Anda di halaman 1dari 22

ANGGARAN FLEKSIBEL

ANGGARAN FLEKSIBEL

Anggaran fleksibel adalah anggaran yang


disusun dengan kemampuan untuk
memberikan penyesuaian tolok ukur yang baik
atas setiap perubahan tingkat aktivitas aktual
yang dialami perusahaan.
Anggaran fleksibel didasarkan pada
pemahaman terhadap perilaku biaya.
Seperti telah dibahas di dalam bab 3
diatas, bahwa seluruh biaya yang dimiliki
suatu perusahaan dibagi ke dalam 2
kelompok besar, yaitu:
1. Biaya Variabel, yaitu biaya yang akan
selalu berfluktuasi sejalan dengan
perubahan tingkat aktivitas perusahaan.
2. Biaya Tetap, adalah biaya yang relatif
tidak akan berubah walaupun terjadi
perubahan tingkat aktivitas dalam batas
tertentu.
Perilaku Biaya

Tingkat Aktivitas

Biaya Variabel

Biaya Tetap
Anggaran Produksi Fleksibel
Anggaran produksi bulanan tetap disusun dengan
asumsi volume penjualan pada setiap bulan dapat
terjadi dengan volume penjualan yang
dianggarkan. Sehingga jumlah barang yang
diproduksi pada bulan berikutnya akan tetap dapat
dilaksanakan sesuai dengan rencana produksi
yang telah disusun. Padahal seringkali perusahaan
menghadapi keadaan dimana realisasi penjualan
produknya pada suatu bulan tidak sesuai dengan
rencana penjualan yang telah disusun. Jika
penjualan aktual tidak sesuai dengan volume
penjualan yang dianggarkan, maka hal itu akan
dapat mengakibatkan perusahaan mengalami
penumpukan dan atau kekurangan jumlah
persediaan barang jika perusahaan tetap
menggunakan volume produksi yang dianggarkan
pada bulan berikutnya.
Contoh soal

PT.Mitra Prima adalah sebuah perusahaan


produsen rak televisi. Kapasitas produksi yang
dimiliki perusahaan adalah sebesar 12.000 unit
per tahun. Untuk tahun 2009, perusahaan
merencanakan menjual sebanyak 10.200 unit
produk. Jumlah persediaan barang pada awal
Januari 2009 diperkirakan sebanyak 300 unit.
Sedangkan jumlah persediaan barang pada
akhir setiap bulan direncanakan sebanyak 100
unit produk. Dari total volume penjualan yang
dianggarkan sebesar 10.200 unit dalam
setahun tersebut, direncanakan akan dijual
dalam 12 bulan operasi, dengan rincian
sebagai berikut :
Bulan Volume

Januari 900
Februari 900
Maret 700
April 700
Mei 700
Juni 700
Juli 500
Agustus 500
September 1.100
Oktober 1.100
November 1.200
Desember 1.200

Total 10.200
Maka untuk tahun 2009 perusahaan harus
memproduksi barang sebanyak 10.000 unit, yang
berasal dari :

Volume Penjualan 2009 10.200


Volume Persediaan , akhir tahun 100
Volume Persediaan , awal tahun (300)
Volume Produksi 2009 10.000
Karena perusahaan menggunakan metode persediaan stabil (dengan jumlah
persediaan setiap akhir bulan sebesar 100 unit), maka atas rencana produksi
tahun 2009 tersebut, anggaran produksi bulanan disusun sebagai berikut :
Volume Persediaan Volume
Bulan Produksi
Penjualan Akhir Siap Dijual Awal

Januari 900 100 1.000 300 700


Februari 900 100 1.000 100 900
Maret 700 100 800 100 700
April 700 100 800 100 700
Mei 700 100 800 100 700
Juni 700 100 800 100 700
Juli 500 100 600 100 500
Agustus 500 100 600 100 500
September 1.100 100 1.200 100 1.100
Oktober 1.100 100 1.200 100 1.100
November 1.200 100 1.300 100 1.200
Desember 1.200 100 1.300 100 1.200

Total 10.200 100 10.300 300 10.000


Contoh soal berikut yang didasarkan pada contoh soal
sebelumnya mungkin dapat memperjelas pemahaman tentang
perlunya anggaran produksi bulanan fleksibel bagi
perusahaan :
Januari Februari
Keterangan
Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi

Volume Penjualan 900 625 900 725


Volume Persediaan
100 ? 100 ?
, akhir bulan
Volume Persediaan
1.000 1.000 1.000 1.275
siap dijual
Volume Persediaan
(300) (300) (100) (375)
, awal bulan
Volume Produksi
700 700 900 900
Bulanan
Volume persediaan akhir Januari aktual

= Volume Produksi + Persediaan awal Volume Penjualan


= 700 + 300 625
= 375 unit

Volume persediaan akhir Februari aktual

= Volume Produksi + Persediaan awal Volume Penjualan


= 900 + 375 725
= 550 unit
Dalam ilustrasi diatas terlihat, bahwa PT.Mitra Prima
menganggarkan volume produksi sebesar 700 unit untuk bulan
Januari dan sebesar 900 unit untuk bulan Februari, dengan
jumlah persediaan sebesar 100 unit pada setiap akhir bulan.
Sedangkan persediaan awal Januari yang dimiliki diperkirakan
sebesar 300 unit. Anggaran tersebut disusun dengan asumsi,
jumlah produk yang dijual pada bulan Januari dan Februari
masing-masing sebesar 900 unit. Jika ternyata pada bulan
Januari penjualan aktual yang dilakukan perusahaan hanya
sebesar 625 unit, atau sebesar 275 unit lebih kecil dari volume
yang dianggarkan, hal itu mengakibatkan volume persediaan
akhir yang dimiliki menjadi sebanyak 375 unit, padahal volume
persediaan akhir yang dianggarkan adalah sebanyak 100 unit. Itu
terjadi karena perusahaan memproduksi barang sebanyak 700
unit sesuai anggaran. Volume persediaan pada akhir Januari akan
menjadi persediaan pada awal Februari. Jika perusahaan tetap
memproduksi sebanyak 900 unit pada bulan Februari (sesuai
anggaran tetap), sedangkan penjualan aktual yang dilakukan
perusahaan pada bulan Februari hanya sebesar 725 unit, hal itu
menyebabkan jumlah persediaan pada akhir bulan Februari
sebanyak 550 unit, padahal volume persediaan yang dianggarkan
sebanyak 100 unit (450 unit lebih banyak dari yang seharusnya).
Itu berarti terjadi penumpukan persediaan barang pada akhir
Januari dan Februari. Penumpukan barang lebih besar dari
volume yang diperlukan, berarti ketidakefisienan sumber daya
perusahaan.
Kedua ilustrasi tersebut disajikan untuk menunjukkan bahwa
menggunakan anggaran tetap sebagai tolok ukur satu-satunya
bagi pengendalian biaya produksi adalah sangat tidak tepat.
Perusahaan memerlukan anggaran produksi bulanan fleksibel
Januari Februari
Keterangan
Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi

Volume Penjualan 900 625 900


Volume Persediaan
100 ? 100
, akhir bulan
Volume Persediaan
1.000 1.000 1.000
siap dijual
Volume Persediaan
(300) (300) (375)
, awal bulan
Volume Produksi
700 700 625
Bulanan
Volume persediaan akhir Januari aktual

= Volume Produksi + Persediaan awal Volume


Penjualan
= 700 + 300 625
= 375 unit
Jika penjualan aktual yang dilakukan perusahaan lebih kecil dari
volume yang dianggarkan, hal ini akan mengakibatkan jumlah
persediaan pada akhir bulan lebih tinggi dari volume persediaan
yang dianggarkan. Maka sebaiknya perusahaan mengurangi volume
produksi yang dianggarkan pada bulan berikutnya. Supaya tidak
terjadi penumpukan persediaan pada akhir bulan tersebut. Dalam
ilustrasi diatas, perusahaan menganggarkan penjualan sebanyak
900 unit per bulan untuk bulan Januari dan Februari. Pada bulan
Januari penjualan aktual perusahaan adalah sebesar 625 unit.
Karena pada awal bulan tersebut produksi telah terlanjur dilakukan
(aktivitas produksi mendahului aktivitas penjualan), yaitu sebanyak
700 unit, maka hal itu akan mengakibatkan volume persediaan
akhir Januari sebanyak 375 unit. Jumlah tersebut lebih besar dari
volume persediaan akhir yang dianggarkan, yaitu sebanyak 100
unit. Penyesuaian anggaran baru dapat dilakukan pada bulan
berikutnya, Februari. Karena persediaan pada akhir Januari menjadi
persediaan pada awal Februari, maka persediaan akhir Januari
sebanyak 375 unit tersebut menjadi persediaan pada awal Februari.
Persediaan pada awal Februari tersebut kelebihan sebanyak 275
unit dari persediaan awal Februari yang dianggarkan. Supaya tidak
terjadi lagi penumpukan persediaan pada akhir Februari, maka
perusahaan dapat mengurangi volume produksi pada bulan
Februari. Jika jumlah persediaan sebanyak 100 unit merupakan
jumlah yang dianggap aman bagi perusahaan, maka pada bulan
Februari perusahaan harus menyesuaikan anggaran produksinya
dari semula 900 unit menjadi sebanyak 625 unit saja (berkurang
275 unit dari rencana semula 900 unit).
Anggaran Produksi Bulanan Fleksibel
Januari Februari
Keterangan
Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi

Volume Penjualan 900 980 900


Volume Persediaan ,
100 ? 100
akhir bulan
Volume Persediaan
1.000 1.000 1.000
siap dijual
Volume Persediaan ,
(300) (300) (20)
awal bulan
Volume Produksi
700 700 980
Bulanan
Volume persediaan akhir Januari aktual
= Volume Produksi + Persediaan awal Volume Penjualan
= 700 + 300 980
= 20 unit
Anggaran Biaya Produksi Fleksibel

Anggaran biaya produksi disusun setelah


perusahaan menyusun anggaran produksi terlebih
dulu. Sedangkan anggaran produksi disusun,
setelah perusahaan terlebih dulu menyusun
anggaran penjualan. Karena itu, anggaran biaya
produksi sangat dipengaruhi oleh anggaran
penjualan. Jika kemampuan perusahaan
merealisasikan target penjualannya berbeda
dengan jumlah yang telah disusun di dalam
anggaran penjualan, maka anggaran biaya
produksi yang telah disusun, tidak relevan lagi
untuk digunakan sebagai alat pengendalian biaya
bagi perusahaan. Karena itu, perusahaan perlu
membuat anggaran biaya produksi yang disusun
berdasarkan berbagai tingkat aktivitas produksi.
Anggaran Pemasaran Fleksibel

Besarnya biaya pemasaran yang dikeluarkan


perusahaan sangat dipengaruhi oleh besarnya
realisasi volume produk yang dijual perusahaan.
Semakin besar volume produk yang dijual
perusahaan, maka akan semakin besar pula biaya
pemasaran aktual yang dikeluarkan perusahaan.
Sebaliknya, semakin kecil volume produk yang
dapat dijual perusahaan, akan semakin kecil pula
biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh
perusahaan. Naiknya turunnya biaya pemasaran
tersebut dipengaruhi oleh biaya pemasaran
variabel yang dimiliki perusahaan.
Dari berbagai macam biaya pemasaran
yang mungkin dikeluarkan oleh suatu
perusahaan, harus dapat dipilah dengan
jelas, jenis-jenis biaya yang bersifat variabel
dan jenis biaya yang bersifat tetap. Biaya
pemasaran terdiri dari berbagai biaya
berikut beserta sifat dan perilakunya :
Perilaku Biaya
Jenis Biaya Faktor yang mempengaruhi
Tetap Variabel

Gaji staf administrasi penjualan. Tetap


Gaji wiraniaga. Tetap
Komisi wiraniaga. Variabel Volume penjualan
Gaji manajer pemasaran Tetap
Komisi manajer pemasaran Variabel Volume penjualan
Biaya iklan Variabel Frekwensi pemasangan iklan
Biaya pelatihan wiraniaga. Variabel Frekwensi pelatihan
Biaya telepon kantor pemasaran Tetap Variabel Jumlah pulsa yang dipakai
Biaya listrik kantor pemasaran Tetap Variabel Jumlah pemakaian listrik
Biaya depresiasi kantor pemasaran. Tetap
Biaya depresiasi kendaraan pemasaran. Tetap
Biaya alat tulis dan cetak kantor pemasaran Tetap
Biaya korespondensi Variabel Jumlah surat yang dikirim
Biaya angkut Variabel Jumlah produk yang dikirim
Contoh barang gratis Variabel Jumlah produk yang dibagikan
Biaya gudang Tetap
Biaya pengepakan dan pengiriman Variabel Jumlah produk yang dikemas
Biaya penagihan Variabel
Dari daftar diatas, terlihat bahwa biaya pemasaran
terdiri dari dua kelompok biaya, yaitu biaya tetap
dan biaya variabel. Kedua kelompok biaya tersebut
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berbeda.
Bahkan sesama biaya pemasaran variabel-pun
juga dipengaruhi oleh faktor yang berbeda. Tidak
semua biaya pemasaran dipengaruhi besarnya
volume penjualan. Tetapi berkaitan dengan
penyusunan anggaran pemasaran fleksibel,
perusahaan harus memilah dengan jelas kelompok
biaya pemasaran tetap dan kelompok biaya
pemasaran variabel yang dipengaruhi oleh volume
penjualan. Biaya pemasaran yang tidak
dipengaruhi secara langsung oleh volume
penjualan produk, lebih baik dikelompokkan ke
dalam kelompok biaya tetap. Hal itu dilakukan
untuk menentukan tarif biaya pemasaran variabel
per unit produk.
Biaya Administrasi & Umum

Biaya administrasi dan umum adalah biaya yang


tidak memiliki hubungan langsung dengan tingkat
aktivitas produksi dan tingkat aktivitas penjualan.
Karena itu, biaya administrasi dan umum
cenderung bersifat tetap.