ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG KEPERAWATAN ANAK DENGAN
DIAGNOSA “HIPETERMI” DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR
DI SUSUN OLEH
Vivin Sinta Maharani (14221002)
Melsya nursalsabila rustam (1422021020)
Rita Yulianti (1422021036)
Riski Amelia (1422021033)
Rahmania (1422021028)
Arni (1422021007)
Alvin (1422021022)
Pinar (1422021026)
Ramla (1422021002)
Tedi Pratama (14220210
Institut kesehatan dan bisnis st.fatimah Mamuju
Prodi s1.keperawatan
Tahun 2024
A. Konsep Dasar Hipertermi
1. Pengertian hipertermi
Hipertermia adalah keadaan meningkatnya suhu tubuh di atas rentangnormal
tubuh,(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016). Menurut,(Arif Muttaqin,
2014)hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh sehubugan dengan ketidakmampuan
tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas.
Demam typhoid (tifus abdominalis, enteric fever) adalah infeksi akut pada
usus halus disertai dengan demam lebih dari satu minggu.Penyakit demam typhoid
merupakan penyakit infeksi sistemik yang bersifat akut disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi. Gejala klinis dari demam typhoid yaitu terjadinya bakterimia,
demam berkepanjangan, disertai invasi bakteri sekaligus multipikasi ke dalam sel-sel
pagosit mononuclear dari hati, kelenjar limfe, limpa, payer’s patch dan usus,(Martha
Ardiaria, 2019). Jadi, hipertermipada typhoid adalah suatu kondisi dan keadaan tubuh
yang mengalami peningkatan melebihi batas normal (>37,5°C). Hal ini merupakam
masalah keperawatan yang biasanya disebabkan oleh infeksi akut pada saluran
pencernaan.
2. Etiologi
Hipertermia dapat disebabkan oleh beberapa hal menurut (Tim Pokja SDKI DPP
PPNI, 2016) yaitu :
a. Dehidrasi.
b. Terpapar lingkungan panas.
c. Proses penyakit ( misalnya, infeksi, kanker ).
d. Ketidaksesuaian pakaian dengan suhu lingkungan.
e. Peningkatan laju metabolisme.
f. Respon trauma.
g. Aktivitas berlebihan.
h. Penggunaan incubator
3. Manifestasi klinis
Menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016) gejala dan tanda hipertermia,yaitu:
a. Gejala dan Tanda Mayor
Suhu tubuh di atas nilai normal (> 37,5ºC)
b. Gejala dan Tanda Minor
Kulit merah, kejang, takikardia, takipnea, dan kulitterasahangat.
Gejala-gejala yang timbul dari demam typhoid bervariasi, dalam minggu pertama
keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu
demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual muntah obstipasi atau
diare, perasaan tidak enak diperut, batuk dan epistaris pada pemeriksaan fisik
hanya didapatkan peningkatan suhu tubuh. Dalam minggu kedua gejala-gejala
terjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah pada penderita penyakit
typhoid (kotor, ditengah, tepi dan ujung merah dan tremor). Hepatomegali,
splenomegali, metiorisme, gangguan kesadaran berupa salmonella sampai koma,
(H. Nabiel Ridha, 2017).
4. Patofisiologi Hipertermia pada Demam Thypoid
Kuman salmonella thypi masuk ke tubuh manusia melalui mulut bersamaan
dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh kuman, sebagian kuman di
musnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke dalam usus halus dan
mencapai jaringan limfoid plak peyer di ileum terminalis yang mengalami hipertrofi.
Bila terjadi komplikasi pendarahan dan perforasi intestinal, kuman menembus lamina
propia, kemudian masuk ke aliran limped dan mencapai kelenjar limpe mesentrial dan
masuk aliran darah melalui duktus torasikus.
Salmonella thypi lain dapat mencpai hati melalui sirkulasi portal dari usus.
Salmonella thypi bersarang di plak peyeri, limfa, hati dan bagian-bagian lain system
retikuloendotelial. Endotoksin salmonella thypi berperan dalam proses inflamasi local
pada jaringan tempat kuman tersebut berkembangbiak. Salmonella thypi dan
endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada
jaringan yang meradang, sehingga terjadi demam / hipertermi (Arif Mansjoer, 2003).
5. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan penunjang diagnostik yang perlu dilakukan untuk penyakit demam
(pireksi) adalah:
a) Pemeriksaan laboratorium
Yang meliputi Pemeriksaan darah secara lengkap, dalam hal ini termasuk juga
untuk pemeriksaan elektrolit tubuh dan glukosa dalam darah. Pemeriksaan ini
diterapkan sesuai indikasi untuk penyebab demam
b) Pemeriksaan cairan serebro spinal (CCS)
Untuk mengetahui kemungkinan terjadinya meningitis, mendeteksi tekanan
abnormal, tanda infeksi dan pendarahan
c) Pemeriksaan Electroencephalogram (EEG)
Bisa dijalankan ketika terjadi demam tinggi disertai dengan kejang, Teknik ini
untuk menekan aktivitas listrik otak
d) Pemeriksaan Computed Tomography (CT-scan)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencari lesi organik pada Ketika kejang lokal
sebab, bukan dianjurkan untuk anak tanpa terdapat indikasi tanda-tanda
neurologis (Andriyani et al., 2021).
6. Penatalaksanaan
Menurut, (Kania dalam Wardiyah, 2016) terdapat pilihanpenanganan farmakologis
dan non farmakologis untuk mengobati demam. Beberapa langkah yang bisa
dilakukan dengan tujuanmengatasi demam (pireksi) pada anak adalah:
1) Tindakan farmakologis
a. Paracetamol
Ialah suatu obat pilihan pertama yang dapat diberikan kepada anak untuk
menurunkan suhu tubuhnya. Adapun porsi yang diberikan ialah berkisar 10-15
mg/kg dari total berat badan anak bisa membuat suhu tubuhnya turun dalam
waktu tidak kurang dari setengah jam dengan puncak pada dua jam setelah
pemberian. Dalam waktu 3-4 jam, demam dapat Kembali
b. Ibuprofen
obat anti radang dan penurun demam. Dapat diberikan ulang dengan jarak
enam hingga delapan jam dari porsi yang diberikan sebelumnya. Dalam hal
ini, untuk menurunkan suhu panas bisa mencapai dengan porsi 5 mg/kg dari
total berat badan anak
c. Diazepam supositoria,
Pemberian obat ini dapat diberikan pada saat demam disertai dengan kejang
dengan dosis:
5 mg untuk anak < 3 tahun, 7,5 mg anak lebih dari 3 tahun
4 mg dengan BB < 10kg, 10 mg untuk berat badan > 10kg
2) Tindakan non farmakologis
Apabila kondisi demam tidak segera ditangani, maka keselamatan anak
dapat terganggu yang dapat menyebabkan risiko komplikasi seperti kejang serta
penurunan kesadaran anak (Wardiyah et al., 2016). Dalam hal ini, terdapat dua
pendekatan untuk mengatasi demam (hipertermia) adalah tindakan farmakologis
dan non farmakologis. Salah satu jenis kompres yang dapat digunakan dengan
tujuan menurunkan suhu tubuh adalah kompres air hangat atau tepid water sponge
(Dewi, 2016).
Selain kompres Tindakan yang perlu dinajurkan untuk penanganan demam
adalah minum ASI banyak dan tidak menggunakan pakaian tebal. Kompres tepid
water sponge ialah metode kompres hangat yang mengkonsolidasikan strategi
kompres blok pada vena dangkal darah supervisial dengan teknik yang
dipergunakan ialah teknik seka (Linawati dkk, 2019). Menurut Hidayati, 2019
maksud diberikannya tepid water sponge kepada pasien ialah untuk menstimulasi
penurunan suhu dalam tubuh pasien hipertermia itu sendiri. Penanganan anak
hipertermia dengan metode tepid water sponge sangat efektif (Haryani, 2018).
7. Komplikasi
Menurut (Nurarif, 2015) komplikasi dari kondisi demam (pireksi)ialah sebagai
berikut.
a) Dehidrasi
Kondisi meningkatnya suhu dalam tubuh mengakibatkan penguapan cairan tubuh
sehingga tubuh menjadi lemas
b) Kejang demam
Sangat jarang (1 dari 30 anak mengalami demam). Biasanya menyerang anak
dengan umur enam bulan hingga lima tahun. Adapun serangan dalam 24 jam
pertama panas serta Sebagian besar singkat.
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan merupakan proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi,
dan proses komunikasi data tentang klien. Fase proses keperawatan ini mencangkup
dua langkah antara lain : pengumpulan data dari sumber primer (klien) dan sumber
sekunder (keluarga, tenaga kesehatan) dan analis data sebagai dasar untuk diagnosa
keperawatan (Patricia, 2005).
Teori pengkajian pada anak demam thypoid menurut (Rekawati, Nursalam,
2013)yaitu :
a. Identitas
1) Pengkajian identitas anak berisi tentang : nama, anak yang ke, tanggal
lahir/umur, jenis kelamin, dan agama.
2) Pengkajian identitas Orang tua berisi tentang : nama, umur, pekerjaan,
pendidikan,agama, dan alamat.
b. Alasan Dirawat
1) Keluhan utama seperti perasaan tidak enak badan, lesu, pusing, nyeri kepala
dan kurang bersemangat, serta nafsu makan menurun (teutama pada saat masa
inkubasi).
2) Riwayat Penyakit
Apakah anak pernah mengalami sakit sebelumnya.
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang bersifat menular dan
menurun.
c. Rwayat Anak
1) Perawatan anak dalam masa kandungan.
2) Perawatan pada waktu kelahiran.
d. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual Dalam Kehidupan Sehari-hari
1) Bernafas : bagaimana suara nafas anak, ada tidaknya kesulitan bernafas yang
dialami oleh anak, serta keluhan lain yang dirasakan anak.
2) Pola Nutrisi (makan dan minum) : tanyakan pada pasien atau keluarga berapa
kali makan dan minum dalam satu hari.
3) Eliminasi (BAB/BAK) : kaji pola BAB dan BAK pad anak. Pada BAB tinjau
konsistensi, warna, bau, dan ada atau tidaknya darah. Pada BAK tinjau
volume, warna, bau.
4) Aktifitas : kaji permainan yang paling disukai pada anak, dan kapan waktu
bermainnya.
5) Rekreasi : kemana dan kapan biasanya anak diajak berekreasi.
6) Istirahat dan tidur : kaji pola tidur anak pada siang dan malam hari, dan berapa
lama. Ada tidaknya kesulitan tidur yang dialami oleh anak.
7) Kebersihan diri : kaji berapa kali anak mandi dalam 1 hari, ada membantu
atau tidak. Bagaiman dengn kebersihan kuku atau rambut.
8) Pengaturan suhu tubuh : Suhu anak diukur apakah normal, hipotermi ataukah
mengalami hipertermi.
9) Rasa nyaman : kaji kondisi dan keadaan anak saat mengobrol dengan orang
lain.
10) Rasa aman : kaji lingkungan tempat anak bermain, apakah sudah aman dari
benda-benda tajam dan berbahaya. Bagaimana pengawasan orang tua ketika
anak sedang bermain.
11) Belajar (anak dan orang tua) : kaji pengetahuan orang tua dalam merawat dan
mendidik anak.
12) Prestasi : kaji bagaimana pencapaian dan kemampuan anak mengenai tingkah
laku social, gerak motoric harus, bahasa, dan perkembangan motoric kasar.
13) Hubungan sosial anak : kaji bagimana hubungan anak dengan orang tua,
keluarga lain serta teman-temannya. Siapakah orang yang paling dekat dengan
anak.
14) Melaksanakan ibadah (kebiasaan, bantuan yang diperlukan terutama saat anak
sakit) : apa agama yang dianut dan bagaimana pelaksanaan ibadah yang
dilakukan oleh anak.
e. Pengawasan Kesehatan
1) Status Imunisasi Anak (1-5 tahun)
Status imunisasi anak adalah dimana anak pernah mendapatkan imunisasi
seperti BCG, difteri, pertussis, tetanus, polio dan campak atau tambahan
imunisasi lainnya yang di anjurkan oleh petugas.
f. Penyakit Yang Pernah Diderita
Pada poin ini yang perlu dikaji adalah jenis penyakit, akut / kronis / menular /
tidak, umur saat sakit, lamanya, dan pertolongan.
g. Kesehatan Lingkungan : kaji bagaimana keadaan lingkungan tempat tinggal anak
mengenai ketersediaan air bersih dan sanitasi/ventilasi rumah.
h. Perkembangan Anak (0-6 tahun)
Perkembangan anak dilakukan untuk mengkaji keadaan perkembangan anak usia
1 bulan – 72 bulan, dapat dilakukan dengan menggunakan Kuisioner Pra Skrining
Perkembangan (KPSP), untuk menilai dalam 4 sektor perkembangan pada anak
yang meliputi : motoric kasar, motoric halus, bicara / bahasa dan sosialisasi /
kemandirian (Kementerian kesehetan RI, 2016). Interprestasi hasil KPSP dapat
dihitung dengan cara menghitung jumlah „Ya‟, yaitu dengan cara :
1) Jumlah jawaban „Ya‟ = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap
perkembangannya.
2) Jumlah jawaban „Ya‟ = 7 atau 8, perkembangan anak meragukan.
3) Jumlah jawaban „Ya‟ = 6 atau kurang, perkembangan anak meragukan.
i. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum yang meliputi suhu, nadi, pernafasan, tekanan darah, warna
kulit, tonus otot, turgor kulit, udema.
2) Pemeriksaan Head to Toe
a) Kepala : kaji mengenai bentuk kepala, ada tidaknya lesi, kebersihan kulit
kepala, jenis rambut, tekstur rambut, warna rambut dan pertumbuhan
rambut.
b) Mata : kaji bentuk bola mata, pergerakan, keadaan pupil, konjungtiva,
keadaan kornea, sclera, bulu mata, ketajaman penglihatan, dan reflex
kelopak mata.
c) Hidung : kaji mengenai kebersihan, adanya secret, warna mukosa hidung,
pergerakan/nafas cuping hidung, juga adanya gangguan lain.
d) Telinga : Kaji kebersihan, keadaan alat pendengaran, dan kelainan yang
mungkin ada.
e) Mulut, terdapat nafas yang berbau tidak sedap serta bibir kering dan
pecah-pecah. Lidah tertutup selaput kotor yang biasanya berwarna putih,
sementara ujung tepi lidah berwarna kemerahan.
f) Leher : kaji adanya pembesaran kelenjar/pembuluh darah, kaku kuduk,
pergerakan leher.
g) Thoraks : kaji mengenai bentuk dada, irama pernafasan, tarikan otot bantu
pernafasan, serta adanya suara nafas tambahan.
h) Jantung : kaji bunyi serta pembesaran jantung pada anak.
i) Persarafan : kaji reflek fisiologis atau reflek patologis yang dilakukan oleh
anak.
j) Abdomen, dapat ditemukan keadaan perut kembung. Bisanya terjadi
konstipasi, atau diare dan bahkan bisa saja normal, kulit teraba hangat dan
kemerahan.
k) Ekstremitas : kaji tentang pergerakan, kelainan bentuk, reflex lutut dan
adanya edema.
j. Pemeriksaan Genetalia
Alat kelamin : kaji mengenai kebersihan dan adanya lesi.
Anus : kaji mengenai keadaan dan kebersihan, ada tidaknya lesi da
nada tidaknya infeksi.
k. Antropometri (ukuran pertumbuhan)
Pengukuran antopometri meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar kepala,
lingkar dada, dan lingkar lengan.
l. Pemeriksaan Penunjang
1) Darah untuk kultur (biakan, empedu) dan widal.
2) Biakan empedu basil salmonella thyphosa dapat ditemukan dalam darah
pasien pada minggu pertama sakit. Selanjutnya, lebih sering ditemukan
dalam urine dan faeces.
3) Pemeriksaan widal. Untuk membuat diagnosis, pemeriksaan yang
diperlukan adalah titer zat anti terhadap antigen O. titer yang bernilai
1/200 atau lebih menunjukkan kenaikan yang progresif.
m. Hasil Observasi
Tuliskan respon umum anak dengan keluarganya serta hal-hal baru yang
diberikan kepadanya, bentk interaksi kepada orang lain, cara anak
mengungkapkan keinginannya, serta kontradiksi prilaku yang mungkin
ditunjukan anak.
2. Diagnosa Keperawatan
1) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi oleh virus yang ditandai
dengan suhu tubuh pasien >37oC, akral hangat/ panas, takikardia, dan nafas
cepat.
2) Hipertermi berhubungan dengan ketidakefektifan regulasi suhu sekunder
terhadap usia yang ditandai dengan pasien mengeluh panas, lemas, dan
pusing.
3) Hipertermi berhubungan dengan ketidakcukupan hidrasi untuk aktivitas yang
berat yang ditandai dengan pasien mengeluh haus, badan pasien panas,
dehidrasi dan mukosa bibir kering.
3. Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah suatu pemikiran tentang perumusan tujuan ,
tindakan, dan penilaian rangkaian asuhan keperawatan pada pasien berdasarkan
analisa pengkajian agar dapat teratasi masalah kesehatan/ keperawatannya (Azis,
2004).
Tahap awal perencanaan adalah prioritas masalah. Prioritas masalah berdasarkan
mengancam jiwa pasien, tahap kedua yaitu rencana prioritas.
Prioritas masalah
Hipertermi
Tujuan
Setelah diberikan tindakan asuhan keperawatan diharapkan masalah
hipertermi teratasi
Kriteria hasil
1) Menunjukkan penurunan suhu tubuh
2) Akral pasien tidak teraba hangat/ panas
3) Pasien tampak tidak lemas
4) Mukosa bibir lembab
4. Rencana Tindakan
NO INTERVENSI NO RASIONAL
1 Observasi keadaan umum pasien 1 Mengetahui perkembangan keadaan
umum dari pasien
Mengetahui perubahan tanda-tanda
2 Observasi tanda-tanda vital pasien 2
vital pasien
Mencegah terjadinya dehidrasi
3 Anjurkan pasien untuk banyak minum 3 sewaktu panas
Meminimalisir produksi panas yang
diproduksi oleh tubuh
4 Anjurkan pasien untuk banyak istirahat 4
Membantu mempermudah penguapan
panas
5 Anjurkan pasien untuk memakai pakaian 5
Mempercepat dalam penurunan
yang tipis
produksi panas
Beri kompres hangat di beberapa bagian
6 6 Meningkatkan pengetahuan dan
tubuh
pemahaman dari pasien dan
Beri Health Education ke pasien dan keluarganya
7 keluarganya mengenai pengertian, 7
penanganan, dan terapi yang diberikan
tentang penyakitnya
Membantu dalam penurunan panas
Kolaborasi/ delegatif dalam pemberian
obat sesuai indikasi, contohnya :
8 paracetamol 8
5. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah tahapan ketika perawat mengaplikasikan
rencana atau tindakan asuhan keperawatan kedalam bentuk intervensi keperawatan
untuk membantu pasien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Budiono, S.,
2015).
Tahapan pelaksanaan terdiri atas tindakan mandiri dan kolaborasi yang
mencangkup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan
memfasilitasi koping. Agar kondisi pasien cepat membaik diharapkan bekerjasama
dengan keluarga pasien dalam melakukan pelaksanaan agar tercapainya tujuan dan
kriteria hasil yang sudah dibuat dalam intervensi (Nursalam, 2016).
Implementasi yang dilakukan pada kasus demam thypoiddengan hipertermi
adalah Manajemen Hipertermia, yang meliputi memonitor suhu tubuh, menyediakan
lingkungan yang dingin, melonggarkan atau melepaskan pakaian, membasahi dan
mengipasi permukaan tubuh, memberikan cairan oral, menganjurkan tirah baring, dan
memberikan cairan dan elektrolit intravena. Implementasi kedua yang dapat
dilakukan adalah Regulasi Temperatur, yang meliputi memonitor suhu tubuh anak
tiap dua jam, memonitor warna dan suhu kulit, memonitor tekanan darah, frekuensi
pernafasan dan nadi , meningkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat, serta
memberikan antipiretik.
6. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang
meliputi perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati
dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi yang
dilakukan pada asuhan keperawatan di dokumentasikan dalam bentuk SOAP
(subjektif, objektif, assessment, planning) (Asmadi, 2008).
Adapun komponen soap yaitu S (Subjektif) dimana perawat menemui keluhan
pasien yang masih dirasakan setelah dilakukan tindakan keperawatan, O (Objektif)
adalah data yang berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat secara
langsung pada pasien yang dirasakan pasien setelah tindakan keperawatan, A
(Assessment) adalah interpretasi dari data subjektif dan data objektif, P (planning)
adalah perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan, dihentikan, dimodifikasi,
atau ditambah dari rencana tindakan keperawatan yang telah ditentukan sebelumnya
(Rohmah Nikmatur & Saful, 2012). Tujan dan evaluasi yang akan dicapai pada kasus
ini antara lain yaitu, menggigil menurun, kulit merah menurun, pucat menurun, suhu
tubuh membaik (36,50C – 37,50C), suhu kulit membaik, dan tekanan darah membaik
(117/77 mmHg).
PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK PADA AN.F DENGAN DIAGNOSA HIPETERMI
1. Data umum
a. Identitas klien
Nama : alfatir yusfikar
Tanggal lahir : 26 Juni 2021
No rekam medik : 423068
Jenis kelamin : laki laki
Agama : islam
Alamat : BTN bakolu blok B1 no 9 Gowa
Tanggal masuk RS : 6 mei 2024
Ruangan : gedung c lantai 3 kep.anak baji Minasa
Sumber informasi : orang tua pasien
b. Identitas orang tua
Ayah : yusfikar
Pendidikan : SD
Alamat : Gowa
Umur : 30
Pekerjaan : wiraswasta
c. Identitas saudara (terutama satu rumah)
Nama Umur Hubungan Status kesehatan
Fani 4 tahun Saudara kandung Sehat
2. Riwayat kesehatan saat ini
a) Keluhan utama : demam
b) Alasan masuk rs : pasien datang ke RS pada tanggal 6 mei 2024 ,ibu klien
mengatakan anaknya demam 3 jam yang lalu di sertai mual dan muntah
c) Riwayat penyakit : demam di sertai mual muntah sejak 3 jam lalu
3. Riwayat kesehatan masa lalu
(Khusus untuk anak 0-5 tahun)
a) Prenatal
Pemeriksaan kehamilan : satu kali
Keluhan selama hamil : tidak ada
Riwayat terpapar radiasi : tidak ada
Riwayat terapi obat : tidak ada
Kenaikan BB selama hamil : 5kg
Imunisasi ttv : 7 kali
b) Natal
Tempat melahirkan : rs
Lama dan jenis persalinan : spontan
Orcep : operasi
Penolong persalinan : dokter,bidan,perawat
Komplikasi persalinan : tidak ada
c) Post natal
Kondisi bayi : BB lahir 3gram,TB lahir 50cm
Penyakit anak : tidak ada
Problem menyusui : normal sesuai usianya
Problem menyusui : normal sesuai usianya
Penyakit yang perna dialami : tidak ada
Penyebab :-
Riwayat perawatan :-
Riwayat operas :-
Riwayat alergi :-
Riwayat imunisasi :-
no Jenis imunisasi Waktu pemberian Reaksi
1. BCG Tidak perna Tidak ada
2. DPT ( I,II,III,IV) Tidak perna Tidak ada
3. CAMPAK Tidak perna Tidak ada
4. POLIO ( I,II,III,IV) Tidak perna Tidak ada
5. HEPATITIS B Tidak perna Tidak ada
6. LAIN LAIN Tidak perna Tidak ada
1.
4. riwayat tumbuh kembang anak
a. Pertumbuhan fisik
Berat badan : 11kg
Tinggi badan : 95cm
Waktu tumbuh gigi : usia 6 bulan
b. Perkembangan tiap tahap
Usia anak saat ini
Berguling : 3 bulan
Duduk : 6 bulan
Merangkak : 7 bulan
Berdiri : 10 bulan
Berjalan : 1 tahun
Senyum pertama pada orang : 1 bulan
Bicara pertama kali : 1 tahun
Berpakaian sendiri : belum bisa berpakaian sendiri
5. riwayat nutrisi
Pemberian asi ( sejak/lamanya) : setelah lahir
Pemberian makanan tambahan (sejak/lamanya) : MPA
Pemberian susu formula (sejak/alasan/lamanya/cara : -
no usia Jenis nutrisi Lama pemberian
1. o-4 bulan ASI 4 bulan
2. 4-12 bulan ASI = MPA 8 bulan
3. Saat ini Nasi,lauk dan Sampai saat ini
pauk
6. riwayat nutrisi
1) Riwayat psikososial spiritul
Tempat tinggal : btn bokolu blok b1 no 9 gowa
Lingkungan rumah : nyaman
Hubungan antara anggota keluarga : terjalin harmonis
Pengasuh anak :-
2) Riwayat hospitalisasi
Suport sistem : keluarga
Kegiatan keagamaan : pengajian
3) Riwayat hospilitasi
Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawaat inap di rs : paham dan
setuju
Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap :-
7. kebutuhan dasar/pola kebiasaan sehari hari
a) Nutrisi
Saat sehat : selera makan bagus
Saat sakit : selera makan menurun
b) Cairan
Sebelum sakit : kebutuhan cairan normal
Setelah sakit : kebutuhan cairan menurun
c) Istirahat/tidur
Sebelum sakit : teratur
Saat sakit : susah tidur
d) Eliminasi BAB
Sebelum sakit : normal
Setelah sakit : tidak teratur
e) Eliminasi urine
Sebelum sakit : normal
Setelah sakit : tidak teratur
f) Aktifitas latiha
Sebelum sakit : aktif
Setelah sakit : aktifitas menurun
g) Personal I hygiene
Sebelum sakit : baik
Setelah sakit : tidak teratur
h) Aktifitas sehari hari
Sebelum sakit : bermain
Setelah sakit : baring dan tidur
8. pemeriksaan tingkat perkembangan
a). 0-6 bulan
dengan menggunakan ddst :
Motorik kasar : dapat makan sendiri tanpa di suap
Motorik halus : mencari baju kotornya
Bahasa : dapat menggunakan bahasa indonesia dengan baik
b.) 6 tahun
Perkebangan kognitif :-
Perkembangan psikososial :-
9. perkembangan fisik
a.) keadaan umum
Kesadaran : composmentis
Penampilan di hubungan usia : penampilan sesuai usia
Ekspresi wajah : lemas
Kebersihan secara umum : cukup
Tanda-tanda vital : s 38c,n 110x/m,p 24x/m
b.) pengkajian data fokus (pengkajian sistem)
Sistem respiratory : baik
Sistem kardiovaskuler : baik
Sistem gastrointestinal : baik
Sistem urinaria : baik
Sistem reproduksi : kurang
Sistem muskulokeletal : baik
Sistem neurologi : baik
Sistem endokrin : baik
Sistem penglihatan : baik
Aiatem pendengaran : baik
c.) pemeriksaan dianostik
PEMERIKSAAN HASIL NILAI SATUAN KETERANGAN
RUJUKAN
HEMATOLOGI
Hematologi rutin
WBC 9.98 4,79 – 11.34 10^3/uL
RBC 4.30 4. 11 – 5.55 10^6/uL
HGB 12.7 10. 85 – 14.90 g/dL
HCT 37.7 39.90 – 51.10 %
MCV 87.7 fL
MCH 29.5 22.60 – 31.00 pg
PLT 176* 216.0 – 415.0 10^3uL
RDW-SD 40.20 34.70 – 44.50 %
RDW-CV 12.30 11.30 – 14.60 %
PDW 11.5 9.0 – 17.0 fL
MPV 10.3 9.0 – 13,o fL
P-LCR 26.80 13.0 – 43-0 %
PCT 0.18 0.17 – 0.35 %
NRBC# 10^3/uL
NEUT% 62.40 37 – 72.0 %
NEUT# 6.23 1.80 – 7.70 10^3/uL
LYMPH% 27,60 20.0 – 7.70 %
LYMPH# 2.75 1.00 – 4.80 10^3/uL
MONO% 6.40 0.0 – 14.1 %
MONO# 0.64 0.0 – 0.90 10^3/uL
EO% 3 0.6.0 %
EO# 0.30 10^3/uL
BASO% 0.60 0-1 %
BASO# 0.06 0.0 – 0.20 10^3/uL
IG% 0.50 0 -72 %
IG# 0.05 0.00 – 7.00 10^3/uL
RET Pg
Waktu 7 menit <10 Menit
pembekuan 30
detik*
Waktu
1-6 Menit
perdarahan 2 menit
KIMIA
<200 Mg/dl
Glukosa sewaktu 100
A. Pengkajian
1. keluhan utama : demam
2. riwayat keluhan : ibu pasien mengatakan anaknya demam di sertai
mual dan muntah dan batuk sejak 3 hari yang lalu
Klafikasi data
Subjektif : ibu pasien mengatakan anaknya demam di sertai
mual muntah dan batuk sejak 3 hari yang lalu
Objektif : ku lemah
S : 38c
N : 100x/m
Rr : 24x/m
ANALISI DATA
Data Etiologi Masalah
Ds : ibu klien mengatakan Proses penyakit Hipertermia
anaknya demam
Do : - suhu tubuh 38c
DS : ibu pasien mengatakan Peningkatan produksi sputum Bersihkan jalan nafas tidak
anaknya batuk mual dan efektif
muntah
Do : pasien nampak lemas
dan pucat
N : 100x/m
S : 38c
Rr : 24x/m
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit di tandai dengan demam
Bersihkan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi sputum
INTERVENSI KEPERAWATAN
Tujuan Intervensi Implementasi Evaluasi
Setelah dilakukan Identifikasi Mengidentifikasi S : ibu
tindakan penyebab penyebab mengatakan
keperawatan selama hipertermia hipertermia anaknya sudah
1x4jam di harapkan tidak demam
Mengukur suhu Memonitor suhu
termoguegulasi
tubuh tubuh O : suhu tubuh
membaik dengan
membaik yakni
kriteria hasil Monitor kadar Memonitor
36,5, suhu kulit
elektrolit kadar elektrolit
Suhu tubuh membaik
membaik Monitor Memonitor
A : masalah
komplikasi komplikasi
Suhu kulit
akibat akibat
membaik hipertemia hipertermia teratasi
Katikardi Sediakan Memberikan P : intervensi di
menurun lingkungan cairan oral yakni hentikan
yang dingin minum air putih
S : ibu klien
Berikan cairan Meberikan mengatakan
oral kompres pada anaknya masih
bagian dahi batuk mual dan
Berikan
muntah
kompres
O : rr 28x/m
Beri klien
istirahat cukup A : masalah
teratasi sebagian
P : intervensi di
lanjutkan
Setelah dilakukan Posisikan Memposisikan
tindakan pasien untuk pasien untik
keperawatan di memaksimalkan memaksimalkan
harapkan klien dapat ventilasi ventilasi
batuk efektif dengan
Hitung respirasi Menghitung
kriteria hasil :
setiap 3 jam respirasi setiap 3
Secara sekali jam
verbal tidak
Observasi ttv Mengobservasi
ada keluhan
ttv
sesak Kolaborasi
dalam Mengkolaborasi
Tidak ada
pemberian dalam
batuk dan
pengobatan pemberian
jumlah
pengobatan
sputum
normal
Jumlah
pernafasan
dalam batas
normal
DAFTAR PUSTAKA
Herlman, T.Heather. (2012). NANDA International Diagnosis Keperawatan : Defenisi
dan Klasifikasi 2012-2014 . Jakarta : EGC
Potter,PA & Perry, AG (2010). Buku Ajar Dasar Keperawatan vol.3 . Jakarta
: EGC
SDKI, DPP, dan PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: resolusi dan
indicator diagnostic. Edisi I cetakan III. Jakarta: DPPPPNI
http://repository.poltekkes,denpasar.ac.id/4822/3/BAB%20Tinjauan%20Pustaka.pdf
https:/www.academia.edu/8880172/
Laporan_Pendahuluan_dan_Asuhan_Keperawatan_pada_Pasien_dengan_Masalah_Hiperte
rmi