Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

KELAINAN DAN DISFUNGSI SEKSUAL

OLEH:

FERINA NUR HAQIQI 1518012158

HANIF ABDURRACHMAN LATIF 1518012220

PERCEPTOR

dr. Tendry Septa, Sp.KJ (K)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA

RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI LAMPUNG

LAMPUNG SELATAN

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyusun referat ini yang berjudul Kelainan dan
disfungsi seksual.

Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas dalam kepanitraan klinik pada bagian
ilmu kesehatan jiwa Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung. Kepada dr. Tendry Septa,
Sp.KJ (K). selaku preceptor kami ucapkan terima kasih atas segala arahan dan
bimbingannya selama proses pembuatan referat ini.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan referat ini, baik dari segi isi,
bahasa, analisis dan sebagainya. Oleh karena itu, penulis ingin meminta maaf atas segala
kekurangan tersebut, hal ini disebabkan karena masih terbatasnya pengetahuan, wawasan
dan keterampilan penulis. Selain itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan
guna kesempurnaan referat selanjutnya dan sebagai bahan pembelajaran untuk kita
semua.

Semoga referat ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan wawasan berupa ilmu
pengetahuan untuk kita semua.

Bandar Lampung, 27 April 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

1. BAB I Pendahuluan.. 4
2. BAB II Tinjauan Pustaka.. 5
a. Siklus Respon Seksual..................................................................... 5
b. PARAFILIA..................................................................................... 6
i. Ekshibisionisme................................................................... 9
ii. Fetishisme............................................................................ 9
iii. Frotteurisme........................................................................................
........ 10
iv. Pedofilia..............................................................................................
.......... 12
v. Masokisme dan sadisme..................................................... 13
vi. Voyeurisme.........................................................................................
........ 13
vii. Fethisisme
transvestisme...................................................................... 14
viii. Parafilia yang tidak ditentukan..........................................................
15
c. GANGGUAN KEINGINAN DAN GAIRAH SEKSUAL........... 16
d. GANGGUAN ORGASMUS TERMASUK EJAKULASI DINI.. 18
i. Gangguan Orgasme Wanita............................................... 22
ii. Gangguan Orgasme Pria.................................................... 23
e. SEXUAL PAIN DISORDER (TERMASUK VAGINISMUS,
DISPAREUNIA)........................................................................... 28
i. Vaginismus........................................................................ 28
ii. Dispareunia........................................................................ 29

DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 33

iii.

3
BAB I
PENDAHULUAN

Seksualitas dalam arti yang luas ialah semua aspek badaniah, psikologik
dan kebudayaan yang berhubungan langsung dengan seks dan hubungan seks
manusia. Seksologi ialah ilmu yang mempelajari segala aspek ini. Seksualitas
adalah keinginan untuk berhubungan, kehangatan, kemesraan dan cinta, termasuk
di dalamnya memandang, berbicara, bergandengan tangan. Seksualitas
mengandung arti yang luas bagi manusia, karena sejak manusia hadir ke muka
bumi ini hal tersebut sudah menyertainya. Dengan demikian, maka seks juga bio-
psiko-sosial, karena itu pendidikan mengenai seks harus holistik pula. Bila
dititikberatkan pada salah satu aspek saja, maka akan terjadi gangguan
keseimbangan dalam hal ini pada individu atau pada masyarakat dalam jangka
pendek atau jangka panjang, umpamanya hanya aspek biologi saja yang
diperhatikan atau hanya aspek psikologik ataupun sosial saja yang
dipertimbangkan.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Siklus respon seksual


Baik pria atau wanita, keduanya memiliki rangkaian fisiologis terkait respons
aktifitas seksual. Siklus respon seksual merujuk pada urutan perubahan fisik
dan emosional yang terjadi ketika seseorang menjadi terangsang dan
berpartisipasi dalam aktiftas seksual termasuk hubungan seksual dan
masturbasi. Secara umum, siklus respon seksual terdiri dari fase
perangsangan, plateau, orgasmik, dan, resolusi: 1

1) Fase perangsangan
Fase ini terjadi karena adanya rangsangan fisik seperti sentuhan atau
kecupan dan psikologis seperti fantasi. Rangsangan ini memicu reflek
spinal. Sehingga terjadi ereksi pada pria atau lubrikasi pada vagina
wanita. Pada wanita, stimulasi taktil klitoris dan daerah perineum
merupakan rangsangan seks yang sangatkuat.vasokongesti kapiler vagina
memaksa cairan keluar pembuluh ke dalam lumen vagina. Cairan ini
merupakan tanda positif keadaan terangsang seksual. Selama fase eksitasi
wanita, puting payudara menjadi keras dan payudara menjadi besar. 1
2) Fase plateau
Fase ini juga disebut orgasmic platform. Pada fase ini, rangsangan seksual
mencapai derajat tertinggi yaitu sebelum mencapai ambang batas yang
diperlukan untuk terjadinya orgasme (periode singkat sebelum orgasme).
Bila rangsangan berlangsung terus, testis menjadi lebih besar.
pada wanita sementara itu vagina bagian bawah menjadi mengecil dan
payudara wanita menjadi mengeras. 1
3) Fase orgasme
Orgasme adalah perasaan kepuasan seks yang bersifat fisik dan psikologik
dalam aktifitas seks sebagai akibat pelepasan memuncaknya ketegangan
seksual (sexual tension) setelah terjadi fase rangsangan yang memuncak
pada fase plateau. Pada pria, mereka akan mengalami perasaan ejakulasi
yang tak terhindarkan hingga akhirnya terjadi ejakulasi. Sementara itu,

5
fase orgasmik pada wanita ditandai dengan kontraksi di dinding sepertiga
bagian bawah vagina. 1
4) Fase Resolusi
Pada fase resolusi, terjadi pengaliran darah keluar dari area genital
sehingga badan kembali dalam keadaan rileks. Resolusi ditandai dengan
perasaan senang dan lega serta reaksi pengeluaran keringat di seluruh
badan. 1

2. PARAFILIA
A. DEFINISI
Parafilia adalah gangguan seksual yang ditandai oleh khayalan seksual
yang khusus dan desakan serta praktek seksual yang kuat yang biasanya
dilakukan berulang kali dan menakutkan bagi seseorang, yang merupakan
penyimpangan dari norma-norma dalam hubungan seksual yang
dipertahankan secara tradisional, yang secara sosial tidak dapat diterima.2
Parafilia merupakan perilaku menyimpang yang disembunyikan oleh
pelakunya, tampak mengabaikan atau menyakiti orang lain dan merusak
kemungkinan ikatan antara orang yang satu dengan yang lain. Rangsangan
parafilia bersifat sementara pada beberapa orang yang melakukan
impulsnya hanya selama periode stress atau konflik.
B. KLASIFIKASI
Klasifikasi parafilia dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorder edisi keempat (DSM-IV) adalah :
1. Ekshibisionisme
2. Fethishisme
3. Frotteurisme
4. Pedofilia
5. Masokisme seksual
6. Sadisme seksual
7. Voyeurisme
8. Fethisisme transvestik
9. Parafilia lain yang tidak ditentukan
Seseorang mungkin memiliki gangguan parafilia yang multipel.
C. EPIDEMIOLOGI
Parafilia dipraktekkan oleh sejumlah kecil populasi. Sifat gangguan yang
terus menerus dan berulang, menyebabkan tingginya frekuensi kerusakan
akibat tindakan orang dengan parafilia. Diantara semua kasus parafilia,

6
yang paling sering adalah pedofilia. 10-20% dari semua anak pernah
diganggu pada usia 18 tahun. Karena sasarannya adalah seorang anak,
maka tindakan ini ditanggapi lebih serius. 20% wanita dewasa telah
menjadi sasaran orang dengan ekshibisionisme dan voyeurisme.
Masokisme seksual dan sadism seksual kurang terwakili dalam prevalensi
yang ada. Orang dengan fethisisme biasanya tidak menjadi terlibat di
dalam sistem hukum.
Parafilia merupakan kondisi yang terutama terjadi pada laki-laki. Lebih
dari 80% penderita parafilia memiliki onset sebelum usia 18 tahun. Pasien
parafilia umumnya memiliki tiga sampai lima parafilia, baik bersamaan
atau pada saat yang terpisah. Hal ini terutama pada ekshibisionisme,
fethisisme, masokisme seksual, sadism seksual, fethisisme transvestik,
voyeurisme dan zoofilia. Perilaku parafilia memuncak pada usia antara 15
dan 25 tahun dan selanjutnya menurun, pada pria berusia 50 tahun parafilia
jarang terjadi, kecuali mereka yang tinggal dalam isolasi atau dengan
teman yang senasib.

D. ETIOLOGI
Etiologi dari parafilia terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Faktor Psikoseksual
Dalam model psikoanalitik klasik, seorang parafilia adalah orang yang
gagal untuk menyelesaikan proses perkembangan normal kearah
penyesuaian heteroseksual, dan telah dimodifikasi oleh pendekatan
psikoanalitik. Yang membedakan parafilia yang satu dengan yang
lainnya adalah metode yang dipilih oleh seseorang untuk mengatasi
kecemasan yang disebabkan oleh ancaman (a) kastrasi oleh ayah dan
(b) perpisahan dengan ibu. Kegagalan untuk memecahkan krisis
oedipal melalui identifikasi dengan aggressor-ayah (untuk anak laki-
laki) atau aggressor-ibu (untuk anak perempuan) menyebabkan
identifikasi yang tidak sesuai dengan orangtua yang berlawanan jenis
kelamin atau pemilihan objek untuk katheksis libido yang tepat.
Walaupun perkembangan baru-baru ini dalam bidang psikoanalitik
memberikan penekanan lebih besar dalam mengobati mekanisme
pertahanan dibandingkan pada trauma oedipal, dan perjalanan terapi

7
psikoanalitik untuk pasien dengan parafilia tetap konsisten dengan
teori Sigmund Freud.2
Teori lain menyebutkan perkembangan parafilia terjadi dari
pengalaman awal mensosialisasikan anak di lingkungannya.
Pengalaman seksual pertama kali secara bersama-sama merupakan hal
yang penting yang mempengaruhinya.
Onset tindakan parafilia dapat disebabkan dari pembentukkan perilaku
seseorang terhadap orang lain yang telah melakukan tindakan
parafilia, meniru perilaku seksual yang ditampilakan oleh media, atau
mengingat peristiwa emosional masa lalu seseorang,seperti
penganiayaan yang dialaminya.
b. Faktor Organik
Sejumlah penelitian telah mengidentifikasi temuan organic yang
abnormal pada seseorang dengan parafilia. Faktor-faktor organik yang
dapat mempengaruhi seperti adanya kadar hormon abnormal, kelainan
kromosom, kejang, disleksia, memiliki EEG abnormal tanpa kejang,
gangguan mental berat, keterbelakangan mental dan lain sebagainya.
Tes psikofisiologis telah dikembangkan untuk mengukur ukuran
volumetrik penis sebagai respon stimuli parafiliak dan nonparafiliak.
Prosedur dapat digunakan dalam diagnosis dan pengobatan tetapi
memilki keabsahan diagnostik yang diragukan, karena beberapa laki-
laki mampu menekan respon erektilnya.2

E. DIAGNOSIS DAN GAMBARAN KLINIS


Kriteria DSM-IV untuk parafilia termasuk adanya suatu khayalan yang
patognomonik dan desakan yang kuat untuk melakukan khayalan, yang
mungkin menyebabkan penderitaan bagi pasien. Khayalan mengandung
material seksual yang tidak lazim yang relatif terpaku dan jarang
bervariasi.
a. EKSHIBISIONISME
Pada ekshibisionisme, seseorang (biasanya laki-laki) memamerkan
alat kelaminnya kepada orang lain yang sama sekali tidak menduga
hal ini akan terjadi dan pada saat melakukan hal tersebut, penderita
akan terangsang secara seksual.Bisa terjadi masturbasi setelah
penderita melakukan hal tersebut. Hubungan seksual yang lebih jauh

8
hampir tidak pernah terjadi, sehingga penderita jarang melakukan
pemerkosaan. Sebagian penderita yang tertangkap, berusia dibawah
40 tahun. Seorang wanita bisa memamerkan tubuhnya dengan cara-
cara yang mengganggu, tetapi pada wanita, ekshibisionisme jarang
dihubungkan dengan kelainan psikoseksual.2,3
b. FETISHISME.
Pada fetishisme, penderita kadang lebih menyukai untuk melakukan
aktivitas seksual dengan menggunakan obyek fisik (fetish, jimat),
dibandingkan dengan manusia. Penderita akan terangsang dan
terpuaskan secara seksual jika: memakai pakaian dalam milik orang
lain, memakai bahan karet atau kulit, memegang, menggosok-gosok
atau membaui sesuatu, misalnya sepatu bertumit tinggi. Penderita
kelainan ini tidak mampu melakukan fungsi seksualnya tanpa obyek
fisik yang mereka miliki. Biasanya dimulai pada masa remaja,
walaupun pemujaan sudah dmulai dari masa anak-anak. Jika telah
diderita sejak kecil, gangguan cenderung menjadi kronik.2,3
Tabel 2. Kriteria Diagnostik Fethisisme menurut DSM-IV3
Kriteria Diagnostik Fethisisme
A. Waktu sekuramg-kurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual,
adanya dorongan seksual, atau perilaku berulang dan kuat berupa pemakaian benda-
benda mati (misalnya pakaian dalam wanita).
B. Khayalan, dorongan seksual atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,pekerjaan atau fungsi penting
lainnya.
C. Obyek fethis bukan perlengkapan pakaian wanita yang digunakan pada cross-dressing
(berpakaian lawan jenis), seperti pada fethisisme transvestik, atau alat-alat yang
dirancang untuk tujuan stimulasi taktil pada genital ( misalnya vibrator).

c. FROTTEURISME
Frotteurisme biasanya ditandai oleh seorang laki-laki yang
menggosokkan penisnya ke bokong atau bagian tubuh seorang wanita
yang berpakaian lengkap untuk mencapai orgasme. Pada saat yang
lain, ia mungkin menggunakan tangannya untuk meraba korban yang
tidak curiga. Hal ini biasanya terjadi di tempat yang ramai, seperti di
bus atau di kereta. Orang dengan frotteurisme biasanya sangat pasif

9
dan terisolasi, dan merupakan satu-satunya sumber kepuasan
seksualnya.2,3
Tabel 3. Kriteria Diagnostik Frotteurisme menurut DSM-IV3
Kriteria Diagnostik Frotteurisme
A. Waktu sekuramg-kurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual,
adanya dorongan seksual, atau perilaku berulang dan kuat berupa meyentuh atau
bersenggolan dengan orang yang tidak menyetujuinya.
B. Khayalan, dorongan seksual atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,pekerjaan atau fungsi penting
lainnya.
d. PEDOFILIA.
Pedophilia adalah kecenderungan untuk melakukan aktivitas seksual
dengan anak-anak kecil. Di negara-negara Barat, pedofilia biasanya
diartikan sebagai keinginan untuk melakukan aktivitas seksual dengan
anak yang berusia di bawah 13 tahun. Seseorang yang didiagnosis
pedofilia, setidaknya berusia 16 tahun dan biasanya minimal 5 tahun
lebih tua daripada korban. Penderita sangat terganggu dan fikirannya
dipenuhi dengan khayalan seksual tentang anak-anak, bahkan
meskipun tidak terjadi aktivitas seksual yang sesungguhnya. Beberapa
penderita hanya tertarik pada anak-anak, seringkali anak pada usia
tertentu; sedangkan penderita lainnya tertarik pada anak-anak dan
dewasa. Baik pria maupun wanita bisa menderita pedofilia, dan
korbannya pun bisa anak laki-laki maupun anak perempuan. Penderita
mungkin hanya tertarik pada anak-anak kecil dalam keluarganya
sendiri (incest), atau mereka bisa juga mengincar anak-anak kecil di
lingkungan sekitarnya. Penderita bisa melakukan pemaksaan atau
kekerasan untuk melakukan hubungan seksual dengan anak-anak
tersebut dan memberikan ancaman supaya korbannya tutup mulut.
Pedofilia bisa diobati dengan psikoterapi dan obat-obatan yang
merubah dorongan seksual. Pengobatan tersebut bisa dilakukan
berdasarkan kemauan sendiri atau setelah penderita menjalani proses
hukum. Beberapa penderita memberikan respon terhadap pengobatan,
sedangkan penderita lainnya tidak. Hukuman penjara, bahkan untuk
waktu yang lama, tidak merubah hasrat maupun khayalan penderita. 2-4

10
Tabel 4. Kriteria Diagnostik Pedofilia menurut DSM-IV3
Kriteria Diagnostik Pedofilia
A. Waktu sekuramg-kurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual,
adanya dorongan seksual, atau perilaku berulang dan kuat berupa aktifitas seksual dengan
anak prapubertas atau anak-anak (biasanya berusia 13 tahun atau kurang).
B. Khayalan, dorongan seksual atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,pekerjaan atau fungsi penting
lainnya.
C. Orang sekurang-kurangnya berusia 16 tahun dan sekurangnya berusia 5 tahun lebih tua
dari anak atau anka-anak dalam kriteria A.
Catatan : Jangan masukkan seorang individu yang di dalam masa remaja akhir yang terlibat
hubungan seksual berkelanjutan dengan seseorang berusia 12 atau 13 tahun.
Sebutkan jika :
Tertarik secara seksual kepada laki-laki
Tertarik secara seksual kepada wanita
Tertarik secara seksual kepada keduanya
Sebutkan jika :
Terbatas pada incest
Sebutkan jenis :
Tipe eksklusif (hanya tertarik pada anak-anak)
Tipe noneksklusif

e. MASOKISME & SADISME


Masokisme merupakan kenikmatan seksual yang diperoleh jika
penderita secara fisik dilukai, diancam atau dianiaya. Sedangkan
sadisme adalah kebalikan dari masokisme, yaitu kenikmatan seksual
yang diperoleh penderita jika dia menyebabkan penderitaan fisik
maupun psikis pada mitra seksualnya. Sejumlah sadisme dan
masokisme sering dimainkan dalam hubungan seksual yang sehat.
Sebagai contoh, penggunaan saputangan sutra untuk menirukan
perbudakan dan tamparan ringan pada saat melakukan hubungan
seksual, sering dilakukan dengan persetujuan mitra seksualnya dan
bukan merupakan suatu sadomasokistik. Tetapi masokisme atau
sadisme sampai yang tingkat yang berat, dapat mengakibatkan luka

11
baik fisik maupun psikis, bahkan kematian. Kelainan seksual
masokisme melibatkan kebutuhan akan penghinaan, pemukulan atau
penderitaan lainnya yang nyata, bukan pura-pura. yang dilakukan oleh
mitra seksualnya untuk membangkitkan gairah seksualnya.Misalnya
penyimpangan aktivitas seksual yang berupa asfiksiofilia, dimana
penderita dicekik atau dijerat (baik oleh mitra seksualnya maupun
oleh dirinya sendiri). Berkurangnya pasokan oksigen ke otak yang
bersifat sementara pada saat mengalami orgasme, dicari sebagai
penambahan kenikmatan seksual; tetapi cara tersebut bisa secara tidak
sengaja menyebabkan kematian. Sadisme seksual bisa terjadi hanya
dalam khayalan atau mungkin diperlukan untuk perangsangan atau
untuk mencapai orgasme. Beberapa penderita sadisme, menjerat
korban yang ketakutan, yang tidak menyetujui apa yang dilakukan
oleh penderita dan kemudian memperkosanya.Penderita lainnya,
secara khusus mencari mitra seksual yang menderita masokisme dan
memenuhi keinginan sadistiknya dengan mitra seksual yang memang
senang untuk disakiti. Khayalan dari pengendalian dan kekuasaan
total seringkali penting bagi penderita, dan penderita sadisme bisa
mengikat dan menyumbat mitra seksualnya dengan cara yang rumit.
Pada kasus yang berat, penderita bisa menyiksa, memotong,
mencambuk, memasang kejutan listrik atau membunuh mitra
seksualnya.2-4
Tabel 5. Kriteria Diagnostik Masokisme Seksual menurut DSM-IV3
Kriteria Diagnostik Masokisme Seksual
A. Selama waktu sekurang-kurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara
seksual, adanya dorongan seksual,atau perilaku berulang dan kuat berupa tindakan (nyata
atau disimulasi) sedang dihina,dipukuli,diikat,atau hal lain yang membuat menderita.
B. Khayalan, dorongan seksual atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,pekerjaan atau fungsi penting
lainnya.

Tabel 6. Kriteria Diagnostik Sadisme Seksual menurut DSM-IV3

12
Kriteria Diagnostik Sadisme Seksual
A. Selama waktu sekurang-kurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara
seksual, adanya dorongan seksual,atau perilaku berulang dan kuat berupa tindakan (nyata
atau disimulasi) dimana penderitaan korban secara fisik atau psikologis (termasuk
penghinaan) adalah menggembirakan pelaku secara seksual.
B. Khayalan, dorongan seksual atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,pekerjaan atau fungsi penting
lainnya.

f. VOYEURISME
Pada voyeurisme, seseorang akan terangsang jika melihat orang lain
yang menanggalkan pakaiannya, telanjang atau sedang melakukan
hubungan seksual. Voyeurisme merupakan kegiatan mengintip yang
menggairahkan, bukan merupakan aktivitas seksual dengan orang
yang dilihat. Voyeurisme dalam tingkatan tertentu sering terjadi pada
anak-anak laki-laki dan pria dewasa, dan masyarakat seringkali
menilai perilaku dalam bentuk yang ringan ini sebagai sesuatu yang
normal. Tetapi sebagai suatu kelainan, voyeurisme merupakan metode
aktivitas seksual yang lebih disukai oleh penderitanya dan bisa
menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengintip korbannya.
Sebagian besar penderita adalah pria. Salah satu kriteria yang
merupakan ciri khas dari voyeurisme, yaitu melihat secara sembunyi-
sembunyi.2,3
Tabel 7. Kriteria Diagnostik Voyeurisme menurut DSM-IV3
Kriteria Diagnostik Voyeurisme
A. Selama waktu sekurang-kurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara
seksual, adanya dorongan seksual,atau perilaku berulang dan kuat berupa mengamati
orang telanjang yang tidak menaruh curiga, sedang membuka pakaian atau melakukan
hubungan seksual.
B. Khayalan, dorongan seksual atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan fungsi sosial,pekerjaan atau fungsi penting
lainnya.

g. FETHISISME TRANSVESTISME

13
Pada transvestisme, seorang pria kadang lebih menyukai untuk
mengenakan pakaian wanita atau (yang lebih jarang terjadi) seorang
wanita lebih menyukai untuk mengenakan pakaian pria. Pada kedua
kasus tersebut, baik pria maupun wanita, ingin merubah seksnya,
seperti halnya pada transeksualis. Mengenakan pakaian lawan
jenisnya tidak selalu merupakan kelainan jiwa dan mungkin tidak
mempengaruhi hubungan seksual pasangan tersebut. Transvestisme
merupakan suatu kelainan jika: menimbulkan masalah, menyebabkan
gangguan tertentu, melibatkan perilaku berani-mati yang
memungkinkan terjadinya cedera, kehilangan pekerjaan atau hukuman
penjara. Penderita mengenakan pakaian lawan jenisnya untuk alasan
lainnya selain rangsangan seksual, seperti untuk mengurangi
kecemasan, untuk santai atau sebagai suatu eksperimen (percobaan)
dengan sisi feminin yang mereka miliki.2-4
Tabel 8. Kriteria Diagnostik Fethisisme Transvestisme menurut DSM-IV3
Kriteria Diagnostik Fethisisme Transvestisme
A. Selama waktu sekurang-kurangnya 6 bulan, pada seorang laki-laki heteroseksual,
terdapat khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual atau perilaku yang
berulang dan kuat berupa cross-dressing.
B. Khayalan, dorongan seksual atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,pekerjaan atau fungsi penting
lainnya.

h. PARAFILIA YANG TIDAK DITENTUKAN


Tabel 9. Kriteria Diagnostik Parafilia yang Tidak Ditentukan menurut DSM-IV3

Kategori ini dimasukkan untuk menuliskan parafilia yang tidak memenuhi criteria untuk
salah satu kategori spesifik. Contohnya adalah skatologia telepon (telepon cabul),
nekrofilia (mayat), parsialisme ( perhatian yang eksklusif pada bagian tubuh), zoofilia
(binatang), koprofilia (feses), klismafilia (enema) dan urofilia (urin).

F. DIAGNOSIS BANDING

14
Yang penting untuk dilakukan adalah untuk bisa membedakan suatu
parafilia dari tindakan yang dilakukan untuk mengetahui efek baru dan
tidak secara rekuren atau kompulsif. Aktifitas parafilia paling sering terjadi
pada masa remaja. Beberapa parafilia merupakan bagian dari ganguan
mental lain seperti skizofrenia. Jika disertai penyakit otak, maka mungkin
akan melepas impuls yang buruk.4
G. TERAPI
Terapi Non-Medikamentosa
Penjara adalah sebuah kontrol eksternal untuk pelaku kejahatan seksual
yang biasanya tidak mengandung komponen pengobatan. Saat kejahatan
seksual terjadi dalam lingkungan pekerjaan atau keluarga, kontrol
eksternal berasal dari atasan, rekan kerja, atau anggota keluarga yang lebih
tua, dan menyarankan kepada korban untuk menghilangkan adanya
kesempatan bagi pelaku kejahatan seksual.2
Terapi cognitive-behavioral digunakan untuk mengintervensi pola parafilia
yang sudah terbentuk pada pasien parafilia dan memodifikasi tingkah laku
pasien menjadi dapat diterima oleh masyarakat. Intervensi ini termasuk
pelatihan kemampuan sosial, edukasi seksual, pembangunan kembali
fungsi kognitif, dan mengembangkan empati kepada korban. Imaginal
desensitization, teknik relaksasi, dan mempelajari hal-hal yang menjadi
pencetus terjadinya parafilia sehingga stimulus-stimulus tersebut dapat
dihindari oleh pasien. Pada terapi modified aversive behaviour, salah satu
pasien direkam dalam video sedang melakukan aksi parafilia dengan
manekin. Kemudian pasien dihadapkan dengan seorang terapis dan
sekelompok orang yang menanyakan tentang perasaan, pikiran, motivasi
yang berkaitan dengan perilaku pasien dan secara berulang mencoba untuk
memperbaiki distorsi kognitif serta kurangnya empati pasien terhadap
korban.2,4,5
Psikoterapi insight-oriented adalah sebuah terapi jangka panjang. Pasien
mempunyai kesempatan untuk mengerti perubahan mereka dan kejadian-
kejadian yang menyebabkan parafilia berkembang. Secara singkat, mereka
menjadi mengerti tentang kejadian sehari-hari yang menyebabkan mereka

15
kambuh. Pengobatan ini membantu mereka dalam menghadapi kehidupan
dan meningkatkan kemampuan mereka untuk hidup dengan pasangannya.
Psikoterapi juga dapat meningkatkan rasa percaya diri pasien dan hal ini
dapat membuat mereka memiliki kemampuan pendekatan terhadap
pasangannya secara normal.2

Terapi Medikamentosa

Terapi obat, termasuk di dalamnya obat-obatan antipsikotik atau


antidepresan, digunakan untuk mengobati skizofrenia atau gangguan
depresif jika pelaku parafilia menderita gangguan ini. Antiandrogen,
contohnya cyproterone acetate di Eropa atau medroxyprogesterone acetate
(depo-Provera) di Amerika, dapat mengurangi dorongan perilaku seksual
dengan mengurangi kadar serum testosteron menjadi di bawah normal.
Agen serotonergik seperti fluoxetine (Prozac) juga digunakan dengan
angka keberhasilan yang kecil pada pasien parafilia.2,4,5
H. PROGNOSIS
Prognosis buruk pada parafilia berhubungan dengan onset usia yang awal,
tingginya frekuensi tindakan, tidak adanya perasaan bersalah atau malu
terhadap tindakan tersebut dan penyalahgunaan zat.
Prognosis baik jika pasien memiliki riwayat koitus di samping
parafilianya, jika pasien memiliki motivasi tinggi untuk berubah, dan jika
pasien dating atas kemauan sendiri bukan dikirim oleh badan hukum.2,4,5
3.
GANGGUAN KEINGINAN DAN GAIRAH SEKSUAL
A. DEFINISI
Kondisi ketika terjadinya penurunan respon maupun keinginan secara
seksual.6
B. INSIDEN
Lebih dari 50% pasangan pernah mengalami gangguan fungsi seksual.
60% pada wanita dan 40% pada pria.6

C. PATOFISIOLOGI

16
Gangguan ini terjadi akibat proses conditioning. Jika objek non seksual
dipakai sering dan diulang-ulang untuk aktivitas seksual maka akan
mengakibatkan objek tersebut menjadi sexually arousing. Conditioning
bukan satu-satunya hal yang berperan pada perkembangan gangguan ini.
Hal yang juga berpengaruh adalah kepercayaan diri yang rendah. Ada dua
macam gangguan yaitu:
Pertama, Hypoactive Sexual Disorder (HSD). Gejalanya si penderitanya
kehilangan minat terhadap berbagai aktifitas seksual dan bukan diukur dari
pada frekuensi (jarang / sering) hubungan seksualnya. Dulu problem ini
diangggap lebih banyak menyangkut masalah perkawinan ketimbang
kesulitan-kesulitan dalam seksual.6,7
Kedua, Sexual Aversion Disorder (SAD). Ini merupakan kelanjutan dari
HSD dimana penderitanya bukan saja tidak ada hasrat seksual, termasuk
juga pikiran tentang seks. 6,7
D. GEJALA KLINIS
1. Rendahnya keinginan untuk berhubungan seks.
2. Tidak adanya respon bahkan saat terjadi rangsangan seksual.
3. Gairah yang mudah berubah drastis.
4. Sulit mencapai orgasme.
5. Merasa sakit saat beraktivitas seksual.7
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Perlu dilakukan pemeriksaan
1. Aliran darah genital.
2. Sensasi genital.
3. Profil hormon. 7

F. DIAGNOSIS
Ada dua aspek utama dalam penilaian mengenai tingkah laku seksual ini
1. Anamnesis
Umumnya ini didasarkan pada beberapa asumsi yang berguna untuk
mengetahui gangguan seksual. Bahasa yang digunakan harus mudah
dimengerti dan nyaman bagi pasien.
2. Evaluasi Medis

17
Dapat dilihat adanya riwayat penggunaan obat yang bias mengganggu
gairah dan fungsi seksual seperti obat yang diberikan pada kasus
hipertensi atau pada pasien cemas dan depresi.8

G. DIAGNOSIS BANDING
Depresi Berat
Gangguan Kepribadian
Problem Perkawinan atau Problem Hubungan Interpersonal lainnya..8
H. TERAPI
Terapi psikososial, langkah terapinya diberikan singkat dan langsung.
Pendekatannya langsung pada masing-masing kasus yang khusus,
misalnya pada kasus ejakulasi dini, orgasmic disorder, dsb. Terapinya
melibatkan pasangan yang dysfunction dan diadakan secara intensif
selama 2 minggu berturut-turut.6,8
Dalam terapi diberikan pendidikan dan pengetahuan tentang fungsi seks,
menggali mitos mitos tentang seks, dan meningkatkan komunikasi. Tujuan
terapis terutama mengurangi kecemasan yang menjadi faktor penghalang.
Kemudian dilengkapi dengan latihan. Dalam latihan ini pasangan belajar
melakukan intercourse atau genital caressing dan secara sederhana
mengeksplore dan enjoy dengan tubuhnya masing-masing melalui
touching, kissing, hugging, massaging dan tingkah laku lainnya. 6,8
Disamping penanganan secara psikososial ada juga terapi medis. Beberapa
tahun ini beberapa pendekatan medis sudah mulai dikembangkan untuk
mengatasi disfungsi seksual. Hampir seluruhnya difokuskan pada kasus
ejakulasi dini. Silahkan menghubungi dokter spesialis, yang biasa disebut
dengan seksolog.8
I. PROGNOSIS
Prognosis terhadap perbaikan disfungsi seksual akan sangat buruk apabila
terdapat hubungan pasangan yang saling menyakitkan dan merusak.8

18
3. GANGGUAN ORGASMUS, TERMASUK GANGGUAN EJAKULASI
(EJAKULASI DINI)
A. Ejakulasi Dini
a. Definisi
Ejakulasi dini (Premature Ejaculation), yaitu pembuangan
sperma yang terlalu dini atau cepat. Ejakulasi dini adalah
ejakulasi yang terjadi sebelum ejakulasi diharapkan terjadi oleh
yang bersangkutan. Ejakulasi dan orgasme pada pria seharusnya
tidak terjadi secara bersamaan, tetapi terdapat kondisi saat ejakulasi
tanpa orgasme. Cepatnya ejakulasi tergantung juga dari pasangan
dengan siapa pria itu bersenggama.9
b. Etiologi
Penyebab terjadinya ejakulasi dini merupakan interaksi antara
faktor psikologis dan biologis:
a) Faktor psikologis meliputi efek pengalaman seksual (termasuk
pengalaman seks di usia dini, hubungan seks pertama kali, dsb),
terburu-buru ingin mencapai klimaks atau orgasme, teknik
seksual, frekuensi aktivitas seksual, rasa bersalah, cemas,
penampilan seksual, problematika hubungan, dan penjelasan
psikodinamika.10
b) Faktor biologis meliputi ketidaknormalan kadar hormon seks
dan kadar neurotransmiter, ketidaknormalan aktivitas refleks
sistem ejakulasi, permasalahan tiroid tertentu, peradangan dan
infeksi prostat atau saluran kemih, sensitivitas penis, reseptor
dan kadar neurotransmiter pusat, degree of arousability,
kecepatan refleks ejakulasi. Riset terbaru menduga
hipersensitivitas penis merupakan salah satu penyebab yang
mendasari ED.10
c) Faktor lainnya yang dapat juga berperan, seperti impotensi
(disfungsi ereksi), kerusakan sistem saraf akibat pembedahan
atau trauma (luka), ketergantungan narkotika dan obat
(trifluoperazin) yang digunakan untuk mengobati cemas dan
gangguan mental lainnya.10
c. Klasifikasi
Klasifikasi ejakulasi dini antara lain:

19
1) Ejakulasi dengan rangsang minimal yang terjadi mendahului
hasrat, keinginan, sebelum atau segera setelah penetrasi
(masuknya penis ke vagina), menyebabkan ketidaknyamanan
(bother) atau penderitaan (distress), sedangkan pasien sedikit
atau tidak memiliki pengendalian.9,10
2) Ejakulasi yang menetap atau berulang dengan sedikit stimulasi
sebelum, saat, atau segera setelah penetrasi dan sebelum
penderita menghendakinya (sedikit atau tidak memiliki
pengendalian).10
3) Ejakulasi yang selalu terjadi sekitar satu menit sebelum atau di
dalam vagina saat melakukan penetrasi dan ketidakmampuan
untuk menunda ejakulasi di (hampir) semua penetrasi.9,10
4) Ejakulasi tak terkendali dengan ciri khas berupa orgasme
berulang atau menetap dengan sedikit rangsangan seksual
sebelum, saat, atau setelah penetrasi (masuknya penis ke vagina)
dan sebelum pasien menginginkannya.9,10
5) Keadaan seorang pria sudah mengalami orgasme dan
berejakulasi sebelum ia sengaja menghendakinya.10
d. Epidemiologi
World Health Organization menyebutkan hak untuk sehat secara
seksual (sexual health) merupakan hak asasi manusia. Jadi,
memang sebaiknya ada kebebasan dari gangguan organik,
penyakit, dan kekurangan yang mengganggu kebebasan seksual
dan reproduksi. Bentuk disfungsi (gangguan) seksual yang umum
dialami pria adalah ejaculatory dysfunction, ejakulasi
dini,disfungsi ereksi, dan penurunan libido. Ejakulasi dini (ED)
merupakan gangguan atau disfungsi seksual pria yang paling
sering dijumpai. ED memengaruhi sekitar 14-30% pria berusia
>18 tahun, 30-40% pria yang aktif secara seksual, dan 75% pria di
saat tertentu di dalam kehidupannya. Ejakulasi dini merupakan
problem seksual terutama pada penderita diabetes melitus, selain
impotensi dan hilangnya libido.11
e. Penegakan diagnosis
Menurut DSM-IV:
a) Ejakulasi dengan stimulasi seksual yang minimal sebelum, saat,

20
atau segera setelah penetrasi dan sebelum pasien
menginginkannya yang persisten atau rekuren. Klinisi harus
mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi durasi
fase rangsangan, seperti usia, keintiman pasangan atau situasi
seksual, dan frekuensi aktivitas seksual akhir-akhir ini.10,11
b) Gangguan menyebabkan stres dan masalah interpersonal. 10,11
c) Ejakulasi dini bukan hanya karena efek langsung dari suatu zat
(misalnya, putus dari opioid). 10,11
f. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium atau fisiologis harus berdasarkan pada
penemuan spesifik dari riwayat (penyakit, dan lain-lain) penderita
atau pemeriksaan fisik dan tidak direkomendasikan secara rutin.
Beberapa pilihan alat diagnostik berupa kuesioner (daftar
pertanyaan terstruktur) dapat membantu penilaian (assessment)
ED, antara lain: 11
a) Intravaginal ejaculation latency time (IELT)
b) Kombinasi IELT dengan patient-reported outcome (PRO)
c) Premature Ejaculation Diagnostic Tool (PEDT)
d) Premature Ejaculation Profile (PEP)
e) Index of Premature Ejaculation (IPE)
f) Male Sexual Health Questionnaire Ejaculatory Dysfunction
(MSHQ-EjD)
g) Chinese Index of Premature Ejaculation (CIPE)
h) Arabic Index of Premature Ejaculation (AIPE). 9,10
Penggunaan kuesioner merupakan pilihan dokter, sesuai indikasi
dan ketersediaan kuesioner. Parameter patient reported outcomes
(PROs) dapat diketahui dari kuesioner PEP yang dapat diisi
sendiri. Sedangkan IELT merupakan pengukuran koitus yang
objektif dan prospektif, menggunakan stopwatch yang dipegang
pasangan seks penderita ED. Penggunaan IELT yang dinilai oleh
dokter di dalam praktek cukup akurat, dalam uji klinis diperlukan
IELT yang dipadukan dengan stopwatch. Pertanyaan sederhana
sebagai deteksi dini Do you feel you ejaculate (come) too
quickly? untuk dugaan ejakulasi dini dan Do you ever have diffi
culty reaching orgasm or ejaculating? untuk dugaan delayed
(retrograde) ejaculation. 9,10
B. Gangguan Orgasme Wanita

21
a. Definisi
Gangguan orgasme pada wanita didefinisikan sebagai
ketidakmampuan atau keterlambatan memperoleh orgasme sesudah
perangsangan yang cukup.9
b. Etiologi
Penyebab gangguan orgasme dapat bersifat organik maupun
psikologis. Berbagai faktor psikologis, seperti kecemasan dan
kekhawatiran tentang kehamilan, berpotensi dapat mengganggu
kemampuan wanita untuk mencapai orgasme. Introversi,
ketidakstabilan emosional, dan tidak bersikap terbuka terhadap
pengalaman baru dikaitkan dengan jarangnya orgasme.
Permusuhan pada pria, perasaan bersalah terhadap impuls seksual.
Untuk beberapa wanita, orgasme disamakan dengan kehilangan
kendali atau dengan perilaku agresif, destruktif, atau kasar.
Ketakutan wanita terhadap terhadap impulsnya dapat diekspresikan
melalui inhibisi perangsangan atau orgasme Sampai saat ini, tidak
ada yang konsisten, temuan empiris membuktikan hipotesis bahwa
faktor psikososial saja dapat menyebabkan gangguan orgasme pada
wanita.12
c. Kriteria Diagnostik Gangguan Orgasme Wanita
Menurut DSM IV yaitu:
a) Tertundanya atau tidak adanya orgasme setelah fase rangsangan
seksual yang menetap atau rekuren. Wanita memiliki berbagai
variasi terhadap jenis atau intensitas stimulasi yang memicu
orgasme. Diagnostik gangguan orgasme wanita harus didasarkan
pada pertimbangan klinis karna kapasitas orgasmik wanita
kurang dari apa yang diperkirakan menurut usia, pengalaman
seksual, dan keadekuatan stimulasi seksual yang dia terima.12
b) Gangguan menyebabkan stress atau masalah interpersonal. 12
c) Disfungsi seksual tidak dapat diterangkan oleh gangguan aksis I
lainnya (kecuali disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan
efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang
disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum. 12
C. Gangguan Orgasme Pria
a. Definisi

22
Gangguan orgasme pada pria merupakan kesulitan pria untuk
mencapai orgasme setelah melalui pola hasrat dan gairah seksual
yang normal.9
b. Kriteria Diagnostik Gangguan Orgasme Pria
Menurut DSM IV:
a) Tertundanya atau tidak adanya orgasme setelah fase rangsangan
seksual yang menetap atau rekuren dengan penilaian klinis
ditegakkan oleh klinisi dengan mempertimbangkan menurut
usia, kemampuan tuntuk focus, intensitas dan durasi.
b) Gangguan menyebabkan stress atau interpersonal.
c) Disfungsi seksual dapat diterangkan oleh gangguan aksis I
lainnya (kecuali disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan
efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang
disalahgunakan atau medikasi) atau suatu kondisi medis umum.9

23
Penatalaksanaan gangguan orgasmus
Tatalaksana ejakulasi dini terutama pendekatan kombinasi, menggunakan
terapi behavioural dan perpaduan medikasi, seperti golongan anestesi topikal,
SSRI (Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitors), dan phosphodiesterase-5
inhibitors. 11
Non-farmakologi
Terapi Seks
Pasangan diberikan instruksi dalam teknik terapi seks, seperti Stop-Start
atau teknik meremas. pada teknik ini, pasangan wanita perlahan mulai
memberikan rangsangan pada pria namun segera berhenti setelah ia
merasakan perasaan kenikmatan yang menyebabkan ejakulasi. Kemudian
wanita menekan penis tepat pada bagian belakang dan bawah dari glans
penis. Penekanan ini harus nyaman dan tidak menyakitkan. setelah pria
merasa perasaan ejakulasi tidak lagi dekat (rasa kenikmatan yang mulai
hilang), pasangan melanjutkan kembali rangsangan. Proses ini harus
diulang dan dipraktekkan setidaknya 10 kali atau lebih. Seiring waktu,
kebanyakan dari pria menemukan bahwa teknik ini membantu mengurangi
ejakulasi dini 11,12
Setelah berlatih teknik ini untuk sementara waktu, pasangan dapat pindah
ke fase lain dari proses. Dalam fase ini, pasangan duduk saling
berhadapan, dengan kaki wanita itu menyeberang di atas kaki pria. Wanita
merangsang pria dengan memanipulasi penisnya dan kemudian dengan
menggesekan pada daerah vulvanya. Setiap kali dia merasakan
kegembiraan yang berlebihan, wanita memeras dan menghentikan semua
rangsangan sampai pria cukup tenang untuk proses yang akan diulang.
Akhirnya, koitus dapat dicoba, dengan pasangan wanita berada diposisi
atas sehingga wanita dapat menarik segera dan memeras untuk
menghilangkan dorongan pasangan pria mencapai klimaks 11
A. Farmakologi
Anestetik topikal
Krim lidocaine-prilocaine (5%) digunakan 20-30 menit sebelum
berhubungan seks. Formulasi aerosol lidocaine 7,5 mg plus prilocaine 2,5
mg (Topical Eutectic Mixture for Premature Ejaculation, TEMPE) dipakai
2030menit sebelum bersenggama dan dibersihkan sebelum bersentuhan

24
dengan pasangan. Penelitian di Inggris dan Belanda menunjukkan dengan
terapi ini, skor IELT naik secara signifi kan. Krim lignocaineprilocaine
(eutectic mixture of local anaesthetic agents [EMLA]) dioleskan tipis di
penis (bagian glans dan distal shaft) lalu ditutupi dengan kondom selama
1020 menit. Jika akan bersenggama, kondom dilepas, sisa krim dicuci
perlahan. Skor IELT terbukti naik secara signifi kan. Krim ini terbukti
efektif bila dikombinasikan dengan sildenafi l 50 mg sebelum coitus dan
secara signifi kan lebih efektif daripada sildenafi l saja. 11
Semprotan (spray) lignocaine dipakai di glans penis (36 semprotan), 515
menit sebelum bersenggama. Meskipun telah ada selama 25 tahun, namun
kemanjurannya belum teruji. Efek samping agen anestetik yang nyata
adalah penis menjadi mati rasa (penile numbness), yang pada gilirannya
memicu hilangnya kemampuan untuk ereksi. 11
SSRIs (Selective serotonin reuptake inhibitors)
Dosis paroksetin adalah 1040 mg setiap hari atau 20 mg 34 jam sebelum
bersenggama, sertralin 25-200 mg setiap hari atau 50 mg 4-8jam sebelum
bersenggama, dan fluoksetin 10-60 mg. Efek samping berupa lelah, letih,
menguap, mengantuk, mual, muntah, mulut kering, diare, berkeringat,
biasanya ringan dan berangsur-angsur membaik setelah 2-3 minggu. Efek
samping lainnya, seperti libido berkurang, anorgasmia (tidak bisa
orgasme), anejaculation (tidak bisa berejakulasi), dan disfungsi ereksi
(impotensi). Dapoksetin merupakan SSRI berpotensi kuat. Biasa dipakai 1-
3 jam sebelum bersenggama, dengan dosis 30 dan 60 mg. Efek
sampingnya, seperti mual, mencret, sakit kepala, dan sensasi berputar.12
Adapun penatalaksanaan gangguan orgasme pada wanita terdiri dari:
A. Non-farmakologi
Psikoterapi
Cognitive Behavioral Therapy untuk anorgasmia berfokus pada perubahan
sikap dan pemikiran seksual yang relevan. Asumsi dasar dari CBT adalah
bahwa kemampuan orgasme dan kepuasan dapat meningkat dengan
mengurangi kecemasan dan penyimpangan tentang seks. Strategi ini
mengikuti kepercayaan bahwa kecemasan mengganggu fungsi seksual dan
orgasme 11
Master dan Johnsons memberikan hipotesis bahwa tatalaksana yang
berfokus pada sensasi pada dasarnya merupakan teknik untuk mengurangi

25
kecemasan. Tatalaksana ini berupa pendekatan secara bertahap (dan fokus)
pada latihan sentuhan tubuh, sentuhan dari nonseksual meningkat menjadi
sentuhan seksual pada pasien dan tubuh pasangan. Terapi lain berupa
latihan perilaku yang melibatkan masturbasi telah terbukti efektif untuk
mengobati anorgasmia dalam berbagai modalitas termasuk biblioterapi,
kelompok, individu maupun terapi pasangan. 11

B. Farmakoterapi
Tatalaksana farmakologis untuk anorgasmia sekunder harus
mempertimbangkan etiologi medis yang mendasari, hal tersebut dijelaskan
sebagai berikut sebagai berikut 12
Antidepresan yang menginduksi disfungsi orgasme
Penurunan dosis antidepresan atau beralih ke obat yang berbeda
ditunjukkan, augmentasi dengan bupropion merupakan alternatif
Anorgasmia berkaitan dengan penyalahgunaan zat
Mengidentifikasi dan mengobati penyalahgunaan zat yang mendasari
sering menyebabkan peningkatan fungsi seksual
Disfungsi orgasme pada wanita postmenopause dengan penurunan
hasrat seksual
Testosteron dalam kombinasi dengan estrogen-atau sebaliknya, hormon
seks steroid sintetis Tibolone-bisa dipertimbangkan
Bupropion
Bupropion telah muncul sebagai pilihan tatalaksana untuk disfungsi
orgasme terutama karena laporan kasus menunjukkan bahwa bupropion
dapat meningkatkan libido rendah akibat depresi atau disfungsi seksual
yang disebabkan antidepresan. Dalam kasus depresi akibat SSRI yang
diobati dengan gigih menyebabkan tingkat libido rendah, dapat
menggunakan bupropion sebagai augmenter atau beralih ke bupropion.
12

4. SEXUAL PAIN DISORDER (TERMASUK VAGINISMUS, DISPAREUNIA)


Gangguan nyeri seksual termasuk dalam edisi yang berbeda dari Manual
Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-III-R 1987; DSM-IV-TR,
2000) adalah dispareunia dan vaginismus.
A. Vaginismus
a. Definisi

26
Vaginismus menunjukkan kesulitan persisten atau berulang dari wanita
untuk memungkinkan masuknya penis, jari, dan/atau objek apapun pada
vagina, meskipun wanita mengungkapkan keinginan untuk
melakukannya. Vaginismus adalah kontraksi otot pada sepertiga bagian
luar vagina yang terjadi secara involunter yang menghalangi insersi
penis dan hubungan seks. Wanita yang menderita vaginismus mungkin
secara sadar berharap melakukan koitus tetapi secara tidak sadari
berharap untuk menghalangi penis memasuki tubuhnya.2
b. Etiologi
Tanpa menggunakan pemeriksaan ginekologi menyakitkan atau
pemeriksaan tersebut di bawah anestesi, bagaimanapun, sangat sulit
dalam praktek ginekologi klinis untuk mengidentifikasi wanita dengan
penyebab fisiologis (misalnya, kelainan nikah) untuk vaginismus. Hal
ini juga hampir tidak mungkin untuk mengidentifikasi sebab-sebab
psikologi dari riwayat klinis dan perilaku. Dengan demikian, setelah
"pemeriksaan gagal," dokter kandungan menganggap penyebab
psikososial dan tidak mengejar penilaian fisik lebih invasif atau
menyakitkan. Ada sumber lain yang menyebutkan bahwa salah satu
faktor penyebab vaginismus adalah pelecehan seksual dan trauma, sikap
seksual negatif dan pengalaman, ortodoksi agama dan rasa bersalah
seksual, dan hubungan yang rumit. 2
c. Penegakan diagnosis
a) Spasme involunter sepertiga luat otot-otot liang vagina yang
mengganggu penetrasi seksual yang menetap atau berulang.
b) Gangguan menyebabkan stress dan masalah interpersonal.
c) Gangguan tidak dapat diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya
(misalnya, gangguan somatisasi), dan semata-mata bukan efek
fisiologis langsung dari kondisi medis umum.

B. Dispareunia
a. Definisi
Dispareunia mendefinisikan rasa sakit yang timbul pada daerah
genitalia dan sekitarnya saat bersenggama.9
b. Etiologi
Banyak penyebab yang mungkin berhubungan nyeri saat koitus dengan
interaksi patofisiologis yang kompleks. Bobot relatif dari setiap

27
penyebab dalam individu dapat berubah dengan kronisitas nyeri dan
keterlibatan progresif organ panggul lainnya. 9
a) Biologik
superfisial atau introital dan/atau mid-vaginal dispareunia
menular, seperti vulvitis, vulva vestibulitis, vaginitis, sistitis
inflamasi, dengan mastcell up-regulasi
hormonal, seperti kontrasepsi oral flare pramenstruasi
anatomi, seperti selaput dara berserat, agenesis vagina
otot, seperti hiperaktivitas primer atau sekunder musculus levator
ani
iatrogenik, seperti hasil yang buruk dari operasi kelamin;
radioterapi panggul
neurologis, termasuk nyeri neuropatik
ikat dan immunitary, seperti sindrom Sjogren
traumatik, seperti Female Genital Mutilation
vaskular, seperti diabetes
Deep dispareunia
1) endometriosis
2) penyakit radang panggul (PID)
3) varikokel panggul
4) nyeri panggul kronis dan nyeri alih
5) hasil radioterapi panggul atau endovaginal. 9,12
b) Psikoseksual
pelecehan seksual masa lalu
gangguan afektif, seperti depresi dan kecemasan
Terkait pasangan:
1) kurangnya keintiman emosional
2) pemanasan tidak adekuat
3) konflik pasangan; verbal, fisik atau seksual pasangannya kasar
4) ketidakpuasan seksual dan gairah yang tidak memadai akibat
kompatibilitas anatomi miskin (ukuran penis dan / atau alat
kelamin perempuan infantil). 9,12
c. Penegakan diagnosis
a) Nyeri genitalia yang berhubungan dengan penetrasi seksual pada
pria maupun wanita. yang menetap atau rekuren.
b) Gangguan menyebabkan stress atau interpersonal.
c) Gangguan bukan hanya karna disebabkan oleh vaginismus atau
kurangnya lubrikasi, tidak dapat diterangkan oleh gangguan Aksis I
lainnya (kecuali disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek
fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, penyalahgunaan obat
atau medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

28
C. Penatalaksanaan sexual pain disorder
Vaginismus mungkin juga diobati dengan pendekatan multimodal, melalui
kompleks neurobiologis, otot, dan psikoseksual etiologi.
a. Farmakoterapi
Bergantung pada intensitas sikap fobia, kecemasan gairah umum
dapat dikurangi dengan pengobatan farmakologis.
Botulin A toxin, disuntikkan di levator ani ketika pasien mampu
menerima injeksi.14
b. Psikoterapi
Mengajarkan bagaimana memerintah otot dasar panggul dan
mengontrol kemampuan untuk melakukannya dengan melihat ke
cermin
Mendorong diri kontak, memijat diri sendiri, kesadaran diri, melalui
pendidikan seksual. Jika seorang wanita memiliki pasangan saat ini,
mendorong bermain seks yang aktif, untuk mempertahankan
dan/atau meningkatkan libido, gairah dan mungkin klitoris orgasme,
dengan larangan spesifik upaya coital sampai panggul adalah
memadai santai dan perempuan bersedia dan mampu menerima
hubungan
Ketika dasar panggul sudah relaksasi secara volunter, ajarkan
bagaimana menyisipkan dilator melalui bawah dasar panggul yang
relaksasi
Mendiskusikan kontrasepsi, jika pasangan tidak menginginkan anak-
anak saat ini
Memberikan izin untuk bermain lebih intim, memasukkan penis
dengan wanita yang di kontrol
Mendukung pasangan selama upaya pertama, kecemasan sering dan
dapat merusak hasil jika tidak ditangani, baik secara emosional dan
farmakologi
Jika memungkinkan, merekomendasikan psikoterapi bersamaan,
terapi seks, atau terapi pasangan saat signifikan psikodinamik atau
hubungan asalah yang jelas

29
Adapun terapi pada dispareunia dilakukan sesuai penyebab atau faktor
yang mendasarinya. Intervensi terapi medis (farmakoterapi) meliputi
pemakaian anestesi lokal (misalnya lidokain topikal) atau salep
kortikosteroid. Alternatif medikamentosa lainnya berupa fluconazole
dan cromolyn cream (Anurogo, 2013). Terapi nonmedis meliputi terapi
fisik (seperti electromyographic biofeedback) dan cognitive-behavioral
therapy (CBT). Terapi fisik ini bertujuan untuk mengendalikan dan
merelaksasikan otot dasar panggul. Sedangkan fokus utama program
CBT adalah manajemen nyeri, perbaikan, sekaligus peningkatan fungsi
seksual terutama peningkatan hasrat seksual.11
Cara lain yakni dengan program penetration desensitization, yaitu:
penderita didukung penuh untuk memasukkan satu jarinya, lalu dua,
kemudian tiga, ke dalam vaginanya, sambil merelaksasi otot-otot organ
bagian bawah (seperti: vagina dan panggul), dilakukan secara bertahap
dan teratur. Program ini hanya disarankan untuk wanita yang telah
menikah, bukan untuk mereka yang masih gadis/perawan. Penting
diingat dan ditekankan untuk mengendalikan spasme otot involunter
yang terjadi.11

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Sherwood L. Fisiologi Manusia; edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran


EGC;2006.
2. Maramis W.E. Ilmu Kedokteran Jiwa; cetakan 9; Airlangga University Press;
2005; 299-321.
3. Sadock B.J, and Sadock V.A; Synopsis of Psychiatry Behavioral
Science/Clinical Psychiatry tenth edition; Philadelphia USA; 2007. 680-71.

4. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision. Washington, DC: American
Psychiatric Association; 2000:566 - 576.

5. Brannon, G. E. Paraphilias. 2010. http://emedicine.medscape.com/article/


291419-print. Diakses tanggal 26 April 2017

6. Brown, G. R. Paraphilias. 2010. http://www.merckmanuals.com/professional/


sec15/ch203/ch203c.html. Diakses tanggal 26 April 2017

7. David A. Tomb, 2004, Buku Saku Psikiatri, Ed.6, Hal.208, Jakarta, EGC

8. American Psychiatric Association.Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorders Fourth Edition Text Revision,DSM-IV-TR; 2000
9. Setio, Melfiawati, 1997, Buku Saku Psikiatri,Jakarta, EGC
10. Elvira SD, Hadisukanto G. Buku ajar psikiatri. Edisi ke-2. Jakarta: FKUI;
2013. Pp: 317-33
11. Nugroho, D.. Memahami Dispareunia. Kalbemed;2012. 40(7), pp.50815.
12. Anurogo, D. Ejakulasi Dini. Kalbemed; 2012. 39(11), pp.823828.
13. Meston, C. et al. Disorder of Orgasm in Women. J Sex Med; 2004. 1(1),
pp.668.
14. Deem, S.G. Premature Ejaculation Treatment and Management. Medscape;
2004.
15. Preda, A.Female Orgasmic Disorder. Medscape Reference; 2015.

31