Anda di halaman 1dari 20

dr.

Fajar Ariansyah

Pendahuluan
Otot secara umum dibagi atas 3 jenis, yaitu :
otot rangka otot jantung

otot polos.

Otot rangka
Merupakan massa yang besar yang menyusun jaringan

otot somatik . Gambaran garis lintang sangat jelas, tidak berkontraksi tanpa adanya ransang dari saraf, tidak ada hubungan anatomi dan fungsional antara sel-selnya, dan secara umum dikendali oleh kehendak (volunter).

Otot jantung
Berpola garis lintang, tetapi membentuk sinsitium

fungsional. Dapat berkontraksi ritmis walaupun tanpa persarafan eksternal, karena adanya sel-sel picu di miokardium yang memunculkan impuls spontan

Otot polos
Tidak menampakkan garis-garis lintang. Jenis seperti ini, ditemukan hampir di semua alat visera

yang berongga (saluran pencernaan), membentuk sinsitium fungsional dan memiliki sel-sel picu yang melepaskan impuls tidak teratur. Jenis yang ada di mata dan beberapa tempat lainnya, tidak mempunyai kegiatan spontan dan menyerupai otot rangka.

Kerja Otot
Ketika bekerja otot harus melintasi sendi yang digerakkannya.
Beberapa otot melintasi dua sendi dan bekerja

menggerakkan keduanya, misalnya otot bisep melintasi siku dan bahu dan menghasilkan fleksi pada kedua sendi tersebut.

Kerja Otot
Otot hanya bekerja melalui kekuatan kontraksi dan kegiatan menarik.
Bila kontraksi hilang, otot menjadi lunak, tetapi tidak

memanjang sampai ia terenggang oleh kontraksi otot yang berlawanan kerjanya (antagonis).

Otot tidak pernah bekerja sendiri ada koordinasi otot (baik otot agonis maupun

antagonis) Saraf sensori memberi rasa otot.

Kontraksi Otot
Kontraksi otot terjadi akibat impuls saraf bersifat

elektrik di hantar ke sel-sel otot secara kimiawi dan hal ini dilakukan oleh sambungan otot saraf (neuromuscular junction). Impuls saraf sambungan otot saraf (asetil kolin) Asetil kolin celah sinaps Asetil kolin menempel pada sel otot, ia akan menyebabkan terjadinya depolarisasi dan aktifitas listrik akan menyebar ke seluruh sel otot, sehingga timbul kontraksi.

Kontraksi Otot
Pada otot rangka (lurik) terdapat protein aktin dan miosin. Apabila otot berkontraksi, gambaran lurik akan menyempit dan ini diperkirakan karena gerakan relative satu protein dengan protein lain (sliding filamen). Miosin mempunyai tonjolan dan dengan menggunakan energi dapat berjalan sepanjang protein yang lain (aktin) dan dengan demikian menghasilkan kontraksi, ketika otot dirangsang oleh impuls listrik.

Sliding filament

Jenis Kontraksi Otot


kontraksi isometrik (dengan ukuran yang tetap atau dengan panjang yang tetap).
Kontraksi melawan beban yang tetap, dengan

pemendekan otot, dinamakan kontraksi isotonik (tegangan yang tetap). Karena kerja merupakan hasil perkalian gaya dan jarak, kontraksi isotonik menghasilkan kerja, sedangkan kontraksi isometrik tidak.

Tonus otot
Kenormalan otot berada dalam kondisi kontraksi parsial yang dikenal sebagai tonus otot.
Tonus otot inilah yang mempertahankan posisi dalam

waktu lama tanpa menimbulkan kelelahan Serat-serat otot rangka tidak akan berkontraksi jika tidak ada potensial aksi untuk merangsang serat-serat otot.

Kelelahan Otot
Kontraksi otot yang kuat dan lama mengakibatkan kelelahan otot.
Akibat ketidakmampuan proses kontraksi

dan metabolis serat otot untuk terus memberi hasil kerja yang sama dan akan menurun setelah aktivitas otot mengurangi kontraksi otot lebih lanjut. Karena kehilangan suplai makanan, terutama kehilangan oksigen.

Sumber-Sumber Energi & Metabolisme


Otot disebut sebagai mesin pengubah energi kimia menjadi kerja mekanis.
Sumber energi yang dapat segera digunakan

adalah :
derivat fosfat organik berenergi tinggi yang

terdapat di otot; sumber utama energi diperoleh dari metabolisme intermedier karbohidrat dan lipid

Sumber-Sumber Energi & Metabolisme


Untuk bisa berkontraksi serabut otot memerlukan energi yang

didapat dari oksidasi makanan, terutama karbohidrat. Karbohidrat glukosa glikogen dan disimpan di hati dan otot. Glikogen otot merupakan sumber panas dan energi bagi aktivitas otot. Selama oksidasi glikogen karbondioksida dan air, terbentuk suatu senyawa yang kaya akan energi (ATP). Apabila otot harus melakukan kontraksi, energi ATP akan dilepas seiring dengan perubahannya menjadi adenosin difosfat (ADP), selama oksidasi glikogen akan terbentuk asam piruvat. Bila banyak O2 asam piruvat dipecah menjadi karbondiaksida dan air + (ATP membuat lebih banyak ATP). O2 kurang asam piruvat dirubah menjadi asam laktat kelelahan pada otot.

Perubahan bentuk otot


Hipertrofi peningkatan jumlah filamen aktin dan miosin dalam setiap serat otot. Atrofi otot massa otot menurun akibat

otot tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama. Penentuan panjang otot.bila otot direnggang hingga panjangnya melebihi normal maka dapat menyebabkan hipertrofi. Hiperplasia serat otot peningkatan jumlah serat otot yang sesungguhnya.

Hipertrofi otot

Kaku Otot (Rigor)


Bila serat-serat otot kehabisan ATP dan fosforilkreatin, terjadi kekakuan yang hebat yang dinamakan kaku otot. Bila keadaan ini terjadi setelah kematian, dinamakan rigor mortis.
Pada kaku otot hampir semua kepala miosin

melekat pada aktin tetapi secara tidak normal. Terfiksasi dan resisten.

Elektromiografi
Penggiatan unit motorik dapat dipelajari dengan

elektromiografi, proses perekaman kegiatan listrik otot pada osiloskop sinar katoda. Hal ini dapat dilakukan pada manusia yang tidak dibius, dengan menggunakan cakram metal kecil yang diletakkan pada kulit diatas otot sebagai elektroda perekam atau dengan menggunakan elektroda jarum hipodermik. Rekaman yang diperoleh dinamakan elektromiogram (EMG). Dengan menggunakan elektroda jarum, biasanya dapat direkam kegiatan suatu serat otot tunggal.