosis or refer you to an appropriate
specialist.

Symptoms

Amalgam tattoos have no symptoms. In most cases, you won't even know you have one.
They usually are found during a dental cleaning or a routine test for oral cancer.

iagnosis

To diagnose an amalgam tattoo, your dentist will look at the spot and check on your dental
history. This includes whether you have silver fillings or had them in the past. A dental X-
ray can sometimes show the metal particles, if they are large enough.
Some blue or gray spots may show signs of being an early cancer rather than an amalgam
tattoo. In these cases, your dentist may refer you for a biopsy. In a biopsy, a small piece of
tissue is removed and examined in a laboratory. Biopsies are common if the area has grown
larger or changed color over time - for example, from gray to black.

Expected uration

An amalgam tattoo is permanent unless it is surgically removed.

Prevention

our dentist can reduce the chances that an amalgam tattoo will form. The usual way to do
this is to use a rubber dam in your mouth during dental procedures. A dam is a flat piece of
latex that isolates specific teeth from the rest of your mouth. Using a rubber dam, however,
does not guarantee that an amalgam tattoo will not occur.

Treatment

If you or your dentist finds a small gray or blue area in your mouth, a dental X-ray should
be reviewed for evidence of metal particles. The area should be measured. Then the dentist
will watch it over time.
If the area gets larger or changes color, a biopsy should be done. If the biopsy shows
precancerous or cancerous cells, another biopsy will be necessary to remove the entire
area.
If the area turns out to be an amalgam tattoo, further treatment is not necessary. However,
you may want to have it removed if it is on the edge of your lip or somewhere else that
makes you feel self-conscious.
Q-switched ruby lasers are used to shatter the metal particles. Cells in your body will then
be able to carry them away, or they may come out through the skin. Talk to your dentist
about having the tattoo surgically removed for cosmetic reasons.

en To Call a Professional

If you notice a new gray, black or blue area on your gum or cheek, call or visit your dentist.
our dentist probably will have the area marked in your chart notes if it is an amalgam
tattoo and it has been there since your last visit to the office.
If the area is sore or seems to be growing or changing color over time, visit your dentist to
have it checked out. our dentist may refer you to a specialist for a biopsy. The specialist
may be an oral surgeon or a dentist with special training in pathology or oral medicine.

Prognosis

Because amalgam tattoos do not cause harm, the outlook is excellent. Treatment is not
necessary. Most people never even notice them.

Printer-friendly version

hLLp//wwwslmplesLepsdenLalcom/SS/lhLSS/r/sL32219/L29810/pr3hLml