Anda di halaman 1dari 21

Laporan kasus

Ahmad Wardiman

Pembimbing : Dr. Hj Sitti Musafirah, Sp.KK


Cutaneous larva migrans (CLM) adalah kelainan kulit yang
merupakan peradangan berbentuk garis lurus atau
berkelok-kelok, menimbul, dan progresif.1

Cutaneous larva migrans (CLM) (Ancylostoma braziliense,


Ancylostoma caninum, dan Ancylostoma ceylanicum). Di
Indonesia yang tersering adalah Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale.2,4
Identitas Pasien
Nama :LS
Umur : 33 tahun
Jenis Kelamin : Pria
Agama : Islam
Pekerjaan : PNS
Tanggal Pemeriksaan : 23/09/2017
RESUME
Seorang pasien datang ke di Poliklinik Kulit dan Kelamin Balai
Kesehatan Kulit, Kelamin, dan Kosmetika (BK4) kota makassar
Provinsi Sulawesi Selatan dengan keluhan muncul bintik
kemerahan berbentuk garis berkelok-kelok, polisiklik, awalnya
lesi timbul seperti gigitan nyamuk terasa panas dan gatal lalu
sempat reda dengan pemberian minyak gosok, kemudian
timbul garis merah berkelok-kelok dan terasa sangat gatal.
Keluhan telah dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Riwayat
pasien berkebun sehabis dari kerja, Riwayat alergi cuaca dingin
(+). Riwayat keluargaa yang mengalami hal yang sama tidak
ada. Kedaan umum sakit ringan, kesadaran compusmentis, gizi
baik, tanda-tanda vital dalam batas normal.
Pemeriksaan Fisis
Status generalis
Keadaan umum : ( Sakit ringan )
Kesadaran : ( compos mentis )
Gizi : ( lebih )
Hygiene : (cukup baik)

Status Dermatologi
Lokasi : Tungkai kiri
Ukuran : Miliar
Efloresensi : Papul eriematosa
Bentuk : polisiklik
Pengobatan
Sistemik
Albendazole 1x 400 mg

Topikal
Chloretil spray 45 1 menit
Cutaneous larva migrans (CLM) adalah kelainan
kulit yang merupakan peradangan berbentuk
garis lurus atau berkelok-kelok, menimbul, dan
progresif. Oleh akibat dari migrasi larva cacing
tambang (Ancylostoma braziliense, Ancylostoma
caninum, Ancylostoma ceylanicum, Necator
americanus dan Ancylostoma duodenale) ke
dalam kulit manusia.
Insidens yang sebenarnya sulit diketahui, di
Amerika Serikat (pantai Florida, Texas, dan
New Jersey) tercatat 6,7% dari 13.300
wisatawan mengalami CLM setelah
berkunjung ke daerah tropis. Hampir di semua
Negara beriklim tropis dan subtropis, misalnya
Amerika Tengah dan Amerika Selatan, Karibia,
Afrika, Australia dan Asia Tenggara, termasuk
Indonesia, banyak ditemukan CLM. Pada
invasi ini tidak terdapat perbedaan ras, usia,
maupun jenis kelamin.
Diagnosis CLM umumnya ditegakkan
berdasarkan gejala klinisnya yang khas dan
disertai dengan riwayat berjemur, berjalan
tanpa alas kaki di pantai atau aktivitas lainnya
di daerah tropis.
Skabies
Dermatofitosis
Herpez zoster stadium awal
Terapi oral :
R/ ivrmectin (200 g/kgBB) dosis tunggal atau diberikan

R/ albendazole 400mg dosis tunggal 5-7 hari

Terapi topical
Eithyl Chloride (Etil klorida) diberikan sampai kulit berwarna
putih/ beku selama 45 detik atau 1 menit.
R/ albendazole 10% 2x1 selama 7-10 hari
R/ tiabendazole 10-15% 3x1 selama 5-7 hari
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad Sanam : dubia ad bonam
Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam
Quo ad Cosmeticum : dubia ad bonam
Edukasi pada pasien dapat dilakukan tindakan untuk mencegah
kejadian CLM antara lain:

Mencegah bagian tubuh untuk berkontak langsung dengan tanah


atau pasir yang terkontaminasi dengan memakai alas kaki atau
celana panjang.
Saat menjemur pastikan handuk atau pakaian tidak
menyentuh tanah.
Melakukan pengobatan secara teratur terhadap anjing dan kucing
dengan antihelmintik.
Hewan dilarang untuk berada di wilayah pantai ataupun taman
bermain.
Menutup lubang-lubang pasir dengan plastik dan mencegah
binatang untuk defekasi di lubang tersebut.
Wisatawan disarankan untuk menggunakan alas kaki saat
berjalan di pantai dan menggunakan kursi saat berjemur.