Anda di halaman 1dari 18

APLIKASI FILTERISASI DENGAN

MENGGUNAKAN CARTRIDGE ANION


KATION TERINTEGRASI

MAKALAH
Disampaikan Pada :
Indonesian Aquaculture 2008
Hotel Inna Yogyakarta, 17 – 20 November 2008

Oleh :
ROMI NOVRIADI ( Pengawas PHPI )
MUH. KADARI ( Perekayasa )
MANJA M.B ( Perekayasa )
SANA’AN ( Pranata Humas )

DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN


DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM
2008
APLIKASI FILTERISASI DENGAN MENGGUNAKAN CARTRIDGE ANION
KATION TERINTEGRASI

Romi Novriadi*, Muh Kadari, Manja Meyky Bond, Sana’an


Balai Budidaya Laut Batam
Jl. Barelang Raya Jembatan III, Pulau Setokok-Batam
PO BOX 60 Sekupang, Batam – 29422
E-mail : Romi_bbl@yahoo.co.id, HP: 081361304552

Abstrak

Degradasi lingkungan akibat adanya pencemaran baik dari limbah industri,


pemukiman, dan akumulasi dari kegiatan budidaya perikanan dapat
berpengaruh negatif terhadap keberlanjutan produktivitas perikanan itu
sendiri. Oleh karna itu sangat perlu dilakukan usaha perbaikan untuk
menghasilkan tingkat kualitas air yang lebih baik.

Salah satu teknik yang telah dilakukan adalah dengan menggunakan


cartridge anion kation terintegrasi didalam sistem filterisasi air. Fungsi dari
cartridge ini adalah untuk melakukan pertukaran ion dengan proses dimana
ion-ion yang terjerap pada suatu permukaan media filter ditukar dengan ion-
ion lain yang berada dalam air. Proses ini dimungkinkan melalui suatu
fenomena tarik menarik antara permukaan media bermuatan dengan molekul-
molekul bersifat polar sehingga dapat diberlakukan untuk “menjernihkan” air
dari partikel-partikel berukuran molekuler yang tidak dapat diproses secara
mekanik atau biologi. Selain cartridge, filterisasi ini juga dilengkapi dengan
penambahan zeolit, manganeese geen sand, arang aktif dan bioball.
Parameter yang diamati adalah kekeruhan (turbidity), keberadaan unsur
Nitrogen (NO2, NO3, NH3 dan NH4), Total Dissolved Solid, Total Suspended
Solid serta kesadahan air.

Hasil analisa menunjukkan bahwa system cartridge terintegrasi ini dapat


mereduksi jumlah unsure-unsur Nitrogen yang bersifat toksik seperti Amoniak
(NH3) dan Nitrat hingga 80% dari air sumber dan mengurangi partikel yang
tersuspensi dan terlarut sehingga air yang dihasilkan menjadi jernih dengan
tingkat turbidity 0,01 – 0,09 NTU. Keseluruhan sistem sangat aplikatif dan
ekonomis bila diterapkan di masyarakat.

Kata kunci : Pencemaran, Kualitas Air, Anion Kation


I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Penyakit pada ikan merupakan salah satu masalah yang sering dijumpai
dalam usaha budidaya ikan. Di Indonesia telah diketahui ada beberapa jenis
ikan baik ikan air tawar, air payau maupun air laut. Beberapa diantaranya
sering menimbulkan wabah penyakit serta menyebabkan kegagalan dalam
usaha budidaya ikan

Adanya penyakit ikan erat hubungannya dengan lingkungan dimana ikan


itu berada. Untuk itu dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ikan, selain
dilakukan pengamatan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan timbulnya
penyakit ikan tersebut juga dilakukan pengendalian terhadap lingkungan
media hidup ikan yakni air pemeliharaan.

Pengelolaan sumberdaya air sangat penting, agar dapat dimanfaatkan


secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah satu
langkah yang dilakukan adalah pemantauan dan interpretasi data kualitas air,
mencakup kualitas fisika, kimia maupun biologi. Namun sebelum melangkah
pada tahap pengelolaan, diperlukan pemahaman yang baik tentang
terminologi, karakteristik, dan interkoneksi parameter-parameter kualitas air.

Berdasarkan data analisa kualitas air yang dimiliki oleh penulis, terdapat
kecenderungan menurunnya kualitas lingkungan perairan Balai Budidaya
Laut Batam, khususnya untuk parameter Nitrogen ( Nitrit, Nitrat, Amoniak),
Sulfida, Posfat, Oksigen terlarut, dan kekeruhan air. Kecenderungan
Degradasi Lingkungan ini diasumsikan berasal dari akumulasi limbah
buangan budidaya sebagai salah satu penyumbang unsur N dan P melalui
feces dan sisa pakan. Selain hal tersebut tekstur substrat dasar perairan yang
terdiri atas lumpur menyebabkan banyaknya partikel terlarut dan tersuspensi
di dalam air, sehingga media pemeliharaan menjadi lebih cepat kotor.
Permasalahan lingkungan ini masih ditambah dengan buangan limbah rumah
tangga, industri dan pertambangan. Sebagai salah satu pusat Industri, Batam
tentunya menghasilkan limbah dalam jumlah yang cukup besar. Dan seperti
telah diketahui secara umum banyak industri yang membayar nelayan untuk
membawa limbah tersebut dan kemudian membuangnya di tengah lautan.

Oleh karena itu, dengan dibarengi semangat yang tinggi untuk


menghasilkan ”air yang segar” bagi komoditas perikanan, telah dilakukan
serangkaian ujicoba sistem filterisasi untuk mereduksi jumlah limbah/ kotoran
perairan baik yang terlarut maupun yang tersuspensi. Salah satunya adalah
dengan menggunakan sistem filterisasi dengan anion kation terintegrasi.
Jikalau biasanya resin ion merupakan bahan filter lanjutan, namun pada
perekayasaan ini dicoba untuk menjadikan anion kation sebagai filter
pendahuluan. Tujuan utamanya adalah untuk mengikat partikel-partikel
terlarut terlebih dahulu kemudian diharapkan dapat mengendap pada anion
kation yang pada akhirnya kerja bahan filter selanjutnya menjadi lebih
”ringan”.
I.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, masalah yang ingin dijawab dalam


perekayasaan ini adalah :
1. Bagaimana sistem filterisasi yang tepat untuk mengelola sumber daya
air agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi budidaya
perikanan.
2. Bagaimana efektivitas anion kation jika diletakkan sebagai filter
pendahuluan
3. Bagaimana relevansi kualitas air yang dihasilkan oleh sistem filterisasi
dengan Baku Mutu Untuk Biota Laut berdasarkan Kep.Men LH
No.54/2004.

I.3 Hipotesis

Diduga bahwa akumulasi kegiatan budidaya, kegiatan rumah tangga,


industri dan pertambangan telah menyebabkan degradasi lingkungan
perairan sehingga diperlukan sistem filterisasi untuk meningkatkan kualitas
perairan.

I.4 Tujuan

Perekayasaan ini bertujuan untuk :


1. Mengetahui pengaruh penggunaan filterisasi anion kation terintegrasi
terhadap kandungan partikel Nitrogen didalam air.
2. Mengetahui pengaruh penggunaan filterisasi anion kation terintegrasi
terhadap tingkat kekeruhan didalam air.
3. Menghasilkan teknologi aplikatif bagi masyarakat pelaku budidaya
ikan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia (81.000


km) setelah Kanada dan kekayaan alam laut yang besar dan beranekaragam
telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi besar
dalam bidang perikanan. Namun, seperti halnya kondisi perikanan yang
terjadi saat ini diseluruh dunia, kondisi perikanan tangkap di Indonesia juga
semakin menurun dari tahun ke tahun sehingga hal ini mendorong upaya
peningkatan aktivitas di bidang perikanan budidaya ikan.

Saat ini, khususnya di Provinsi Kepulauan Riau permintaan terhadap


benih ikan tiap tahunnya terus meningkat, bahkan hingga mencapai 10 juta
benih/tahun. Hal ini merupakan sebuah peluang sekaligus tantangan dalam
meningkatkan produksi benih untuk mencukupi kebutuhan masyarakat
pembudidaya. Keseluruhan proses produksi ini akan sangat bergantung pada
kondisi lingkungan dalam hal ini air yang merupakan media hidup ikan, agar
dapat terus optimal dalam mendukung produksi budidaya perikanan.

Usaha mencukupi kebutuhan produksi ikan dunia secara langsung


berdampak pada meningkatnya usaha budidaya ikan intensif yang bercirikan
tingginya tingkat kepadatan ikan dan pemberian pakan buatan. Kedua hal ini
mengakibatkan adanya sisa pakan yang tidak termakan dan buangan feses
ikan peliharaan dimana bahan-bahan sisa pakan dan feces ini dimanfaatkan
oleh plankton dan akibatnya pertumbuhan alga meningkat (blooming
plankton). Dalam proses pertumbuhannya, plankton ini membutuhkan oksigen
(asimilasi) dan plankton yang melimpah ini akan menguras ketersediaan
oksigen di perairan. Oksigen sangat diperlukan oleh bakteri untuk dapat
menguraikan buangan sisa pakan dan nitrogen menjadi senyawa yang
bermanfaat. Namun pada kondisi oksigen yang terbatas, bakteri pengurai
akan menghasilkan senyawa pengurai seperti amonia dan nitrit yang bersifat
racun terutama pada ikan yang dibudidayakan baik di KJA maupun di tambak.

Beberapa Solusi dan Pendekatan.

Kekhawatiran yang mendalam akan hancurnya lingkungan perairan budidaya


yang secara langsung mengakibatkan menurunnya produksi perikanan dunia
maka sudah sepatutnya para ahli dan pemegang kebijakan perikanan untuk
berusaha semaksimal mungkin mencari solusi pemecahannya. Beberapa
pendekatan yang bisa dilakukan untuk menuju usaha budidaya yang
berkelanjutan antara lain adalah :

1. Memperluas usaha budidaya ikan non-karnivora


2. Mengurangi penggunaan tepung ikan dan minyak ikan dalam pakan
dengan mencari sumber-sumber protein dan minyak selain ikan
(Naylor,dkk,2001)
3. Usaha mengurangi buangan limbah ke perairan melalui pengadaan pakan
dan ikan ramah lingkungan.

Dan salah satu solusi juga yang dapat ditawarkan oleh Balai Budidaya Laut
Batam oleh unit Perekayasa adalah sistem filterisasi khususnya ditingkat
Hatcherry dan Nursery untuk mengoptimalkan produksi perikanan.
1. Menggalakkan usaha budidaya ikan non-karnivora

Jenis ikan herbivora yang dibudidayakan mendominasi dari sekitar 19Mt


produksi ikan budidaya dunia. Ikan mas dan kerang-kerangan laut
menghasilkan lebih dari 75% produksi budidaya ikan dunia terkini, dan
jenis tilapia, bandeng dan jenis ikan lele hanya menyumbang sekitar 5%.
Akan tetapi kekuatan pasar dan kebijakan pemerintah pada banyak
negara mengutamakan produksi jenis ikan karnivora, seperti udang dan
kakap. Secara menyeluruh, jenis ikan ini hanya mewakili 5 % ikan
budidaya dalam produksinya, tetapi nilai jualnya hampir mendekati 20%
pendapatan.

Selanjutnya penggunaan tepung ikan dan minyak ikan pada budidaya ikan
mas dan tilapia meningkat khususnya pada negara-negara Asia dimana
diterapkan sistem budidaya intesif yang mengakibatkan meningkatnya
penggunaan lahan dan sumberdaya air. Meningkatnya budidaya ikan mas
dan tilapia di Asia, secara nyata menambah pemakaian tepung ikan dan
minyak ikan dalam pakan dan memberikan tekanan pada perikanan
tangkap.Pada akhirnya akan meningkatkan harga pakan dan
membahayakan ekosistem laut. Oleh karena itu diperlukan inisiatif dari
pemerintah untuk menekankan pada petani ikan dan nelayan untuk
membudidayakan ikan jenis herbivora. Pada saat yang sama lembaga-
lembaga penelitian untuk lebih meneliti dan mengembangkan kebutuhan
pakan ikan jenis herbivora dan omnivora untuk mengurangi pemakaian
tepung ikan dan minyak ikan dalam pakan. Juga perlunya penelitian
mengenai penggantian tepung dan minyak ikan untuk digantikan dengan
tepung minyak tumbuhan dalam proporsi yang optimal.

2. Pengurangan Tepung Ikan dan Minyak Ikan dalam Pakan

Pakan adalah komponen biaya produksi terbesar dalam budidaya.


Sementara itu harga tepung ikan nampaknya akan terus meningkat dalam
beberapa dekade terakhir dibanding sumber protein pengganti lainnya.
Peningkatan harga tepung ikan dan minyak ikan dapat menurunkan
keuntungan bagi banyak perusahaan budidaya. Olehnya itu penelitian
untuk memperbaiki efisiensi pakan telah menjadi prioritas dalam industri
budidaya.
Usaha-usaha untuk mengembangkan bahan pengganti tepung ikan
sekarang difokuskan pada komoditi seperti kedelai dan kelapa sawit,
protein alternatif, selain tepung ikan (seperti tepung darah dan tepung
tulang), dan protein dari mikroba. Sumber protein alternatif jauh lebih
banyak tersedia di alam dibanding tepung ikan.Disamping itu yang
terpenting adalah protein alternatif ini mengurangi dampak lingkungan
berupa kurangnya buangan fosfor dalam perairan. Meskipun demikian hal
yang masih menjadi tantangan buat ilmuwan adalah kurangnya nutrien
dan adanya kandungan antinutrien yang dikandung oleh bahan ini.

Demikian pula dengan minyak tumbuhan di mana berdasarkan hasil


penelitian bahwa bahan-bahan ini mampu mengganti minyak ikan dalam
proporsi tertentu tanpa mempengaruhi pertumbuhan ikan. Disamping itu
ketersediannya di alam sekitar 40 kali lebih banyak dan harganya lebih
murah dibanding minyak ikan. Namun minyak tumbuhan mengandung
asam lemak n-3 rendah yang sangat diperlukan tubuh manusia. Oleh
karena itu diperlukan pengkayaan kandungan n-3 asam lemak dalam
pakan yang salah satu sumber lemaknya berasal dari minyak tumbuhan.

3. Usaha Mengurangi limbah lewat Pakan dan Ikan Ramah Lingkungan

Selain berupaya mengeluarkan kebijakan untuk memelihara spesies ikan


herbivora dan mencari sumber-sumber bahan pakan alternatif selain
tepung ikan dan minyak ikan, cara lain untuk mengatasi masalah ini
adalah dengan upaya pemberian pakan dan pembudidayaan ikan ramah
lingkungan. Definisi pakan dan ikan ramah lingkungan adalah pakan dan
ikan dengan tingkat buangan limbah ke lingkungan perairan paling sedikit.
Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa buangan limbah ke perairan
budidaya adalah umumnya berasal dari sisa pakan yang tidak termakan
dan feses ikan. Umumnya unsur bungan limbah dari kedua sumber ini
adalah fosfor (untuk pakan) dan nitrogen (untuk feses). Salah satu usaha
untuk mengurangi buangan fosfor pada pakan selain dari mengurangi
pemaikaian tepung ikan dalam pakan juga dengan cara meningkatkan
efisiensi fosfor pakan untuk dimanfaatkan oleh tubuh ikan sehingga dapat
mengurangi buangan fosfor dan nitrogen dari pakan ke lingkungan
perairan.

Namun, seperti yang telah diuraikan di awal tinjauan, selain ke-tiga faktor
diatas, salah satu alternatif solusi dalam pemecahan masalah lingkungan
budidaya perikanan dapat dilakukan dengan menggunakan sistem filterisasi.
Sistem filterisasi yang dikenal daam perairan budidaya perikanan untuk saat
ini ada 3 jenis, yakni : Filterisasi Kimiawi, Filterisasi Biologi, dan
Filterisasi Mekanik.

Pada perekayasaan ini, jenis filterisasi yang digunakan adalah model


filterisasi mekanik-kimiawi. Dimana dasar pemikiran untuk dibuatnya filterisasi
ini dikarnakan sudah mulai tampak adanya degradasi lingkungan perairan
khususnya perairan Balai Budidaya Laut Batam sehingga untuk pemeliharaan
ikan dengan size benih akan sangat mengganggu dan tidak optimal dalam
mendukung pertumbuhan ikan. Argumen ini juga dikuatkan dengan adanya
data analisa kualitas perairan yang dilakukan selama kurun waktu 2006-2008
dimana adanya peningkatan untsur Nitrogen dan Posfor serta kekeruhan
yang terjadi di lingkungan perairan.

Filter Mekanik

Filter mekanik secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah alat untuk
memisahkan material padatan dari air secara fisika (berdasarkan ukurannya)
dengan cara menangkap/menyaring material-material tersebut sehingga tidak
ada lagi yang dijumpai terapung/melayang di dalam media air. Dengan
demikian berarti untuk sebuah filter mekanik diperlukan bahan yang tahan
lapuk, memiliki lubang (pori-pori) dengan diameter tertentu sehingga dapat
menahan atau menangkap partikel-partikel yang berukuran lebih besar dari
diameter filter tersebut.

Partikel padatan dalam hal ini bukan merupakan bahan terlarut tetapi
merupakan suatu suspensi. Ukurannya bisa bervariasi dari sangat kecil dan
tidak dapat dilihat oleh mata (contoh: partikel penyebab kekeruhan) hingga
sisa pakan ikan, potongan tanaman air atau bahkan bangkai ikan. Partikel-
partikel ini dapat terperangkap dalam berbagai jenis media, dengan syarat
diameter lubangnya atau porinya lebih kecil dari diameter partikel. Media
tersebut dapat berupa kapas sintetis atau bahan berserabut lain, sponge,
keramik berpori, kerikil, pasir, dll.

( Gambar 1 ) ( Gambar 2 )
Gambar 1. Menunjukkan gambaran kasar tentang mekanisme kerja sebuah
filter mekanik
Gambar 2. Penumpukan partikel pada media filter, sehingga dikwatirkan
terjadi penyumbatan.

Filter Kimiawi
Filter Kimiawi adalah sebuah filter mekanik yang bekerja pada skala
molekuler. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa filter mekanik
bekerja dengan membawa suspensi, maka filter kimia bekerja dengan
bantuan media filter berupa arang aktif, resin ion, dan zeolit, atau melalui
fraksinasi air.
Filter kimia dapat melakukan fungsinya dengan tiga cara, yaitu :
(1) Serapan, (2) Pertukaran Ion, dan (3) Jerapan.

(1) Serapan (Absorpsi), merupakan suatui proses dimana suatu partikel


terperangkap ke dalam struktur suatu media dan seolah-olah menjadi bagian
dari keseluruhan media tersebut. Proses ini dijumpai terutama dalam media
karbon aktif. Karbon aktif memiliki ruang pori sangat banyak dengan ukuran
tertentu. Pori-pori ini dapat menangkap partikel-partikel sangat halus
(molekul) dan menjbaknya disana. Dengan berjalannya waktu, maka pori-pori
ini akan jenuh dengan partikel-partikel sangat halus sehingga tidak akan
berfungsi kembali. Sampai tahap tertentu beberapa jenis arang aktif dapat di
reaktivasi kembali.
Secara umum karbon aktif biasanya dibuat dari arang tempurung dengan
pemanasan pada suhu 6000-20000 c pada tekanan tinggi. Pada kondisi ini
akan terbentuk rekahan-rekahan (rongga) sangat halus dengan jumlah yang
sangat banyak. Sehingga luas permukaan arang tersebut menjadi besar. 1
gram karbon aktif biasanya memiliki luas permukaan seluas 500 – 1500 m2.
sehingga sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel yang sangat halus
berukuran 0,01-0,00000001 mm. Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan
menyerap apa saja yang kontak dengan karbon tersebut, baik di air maupun
di udara.

Gambar 2. arang aktif dan struktur molekul arang aktif

(2) Jerapan (Adsorpsi), merupakan suatu proses dimana suatu partikel


”menempel” pada suatu permukaan akibat dari adanya ”perbedaan” muatan
lemah diantara kedua benda (Gaya Van der Waals). Sehingga akhirnya akan
terbentuk suatu lapisan tipis partikel-partikel halus pada permukaan tersebut.
Permukaan karbon yang mampu menarik molekul organik misalnya
merupakan salah satu contoh mekanisme jerapan. Begitu juga yang terjadi
pada suatu protein skimmer. Molekul organik bersifat polar sehingga salah
satu ujungnya akan cenderung tertarik pada air (disebut sebagai
hidrofilik/suka pada air) sedangkan ujung lainnya bersifat hidrofobik (benci
air). Permukaan molekul aktif seperti ini akan tertarik pada antarmuka air-gas
pada permukaan gelembung udara, sehingga molekul-molekul tersebut akan
membentuk suatu lapisan tipis dan membentuk buih/busa. Dalam suatu
protein skimmer, ketika gelembung udara meninggalkan air menuju
tampungan busa, gelembung udara tersebut akan kolaps sehingga pada
akhirnya bahan-bahan organik akan tertinggal pada tampungan busa yang
bersangkutan.

(3) Pertukaran Ion, merupakan suatu proses dimana ion-ion yang terjerap
pada suatu permukaan media filter ditukar dengan ion-ion lain yang berada di
dalam air. Proses ini dimungkinkan melalui suatu fenomena tarik menarik
antara permukaan media bermuatan dengan molekul-molekul bersifat polar.
Apabila suatu molekul bermuatan menyentuh suatu permukaan yang memiliki
muatan berlawanan maka molekul tersebut akan terikat secara kimiawi pada
permukaan tersebut. Pada kondisi tertentu molekul-molekul ini dapat ditukar
posisisnya dengan molekul lain yang berada dalam air yang memiliki
kecenderungan lebih tinggi untuk diikat. Dengan demikian maka proses
pertukaran dapat terjadi. Media yang dapat melakukan proses pertukaran
seperti ini diantaranya adalah zeolit (baik alami maupun buatan) dan resin.

Akhirnya, sangat diharapkan bahwa dengan melakukan sebuah konstruksi


filterisasi dengan prinsip mekanik-kimiawi ini, diharapkan dapat mereduksi
partikel-partikel pengotor di dalam air sehingga dapat dihasilkan ”air yang
segar” bagi media hidup ikan.

III. METODOLOGI
III.1 Waktu dan Tempat

Perekayasaan pembuatan Filterisasi dengan cartridge anion kation


terintegrasi ini dilaksanakan di Balai Budidaya Laut Batam. Dan waktu
yang digunakan mulai dari Rancang bangun, pembuatan hingga tahap
aplikasi adalah selama 3 (tiga bulan). Yakni dimulai dari bulan Juni
2008 hingga Agustus 2008.

III.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan selama pembuatan filterisasi hingga pengamatan
kualitas air setelah melalui proses filterisasi anion kation terintegrasi ini
adalah :
1. Pipa PVC
2. Socket drat
3. Elbow
4. Stop kran
5. Peralatan bor lengkap
6. pH meter
7. DO Meter model Oxyguard
8. Temperatur model Oxyguard
9. Hand Refraktometer
10. HACH Kolorimeter
11. HANNA Spektrometer
12. Atomic Absorption Spektrofotometer
13. Buret
14. Statif dan Klem
15. Secchi disk
16. Sampling Bottle
17. Atomic Absorption Spektrofotometer
18. Mercury Analyzer

Bahan yang digunakan adalah :


1. Ammonia salycilate reagen
2. Ammonia cyanurate reagen
3. NitriVer reagen
4. NitraVer reagen
5. Hanna Nitrate reagen
6. Hanna posphat LR Reagen
7. Hanna Cu reagen
8. Buffer solution pH 7.0
9. Buffer solution pH 4,01
10. NaOH p.a
11. HCl p.a
12. H2SO4 p.a
13. HNO3 p.a
14. Indikator Phenolphtalein
15. CH3COOH
16. KCl
17. Membran semi permeable
18. Aquadest
19. Ethanol 70%
20. Injection reagen
21. Nephelometric reagen
22. Hexane
23. Zeolit
24. Dolomit
25. Arang aktif
26. Manganese green sand
27. Pasir
28. Rotifer trap
29. Anion Kation

III.3 Prosedur

III.3.1 Pembuatan Sistem Filterisasi Anion Kation Terintegrasi


a. Rancang Bangun Sistem Filterisasi

Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6


Proses rancang bangun (gambar 4) hingga ke pengukuran dimensi
alat (gambar 6) dilakukan selama 8 (delapan) hari.

b. Pembuatan Cartridge anion dan Kation

Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9

Proses pembuatan cartdidge (sebuah sistem yang berada di dalam


sistem filterisasi ) dimulai dari persiapan cartridge (gambar 7)
hingga pemasangan cartridge (gambar 9) menghabiskan waktu
selama 2 (dua) hari.

c. Skema Filter Anion Kation Terintegrasi


Cartridge anion kation

Gambar 10. Skema Lengkap filterisasi anion Kation terintegrasi


III.3.2 Pengamatan Kualitas Air Setelah Melewati Filterisasi

1. Sistem filterisasi dipasang pada 1 (satu) bak pemeliharaan ikan


2. Sampling dilakukan pada waktu pagi hari jam 08.00 – 09.00 untuk
kemudian dilakukan analisa kualitas perairan.
3. Waktu Interval sampling dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dalam
seminggu
4. Sampel yang diuji dI Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan
langsung dianalisa yakni untuk parameter NH3, NO2 dan NO3.
Sementara untuk sampel yang diujikan di Laboratorium Surveyor
Indonesia untuk parameter Kekeruhan dan Total Dissolved Solid
dipacking dengan botol tertutup untuk kemudian langsung
dikirimkan ke laboratorium tersebut
5. Sampling dan Analisa dilakukan selama 3 (tiga) bulan.

Gambar 11 Gambar 12
Aplikasi filterisasi Analisa Kualitas Air

III.3.3 Perawatan Alat

Perawatan sistem filterisasi dengan prinsip anion kation terintegrasi ini


dapat dilakukan melalui 2 (dua) tahap, yakni tahapan Backwash dan
tahapan pembersihan media filter. Adapun waktu dilakukannya
tahapan backwash adalah setiap pagi dan sore hari. Sementara untuk
pembersihan media dapat dilakukan satu kali dalam 2 (dua) minggu
tergantung kepada intensitas pemakaian.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari sistem filterisasi, didapat data analisa kualitas air sebagai berikut :
1. Parameter NH3 (Amoniak)

No Tanpa Filter Dengan Filter


1 0,18 0,02 Grafik Konsentrasi Amoniak
2 0,08 0
3 0,11 0,01 0.3
4 0,1 0,01 0.25 Tanpa
5 0,17 0,3 0.2 Filterisasi
6 0,09 0,01
0.15
7 0,013 0

Konsentrasi NH3
0.1 Dengan
8 0,25 0,03
0.05 Filterisasi
9 0,19 0,02
10 0,14 0,01
0 anion kation
11 0,1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
12 0,09 0 Pengukuran Ke-

2. Parameter NO3

Dengan Filter Tanpa Filter


No grafik Nitrat
0,8 2,7 3. Total Dissolved Solid
0,6 3,0 No Dgn Filter Grafik
Tanpa Filter Solid
4 4. Total dissolved

0,4 1,5 10,2


45 37,9
0,8 2,3 3 40
8,4
35 38,3
1,1 3,4 30
8,6
Dengan35,4
Filter
Nilai TDS

0,8 2,8 2 25
Nitrat

20
9,0
15
Tanpa Fil36,9
ter
0,5 1,6 1 8,7
10
32,8
0,7 2,0 5

1,3 3,1 0 9,3


0
1
38,62 3

0,8 2,5 1 Kekeruhan


Analisa 3 5 7 9 (Turbiditas)
11 Pengukuran Ke-

0,5 2,3
0,4 1,9 No
Pengukran Ke-
Dgn Filter Tanpa Filter
Grafik Turbiditas
0,01 0,12
0.25
0,02 0,15
IV.2 Pembahasan 0.2
0,04 0,18
0.15
0,06 0,13 Dengan Filter
Turbidity

Sistem filterisasi Anion Kation terintegrasi 0.1 Tanpa Filter


ini menggunakan dua prinsip yakni 0,06 0,14
0.05
mekanik dan kimiawi. Dimana untuk 0,09 0,21
0
sistem filterisasi mekanik digunakan pasir 1
0,08 0,17
2 3 4 5 6 7 8
dan untuk sistem filterisasi kimiawi 0,03 0,13
Pengukuran Ke-
digunakan anion-kation, zeolit, dolomite
dan arang aktif. Keseluruhan bahan yang digunakan memiliki
karakteristik dan fungsi yang spesifik.
Cartridge Anion Kation dimaksudkan bahwa anion kation diletakkan
didalam tabung filter tersendiri namun merupakan satu kesatuan
dengan sistem filterisasi. Volume anion kation yang dimasukkan adalah
½ dari volume wadah. Dan cartridge ini menjadi tahapan awal dari
keseluruhan treatment sistem filterisasi.
Dari data kualitas air, menunjukkan bahwa sistem filterisasi ini cukup
efektif untuk mengurangi unsur N dalam air terutama yang bersifat
toksik bagi ikan ( Amoniak dan Nitrit). Selain itu juga dapat mereduksi
tingkat kekeruhan didalam air.
Debit air yang dihasilkan dengan sistem filterisasi ini tidak terlalu besar
yakni 6 L/menit. Oleh karena itu filter ini efektif bila digunakan untuk 1
bak pemeliharaan saja.
Dari analisa biaya alat (terlampir) diketahui bahwa alat ini cukup
ekonomis bila diaplikasikan pada masyarakat pembudidaya. Terutama
pembudidaya yang memulai usahanya dari ukuran benih hingga
pembesaran. Disarankan sebelum ditebar di KJA sebaiknya dipelihara
terlebih dahulu pada bak dengan air hasil output dari sistem filterisasi
ini.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan analisa kualitas air, Filterisasi Anion Kation terintegrasi
ini cukup efektif dalam mengurangi unsur Nitrogen terlarut didalam
air terutama yang bersifat toksik bagi ikan yakni Amoniak dan Nitrit.
2. Sistem Filterisasi Anion Kation terintegrasi ini juga efektif dalam
mengurangi tingkat kekeruhan (turbidity) di dalam air
3. Sistem Filterisasi Anion Kation terintegrasi ini sangat ekonomis bila
diterapkan oleh masyarakat pembudidaya

V.2 Saran
Sangat diperlukan penelitian lanjutan dengan uji parameter lain
terhadap air output dari sistem filterisasi ini. Dan juga perlu
dikembangkan sistem filterisasi sejenis dengan skala yang lebih besar.
VI. DAFTAR PUSTAKA

Clarke, R. and M. Beveridge. 1989. Off shore fish farming. Infofish


International, 3 (89) : 12 – 15.
Dahuri, R. 2003. Paradigma baru pembangunan Indonesia berbasis
kelautan. Orasi ilmiah : Guru besar tetap bidang pengelolaan sumber
daya pesisir dan lautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut
Pertanian Bogor.
Honma, A. 1993. Aquaculture in Japan. Japan FAO Association. Baji
Chikusan-Kaikan, 1-2 Kanda Surugadai, CVhiyoda-Ku, Japan.
Jusuf, G.D.H. dan V.P.H. Nikijuluw. 1999. Arah kebijaksanaan dan strategi
diseminasi teknologi dan penelitian budidaya laut dan pantai dalam A.
Sudrajat, E. S.Heruwati, J. Widodo dan A. Poernomo (Penyunting).
Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Diseminasi Teknologi
Budidaya laut dan Pantai di Jakarta Tanggal 2 Desember 1999.
Badan Litbang Pertanian, Puslitbang Perikanan bekerjasama dengan
JICA
Kurnia, agus, 2006, Saatnya Indonesia menerapkan budidaya ikan ramah
lingkungan (2), artikel
Lee, C.S. 1997. Constraints and government intervention for the
development of aquaculture in developing countries. Aquaculture
Economics and Managements, 1(1) : 65 – 71.
Maan, M., Bachrein dan M. Rochiyat. 1999. Diseminasi teknologi budidaya
laut dan pantai dalam A. Sudrajat, E. S.Heruwati, J. Widodo dan A.
Poernomo (Penyunting). Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan
Diseminasi Teknologi Budidaya laut dan Pantai di Jakarta 2
Desember 1999. Badan Litbang Pertanian, Puslitbang Perikanan
bekerjasama dengan JICA.
Nikijuluw, Victor P.H., 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan.
Pusat Pemberdayaan dan Pembangunan Daerah dan PT. Pustaka
Cidesindo. Jakarta.
Sugama, K. 1999. Inventarisasi dan identifikasi teknologi budidaya laut dan
pantai yang telah dikuasai untuk diseminasi dalam A. Sudrajat, E.
S.Heruwati, J. Widodo dan A. Poernomo (Penyunting). Prosiding
Seminar Nasional Penelitian dan Diseminasi Teknologi Budidaya laut
dan Pantai di Jakarta Tanggal 2 Desember 1999. Badan Litbang
Pertanian, Puslitbang Perikanan bekerjasama dengan JICA
www.O-fish.com/ water quality. htm
www.O-fish.com/ filter mekanik.htm
www.O-fish.com/ filter kimia.htm

Lampiran
Analisa Biaya Alat

No Komponen Ukuran Jumlah Biaya


1 Pipa PVC 8 inch 1 Batang Rp. 150.000
2 Pipa PVC 1 ½ inch 1 Batang Rp. 75.000
3 Socket drat dalam 1 ½ inch 2 buah Rp. 30.000

4 Socket drat luar 1 ½ inch 2 buah Rp. 30.000

5 Elbow 1 ½ inch 6 buah Rp. 30.000


6 Lem PVC 1 kaleng Rp. 20.000
7 Arang aktif 100 mesh 15 Kg Rp. 100.000
8 Zeolit 100 mesh 15 Kg Rp. 100.000
9 Pasir Silika 100 mesh 15 Kg Rp. 75.000
10 Manganese green 100 mesh 10 Kg Rp. 100.000
Sand

11 Anion Kation 10 Kg Rp. 150.000


TOTAL Rp. 860.000