Anda di halaman 1dari 12

Pinjam meminjam & Upah Mengupah

Nama Kelompok
Bambang Nur Fikri Saputra
Arya Dhika Permana
Elma Ayutya
Mega Sri Mulyani
Ria Nur Khafifah
Indah Mawarni

Pinjam - Meminjam
A.Pengertian
Pinjam Meminjam dalam bahasa Arab disebut
Ariyah . Kata Ariyah menurut bahasa artinya
pinjaman. Pinjam meminjam menurut istilah
Syara ialah akad berupa pemberian manfaat
suatu benda halal dari seseorang kepada orang lain
tanpa ada imbalan dengan tidak mengurangi atau
merusak benda itu dan dikembalikan setelah
diambil manfaatnya

B.Hukum hukumnya
Hukum pinjam meminjam adalah Sunnah. Ini
adalah hukum asal dari pinjam-meminjam. Suatu contoh
misalnya seseorang minjamkan sepeda kepada orang lain
untuk ke pasar.
Hukum pinjam meminjam adalah Wajib. Hal ini
berlaku manakala orang yang meminjam itu sangat
membutuhkan pertolongan dari peminjam. Contohnya
adalah meminjamkan pisau untuk memotong kambing
yang hampir mati, dan lain sebagainya.
Hukum pinjam meminjam adalah haram. Hal ini
berlaku manakala tujuan dari pinjam meminjam adalah
untuk keperluan dan tujuan kemaksiatan. Contohnya
adalah meminjamkan pisau untuk membunuh orang lain.
Dimana membunuh orang adalah merupakan dosa besar.

C. Rukun Pinjam-Meminjam
1. Orang yang Meminjamkan. Bagi orang yang
meminjamkan diisyaratkan:
Berhak berbuat baik dan Tidak ada paksaan atau tidak
ada yang menghalanginya. Orang yang dipaksa untuk
meminjamkan atau anak kecil maka tidak sah
meminjamkan.
Barang yang dipinjamkan adalah merupakan barang
milik sendiri atau menjadi tanggung jawab orang yang
meminjamkannya sehingga disebut benda halal.

2. Orang yang Meminjam. Bagi orang yang


meminjam
disyaratkan:
Berhak menerima kebaikan sehingga dia akan
mendapatkan manfaat dari benda atau barang yang
dipinjam.
Hanya mengambil manfaat dari barang atau benda
halal yang dipinjam.

3. Barang atau benda yang dipinjam. Benda yang dipinjam harus


mempunyai syarat-syarat :
Ada manfaatnya.
Barang itu kekal yang artinya tidak habis sesudah diambil manfaatnya. Oleh
karena itu, makanan yang telah dimanfaatkan akan menjadi habis atau
kurang zatnya. Jadi, tidak boleh dipinjamkan.

4. Akad yaitu Ijab Kabid


Pinjam-meminjam akan berakhir manakala barang yang dipinjam
oleh peminjam telah diambil manfaatnya dan harus segera
dikembalikan kepada yang meminjamkan (yang memilikinya). Pinjammeminjam juga harus berakhir manakala salah satu dari dua belah
pihak (peminjam dengan yang meminjamkan) meninggal dunia atau
gila. Barang yang dipinjam dapat diminta kembali sewaktu-waktu,
karena pinjam-meminjam bukan merupakan perjanjian yang tetap.
Apabila terjadi suatu perselisihan pendapat antara yang meminjam
dan yang meminjamkan barang tentang keadaan barang itu sudah
dikembalikan atau belum, maka yang dibenarkan adalah yang
meminjamkan harus dikuatkan dengan sumpah. Hal ini didasarkan
pada hukum asalnya yang belum dikembalikan.

D. Syarat Sahnya Pinjam-meminjam


Untuk sahnya ariyah ada empat syarat yang wajib dipenuhi :
Pemberi pinjaman hendaknya orang yang layak berbaik hati. Oleh karena itu,
ariyah yang dilakukan oleh orang yang sedang ditahan hartanya tidak sah.
Manfaat dari barang yang dipinjamkan itu hendaklah milik dari yang
meminjamkan. Artinya, sekalipun orang itu tidak memiliki barang, hanya
memiliki manfaatnya saja, dia boleh meminjamkannya, karena meminjam
hanya bersangkut dengan manfaat, bukan bersangkut dengan zat.
Barang yang dipinjamkan hendaklah ada manfaatnya. Maka tidak sah
meminjamkan barang yang tidak berguna. Karena sia-sia saja tujuan
peminjaman itu.
Barang pinjaman harus tetap utuh, tidak boleh rusak setelah diambil
manfaatnya, seperti kendaraan, pakaian maupun alat-alat lainnya. Maka tidak
sah meminjamkan barang-barang konsumtip, karena barang itu sendiri akan
tidak utuh, seperti meminjamkan makanan, lilin dan lainnya. Karena
pemanfaatan barang-barang konsumtip ini justru terletak dalam
menghabiskannya. Padahal syarat sahnya ariyah hendaklah barang itu
sendiri tetap utuh.

E. Adab & Etika Pinjammeminjam


1. Adab
Islam tidak melarang umatnya meminjam kepada orang atau
lembaga tertentu, tetapi hendaklah memperhatikan adab meminjam
yang antara lain adalah :
. Terpaksa meminjam, karena kondisi sulit atau sangat mendesat;
. Berniat mengembalikan pinjaman; denagn demikian insya Allah,
Allah swt akan menolong yang bersangkutan dalam hal
mengembalikannya;
. Meminjam dari orang saleh, agar diri tenang, dan terjaga dari
perlakuan yang tidak baik,
. Pinjaman cukup untuk kebutuhan yang mendesak, atau
seperlunya saja;
. Mengembalikan pinjaman dengan tepat waktu
pembayaran/pelunasan, tidak mengulur-ulur waktu selama
kondisinya mampu untuk melunasi / membayar. Pengulur-ulur
waktu (pembayaran) oleh orang kaya(mampu membayar) adalah
kezaliman., demikian Rasulullah saw mengingatkan.

2. Etika
Meminjam hanya dilakukan dalam keadaan yang sangat
terpaksa.
Jangan menjadikan meminjam sebagai kebiasaan
sehinga dikenal sebagai tukang pinjam.
Sebelum meminjam tanyakan apakah barang yg akan
dipinjam tsb tidak sedang dipakaiPemiliknya.
Sampaikan berapa lama anda akan meminjam & untuk
keperluan apa anda meminjam
Sampaikan sesegera mungkin barang akan
dikembalikan
Sampaikan kekurangan/kerusakan tersebut kepada
pemilik dan dengan segera memperbaikinya
Jangan meminjam dengan cara memaksa
Ucapkan terima kasih ketika mengembalikan & berikan
tanda mata sbg ucapan terima kasihtsb

Upah - Mengupah
A.Pengertian
Menurut Dewan Penelitian Perupahan Nasional,
upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari
pemberi kepada penerima kerja untuk suatu
pekerjaan atau jasa yang telah dan akan dilakukan,
berfungsi sebagai jaminan kelangsungan hidup yang
layak bagi kemanusiaan dan produksi, dinyatakan
atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan
menurut suatu persetujuan, undang-undang dan
peraturan dan dibayarkan atas dasar suatu
perjanjian kerja antara pemberi dan penerima kerja.

B. Hukum upah-mengupah
Upah mengupah atau ijarah ala al-amal, yakni
jual beli jasa, biasanya berlaku dalam beberapa hal
seperti menjahitkan pakaian, membangun rumah,
dan lain-lain. Ijarah ala al-amal terbagi dua, yaitu:
Ijarah khusus
Yaitu ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja.
Hukumnya, orang yang bekerja tidak boleh bekerja
selain dengan orang yang telah memberinya upah.
Ijarah musytarik
Yaitu ijarah dilakukan secara bersama-sama atau
melalui kerja sama. Hukumnya dibolehkan bekerja
sama dengan orang lain.

C. Rukun Upah Mengupah


1. Mustajir (pihak tertentu baik perorangan, perusahaan/kelompok
maupun negara sebagai pihak yang mengupah )
2. ajir (orang yang diupah).
Baik ajir maupun mustajir tidak diharuskan muslim. Islam
membolehkan seseorang bekerja untuk orang non muslim atau
sebaliknya mempekerjakan orang non muslim.
3. Shighat (akad)
Syarat ijab qabul antara ajir dan mustajir sama dengan ijab qabul
yang dilakukan dalam jual beli.
4. Ujrah (upah)
Dasar yang digunakan untuk penetapan upah adalah besarnya
manfaat yang diberikan oleh pekerja (ajiir) tersebut. Bukan
didasarkan pada taraf hidup, kebutuhan fisik minimum ataupun
harga barang yang dihasilkan. Upah yang diterima dari jasa yang
haram, menjadi rizki yang haram.
5. Ma'qud alaihi (barang yang menjadi Obyek)
Sesuatu yang dikerjakan dalam upah mengupah, disyaratkan
pada pekerjaan yang dikerjakan dengan beberapa syarat.
Adapun salah satu syarat terpenting dalam transaksi ini adalah
bahwa jasa yang diberikan adalah jasa yang halal.