0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan7 halaman

Audit Kepatuhan Cuci Tangan Puskesmas Bantur

Laporan audit kepatuhan cuci tangan di Puskesmas Bantur untuk periode April-Juni 2022 menunjukkan bahwa kepatuhan petugas kesehatan masih di bawah standar, dengan rata-rata hanya 58% dibandingkan target ≥85%. Beberapa faktor penyebab rendahnya kepatuhan termasuk kurangnya fasilitas cuci tangan dan pengetahuan petugas tentang prosedur yang benar. Tim PPI merencanakan berbagai upaya untuk meningkatkan kepatuhan, termasuk reedukasi dan penyediaan fasilitas yang memadai.

Diunggah oleh

auliana zulfa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan7 halaman

Audit Kepatuhan Cuci Tangan Puskesmas Bantur

Laporan audit kepatuhan cuci tangan di Puskesmas Bantur untuk periode April-Juni 2022 menunjukkan bahwa kepatuhan petugas kesehatan masih di bawah standar, dengan rata-rata hanya 58% dibandingkan target ≥85%. Beberapa faktor penyebab rendahnya kepatuhan termasuk kurangnya fasilitas cuci tangan dan pengetahuan petugas tentang prosedur yang benar. Tim PPI merencanakan berbagai upaya untuk meningkatkan kepatuhan, termasuk reedukasi dan penyediaan fasilitas yang memadai.

Diunggah oleh

auliana zulfa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

DINAS KESEHATAN
UPT PUSKESMAS BANTUR
Jln. Raya Bantur No 2203  (0341) 841113
email : puskesmasbantur@yahoo.com
MALANG 65179

LAPORAN AUDIT KEPATUHAN CUCI TANGAN


BULAN APRIL – JUNI 2022

A. LATAR BELAKANG

Puskesmas merupakan health care system yang di dalamnya


terdapat sistem surveilans sebagai upaya pengendalian dan
pencegahan yang di dalamnya Puskesmas mempunyai peran
strategis dalam upaya mempercepat peningkatan kesehatan
masyarakat di Indonesia, karena Puskesmas merupakan fasilitas yang
padat karya dan padat teknologi. Peran strategis Puskesmas sangat
diperlukan untuk menghadapi transisi epidemiologi yang terjadi saat
ini.

HAIs (Health-care Associated Infections) merupakan kejadian


infeksi yang didapatkan penderita setelah mendapatkan perawatan
>48 jam dan pasien tidak dalam masa inkubasi. Karena HAIs, di
identifikasi melalui kegiatan surveilans, media penularan utama dari
sebagian besar bakteri atau virus penyebab infeksi adalah tangan-
tangan pemberi asuhan yang terkontaminasi.

Hand hygiene adalah istilah yang digunakan untuk mencuci tangan


menggunakan antiseptik pencuci tangan. Pada tahun 2009, WHO
mencetuskan global patient safety challenge dengan clean care is safe
care, yaitu merumuskan inovasi strategi penerapan hand hygiene
untuk petugas kesehatan dengan my five moments for hand hygiene
yaitu melakukan cuci tangan sebelum bersentuhan dengan pasien,
sebelum melakukan prosedur bersih dan steril, setelah bersentuhan
dengan pasien, setelah bersentuhan dengan cairan tubuh pasien,
setelah bersentuhan dengan pasien, setelah bersentuhan dengan
lingkungan sekitar pasien. Pengetahuan tentang infeksi nosokomial
dan pencegahannya merupakan stimulus sosial yang dapat
menimbulkan respon emosional terhadap upaya universal precaution
sehingga akan meningkatkan peran sertanya dalam upaya
pencegahan infeksi nosokomial. Kegagalan melakukan kebersihan
tangan yang baik dan benar dianggap sebagai penyebab utama
infeksi nosokomial atau HAIs dan penyebaran mikroorganisme multi
resisten di fasilitas pelayanan kesehatan dan telah diakui sebagai
kontributor yang penting terhadap timbulnya wabah. Sehingga perlu
adanya audit kepatuhan pelaksanaan hand hygiene untuk evaluasi
kegiatan hand hygiene yang telah dilakukan oleh tim Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi (PPI) Puskesmas ABCD

B. MAKSUD DAN TUJUAN

1. Maksud :
Meningkatkan pemahaman tentang kebersihan tangan (hand hygiene).
2. Tujuan :
a. Meningkatkan pengetahuan dalam melakukan cuci
tangan (hand hygiene) dengan handrub maupun
handwash.
b. Meningkatkan kepatuhan petugas kesehatan dalam
kebersihan tangan (hand hygiene).
c. Meningkatkan perilaku sehat dengan selalu melakukan
cuci tangan (hand hygiene) dengan 6 langkah dalam 5
momen.
d. Mendapatkan data tentang gambaran kepatuhan cuci
tangan dan ketersediaan fasilitas cuci tangan
C. PENGERTIAN
Pencegahan dan pengendalian infeksi mutlak harus dilakukan
oleh seluruh pegawai Puskesmas terutama orang yang terlibat dalam
perawatan pasien. Untuk menanggapi hal ini, Tim PPI melakukan
penilaian terhadap kepatuhan cuci tangan kepada petugas yang
bersentuhan langsung dengan pasien yang dinilai setiap bulan.
Penilaian ini berdasarkan dilakukan atau tidaknya cuci tangan dalam
five moments for hand hygiene (lima momen cuci tangan) yang
ditetapkan oleh WHO.
Lima moment tersebut adalah:
1. Sebelum bersentuhan dengan pasien
2. Sebelum melakukan prosedur bersih/steril
3. Setelah bersentuhan dengan cairan tubuh pasien risiko tinggi
4. Setelah bersentuhan dengan pasien
5. Setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien

Jumlah petugas yang dinilai (audit) berasal dari Profesi Pemberi


Asuhan (PPA) dan orang yang bersentuhan langsung dengan pasien
untuk dilakukan audit hand hygiene. Data dikumpulkan dengan cara
menggunakan lembar observasi. Lembar observasi berisi check list
untuk melihat praktik hand hygiene yang dilakukan oleh petugas
(PPA), yang terdiri dari penilaian lima momen cuci tangan dengan
membandingkan jumlah nilai Opportunity dan jumlah Action setiap
petugas dalam melakukan tindakan cuci tangan. Penilaian Fasilitas
cuci tangan juga menggunakan lembar Observasi dilakukan berupa
format yang berisi item-item yang perlu diamati menggunakan cheklist.
D. HASIL KEGIATAN

Kepatuhan Hand Hygiene di Puskesmas Bantur. Audit hand


hygiene merupakan cara yang dilakukan untuk mengobservasi dan
mengukur kepatuhan para petugas kesehatan dalam melakukan hand
PRESENTASE

hygiene yang merupakan perilaku mendasar dalam upaya mencegah


timbulnya infeksi nosokomial. Dari pelaksanaan audit hand hygiene
yang dilaksanakan rutin tiap 3 bulan di Puskesmas berikut ini laporan
kepatuhan hand hygiene pada setiap unit pelayanan kesehatan
Puskesmas bulan April - Juni 2022.

Berdasarkan data pada INM ( Indikator Nasional Mutu ), menunjukkan


bahwa angka kepatuhan Hand Hygiene bulan April - Juni 2022 di
Puskesmas Bantur yaitu: kepatuhan APD bulan April 79% ,
Kepatuhan HH pada bulan Mei 82 %, Kepatuhan HH pada bulan Juni
82,93 %.

E. ANALISA DAN EVALUASI

1. Berdasarkan hasil laporan diatas terhadap kepatuhan


kebersihan tangan (hand hygiene) petugas bulan April - Juni di
Puskesmas Bantur masih dibawah standar yaitu rata-rata 58 %,
sedangkan standar atau target yang diharapkan yaitu ≥85 %.
Ini menunjukkan masih minimalnya kepatuhan petugas dalam
melakukan cuci tangan.
2. Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab kurangnya
kepatuhan petugas dalam cuci tangan, antara lain:

a. Petugas belum memasukkan data di INM pada bulan April


2022
b. Belum berjalannya kegiatan monitoring kepatuhan cuci
tangan di Puskesmas Bantur
c. Sering tidak tersedianya fasilitas cuci tangan di
Puskesmas Bantur seperti sabun, tissue, dan alcohol
d. Kurangnya pengetahuan petugas tentang 5 momen cuci
tangan dan 6 langkah cuci tangan

F. UPAYA TINDAK LANJUT

Maka Tim PPI merencanakan peningkatan kepatuhan kebersihan


tangan (hand hygiene) dengan cara:

1. Melakukan reedukasi rutin


2. Membuat stiker cuci tangan, yang nantinya akan diberikan
kepada setiap petugas yang sudah bisa melakukan cuci tangan
dengan baik dan benar, serta dapat menyebutkan 5 momen cuci
tangan.
3. Melakukan monitoring sarana dan prasarana untuk cuci tangan.
4. Menempel poster hand hygiene.
5. Membagikan brosur/leaflet hand hygiene
6. Untuk pelaksaaan hand hygiene agar maksimal maka
Puskesmas perlu menyediakan fasilitas cuci tangan yang
memadai
7. Mengajukan kelengkapan fasilitas cuci tangan pada Penanggung
jawab Sarana dan Prasarana

G. PENUTUP

a. Pemahaman petugas IPCN tentang PPI sudah memadai, dan


informasi tentang PPI juga sudah disampaikan ke petugas
ruangan, namun untuk merubah perilaku petugas kesehatan juga
harus didukung oleh ketersediaan fasilitas cuci tangan untuk
kepentingan pasien dan Puskesmas tentunya.
b. Hasil akhir yang diharapkan dari meningkatnya kepatuhan petugas
dalam kebersihan tangan ini adalah tidak terjadinya HAIs pada
pasien Puskesmas. Karena kebersihan tangan merupakan salah
satu indicator pacient safety yang harus dijalankan oleh petugas di
Puskesmas, maka meningkatnya kepatuhan

petugas dalam cuci tangan juga berarti meningkatnya kualitas


pelayanan Puskesmas.

Malang, Juni 2022


Mengetahui Sekretaris Tim
PPI
Koordinator PPI

dr.Auliana Zulfa Tri Setyianing

Anda mungkin juga menyukai