Anda di halaman 1dari 44

ASPEK ETIKA DAN MEDIKOLEGAL PRAKTIK KEDOKTERAN

TAUFIK SURYADI

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP

MEDIKOLEGAL:

RELATING TO THE LAW CONCERNING MEDICAL QUESTIONS (Blacks Law Dictionary)

RUANG LINGKUP:

ETIK DISIPLIN PROFESI HUKUM: ADMINISTRASI, PIDANA, PERDATA

ETIK:

BERKAITAN DENGAN PENALARAN, PEMBENARAN DAN KONFLIK MORAL DIRI PRIBADI, DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN ETIS BERKAITAN DENGAN KONFLIK ANTARA INDIVIDU DENGAN PEER-GROUPNYA BERKAITAN DENGAN KONFLIK ANTARA INDIVIDU DENGAN MASYARAKAT (PUBLIK) ATAU DENGAN PERATURAN ATAU DENGAN INDIVIDU LAIN

DISIPLIN:

HUKUM:

ETIKA DAN HUKUM

NORMA ETIK :

NORMA HUKUM :

KAIDAH PRIBADI, DIBUAT MASYARAKAT, SIFAT IDEAL, TENTANG BAIKBURUK DALAM BENTUK KODE SANKSI MORAL

KAIDAH ANTARPRIBADI DIBUAT PENGUASA SIFAT AKTUAL TENTANG BENARSALAH PERATURAN PER-UUAN SANKSI DAPAT DIPAKSAKAN

DI DUNIA KEDOKTERAN SERING TUMPANG TINDIH

ETIK KEDOKTERAN

PENDEKATAN PENILAIAN ETIK

DEONTOLOGI (I. KANT)

BAIK-BURUK DIDASARKAN PADA TINDAKAN ITU SENDIRI SERINGKALI BERDASARKAN AGAMA, ADAT, DAN NORMA MASYARAKAT LAIN
BAIK-BURUK DIDASARKAN KEPADA HASIL AKHIRNYA KEPENTINGAN ORANG BANYAK DIUTAMAKAN

TELEOLOGI UTILITARIAN (J.S. MILLS)

PRINSIP MORAL PROFESI

AUTONOMY

MENGHORMATI HAK-HAK PASIEN BERORIENTASI KPD KEBAIKAN PASIEN TIDAK MEMPERBURUK PASIEN NON DISKRIMINASI / KEADILAN DISTRIBUTIF

BENEFICENCE

NON MALEFICENCE (DO NO HARM)

JUSTICE

PRINSIP MORAL TURUNAN

VERACITY

KEBENARAN, TRUTHFULL INFORMATION


KESETIAAN MENGHORMATI NILAI PRIBADI PASIEN MENJAGA KERAHASIAAN PASIEN

FIDELITY

PRIVACY

CONFIDENTIALITY

PENYIMPANGAN NORMA ETIK

PENGECUALIAN (DILEMMA ETIK):

DAPAT DIBENARKAN BILA ADA FAKTOR PEMBENARNYA (Rechtvaardigingsgrond)

TERMINASI KEHAMILAN KARENA MELAKUKAN TINDAKAN MENOLONG NYAWA IBUNYA

DAPAT DIMAAFKAN KESALAHANNYA BILA ADA FAKTOR PEMAAFNYA (Schuldopheffingsgrond)

TAK BICARA BENAR KARENA TAKUT MEMPERBURUK KEADAAN PASIEN

DELICT,

BILA TAK ADA FAKTOR PEMBENAR / PEMAAF TIDAK SELALU DIADUKAN

TINDAKAN KOREKTIF
PELANGGARAN ETIK & DISIPLIN

PERSIDANGAN:

KOMITE ETIK / KOMITE MEDIK RS MKEK IDI MDTK


MELANGGAR ATAU TIDAK SANKSI :

PUTUSAN :

TEGURAN LISAN / TERTULIS SKORSING, ALIH TUGAS RE-EDUKASI / RESCHOOLING REKOMENDASI PENCABUTAN IJIN PRAKTEK

HUBUNGAN DOKTER-PASIEN

HUB. DOKTER - PASIEN

PATERNALISTIK (dasar: kepercayaan?)

Prinsip utama : Beneficence Meniadakan hak pasien (consent) Mulai dikritik tahun 1956
Mulai tahun 1972-1975 (social contract) Prinsip utama : Otonomi Pasien dianggap sejajar dengan dokter, walau tetap memiliki sisi lemah

KONTRAKTUAL

KONTRAK TERAPEUTIK

ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN KURANG SEIMBANG YANG DIPERJANJIKAN HANYA UPAYA

INSPANNINGSVERBINTENNIS RESULTAATSVERBINTENNIS

TIDAK MENJANJIKAN HASIL

MASIH TERDAPAT PELUANG ABUSE HARUS DIJAGA DENGAN ATURAN

ETIK, DISIPLIN DAN HUKUM

HUB. DOKTER-PASIEN (cont..)

KRITIK TERHADAP KONTRAKTUAL :


Bukan negosiasi eksplisit Bukan ekspektansi eksplisit Terlalu materialistik, bukan etika Melupakan faktor sistem sosial Terlalu legalistik : kewajiban dan peraturan Terfokus prinsip otonomi Cenderung meminimalkan mutu hubungan

DISEBUT : BOTTOM-LINE ETHICS

HUB. DOKTER-PASIEN (cont..)

FIDUCIARY : VIRTUE BASED ETHICS

Mendasarkan kepada prinsip-prinsip moral keutamaan Bukan sekedar kewajiban dan peraturan, melainkan juga bagaimana bersikap sebaiknya empathy, compassion, perhatian, keramahan, kemanusiaan, saling mempercayai, itikad baik, dll Hubungan : tumbuh - kembang, bertujuan mensejahterakan pasien Diperlukan komunikasi yang baik

HUBUNGAN HUKUM DOKTER-PASIEN

IUS DELICTU

HUBUNGAN HUKUM AKIBAT ATURAN PERUNDANGUNDANGAN MIS : RAHASIA KEDOKTERAN HUBUNGAN HUKUM AKIBAT KONTRAK TERAPEUTIK MIS : KEWAJIBAN MEMENUHI UPAYA MAKSIMAL / TERBAIK
MENIMBULKAN HAK DAN KEWAJIBAN PADA KEDUA PIHAK

IUS CONTRACTU

HAK PASIEN

Declaration of Lisbon (1991) : The Rights of the patient UU No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan UU No 29/2004 tentang Praktek Kedokteran SE Ditjen Yanmed Depkes RI No YM.02.04.3.5.2504 : Pedoman Hak dan kewajiban pasien, dokter dan RS Deklarasi Muktamar IDI : Hak dan kewajiban pasien dan dokter

HAK PASIEN MENURUT Declaration of Lisbon

Hak memilih dokter Hak dirawat dokter yang bebas Hak menerima / menolak pengobatan setelah menerima informasi Hak atas kerahasiaan Hak mati secara bermartabat Hak atas dukungan moral / spiritual

HAK PASIEN MENURUT UU Kesehatan

HAK ATAS HAK ATAS HAK ATAS HAK ATAS MEDIS HAK ATAS HAK ATAS

INFORMASI SECOND OPINION KERAHASIAAN PERSETUJUAN TINDAKAN PELAYANAN KESEHATAN GANTI RUGI

HAK PASIEN MENURUT UU PRAKTIK KEDOKTERAN

MEMPEROLEH PENJELASAN MEMINTA PENDAPAT KEDUA MENDAPAT PELAYANAN SESUAI KEBUTUHAN MEDIS MENOLAK TINDAKAN MEDIS MENDAPATKAN ISI REKAM MEDIS

KEWAJIBAN PASIEN MENURUT UU PRAKTIK KEDOKTERAN


BERI INFO YG LENGKAP DAN JUJUR MEMATUHI NASIHAT DAN PETUNJUK MEMATUHI KETENTUAN SARKES MEMBERI IMBALAN JASA

HAK DOKTER

KEBEBASAN PROFESI MENOLAK MELAKUKAN BILA:


TAK SESUAI PROFESI TAK SESUAI HATI NURANI

PRIVACY MENGHENTIKAN HUBUNGAN DR-PASIEN, KECUALI DARURAT ATAU TAK ADA PENGGANTINYA TERIMA IMBALAN JASA

HAK DOKTER MENURUT UU PRAKTIK KEDOKTERAN

PERLINDUNGAN HUKUM SEPANJANG SESUAI STANDAR PROFESI & S.O.P MELAKSANAKAN SESUAI S.P & S.O.P MEMPEROLEH INFO YG JUJUR & LENGKAP DARI PASIEN/KELUARGA MENERIMA IMBALAN JASA

KEWAJIBAN DOKTER

KEWAJIBAN PROFESI

STANDAR KOMPETENSI STANDAR PERILAKU : SUMPAH DAN ETIK STANDAR PELAYANAN MEDIS
MEMENUHI HAK PASIEN PATUHI HUKUM, TERMASUK ADMINISTRATIF

KEWAJIAN AKIBAT KONTRAK

KEWAJIBAN SEBAGAI WARGANEGARA

KEWAJIBAN DOKTER MENURUT

UU PRAKTIK KEDOKTERAN

BERI YANMED SESUAI S.P. & SOP, SERTA KEBUTUHAN MEDIS PASIEN MERUJUK BILA TAK MAMPU MERAHASIAKAN PERTOLONGAN DARURAT, KECUALI BILA YAKIN ADA ORANG LAIN YG BERTUGAS DAN MAMPU MENAMBAH IPTEKDOK

STANDAR PELAYANAN

WAJIB MENGIKUTI STANDAR YAN STANDAR YANDOK: DIBEDAKAN MENURUT JENIS & STRATA SARKES STANDAR YANDOK: DITETAPKAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN

UU PRA-DOK

PER-TIN-DIK

TINDIK HARUS DISETUJUI PASIEN, SETELAH DIBERI PENJELASAN:


DIAGNOSIS DAN TATA CARA TINDIK TUJUAN TINDIK ALTERNATIF DAN RISIKO RISIKO DAN KOMPLIKASI YG MUNGKIN PROGNOSIS TINDIK

PERSETUJUAN : LISAN/ TERTULIS TINDIK RISIKO TINGGI: TERTULIS SELANJUTNYA: PERATURAN MENTERI
UU PRA-DOK

ELEMEN-ELEMEN
THRESHOLD ELEMENTS
1. 2.

(PRECONDITIONS)

COMPETENCE (TO UNDERSTAND & DECIDE) VOLUNTARINESS (IN DECIDING) DISCLOSURE (OF MATERIAL INFORMATION) RECOMMENDATION (OF A PLAN) UNDERSTANDING (OF 3 AND 4) DECISION (IN FAVOR OF A PLAN) AUTHORIZATION (OF THE CHOSEN PLAN)
BEAUCHAMP & CHILDRESS, 1994

INFORMATION ELEMENTS
3. 4. 5.

CONSENT ELEMENTS
6. 7.

REKAM MEDIS

WAJIB MEMBUAT REKAM MEDIS HARUS SEGERA DIBUAT, DIBUBUHI NAMA, WAKTU, TTD PETUGAS REKAM MEDIS MILIK SARKES, ISINYA MILIK PASIEN HARUS DISIMPAN SBG RAHASIA SELANJUTNYA PERATURAN MENTERI
UU PRA-DOK

KEPEMILIKAN INFORMASI
TRADITIONAL VIEW MODERN VIEW FUTURE VIEW

HEALTH-CARE PROVIDER OWNS MEDICAL RECORD

WHILE HEALTHCARE PROVIDER OWNS THE MEDICAL RECORD, PATIENT POSSESSES RIGHT OF ACCESS

HEALTH INFORMATION HELD IN TRUST BY HEALTH-CARE PROVIDER FOR THE BENEFIT OF THE PATIENT

GENERAL RULE: MEDICAL RECORD AS A MEDIUM IS OWNED BY THE HEALTH-CARE PROVIDER, WITH THE PATIENT POSSESSING A LIMITED PROPERTY INTEREST IN THE HEALTH INFORMATION CONTAINED THEREIN
McWAY DC, Legal Aspects of health information management, 1997

HAK MENGAKSES REKAM MEDIS PASIEN

JANGAN SAMPAI MEMPERBURUK KEADAAN PASIEN (NON MALEFICENCE PRINCIPLE)

DIDAMPINGI DOKTER / NA-KES INFO DARI PASIEN INFO HASIL DEDUKSI / INFERENSI ILMIAH, KOMUNIKASI ANTAR DOKTER HANYA 28 STATES MEMBERI HAK AKSES RM PSIKIATRIS TAK DAPAT DIAKSES

BENARKAH SELURUH ISI RM MILIK PASIEN?


DI A.S.:

RAHASIA KEDOKTERAN

WAJIB SIMPAN RAHASIA KEDOKTERAN DAPAT DIBUKA:


KEPENTINGAN KESEHATAN PASIEN PERMINTAAN PENEGAK HUKUM PERMINTAAN PASIEN PERUNDANG-UNDANGAN

LEBIH LANJUT: PERATURAN MENTERI

UU PRA-DOK

KERAHASIAAN DAN PRIVACY


DIATUR DALAM : SUMPAH DOKTER / TENAGA KESEHATAN KODE ETIK TENAGA KESEHATAN P.P. NO 10 TAHUN 1966 PASAL 322 KUHP UU KESEHATAN PERBUATAN MELAWAN HAK (perdata)

PP 10 TAHUN 1966

PS 1 : RAHASIA KEDOKTERAN ADALAH SEGALA SESUATU YANG DIKETAHUI SELAMA MELAKUKAN PEKERJAAN DI BIDANG KEDOKTERAN PS 2 : PENGETAHUAN TSB WAJIB DISIMPAN SEBAGAI RAHASIA OLEH ORANG PADA PS.3. , KECUALI ADA PP/UU YANG MENGATURNYA LAIN

PENGUNGKAPAN

ATAS IJIN / OTORISASI PASIEN MENJALANKAN UU (PS 50 KUHP) PERINTAH JABATAN (PS 51 KUHP) BELA DIRI (PS 49 KUHP) DAYA PAKSA (PS 48 KUHP) KONSULTASI PROFESIONAL PENDIDIKAN DAN PENELITIAN

PENYEBAB SISTEMIK LAIN

PEMBOLEHAN DOKTER BEKERJA DI BANYAK TEMPAT, MUTU HUBUNGAN DOKTER-PASIEN MENURUN MAHALNYA PENDIDIKAN DOKTER SISTEM PEMBIAYAAN: KEPUTUSAN PADA DOKTER KEPRIBADIAN AWAL (?)

PENYEBAB ACTIVE ERRORS

KURANG KOMPETENSI DAN/ATAU KETIDAKTAHUAN

PRINCIPLES SITUATIONAL AWARENESS UNUSUAL EVENT RISIKO YG MENGUNTUNGKAN CEROBOH

KURANG KEHATI-HATIAN

PENCEGAHAN SISTEMIK

PENDIDIKAN ETIK KEDOKTERAN

LEBIH DINI, LEBIH KE ARAH TOOLS, BANYAK LATIHAN PEMBUATAN KEPUTUSAN ETIK, PAPARAN ETIKA KLINIK, KOMUNIKASI, TELADAN

LATIHAN DAN TELADAN DI BIDANG PROFESIONALISME DAN ALTRUISME

CEGAH SIKAP MATERIALIS

PENCEGAHAN SISTEMIK

UU PRAKTEK KEDOKTERAN

STANDAR PENDIDIKAN, STANDAR KOMPETENSI, REGISTRASI, LISENSI STANDAR PELAYANAN MEDIS DAN SOP PENEGAKAN DISIPLIN PROFESI
MDTK MKDKI

PERATURAN GOOD CLINICAL GOV

PENCEGAHAN MIKRO
TINGKAT RS DAN INDIVIDU

PATUHI KEWAJIBAN, CEGAH PELANGGARAN

ETIK, STANDARS, KOMUNIKASI OTONOMI : REGULATING, GOVERNING, DISCIPLINING REASONABLE CARE, COMMUNICATION, COMPETENCE INDIKASI, INFORMED CONSENT, REKAM MEDIS

PENCEGAHAN MIKRO
TINGKAT RS DAN INDIVIDU

CEGAH RISIKO / TINGKATKAN MUTU


QUALITY ASSURANCE RISK MANAGEMENT REKAM MEDIS (DAS SEIN) vs STANDAR / S.O.P. (DAS SOLLEN) ASURANSI PROFESI

SIAPKAN BUKTI HUKUM

ALIHKAN RISIKO

PENYELESAIAN KASUS

TINGKAT INSTITUSI / RUMKIT:

KE DALAM BERTUJUAN UNTUK MENCEGAH KEJADIAN SERUPA DI KEMUDIAN HARI KE LUAR BERTUJUAN MENEMUKAN CARA PENYELESAIAN KASUS YANG EFEKTIF DAN EFISIEN

PENYELESAIAN KASUS

HUKUM PIDANA:

PELAKU + PENYURUH + PEMBUJUK + PEMBANTU + BERSAMA2 PENYIDIK PENUNTUT UMUM - PENGADILAN LITIGASI DI PENGADILAN PERDATA NON LITIGASI : A.D.R. (DAMAI), KOMISI KONSILIASI DI MDTK MDTK / MKDKI / MKEK

GANTI RUGI:

DISIPLIN DAN ETIK:

KESIMPULAN

MEDIKOLEGAL BERARTI MELIPUTI ETIK, DISIPLIN DAN HUKUM PELAYANAN KEDOKTERAN MERUPAKAN SISTEM YG KOMPLEKS DAN TIGHTLY COUPLED, SELALU MENGANDUNG RISIKO, SEHINGGA HARUS DILAKUKAN DENGAN KEHATI-HATIAN YG TINGGI