Anda di halaman 1dari 8

MODEL PENDUGAAN ISI POHON JENIS TOREM (Manilkara kanosiensis, H.J. Lam & B.J.D.

Meeuse) DI PULAU YAMDENA KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT Aryanto Boreel dan Troice E. Siahaya
Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon

ABSTRACT The construction of tree volume table for torem species (M. kanosiensis) was proposed to estimate the masses of stand in Yamdena Island of Maluku Tenggara Barat regency with adequate precision and accuracy. The tree volume tables have been constructed based on 50 sample trees with the distribution of diameter at breast height of 15-125cm and distribution of tree merchantable height of 14-30 meter. Four regression models were developed using formulas V= aDb, V = a + b1D, V = a + b1D + b2T and V = aDb1Tb2. The result analysis of the level of their relationship through the correlation coefcient indicated that the models of volume estimation constructed was not only one variable by the diameter but also used another variables i.e. tree height. The result showed that based on the criteria of the accuracy and precision (coefcient of determination, coefcient of determination corrected, standard deviation, test F-test, bias, aggregate deviation, average deviation value, RMSE and model validation), the model equation V= aDb1Tb2 or V = 0.000042 D2,02T1,03 was sufcient to meet requirements of precision and accuracy in the volume estimation of torem species (M. kanosiensis) at the sites. Keywords: Estimation model, Manilkara kanosiensis, Tree volume PENDAHULUAN Dalam pengelolaan hutan produksi yang lestari, informasi kuantitatif mengenai karakteristik pohon maupun tegakan dengan tingkat kecermatan dan keterandalan yang tinggi merupakan informasi sangat penting dalam menentukan keberhasilan pengelolaan hutan. Salah satu jenis data yang diperlukan dalam perencanaan pengelolaan hutan adalah penaksiran potensi atau massa tegakan. Kesalahan terhadap penaksiran potensi massa tegakan tersebut akan mengakibatkan kesalahan penaksiran produksi yang dapat berakibat pada kesalahan dalam menganalisis ekonomi (untung-rugi) dalam pengusahaan hutan. Untuk mengetahui besarnya potensi atau volume kayu suatu tegakan hutan, diperlukan alat bantu berupa perangkat pendugaan volume kayu setiap pohon yang menyajikan dugaan volume kayu secara cukup seksama. Alat bantu tersebut umumnya dikenal dengan nama Tarif atau Tabel Volume. Siswanto dan Imanuddin (2008) mengatakan bahwa sampai saat ini perangkat penduga volume pohon belum tersedia secara lengkap, sementara disisi lain, adanya kebijakan pengelolaan hutan yang berhubungan dengan penerapan ecolabelling yang memasukan komponen tersedianya tabel volume pohon sebagai salah satu dasar penilaian pengelolaan hutan secara lestari pada unit-unit pengelolaan hutan, maka penyusunan tabel volume pohon untuk jenis-jenis tertentu merupakan hal yang sangat mendesak. Adanya variasi bentuk pohon menurut jenis atau kelompok jenis dari satu lokasi ke lokasi lainnya, maka dalam penyusunan perangkat pendugaan volume pohon perlu memperhatikan karakteristik tersebut. Perangkat pendugaan volume pohon yang bersifat umum untuk berbagai jenis dan lokasi hutan dapat menyebabkan hasil dugaan yang kurang teliti, tidak akurat atau bias, sehingga informasi massa tegakan yang dihasilkan bisa under atau overestimate. Akibatnya, rencana pengelolaan yang tersusun akan kurang mengena dan tidak sesuai dengan potensi yang ada (Bustomi, dkk., 1999). Hal ini didukung oleh Simon (2007) yang menjelaskan bahwa penyusunan tabel volume sebenarnya ditujukan untuk penaksiran volume kayu bagi spesies pohon tertentu dalam lingkup

280

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 pohon jenis Torem (M. kanosiensis) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat, yang merupakan salah satu bagian dari usaha penyajian perangkat pendugaan volume pohon yang ditujukan sebagai alat bantu dalam menaksir volume tegakan sehingga diperoleh potensi massa tegakan yang akurat. METODE PENELITIAN Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada areal hutan produksi Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan berlangsung selama 2 bulan. Dalam penelitian ini bahan yang digunakan adalah 50 pohon model jenis torem (M. Kanosiensis) yang dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling (pemilihan secara sengaja). Pohon model dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu pohon-pohon yang mempunyai pertumbuhan normal, sehat dan tidak cacat, serta mewakili kelas diameter pohon yang terdapat di lokasi penelitian. Data pohon model selanjutnya dibagi atas dua bagian, yaitu data untuk tahap penyusunan model (30 pohon model) dan data untuk tahap validasi model (20 pohon model). Pada setiap pohon yang terpilih sebagai pohon model dilakukan pengukuran dimensi pohon atau batang pohon dan karakteristik lain dari pohon yang relevan dan dianggap mempengaruhi besaran volume pohon. Komponen yang diukur berupa dimensi pohon antara lain diameter pohon setinggi dada (d1,30), tinggi pohon bebas cabang dan diameter seksi batang dengan menggunakan phi band, clinometer dan Spiegel Relascope Bitterlich (SRB). Selanjutnya, pada masing-masing pohon model dilakukan pengukuran seksi batang (sectionwise measurement) dengan panjang seksi masing-masing adalah dua meter, mulai 20 cm dari bagian pangkal batang sampai batas bebas cabang (Gambar 1).

wilayah yang terbatas. Hal ini dimaksudkan untuk memperkecil eror karena ragam dimensi pohon, khususnya tinggi dan bentuk, yang disebabkan oleh pengaruh kesuburan tanah, keadaan tempat tumbuh, struktur hutan dan sebagainya. Torem (M. kanosiensis) termasuk dalam famili Sapotaceae dan merupakan salah satu genus Manilkara. Genus ini terdiri atas 65 jenis, dimana 30 jenis terdapat di Amerika, 20 jenis di Afrika dan 15 Jenis di Asia, Australia dan Pasik. Di Malesia terdapat 4 jenis yang tumbuh secara alami dan salah satu jenisnya ditemukan di India, Sri Lanka, Burma, Thailand dan Indo-China (Soerianegara dan Lemmens,1994). Di Indonesia sebaran torem terdapat di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku dan tergolong kayu komersil utama (Soerianegara dan Lemmens 1994). Jenis ini digunakan sebagai kayu pertukangan, lantai papan, moulding (Faperta, 1995), dan kerajinan (ukiran) (Torimtubun, 2006). Sampai saat ini, data dan informasi mengenai jenis pohon torem relatif belum banyak diketahui. Sementara itu, keberadaan jenis ini sebagai salah jenis yang memiliki nilai komersil tinggi mengalami perubahan baik struktur maupun komposisinya sebagai akibat dari pertumbuhan dan kematian serta aktivitas penebangan yang dilakukan oleh manusia. Berdasarkan Permenhut No. : P.57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008 2018, jenis ini oleh IUCN dimasukan dalam kategori terancam punah akibat penebangan (pengambilan kayu). Untuk itu, dalam upaya pemanfaatanya secara lestari maka data mengenai struktur dan komposisi tegakan jenis pohon torem harus diketahui sehingga dapat disusun rencana pengelolaan yang tepat dan terpadu agar diperoleh struktur tegakan yang stabil sehingga menghasilkan produktivitas hutan yang tinggi, baik kuantitas maupun kualitasnya secara berkelanjutan. Berkaitan dengan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah menyusun tabel volume

Model Pendugaan Isi Pohon Jenis Torem (Manilkara Kanosiensis, H.j. Lam & B.j.d. Meeuse) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010

281 Dalam analisis regresi, penduga volume pohon merupakan persamaan yang menyatakan hubungan antara volume pohon dengan peubah bebas atau penduga (predictor) dimensi pohon atau secara matematik, V = f(D,T) atau V = f(D). Persamaan regresi yang disusun merupakan model penduga volume pohon. Adapun bentuk persamaan regresi yang dicobakan adalah sebagai berikut (Husch, et al, 2003 dan Simon, 2007) : a. V = aDb atau Log V = log a + b log D b. V = b0 + b1D c. V = b0 + b1D + b2T d. V = b0Db1Tb2 atau Log V = Log b0 + b1 log D + b2 log T

1,2 m

2m

2m

130 cm
20 cm

Gambar 1. Pengukuran per seksi pohon model

Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Minitab Ver. 14 dan Microsoft Excel 2007 (Iriawan dan Astuti 2006). Analisis data yang dilakukan dalam rangka menyusun model pendugaan isi pohon (tabel volume) jenis torem (M. kanosiensis), meliputi: a. Sortasi data dan penyusunan tabel sebaran frekuensi pohon model menurut diameter (d 1,30 ) atau kelas diameter dan tinggi pohon. b. Perhitungan volume pohon model dengan menjumlahkan volume setiap seksi batang yang membentuknya, dimana volume setiap setiap seksi batang dihitung dengan menggunakan rumus Smallian (Husch et al., 2003) yaitu :

Dimana V adalah volume pohon (m3), D adalah diameter setinggi dada (cm), T adalah tinggi pohon bebas cabang, dan a, b, c adalah konstanta. Penyelesaian persamaan-persamaan regresi tersebut yaitu pendugaan parameter (koesien) regresi dilakukan dengan mempergunakan metode kuadrat terkecil (least square methods).
d. Untuk mengetahui sejauh mana keeratan hubungan antara tinggi dan diameter pohon, dilakukan analisis korelasi (r) dengan tujuan untuk melihat apakah hanya peubah diameter saja yang digunakan dalam menduga volume pohon ataukah tidak. Pemilihan model terbaik dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan antara lain : koesien determinasi (R2), koesien determinasi terkoreksi (Ra2), simpangan baku (s) dan uji keberartian persamaan regresi (F- test). Pengujian keabsahan atau keberlakuan (validation) serta perbandingan dari modelmodel penduga yang tersusun berdasarkan beberapa kriteria uji ketelitian model persamaan regresi mencakup nilai bias, ketelitian yaitu nilai simpangan agregat (SA) dan nilai simpangan rata-rata (SR), ketepatan (nilai

e.

c.

Dimana Vs = Volume pohon Model, p = panjang tiap seksi pohon model, Ab dan Au = Luas bidang dasar pada pangkal dan ujung seksi pohon model Penyusunan persamaaan volume pohon. Perangkat penduga volume pohon sebagai bahan dasar pembuatan tabel volume pohon digunakan pendekatan model regresi.

e.

Aryanto Boreel Dan Troice E. Siahaya

282

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 RMSE = Root Mean Square Error) dan uji validasi Chi-Square (2). HASIL DAN PEMBAHASAN
>100 Sub Total 1 8 9 1 2 1 20

Total

14

25

50

Pohon Model Pohon model yang diambil dalam penyusunan model dan validasi tabel volume ini adalah sebanyak 50 pohon model yang dikelompokkan ke dalam beberapa kelas diameter dan kelas tinggi. Data pohon model kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu data untuk tahap penyusunan model (30 pohon model) dan data untuk tahap validasi model (20 pohon model). Sebaran jumlah pohon menurut kelas diameter dan tinggi disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Sebaran Jumlah Pohon Model Menurut Kelas Diameter dan Tinggi Bebas Jenis Torem
No
1
Kelas Diameter (cm)

Berdasarkan Tabel 1 terllihat bahwa pemilihan jumlah pohon contoh yang digunakan baik untuk menyusun model penduga volume maupun untuk validasi model tersebar menurut diameter maupun tinggi pohon. Dari Tabel 1, selanjutnya dihitung hubungan antara diameter setinggi dada (dbh) dengan tinggi bebas cabang pohon (Tbc) untuk mengetahui apakah keragaman peubah tinggi dapat diterangkan oleh peubah keragaman diameter ataukah tidak. Hubungan Diameter dengan Tinggi Asumsi yang mendasari penyusunan model penduga volume batang untuk tabel volume lokal adalah terdapat hubungan yang erat antara diameter dan tinggi pohon. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keeratan hubungan antara diameter dan tinggi pohon,sehingga apabila terdapat korelasi yang erat antara tinggi dan diameter pohon maka dapat menggunakan hanya peubah diameter pohon saja untuk menduga volumenya, dengan asumsi bahwa peubah tinggi telah dapa dijelaskan peranannya oleh peubah diameter pohon. Hubungan antara diameter dan tinggi dari 30 30 pohon contoh yang terpilih untuk penyusunan model penduga tabel volume pohon disajikan 25 dalam Gambar 2.
Tinggi pohon (m) 20

Kelas Tinggi Bebas Cabang (m) Total 11-15 16-20 21-25 26-30

Data Pohon Contoh Untuk Penyusunan Model 10-20 20-30 30-40 40-50 50-60 60-70 70-80 80-90
90-100

1 2 3

1 2 1 1 1 6

1 2 2 2 2 2 1 2 2 16

3 1 1 -

3 4 2 3 5 4 4 1 2 2

>100 Sub Total 2

30

15

Data Pohon Contoh Untuk Validasi model 10-20 20-30 30-40 40-50 50-60 60-70 70-80 80-90
90-100

10

1 -

1 3 1 2 1 -

4 1 2 1 1

1 -

2 3 5 1 4 3 1

20

40

60 80 Diameter (cm)

100

120

Gambar 2.

Hubungan antara tinggi pohon dengan diameter pohon setinggi dada jenis torem (M. kanosiensis)

Pada Gambar 2 dapat dilihat hubungan antara diameter dan tinggi pohon kurang erat. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koesien korelasi (r) yang dihasilkan sebesar 0,496 dengan koesien determinasi 24,6%, artinya bahwa hanya 24,6% saja keragaman diameter pohon yang dapat menerangkan keragaman tinggi pohon. Dengan

Model Pendugaan Isi Pohon Jenis Torem (Manilkara Kanosiensis, H.j. Lam & B.j.d. Meeuse) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 demikian maka model penduga volume yang disusun tidak hanya menggunakan satu peubah saja yaitu diameter tetapi harus melibatkan peubah lain yaitu tinggi pohon. Cupyadi (2003) mengemukakan bahwa dalam membuat tabel volume lokal untuk memperoleh ketelitian yang dapat dipertanggungjawabkan, maka koesien korelasi ditetapkan lebih dari 0,7071 atau nilai koesien determinasi (R2) minimal 50%. Penyusunan Persamaan Volume Pohon Dari 4 model persamaan regresi yang sebelumnya telah dicantumkan, hanya 2 model persamaan yang digunakan untuk menyusun tabel volume lokal, dimana model persamaan regresi ini menggunakan dua peubah yakni diameter setinggi dada dan tinggi bebas cabang pohon untuk menduga volume pohonnya. Pohon model yang diambil untuk tahap penyusunan model yaitu sebanyak 30 pohon. Model persamaan regresi yang digunakan dalam penyusunan tabel volume ini adalah : a. V = b0 + b1D + b2T ........(3)

283

............(4) b. V = b0 + Db1Tb2 Dimana V = Volume pohon (m3) D = Diameter setinggi dada (cm) T = Tinggi pohon bebas cabang (m) b0, b1, b2 = konstanta Dari hasil analisis dengan menggunakan Minitab Ver. 14 diperoleh model penduga isi pohon jenis torem (M. kanosiensis) sebagai berikut : a. V = -3,24 + 0,137D + 0,00065T.............(5) b. Log V = -4,38 + 2,02 log D + 1,03 log T (6) Untuk persamaan (6) karena sebelumnya telah ditransformasikan ke dalam bentuk logaritmik, maka persamaan tersebut ditransformasi kembali ke dalam bentuk asalnya yaitu : V = 0,000042D2,02T1,03. 1.1. Pemilihan model terbaik Dari persamaan penduga volume yang diperoleh dilakukan pemilihan model terbaik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan antara

lain : koesien determinasi (R2), koesien determinasi terkoreksi (Ra2), simpangan baku (s) dan uji keberartian persamaan regresi (F- test). Hasil perhitungan pemilihan model terbaik disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Koesien Determinasi, Koesien Determinasi Terkoreksi, Simpangan Baku dan Fhitung hasil Analisis Persamaan Regresi pada Tahap Penyusunan Model.
Persamaan penduga volume V = b0 + b1D + b2T V = b0Db1Tb2 R2 94,5% 98,2% Ra2 94,1% 98,0% S 0,984111 0,078987 Fhitung 231,59** 717,37** F0.05 3,35 3,35 F0.01 5,49 5,49

Keterangan : **) sangat nyata Dari Tabel 2 terlihat bahwa persamaan (2) memiliki nilai R2 dan Ra2 terbesar yaitu 98,2% dan 98,0%. Hal ini menunjukkan bahwa persamaan (2) memiliki tingkat ketelitian dan keeratan hubungan antara peubah bebas dan peubah tidak bebasnya yang paling baik diantara persamaan lain. Dilihat dari nilai simpangan baku (s), maka persamaan (2) memiliki nilai simpangan baku terkecil yaitu 0,078987 dibandingkan dengan persamaan (1) yaitu 0,984111. Hal ini

menunjukkan bahwa persamaan (2) memiliki dugaan yang lebih teliti dibandingkan dengan persamaan (1). Pada uji signifikansi F-test, kedua persamaan di atas memberikan hasil yang sama bahwa ada hubungan regresi yang sangat nyata antara peubah bebas dengan peubah tak bebasnya. Untuk nilai Fhitung, persamaan (2) mempunyai nilai yang paling besar yaitu 717,37 yang berarti persamaan ini memiliki hubungan regresi yang paling nyata antara peubah bebas dengan peubah

Aryanto Boreel Dan Troice E. Siahaya

284

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 yang dilakukan adalah melakukan perbandingan performansi tiap model melalui kriteria nilai bias, ketelitian yaitu nilai simpangan agregat (SA) dan nilai simpangan rata-rata (SR), ketepatan (nilai RMSE = Root Mean Square Error) dan uji validasi Chi-Square (2). Hasil validasi model dari 20 pohon contoh tertera pada Tabel 3.

tidak bebasnya dibandingkan persamaan lain. Dengan demikian maka model penduga volume terbaik pada tahap penyusunan model berdasarkan kriteria nilai R2, Ra2, s dan F-test adalah persamaan (2) yaitu V = b0Db1Tb2 Validasi Model Pada tahap validasi model ini langkah
Persamaan penduga volume V = b0 + b1D + b2T V= b0Db1Tb2

Tabel 3. Nilai Bias, Simpangan Agregrat, Simpangan, Nilai Rataan Simpangan, Ketepatan dan Chi-square hasil Validasi Model Persamaan Regresi
Bias (e) -40,23% 7,42% SA -8,28 1,98 SR 21,15 2,97 RMSE 39,91 5,14 2 28.615** 1.991** 20.05 30,144 20.01 36,191

Keterangan : **) sangat nyata Bias merupakan selisih antara nilai harapan dan parameternya. Bias berkorelasi positif dengan banyaknya contoh. Untuk memperkecil bias, contoh yang diambil harus cukup banyak. Bias dapat terjadi karena kesalahan yang disebabkan oleh alat ukur, pengukur/juru ukur, dan kesalahan teknik sampling (Sutarahardja, 1999 dalam Cupyadi, 2003). Suatu model dikatakan baik apabila bias yang dihasilkan kecil. Pada Tabel 3 terlihat bahwa berdasarkan kriteria nilai bias tersebut, persamaan terbaik adalah persamaan (2) yang memiliki nilai bias terkecil 7,42%. Tingkat ketelitian (accuracy) adalah merupakan maksimum penyimpangan antara statistik dengan parameter pada tingkat nyata atau tingkat kepercayaan tertentu, yang diukur oleh besar kecilnya ragam (Sutarahardja, 1999). Menurut Bustomi, dkk (1999), penilaian ketelitian model pendugaan volume pohon didasarkan pada besarnya simpangan agregatif (SA) dan rataan persentase simpangan (SR). Spurr (1952) dan Husch (1963) dalam Bustomi, dkk (1999) berpendapat bahwa model pendugaan volume pohon yang baik adalah persamaan yang mempunyai nilai SA antara -1% dan 1% serta nilai SR kurang dari 10%. Tabel 3 menunjukkan bahwa persamaan (2) memiliki nilai SA dan SR masing-masing 1,98% dan 2,97%. Hal ini menunjukan bahwa persamaan (2) memiliki tingkat ketelitian yang cukup baik dibandingkan dengan persamaan (1) yang memiliki nilai SA dan SR yang cukup

besar masing-masing -8,28% dan 21,15%. Pada persamaan (1) maupun persamaan (2), masingmasing memiliki nilai SA diluar kisaran nilai yang ditentukan, namun untuk persamaan (2) nilai SA-nya lebih kecil jika dibandingkan dengan persamaan (1). Menurut Simon (2007), ketepatan atau kecermatan dapat diartikan kedekatan dengan sesuatu yang ingin dicapai, atau berkaitan dengan keberhasilan penaksiran dengan nilai sebenarnya. Tingkat ketepatan (precision) selalu berhubungan erat dengan besar kecilnya ragam. Ketepatan model dapat ditunjukkan oleh besarnya nilai Root Mean Square Error (RMSE). Nilai RMSE yang lebih kecil menunjukkan bahwa model penduga volume yang digunakan lebih akurat dalam menduga volume. Persamaan (2) memiliki nilai RMSE yang paling kecil yaitu 5,14. Hal ini menunjukkan bahwa model penduga volume ini lebih akurat dalam menduga volume pohon jika dibandingkan model penduga volume pohon yang lain. Untuk uji validasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji 2 (chi-square) pada taraf nyata ( = 5% dan = 1%). Pada uji chi square ini, kedua persamaan diatas menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan nilai volume pohon yang sebenarnya pada diameter dan tinggi pohon tertentu. Untuk nilai 2hit, persamaan (2) mempunyai nilai yang paling kecil yakni 1,991 yang berarti persamaan ini memiliki nilai dugaan volume yang paling tidak berbeda dengan nilai volume pohon yang

Model Pendugaan Isi Pohon Jenis Torem (Manilkara Kanosiensis, H.j. Lam & B.j.d. Meeuse) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 sebenarnya pada diameter dan tinggi pohon tertentu dibandingkan persamaan (1). Dengan demikian maka model penduga volume terbaik pada tahap validasi model berdasarkan kriteria nilai bias (e), SA, SR, RMSE dan uji chi-square (2) adalah persamaan (2) yaitu V = b0Db1Tb2. Dari model penduga volume terbaik pada tahap penyusunan model maupun tahap validasi model maka dihasilkan model penduga isi pohon terbaik jenis torem (M. kanosiensis) adalah persamaan (2) yaitu : V = b0Db1Tb2 Penyusunan Tabel Volume Standar Tabel volume yang disusun merupakan tabel volume standar dimana pada tabel volume ini digunakan dua peubah untuk menduga volume kayu bebas cabang yaitu peubah diameter (dbh) dan tinggi pohon (Tbc). Nilai-nilai dugaan pohon menurut dimensi diameter (Dbh) dan tinggi pohon (Tbc) tertentu harus memperhatikan cakupan nilai dimensi pohon yang diukur di lapangan dimana tidak boleh terjadi ekstrapolasi, yaitu menduga nilai yang tidak berada dalam kisaran data yang digunakan untuk penyusunan model regresinya. Tabel volume pohon jenis torem (M. kanosiensis) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat berdasarkan hasil penelitian disusun berdasarkan persamaan : V = 0,000042D2,02T1,03 Dimana : V = Volume pohon bebas cabang (m3) D = Diameter setinggi dada (cm) T = Tinggi pohon bebas cabang (m) KESIMPULAN DAN SARAN

285

Kesimpulan 1. Hubungan antara diameter (dbh) dan tinggi bebas cabang pohon jenis torem (M. kanosiensis) di lokasi penelitian kurang erat, sehingga untuk menerangkan volume pohon tidak hanya dengan satu peubah (diameter) saja yang digunakan tetapi harus dimasukan peubah lain yaitu tinggi bebas cabang pohon. 2. Tabel volume yang disusun merupakan tabel volume standar yang menggunakan dua peubah yaitu peubah diameter setinggi dada (dbh) dan tinggi bebas cabang pohon (Tbc) untuk menduga volume pohon jenis torem (M. kanosiensis) dengan model penduga volume terbaik V = 0,000042D2,02T1,03 3. Tabel-tabel volume yang disajikan dapat langsung digunakan oleh para pengguna di lapangan dan cara penggunaannya cukup praktis dengan ketelitian yang memadai.

Saran 1. Dalam penggunaan tabel volume ini di wilayah lain yang belum tersedia tabel volume pohonnya perlu memperhatikan kondisi tempat tumbuh yang sedapat mungkin memiliki kemiripan dengan lokasi penelitian. 2. Dalam penggunaan tabel di lapangan tidak mengekstrapolasi angka, baik terhadap diameter maupun tinggi pohon di luar cakupan diameter dan tinggi pohon yang terdapat dalam tabel karena dapat mengakibatkan bias taksiran yang cukup besar. DAFTAR PUSTAKA

Bustomi S, Harbagung, D. Wahjono, dan IBP. Parthama.1999. Petunjuk Teknis Tata Cara Penyusunan Tabel Volume Pohon. Info Hutan No. 107. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor. Cupyadi C. 2003. Penyusunan Tabel Volume Pohon untuk Jenis Mahoni Daun Besar (Swietenia macrophylla, King) di BKPH Rangkasbitung KPH Banten Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten [Skripsi]. Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2008. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018. Jakarta : Dephut.
Aryanto Boreel Dan Troice E. Siahaya

286

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010

[Faperta Unpatti] Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon. 1995. Laporan Studi Kelayakan Calon Areal Hak Pengusahaan Hutan PT. Inhutani I Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat [Buku I]. Husch B, Thomas WB, John AK, Jr. 2003. Forest Mensuration. Fourth Edition. John Wiley & Sons, Inc. Iriawan N dan Astuti S.P. 2006. Mengolah Data Statistik dengan Mudah Menggunakan Minitab 14. Penerbit Andi Yogyakarta. Simon H. 2007. Metode Inventore Hutan. Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta Siswanto B. E. dan R. Imanuddin. 2008. Model Pendugaan Isi Pohon Agathis loranthifolia Salibs di Kesatuan Pemangkuan Hutan Kedu Selatan, Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Vol V No 5 : 485 495. Soerianegara I dan RHMJ Lemmens, editors. 1994. Plant Resources of South-East Asia No. 5(1) : Timber trees : Major Commercial timbers. Prosea Bogor Indonesia. Torimtubun A. 2006. Potensi Pohon Benih dan Permudaan Alam Torem (Manilkara kanosiensis) [skripsi]. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon.

Model Pendugaan Isi Pohon Jenis Torem (Manilkara Kanosiensis, H.j. Lam & B.j.d. Meeuse) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat