Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS)

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RPP MELALUI PELATIHAN SIMULASI DI SMA W.R.SUPRATMAN 2 MEDAN

Oleh: YONG KING HUNG,B.Sc.,S.Pd.,M.M.

SMA SWASTA W.R.SUPRATMAN 2 MEDAN MEDAN 2010

LEMBAR PENGESAHAN PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RPP MELALUI PELATIHAN SIMULASI DI SMA W.R.SUPRATMAN 2 MEDAN

Medan, Desember 2010 Mengetahui : Pengawas Sekolah, Peneliti,

Dra. Uli Basa Simanjuntak,M.M.

Yong King Hung,S.Pd.,M.M.

Menyetujui, Fasilitator Diklat/Pembimbing

Drs.Kardi Sianipar
ii

Dra.Sri Murniati

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa. Hanya berkat rahmat, taufiq, dan hidayahNya, kegiatan penelitian ini dapat terlaksana dan penulisan laporan penelitian ini dapat diselesaikan. Penelitian tindakan sekolah ini merupakan bagian dari on job learning pada diklat penguatan kemampuan kepala sekolah dan pengawas sekolah angkatan ke-3 tahun 2010 di P4TK Medan. Dengan kerendahan hati laporan penelitian ini disampaikan seraya mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Drs.Kardi Sianipar , fasilitator P4TK Medan selaku pembimbing. 2. Ibu Dra.Sri Murniati , fasilitator P4TK Medan selaku pembimbing. 3. Ibu Dra. Uli Basa Simanjuntak,MMPd selaku pengawas sekolah. 4. Rekan-rekan kepala sekolah dan pengawas pada kelas C diklat penguatan kepala sekolah dan pengawas angkatan ke-3 tahun 2010 di P4TK Medan. 5. Bapak dan Ibu guru SMA W.R.Supratman 2 Medan yang telah menyediakan waktu untuk pelatihan.. 6. Bapak Toni,SE wakil kepala sekolah bidang kurikulum SMA W.R.Supratman 2 yang telah banyak membantu persiapan pelaksanaan penelitian. Penulis menyadari laporan PTS ini masih belum luput dari kekurangankekurangan, saran dan kritik tentu diperlukan demi perbaikan penulisan karya

ilmiah penulis di masa yang akan datang.

Medan, 1 Desember 2010

Penulis

iii

ABSTRAK

Yong King Hung, Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menyusun RPP Melalui Pelatihan Simulasi di SMA W.R.Supratman 2 Medan. PTS. Medan. P4TK Medan.2010

Penelitian tindakan ini dilatarbelakangi permasalahan rendahnya kemampuan sebagian guru-guru SMA W.R.Supratman 2 dalam pembuatan RPP yang lengkap dan sistematis . Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru SMA W.R.Supratman 2 Medan dalam merencanakan pembelajaran melalui pembuatan RPP yang lengkap dan sistematis. Dalam melaksanakan penelitian tindakan ini digunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, angket, wawancara dan studi pustaka. Subjek penelitian adalah semua guru SMA W.R.Supratman 2 Medan tahun pelajaran 2010/2011 yang mengajar di kelas, dengan asumsi metode yang digunakan adalah teknik survey dimana semua sampel penelitian sama dengan populasi yaitu sebanayak 23 orang. Dari hasil penelitian ditemukan, pada pratindakan didapati 56,52 % guru SMA W.R.Supratman 2 (13 orang) yang membuat RPP sendiri, sedangkan 43,48 % lainnya (10 0rang) tidak membuat RPP sendiri tetapi menyalin RPP dari hasil unduh dari internet, pada siklus I kelemahan utama guru dalam membuat RPP terletak pada penjabaran isi RPP yakni pada masalah kerincian skenario pembelajaran dan kelengkapan instrumen penilaian pembelajaran. Setelah diadakan tindakan perbaikan pada siklus II diperoleh peningkatan kemampuan guru sebesar 20,78% pada kerincian skenario pembelajaran, 19,44% pada kelengkapan instrumen penilaian pembelajaran dan secara keseluruhan terjadi kenaikan kemampuan sebesar 6,20%. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) guru sebagai salah satu komponen yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses sistem pembelajaran wajib membuat RPP yang lengkap dan sistematis, (2) upaya meningkatkan kemampuan guru dala pembuatan RPP dapat dilakukan dengan pelatihan simulasi,(3) secara umum kelemahan guru dalam pembuatan RPP terletak pada penjabaran isi yakni mengenai kerincian skenario pembelajaran dan kelengkapan instrumen penilaian pembelajaran.Saran penelitian ini adalah: (1) sebaiknya dilakukan refleksi setelah RPP dijalankan, dengan demikian terbuka kemungkinan adanya perbaikan pelaksanaan pembeljaran di kemudian hari.eksama. Untuk itu guru perlu mengadakan refleksi untuk perbaikan ke depan, (2) diusulkan penguatan kemampuan guru untuk membuat RPP dilakukan dalam MGMP secara berkala. Kata-kata kunci: Kemampuan Guru, RPP dan Pelatihan Simulasi

iv

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR .................................................................................... ABSTRAK ...................................................................................................... DAFTAR ISI DAFTAR TABEL ....... i ii iii iv v vii

DAFTAR GAMBAR vii DAFTAR LAMPIRAN .... viii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah.. 1 1.2. Identifikasi Masalah 5 1.3. Pembatasan Masalah.. 6 1.4. Perumusan dan Pemecahan Masalah.. 6 1.5. Tujuan Penelitian 7 1.6. Manfaat Penelitian. 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 2.2 Kemampuan Guru Merencanakan Pembelajaran.. 9 Metode Pelatihan Simulasi 13

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 3.2 3.3 Lokasi Penelitian.. 16 Jenis Penelitian. 16 Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan.. 16

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 4.2 Deskripsi Hasil Penelitian 20 Pembahasan Hasil Penelitian 28

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 5.2

Simpulan 34 Saran. 35

DAFTAR PUSTAKA... 36 LAMPIRAN. 38

vi

DAFTAR TABEL 1. Tabel 1 Hasil observasi keaktifan guru dalam pelatihan simulasi siklus I .. 21 2. Tabel 2 Hasil observasi kelengkapan komponen RPP siklus I.. 22 3. Tabel 3 Hasil observasi penjabaran isi RPP siklus I.. 23

4. Tabel 4 Hasil observasi keaktifan guru dalam pelatihan simulasi siklus II.... 24 5. Tabel 5 Hasil observasi kelengkapan komponen RPP siklus II. . 25 6. Tabel 6 Hasil observasi penjabaran isi RPP siklus II. . 26 7. Tabel 7 Hasil angket evaluasi penyelenggaraan pelatihan simulasi.... 27 8. Tabel 8 Komparasi keaktifan guru dalam siklus I dan siklus II.. 28 9. Tabel 9 Tabel observasi penjabarn isi RPP siklus I dengan skala Likert 30 10. Tabel 10 Tabel observasi penjabaran isi RPP siklus II dengan skala Likert 31

DAFTAR GAMBAR 1. Gambar 1 Langkah-langkah PTS 7

vii

DAFTAR LAMPIRAN 1. Lampiran 1 Daftar Nama Subjek Peneltian... 38 2. Lampiran 2 Instrumen Angket Pratindakan... 39 3. Lampiran 3 Instrumen Lembar Observasi Keaktifan Guru 41 4. Lampiran 4 Instrumen Lembar Observasi Kelengkapan Komponen RPP.. 42 5. Lampiran 5 Instrumen Lembar Observasi Penjabaran Isi RPP.. 43 6. Lampiran 6 Instrumen Evaluasi Penyelenggaraan pelatihan Simulasi... 44 7. Lampiran 7 Jadwal pelaksanaan PTS..... 45

viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan sebagai aktivitas adalah upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup baik yang bersifat manual individual maupun sosial (Sagala,2005:1) Upaya sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan siswa tersebut dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk. Ada yang

diselenggarakan secara sengaja, terencana, terarah dan sistematis seperti pada pendidikan formal, ada yang diselenggarakan secara sengaja, akan tetapi tidak terencana dan tidak sistematis seperti yang terjadi di lingkungan keluarga (pendidikan informal) dan ada yang diselenggarakan secara sengaja dan berencana, di luar lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan formal, yaitu melalui pendidikan non formal. Apapun bentuk penyelenggarannya, secara umum pendidikan bertujuan untuk membantu anak-anak atau peserta didik mencapai kedewasaannya masingmasing secara optimal, sehingga mereka mampu berdiri di lingkungan masyarakatnya. Untuk masyarakat kita, sesuai seperti yang tertera dalam

Undang-Indang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, pendidikan berfungsi dan bertujuan sebagai berikut:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi negara demokrasi serta bertanggung jawab. Agar pendidikan bisa berfungsi dan mencapai tujuan seperti tang dirumuskan dalam Undang-Undang tersebut, maka pendidikan harus

diadministrasikan, atau dikelola dengan mengikuti ilmu administrasi. Yang paling sederhana, administrasi menurut Henry Fayol diartikan sebagai fungsi dalam organisasi yang unsur-unsurnya adalah perencaan (planning),

pengorganisasian pengkoordinasian (Sagala,2005:23)

(organizing), (coordinating),

pemberian dan

perintah pengawasan

(commanding), (controlling).

Pada level ujung tombak pendidikan, yaitu proses pembelajaran oleh guru di kelas, betapapun administrasinya tidak serumit organisasi yang melibatkan banyal personal, fungsi-fungsi administrasi yang disebutkan Henry Fayol tersebut sebaiknya tetap ada, sebab tanpa itu pencapaian tujuan pembelajaran akan susah dicapai. Dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi administrasi ini, lebih spesifik dalam hal proses belajar mengajar, Gage dan

Berliner dalam Makmun (2005:23) mengemukakan tiga fungsi atau peran guru dalam proses tersebut, yaitu sebagai: 1. Perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang harus dilakukan di dalam proses belajar-mengajar (pre-teaching problems) 2. Pelaksana (organizer) yang harus menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai denganrencana, bertindak sebagai nara sumber (soutce person), konsultan kepemimpinan (leader), yang bijaksana dalam arti demokratis dan humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problem) 3. Penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisis, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement) atas tingkat keberhasilan belajar mengajar tersebut berdasarkan kriteria yang ditetapkan baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produk (output)nya.

Keberhasilan tujuan pendidikan nasional itu erat kaitannya dengan kinerja guru, tanpa kinerja guru yang baik niscaya tujuan mulia tersebut dapat dicapai. Dalam menyoroti salah satu peran guru dalam proses pembelajaran, yaitu perencanaan pembelajaran, setiap guru pada satuan pendidikan termasuk guru-guru SMA W.R.Supratman 2 Medan berkewajiban menyususn RPP yang lengkap dan sistematis agar pembelajaran efektif dan bermutu. Pembelajaran

yang efektif dan bermutu akan berimplikasi pada peningkatan mutu proses dan hasil belajar peserta didik. Guru-guru SMA W.R.Supratman 2 Medan telah menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), tetapi sebagian besar RPP tersebut tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun, hal ini disebabkan sebagian besar guru tidak membuat sendiri RPP tersebut dan hanya memperbanyak (copy-paste) RPP dari sumber lain misalnya dari internet dengan menukar atau menyesuaikan dengan kalender pendidikan yang berjalan. Akibatnya RPP tersebut memiliki kekurangan-kekurangan seperti tidak lengkapnya komponen-komponen minimal sebuah RPP, tidak rincinya proses inti pembelajaran, tidak dijelaskannya format lembar evaluasi dan kunci jawabannya, serta tidak sesuai dengan kondisi umum sekolah dan lain-lain. Menyadari bahwa perencaan yang baik seperti penyusunan RPP yang lengkap dan sistematis oleh guru sangat menentukan keberhasilan pembelajaran serta memahami kondisi tersebut di atas dan memandang perlu adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan atau kompetensi pedagogik guru dalam

menyusun RPP yang lengkap dan sistematis , maka penulis membuat tindakan sekolah berupa pelatihan simulasi pembuatan RPP kepada guru-guru SMA W.R.Supratman 2 Medan.

1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, diperkirakan beberapa tindakan yang dapat memperbaiki kinerja guru dalam pembuatan RPP yang lengkap dan sistematik sebagai berikut : a. Bagaimana tindakan pemberian diklat kepada guru-guru SMA

W.R.Supratman 2 Medan

dapat meningkatkan kemampuannya untuk

membuat RPP yang lengkap dan sistematis? b. Bagaimana tindakan pelatihan simulasi kepada guru-guru SMA

W.R.Supratman 2

Medan dapat meningkatkan kemampuannya untuk

membuat RPP yang lengkap dan sistematis? c. Bagaimana tindakan TOT dari guru senior kepada guru junior W.R.Supratman 2 SMA

Medan dapat meningkatkan kemampuannya untuk

membuat RPP yang lengkap dan sistematis? d. Bagaimana tindakan perbaikan suasana kerja kepada guru-guru SMA W.R.Supratman 2 Medan dapat meningkatkan kemampuannya untuk

membuat RPP yang lengkap dan sistematis? e. Bagaimana tindakan meningkatkan insentif kepada guru-guru SMA W.R.Supratman 2 Medan dapat meningkatkan kemampuannya untuk membuat RPP yang lengkap dan sistematis?

1.3 Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, diprediksi banyak tindakan yang dapat meningkatkan kemampuan guru untuk membuat RPP yang lengkap dan sistematis. Karena keterbatasan kemampuan, tenaga dan waktu maka penulis membatasi jenis tindakan yang diambil untuk meningkatkan kemampuan guru-guru SMA W.R.Supratman 2 Medan untuk membuat RPP yang lengkap dan sistematis yaitu dengan pelatihan simulasi.

1.4

Perumusan dan Pemecahan masalah

1.4.1 Perumusan Masalah Dalam penelitian ini diajukan perumusan masalah yaitu: a. Bagaimana pelatihan simulasi dapat meningkatkan kemampuan guru SMA W.R.Supratman 2 untuk membuat RPP yang lengkap dan sistematik? b. Bagaimana aktifitas guru SMA W.R.Supratman 2 dalam menyusun RPP selama pelatihan simulasi penyusunan RPP yang lengkap dan sistematis ? c. Kendala apa yang ditemukan guru SMA W.R.Supratman 2 selama proses pelatihan simulasi untuk menyususn RPP yang lengkap dan sistematis? 1.4.2 Pemecahan Masalah Rencana pemecahan masalah tersebut adalah sebagai berikut: a. Mengidentifikasi tingkat kemampuan guru-guru dalam membuat RPP sebelum pelatihan simulasi

b. Membuat tindakan melalui 2 siklus yaitu; b.1. Siklus I : perencanaan, pelatihan simulasi tahap I (tindakan), pengamatan dan refleksi b.2. Siklus II: perencaan, pelatihan simulasi tahap II (tindakan), pengamatan dan refleksi

Perencanaan Refleksi

SIKLUS I
Pengamatan Perencanaan

Pelaksanaan

Refleksi

SIKLUS II
Pengamatan

Pelaksanaan

Gambar 1. Langkah-langkah PTS (Direktorat Tendik, 2008)

1.5. Tujuan Penelitian Setelah mengikuti kegiatan pelatihaan simulasi ini, diharapkan : a. Kemampuan guru merencanakan pembelajaran meningkat melalui

pembuatan RPP yang lengkap dan sistematis b. Kemampuan guru meningkat dalam proses pembelajaran di kelas

1.6. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada: a. Kepala Sekolah sebagai peneliti: untuk pengembangan kompetensi kepala sekolah dalam membuat karya tulis ilmiah b. Guru : untuk meningkatkan kemampuan membuat program pembelajaran seperti RPP c. Siswa: untuk mendapat kualitas pembelajaran yang lebih baik dengan meningkatnya kemampuan guru membuat perencanaan pembelajaran d. Lembaga/Sekolah: meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya kualitas dan kinerja lembaga/sekolah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1

Kemampuan Guru Merencanakan Pembelajaran Perencanaan adalah proses penetapan dan pemanfaatan sumber daya secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang kegiatan-kegiatan dan upayaupaya yang akan dilaksanankan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Dalam konteks pembelajaran perencaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan atau metode pengajaran, dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa satu semester yang akan datang untuk mencapai tujuan yang ditentukan. (Sagala,2005:141) Tahap perencaan dalam kegiatan pembelajaran adalah tahap yang berhubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar. Kemampuan guru dapat dilihat dari cara atau proses penyusunan program kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yaitu mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses pembelajaran. (Sanjaya,2008:59). Berdasarkan Peraturan Pemerintah

nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 20 dinyatakan

bahwa: Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Sesuai dengan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Setiap guru dalam satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun untuk setiap kompetensi dasar yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Komponen-komponen RPP adalah: 1. Identitas Mata Pelajaran : meliputi satuan pendidikan, kelas, semester, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan, dan alokasi waktu 2. Standar Kompetensi : standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran

10

3. Kompetensi Dasar : kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam pelajaran 4. Indikator Pencapaian Kompetensi: indikator pencapaian kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan

menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan 5. Tujuan Pembelajaran: tujuan pembelajaran sesuatu yang menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar 6. Materi Pembelajaran: materi pembelajaran memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi 7. Alokasi Waktu: alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian kompetensi dasar dan beban belajar 8. Metode Pembelajaran : metode pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi

11

dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran 9. Kegiatan Pembelajaran: meliputi; a. Pendahuluan: pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran b. Kegiatan Inti: kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar (KD). Kegiatan pembelajaran dilakuakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melaui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi c. Penutup: penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau simpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut 10. Penilaian Hasil Belajar: prosedur atau instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada standar penilaian

12

11. Sumber Belajar: penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator kompetensi Dalam kaitan perencanaan pembelajaran yang dikembangkan oleh guru menurut Ornstein (1990) dalam Mulyasa, keputusannya akan dipengaruhi oleh dua hal: 1. Pengetahuan guru terhadap bidang studi (subject matter knowledge), yang ditekankan pada organisasi dan penyajian materi, pengetahuan akan pemahaman siswa terhadap materi, pengetahuan mengajarkan materi tersebut 2. Pengetahuan guru terhadap sistem tindakan (action system knowledge), yang ditekankan pada aktivitas guru seperti: mendiagnosis, tentang bagaimana

mengelompokkan, mengatur dan mengevaluasi peserta didik serta mengimplementasikan aktivitas pembelajarn dan pengalaman belajar. Kedua pengetahuan tersebut diperlukan dalam mengembangkan perencanaan yang efektif.

2.2.

Metode Pelatihan Simulasi Simulasi dalam metode mengajar dimaksudkan sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu (bahan pelajaran) melalui perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain peranan mengenai tingkah

13

laku

yang

dilakukan

seolah-olah

dalam

keadaan

yang

sebenarnya.

(Sudjana,2000 :89)
Menurut Suparman (dalam Suwono, dan Andari, 1999: 24) metode simulasi menampilkan simbol-simbol atau peralatan yang menggantikan proses, kejadian atau benda yang sebenarnya. Metode simulasi terutama dipakai untuk menjelaskan proses atau kejadian yang tidak dapat diamati secara langsung atau yang diprediksi akan terjadi. Kejadian atau proses analogis yang dimunculkan dalam simulasi akan memudahkan siswa untuk memahami proses atau kejadian sebenarnya yang tidak dapat diamati secara langsung. Simulasi merupakan jenis permainan yang cukup menyenangkan. Selain siswa harus memainkan peran tertentu, melalui permainan ini siswa juga dapat mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan temannya. Menurut Roestiyah (2001: 22) teknik simulasi baik sekali digunakan karena: a. Menyenangkan siswa. b. Menggalakkan guru untuk mengembangkan kreativitas siswa. c. Memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya. d. Mengurangi hal-hal yang verbalistis atau abstrak. e. Tidak memerlukan pengarahan yang pelik dan mendalam. f. Menimbulkan semacam interaksi antarsiswa, yang memberi kemungkinan timbulnya keutuhan dan kegotongroyongan serta kekeluargaan yang sehat.

14

g. Menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban/kurang cakap. h. Menumbuhkan cara berfikir yang kritis. Menurut Joyce dan Weil (dalam Sukamto, 1997: 50), proses pembelajaran dengan simulasi memiliki tahap-tahap sebagai berikut: a. Tahap pertama, adalah tahap orientasi yang meliputi menyajikan topik yang akan disimulasikan, menjelaskan prinsip simulasi dan memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi. b. Tahap kedua, merupakan tahapan latihan bagi peserta simulasi. Pada tahap ini meliputi membuat skenario (menentukan peranan) dan mencoba dengan singkat kegiatan simulasi. c. Tahap ketiga, yaitu tahap inti (proses simulasi). Pada tahap ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh para pemain peran simuasi. d. Tahap keempat, disebut juga tahap pemantapan/debricfing. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini yaitu memberikan penjelasan mengenai kegiatan yang telah dilakukan, memberi penjelasan mengenai kesulitankesulitan dan wawasan para siswa, menganalisis proses, membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata dan menghubungkan proses simulasi dengan isi pelajaran. Pada kegiatan akhir pembelajaran peserta pelatihan diberi kesempatan membuat simpulan sendiri mengenai hal yang telah disimulasikan, maka peserta pelatihan akan menjadi lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

15

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA W.R.Supratman 2 jalan Brigjen Zein Hamid No.33 Medan dari bulan Oktober sampai November 2010 yang melibatkan seorang peneliti dan 23 orang subjek penelitian (guru) . Dalam hal ini penulis menggunakan teknik sensus dimana populasi (semua guru yang membuat RPP) dijadikan sampel penelitian.

3.2

Jenis Penelitian Berdasarkan sifat permasalahannya , penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), dalam hal ini jenis penelitian tindakan sekolah ( school action research). Penelitian tindakan adalah penelitian perorangan atau kelompok yang menghendaki perubahan dalam situasi tertentu untuk menguji prosedur yang diperkirakan akan menghasilkan perubahan. (Sedarmayanti dan Syarifudin Hidayat,2002:34)

3.3

Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan Pada awalnya dilakukan pratindakan berupa identifikasi data-data

kemampuan guru SMA W.R.Supratman 2 Medan Tahun Pelajaran 2010/2011 dari arsip wakil kepala sekolah bidang kurikulum.
16

Penelitian tindakan sekolah ini mengambil model Kurt Lewin dengan empat langkah yang harus dilakukan dalam proses penelitian yaitu

perencanaan,tindakan/pelaksanaan ,observasi dan refelksi. Penelitian tindakan ini direncanakan pelaksanaanya dalam dua siklus dengan rincian sebagai berikut: Siklus 1 1. Perencanaan: Pelaksanaan penelitian ini akan didahului dengan melakukan persiapan berupa skenario kegiatan, jadwal waktu dan tempat, narasumber yang diperlukan, sarana pendukung lainnya, lembar observasi atau instrumen penelitian lainnya serta laporan penelitian tindakan sekolah yang dibuat. Dalam penelitian tindakan sekolah ini , penulis menggunakan teknik analisis data kualitatif. Hal ini berdasarkan pendapat Rofiuddin (1998:36), ia menyatakan bahwa analisis data kualitatif dapat bersifat linier (mengalir) maupun bersifat sirkuler. Berdasarkan pendapat itu dilakukan selama proses pelatihan. Setelah data terkumpul penulis menganalisis, mereduksi, dan menyimpulkan data itu. Pengumpulan data dilakukan setiap siklus penelitian tindakan sekolah. Dengan adanya penyimpulan setiap siklus, penulis akan dapat memahami proses tindakan

17

yang dilaksanakan dalam pelatihan serta memahami tindakan refleksi yang tepat.

2. Pelaksanaan : Dalam pelatihan simulasi ini guru-guru bertindak sebagai sasaran pelatihan sedang salah satu guru dipilih sembarang bertindak sebagai fasilitator, rotasi simulasi sebagai sasaran pelatihan dan fasilitator dilakukan dalam durasi 3 kali 30 menit. Pada akhir pelatihan simulasi diadakan diskusi dan dikumpul hasil pelatihan simulasi dari guru-guru. 3. Observasi Observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan yaitu observasi keaktifan peserta pelatihan simulasi dan observasi hasil tindakan siklus I. 4. Refleksi Pada akhir siklus dilakukan evaluasi terhadap keberhasilan tindakan yang telah dilakukan.

Siklus 2 1. Perencanaan Berdasarkan hasil refleksi siklus I maka dilakukan perencanaan tindakan siklus II. Kegiatan yang dilakukan adalah menyusun rencana perbaikan

18

dan mempersiapkan instrumen observasi dan instrumen tanggapan peserta pelatihan. 2. Pelaksanaan Pada siklus II ini tindakan perbaikan dilakukan dengan menggunakan guru-guru senior sebagai fasilitator , dengan perubahan tindakan ini diduga adanya perbaikan hasil pelatihan simulasi. 3. Observasi Observasi dilakukan dengan menggunakan instrumen observasi. Pada akhir siklus II ini dibagikan angket kepada peserta pelatihan untuk diisi. 4. Refleksi Pada akhir siklus dilakukan evaluasi terhadap keberhasilan tindakan yang telah dilakukan.

19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian

1. Pratindakan Dari angket instrumen pratindakan diperoleh hasil sebagai berikut: a. Semua guru SMA W.R.Supratman 2 Tahun Pelajaran 2010/2011 membuat RPP pada awal tahun pelajaran. b. Hanya 56,52 % guru (13 orang) yang membuat RPP sendiri. c. Sebagian besar responden/guru yang membuat RPP sendiri (84,61 %), membuat RPP dengan acuan petunjuk pembuatan RPP dari sekolah yang mengutipnya dari BSNP. d. Sebagian besar guru yang tidak membuat sendiri RPP ( 90 %), membuat RPP yang diunduh dari internet. e. Alasan guru tidak membuat sendiri RPP: - 30 % dengan alasan sibuk - 50 % dengan alasan tidak mengerti membuatnya secara lengkap dan sistematis - 20 % lebih mementingkan praktik pembelajaran f. Semua guru menyatakan bahwa perencanaan pembelajaran sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembelajaran g. Sebagaian besar guru ( 86,96 %) ingin mengetahui dan memahami pembuatan RPP yang lengkap dan sistematis melalui pelatihan di luar jam tugas di sekolah.

2. Siklus I a. Hasil observasi keaktifan guru dalam mengikuti pelatihan simulasi diperlihatkan tabel berikut:

20

Tabel 1. Hasil observasi keaktifan guru dalam pelatihan simulasi siklus I No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 18 19 20 21 22 23 Nama Guru L/P L L L L L L L L L L L L P L L P L L L L P P P Keaktifan A C K

SA

SK

Nama Guru Dihilangkan dengan Alasan Privasi

Keterangan:

SA B C K SK

= = = = =

sangat aktif aktif cukup kurang sangat kurang

21

b. Hasil observasi kelengkapan komponen RPP hasil siklus I diperlihatkan tabel 2 berikut:

Tabel 2. Hasil observasi kelengkapan komponen RPP dalam pelatihan simulasi siklus I

N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Nama Guru

Nama Guru Dihilangkan dengan Alasan Privasi

L/ P L L L L L L L L L L L L P L L P L L L L P P P

Komponen RPP D E F G H

Petunjuk Tanda: = ada = tidak ada Keterangan Komponen RPP : A = Identitas A. = Standar Kompetensi B. = Kompetensi dasar C. = Indikator Pencapaian Kompetensi D. = Materi Pembelajaran E. = Tujuan Pembelajaran
22

G H I. J. K.

= Alokasi Waktu = Metode Pembelajaran = Kegiatan Pembelajaran = Penilaian Hasil Belajar = Sumber Belajar

c. Hasil observasi penjabaran isi RPP hasil siklus I diperlihatkan pada tabel 3 berikut ini:

Tabel 3. Hasil observasi penjabaran isi RPP dalam pelatihan simulasi siklus I N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Nama Guru L/ P L L L L L L L L L L L L P L L P L L L L P P P Aspek yang dinilai C D E F B B SB SB B S B B B B S S B B B S B B SB B B B B S B B B B SB B SB B B B B S S B B S B B B S B B B S B B B S B B B S B B B S B B B B B B B B B B S S B B S S B B S S B B B S B B B S B B B S

Nama Guru Dihilangkan dengan Alasan Privasi

A B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B

B B B B B SB B B B B B B B B B B B B B B B B B B

G B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B

H B S S S S S S B S S S S S S S B B S S S S S S

Keterangan Aspek Penilaian: A. = perumusan tujuan pembelajaran B. = pemilihan materi ajar C. = pengorganisasian materi ajar D. = pemilihan sumber/media pembelajaran E. = kejelasan skenario pembelajaran F. = kerincian skenario pembelajaran G. = kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran H = kelengkapan instrumen penilaian pembelajaran
23

Keterangan Penilaian: SB = sangat baik B = baik S = sedang K = kurang SK = sangat kurang

3. Siklus II a. Hasil observasi keaktifan guru dalam mengikuti pelatihan simulasi siklus II diperlihatkan tabel 4 berikut: Tabel 4. Hasil observasi keaktifan guru dalam pelatihan simulasi siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Nama Guru L/P L L L L L L L L L L L L P L L P L L L L P P P Keaktifan A C K

SA

SK

Nama Guru Dihilangkan dengan Alasan Privasi

Keterangan:

SA B C K SK

= = = = =

sangat aktif aktif cukup kurang sangat kurang

24

b. Hasil

observasi

kelengkapan

komponen

RPP

hasil

siklus

II

diperlihatkan tabel 5 berikut ini: Tabel 5. Hasil observasi kelengkapan komponen RPP dalam pelatihan simulasi siklus II N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 L/ P L L L L L L L L L L L L P L L P L L L L P P P Komponen RPP D E F G H

Nama Guru

Nama Guru Dihilangkan dengan Alasan Privasi

Petunjuk Tanda: = ada = tidak ada Keterangan Komponen RPP : A = Identitas F. = Standar Kompetensi G. = Kompetensi dasar H. = Indikator Pencapaian Kompetensi I. = Materi Pembelajaran J. = Tujuan Pembelajaran
25

G H I. J. K.

= Alokasi Waktu = Metode Pembelajaran = Kegiatan Pembelajaran = Penilaian Hasil Belajar = Sumber Belajar

c. Hasil observasi penjabaran isi RPP hasil siklus II diperlihatkan tabel 6 berikut ini: Tabel 6. Hasil observasi penjabaran isi RPP dalam pelatihan simulasi siklus II N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Nama Guru L/ P L L L L L L L L L L L L P L L P L L L L P P P Aspek yang dinilai C D E F B B SB SB B B B B B B B B B B B B B B SB B B B B B B B B B SB B SB B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B S B B B B B B B B

Nama Guru Dihilangkan dengan Alasan Privasi

A B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B

B B B B B SB B B B B B B B B B B B B B B B B B B

G B B B B B B B SB B B B B B B B B B B B B B B B

H SB B B B B S S B B S B B B S S B B S B S B B B

Keterangan Aspek Penilaian: A. = perumusan tujuan pembelajaran B. = pemilihan materi ajar C. = pengorganisasian materi ajar D. = pemilihan sumber/media pembelajaran E. = kejelasan skenario pembelajaran F. = kerincian skenario pembelajaran G. = kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran H = kelengkapan instrumen penilaian pembelajaran

Keterangan Penilaian: SB = sangat baik B = baik S = sedang K = kurang SK = sangat kurang

26

d. Hasil angket Evaluasi Penyelenggaraan Pelatihan Simulasi ditunjukkan oleh tabel 7: Tabel 7. Hasil Angket Evaluasi Penyelengaraan Pelatihan Simulasi No 1 2 3 4 5 6 Aspek Penilaian Keefektifan metode pelatihan Manfaat pelatihan simulasi Waktu pelatihan Ruang pelatihan simulasi Fasililitas pendukung Komsumsi Alternatif S 6 1 5 0 3 8

SB

B 17 22 18 23 20 15

SK

Keterangan: 1. Singkatan Alternatif SB = sangat baik B = baik S = sedang

K = kurang SK = sangat kurang 2. Dalam tabel tersebut terisi frekuensi alternatif terhadap aspek penilaian dari hasil angket pada akhir siklus II

27

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian yang dipaparkan di atas, dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Sebelum pelaksanaan tindakan , sebanyak 56,52 % guru SMA

W.R.Supratman 2 (13 orang) yang membuat RPP sendiri, sedangkan 43,48 % lainnya (10 0rang) tidak membuat RPP sendiri tetapi menyalin RPP dari hasil unduh dari internet. Dari data tersebut terlihat masih rendahnya

kemampuan guru dalam menyusun RPP yang lengkap dan sistematis, hal ini terutama disebabkan kesibukan guru itu sendiri dan ketidaktahuannya untuk menyusun RPP secara benar. Diduga masih ada penyebab lainnya yang tidak dalam ruang lingkup penelitian ini, misalnya kurangnya kemampuan guru menggunakan komputer sehingga pembuatan RPP oleh guru tersebut menjadi tidak efisien . 2. Tingkat keaktifan peserta pelatihan simulasi pada siklus I dan siklus II dapat dilihat dari tabel berikut: Tabel 8. Tabel Komparasi Keaktifan Peserta Pada siklus I dan Siklus II Keaktifan No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Guru L/P SA L L L L L L L Siklus I A C SA Siklus II A C

28

8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Nama Guru Dihilangkan dengan Alasan Privasi

L L L L L P L L P L L L L P P P

Dengan menggunakan skala Likert untuk kategori SA (sangat aktif) = 5, A (aktif) = 4, C (cukup) = 3, K (kurang) = 2 dan SK (sangat kurang) =1, maka tingkat keaktifan peserta pelatihan simulasi pada siklus II mengalami kenaikan sebesar: = = 9,87%

3. Tingkat kelengkapan pengisian komponen RPP oleh peserta pelatihan dari tabel 2 (siklus I) dan tabel 5 (siklus II) terlihat bahwa pada siklus II semua peserta pelatihan telah mengisi seluruh komponen RPP secara lengkap. Dari diskusi pada akhir siklus II guru-guru mengusulkan adanya penambahan KKM pada komponen identitas.

29

4. Untuk melihat hasil observasi penjabaran isi RPP dari siklus I dan siklus II , digunakan skala Likert 5 untuk sangat baik (SB), 4 untuk Baik (B), 3 untuk Sedang (S), 2 untuk Kurang (K) dan 1 untuk Sangat Kurang (SK) dan didapatkan tabel 9 dan tabel 10.

Tabel 9. Tabel Observasi Penjabaran Isi RPP siklus I dengan skala Likert N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Nama Guru L/ P L L L L L L L L L L L L P L L P L L L L P P P Aspek yang dinilai C D E F 4 4 5 5 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 4 5 4 4 4 4 3 4 4 4 4 5 4 5 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3
89 91

Nama Guru Dihilangkan dengan Alasan Privasi

A 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

B 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4

G 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

H 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3
72 696

Jumlah

92

92

91

77

92

30

Tabel 10. Tabel Observasi Penjabaran Isi RPP siklus II dengan skala Likert

N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Nama Guru

Nama Guru Dihilangkan dengan Alasan Privasi

L/ P L L L L L L L L L L L L P L L P L L L L P P P

A 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

B 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

Aspek yang dinilai C D E F 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4


92 94

G 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

H 5 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4
86 736

Jumlah

92

93

93

93

93

Dari tabel di atas kita dapat melihat , bahwa pada siklus I kelemahan utama guru dalam penjabaran isi RPP terletak pada masalah kerincian skenario pembelajaran dan kelengkapan instrumen penilaian pembelajaran. Pada umumnya guru membuat skenario pembelajaran yang terlalu umum, sehingga tampak seakan-akan semua pelajaran diajarkan dengan teknik yang

31

sama, tentu dalam praktiknya hal ini tidak terjadi, karena tiap-tiap mata pelajaran memiliki warna tersendiri. Sedangkan pada kelengkapan instrumen penilaian secara umum guru : - tidak mencantumkan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar, materi ajar dan tujuan pembelajaran, - tidak mencantumkan teknik penskoran alat penilaian - tidak mencantumkan penyelesaian atau kunci jawaban soal Pada siklus II ,setelah diadakan perbaikan tindakan seperti telah diuraikan sebelumnya , terjadi perbaikan pada kedua komponen penilaian di atas : - Untuk komponen Kerincian Skenario Pembelajaran (F) kemajuan/peningkatan kemampuan sebesar terjadi =

- Untuk komponen Kelengkapan Instrumen Penilaian Pembelajaran (H) terjadi kemajuan/peningkatan kemampuan sebesar =

- Secara keseluruhan di akhir siklus II terjadi peningkatan kemampuan guru untuk membuat RPP sesuai kaidah yang berlaku sebesar:

32

5. Dari hasil angket terhadap evaluasi penyelenggaraan pelatihan (tabel 7) diperoleh gambaran bahwa tanggapan peserta pelatihan/guru/responden terhadap penyelenggaraan pelatihan simulasi untuk meningkatkan

kemampuan guru untuk membuat RPP secara umum baik , ditinjau dari keefektifan metode yang digunakan (73,91%), manfaatnya (95,65%), waktu pelatihannya (78,26%), ruang yang digunakan (100%), fasilitas pendukung (86,95%) dan komsumsi selama pelatihan (65,21%).

33

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini di sajikan simpulan dan saran terhadap berbagai temuan penelitian tentang Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Menyusun RPP Melalui Pelatihan Simulasi di SMA W.R.Supratman 2 Medan.

5.1 Simpulan Dari hasil penelitian sebagaimana telah dideskripsikan dan dibahas pada bab IV, dapat disimpulkan bahwa: 1. Sudah menjadi kewajiban guru sebagai salah satu komponen yang dapat mempengaruhi keberhasilan kegiatan proses sistem pembelajaran untuk membuat RPP yang lengkap dan sistematis. Hal ini terkait dengan besarnya manfaat RPP sebagai bagian dari pencanaan pembelajaran, antara lain dapat memprediksi seberapa besar keberhasilan yang akan dicapai, dapat memprediksi kesulitan apa yang akan dihadapi oleh siswa dalam mempelajari materi pelajaran tertentu, dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat, dan dapat mengupayakan proses pembelajaran berlangsung terarah dan terorganisir. (Sanjaya,2008:33-34). 2. Upaya meningkatkan kemampuan guru dalam pembuatan RPP yang lengkap dan sistematis dapat dilakukan dengan pelatihan simulasi, pada akhir penelitian ini terjadi kemajuan kemampuan guru sebesar 6,90%.

34

3. Secara umum kelemahan guru ketika menyusun RPP terletak pada komponen kerincian skenario pembelajaran dan kelengkapan instrumen penilaian pembelajaran, hal ini disebabkan karena kebiasan guru sebelumnya dengan berpedoman pada contoh yang pernah diterimanya sehingga kedua komponen terasa dangkal. Pada penelitian ini terjadi peningkatan kemajuan guru dalam penjabaran kerincian skenario pembelajaran dari siklus I ke siklus II sebesar 20,78%, dan pada penjabaran kelengkapan instrumen penilaian

pembelajaran dari siklus I ke siklus II sebesar 19,44%.

5.2 Saran Berdasarkan simpulan penelitian di atas, penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut: 1. Kekuatan dan kelemahan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun guru biasanya dapat diketahui dengan jelas, setelah program/rencana tersebut dilaksanakan di kelas dan dievaluasi secara seksama. Untuk itu guru perlu mengadakan refleksi secara terus menerus untuk perbaikan perencanaan pembelajaran. 2. Diusulkan agar penguatan kemampuan guru untuk membuat RPP dilakukan dalam rapat MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) secara berkala.

35

DAFTAR PUSTAKA 1. Sagala.H.Sayful. 2005. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung : Alfabeta 2. Makmun, Abin Syamsudin. 2005. Psikologi Kependidikan, Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 3. BSNP. (2006). Model Pengembangan Silabus dan RPP. Jakarta: Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional 4. Mulyasa, E. (2004). Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya 5. Sudjana, Nana. 1991 .Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Sinar Baru 6. Sagala.H.Sayful. 2005. Alfabeta 7. Sanjaya,Wina.2009.Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group 8. Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta 9. Suparman, Atwi.1997. Model-model pembelajaran interaktif. STIA-LAN Press Jakarta: Konsep dan Makna Pembelajaran.. Bandung :

36

10. Samani,Muchlas dkk. 2009. Buku 3 Pedoman Penyusunan Portopolio Sertifikasi Guru Dalam Jabatan 2009.Jakarta.Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 11. Sedarmayanti.Hidayat,Syarifuddin.2002.Metodologi Mandar Maju 12. Mulyasa,H.E. 2009. Penelitian Tindakan Sekolah. Bandung:Rosda 13. Sukamto,T.1997.Teori Depdikbud.Balai Pustaka 14. Suwono,H dan Andari Pri.1999.Kualitas Proses dan Hasil Pembelajarn Fungsi Darah Melalui Metode Simulasi Pada Siswa Kelas V SDN Bunulrejo V Malang .Jurnal Biologi dan Pengajarannya. Tahun 4 Nomor 1 .hal 21-36 15. Sudjana.1996. Metoda Statistika .Bandung: Tarsito Belajar dan Model-Model Pembelajaran. Penelitian. Bandung:

37