Kota Baru Parahyangan
Kota Baru Parahyangan
BARAT, INDONESIA
Oleh :
Dosen Pengampu :
FAKULTAS TEKNIK
TAHUN 2024
1
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................3
BAB I.......................................................................................................................4
PENDAHULUAN...................................................................................................4
A. Latar Belakang..............................................................................................4
B. Rumusan Masalah.........................................................................................5
C. Tujuan...........................................................................................................5
BAB II.....................................................................................................................6
TINJAUAN TEORI DAN KEBIJAKAN.............................................................6
BAB III..................................................................................................................12
METODOLOGI PENELITIAN.........................................................................12
BAB IV..................................................................................................................13
PEMBAHASAN...................................................................................................13
A. Aspek Urbanisasi........................................................................................13
B. Kelayakan Ekonomi....................................................................................14
C. Permukiman................................................................................................15
D. Best Practice................................................................................................19
E. Evaluasi Kota Baru Parahyangan................................................................20
BAB V....................................................................................................................23
PENUTUP.............................................................................................................23
A. Temuan Studi..............................................................................................23
B. Kesimpulan.................................................................................................24
REFERENSI:.........................................................................................................26
2
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 1 Peta Lokasi Kota Baru Parahyangan..................................................12
Gambar 1 2 Urbanisasi Bandung Barat..................................................................13
Gambar 1 3 Cahaya Bangsa Classical School.......................................................15
Gambar 1 4 Bumi Pancasona Club Sport...............................................................16
Gambar 1 5 Water Theme Park..............................................................................16
Gambar 1 6 IKEA..................................................................................................17
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan suatu lahan perkotaan semakin hari semakin padat
oleh penduduk, yaitu penduduk yang berpindah ke kota dengan tujuan
bekerja/mencari ilmu di suatu kota sudah tidak bisa lagi dikendalikan
jumlahnya. Hal ini menjadi salah satu faktor dimana terjadi pertambahan
penduduk di suatu kota. Dengan banyaknya penduduk, maka terjadi
beberapa aktivitas yang membutuhkan lahan untuk menampung aktivitas
yang dilakukan.
Namun semakin banyak aktivitas dalam suatu perkotaan, maka
kebutuhan akan lahan semakin meningkat dan lahan perkotaan pun
semakin sulit untuk menampung kegiatan yang ada di dalam kota,
khususnya masalah perumahan yang semakin padat. Dengan
meningkatkan kebutuhan lokasi perumahan kota maka penyebaran
dilakukan ke daerah-daerah pinggiran kota yang berkembang menjadi kota
satelit. Sebagaimana dinyatakan didalam Perda No.02 Tahun 2004 tentang
RTRW Kota Bandung ditujukan untuk mewujudkan pemerataan
pertumbuhan, pelayanan dan keserasian perkembangan kegiatan
pembangunan antar wilayah dengan mempertahankan keseimbangan
lingkungan dan ketersediaan sumberdaya daerah.
Kota Baru menjadi salah satu cara menyelesaikan permasalahan
penyediaan rumah di perkotaan (F.J. Osborn; A. Whittick, 1963).
Pembangunan Kotabaru ini diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan
wilayah baru dan mandiri tidak lagi tergantung pada kota induknya.
Perumahan dengan skala besar yaitu Kota Baru Parahyangan yang terletak
di Kabupaten Bandung Barat, Indonesia.
4
Pembangunan Kota Baru Parahyangan ini, berdampak cukup tinggi
terhadap Masyarakat baik dari aspek lingkungan, sistem sosial penduduk,
kepadatan penduduk. Penduduk di wilayah kota satelit dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan banyak jumlah penduduk
yang masuk ke wilayah kota satelit di Kota Baru Parahyangan dan wilayah
sekitar Kota Baru Parahyangan. Meski begitu, Kota Baru Parahyangan
tetap mampu mengimbangi permasalahan-permasalahan yang ada baik
pada aspek sosia, ekonomi dan lingkungan.
Untuk lebih mengetahui bagaimana keberhasilan Kota Baru
Parahyangan, maka dalam laporan ini akan mengidentifikasi bagaimana
latar belakang terbentuknya Kota Baru Parahyangan ditinjau dari aspek
urbanisasi, kelayakan ekonomi, permukiman, best practice, serta akan
mengevaluasi perencanaan Kota Baru Parahyangan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang melatarbelakangi terbentuknya Kota Baru Parahyangan
ditinjau dari aspek urbanisasi, kelayakan ekonomi, permukiman dan
best practice?
2. Bagaimana evaluasi Kota Baru Parahyangan?
C. Tujuan
1. Untuk mengidentifikasi latar belakang terbentuknya Kota Baru
Parahyangan yang ditinjau dari aspek urbanisasi, kelayakan ekonomi,
permukiman dan best practice.
2. Untuk mengetahui hasil evaluasi Kota Baru Parahyangan
5
BAB II
TINJAUAN TEORI DAN KEBIJAKAN
A. Kota Baru
Kota baru adalah kota yang direncanakan, dibangun dan
dikembangkan pada saat satu atau beberapa kota lainnya yang
direncanakan dan dibangun sebelumnya telah tumbuh dan berkembang.
Dengan kata lain, Kota Baru dapat dipahami sebagai sebuah proyek
pengembangan lahan yang luasannya mampu menyediakan unsur-unsur
perkotaan secara lengkap dan utuh, yang mencakup tempat tinggal
(perumahan), fasilitas umum dan sosial, perdagangan dan industry.
Kota baru juga dapat berupa suatu lingkungan permukiman
berskala besar yang direncanakan dan dibangun untuk mengatasi masalah
kekurangan perumahan di suatu kotabesar. Secara fungsional kota baru
masih banyak tergantung kepada peran dan fungsi kotainduknya. Dari segi
jarak lokasinya berdekatan dengan kota induknya. Kota baru ini dikatakan
juga sebagai ‘kota satelit’ dari kota induk tersebut (Firmansyah, 2008).
Pengembangan kota baru di Indonesia tdak dapat dilepaskan dan
dasar kebijaksanaan pengembangan dan pembangunan kota pada
umumnya. Dalam memikirkan kemungkinanpengembagan kota baru
sebagai salah satu upaya mendorong pembangunan daerah, seperti
digariskan dalam GBHN dan Repelita Nasional, maka kebijaksanaan dan
langkah pembiayaan kota nasional perlu melandasi hal tersebut (B.
Kombaitan dan Djoko Sujarto,1993).
Berdasarkan hal pokok yang telah digariskan dalam kebijaksanaan
dan langkah pembinaan kota dan pengembangan sektor pemnukiman dan
perumahan, maka hal yang perlu ditekankan sebagai landasan
pengembangan kota baru di Indonesia meliputi:
1. Azas pamarataan daerah
2. Azas tata ruang wilayah
3. Azas pamerataan penyebaran penduduk
4. Azas pambangunan kota barwawasan lingkungan
6
Dengan keempat landasan kebijaksanaan tersebut, maka
pengembangan kota baru di Indonesia perlu memperhatkan arahan berikut:
1. Penentuan jenis kota baru yang didasarkan pada fungsi pengembangan
yang disesuikandangan kebutuhan kini maupun mendatang
2. Pemantauan lokasi dan pengembangan kota baru perlu didasarkan pada
pertmbangan untuk dapat menunjang pengembangan wilayah dan
membantu memecahkan masalah
7
penduduk secara besar-besaran dari desa ke kota (urbanisasi). Urbanisasi
dapat diartikan Tingkat kekotaan atau persentase jumlah penduduk yang
tinggal di kota disbanding dengan jumlah penduduk seluruhnya dan juga
berarti suatu proses menuju bentuk perkotaan (Sinulingga, 1999).
Grunfeld dalam Daldjoeni (2003), mengemukakan ada dua jenis
urbanisasi atau pengkotaan yaitu pengkotaan fisik dan pengkotaan mental.
Pengkotaan fisik berarti perkembangan kota dalam arti luas areal, jumlah
dan kepadatan penduduknya, Pembangunan Gedung-gedung (arah
horizontal dan vertical), variasi tata guna lahannya yang non agraris.
Sedanngkan pengkotaan mental berarti perkembangan orientasi nilai-nilai
dan kebiasaan hidup meniru apa yang terdapat di kota-kota besar.
selanjutnya De Bruijne dalam Daldjoeni (2003) mengemukakan ada tujuh
defenisi dari urbanisasi yaitu:
1. Pertumbuhan persentase penduduk yang bertempat tinggal di
perkotaan baik secara Mondial, nasional maupun regional
2. Berpindahnya penduduk ke kota-kota dari pedesaan
C. Kelayakan Ekonomi
Suatu studi kelayakan (Feasibility study) adalah suatu studi yang akan
digunakan untuk menentukan kemungkinan apakah pengembangan proyek
sistem layak diteruskan atau dihentikan. Studi kelayakan disebut juga
8
dengan istilah High point review (Jogiyanto,2008). Studi kelayakan
dilakukan oleh analisis sistem dengan melakukan studi pendahuluan.
Penelitian pendahuluan merupakan penelitian yang dilakukan untuk
mendapatkan jawaban apa yang dikerjakan oleh sistem lama, dan apa yang
diinginkan dari sistem baru. Tujuan dari penelitian pendahuluan:
9
telah di anggarkan, maka dapat mengganggu aliran kas dan sebagai
akibatnya sasaran sistem tidak dapat sejalan dengan tujuan.
b. Manfaat yang di peroleh oleh sistem dibandingkan dengan biaya
pengembangannya
Sistem yang dikembangkan dikatakan menguntungan bila manfaat
yang akan diberikan oleh sistem ini lebih besar dari biaya
pengembangannya
D. Permukiman
1. Pengertian Permukiman
Permukiman merupakan lingkup tempat tinggal yang terdiri dari
beberapa rumah dan dilengkapi dengan fasilitas sarana dan prasarana
yang dapat penunjang kegiatan di Kawasan tersebut (peraturan
pemerintah nomor 14 tahun 2016 pasal 1). Menurut Sumaatmadja,
1981 dalam Banowati 2006, permukiman merupakan bagian dari ruang
yang dihuni oleh manusia serta terdapat berbagai prasarana dan sarana
yang ada guna untuk menunjang kehidupan penduduk, yang dapat
menjadi suatu tempat sang saling berhubungan.
2. Tipe Permukiman
Ada banyak jenis pola pemukiman atau keruangan desa. Berikut ini
contohnya:
a. Clustered Rural Settlements
Pola pemukiman desa ini memiliki sifat berkelompok dan tinggal
berdekatan dikelilingi dengan lahan pertanian. memiliki pola
pemukiman yang memnusat dan berada di daerah dataran rendah
atau lembah yang memiliki tanah subur dan kualitas sumber air
yang baik
b. Circular Rural Settlements
Pola pemukiman ini membentuk lingkaran dan memiliki ruang di
Bagian tengahnya yaitu membentuk melingkar. Pembangunan
permukiman mengikuti garis lingkaran dari area pusat.
10
Pembangunan dilaksanakan sesuai dengan hukum adat yang
berlaku.
c. Linier Rural Settlements
Pola permukiman yang memanjang dengan pola hidup yang
mengandalkan sungai atau jalanan sempit biasanya terletak
diantara rel kereta atau jalan raya untuk dijadikan transportasi
utama
11
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penulisan laporan ini menggunakan metode penelitian kualitatif
yang memfokuskan pada fenomena yang terjadi pada kasus yang diteliti
(Groat & Wang, 2013). Pendekatan kualitatif yang dilakukan dalam artikel
ini menggunakan Case Study atau Studi Kasus yaitu, melakukan
penyelidikan atau pencarian serta penjelasan yang mendalam dari kasus
yang akan diteliti berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan telah
dibatasi sesuai dengan kriteria peneliti sebelumnya (Fitrah & Luthfiyah,
2018). Dalam penelitian ini, peneliti mengambil studi kasus “Kota Baru
Parahyangan di Kabupaten Bandung Barat”.
12
Penulisan laporan ini termasuk pada penelitian kualitatif deskriptif
yaitu menafsirkan suatu masalah dan juga fakta yang ada dengan cara
menganalisis data yang telah dikumpulkan terlebih dahulu (Anggito &
Setiawan, 2018).
Dalam penelitian kualitatif, instrumen kunci dari penelitian adalah
peneliti itu sendiri yang fungsinya antara lain menetapkan fokus,
menentukan sumber data, mengumpulkan data, menilai dan menganalisis
data sehingga dapat menafsirkan data yang berakhir dengan kesimpulan
dari temuannya.
BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan data dan informasi dari hasil literatur peneliti, ada beberapa
hasil temuan yang dapat disimpulkan terkait dengan latar belakang terbentuknya
Kota Baru Parahyangan yang ditinjau dari aspek urbanisasi, kelayakan ekonomi,
permukiman dan best practice.
A. Aspek Urbanisasi
Fenomena urbanisasi dalam suatu perkotaan Sudah menjadi hal yang
wajar. Tidak heran jika dalam suatu perkotaan, Tingkat pertumbuhan
penduduk dari waktu ke waktu mengalami peningkatan yang disebabkan
oleh perpindahan penduduk ke kota dengan tujuan untuk bekerja maupun
mencari ilmu. Hal demikian terjadi di Kabupaten Bandung Barat.
Berdasarkan Data Disdukcapil Kota Bandung menyebutkan, rata-rata
dalam dua tahun terakhir pendatang di Kota Bandung kira-kira berjumlah
4.200 orang. Data per Maret 2023, ada sekitar 1.500 pendatang yang tercatat
sebagai penduduk nontetap atau sementara di Kota Bandung. Itu berarti
bahwa penduduk yang berpindah ke kota dengan tujuan bekerja/mencari ilmu
di suatu kota sudah tidak bisa lagi dikendalikan jumlahnya. Hal ini menjadi
salah satu faktor dimana terjadi pertambahan penduduk di suatu kota.
13
Gambar 1 2 Urbanisasi Bandung Barat
B. Kelayakan Ekonomi
Sebagai kota yang berkembang dengan diproyeksikannya menjadi kota
mandiri, maka kota ini dengan berbagai fasilitasnya menjadi daya tarik bagi
14
para wisatawan domestik maupun manca negara untuk berkunjung. Tempat
wisata yang terdapat di kota ini seperti wisata belanja, budaya dan seni, religi,
taman tematik, dan hiburan. Dilihat dari segi potensi kunjungan
parawisatawan maka dapat berdampak positif terhadap perkembangan
ekonomi daerah tersebut maupun masyarakat setempat. Pernyataan tersebut
didukung oleh hasil penelitian dari E Lesmana (2022) yang juga
mengemukakan bahwa kelayakan ekonomi Kota Baru Parahyangan
memberikan dampak yang postifi kepada masyarakat dilihat dari
perkembangan perekonomiannya.
C. Permukiman
Kondisi permukiman di Kota Baru Parahyangan dapat dilihat dari beberapa
aspek, termasuk lokasi, fasilitas, dan kelebihan. Berikut adalah beberapa poin
penting:
1. Lokasi Strategis: Kawasan mandiri Kota Baru Parahyangan terletak di
Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Kecamatan
Padalarang memiliki peran strategis sebagai jalur penghubung antara
Bandung Raya, Kabupaten Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Dengan
lokasinya yang dekat dengan pusat perniagaan, pusat pendidikan, dan
fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan, Kota Baru
Parahyangan menjadi pilihan yang sangat strategis. Aksesibilitasnya
semakin diperkuat dengan adanya Tol Padalarang, yang terhubung
langsung dengan kawasan ini.
2. Fasilitas Pendidikan: Kota Baru Parahyangan memiliki visi sebagai kota
Pendidikan dengan implementasi pilar Pendidikan yang meliputi
Pendidikan formal dan nonformal. Pusat pendidikan mulai dari taman
kanak-kanak hingga perguruan tinggi, serta tempat kursus, menjadi
bagian integral dari Kota Baru Parahyangan. Sekolah-sekolah swasta
terkemuka seperti Al-Irsyad Islamic School, Bandung Alliance
Intercultural School, dan lainnya hadir di kawasan ini. Tidak hanya itu,
Kota Baru Parahyangan juga menawarkan perguruan tinggi seperti
15
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borromeus, Universitas Maranatha, dan
Akademi Bahasa Asing Internasional.
16
Gambar 1 5 Water Theme Park
4. Fasilitas Komersial
Dengan proyeksi penduduk yang mencapai lebih dari 120 ribu orang,
Kota Baru Parahyangan menyediakan area komersial yang dapat
memenuhi kebutuhan hidup penghuninya. Pusat komersial dilengkapi
dengan berbagai pertokoan dan ruko, mencakup town center, regional
komersial, dan resor komersial. Giant Supermarket hadir untuk memenuhi
kebutuhan belanja sehari-hari, sementara IKEA membuka cabangnya di
17
Kota Baru Parahyangan, menyempurnakan fasilitas belanja di kawasan
ini.
Gambar 1 6 IKEA
Selain penyediaan fasilitas seperti yang dijelaskan diatas, Pengembangan
hunian di Kota Baru Parahyangan juga disediakan yang didasarkan pada
konsep arsitektur berkelanjutan, yang menempatkan fokus pada desain yang
ramah lingkungan. Konsep ini melibatkan penggunaan material ramah
lingkungan, pemanfaatan energi terbarukan, dan integrasi dengan alam
sekitar.
1. Sistem Cluster Satu Pintu (Tatar)
Tatar merupakan sistem cluster satu pintu yang menjadi ciri khas Kota
Baru Parahyangan. Sistem ini menciptakan lingkungan yang aman dan
bersatu, mempromosikan rasa kebersamaan di antara penghuni. Keamanan
tinggi di dalam cluster ini memberikan ketenangan bagi para penghuni.
18
3. Beragam Model Rumah
Kota Baru Parahyangan menawarkan 19 Tatar yang berbeda-beda,
memberikan pilihan beragam model rumah sesuai dengan preferensi
penghuni. Ini mencakup rumah minimalis yang menekankan kepraktisan,
rumah victorian yang menampilkan keanggunan klasik, dan rumah
modern minimalis dengan desain kontemporer.
4. Rumah Minimalis, Victorian, dan Modern Minimalis
Rumah minimalis menonjolkan desain yang sederhana dan fungsional,
sesuai untuk gaya hidup praktis. Rumah victorian menampilkan
keanggunan klasik dengan detail arsitektur yang kaya. Rumah modern
minimalis menggabungkan estetika kontemporer dengan kesederhanaan
desain, mengakomodasi gaya hidup urban.
5. Pengalaman Hunian Terintegrasi
Infrastruktur dan fasilitas di Kota Baru Parahyangan dirancang untuk
menciptakan pengalaman hunian terintegrasi. Dari pusat perbelanjaan
hingga ruang terbuka hijau, setiap elemen dirancang untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari penghuni.
6. Dukungan Terhadap Pembelajaran dan Rekreasi
Taman tematik yang tersebar di setiap Tatar bukan hanya merupakan
elemen estetis tetapi juga mendukung pembelajaran dan rekreasi. Mereka
menjadi tempat untuk eksplorasi alam, bermain, dan aktivitas keluarga,
memperkaya pengalaman hunian.
7. Komitmen Terhadap Lingkungan dan Kualitas Hidup
Kota Baru Parahyangan menegaskan komitmennya terhadap lingkungan
dengan memprioritaskan penggunaan teknologi hijau dan praktik
pembangunan berkelanjutan. Dengan memberikan pilihan model rumah
berkualitas, pengembang juga berusaha meningkatkan kualitas hidup
penghuni secara menyeluruh. Melalui fasilitas dan desain yang dipikirkan
dengan baik, Kota Baru Parahyangan bertujuan menciptakan lingkungan
hunian yang nyaman, aman, dan mendukung gaya hidup beragam.
19
D. Best Practice
Best practice pada Kota Baru Parahyangan meliputi beberapa aspek yang
berfokus pada pengembangan kawasan mandiri yang berkelanjutan dan
berwawasan pendidikan. Berikut adalah beberapa contoh best practice
yang diterapkan:
1. Konsep Arsitektur Berkelanjutan: Kota Baru Parahyangan
dikembangkan dengan konsep arsitektur berkelanjutan yang
menempatkan fokus pada desain yang ramah lingkungan. Contohnya
adalah fiture eco-smart home. Fitur unggulan rumah di klaster Tatar
Tarubhawana adalah fitur eco-smart home, yakni kombinasi antara
rumah ramah lingkungan dan pintar. Fitur ramah lingkungan
diimplementasikan lewat solar panel untuk menghemat penggunaan
energi listrik konvensional. Rancang bangun infrastruktur pendukung
di Kota Baru Parahyangan pun diselaraskan dengan kontur alami
lembah. Selain itu, pengembang juga memperhatikan ketersediaan
sirkulasi udara yang baik, pencahayaan alami, dan ruang terbuka hijau
atau taman yang dekat dengan rumah. Implementasi hunian yang
selaras dengan alam juga tak terbatas pada penanaman pohon, biopori,
dan rumah dengan konsep eco-design saja. Hal ini mencerminkan
komitmen pengembang untuk mengurangi dampak negatif terhadap
lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup penduduk.
2. Fasilitas Pendidikan: Kota Baru Parahyangan menawarkan berbagai
fasilitas pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan
tinggi, serta tempat kursus. Hal ini memungkinkan penghuni untuk
mengembangkan potensi mereka secara optimal. Selain itu berbagai
fasilitas lainnya seperti fasilitas rekreasi dan olahaga juga lengkap
seperti mason Pine Hotel, Bumi Pancasona Sport Club, dan
Parahyangan Golf. Hal ini meningkatkan kualitas hidup penghuni
dengan memberikan mereka kesempatan untuk beristirahat, berbelanja
dan berolahraga.
20
3. Sistem Cluster dan Tatar: Kota Baru Parahyangan dikembangkan
dengan sistem cluster dan tatar yang memungkinkan penghuni untuk
berinteraksi dan berbagi fasilitas. Setiap tatar dilengkapi dengan taman
tematik yang bernilai pendidikan, memungkinkan penghuni untuk
belajar dan berbagi pengalaman
4. Infrastruktur: Kota Baru Parahyangan dilengkapi dengan infrastruktur
yang memudahkan akses ke kawasan ini, seperti Tol Padalarang,
shuttle bus, dan flyover. Hal ini meningkatkan kualitas hidup penghuni
dengan memberikan mereka akses yang mudah ke berbagai fasilitas
5. Kota Friendly: Kota Baru Parahyangan dikembangkan dengan konsep
eco-smart home yang melibatkan penggunaan energi terbarukan,
pengolahan limbah, dan penanaman pohon. Hal ini meningkatkan
kualitas lingkungan dan mengurangi dampak negatif terhadap alam
6. Kemitraan dengan Pendidikan: Kota Baru Parahyangan bekerja sama
dengan institusi pendidikan seperti Universitas Maranatha dan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Borromeus untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di kawasan ini.
21
- Pengembangan Fasilitas: Kota Baru Parahyangan direncanakan
memiliki fasilitas perkotaan yang lebih komplit, termasuk business
district dan perindustrian, untuk memenuhi kebutuhan penduduk
dan meningkatkan kemandirian kot
2. Dampak Lingkungan dan Sosial
- Harga Lahan: Harga lahan di Kota Baru Parahyangan relatif tinggi,
dengan rata-rata Rp.1.252.4 per meter persegi, dikarenakan faktor
kepadatan penduduk, jarak ke pusat kota, jumlah fasilitas sosial,
dan jumlah sarana perdagangan dan jasa.
- Pembangunan Desa: Pembangunan Kota Baru Parahyangan
berdampak pada beberapa desa yang paling dekat dengan kota,
seperti Desa Kerajaya, Cipeundeuy, Cimerang, Bojonghaleung,
dan Desa Cikande, yang telah dibeli oleh developer untuk tujuan
Pembangunan
3. Infrastruktur dan Fasilitas
- Jaringan Listrik: Kota Baru Parahyangan memiliki sistem jaringan
listrik yang relatif baik, dengan aksesibilitas yang tinggi.
- Pengelolaan Sampah dan Air: Kota Baru Parahyangan memiliki
sistem pengelolaan sampah dan air yang relatif baik, dengan
pengolahan sampah dan pengelolaan air bersih dan kotor yang
terintegrasi.
- Angkutan Umum: berdasarkan hasil penelitian Firly Raudya
Afiffah dan Elkhasnet Elkhasnet (2023), pelayanan angkutan
umum belum memenuhi Indikator Standar Pelayanan Angkutan
Umum sehingga perlu kendali jadwal waktu agar memenuhi
Standar Indikator Pelayanan Angkutan Umum, sebaiknya Bus
Trans Metro Pasundan memiliki kondektur.
22
- Potensi: Kota Baru Parahyangan memiliki potensi sebagai pusat
pertumbuhan wilayah baru dan mandiri, dengan keberadaan
fasilitas perkotaan yang lengkap dan penduduk yang tidak perlu
melakukan pergerakan ulang alik ke kota induknya.
- Rekomendasi: Untuk meningkatkan kemandirian Kota Baru
Parahyangan, beberapa rekomendasi yang diberikan adalah
mempercepat proses tahapan pertumbuhan kota, mempercepat
pembangunan perumahan, membangun fasilitas perkotaan yang
belum tersedia, mengadakan kegiatan yang dapat diakses oleh
lingkungan luar, dan membuat kebijakan tersendiri untuk kota ini.
BAB V
PENUTUP
A. Temuan Studi
23
Dari hasil temuan studi, Kota Baru Parahyangan memiliki peran dan
pengaruh terhadap wilayah sekitarnya.
1. Peran dan Pengaruh Kota Baru Parahyangan
Kota Baru Parahyangan memiliki peran yang signifikan dalam
meningkatkan PDRB Kabupaten Bandung Barat. Studi ini
menunjukkan bahwa Kota Baru Parahyangan berpotensi menjadi
kawasan yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di
wilayah tersebut.
2. Kemandirian Kota Baru Parahyangan:
Kota Baru Parahyangan memiliki potensi kemandirian yang baik,
terutama dalam aspek tata ruang. Dengan menggunakan metode
perhitungan dan analisis yang berbeda, studi ini menunjukkan bahwa
Kota Baru Parahyangan dapat menjadi kawasan yang mandiri dalam
beberapa tahun ke depan.
3. Gerakan Lingkungan
Kota Baru Parahyangan telah mengupayakan gerakan untuk
melestarikan lingkungan dengan memprakarsai gerakan ramah
lingkungan, termasuk fasilitas jalur sepeda yang disediakan di
sepanjang jalan metro utama kota
4. Pusat Perbelanjaan
Kota Baru Parahyangan juga dirancang memiliki pusat perbelanjaan
yang mengusung konsep bangunan dengan arsitektur modern. Lokasi
proyek berada di jalan utama Kota Baru Parahyangan, memudahkan
akses masyarakat dan pengunjung.
Dengan demikian, temuan studi Kota Baru Parahyangan menunjukkan
bahwa kawasan ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan PDRB
Kabupaten Bandung Barat, memiliki visi sebagai Kota Pendidikan, dan
berupaya untuk melestarikan lingkungan. Selain dari pada yang dijelaskan
diatas, Kota Baru Parahyangan juga berpengaruh dalam pekasanaan
perencanaan kebijakan tata ruang baik di wilayah internalnya maupun
wilayah pengaruhnya (Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota
24
Cimahi, dan Kabupaten Bandung). Hal ini didasarkan 2 kriteria pengaruh
yaitu kriteria kesesuaian Kota Baru Parahyangan terhadap rencana tata
ruang dan kriteria pengembangan ke wilayah sekitar yaitu sebagai berikut:
1. Kesesuaian Kota Baru Parahyangan terhadap Rencana Tata Ruang
Kota Baru Parahyangan hampir sepenuhnya sesuai dengan kebijakan
tata ruang yang ada, hal ini dikarenakan terdapat beberapa kriteria
yang tidak memenuhi indicator kesesuaian yaitu pada RTRW
Kabupaten Bandung di kriteria pola struktur ruang dan arahan
luasannya.
2. Karakteristik Pengembangan ke Wilayah Sekitar
Kondisi Kota Baru Parahyangan saat ini merupakan salahsatu bentuk
dari central place theory dan merupakan gejala awal dari urban sprawl
dilihat dari karakteristik pergerakan penduduknya. Namun jika melihat
rencana pengembangan Kota Baru Parahyangan kedepannya, kota baru
ini lebih mengarah kepada bentuk compact city Dimana jumlah
ketergantungan kendaraan pribadinya rendah dan keseluruhan fasilitas
perkotaan telah tersedia di dalam Kota Baru Parahyangan tersebut.
B. Kesimpulan
Dari hasil analisis dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya secara
keseluruhan dapat diambil kesimpulan bahwa Kota baru Parahyangan dari
segi kelayakan ekonomi dapat dikatakan sudah layak ditinjau dari strategi
pemasaran yang telah diterapkan cukup baik, hal ini dapat terlihat dari
tingkat penjualan yang mencapai 80% dari total rumah yang telah
dibangun. Selain itu Kota Baru Parahyangan juga menyusung konsep kota
berkelanjutan dengan mengintegrasikan arsitektur dalam Pembangunan
perumahan berbasis lingkungan yang dapat menarik minat konsumen.
Meskipun ada beberapa hal dalam Pembangunan Kota baru
parahyangan belum memenuhi kriteria, tetapi perencanaan Kota Baru
parahyangan akan terus mendukung proses pembangunannya hingga layak
untuk menjadi kota mandiri. Hal ini di dukung dari fasilitas dan
25
infrastrukur yang lengkap di Kota Baru Parahyangan yang dapat
memudahkan Masyarakat dan tidak lagi bergantung pada kota induknya.
26
REFERENSI:
27