Anda di halaman 1dari 83

AKAD-AKAD SYARIAH

STIE AMA SALATIGA

Dr Faqih Nabhan, MM
Disarikan dari bahan workshop pengembangan ek. Syariah
STAIN Salatiga dan BMT UGT Sidogiri
Produk dan Jasa Perbankan
Syariah
Wadiah Tabungan Umum
Penghimpunan Dana
Tabungan Jgk Wktu
Mudharabah
Deposito
Equity Financing
Operasional KJKS Penyaluran Dana

Debt Financing

Ijarah (sewa/lessing)
Jasa Layanan KJKS

Wakalah (arrange/agency))

Kafalah (garansi)

Rahn (Gadai)

Hawalah(Anjak Piutang/Take Over)


PENENTUAN AKAD TABUNGAN
Akad Tabungan bisa menggunakan ;
1. Wadiah
Aplikasi Wadiah Yad Amanah ; perbankan selaku

penerima titipan tidak boleh menggunakan dana


yang dititipkan oleh nasabah atau mencampur-
aduknya dengan dana nasabah yang lain
Aplikasi wadiah yad dhamanah; perbankan

syariah selaku penerima titipan boleh


menggunakan dana yang dititipkan oleh
nasabah. Bank syariah boleh memberi
bonus untuk nasabah.
LANDASAN SYARIAH (AL-QURAN)



Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanah kepada yang berhak
menerimanya (An-Nisaa: 58)




Jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang
lain, maka hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanahnya (utangnya) dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya
(Al-Baqarah: 283)
Landasan Syariah (Al-Hadits)
- -


Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda
sampaikanlah (tunaikanlah amanat kepada yang
berhak menerimanya dan jangan membalas khianat
kepada orang yang telah mengkhianatimu (HR. Abu
Dawud dan menurut Tirmidzi hadits ini Hasan,
sedang Imam Hakim mengkategorikannya
Sahih)
Ibnu Umar Berkata bahwasanya Rasulullah telah
bersabda, Tiada kesempurnaan iman bagi setiap
orang yang tidak beramanah, tiada shalat bagi yang
tidak bersuci (HR. Thabrani)
Landasan Syariah (Ijma)

Para tokoh ulama Islam sepanjang zaman telah


melakukan sensus terhadap legitimasi al-wadiah
karena kebutuhan manusia terhadap ini sangat
jelas terlihat seperti yang dikutip oleh Dr. Azzuhaili
dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu
Wadiah Yad Amanah

Adapun karakteristik dari Wadiah Yad al-amanah


adalah :
Pihak yang menerima tidak bertanggung jawab

atas kehilangan atau kerusakan barang yang


dititipakan selama tidak karena kelalaian.
Pihak yang penerima tidak boleh menggunakan

dan memanfaatkan uang atau barang yang


dititipkan
Pihak penerima dapat membebankan biaya
penitipan
Skema Wadiah Yad Amanah

Titip Barang

Beban Biaya
Penitipan
Wadiah Yad adh-Dhamanah
Wadiaah Yad adh-dhamanah:
Pihak penerima bertanggung jawab atas
kehilangan atau kerusakan barang titipan.
LKS sebagai penerima bisa menggunakan
dana wadiah tersebut serta
keuntungannya menjadi milik LKS.
LKS diperbolehkan memberikan semacam
bonus dengan catatan tidak disyaratkan
sebelumnya serta jumlahnya tidak
ditetapkan dalam nominal atau
persentase.
BEBERAPA KETENTUAN YAD
DHAMANAH (1)
Pihak yang dititipi (LKS) bertanggung
jawab atas keutuhan harta yang
dititipkan
LKS boleh memanfaatkan harta yang
dititipkan
Implikasi hukumnya sama dengan
qardh
BEBERAPA KETENTUAN YAD
DHAMANAH (2)
LKS dapat memanfaatkan &
menyalurkan dana yang disimpan serta
menjamin bahwa dana tersebut dapat
ditarik setiap saat oleh pemilik dana
Keuntungan & kerugian sepenuhnya
milik LKS (pemilik dana dapat diberi
bonus tanpa perjanjian didepan)
Dapat mengenakan biaya administrasi
Skema Wadiah
KETENTUAN AKAD WADIAH
Bersifat simpanan (bukan investasi)
Simpanan bisa diambil kapan saja atau berdasar-kan
kesepakatan.
Tidak ada imbalan yang disyaratkan waktu akad, kecuali
dalam bentuk pemberian (athaya / bonus) yang bersifat
sukarela (tidak mengikat) dari pihak LKS.
Dengan seijin penyimpan, LKS dapat menggunakan dana
wadiah untuk kegiatan usaha yang sesuai prinsip
syariah
* FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL NO: 02/DSN-MUI/IV/2000
2. Mudharabah
Aplikasi akad ; Bank syariah bertindak
sebagai Mudharib / Amil dan Nasabah
sebagai Shohibul Mal dengan akad
mudharabah Muthlaqah
Dalam akad Mudharabah harus
menyebutkan Nisbah Bagi Hasil dengan
jelas seperti 30% untuk Nasabah dan 70%
untuk Bank syariah, bila tidak
menyebutkan Nisbah maka kembali pada
Nisbah 50% : 50% (al_fiqh islami 5:3937)
Simpanan Berjangka Syariah
Simpanan dimana pemilik harta/anggota sebagai
(Shohibul maal) meletakkan dananya pada LKS
dengan akad Mudharabah mutlaqah.
Simpanan ini akan salurkan kepada anggota yang
membutuhkan pembiayaan.
Simpanan bisa di setor sewaktu-waktu sedangkan
untuk penarikannya satu kali sesuai jenis
produknya.
LKS akan memberikan bagi hasil bulanan dari
keuntungan yang diperoleh sesuai dengan nisbah
yang disepakati diawal.
Jenis Simpanan Berjangka Syariah
Ziarah / Wisata
Idul Fitri
Qurban dan Aqiqah
Pendidikan
Kesehatan
Haji / Umrah
Keuntungan Menyimpan
Insya Allah pahalanya berlipat delapan belas
kali bila diniati menghutangi.
Aman dan terhindar dari RIBA dan haram.
Ikut membantu sesama ummat (tawun).
Mendapat bagi hasil/ bonus yang halal.
Bisa dijadikan jaminan pembiayaan
Bebas potongan administrasi bulanan
Ketentuan Permohonan
Mengisi formulir permohonan menjadi calon anggota
Mengisi formulir permohonan pembukaan tabungan
Fotocopy identitas diri (KTP, SIM / KARTANU).
Biaya pembukaan rekening Rp. 5.000
Setoran awal minimal Rp.10.000,-
Setoran berikutnya minimal Rp.1.000,-
Saldo minimal Rp.10.000,-
Ketentuan lain menurut jenis tabungan.

18
Simpanan Mudharabah Berjangka
Adalah simpanan dimana Pemilik harta/ anggota
sebagai (Shohibul maal) meletakkan dananya pada
LKS dengan akad Mudharabah mutlaqah.Dana ini
hanya bisa di tarik berdasarkan waktu yang di
tentukan. Berikut jenis- jenis MDA Berjangka dan
contoh nisbah bagi hasil antara LKS dengan anggota.
Deposito 3 bulan 48% : 52%
Deposito 6 bulan 45% : 55%
Deposito 9 bulan 43% : 57%
Deposito 12 bulan 40% : 60%
PENGHIMPUNAN DANA PENYALURAN DANA

SHAHIBUL MUDHARIB
MAAL

menyerahkan menyerahkan
dana dana
=======> =======>

<======= <=======
menerima bagi menerima bagi
hasil hasil
SHAHIBUL MUDHARIB

MAAL
KETENTUAN AKAD MUDHARABAH *
Dalam transaksi ini Anggota bertindak sebagai
shahibul mal atau 100 % pemilik dana, dan LKS
bertindak sebagai mudharib atau pengelola
dana.
Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, LKS
dapat melakukan berbagai macam usaha yang
tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan
mengembangkannya, termasuk di dalamnya
mudharabah dengan pihak lain.
Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya,
dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan
dituangkan dalam akad pembukaan rekening.
LKS tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan Anggota tanpa
persetujuan yang bersangkutan.
Jika terjadi kerugian,maka kerugian finansial ditanggung oleh Shahibul Mal
( anggota penabung )
Tetapi menurut sebagian madzhab Malikiyah Mudharib boleh menanggung
kerugian sebagai amal kebajikannya(tabarru') (al-Muamalatul Maliyah al-
Mu'ashirah, Lil Wahbah al-Zuhaili. Hal- 444)
Contoh Nisbah Tabungan Umum untuk LKS dan Anggota 55 : 45 dan
Nisbah Tabungan Umum Berjangka antara LKS dan Anggota 50 : 50
Tabungan Umum dengan akad Mudharabah boleh menurut Imam Abu
Hanifah,Syafii dan Ahmad (al Fiqh al Islami lil Wahba al Zuhaili 5 : 3935)
IJAB QABUL ( REDAKSI AKAD ) TABUNGAN
Shighot Akad adalah sesuatu yang timbul dari
Mutaaqidain (dua orang yang bertransaksi) untuk
menunjukkan keinginan dan kesepakatannya dalam
transaksi.
Shighot akad itu bisa berbentuk lafadz (perkataan),
perbuatan, isyaroh dan tulisan (baina ikhtilafi al
Madzahib Al Arbaah). Tidak ada ketentuan baku tentang
redaksi lafadz akad,yang terpenting menunjukkan
keinginan dan kesepakatannya sesuai kondisi
masyarakat dan tidak akan menimbulkan perselisihan.
Akad tanpa lafadz (perkataan) atau lebih dikenal dengan
akad Muathoh dan dapat menunjukkan kesepakatan,
hukumnya boleh menurut Imam Hanafiyah,Malikiyah
dan Hanabilah.
Akad dengan menggunakan tulisan, sah menurut imam
Hanafiyah dan Malikiyah bahkan ini lebih kuat dan lebih
bisa dipertanggung jawabkan.
Didalam lembaga keuangan harus diupayakan akad
menggunakan lafadz(qaul) dan tulisan sekaligus,untuk
menghindari perselisihan

( Al Fiqh al Islami lil Wahbah al Zuhaili 5 :2932-2942)


PERBEDAAN AKAD QARD
DENGAN MUDHARABAH
Dalam akad Qard nasabah akan
mendapatkan bonus setiap bulan
sedangkan akad mudharabah bagi hasil
fluktuatif sesuai hasil riil Bank syariah
setiap bulan dan bisa disebut Equivalent-
nya.
PENENTUAN AKAD PEMBIAYAAN

Akad pembiayaan yang sesuai dengan syariah,


ditinjau ;
Tujuan Penggunaan dana
Sumber Pengembalian
Agunan
Produk Pembiayaan
(Financing) Muthlaqah
(tidak bersyarat)
Mudharabah
Muqayyadah
(bersyarat)
Equity
Financing

Musyarakah
Musyarakah
(Kerjasama dua pihak atau lebih)
Produk Pembiayaan-
lanjutan

Barang vs barang Barter


Barang vs uang Jual Beli (bai)
Debt Murabahah (margin)
Sewa Menyewa
Bitsaman (ijarah)
ajil (cicil)
Financing Ijarah (sewa)
Uang vs barang Salam
Ijarah(cont: pertanian)
Muntahiyah Bit Tamlik
Istishna (cont: manufaktur)
Uang vs uang Sharf (tukar valas)
PENENTUAN AKAD PEMBIAYAAN

Akad yang berbasis BAGI HASIL digunakan


untuk tujuan penggunaan dana MODAL
USAHA
Akad yang berbasis Jual Beli digunakan untuk
tujuan penggunaan dana PENGADAAN
BARANG KONSUMTIF atau MODAL USAHA
(BARANG DAGANGAN)
Aplikasi produk pembiayaan
berbasis Jual Beli pada LKS adalah :

1. Bai Al-Murabahah (include BBA)


2. Bai As-Salam (Pesan barang dibidang
pertanian)
3. Bai Al-Istishna (Pesan barang bidang industri)
Akad yang berbasis JUAL BELI (SALAM atau
ISTISHNA ) digunakan untuk penggunaan
dana MODAL PERTANIAN,MODAL USAHA
GARMENT BIAYA PENDIDIKAN, BIAYA RUMAH
SAKIT dan JASA-JASA LAINNYA, karena
melihat SUMBER PENGEMBALIAN
ALUR MURABAHAH
MENURUT FIKIH KLASIK
Penjual
Pembeli
Jual barang dgn MRB

Bayar Harga Jual brg

Penjual memberitahukan secara jujur harga


pembelian barang tersebut kepada pembeli.
Karena itulah jual beli ini disebut sebagai jual
beli amanah. Karena pembeli mengetahui
besaran keuntungan yang diperoleh penjual
dalam jual beli tersebut .
Jenis Bai Murabahah

H AH Tanpa pesanan
A
R AB
MU Mengikat
JENIS

Berdasarkan
pesanan
CARA PEMBAYARAN
Tidak mengikat

Tunai Tangguh
ALUR MURABAHAH TANPA PESANAN

PROSES PENGADAAN BARANG PROSES JUAL BELI MURABAHAH


dilakukan sebelum transaksi jual beli
murabahah ada yang beli atau buat
1. Negosiasi dan Persyaratan
(persediaan barang)

2. Akad Jual Beli


Pengadaan barang

LKS membeli kas/


tangguh (murabahah)
(murabahah)
Membuat sendiri /
pesan (istishna)
Memproduksi
sendiri / pesan 4. Bayar
(salam) Kewajiban /
Barang mudharabah / harga barang
musyarakah BS ANGGOTA
dsb

3. Kirim / penyerahan Barang


PRAKTIK IDEAL

ALUR MURABAHAH BERDASARKAN PESANAN

2. Beli Barang ke Suplier 1. Pesan Beli Barang (Negosiasi dan Persyaratan)

4. Akad Jual Beli (murabahah)

5. Bayar harga barang /


kewajiban

Pemasok LKS ANGGOTA

3. Penyerahan barang ke LKS 6. Kirim / penyarahan Barang


PRAKTIK YANG BANYAK DILAKUKAN

MURABAHAH BASITHAH BIL WAKALAH


1. Anggota Pesan Beli Barang ke LKS (Negoisasi
3. Beli Barang yg tlh disepakati Harga dan Suplier yg disepakati)

2. LKS mewakilkan pembelian


barang ke Anggota pd suplier
yg tlh disepakati bersama

5. Akad Jual Beli (murabahah)


dgn margin yg disepakati
bersama
Pemasok
LKS
ANGGOTA

Harga Jual Barang = HPP + Margin

4. Penyerahan barang ke Anggota 6. Bayar harga Jual Barang


Ketentuan
Murabahah
(Fatwa DSN : 04/DSN-MUI/IV/2000)
Ketentuan umum murabahah dalam LKS
1) Akad murabahah bebas riba
2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan
3) LKS membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian
barang
4) LKS membeli barang yang diperlukan ANGGOTA atas nama
LKS sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba
5) LKS harus menyampaikan semua hal yang berkaitan
dengan pembelian
6) LKS menjual barang kepada ANGGOTA (pemesan) dengan
harga jual senilai harga beli plus keuntungannya.
=> LKS harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada
ANGGOTA berikut biaya yang diperlukan.
Ketentuan
Murabahah
(Fatwa DSN : 04/DSN-MUI/IV/2000)

7) ANGGOTA membayar harga barang yang


disepakati pada jangka waktu tertentu
8) Untuk mencegah penyalahgunaan atau
kerusakan akad => LKS dapat mengadakan
perjanjian khusus dengan ANGGOTA.
9) Jika LKS mewakilkan kepada ANGGOTA untuk
membeli barang dari pihak ketiga,
pengakadan jual beli murabahah harus
dilakukan setelah barang, secara prinsip,
telah menjadi milik LKS.
Ketentuan
Murabahah
(Fatwa DSN : 04/DSN-MUI/IV/2000)

Ketentuan murabahah kepada ANGGOTA


1) ANGGOTA mengajukan permohonan dan perjanjian
pembelian suatu barang atau asset kepada LKS
2) Jika LKS menerima => ia harus membeli terlebih dahulu
aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang
3) LKS menawarkan aset tersebut kepada ANGGOTA dan
ANGGOTA harus menerima (membeli)-nya, karena
secara hukum perjanjian tsb mengikat; kemudian kedua
belah pihak harus membuat kontrak jual beli
Ketentuan
Murabahah
(Fatwa DSN : 04/DSN-MUI/IV/2000)
4. LKMS/LKS/UJKS dibolehkan meminta ANGGOTA untuk
membayar uang muka saat menandatangani
kesepakatan awal pemesanan
5. Jika ANGGOTA menolak membeli barang, biaya riil LKS
harus dibayar dari uang muka tersebut
6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian LKS, LKS dapat
meminta kembali sisa kerugiannya kepada ANGGOTA.
7. Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai
alternatif dari uang muka, maka :
a. Jika ANGGOTA membeli => ia tinggal membayar sisa harga
b. Jika ANGGOTA batal membeli => menjadi milik LKS
maksimal sebesar kerugian LKS; dan jika tidak mencukupi,
ANGGOTA wajib melunasi kekurangannya
Ketentuan
Murabahah
(Fatwa DSN : 04/DSN-MUI/IV/2000)
Jaminan Murabahah :
Jaminan dalam murabahah
dibolehkan, agar ANGGOTA serius
dengan pesanannya.
LKS dapat meminta ANGGOTA untuk
menyediakan jaminan yang dapat
dipegang
Ketentuan
Murabahah
(Fatwa DSN : 04/DSN-MUI/IV/2000)

Hutang dalam murabahah


1) Secara prinsip, penyelesaian hutang tidak ada kaitannya
dengan transaksi lain. Jika ANGGOTA menjual barang
dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap berkewajiban
untuk menyelesaikan hutangnya kepada LKS
2) Jika ANGGOTA menjual barang
sebelum masa angsuran berakhir => ia tidak wajib segera
melunasi seluruhnya
menyebabkan kerugian => tetap harus menyelesaikan hutangnya
sesuai kesepakatan awal.
tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta
kerugian itu diperhitungkan
Ketentuan
Murabahah
(Fatwa DSN : 04/DSN-MUI/IV/2000)
Penundaan pembayaran dlm
murabahah
ANGGOTA yang memiliki
kemampuan tidak dibenarkan
menunda penyelesaian hutangnya
Jika ANGGOTA telah dinyatakan pailit
dan gagal menyelesaikan hutangnya,
LKS harus menunda tagihan hutang
sampai ia sanggup kembali, atau
berdasarkan kesepakatan.
Ketentuan Uang Muka
Murabahah (Fatwa DSN : 13/DSN-MUI/IX/2000)
1. Dalam akad murabahah, LKS dibolehkan untuk
meminta uang muka
2. Besar => ditentukan berdasarkan kesepakatan
3. Jika ANGGOTA membatalkan akad => ANGGOTA
harus memberikan ganti rugi kepada LKS dari uang
muka tsb
4. Jika uang muka lebih kecil dari kerugian => LKS
dapat meminta tambahan kepada ANGGOTA
5. Jika uang muka lebih besar dari kerugian => LKS
harus mengembalikan kelebihannya kepada
ANGGOTA
Ketentuan Diskon
Murabahah (Fatwa DSN No : 16/DSN-
MUI/IX/2000)

1. Harga jual beli adalah suatu jumlah yang


disepakati oleh kedua belah pihak.
2. Harga dalam jual beli murabahah adalah harga
beli dan biaya yang diperlukan ditambah
keuntungan sesuai dengan kesepakatan
3. Jika dalam murabahah LKS mendapat diskon
dari supplier => diskon adalah hak ANGGOTA
4. Jika diskon setelah akad => pembagian diskon
sesuai perjanjian (persetujuan) dalam akad
5. Dalam akad => pembagian diskon setelah akad
hendaklah diperjanjikan dan ditandatangani
Ketentuan potongan
pelunasan (Fatwa DSN No: 23/DSN-MUI/III/2002)
1. Jika ANGGOTA melakukan pelunasan
pembayaran tepat waktu atau lebih
cepat dari waktu yang disepakati,
LKS boleh memberikan potongan
dari kewajiban pembayaran, dengan
syarat tidak diperjanjian dalam akad
2. Besarnya potongan => diserahkan
pada kebijakan dan pertimbangan
LKS
LKS dapat meminta uang muka pembelian (urbun)
kepada ANGGOTA setelah akad murabahah
disepakati. Dalam murabahah urbun harus
dibayarkan oleh ANGGOTA kepada LKS, bukan
kepada pemasok.
Urbun menjadi bagian pelunasan piutang murabahah
apabila murabahah jadi dilaksanakan (tidak
diperkenankan sebagai pembayaran angsuran).
Tetapi apabila murabahah batal, urbun dikembalikan
kepada ANGGOTA setelah dikurangi dengan
kerugian sesuai dengan kesepakatan, antara lain:
Potongan urbun LKS oleh pemasok;
Biaya administrasi;
Biaya yang dikeluarkan dalam proses pengadaan lainnya.
Apabila terdapat uang
muka dalam transaksi
murabahah berdasarkan
pesanan, maka
keuntungan murabahah
didasarkan pada porsi
harga barang yang dibiayai
oleh LKS.
Apabila transaksi murabahah
pembayarannya dilakukan secara
angsuran atau tangguh, maka
pengakuan porsi pokok dan keuntungan
harus dilakukan secara merata dan tetap
selama jangka waktu angsuran.
Apabila ANGGOTA melakukan
pembayaran angsuran lebih kecil dari
kewajibannya maka pengakuan
pendapatan untuk perhitungan distribusi
hasil usaha dilakukan secara
proporsional atau sebanding dengan
porsi margin yang terkandung dalam
angsuran.
Skema Pembiayaan Bai
Salam
Karakteristik
salam (Fatwa DSN No.05/DSN-
MUI/IV/2000)

Ketentuan tentang pembayaran


(1) Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik
berupa uang, barang atau manfaat.
(2) Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati
(3) Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.
Ketentuan tentang barang
(1) Harus jelas cirri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang
(2) Harus dapat dijelaskan spesifikasinya
(3) Penyerahan dilakukan kemudian
(4) Waktu dan tempat penyerahan barang hrs ditetapkan
berdasarkan kesepakatan.
(5) Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya
(6) Tidak boleh menukar barang, kecuali dng brg sejenis sesuai
kesepakatan.
Karakteristik
salam (Fatwa DSN No.05/DSN-
MUI/IV/2000)

Ketentuan tentang salam parallel


(1) Akad kedua terpisah dari akad pertama, dan
(2) Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah
Karakteristik
salam (Fatwa DSN No.05/DSN-
MUI/IV/2000)

Penyerahan barang sebelum atau pada


waktunya :
(1) Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya
dengan kualitas dan jumlah yang telah disepakati.
(2) Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih
tinggi, penjual tidak boleh meminta tambahan harga.
(3) Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih
rendah, dan pembeli rela menerimanya, maka ia tidak boleh
menuntut pengurangan harga (diskon)
(4) Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang
disepakati dengan syarat : kualitas dan jumlah barang sesuai
dengan kesepakatan, dan ia tidak boleh menuntut tambahan
harga
Karakteristik
salam (Fatwa DSN No.05/DSN-
MUI/IV/2000)

Penyerahan barang sebelum atau pada


waktunya : (lanjutan)
(5) Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada
waktu penyerahan, atau kualitasnya lebih rendah dan
pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki dua
pilihan :
(a) Membatalkan kontrak dan meninta kembali uangnya
(b) Menunggu sampai barang tersedia

Pembatalan kontrak
Pada dasarnya pembatalan salam boleh dilakukan, selama
tidak merugikan kedua belah pihak
Perbedaan Salam dengan
Ijon
Dalam Ijon barang dibeli tidak menurut ukuran dan
timbangannya yang asli, sementara salam mengukur
barang pada ukuran dan timbangannya
Contoh Ijon : Pembeli membeli beras yang saat itu
masih belum dipanen sebanyak satu hektar dan
dihantar pada saat panen. Terdapat spekulasi disini
yang akan merugikan salah satu pihak
Contoh Salam : pembeli membeli padi sebanyak satu
ton padi dari petani yang dihantar pada waktu panen
Perbedaan Salam dan Istishna

Salam Istishna
Barang terukur dan Harus diukur dan
tertimbang. Hutang ditimbang, modelnya
pada Al Muslam Ilaih dipesan
Uang / modal dimuka Bisa dimuka, dicicil
Mengikat sampai selesai, atau
dibelakang
Akad Barang milik pembuat
(Shani)
Akad tidak mengikat
Skema Pembiayaan
Istishna
Karakteristik Istishna
(Fatwa DSN No. 06/DSN-MUI/IV/2000)

Ketentuan tentang pembayaran


(1) Alat bayar harus diketahui jumlah dan
bentuknya, baik berupa uang, barang, atau
manfaat
(2) Pembayaran dilakukan sesuai dengan
manfaat
(3) Pembayaran tidak boleh dalam bentuk
pembebasan hutang.
Karakteristik Istishna
(Fatwa DSN No. 06/DSN-MUI/IV/2000)

Ketentuan tentang barang


(1) Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang
(2) Harus dapat dijelaskan spesifikasinya
(3) Penyerahnnya dilakukan kemudian
(4) Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan
kesepakatan
(5) Pembeli (mustashni) tidak boleh menjua barang sebelum menerimanya.
(6) Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai
kesepakatan
(7) Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sdengan kesepakatan,
pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) utnuk melanjutkan atau
membatalkan akad
Karakteristik Istishna
(Fatwa DSN No. 06/DSN-MUI/IV/2000)

Ketentuan lain :
(1) Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai
dengan kesepakatan, hukumnya mengikat.
(2) Semua ketentuan dalam jual beli salam yang
tidak disebutkan diatas berlaku pula pada jual
beli isthisna
Akad yang berbasis UJRAH / FEE digunakan
untuk tujuan penggunaan dana MODAL
USAHA BERUPA JASA, BIAYA PENDIDIKAN,
BIAYA RUMAH SAKIT DAN JASA-JASA
LAINNYA.
SYARAT APLIKASI AKAD BERBASIS
BAGI HASIL
Menggunakan sistem perhitungan REVENUE
SHARING ATAU GROSS REVENUE SHARING
Mudharib betul-betul Amanah
Mudharib harus membuat LAPORAN
PERHITUNGAN HASIL USAHA setiap bulan
Atau Bank syariah membantu membuat
LAPOPAN PERHITUNGAN HASIL USAHA
mudharib
SYARAT APLIKASI AKAD BERBASIS
JUAL BELI
Bank syariah membangun kerjasama dengan
Agen penyedia barang dagangan seperti ;
Toko Grosir Peracangan, Pertanian,
Elektronik, Grosir HP, Showroom/ Dealer
Kendaraan bermotor dll.
BMT membangun kerjasama dengan
tengkulak, pedagang, pabrik atau perusahaan
BMT harus tahu perkembangan harga
SYARAT APLIKASI AKAD BERBASIS
JASA
Penentuan Jasa / Ujrah tidak boleh
berdasarkan Plafond Pembiayaan
Penentuan Ujrah berdasarkan Agunan
(RAHN)
Penentuan Ujrah berdasarkan Ujrah Wakalah
atau Resiko / Tanggung Jawab
(WAKALAH,HAWALAH,KAFALAH)
Bank syariah Boleh memberikan Potongan
Ujrah
SYARAT APLIKASI AKAD QARD
o Akad QARD adalah akad DARURAT
o Akad QARD digunakan ketika sudah tidak
memungkinkan menggunakan akad yang
berbasis BAGI HASIL, JUAL BELI ATAU JASA.
CONTOH IJAB QABUL
AKAD MUDHARABAH/MUSYARAKAH ;
IJAB ; Saya investasi modal kepada Anda
sebesar Rp 50 juta untuk usaha Peracangan
dengan nisbah bagi hasil 40% utk Bank
syariah dan 60% utk Anda dengan metode
perhitungan REVENUE SHARING selama 4
bulan
QABUL ; Ya saya terima dan sepakat
AKAD MURABAHAH pokok plus margin;
IJAB ; Saya Jual Sepeda motor Honda Supra
X yang saya beli dengan harga Rp 15 juta
kepada Anda dengan harga Rp 18 juta dan
diangsur setiap bulan pokok plus margin
selama 10 Bulan
QABUL ; Ya saya terima dan sepakat
AKAD MURABAHAH Margin saja dan
pokok diakhir kontrak;
IJAB ; Saya Jual Sepeda motor Honda Supra
X yang saya beli dengan harga Rp 15 juta
kepada Anda dengan harga Rp 16 juta dan
diangsur setiap bulan margin saja selama 4
Bulan, sedangkan pokok diakhir kontrak
QABUL ; Ya saya terima dan sepakat
AKAD SALAM ;
IJAB ;Saya pesan beli padi jenis IR 64 dan
diserahkan 2 bulan lagi ketika sudah panen
dengan harga Rp 3000,- per KG sebanyak 2
Ton, total harga Rp 6 juta dan saya wakilkan
kepada anda untuk menjualkan ke Pabrik
Padi Joyo Mulyo ketika panen
QABUL ; Ya saya terima dan sepakat
AKAD ISTISHNA ;
IJAB ; Saya pesan kepada anda untuk
dibuatkan baju seragam olah raga sebanyak
100 setel dengan harga per setel Rp 50 ribu,
total Rp 5 juta dan saya wakilkan kepada
anda untuk dijualkan pada Ketua STIE Bank
BPD Jateng dengan harga Rp 60 ribu per
setel
QABUL ; Ya saya terima dan sepakat
AKAD RAHN ;
IJAB ; Saya hutangkan uang sebesar Rp 9
juta kepada anda dengan diangsur selama 10
bulan, dengan agunan Emas 20 Gram jenis
Kalung. Dan saya minta biaya / ujrah
penitipan agunan setiap hari Rp 7.500
QABUL ; Ya saya terima dan sepakat
AKAD QARD ;
IJAB ; Saya hutangkan uang sebesar Rp 500
ribu kepada anda dan diangsur selama 5
bulan
QABUL ; Ya saya terima dan sepakat
APLIKASI PRODUK BANK
SYARIAH
Produk Penghimpunan Dana
No Produk Prinsip syariah
1 Giro Wadiah Yad Dhamanah

2 Tabungan Wadiah Yad Dhamanah dan


Mudharabah Mutlaqah (Investasi
Tidak Terikat)
3 Deposito Mudharabah Mutlaqah (Investasi
Tidak Terikat)
4 Investasi Mudharabah Muqayyadah (Investasi
Khusus Terikat)

73
PENYALURAN DANA

Prinsip jual beli Murabahah


Istishna, Istishna Paralel
Salam, Salam Paralel

Prinsip bagi hasil Pembiayaan Mudharabah


Pembiayaan Musyarakah

Ujroh Ijarah, Ijarah Muntahia


Bitamlik

74
PRODUK PENYALURAN
DANA
N Produk Prinsip syariah
o
1 Pembiayaan modal kerja Mudharabah, Musyarakah
2 Pembiayaan proyek Mudharabah, musyarakah
3 Pengadaan barang investasi (jual beli Murabahah
barang)
4 Produksi agribisnis / sejenis Salam, salam paralel
5 Manufactur, kontruksi Istishna, Istishna Paralel
6 Penyertaan Musyarakah
7 Leter of Credit - Ekspor (pembiayaan Mudharabah, musyarakah, murabahah (Al-BaI)
ekspor)
8 LC - Impor Murabahah, Salam / Istishna dan Murabahah,
Mudharabah
9 Surat berharga (Obligasi) Mudharabah, Ijarah

75
PRODUK JASA
PERBANKAN
No Produk Prinsip syariah
1 Dana Talangan dan Talangan Haji Qardh
2 Anjak piutang Hiwalah
3 Transfer, inkaso, kliring Wakalah
4 Pinjaman sosial Qardhul Hasan
5 Safe deposit Wadiah Amanah, Ijarah (sewa)
6 Penukaran valas (bank notes) Sharf
7 Gadai (jaminan) Rahn
8 Pay roll Ujrah, wakalah
9 Bank garansi Kafalah
10 Leter of Credit - Ekspor Wakalah bil Ujroh, Qardh
11 LC - Impor Wakalah bil Ujrah, wakalah bil Ujroh dan Qardh,

76
PRODUK SEWA

No produk Prinsip syariah


1 Sewa beli Ijarah Muntahiya Bittamlik (Ijarah Wa
Igtina)
2 Sewa dengan Ijarah Muntahiya Bittamlik
opsi
pemindahan
hak

77
PRODUK LAIN

No produk Prinsip syariah


1 Sertifikat Investasi Mudharabah
Mudharabah Antar Bank
(SIMA)
2 Sertifikat Wadiah Bank Wadiah
Indonesia

78
BANK SEBAGAI FUNGSI SOSIAL
Penyaluran dana kebajikan
Qardhul hasan
Santunan kebajikan
Pengumpul Zakat Infaq dan Sadaqah
Pengeluaran lainnya

79
PRINSIP DISTRIBUSI
HASIL USAHA

Revenue Sharing
Yang dibagikan adalah pendapatan (revenue)
Shahibul maal menaggung kerugian => usaha
dilikiuidasi, jumlah aktiva lebih kecil dari kewajiban

Profit Sharing
Yang dibagikan adalah keuntungan (profit)
Tidak Loss Sharing => kerugian bukan kelalaian
mudharin ditanggung oleh shahibul maal

80
Sistem bagi hasilLap L/R Pengelolaan Dana
Lap Laba Rugi Bank
/LKS Mudharabah (sbg
(sbg mudharib) mudharib)

Pendapatan:
Pengelolaan dana
= Pendapatan penyaluran
Mudharabah
Revenue sharing Bagi hasil (prinsip bagi
(-/
-) hasil)
Hak pihak ketiga atas Margin (prinsip jual beli)
bagi hasil Investasi
Tidak Terikat Tabel Lainnya (SWBI, IMA dsb)

(-/-)
(+/+)

Pendapatan :
Fee base income
Porsi shahibul maal

Beban Pengelolaan Mudharabah


(-/-) Beban tenaga kerja mudharabah

Proft sharing
Beban administrasi mudharabah
Beban mudharib: Beban penyusutan mudharabah
Beban Tenaga kerja Beban opr mudharabah lainnya

=
Beban Administrasi
Beban Opr Lainnya
=
Laba/Rugi Mudharabah
RUGI LABA SAHIBUL MAAL
PRINSIP DISTRIBUSI
HASIL USAHA

Uraian Jumlah Metode


Penjualan 100 Revenue sharing
Harga pokok penjualan 65
----------
Laba kotor 35 Gross Revenue
Beban 25 Sharing
----------
Laba rugi bersih 10
Profit Sharing

82
TERIMAKASIH