Anda di halaman 1dari 6

A.

Excessive Elastic Deformation Semua material solid (padatan) dapat mengalami deformasi jika mendapatkan muatan eksternal (gaya eksternal) yang cukup besar. Sifat elastis memiliki karakteristik khusus bersamaan dengan sifat plastis, seperti yang ditunjukan oleh gambar berikut ini:

Gambar 1. Kurva Karakteristik Material Dibawah Muatan Uniaxial

Pada wilayah elastis, tegangan berbanding lurus dengan regangan. Peristiwa ini mengikuti hukum Hook hingga batas elastisitas. Pada wilayah ini, sebuah material dikatakan memiliki sifat/perilaku elastis. Pada batas elastis, ketika muatan/beban dilepaskan, maka material akan kembali pada bentuk semula. Sedangkan diatas batas elastis, material akan mengalami deformasi secara permanen atau material telah mengalami deformasi plastis.

Gambar 2. Kesetimbangan Gaya pada Material

Secara umum, rata-rata regangan elastis dapat dinyatakan melalui persamaan:

Untuk beban eksternal P seimbang dengan gaya tahan internal, melalui persamaan:

Sehingga tegangan rata-ratanya:

Excessive elastic deformation adalah sebuah kegagalan yang dikarenakan kelebihan deformasi elastis yang dikontrol oleh modulus elastisitas dan bukan oleh kekuatan suatu material.

Gambar 3. Kurva Batas Terjadinya Deformasi Elastis

Gambar 4. Fenomena Excessive Elastic Deformation

Excessive elastic deformation dapat terjadi karena efek akumulasi perubahan posisi atom dari posisi keseimbangannya. Karena gaya dan hasil perpindahan atom cukup kecil, atom-atom tersebut akan kembali pada posisi keseimbangannya. Pada skala maksroskopis, bagian mesin akan kembali pada dimesinya semula. Kegagalan yang dikarenakan excessive elastic deformation terbagi menjadi dua kategori umum, yaitu: 1. Excessive elastic deformation dibawah kondisi kesetimbangan stabil. 2. Excessive elastic deformation dibawah kondisi kesetimbangan yang tidak stabil.

Dalam rangka menghindari terjadinya deformasi ini, kelenturan dari material perlu dipertimbangkan agar tidak terjadi deformasi dengan melihat nilai elastisitasnya. Setiap material memiliki nilai elastisitas yang berbeda-beda. Hal ini seperti yang ditunjukan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 5. Jenis-jenis Kurva Tegangan-Regangan pada Berbagai Material

B. Ketidakstabilan Elastis (Elastic Instability) Ketidakstabilan elastis merupakan bentuk ketidakstabilan yang terjadi pada sistem elastis. Ketidakstabilan elastis berkaitan erat dengan struktur material yang memiliki kekakuan yang terbatas dan dapat disebabkan oleh tekanan, kelenturan, torsi, atau kombinasi dari beberapa kondisi yang memiliki beban. Ketidakstabilan elastis ini menyebabkan sebuah bentuk struktur yang berubah akibat kekakuan yang tidak cukup atas suatu beban tekan tertentu. Ketidakstabilan elastis ini dapat terbagi menjadi dua macam, yaitu sistem derajat kebabasan tunggal dan sistem derajat kebabasan jamak. Untuk derajat kebebasan tunggal, dapat diambil contoh sebuah balok dengan panjang L, bergantung bebas dan memiliki pegas angular yang dipasan diatasnya. Balok ini akan memiliki gaya bebas F yang berperan menekan kearah axial dari balok. Berikut adalah gambar dari contoh ketidakstabilan elastis pada balok dengan derajat kebebasan tunggal.

Gambar 5. Ketidakstabilan Elasti Derajat Kebebasan Tunggal dan Jamak

Sedangkan untuk derajat kebebasan ganda, sebagai contoh, balok kaku yang lain diletakan pada sistem pegas seperti semula dengan dua derajat kebebasan. Diasumsikan sebagai penyederhanaan bahwa panjang balok dan pegas angular adalah sama. Persamaan keseimbangannya menjadi:

Dimana

dan

adalah sudut dari dua balok.

Contoh dari ketidakstabilan elastis adalah penekukan pada vessel silinder karena tekanan eksternal sebagai akibat dari operasi vakum. Contoh lain dari ketidakstabilan elastis adalah pada penekukan pada vessel horizontal sebagai akibat dari momen kelenturan terinduksi oleh reaksi diantara vessel dan penyanggahnya.

B.1. Ketidakstabilan Kolom Contoh yang paling sederhana dari ketidakstabilan elastis adalah seperti yang terjadi pada kolom axial. Hubungan matematis untuk panjang beban kritis, kolom yang tipis dikembangkan pertama kali oleh Euler. Hasil dari penurunan persamaan oleh Euler seperti ditunjukan sebagai berikut:

Tegangan, fcritical, adalah beban per satuan luas dimana tekukan terjadi. Ini bukan merupakan tegangan maksimum yang dikembangkan sebagai peningkatan Pcritical, yang akan menghasilkan nilai defleksi dan peningkatan tegangan hingga kegagaglan karena penekukan terjadi. Dalam mendesain sebuah vessel, perlu diperhatikan nilai tegangan yang ada. Nilai tegangan tersebut harus berada dibawah fcritical demi faktor keselamatan sehingga penekukan tersebut tidak terjadi.

Gambar. Kolom Berputar

B.2. Lapisan Vesel Dibawah Beban Axial Dalam design vessel terdapat hubungan untuk stabilitas elastis pada pelat kurva yang ditujukan pada beban tekan axial. Hal ini sangat umum terjadi pada vessel silinder vertikal. Timoshenko telah memberikan turunan persamaan seperti sebagai berikut: ( ) dimana: l = ketebalan lapisan, inchi r = radius lapisan, inchi = rasio Poisson ( )

Penelitian telah dilakukan dan terbukti bahwa beban tekuk akibat gaya tekan axial pada silinder tipis hanya sebesar 40% dari yang diprediksi dengan menggunakan persamaan diatas. Gaya tekan yang aman tanpa terjadinya penekukan telah diinvestigasi oleh Wilson dan Newmark, bahwa nilai yang aman dapat dinyatakan sebagai berikut ini: ( )