Anda di halaman 1dari 24

MANAJEMEN PERIOPERATIF ANESTESI

RAWAT JALAN
Amiruddin,Widya Istanto
PENDAHULUAN
Pembedahan rawat jalan 60% dari seluruh tindakan
bedah elektif di Amerika Serikat

Anestesi rawat jalan (Ambulatory anesthesia) modern


dimulai nitrogen oksida pada anestesi gigi dan
pembedahan di Hartford, connecticut pada tahun 1946

Mendatangkan keuntungan pasien, tenaga kesehatan,


pembayar pihak ketiga & rumah sakit
mengurangi waktu meninggalkan rumah dan keluarga
menurunkan waktu tunggu operasi
menurunkan kemungkinan tertular infeksi di rumah sakit
menurunkan komplikasi pasca bedah
Komplikasi ambulatory anesthesia
TINJAUAN PUSTAKA

Teknik anestesi optimal rawat jalan mendukung


pembedahan yang baik, pemulihan cepat tanpa
efek samping pasca bedah dan tingkat
kepuasan pasien

Ambulatory anesthesia adalah pelayanan


anestesia untuk pembedahan yang secara
medis tidak memerlukan perawatan menginap
pasca bedah.
KONSEP FAST-TRACKING
Melewati pemulihan Fase I (PACU) diberi istilah
fast-tracking
Tujuan Anestesi rawat jalan:
memberikan keadaan memuaskan, aman dan cepat
untuk prosedur diagnostik atau terapi pemulihan yang
cepat dan dapat diprediksi dengan efek pasca bedah
minimal
Electroencephalogram-based cerebral monitors
(yaitu bispectral index [BIS], physical state index
[PSI], auditory-evoked potential [AEP] dan entropi)
pasien lebih cepat sadar pasca anestesi dan
berguna untuk memperkirakan eligibilitas fast-track.
Ambulatory anestesia ini dapat dalam bentuk :

Satu kesatuan (unit) tersendiri baik kamar


bedah maupun ruang perawatannya di dalam
satu rumah sakit besar.
Mempunyai ruang perawatan khusus dan
tersendiri tetapi masih menggunakan kamar
bedah umum di dalam rumah sakit besar.
Satu klinik terpisah yang berdiri sendiri tetapi
mempunyai rumah sakit besar untuk rujukan jika
terjadi komplikasi.
KEUNTUNGAN AMBULATORY ANESTHESIA :

Biaya lebih murah. Biaya perawatan dan


pengobatan dapat ditekan sampai 40-80%.

Kemudahan menjadwalkan pembedahan. Pasien


dapat memilih jam yang sesuai terutama untuk
anak dan lanjut usia.

Tidak tergantung kapasitas rumah sakit, tidak


usah menunggu kamar kosong dirumah sakit.
KEUNTUNGAN AMBULATORY ANESTHESIA
Mengurangi dan mencegah kemungkinan infeksi
nasokomial, terutama untuk pasien imunocompromised.

Berkurangnya insiden medication errors.

Menjaga privasi pasien

Pasien lebih cepat kembali ke lingkungan rumah terutama


untuk pasien anak dan usia lanjut
SYARAT OBAT AMBULATORY ANESTHESIA :

Induksi cepat dan lancar.

Analgesia dan anetesia cukup baik.

Cukup dalam untuk pembedahan.

Masa pulih sadar cepat.

Komplikasi anestesia pasca bedah minimal


(mual, muntah, nyeri kepala, hipoksia)
SYARAT BEDAH RAWAT JALAN

Kriteria Pasien
Status fisik ASA 1 atau ASA 2
Tidak ada riwayat pasca bedah atau anestesia
yang kurang baik
Umur
Pasien mengerti dan memahami instruksi
prabedah dan pascabedah atau anestesia
Tempat tinggal dekat dari rumah sakit
Keinginan pasien tersendiri
Kriteria Pembedahan
Lama pembedahan tidak melebihi 60 menit
Pembedahan superfisial
Tidak memerlukan pelemas otot yang sempurna
Tidak banyak menimbulkan perubahan fisiologis
Diduga tidak menyebabkan banyak perdarahan
Kemungkinan komplikasi pascabedah rendah
TATA LAKSANA
Persiapan prabedah sama seperti pada pasien
rawat inap karena resiko anestesinya sama
Persiapan dilakukan 1-2 hari sebelum hari
pembedahan:
Keadaan umum pasien
Kondisi sistem pernapasan
Kondisi sistem kardiovasikuler
Penyakit ginjal, hepar dan kelainan endokrin
(diabetes melitus), kalau perlu diperiksa labih lanjut
Obat-obat yang sedang diminum, antara lain obat
anti hipertensi, MAO inhibitor, insulin antibiotik
tertentu, kortikosteroid
PERSIAPAN PRA-BEDAH
Wawancara
Pemeriksaan fisik
Status psikologis pasien dan pengantar dapat
memahami dan mengerti instruksi yang
diberikan: misal : puasa + 6-8 jam, instruksi pra
dan pascabedah
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan foto thoraks dan EKG, terutama
untuk penderita usia >40 tahun.
PREMEDIKASI
Umumnya ambulatory anestesia tidak diberikan
premedikasi, kecuali pasien telalu gelisah atau
sulit dikendalikan
Obat premedikasi bersifat short acting dan
diberikan dalam dosis rendah
Contoh obat premedikasi: Ranitidin,
metoclopramid atau natrium sitrat profilaksis
aspirasi
TEKHNIK ANESTESI

Memenuhi kriteria:
Induksi cepat, lancar dan nyaman
Pemeliharaan anestesi cukup sempurna,
aman dan nyaman bagi pasien dan Operator
bedah
Bebas dari rasa sakit, takut dan
pemulihannya cepat tanpa komplikasi (mual,
muntah, vertigo, dan lain-lain)
Tonus simpatis/refleks protektif cepat kembali
Contoh tehnik anestesi

Tekhnik anestesi lokal (topikal, infiltrasi, field block)

Blokade saraf

Anestesi regional (spinal atau epidural)

Anestesi umum
Pernapasan

Kardiovaskuler
Monitoring
sianosis atau pucat

Suhu
RUANG PULIH SADAR (Recovery Room)
Perlengkapan ruang pulih sadar untuk bedah
ambulatory sama untuk bedah elektif
Khusus pasien paska intubasi perlu pengawasan
minimal 2 jam, karena resiko edema laring.
KOMPLIKASI PASCA BEDAH
Kategori komplikasi
Ringan ; bila berlangsung 1-2 hari.
Sedang ; bila berlangsung 2-5 hari.
Berat ; bila berlangsung lebih dari 5 hari.
Pencegahan dan penatalaksanaan komplikasi
Ringan tidak perlu tindakan
Mual muntah droperidol, hidroksizin
Nyeri otot analgetik
Croup doxapram
Nyeri/perdarahan hebat rawat inap RS
ALASAN RAWAT INAP PASCAAMBULATORY ANESTHESIA

Faktor Faktor
pembedahan medis
(63,2%) (19,9%)

Faktor Faktor
lain anestesi
(4,7%) (12,7%)
Kriteria rawat jalan fast-tracking setelah pembedahan
rawat jalan
I. Tingkat kesadaran Terjaga dan sadar Skor 2
Dapat dibangunkan dengan stimulasi minimal 1
Responsif hanya terhadap stimulasi taktil 0
II. Aktivitas fisik Dapat menggerakkan semua ekstremitas saat diperintah 2
Beberapa kelemahan saat menggerakkan ekstremitas 1
Tidak dapat menggerakkan ekstremitas secara volunter 0
III. Stabilitas hemodinamik Tekanan darah <15% dari nilai MAP awal 2
Tekanan darah 15-30% dari nilai MAP awal 1
Tekanan darah >30% di bawah nilai MAP awal 0
IV. Stabilitas pernapasan Dapat bernapas dalam 2
Takipneu dengan batuk kuat 1
Dispneu dengan batuk lemah 0
V. Status saturasi oksigen Mempertahankan nilai >90% pada udara ruang 2
Memerlukan tambahan oksigen (nasal prong) 1
Saturasi <90% dengan tambahan oksigen 0
VI Assesmen nyeri pasca bedah Tidak ada atau tidak nyaman minimal 2
Nyeri sedang-berat dikendalikan dengan analgetik iv 1
Nyeri berat persisten 0
VII. Gejala emetik pasca bedah Tidak ada atau mual tanpa muntah aktif 2
Muntah atau retching transien 1
Mual muntah sedang-berat persisten 0

Skor minimal 12 ,dengan tanpa skor <1 pada tiap kategori individu, dibutuhkan pada
seorang pasien untuk rawat jalan setelah di-fast-track anestesi umum
kriteria pemulangan pasien dengan tekhnik anestesi
spinal atau epidural :

Resolusi komplet anestesi sensorik


Resolusi komplet blokade motorik
Tanda vital kembali ke status preanestesi
Status mental kembali ke status preanestesi
Manajemen adekuat terhadap nyeri pascaoperasi
Tidak ada mual
Bisa buang air kecil
Bisa jalan tanpa bantuan asisten
RINGKASAN
pasien yang menjalani anestesi ambulatory, tidak
memerlukan rawat inap pasca bedah
Ambulatory anesthesia tidak bisa dianggap
seperti anestesia ringan.
Tujuan ambulatory anesthesi adalah masa pulih
sadar yang cepat, tanpa penyulit berat, selama
atau pascabedah sehingga pasien dapat
dipulangkan pada hari yang sama
Tekhnik anestesia yang tepat dan aman sangat di
butuhkan untuk anestesi ambulatory
Ambulatory anesthesia memberi keuntungan
pasien dan rumah sakit