KERATITIS
(Dendritik, Geografik, Satelit, Numuler, Punctanta)
Definisi
Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea yang akan
mengakibatkan kornea menjadi keruh. Akibat terjadinya kekeruhan pada media kornea ini,
maka tajam penglihatan akan menurun
Etiologi
Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya:
• Virus, Bakteri, Jamur.
• Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari.
• Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.
• Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidak cukupnya pembentukan
air mata.
• Adanya benda asing di mata.
• Reaksi terhadap obat seperti neomisin, tobramisin, polusi, atau partikel udara seperti debu,
serbuk sari
Klasifikasi
Menurut Biswell (2010), keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal.
• Berdasarkan lapisan yang terkena, keratitis dibagi menjadi:
1. Keratitis Pungtata (Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata Subepitel)
Keratitis pungtata adalah keratitis dengan infiltrat halus pada kornea yang dapat terletak
superfisial dan subepitel
Etiologi
• Keratitis Pungtata ini disebabkan oleh hal yang tidak spesifik dan dapat terjadi pada
Moluskum kontangiosum, Akne rosasea, Herpes simpleks, Herpeszoster, Blefaritis
neuroparalitik, infeksi virus, vaksinisia, trakoma, trauma radiasi, dry eye, keratitis
lagoftalmos, keracunan obat seperti neomisin, tobramisin dan bahaya pengawet lainnya
Gejala klinis
• rasa sakit,
• silau,
• mata merah, dan
• Merasa kelilipan.
Diagnosis
• Anamnesis
• Px visus mata
• Px fluoreciens (positif)
• Px sensibilitas kornea (umumnya menurun)
Tatalaksana
• Untuk virus dapat diberikan idoxuridin, trifluridin atau asiklovir.
• Untuk bakteri gram positif pilihan pertama adalah cafazolin, penisilin G atau vancomisin dan
bakteri gram negatif dapat diberikan tobramisin, gentamisin atau polimixin B. Pemberian
antibiotik juga diindikasikan jika terdapat sekret mukopurulen yang menunjukkan adanya
infeksi campuran dengan bakteri.
• Untuk jamur pilihan terapi yaitu natamisin, amfoterisin atau fluconazol.
2. Keratitis jamur
Infeksi jamur pada kornea yang dapat disebut juga mycotic keratitis
Etiologi
Menurut Susetio (1993), secara ringkas dapat dibedakan :
• Jamur berfilamen (filamentous fungi) : bersifat multiseluler dengan cabang-cabang hifa.
• Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp, Cladosporium sp, Penicillium
sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp, Curvularia sp, Altenaria sp.
• Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.
• Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas : Candida albicans,
Cryptococcus sp, Rodotolura sp.
• Jamur difasik. Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang media pembiakan membentuk
miselium : Blastomices sp, Coccidiodidies sp, Histoplastoma sp, Sporothrix sp.
Gejala klinis
Menurut Susetio (1993) untuk menegakkan diagnosis klinik dapat dipakai pedoman berikut :
• Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama.
• Lesi satelit.
• Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan seperti hifa di bawah
endotel utuh.
• Plak endotel.
• Hipopion, kadang-kadang rekuren.
• Formasi cincin sekeliling ulkus.
• Lesi kornea yang indolen.
Tatalaksana
Belum diidentifikasi jenis jamur penyebabnya.
• Topikal amphotericin B 1,02,5 mg/ml, thiomerosal (10 mg/ml), natamycin > 10 mg/ml,
golongan imidazole.
• Jamur berfilamen.
Untuk golongan II : Topikal amphotericin B, thiomerosal, natamycin (obat terpilih),
imidazole (obat terpilih).
• Ragi (yeast).
Amphoterisin B, natamycin, imidazole
• Golongan Actinomyces yang sebenarnya bukan jamur sejati.
Golongan sulfa, berbagai jenis antibiotik.
3. Keratitis Virus
Etiologi
Herpes simpleks virus (HSV) merupakan salah satu infeksi virus tersering pada kornea. Virus
herpes simpleks menempati manusia sebagai host, merupakan parasit intraselular obligat
yang dapat ditemukan pada mukosa, rongga hidung, rongga mulut, vagina dan mata.
Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung,
mulut, alat kelamin yang mengandung virus
Gejala Klinis
• nyeri pada mata, fotofobia,
• mata berair,
• mata merah,
• tajam penglihatan turun terutama jika bagian pusat yang terkena
Pemeriksaan laboratorium
Dilakukan kerokan dari lesi epitel pada keratitis HSV dan cairan dari lesi kulit
mengandung sel-sel raksasa. Virus ini dapat dibiakkan pada membran korio-allantois embrio
telur ayam dan pada banyak jenis lapisan sel jaringan (misal sel HeLa, tempat terbentuknya
plak-plak khas)
Tatalaksana
• IDU (Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam larutan 1% dan diberikan setiap jam,
salep 0,5% diberikan setiap 4 jam).
• Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep.
• Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1% setiap 4 jam.
• Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4 jam.
• Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata berat, khususnya pada orang atopi yang
rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif
• Debridement
Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epithelial, karena virus
berlokasi didalam epitel. Debridement juga mengurangi beban antigenik virus pada stroma
kornea. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik
seperti atropin 1% atau homatropin 5% diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup
dengan sedikit tekanan.