Anda di halaman 1dari 20

DISFUNGSI SEKSUAL

I. PENDAHULUAN Aktivitas seksual merupakan kebutuhan biologis setiap manusia untuk mendapatkan keturunan. Namun, masalah seksual dalam kehidupan rumah tangga seringkali mengalami hambatan atau gangguan karena salah satu pihak (suami atau isteri) atau bahkan keduanya, mengalami gangguan seksual atau disfungsi seksual. Jika tidak segera diobati, masalah tersebut dapat saja menyebabkan terjadinya keretakan dalam rumah tangga. Disfungsi seksual itu sendiri merupakan kondisi di mana fungsi seksual dalam tubuh seseorang sudah mulai melemah. Kondisi itu dapat terjadi ketika kita masih muda, maupun pada usia lanjut karena kondisi fisik dan mental yang semakin berkurang. Kondisi disfungsi seksual dapat terjadi pada pria maupun wanita. Pada pria dapat berupa hiposeksualitas (hasrat seks yang berkurang), impotensia (kemampuan ereksi berkurang atau tidak mampu sama sekali), ejakulasi dini, dan anorgosmia (tidak dapat orgasme). Sedangkan pada wanita, disfungsi seksual dapat berupa hiposeksualitas (hasrat seks berkurang), frigiditas (dingin terhadap seks atau tidak bergairah sama sekali), fobio seksualis (takut dan muak pada hubungan seksual), vaginismus, disparuenia (nyeri saat berhubungan), dan anorgasmia (tidak dapat organsme). Disfungsi seksual disebabkan oleh berbagai gangguan dan penyakit, baik fisik maupun mental. Penyakit fisik yang menyebabkan disfungsi seksual adalah diabetes mellitus (kencing manis), anemia, kurang gizi, penyakit kelamin, penyakit otak dan sumsum tulang, akibat operasi prostat pada pria, tumor atau kanker rahim pada wanita, menurunnya hormon (pada pria maupun wanita), akibat pembedahan indung telur, penggunaan narkoba, obat penenang, alkohol, dan rokok. Sedangkan penyakit mental yang menyebabkan disfungsi seksual adalah psikosis, schizoprenia, neurosis cemas, histerik, obsesif-kompulsif,

2 depresif, fobia, gangguan kepribadian atau psiko-seksual, serta retardasi mental dan gangguan intelegensia. Disfungsi seksual harus dicari penanggulannya sebab dapat menimbulkan masalah yang lebih besar jika tidak diatasi sejak dini. Impotensia, misalnya, dapat timbul karena berbagai penyakit tubuh atau penyakit lokal didaerah alat vital pria, seperti diabetes yang biasanya menyebabkan pria tidak mampu memiliki gairah seksual. Untuk mengatasinya, penyakit diabetes sebaiknya harus diobati terlebih dahulu. Sedangkan untuk mengobati frigiditas pada wanita dapat dilakukan dengan faktor biologik (masa birahi pada saat ovulasi dan menstruasi), faktor psikologis (menghilangkan rasa takut atau jijik), dan faktor psikodinamik (menghilangkan rasa kotor, takut ditolak pasangannya, dan sebagainya). Dengan menanggulangi disfungsi seksual sejak dini, diharapkan dapat tercipta rumah tangga yang sehat dan harmonis. 1 Disfungsi seksual merupakan suatu gangguan yang berhubungan dengan suatu fase tertentu dari respon siklus respon seksual. Jadi gangguan hasrat seksual adalah berhubungan dengan fase pertama dari siklus respon yang dikenal sebagai fase hasrat. Disfungsi seksual dapat merupakan gejala masalah biologis atau konflik intrapsikis atau interpersonal atau kombinasi kedua faktor tersebut. Fungsi seksual dapat dirugikan oleh stres dalam tiap bentuknya oleh gangguan emosional, oleh ketidaktahuan fungsi dan fisiologis seksual. Disfungsi mungkin seumur hidup atau didapat yaitu berkembang setelah periode normal. Disfungsi mungkin umum atau situasional yaitu terbatas pada pasangan tertentu atau situasi tertentu. Fase siklus respon seksual menurut DSM-IV dan disfungsi seksual yang menyertai adalah : Fase hasrat atau dorongan Mencerminkan motivasi pasien, dorongan, dan kepribadian. Ditandai oleh khayalan seksual dan hasrat untuk melakukan hubungan seks.

3 Disfungsi: gangguan dorongan seksual hipoaktif, gangguan keengganan seksual, gangguan dorongan seksual hipoaktif karena kondisi medis umum1 (laki-laki atau perempuan), disfungsi seksual karena zat dengan gangguan dorongan. Fase rangsangan Terdiri dari perasaan subjektif tentang kenikmatan seksual dan perubahan fisiologis yang menyertai. Semua respon fisiologis yang ditemukan dalam fase ini dan plateau dari masters dan johnson adalah disatukan dan terjadi pada fase ini. Disfungsi : gangguan rangsangan seksual wanita, gangguan erektil laki-laki, gangguan erektil laki-laki karena kondisi medis umum, disfungsi seksual akibat zat dengan gangguan rangsangan. Fase orgasme Terdiri dari puncak kenikmatan seksual dengan pelepasan ketegangan seksual dan kontraksi ritmik otot perineum dan organ reproduktif pelvik. Disfungsi : gangguan orgasmik perempuan dan laki-laki, ejakulasi prematur, disfungsi seksual lain karena kondisi medis umum, disfungsi seksual akibat zat dengan gangguan orgasme. Fase resolusi Merupakan perasaan relaksasi umum, sehat dan kekenduran otot. Selama fase ini laki-laki adalah refrakterterhadap orgasme selama periodewaktu yang semakin panjang dengan bertambahnya usia, sedangkan perempuan mampu mengalami orgasme multipel tanpaperiode refrakter. Disfungsi : disforia pascasanggama, nyeri kepala pascasanggama. Sedangkan siklus respons seksual pada pria dan wanita menurut Kolodny, Master, Johnson, 1979 dapat dibagi menjadi 4 fase. Fase tersebut adalah fase perangsangan, fase plateau, fase orgasmik, dan fase resolusi.

4 II. KLASIFIKASI Subtipe disfungsi seksual Karena faktor psikologis atau karena kombinasi faktor psikologis dan kondisi medis umum. Seumur hidup atau didapat Menyeluruh atau situasional

Tujuh kategori disfungsi seksual dituliskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat ( DSM-IV ) : 1. Gangguan hasrat seksual Gangguan hasrat seksual dibagi menjadi dua kelas yaitu : Gangguan hasrat seksual hipoaktif Ditandai oleh defisiensi atau tidak adanya fantasi seksual dan hasrat untuk aktivitas seksual. Gangguan ini lebih sering ditemukan. Diperkirakan 20 persen populasi total menderita gangguan hasrat seksual hipoaktif. Keluhan dapat lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan laki-laki. Pasien dengan gangguan hasrat seringkali menggunakan inhibisi hasratnya dalam cara defentif untuk melindungi terhadap ketakutan bawah sadar terhadap seks. Kriteria diagnostik untuk gangguan dorongan seksual hipoaktif : Kekurangan khayalan seksual dan keinginan untuk aktivitas seksual yang persisten atau rekuren. Pertimbangan kekurangan atau tudak adanya hal tersebut dilakukan oleh klinisi dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi seksual seperti usia dan konteks kehidupan pasien. Gangguan menyebabkan interpersonal. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. penderitaan yang jelas atau kesulitan

5 Gangguan keengganan seksual Ditandai oleh oleh suatu keengganan terhadap atau menghindari kontak seksual genital dengan pasangan seksual. Kriteria diagnostik untuk gangguan keengganan seksual : Keengganan ekstrim yang persisten atau rekuran dan menghindari semua kontak seksual dengan pasangan seksual. Gangguan menyebabkan interpersonal. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya. Sigmund freud memandang hasrat seksual yang terendah sebagia suatu akibat inhibisi selama fase psikoseksual falik dan konflik oedipal yang tidak terselesaikan. Beberapa laki-laki, terfiksasi pada stadium falik dari perkembangan, mereka ketakutan terhadap vagina, percaya bahwa mereka akan terkastrasi jika mereka mendekatinya, suatu konsep yang dinamakan freud sebagai vagina dentata karena mereka yakin secara tidak disadari bahwa vagina mempunyai gigi. Dengan demikian mereka menghindari kontak kontak dengan keseluruhan genital wanita. Tidak adanya hasrat seksual dapat juga disebabkan oleh stres kronis, kecemasan dan depresi. Abstinensi dari seks untuk jangka waktu yang lama kadang-kadang menyebabkan penekanan impuls seksual. Tidak adanya hasrat seksual juga merupakan ekspresi permusuhan atau tanda pemburukan hubungan. Dalam satu penelitian terhadap pasangan muda yang menikah yang tidak melakukan hubungan seksual selama periode dua bulan, percekcokan perkawinan merupakan alasan yang paling sering diberikan untuk terhentinya atau inhibisi aktivitas seksual. Adanya gairah tergantung pada beberapa faktor yaitu : Dorongan biologis Harga diri yang adekuat Pengalaman yang baik dengan seks penderitaan yang jelas atau kesulitan

Tersedianya pasangan yang layak Hubungan yang baik dalam bidang nonseksual dengan pasangannya

Kerusakan pada salah satu faktor tersebut dapat menyebabkan menurunnya hasrat. 2. Gangguan rangsangan seksual Gangguan rangsangan seksual dibagi oleh DSM-IV menjadi: Gangguan rangsangan seksual wanita ditandai oleh kegagalan parsial atau komplit yang persisten atau rekuren untuk mencapai atau mempertahankan respon lubrikasi-pembengkakan dari perangsangan seksual sampai selesainya tindakan seksual. Prevalensi gangguan rangsangan seksual wanita biasanya diperkirakan lebih rendah. Wanita yang menderita disfungsi fase perangsangan seringkali memiliki masalah orgasme. Kriteria diagnostik untuk gangguan rangsangan seksual wanita : ketidakmampuan rekuren atau menetap untuk mencapai atau mempertahankan respon lubrikasi-pembengkakan yang adekuat dari rangsangan seksual sampai selesainya aktivitas seksual. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. Banyak faktor psikologis seperti cemas, rasa bersalah dan ketakutan adalah berhubungan dengan gangguan rangsangan seksual wanita. Pada beberapa wanita, gangguan fase perangsangan adalah disertai dengan dispareunia dan dengan tidak adanya hasrat seksual. Penelitian psikologis terhadap disfungsi seksual menyatakan bahwa suatu pola hormonal yang normal mungkin berperan terhadap responsivitas pada wanita yang mengalami disfungsi fase perangsangan.

William masters dan Virginia Johnson menemukan bahwa wanita terutama mengalami perangsangan seksual sebelum onset menstruasi. Tetapi beberapa wanita melaporkan bahwa mereka merasakan perangsangan seksual yang terbesar segera setelah menstruasi atau ovulasi. Perubahan kadar testosteron, estrogen, prolaktin dan tiroksin telah dilibatkan dalam gangguan rangsangan seksual wanita. Juga, medikasi dengan obat yang memiliki sifat antihistamin atau antikolinergik menyebabkan penurunan lubrikasi vagina. Beberapa bukti menyatakan bahwa wanita disfungsional adalah kurang menyadari respon fisiologis dari tubuhnya, seperti vasokongesti, selama perangsangan seksual dibandingkan wanita lain. Gangguan erektil laki-laki Gangguan ereksi ini ditandai oleh kegagalan parsial atau komplit yang rekuren dan persisten untuk mencapai atau mempertahankan ereksi sampai selesainya tindakan seksual. Kriteria diagnostik untuk gangguan erektil laki-laki : Ketidakmampuan rekuren atau menetap untuk mencapai, atau untuk mempertahankan ereksi yang adekuat, sampai selesainya aktivitas seksual. Gangguan menyebabkan interpersonal. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. Seorang laki-laki dengan gangguan erektil laki-laki yang dialami seumur hidup tidak mampu mendapatkan ereksi yang cukup untuk insersi vagina. Pada gangguan erektil laki-laki didapat laki-laki pernah berhasil mencapai penetrasi vagina pada suatu waktu dalam kehidupan seksualnya tetapi selanjutnya tidak mampu untuk melakukan hal tersebut. Pada gangguan penderitaan yang jelas atau kesulitan

8 erektil laki-laki situasional laki-laki mampu untuk melakukan koitus dalam situasi tertentu tetapi tidak dalam situasi lainnya. Alfred kinsey melaporkan bahwa 75 % dari semua laki-laki adalah impoten pada usia 80 tahun.penyebab gangguan erektil laki-laki mungkin organik atau psikologis atau kombinasi keduanya, tetapi sebagian besar adalah psikologis. Riwayat penyakit yang baik adalah memiliki kepentingan utama dalam menentukkan penyebab disfungsi. Jika seorang laki-laki melaporkan mengalami ereksi spontan saat ia tidak merencanakan untuk melakukan hubungan seks, mengalami ereksi di pagi hari atau memiliki ereksi yang baik dengan masturbasi atau dengan pasangan lain dari yang biasanya, penyebab organik impotensinya dapat diabaikan. Freud menggambarkan satu jenis impotensi sebagian disebabkan oleh ketidakmampuan untuk merukunkan perasaan kasih sayang terhadap seorang wanita dengan perasaan bernafsu terhadapnya. Laki-laki dengan perasaan yang bertentangan tersebut dapat berfungsi hanya pada wanita yang dipandang sebagai hina. Faktor lain yang berperan dalam impotensi adalah superego yang penghukum, ketidakmampuan untuk mempercayai, dan perasaan ketidakberdayaan atau perasaan tidak diingini sebagai pasangan. Laki-laki mungkin tidak mampu untuk mengekspresikan impuls seksualnya karena ketakutan, kecemasan, kemarahan, dan hambatan moral. Dalam hubungan yang berkelanjutan, impotensi mungkin mencerminkan kesulitan antara pasangan, khususnya jika laki-laki tidak dapat mengkonsumsi kebutuhannya atau kemarahannya dalam cara yang langsung laki menjadi semakin cemas sebelum masing-masing pertemuan seksual. 3. Gangguan orgasme Gangguan orgasmik wanita dan konstruktif. Disamping itu, episode impotensi adalah memperkuat, dan laki-

9 Gangguan orgasmik wanita disebut orgasme wanita terinhibisi dalam DSM edisi ke tiga yang direvisi disebut anorgasmia adalah didenifisikan sebagai inhibisi orgasme wanita rekuren atau persisten, dan dimanifestasikan oleh keterlambatan orgasme yang rekuren atau tidak adanya orgasme setelah fase perangsangan seksual yang normal yang dianggap klinisi adekuat dalam fokus, intensitas, dan durasinya. Gangguan ini adalah ketidakmampuan wanita untuk mencapai orgasme melalui masturbasi atau koitus. Kriteria diagnostik untuk gangguan orgasmik wanita : Keterlambatan atau tidak adanya orgasme yang menetap atau rekuren setelah fase rangsangan seksual yang normal. Gangguan menyebabkan interpersonal. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. Penelitian pada fisiologi respon seksual wanita telah menunjukkan bahwa orgasme yang disebabkan oleh stimulasi klitoris dan stimulasi vagina adalah identik secara fisiologis. Teori freud wanita harus melepaskan kepekaan klitoris menjadi kepekaan vagina untuk mencapai maturasi seksual sekarang dianggap menyesatkan tetapi beberapa wanita mengatakan bahwa mereka mendapatkan perasaan kepuasan khusus dari orgasme yang didapat melalui koitus. Gangguan orgasmik wanita seumur hidup ditemukan jika wanita tidak pernah mengalami orgasme oleh tiap jenis stimulasi. Gangguan orgasmik didapat jika wanita sebelumnya pernah mencapai sekurangnya satu kali orgasmik, terlepas dari situasi atau cara stimulasi, apakah melalui masturbasi atau selama tidur sambil mimpi. Gangguan orgasmik wanita seumur hidupadalah lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak menikah dibandingkan wanita yang menikah.gangguan orgasmik wanita didapat adalah suatu keluhan yang sering ditemukan pada penderitaan yang jelas atau kesulitan

10 populasi klinis. Faktor psikologis yang berhubungan dengan gangguan orgasmik wanita adalah ketakutan akan menjadi hamil, penolakan oleh pasangan seksual, kerusakan vagina, permusuhan terhadap laki-laki, dan perasaan bersalah terhadap impuls seksual. Untuk beberapa wanita orgasme disamakan dengan kehilangan kendali atau dengan perilaku agresif, destruktif, atau kasar, ketakutan mereka terhadap impulsnya dapat diekspresikan melalui orgasme. Wanita nonorgasmik mungkin bebas gejala atau mungkin mengalami frustasi dalam berbagai cara termasuk keluhan pelvis sebagai nyeri abdomen, gatal dan sekret vagina dan meningkatnya ketegangan, mudah tersinggung, dan kelelahan. Gangguan orgasmik laki-laki Pada gangguan orgasmik laki-laki, mencapai ejakulasi selama koitus sangat sukar atau tidak sama sekali. Seorang laki-laki menderita gangguan orgasmik seumur hidup jika ia tidak pernah mampu mengalami ejakulasi selama koitus. Beberapa laki-laki mengalami ejakulasi tetapi mengeluh adanya penurunan atau tidak ada rasa kenikmatan subjektif selam amelakukan orgasmik ( anhedonia orgasmik ). Kriteria diagnostik untuk gangguan orgasmik laki-laki : Keterlambatan atau tidak adanya orgasme yang menetap atau rekuren setelah fase rangsangan seksual yang normal. Gangguan menyebabkan interpersonal. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. Gangguan orgasmik laki-laki seumur hidup adalah menunjukkan adanya psikopatologi yang parah. Laki-laki biasanya berasal dari latar belakang yang kaku dan puritan, ia mungkin memandang seks sebagai dosa dan genital sebagai hal yang kotor dan mungkin ia secara sadar atau tidak penderitaan yang jelas atau kesulitan

11 disadari memiliki harapan dan rasa bersalah terhadap incest. Ia biasanya mengalami kesulitan dengan keakraban yang melebihi daerah hubungan seksual. Ejakulasi prematur Ada beberapa tipe kelainan ejakulasi,, yaitu : Ejakulasi premature, Ini adalah ejakulasi yang muncul sebelum atau segera setelah penetrasi. Ejakulasi yang terhambat, Ini adalah ejakulasi yang lambat untuk muncul. Ejakulasi retrograde Ejakulasi ini timbul ketika orgasme dan mengalir kembali ke kandung kemih daripada melalui urethra dan dari penis Pada ejakulasi prematur laki-laki secara menetapmencapai orgasme dan ejakulasi sebelum keinginannya. Tidak dapat kerangka waktu yang pasti untuk mendefinisikan disfungsi. Diagnostik dibuat jika laki-laki secara teratur berejakulasi sebelum atau segera setelah memasuki vagina. Masters dan Johnson memandang gangguan dalam halpasangan dan memandang laki-laki sebagai menderita ejakulasi prematur jika ia tidak dapat mengendalikan ejakulasi untuk jangka panjang selama hubungan intravagina untuk memuaskan pasangannya sekurangnya pada setengahnya episode koitus. Lebih sering ditemukan diantara laki-laki dengan pendidikan perguruan tinggi dibandingkan laki-laki dengan pendidikan rendah. Kesulitan dalam mengendalikan ejakulasi mungkin berhubungan dengan kecemasan terhadap tindakan seksual atau ketakutan yang tidak disadari terhadap vagina. Kriteria diagnostik ejakulasi prematur :

12

Ejakulasi yang persisten atau rekuren pada stimulasi seksual yang minimal sebelum, pada atau segera setelah penetrasi dan sebelum pasien menginginkannya. Gangguan menyebabkan interpersonal. penderitaan yang jelas atau kesulitan

Ejakulasi prematur bukan semata-mata karna efek langsung dari suatu zat.

Gangguan orgasme lainnya Kasus orgasme spontan multipel tanpa stimulasi seksual telah ditemukan pada wanita yang disebabkan oleh fokus epileptogenik di lobus temporalis. 4. Gangguan nyeri seksual Dispareunia Merupakan nyeri genital yang rekuren atau persisten yang terjadi sebelum, selama atau setelah hubungan seks baik pada laki-laki atau perempuan. Jauh lebih sering pada wanita dan berhubungan atau lebih sering bersamaan dengan vaginismus. Episode vaginismus dapat menyebabkan dispareunia atau sebaliknya. Diagnostik dispareunia tidak dapat ditegakkan jika ditemukan suatu dasar organik untuk nyerinya atau jika pada wanita keadaan ini disebabkan oleh vaginismus atau tidak adnya lubrikasi. Nyeri pelvis kronis adalah keluhan yang kronis pada wanita dengan riwayat perkosaan atau penyiksaan seksual pada masa anak-anak. Koitus yang nyeri mungkin disebabkan dari ketegangan dan kecemasan terhadap tindakan seksual yang menyebabkan wanita secara involunter mengkontraksikan otototot vaginanya. Rasa sakit tersebut adalah nyatadan menyebbkan hibungan seksual tidak menyenangkan atau tidak dapat dilakukan. Memperkirakan terjadinya sakit dapat menyebabkan wanita menghindari koitus sama sekali. Jika pasangan melakukan hubungan seksual terlepas kesiapan wanita, ini lebih memperberat. Kriteria diagnostik untuk dispareunia :

13

Nyeri genital yang menetap atau rekuren yang berhubungan dengan hubungan seksual baik pada laki-laki maupun wanita. Gangguan menyebabkan interpersonal. penderitaan yang jelas atau kesulitan

Gangguan tidak semata-mata disebabkan oleh vaginismus atau tidak adanya lubrikasi, tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum.

Vaginismus Kontraksi otot pada sepertiga bagian luar vagina yang terjadi secara

involunter yang menghalangi insersi penis dan hubungan seks. Respon dapat terajadi selama pemeriksaan ginekologi saat konstriksi vagina involunter menghalangimasuknya spekulum kedalam vagina. Keadaan ini paling sering mengenai wanita yang berpendidikan tinggi dan kelompok sosioekonomi tinggi. Wanita yang menderita vaginismus mungkin secara tidak sadar berharap melakukan koitus tetapi secara tidak disadari berharap untuk menghalangi penis memasuki tubuhnya. Suatu trauma pemerkosaan dapat menyebabkan vaginismus. Wanita dengan konflik psikoseksual dapat menganggap penis sebagai senjata. Pada beberapa wanita, nyeri atau memperkirakan datangnya nyeri pada pengalaman koitus pertama menyebabkan vaginismus. Kriteria diagnostik untuk vaginismus : Spasme involunter yang menetap atau rekuren pada otot-otot sepertiga bagian bawah vagina yang menggangu hubungan seksual. Gangguan menyebabkan interpersonal. Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. penderitaan yang jelas atau kesulitan

14 5. Disfungsi seksual karena kondisi medis umum Kategori ini meliputi disfungsi seksual yang mengakibatkan penderitaan berat dan kesulitan interpersonal dimana terdapat bukti-bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaaan fisik atau temuan laboratorium adanya kondisi medis umum yang dianggap menyebabkan disfungsi seksual. Gangguan erektil laki-laki karena kondisi medis umum Kriteria diagnostik untuk disfungsi seksual karena kondisi medis umum : Disfungsi seksual yang bermakna secara klinis yang menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal yang menonjol dalam gambaran klinis. Terdapat bukti-bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium bahwa disfungsi seksual adalah dapat dijelaskan sepenuhnya oleh efek fisiologis langsung dari suatu kondisi medis umum. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain Dispareunia karena kondisi medis umum Kelainan organik yang menyebabkan dispareunia dan vaginismus adalah sisa himen yang teriritasi atau terinfeksi, jaringan parut episiotomi, infeksi kelenjar bartolin, berbagai bentuk vaginitis, servisitis dan endometriosis. Nyeri pasca sanggama telah dilaporkan pada wanita dengan miomata dan endometriosis dan menyebabkan kontraksi uterus selama orgasme. Wanita pasca menopouse mungkin mengalami dispareunia karena penipisan mukosa vagina dan penurunan lubrikasi. Dispareunia dapat terjadi pada laki-laki tetapi jarang dan biasanya berhubungan dengan suatu kondisi organik seperti penyakit peyronie, yang terdiri dari plak sklerotik pada penis yang menyebabkan lengkung penis. Gangguan hasrat seksual hipoaktif karena kondisi medis umum

15 Hasrat seksual seringkali menurun setelah penyakit parah atau pembedahan, terutama jika citra tubuh terpengaruh setelah prosedur tertentu seperti mastektomi, ileostomi, histerektomi, dan prostatektomi. Penyakit-penyakit yang menurunkan energi seseorang, kondisi kronis yang memerlukan adaptasi fisik dan psikologis, dan penyakit serius dapat menyebabkan orang menjadi terdepresi semuanya dapat menyebabkan penurunan bermakna hasrat seksual pada laki-laki maupun pada wanita. Obat-obatan yang menekan sistem saraf pusat atau menurunkan produksi testosteron dapat menurunkan hasrat seksual. Disfungsi seksual laki-laki lain karena kondisi medis umum Kategori ini digunakan jika suatu ciri disfungsional lain adalah menonjol sebagai contoh gangguan orgasmik atau tidak ada ciri lain yang menonjol. Gangguan orgasmik laki-laki mungkin memiliki penyebab fisiologis dan dapat terjadi setelah pembedahan pada saluran genitourinarius seperti prostatektomi. Keadaan ini mungkin juga berhubungan dengan penyakit parkinson dan gangguan neurologi lain yang melibatkan medula spinalis bagian lumbalis dan sakralis. Disfungsi seksual wanita lain karena kondisi medis umum Kategori ini digunakan jika terdapat ciri lain sebagai contoh gangguan orgasmik yang menonjol atau jika tidak ada ciri lain yang menonjol. Beberapa penyakit sebagai contoh hipotiroidisme, diabetes melitus, dan hiperprolaktinemia dapat mempengaruhi kemampuan wanita untuk mengalami orgasme. Juga sejumlah obat mempengaruhi kapasitas wanita untuk memiliki orgasme.

6. Disfungsi seksual karena zat Diagnosis ini digunakan jika terdapat bukti-bukti riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium adanya intoksikasi atau putus zat. Zat yang disebutkan adalah alkohol, amfetamin, atau zat yang berhubungan seperti kokain, opioid, sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.

16 Dalam dosis kecil, banyak zat yang meningkatkan kinerja seksual dengan menurunkan inhibisi atau kecemasan atau dengan menyebabkan elevasi mood sementara. Tetapi dengan pemakaian lanjut, kapasitas ereksi, orgasme atau ejakulasi menjadi terganggu. Penyalahgunaan sedatif, ansiolitik, hipnotik dan khususnya opiat dan opioid hampir selalu menekan hasrat seksual. Alkohol dapat meningkatkan awal aktivitas seksualdengan menghilangkan inhibisi, tetapi alkohol mengganggu kinerja seksual. Kriteria diagnostik untuk disfungsi seksual akibat zat : Disfungsi seksual yang bermakna klinis yang menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal yang menonjol dalam gambaran klinis. Terdapat bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa disfungsi seksual adalah sepenuhnya dijelaskan oleh pemakaian zat seperti yang dimanifestasikan oleh salah satu (1) atau (2) : (1) gejala dalam kriteria A timbul selama atau dalam satu bulan, intoksikasi zat (2) pemakaian medikasi secara etiologis berhubungan dengan gangguan. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh disfungsi seksual yang bukan diakibatkan zat. 7. Disfungsi seksual yang tidak ditentukan Kriteria diagnostik untuk disfungsi seksual yang tidak ditentukan: Kategori ini termasuk disfungsi seksual yang tidak memenuhi kriteria untuk disfungsi seksual spesifik. Contohnya adalah: Tidak ada perasaan erotik subjektif walaupun terdapat rangsangan dan orgasme yang normal. Situasi dimana klinis telah menyimpulkan bahwa terdapat suatu disfungsi seksual tetapi tidak mampu menentukkan apakah primer, karena kondisi medis umum atau akibat zat. Nyeri kepala pasca sanggama

17 Nyeri kepala pasca sanggama oleh nyeri kepala segera setelah koitus dan dapat berlangsung selama beberapa jam. Keadaan ini biasanya digambarkan sebagai berdenyut, dan terlokalisasi di daerah osipitalis atau frontalis. Penyebab tidak dapat diketahui. Mungkin terdapat penyebab vaskular, kontraksi otot atau psikogenik. Koitus dapat mencetuskan nyeri kepala migran atau nyeri kepala cluster pada orang yang terpredisposisi. Anhedonia orgasmik Anhedonia orgasmik adalah suatu keadaan dimana orang tidak memiliki fisik orgasme, walaupun komponen fisiologis tetap utuh. Penyebab organik seperti lesi sakral dan sephalic yang mengganggu jalur afferen dari genitalia ke korteks harus didingkirkan. Penyebab psikis biasanya berhubungan dengan rasa bersalah yang ekstrim mengenai pengalaman kenikmatan seksual. Perasaan tersebut menghasilkan suatu jenis respon dissosiatif yang mengisolasi komponen afektif pengalaman orgasmik dari kesadaran. Nyeri masturbasi Robekan kecil vagina atau peyronie awal dapat menyebabkan sensasi yang menyakitkan. Orang mungkin melakukan masturbasi sampai suatu tingkat yang menyebabkan kerusakan fisik pada genital dan pada akhirnya mengalami nyeri selama tindakan masturbasi. III. TERAPI Sebelum tahun 1970 pengobatan yang sering untuk disfungsi seksual adalah psikoterapi individual. Teori psikodinamika klasik menyatakan bahwa ketidakberdayaan seksual memiliki akar pada konflik perkembangan awal dan gangguan seksual diobati sebagai bagian gangguan emosional pervasif. Pengobatan dipusatkan pada penggalian konflik, motivasi, fantasi dan berbagai kesulitan interpersonal yang tidak disadari. Macam-macam terapi yang dilakukan adalah : Terapi seks berdua

18 Dasar teori adalah konsep unit atau kesatuan perkawinan sebagai objek terapi. Dalam terapi seks berdua tidak ada penerimaan gagasan setengah dari pasangan pasien adalah sakit. Kedua pasangan adalah terlibat dalam hubungan yang menyakitkan secara seksual, keduanya harus berperan dalam program terapi.

Teknik dan latihan fisik : pada kasus vaginismus, wanita dianjurkan untuk mendilatasikan vagina dengan membukanya dengan jari atau dilator lainnya. Pada kasus ejakulasi prematur, suatu latihan yang dikenal sebagai teknik penekanan digunakan untuk meningkatkan ambang eksitabilitas penis. Dalam latihan tersebut lakilaki atau wanita menstimulasi penis yang terereksi sampai dirasakan sensasi terawal akan mengalami ejakulasi. Pada saat itu wanita dengan kuat menekan sulkus korona dari glans penis, ereksi menurun, dan ejakulasi dihambat. Program latihan akhirnya meningkatkan ambang sensasi untuk ejakulasi yang tidak dapt dihindari dan memungkinkan laki-laki menjadi menyadari sensasi seksualnya dan yakinterhadap kinerja seksualnya. Hipnoterapi Keberhasilan penggunaan hipnoterapi memungkinkan pasien mendapatkan kontrol terhadap gejala yang telah menurunkan harga dirinya dan mengganggu homeostasis psikologis. Pusat dari terapi adalah menghilangkan gejala dan perubahan sikap. Pasien diinstruksikan untuk mengembangkan cara alternatif untuk menghadapi situasi yang menyebabkan kecemasan, pertemuan seksual. Dengan metode tersebut yang menghilangkan kecemasan, respon fisiologis yang terhadap stimulasi seksual dapat segera menyebabkan rangsangan yang menyenangkan dan pelepasan. Halangan psikologis terhadap lubrikasi vagina, ereksi dan orgasme dihilangkan dan fungsi seksual dapt kembali normal.

19

Terapi tingkah laku Ahli terapi perilaku memungkinkan pasien untuk mengatasi kecemasannya melalui program standar desensitisasi sistemik. Program tersebut dirancang untuk menghambat respon kecemasan yang dipelajari dengan mendorong perilaku antitetik terhadap kecemasan. Latihan ketegasan adalah membantu dalam mengajari pasien untuk mengekspresikan kebutuhan seksualnya secara terbuka dan tanpa rasa takut. Diberikan secara bersama-sama dengan terapi seks. Pasien didorong untuk membuat permintaan seksual dan menolak permintaan seksual yang dirasakan tidak beralasan. Satu variasi pengobatan adalah melibatkan peran serta pasangan seksual pasien dalam program desensitisasi.

Terapi kelompok Digunakan untuk memeriksa masalah intrapsikis dan interpersonal pada pasien dengan gangguan seksual. Terapi kelompok memberikan sistem dukungan yang kuat bagi pasien yang malu, cemas, atau bersalah terhadap masalah seksual tertentu. Ini adalah tempat pertemuan yang berguna untuk mengatasi mitos seksual, memperbaiki pandangan yang salah, dan memberikan informasi yang akurat tentang anatomi, fisiologi, dan berbagai perilaku seksual.

Terapi seks berorientasi analitik Salah satu pengobatan yang paling efektif adalah pemakaian terapi seks digabungkan dengan psikoterapi berorientasi psikodinamika atau psikoanalitik. Terapi seks dilakukan selama periode waktu yang lebih lama dari biasanya dan jadwal pengobatan yang lebih luas memungkinkan untuk mempelajari kembali kepuasan seksual.

Terapi biologis Methohexital sodium intra vena telah digunakan dalam terapi desensitisasi. Obat antianxietas telah digunakan pada pasien yang mengalami ketegangan, walaupun obat-obatan dapat mempengaruhi respon seksual. Kadang-kadang efek samping obat tertentu seperti thioridazine dan obat trisiklik digunakan

20 untuk memperpanjang respon seksual pada keadaan tertentu seperti ejakulasi prematur. Pemakaian trisiklik telah dianjurkan dalam pengobatan pasien yang memiliki fobia terhadap seks.

DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, Harold dkk. 1997. Sinopsis Psikiatri Jilid II Edisi Ketujuh. Binarupa Aksara. Jakarta. http://hidup-sehat.blogspot.com/2006/02/disfungsi-seksual-penyebab-dan-cara.htm. diakses tgl 16 februari 2011 pkl 17.00 WIB http://Sexual%20Problems%20in%20Men%20on%20MedicineNet_com.htm