Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN

GERONTIK DENGAN BPH

MERI ENJELINA
1563030003
LATAR BELAKANG

Populasi lanjut usia meningkatkan juga yaitu pada


tahun 19990 jumlah penderita 60 tahun katas
mencapai lebih kurang 10 juta jiwa atau dapat di
katakan 5,5% dari total populasipenduduk di
Indonesia. Sedangkan di tahun 2020 nanti
diperkirakan meningkat 3 kali menjadi lebih kurang
29 juta jiwa atau sebanyak 11,4% dari total populasi
Indonesia
KONSEP KEPERAWATAN GERONTIK
PENGERTIAN

Gerontologi adalah suatu cabang


ilmu mempelajari tentang penyakit
atau kecacatan yang terjadi pada
lanjut usia.
TUJUAN KEP. GERONTIK

Mempertahankan
derajat kesehatan para
lanjut usia

Memelihara kondisi
kesehatan dengan Memelihara
aktivitas-aktivitas fisik kemandirian secara
dan mental maksimal

Mengenal dan Untuk memberikan


menegakkan diagnosa bantuan yang simpatik
yang tepat dan dini dan perawatan dengan
penuh pengertian
ASKEP GERIATRIK

 Aspek Biologis :
Perubahan pada sel :
Mengurangnya Parenchym
Ketidakteraturannya besarnya sel
Ketidakteraturannya jumlah sel

Perubahan pada saraf :


Pengurangan crometin
Penambahan pygment lifopuscin
Vakuolisasi proto plasma sel
Pengurangan organel-organel
Pengurangan mitochondria
LANJUTAN
 ASPEK PSIKOLOGI :
Sindrom kehilangan salah satu fungsi keinginan seperti :
 Ingin panjang umur
 Ingin menghemat tenaga
 Ingin tetap berperan sosial
 Ingin mempertahannkan hak dan hartanya
 Ingin tetap berwibawa
 Ingin meninggal secara hormat
 Ingin masuk sorga

 ASPEK SOSIAL
 ASPEK EKONOMI
 ASPEK KESEHATAN
SIFAT PELAYANAN KESEHATAN GERONTIK
 Independen (Mandiri)
Dalam melakukan asuhan keperawatan dapat dilakukan secara
madniri keperawatan
 Interdependen
Dalam melakukan asuhan keperawatan bekerja sama dengan
petugas kesehatan lainnya.
 Humanistik
Dalam melakukan asuhan keperawatan memandang lansia
sebagai makhluk yang mempunya karakteristik
 Holistik
Dimana lansia memiliki kebutuhan yang utuh baik bi -spiko-sosial
dan spiritual yang mempunyai karakteristik yang berbeda antara
yang satu dengan yang lainnya.
LINGKUP
ASKEP

1. Pencegahan ketidakmampuan
sebagai akibat proses penuaan
2. Perawatan untuk pemenuhan
kebutuhan lanjut usia akibat proses
penuaan
3. Pemulihan untuk mengatasi
keterbatasan lanjut usia
PERAN DAN FUNGSI PERAWAT

 Sebagai care giver atau pemberi asuhan secara


langsung
 Sebagai pendidik lansia keluarga dan masyarakat
 Sebagai motivator dan inovator bagi lansia
 Sebagai advokator bagi lansia
 Sebagai koncelor bagi lansia
MITOS-MITOS LANJUT USIA
PERUBAHAN MENTAL PADA LANSIA

 Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :


 Perubahan fisik terutama organ-organ perasan
 Kesehatan umum
 Tidak pendidikan
 Keturunan (hereditar)
 Lingkungan
LANSIA DENGAN DIAGNOSA BPH

 Pengertian
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50
tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi
uretral dan pembatasan aliran urinalius (Marilynn,
E.D, 2000, dalam Reny Yuli .A, 2014)
ETIOLOGI

 Dihydrotestosteron, peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor


androgen menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat
mengalami hiperplasia .
 Perubahan Keseimbangan Hormon Estrogen -Testosteron, pada
proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan
penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasia
stroma dan epitel
 Interaksi Stroma-epitel, peningkatan epidermal growth factor atau
fibroblast growth factor dan penurunan transforming growth beta
menyebabkan hiperplasia stroma dan epite.
 Berkurang sel yang mati, estrogen yang meningkat menyebabkan
peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.
PATOFISIOLOGI

 Sejalan dengan bertambahnya umur, kelenjar prostat akan


mengalami hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas
keatas (bladder), didalam mempersempit saluran uretra
prostatica dan menyumbat aliran urin. Keadaan ini dapat
meningkatkan tekanan intravesikal.
 Fase Dekompensasi yang masih akut menimbulkan rasa nyeri
dari dalam beberapa hari menjadi kronis dan terjadilah
inkontinensia urin secara berkala akan mengalir sendiri tanpa
dapat dikendalikan, sedangkan buli -buli tetap penuh. Puncak
dari kegagalan kompensasi adalah ketidakmampuan otot
destrusor memompa urin dan menjadi retensi urin. Retensi urin
yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal.
MANISFESTASI KLINIS

 Gejala Objektif :
1. BAK yg disertai dengan mengejan
2. Terputus-tupusnya aliran BAK
3. Kelemahan
4. Rasa tidak puas saat BAK

 Gejala Iritasi
1. Urgency (sulit menahan BAK)
2. Disuria
DERAJAT BPH
 Derajat I
1. Keluhan prostatism e
2. Ditemuk an penonjolan prostat 1 -2 cm, berat ±20 gr
3. Sisa urin kurang 50 cc
4. Pancaran lemah dan nocturia
 Derajat II
1. Keluhan mik si terasa panas, sakit, disuria, nocturia bertamb ah berat
2. Panas tingga (mengg ig il)
3. Nyeri daerah pinggang
4. Prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba, sisa urin 50 -100 cc dan
beratn ya +20 -40 gr
 Derajat III
1. Gangguan lebih berat dari derajat II
2. Batas sudah tak teraba
3. Sisa urin lebih 100 cc
4. Penonjolan prostat 3 -4 cm dan beratnya 40 gr
 Derajat IV
1. Inkontinen sia
2. Prostat lebih menon jo l dari 4 cm
3. Ada penyulit keginjal seperti gagal ginjal, hydronef rosia.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Laboratorium
 Flowmetri (untuk mengukur pancaran urin)
 Radiologi
 Kateterisasi
PENATALAKSANAAN

Terapi modalitas pada BPH adalah :


 Watchful (observasi)
Yaitu pengawasan berkala pada klien tiap 3 -6 bulan
kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien
 Medikamentosa
Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan,
sedang dan berat tanpa disertai penyulit serta indikasi terapi
pembedahan tetapi masih terdapat kontraindikasi atau
belum.
KOMPLIKASI

 Urinary traktus infection


 Retensi urin akut
 Obstruksi dengan dilatasi uretra, hydronefrosis dan
gangguan fungsi ginjal
 Bila terjadinya operasi :
 Impetensi (kerusakan nefron pudendes)
 Hemoragic pasca bedah
 Fistula
 Striktur pasca bedah
 Inkontinensia urin
ASUHAN KEPERAWATAN
GERONTIK
PENGKAJIAN

 Identitas
Identitas klien yang biasa dikaji pada penyakit sistem perkemihan adalah
usia, karena ada beberapa penyakit perkemihan banyak terjadi pada klien
diatas usia 50th.
 Keluhan Utama
Keluhan utama yang paling sering ditemukan pada klien dengan penyakit
perkemihan seperti : infeksi saluran kemih, inkontinensia urin dan BPH
adalah klien nyeri saat berkemih, urin keluar tidak terkontrol atau urin
keluar menetes (retensio urin)
 Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat kesehatan saat ini berupa uraian mengenai penyakit yang diderita
oleh klien mulai timbulnya keluhan yang dirasakan sampai klien dibawa
ke Rumah Sakit.
 Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat kesehatan yang lalu seperti riwayat penyakit pada perkemih
sebelumnya, riwayat pekerjaan pada pekerja yang berhubungan dengan
adanya riwayat penyakit saluran kemih.
 Riwayat Penyakit Keluarga
Yang perlu dkaji apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit yang
sama karena faktor genetik/keturunan.
 Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Keadaan umum klien lansia yang mengalami gangguan
perkemihan biasanya lemah.
Kesadaran : Kesadaran pasien biasanya CM, Apatis sampai Somnolen
 Tanda-tanda vital
 Pemeriksaan Review Of System (ROS)
1. Sistem pernapasan, dapat ditemukan peningkatan frekuensi nafas atau
bisa batas normal.
2. Sistem sirkulasi, kaji adanya penyakit jantung, frekuensi nadi apikal,
sikulasi perifer, warna dan kehangatan.
3. Sistem persyarafan, kaji adanya hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot,
terlihat kelemahan,/hilang fungsi.
4. Sistem perkemihan, perubahan pola berkemih, seperti inkontinensia urin,
disuria, distensi kandung kemih, warna, bau dan kebersihannya.
5. Sistem pencernaan. Konstipasi, konsistensi feces, frekuensi eliminasi,
auskultasi bising usus, anoreksia, adanya distensi abdomen dan nyeri
tekan abdomen.
6. Sistem muskluloskeletal, kaji adanya nyeri berat tiba -tiba/mungkin
terlokalisasi pada area jaringan.
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Nyeri akut b/d Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)


Kriteria Hasil :
 Klien dapat mengetahui penyebab nyeri
 Klien mampu mengenal tanda -tanda pencetus nyeri
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri
Intervensi :
 Kaji secara konprehensif tentang nyeri, meliputi : lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas.
 Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan,
khususnya tidakmampuan berkomunikasi secara efektif
 Gunakan komukasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan
nyeri
 Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga.
 Libatkan keluarga untuk mengurangi nyeri
 Berikan analgetik yang tepat waktu terutama pada saat nyeri hebat.
Hipertemi b/d proses infeksi pada saluran kemih
Kriteria Hasil :
 Suhu kulit dalam batas normal
 Tidak sakit kepala
 Nadi dalam batas normal
 Tidak ada perubahan warna kulit
Intervensi :
 Monitor suhu secara kontinyu (setiap 2 jam)
 Monitor warna dan suhu kulit
 Monitor tekanan darah, nadi dan RR
 Monitor intake dan output
 Kompres klien pada lipatan paha atau axila
 Berikan antipiretik jika perlu
Inkontinensia urin b/d kelamahan otot pelvis dan penyangganya,
perubahan degeneratif
Kriteria Hasil :
 Klien mengenali urgensi berkemih
 Klien menunjukkan keedukuatan waktu untuk mencapai kamar mandi
 Klien mampu berkemih secara mandiri
Intervensi :
 Monitor eliminasi urin termasuk frekuensi konsistens, bau, volume
dan warna dengan tepat.
 Monitor tanda dan gejala retensio urin
 Intruksikan klien/keluarga untuk mencata haluaran urin bila
diperlukan
 Ajarkan klien ntuk minum 200ml cairan pada saat makan, diantara
waktu makan dan diawal petang
 Bantu klien untuk mengembangkan kebiasaan berkemih sesuai
kebutuhan
Retensio urin b/d adanya kelemahan destrusor, adanya obstruksi
Kriteria Hasil :
 Klien menunjukan bau, warna dan jumlah urin dalam rentang normal
 Tidak ada hematuria
 Klien menunjukan pengeluaran urin tanpa adanya nyeri
Intervensi :
 Identifikasi penyebab multifaktorial inkontinensia (seperti: output urin,
pola berkemih, fungsi kognitif, masalah pengeluaran urin, dan
pengobatan)
 Berikan privasi untuk klien
 Berikan waktu yang cukup untuk mengosongkan kandung kemih 10
menit
 Monitor derajat disentesi kandung kemih dengan palpasi atau perkusi
 Lakukan pemasangan kateter sesuai kebutuhan
Resiko infeksi b/d prosedur invasif
Kriteria Hasil :
 Status gastrointestinal dalam batas normal
 Status respirasi dalam batas normal
 Suhu tubuh dalam batas normal
Intervensi :
 Ganti peralatan klien setelah melakukan tindakan
 Batasi jumlah pengunjung
 Anjurkan dan ajarkan klien,keluarga dan pengunjung
untuk mencuci tangan dengan tepat
 Tingkatkan asupan nutrisi dan cairan
 Anjurkan istirahat
Kurangnya pengetahuan b/d kurang paparan, mudah
lupa, misinterpretasi informasi
Kriteria Hasil :
 Menjelaskan proses penyakitnya
 Menjelaskan tanda dan gejala penyakitnya
Intervensi :
 Kaji tingkat pengetahuan pasien
 Berikan pengajaran sesuai dengan tingkat pemehaman
klien
 Berikan informasi kepada klien tentang kondisinya
 Ikut sertakan keluarga atau anggota keluarga lain bila
memungkinkan
Defisit perawatan diri: Mandi/kebersihan b/d kelemahan, adanya
nyeri, ganguan neurovaskuler
Kritesial Hasil :
 Klien menerima bantuan atau perawatan total dari pemberi perawatan jika
diperlukan
 Klien mengungkapkan secara verbal tentang kebersihan tubuh dan hygine
mulut.
Intervensi :
 Kaji kemampuan klien untuk menggunakan alat bantu
 Pantau adanya perubahan kemampuan fungsi
 Pantau kemampuan klien untuk melakukan perawatan diri secara
mandiri
 Bantu pasien sampai pasien bisa melakukan perawatan diri
 Dukung kemandirian dalam melakukan mandi dan hygine mulut,
bantu klien hanya jika diperlukan.
KESIMPULAN