Anda di halaman 1dari 98

HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA

Oleh ;

Drs. Afdzal Dzikri, S.H., M.H.

Afdal Dzikri 1
PENGERTIAN

1.Prof. Dr. Sudikno Mertakusumo,


SH.
Peraturan hukum yang mengatur
bagaimana caranya menjamin
ditaatinya hukum perdata materil
dengan perantara hakim.

afdal dzikri 2
2. Prof .Dr. Wiryono Prujodikoro, SH.
Rangkaian peraturan-peraturan yang
memuat cara bagaimana orang harus
bertindak di muka pengadilan dan
cara bagaimana pengadilan harus
bertindak satu sama lain untuk
melaksanakan berjalannya peraturan

afdal 3
3. Prof. Dr. Abdul Manan, SH.S.I.P
M.Hum.
Hukum yang mengatur tentang tata
cara mengajukan gugatan kepada
pengadilan, bagaimana tergugat
mempertahankan diri dari gugatan
penggugat, bagaimana para hakim
bertindak baik sebelum dan sedang
pemeriksaan dilakukan dan bagaimana
cara hakim memutus perkara yang
diajukanm oleh penggugat tersebut,
serta bagaimana cara melaksanakan 4
afdal dzikri
II. SUMBER HUKUM ACARA
PENGADILAN AGAMA

Berdasarkan Pasal 54 UU nomor 3 tahun 2006,


maka sumber acara pengadilan agama :
1. Het Herziene Indonesich Reglement ( HIR )

2. Rechtsreglement Buitengewesten ( Rbg )

3. Reglement of de Burgerlijke Rechtsvorderring


( RV )
4. Burgerlijke wet booK ( BW )

afdal dzikri 5
5. Peraturan peundang-undangan
a. Undang-Undang Nomor 20 tahun 1947
b. Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004.
c. Undang-Undang Nomor 5 tahun 2004
d. Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974
e. Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006
f. Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975
g. Inpres Nomor 1 Tahun 1991
6. Yurisprodensi.
7. Surat Edaran Mahkamah Agung - RI.
8. Doktrik dan ilmu Pengetahuan.
afdal dzikri 6
III. AZAS-AZAS HUKUM ACARA

1. Hakim bersifat menunggu


2. Hakim bersifat fasip ( Pasal 5 UU No 4 tahun 2004 )
3. Persidangan terbuka untuk umum
4. Mendengarkan kedua belah pihak
5. Persakaan hak dan kedudukan dalam persidangan
6. Hakim aktif memberikan bantuan ( Ps 119 HIR/Ps 143
Brg )
7. Berperkara dikenakan biaya ( Ps 121 (4) HIR/ Ps 143
Rbg )
8. Tidak ada keharusan untuk mewakilkan ( Ps 123
HIR/Ps 147 RBG )
9. Azas sederhana cepat dan biaya ringan ( Ps. )
afdal dzikri 7
IV. KOMPETENSI /WEWENANG BADAN
PENGADILAN AGAMA

1. Kompetensi absolut / wewenang mutlak


Wewenang Badan Pengadilan dalam
memeriksa jenis perkara tertentu yang
secara mutlak tidak dapat
diperiksa oleh Badan Pengadilan, baik
dalam Lingkungan Peradilan yang
sama maupun dalam Lingkungan
Peradilan lain. afdal dzikri 8
a. Pasal 49 UU Nomor 3 tahun 2006 :
Pengadilan Agama bertugas dan
berwenang memeriksa, memutus dan
menyelesaikan perkara di tingkat
pertama antara orang yang
beragama islam dibidang.

afdal dzikri 9
 1. Perkawinan 6. Zakat
2. Waris 7. Infak
3. Wasiat 8. Shodakoh
4. Hibah 9. Ekonomi Syariah
5. Wakaf

afdal dzikri 10
b. Bila suatu perkara secara
absolut di ajukan ke
Pengadilan yang tidak
berwenang, maka hakim
secara ex officio harus
menyatakan tidak
berwenang.
afdal dzikri 11
C. Eksepsi dapat diajukan setiap saat

selama persidangan

( Pasal 132 RV, 134 HIR, 160 RBG ).

afdal dzikri 12
2. Kopetensi Relatif / wewenang nisbi.
Kopetensi Relatif ini berkaitan .
dengan wilayah hukum suatu
Pengadilan atau menyangkut
pembagian kekuasaan kehakiman.
a. Actor sequitor Forum Rei :
yaitu gugatan di ajukan di
Pengadilan Agama tempat
tinggal tergugat Pasal 118 (1)
HIR /Pasalafdal
142dzikri (5) RBG. 13
b. Actor sequitor Forum sitei :
yaoitu gugatan di ajukan di
Pengadilan Agama tempat
barang ( tidak bergerak )
yang menjadi obyek sengketa.
Pasal 118 (3) HIR / 142 (5)
RBG.
afdal dzikri 14
c. Pengecualian terhadap asaz Actor
Sequitor Forum Rei antara lain.

- Apabila tempat tinggal tergugat tidak di ketahui.


- Apabila tergugat lebih dari satu, dan tempat
tinggalnya berlainan, di ajukan di tempat tinggal
salah seorang tergugat.
- Apabila tergugat terdiri yang berhutang ( debitur
utama ) dan penangggung / penjamin maka
gugatan diajukan di Pengadilan tempat debitur
utama.
afdal dzikri 15
- Apabila tempat tinggal tergugat tidak
diketahui dan obyeknya menyangkut barang
tetap, di Pengadilan tempat barang tetap
berada.

- Apabila ada pemilihan domisili, di Pengadilan


yang di pilih Pasal 118 HIR / 142 RBG.

afdal dzikri 16
d. Terhadap perkara yang diajukan kepada
Pengadilan yang secara relatif tidak berwenang,
maka hakim dapat menyatakan dirinya tidak
berwenang, apabila ada eksepsi dari tergugat.
- eksepsi harus disampaikan pada awal
persidangan bersama dengan jawaban pasal 125
(2), 149 (2) HIR /149 (2) 159 RBG.
- Apabila eksepsi ditolak,maka pemeriksaan
dilanjutkan dengan pemeriksaan pokok perkara (
pasal 134, 135 HIR / 160, 161 RBG.
afdal dzikri 17
e. Kompetensi Relatif di Pengadilan Agama

1. Izin Kawin : Di Pengadilan Agama Tempat Pemohon


Pasal. 6 (5) UU P.
2. Dispensasi : Di Pengadilan Agama tempat Pemohon
Kawin Pasal 7 (2) UU P.
3. Poligami : Di Pengadilan Tempat Pemohon
Pasal 4 UU 1 tahun 1974.
4. Pencegahan : Di Pengadilan Agama tempat KUA
Perkawinan dimana perkawinan akan
dilaksanakan Pasal 14,15,16, UUP

afdal dzikri 18
5. Penolakan : Di Pengadilan Agama tempat KUA
Perkawinan dimana perkawinan akan dilaksanakan
Pasal 21 UU P.
6. Pembatalan : Di Pengadilan Agama tempat suami,
Perkawinan istri, dimana tempat perkawinan
dilaksanakan.
7. Cerai talak : Di Pengadilan Agama tempat Termohon
kecuali;
- Istri meninggalkan kediaman
tempat tinggal bersama.
- Istri diluar negeri
- Istri tidak diketahui tempat
tinggalnya
afdal dzikri 19
: Jika suami/istri bertempat tinggal diluar
negeri ;
- Di Pengadilan Agama Jakarta
Pusat
- Di Pengadilan Agama tempat
perkawinan dilaksanakan

afdal dzikri 20
8. Cerai Gugat : Di Pengadilan Agama
penggugat bertempat
tinggal kecuali :
- Penggugat meinggalkan tempat tinggal bersama maka
diajukan di tempat tergugat
- Suami/Istri bertempat tinggal diluar Negeri
-Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
-Dimana perkawinan dilaksanakan
Ps 73 HIR, Ps 66, 86 (1) UU PA.
afdal dzikri 21
9. Harta Bersama : Di Pengadilan Agama
tempat tergugat kecuali
di komulasikan dengan
perceraian maka
diajukan ditempat termohon
atau ditempat
penggugat Pasal 118
HIR, Pasal 66, 86 (1)
UU PA.

afdal dzikri 22
V. CARA PENYUSUNAN SURATGUGATAN

A. Pengertian Surat Gugatan.


Surat gugatan : suatu surat yang diajukan
oleh penggugat kepada Ketua Pengadilan
yang berwenang yang memuat tuntutan hak
dan sekaligus merupakan dasar landasan
pemeriksaan perkara dan pembuktian
kebenaran hak.

afdal dzikri 23
B. Syarat-syaratnya.
1. Adanya tuntutan hak.
2. Adanya kepentingan hukum.
3. Merupakan sengketa.
4. Dibuat dengan cermat.

afdal dzikri 24
C. Unsur-unsurnya. Ps
8 no 3 RV
Subtentanteiring teori
1.Identitas. ( menjelaskan
Faiterlijke groden peristiwa dan sebab )
( uraian tentang
kejadianatau
2. Posita / peristiwa ) Individualisring
Pundamentum Teori.
Petendi.
Reacterlijke Gronden
( Bagian yang menguraikan
tetang hukum )
afdal dzikri 25
Pokok
Primer
Tambahan
3.Petitum

Subsider.
( Mohon Putusanyang seadil-adinya )
afdal dzikri 26
D. Contoh Petitum :
1. Mengabulkan : Permohonan Pemohon .
2. Memberi Izin kepada pemohon ( …) untuk
mengucapkan ikror talak kepada termohon
( … ) di hadapan sidang Pengadilan
Agama…
3. Menghukum termohon untuk menyerahkan
anak bernama… kepada termohon .
4. Membebankan biaya perkara sebesar.. Kepada
pemohon. afdal dzikri 27
Dasar Ps 118 HIR / 142 RBG
Tertulis
E. Pembuatan Unsur Ps 8 nomor 3 RU
Gugatan
Dasar Ps 120 HIR /144 RBG
Lesan Caranya :
1. Tuntutan disampaikan secara lesan.

2. Ketua/Hakim yang di tunjuk mencatat dan


merumuskan.
3. Rumusan tersebut dibacakan kepada
penggugat.
4. Apabila telah selesai ditandatangani oleh
hakim.
afdal dzikri 28
F. Contoh surat gugatan lesan.
pada hari ini…. Tgl…telah datang kepada saya
Ketua/Hakim Pengadilan Agama…., bernama ….
Umur…. Alamat…..dengan ini memberitahuakan
bahwa ia tidak dapat membaca dan menulis dan
menerangkan bahwa ia, hendak mengajukan gugatan
terhadap… umur…pekerjaan…alamat…
Dengan ini memberitahukan bahwa ia tidak dapat
membaca dan menulis dan menerangkan bahwa ia
hendak mengajukan gugatan terhadap ….
Nama…umur…alamat…tentang hal-hal sbb ;
afdal dzikri 29
Contentius/gugatan Dasar 118,119,120 HIR

Prinsipnya setiap perkara


harus diajukan dengan
Contentius.
G. Cara
berperkara Ciri-ciri
1. Ada sengketa
2. Minimal ada 2 pihak.
3. Putusan
4. Upaya hukum banding.

Volenenter/Permohonan
afdal dzikri 30
Volenter/Permohonan

Ciri-cirinya
Contoh 1. Tidak ada sengke
1. Isbat Nikah Dasarpenjelasan
2. Hanya satu pihak
2. Dispensasi Pasal 2 UU 4 tahun
3. Penetapan
3. Izin poligami 2004
4. Upaya hukumnya
5. Diatur dalam UU

afdal dzikri 31
Penggugat
Minimal 2 pihak
Tergugat
Komulasi/ Obyektif
H. Pihak dalam P1,P2
penggugatan
berperkara Subyektif
T
Tesenkom/menegahi
Voeging ( menyertai )
Intervensi Ps 279-282 RV
Vrijwaring/ditarik
afdal dzikri
Ps. 70-76 RV
32
VI. CARA MENGAJUKAN GUGATAN

Diajukan sendiri tidak tertulis Tertulis


ada keahrusan
menguasakan Ps 118 Berbeda dengan Rv Dikuasakan
HIR/147 RBG Ps 160 Rv/Ps 140 Rv
Kepada
1. Cara Lesan ahli
Dengan kuasa lesan pasal 123
Mengajukan HIR/1147RBG;
Dapat dikuasakan
Gugatan Ps 123 HIR/147 - Dinyatakan secara lesan dihadapan
Ketua dalam catatan gugatan
RBG lesan.
- Ditinjuk secara lesan di persidangan

Secara tertulis dengan surat kuasa


kusus. Ps 123HIR/147 RBG 33
afdal dzikri
Dalam hal Insidentil
terdapat kuasa
khusus sema No
2/195, Jo Sema
No 6 tahun
1994menentukan
syarat-syarat Profesional
-Menyambut Pengadilan
-Menyambut Identitas dan kedudukan dalam pihak

-Menyambut Pokok sengketa


afdal dzikri 34
Membayar Dengan sistem Siapa yg menghitung
Ps. 182 HIR/121 ( I, II, III )
HIR
Membayar Bagaimana cara
Ps 142 RBG
perskot
2. Cara Dibutuhkan dimana;
Meregister
mendaftar -Buku bantu
perkar
Dasar 137 -Jurnal
HIR,273 RBG -Buku induk
Dalam tingkat I
Prodeo
Banding
Prosesnya afdalKasasi
dzikri 35
VII.PERSIAPAN PERSIDANGAN

Siapa membuat

1. PMH Kapan waktunya


Ketua majelis
Pergantian majelis
Anggota

Seluruh majelis
berhalangan
afdal dzikri 36
Perkara biasa
PHS
2. PHS Sita dikabulkan +hari sidang
ditetapkan
Sita ditangguhkan hari sidang
Ada permohonan ditetapkan
sita didalam
gugatan Sita ditolak + hari sidang
ditetapkan
Contoh
afdal dzikri 37
Dasar : Ps 122,388,390 HIR
Ps 146 – 718 RBG
Ps 22 – 28 PP tahun 1975
3. Pemanggilan
Ps 138 -140 KHI
Dalam wilayah yuridiksi
Diluar wilayah yuridiksi

Cara Diluar negeri


Tidak diketahui
afdal dzikri
alamatnya 38
VII.PEMERIKSAAN SIDANG

1. Cara membuka
sidang
2. Memeriksa Atas persetujuan para pihak
identitas para pihak
Dibuat akte Atas sengketa yg telah ada

3. Mendamaikan Ps perdamaian Mengakhiri seluruh sengketa


130 HIR Ps 1850
BW Dibuat secar tertulis
Dalam
perceraian
dicabut afdal dzikri 39
Sebelum perkara diperiksa :
- tidak perlu ada persetujuan tergugat
- penggugat dapat mengajukan gugatan kembali
4. Pencabutan
gugatan Tergugat telah memenuhi tuntutan
ALASAN
Ps 271 RV
Penggugat menyadari kekeliruan
dalam mengajukan gugatan
Setelah tergugat memberikan jawaban :
- Pencabutan harus atas persetujuan

-- Penggugat tidak dapat mengajukan kembali


afdal dzikri 40
Boleh asal tidak merubah Anderwerp
Ven den eis
5. Perubahan
Gugatan Ps 127
RV
Tidak boleh kalau merubah
Anderwerp van den eis
- Posita

- Petitum afdal dzikri 41


Penggugat telah dipanggil secara patut

6. Putusan gugur
Penggugat tidak hadir dalam persidangan
Ps. 124.126 HIR
Ps. 148.150 Rbg Ps. 126 memberi kelonggaran untuk
dipanggil sekali lagi
Tergugat hadir dalam persidangan

afdal dzikri 42
Tergugat telah dipanggil secara patut

Tergugat tidak hadir dalam persidangan


7. Putusan Verstek
Ps. 126 memberi kelonggaran untuk
Ps. 125. 126 HIR dipanggil sekali
Ps. 149. 150 Rbg Penggugat hadir dalam persidangan

Gugatan baralasan dan tidak melawan


hukum afdal dzikri 43
8. Tahapan pemeriksaan
a. Pembacaan Gugatan
b. Jawaban ;
- Eksepsi
- Bantahan
- Pengakuan
- Rekonpensi
C. Replik
D. Duplik
E. Pembuktian
F. Kesimpulan
G. Putusan
afdal dzikri 44
Relatif : ps. 125,133 HIR, PS 149 (2)159 RBG
Waktu : diajukan bersama dengan jawaban tergugat
Hakim tidak mempunyai kewenangan secara
9. Eksepsi
ex officio
Absolut : Ps 134 HIR, Ps 160 RBG
Waktu : dapat diajukan selama
persidangan
Hakim secara ex officio harus menyatakan
tidak berwenang afdal dzikri 45
Hukum Formil :
1. Eksepsi Absolut
10. Eksepsi 2. Eksepsi Relatif
3. Eksepsi Nebis in idem
4. Eksepsi Diskwalifikasi
5. Eksepsi Absceur lebel
Berdasarkan Hukum Materil :
1. Eksepsi delatoir
2. Eksepsi Paramatoir

afdal dzikri 46
Dasar = Ps. 132a -132b HIR, Ps 157, 158 RBG

Pengertian =
Gugatan yg diajukan oleh Tergugat kpd penggugat
dalam sengketa yg sedang berjalan diantara merek
11. Rekonpensi Waktu mengajukan = bersama dengan
jawaban Apabila penggugat bertindak atas kwalitas tertentu
makaRekonpensi tidak boleh mengenai diri pribad
atau sebaliknya
Yang tidak Apabila Pengadilan yg memeriksa konpensi tidak
bolehkan berwenang memeriksa rekonpensi
Dalam perkara yang berhubungan dengan
pelaksanaanputusan
afdal dzikri 47
XI. PEMBUKTIAN

A.UMUM Membuktikan dalam arti logis

1. Pengertian pembuktian
Membuktikan dalam arti yuridis

Membuktikan = memberikan kepastiaan kepada hakim tentang


adanya peristiwa tertentu
Peristiwa
2. Apa yang harus dibuktikan Hukum positif ?
Hak afdal dzikri 48
3. Beban pembuktian ( Ps 163 HIR / Ps 283 RBG )
Ps. 163 HIR = Barang siapa yang mempunyai hak
Ps. 283 RBG= atau menyebutkan suatu peristiwa untuk
Ps. 1865 BW= menguatkan haknya atau menyangkal ha
orang lain, harus membuktikan adanya
peristiwa atau hak tersebut.
Penggugat
Beban pemnbuktiannya
Tergugat
afdal dzikri 49
4. Prinsip-prinsip Umum Pembuktian
a. Pembuktian mencari kebenaran formil
- kebenaran menurut Undang-Undang
- Kebenaran itu diwujudkan sesuai dengan
dasar alasan dan fakta yang diajukan oleh para
pihak selama proses persidangan.
- hakim tidak harus mencari kebenaran hakiki.
- Fakta- fakta yang ditemukan hakim diluar
persidangan tidak boleh dipertimbangkan.
afdal dzikri 50
b. Pengakuan mengakhiri pemeriksaan perkara
dengan ketentuan:
- Pengakuan diberikan tanpa sarat yaitu
disampaikan secara tegas,murni menyeluruh
terhadap pokok perkara.

- Bukan menyangkal dengan berdiam diri.

afdal dzikri 51
c. Pembuktian tidak bersifat logis akan tetapi bersifat
yuridis:
Bersifat logis = mencari kepastian
secara mutlak yang tidak
memungkinkan bukti lawan
Pembuktian
Bersifat yuridis = Memberikan
kepastian akan tetapi masih
dimungkinkan bukti lawan

afdal dzikri 52
d. Alat bukti yang diakui adalah yang diajukan kepersidangan .
e. Alat bukti yang mengikat adalah yang ditentukan dalam Undang-
Undang.
f. Pihak lawandapat mengajukan bukti lawan.
g. Tidak semua peristiwa dibuktikan
- Hukum materil tidak perlu dibuktikan ( Jus curita novit ).
- Peristiwanya memang dianggap tidak perlu atau tidak
mungkin diketahui hakim:
- dalam hal dijatuhkan putusan verstek.
- dalam tergugat mengakui.
- dalam hal dilakukan sumpah deesoir.afdal dzikri 53
- Hakim secara ex officio dianggap mengenal
peristiwanya.
- peristiwa natior :
- peristiwa yang dianggap harus diketahui oleh
orang yang berpendidikan.
- peristiwa yang diketahui dari sumber umum
tanpa penelitian.
- peristiwa yang terjadi dipersidangan
afdal dzikri . 54
5. Alat bukti ( Ps 164 HIR ) Ps 284 RBG )
a. Alat bukti tertulis/surat.
b. Alat bukti saksi.
c. Persangkaan.
d. Pengakuan.
e. Sumpah

afdal dzikri 55
Bebas = saksi, persangkaan hakim.

Menggikat dan sempurna =


6. Kekuatan Akte Otentik, akte dibawah tangan yang
Pembuktian diakui.

Menggikat sempurna dan menentukan=


Pengakuan, sumpah dan persangkaan UU.
afdal dzikri 56
Agar alat bukti yang diajukan
kepersidangan sah bernilai sebagai
alat bukti yang mempunyai nilai
kekuatan pembuktian, harus
mencapai batas minimal, kalau
tidak, alat bukti tersebut
dikesampingkan dalam penilaian
pembuktian. afdal dzikri 57
B. ALAT BUKTI SURAT

1. DASAR HUKUM :
Pasal 138, 165,167 HIR.
Pasal 164, 285-305 RBG.
Pasal 1867 – 1894 BW.
Pasal 138 – 147 RV.
Pasal 1867 No 29.
afdal dzikri 58
2. PENGERTIANNYA :
Segala sesuatu yang memuat tanda
bacaan yang dimaksudkan untuk
mencurahkan isi hati atau
menyampaikan buah pikiran
seseorang dan dipergunakan sebagai
pembuktian.
afdal dzikri 59
1. Formalitas causa :
syarat keabsahan suatu tindakan hukum
contoh, relas panggilan ( Pasal 390 HIR )

2. Sebagai alat bukti


3. Fungsi surat
3. Probationis causa :
- akte perkawinan.
- pendirian PT harus dengan akte etentik.
- perdamaian ( Pasal 130 HIR )
afdal dzikri 60
Akte yg dibuat oleh pejabat

Akte Otentik
Akte yg dibuat dihadapan
Akte
pejabat

4. Macam Akte dibawah tangan


surat

Bukan akte afdal dzikri 61


- Pengertian akte : surat yang ditanda tangani, yang
memuat peristiwa-peristiwa yang
menjadi dasar hak atau perikatan.

- Akte Otentik : Akte yang dibuat oleh atau


dihadapan peabat yang berwenang
untuk itu.
afdal dzikri 62
Akte yang dibuat oleh pejabat;
- Inisiatip tidak datang dari pihak

- Menyangkut hukum publik .

contoh : berita acara panggilan SIM, KTP


5. Akte Otentik
Ps 165 HIR Akte yang dibuat dihadapan pejabat;
- Inisiatip datang dari pihak

- Bersifat partai.

afdal dzikri 63
Syarat Formil :
 Dibuat dihadapan pejabat yang berwenang.
6. Syarat Akte  Dihadiri oleh para pihak.
Kedua belah pihak dikenali atau dikenalkan kepada pejabat.
Otentik yg 

 Dihadiri oleh dua orang saksi.


dibuat  Menyebut identitas notaris, penghadap, saksi.
dihadapan  Menyebut tempat, bln, hr dan tgl pembuatan akte.
Notaris membacakan akte dihadapan para pejabat.
pejabat/Akte 

 Ditandatangani semua pihak .


Otentik yang  Adanya penegasan, pembacaan dan penandatangan dibagian penutup.
bersifat partai.  Syarat Materilnya ;
- Berisi keterangan kesepakatan para pihak
- Berisi keterangan perbuatan hukum ( jual beli,hutang piutang dll )
- Dibuat untuk pembuktian.
afdal dzikri 64
Kekuatan pembuktian
- Mengikat dan sempurna ( ps. 165 HIR dan ps
1870 KUHP )
7. Kekuatan
pembuktiand Batas minimal pembuktiannya :
an batas - Cukup pada dirinya sendiri.
minimal
kekuatan - Dapat berdiri sendiri tanpa bantuan alat bukti
pembuktian lain.
akte otentik Kekuatan pembuktiannya berubah :
- Apabila diajukan bukti lawan yg setara.
- Bukti lawan bisa, saksa, surat, persangkaan ,pengakuan.
- Kekuatan pembuktian afdalmenjadi
dzikri bukti permulaan. 65
Pengertiannya : Akte yg dibuat oleh para pihak
tanpa perantaraan pejabat yg berwenang dan
dimaksudkan untuk pembuktian.
8. Pengertian Formil ;
akte dibawah 1. Berbentuk tertulis.
tangan Ps 2. Dibuat secara partai.
1874 BW Ps 3. Ditandatangani olrh para pihak.
Menyantumkan tanggal dan tempat
286 RBG. Syarat-syaratnya
4.
penanndatanganan.
materil ;
1. Berisi persetujuan tentang perbuatan
hukum atau hubungan hukum.
Sengaja
2. afdal dzikri dibuat sebagai alat bukti.
66
Kekuatan pembuktian
- Kekuatan pembuktiannya sama dengan akte otentik yaitu :
Mengikat, sempurna apabila memenuhi syarat-syarat :
- Dibuat secara partai ( minimal 2 pihak ).
9. Kekuatan - Ditandatangani para pihak.
pembuktian - Isi dan tanda tangan diakui.
dan batas
minimal
pembuktian Batas minimal kekuatan pembuktiannya ;
alte dibawah - Cukup pada dirinya sendiri.
tangan. - Mampu berdiri sendiri tanpa bantuan alat bukti lain.
Kekuatan pembuktiannya berubah.
- Apabila diajukan bukti lawan ( bisa surat, saksi, persangkaan ).
- Isi dan tandatangan diingkari pihak lawan.
- Kekuatan pembuktiannya berubah menurun menjadi bukti permulaan.
- Tidak memenuhi batas minimal sehingga diperlukan tambahan dari
alat bukti lain. afdal dzikri 67
Akte otentik :
Apabila akte otentik dibantah kebenarannya maka
pihak yg hrs membuktikan kebenararan akte
otentik adalah orang yg membantah. Bukti lawan
10. Bukti lawan
bisa diajukan ; saksi, persangkaan dan
pengakuan.

Akte dibawah tangan :


Apabila akte dibawah tangan dibantah oleh pihak
lawan tetang kebenaran isi isi dan tanda tangan
akte dibawah tangan maka yang harus
membuktikan adalah pihak yg mengajukan bukti.
afdal dzikri 68
Akte otentik;
1. Teliti apakah akte memenuhi syarat.
2. Ada aslinya apa tidak.
11.Cara 3. Cocokan dengan aslinya.

memeriksa 4.

5.
Pihak lawan dipersilahkan untuk membaca dan meneliti.
Mintakan tanggapan tetang akte tersebut.
alat bukti 6. Kalau aslinya tidak dapat tiunjukan mintakan pendapat kepada pihak lawan tetang
kebenaran akte tersebut.
surat 7. Beri tanda pada masing-masing bukti tersebut P/T.
8. Kegiatan tersebut supaya ditulis didalam BA.
9. Kalau akte otentik tersebut dibantah maka pembuktian dibebaskan kepada pihak yg
membantah.

Akte dibawah tangan ;


1. Teliti memenuhi syarat.
2. Cocokan dengan aslinya.
3. Minta pendapat kepada pihak lawan tetang isi dan tanda tangan surat.
4. Kalau dibantah maka pihak yangafdal
mengajukan
dzikri yang harus membuktikan . 69
D. PERSANGKAAN

1. Dasar hukumnya :
Ps 173 HIR, Ps 310 RBG, Ps 1915-1922 BW.

2. Pengertian :
Pasal 173 HIR / Ps 310 RBG :
Persangkaan adalah kesimpulan yg oleh UU atau oleh
Hakim ditarik dari suatu peristiwa yg sudah terang
kepada peristiwa lain yg belum terang.
afdal dzikri 70
Persangkaan UU yg tidak dapat
dibantah
- Ditegaskan dalam Ps 463 yaitu
- Batal, batal demi hukum,
1. Persangkaan
dilarang mis poligami.
UU Ps 1915-
3. Macam
1916 BW
persangkaan
Persangkaan UU yg dapat
dibantah.
2. Persangkaan - Pengecualian disebut dalam Ps

hakim Ps 1922 UU.


BW - Mis ;

afdalpembayaran
dzikri 3 bln berturut2
71
Persangkaan UU :
Persangkaan berdasar suatu ketentuan
khusus UU berkenan atau berhubungan
dengan perbuatan tertentu atau
peristiwa tertentu.

afdal dzikri 72
Yang tidak dapat dibantah.
- Ditegaskan sendiri di dalam UU.
bahwa perbuatan tersebut batal, batal demi hukum,
dilarang, sah, batal.
4. Persangkaan UU contoh;
- dilarang poligami tanpa izin tanpa izin
- Ps. 1446 BW : perbuatan yg dilakukan anak dibawah
umur dianggap batal demi hukum .
Yang dapat dibantah.
UU sendiri yg memberi perkecualian mis : Ps. 633 BW :
setiap tembok yg dipergunakan sebagai tembok milik
bersama kecuali dapat dibuktikan sebaliknya. -
Adanya 3 surat tanda pembayaran berturut-turut berarti
pembayanran sebelum yg telah lunas kecuali dibuktikan
sebaliknya.
afdal dzikri 73
5. Kekuatan pembuktian persangkaan dan batas
minimal kekuatan pembuktian

Kekuatan pembuktiannya
Persangkaan UU yg -Menyingkat

-Sempurna
tidak bisa dibantah
Berdasar -Memaksa.

Batas minimal kekuatan pembuktiannya.


UU -Cukup pada dirinya sendiri.

-Tidak memerlukan alat bukti lain

- Kekuatan pembuktian, sempurna , mengingat.


Persangkaan UU - Batas minimalnya .
yg Dapat dibanatah - Mamapu berdiri sendiri tanpa bantuan bukti yang lain.

- Kekuatan pembuktian bisa merosot.

- apabila diajukan bukti lawan.


- kekuatan pembuktian sebagai bukti permulaan.
- Ia tidak mampu berdiri sendiri tapi diperlukan alat bukti lain.
afdal dzikri 74
Kekuatan pembuktiannya
- Bebas.
- Tidak bisa berdiri sendiri
Kekuatan pembuktian
dan batas minimal
kekuatan pembuktian
persangkaan
berdasarkan
Fakta/kejadian Batas minimal kekuatan pembuktiannya
- 2 persangkaan
- 1 Persangkaan ditambah bukti lain.

afdal dzikri 75
E. PENGAKUAN

1. Dasar Hukumnya : Ps 174,175,176 HIR.


Ps 311,312, 313 RBG
Ps 1923-1928 BW.
2. Pengertiannya : Pengakuan merupakan
keterangan yg membenarkan peristiwa, hak atau
hubungan hukum yg diajukan oleh pihak lawan.
Ps 1916 BW : Kekuatan yang diberikan pada
pengakuan merupakan persangkaan menurut UU.
Ps 1921 (1) BW : Terhadap suatu persangkaanUU
tidak dapat dibuktikan. afdal dzikri 76
Pengakuan didalam persidangan Ps 174
HIR, 311 RBG, Ps 19287 BW.
Pengakuan diluar persidangan Ps 175 HIR,
Ps 312 Rbg, Ps 1927-1928 BW.
3. Pengakuan Pengakuan yang tidak dapat dipisah-
pisahkan Ps. 176 HIR, Ps 313 RBG.
- Pengakuan murni
- Pengakuan dengan kwalifikasi, penngakuan yg disertai
dengan sangkalan terhadap sebagian tuntutan.
- Pengakuan yg klusul, Pengakuan yg disertai deangan
keterangan, tambahan yg bersifat membebaskan.
afdal dzikri 77
4. SYARAT.

Formil .
a. Disampaikan dalam persidangan .
b. Disampaikan oleh pihak yg berperkara.
Materil.
a. Pengakuan berhubungan dengan pokok
perkara yg disengketakan.
b. Tidak merupakan kebohongan atau kepalsuan
nyata.
c. Tidak bertentangan drngan hukum, kesusilaan
agama moral dan ketertiban
afdal dzikri umum. 78
5. Kekuatan pembuktian dan batas minimal
pembuktian.

Kekuatan pembuktiannya; mengikat, sempurna,


menentukan.
Pengakuan murni Cukup pd dirinya sendiri.
Batas kekuatan
minimalnya Dapat berdiri sendiri tanpa
bantuan alat bukti lain.
Macamnya Pengakuan dengan kwalifikasi
Pengakuan
dengan klausul Pengakuan klausul
Kekuatan pembuktiannya

Batas minimal kekuatan pembuktiannya : Tidak mampu


berdiri sendiri, Agar tercapai batas minimal harus di tambah
dg alat bantu lain. afdal dzikri 79
F. SUMPAH

1. Dasar hukumnya : Ps. 155,156 HIR. Ps 182, 183 RBG,


Ps 1930, 1940 Per.

2. Pengertiannya : suatu pernyataan yg hikmat yg


diberikan atau ducapkan pd waktu memberi janji atau
keterangan dg mengingat akan sifat maha kuasa dari
pd Tuhan, dan percaya bahwa siapa yg memberi
keterangan atau janji yg tidak benar akan dihukum
olehnya.
afdal dzikri 80
Sumpah untuk berjanji melakukan atau tidak
melakukan sesuatu ( sumpah promisoir ) –
sumpah saksi – sumpah ahli.
Sumpah

Sumpah untuk memberi keterangan guna


meneguhkan bahwa sesuatu itu benar
demikian atau tidak disebut ”
KONFIRMATOIR “ sumpahafdal dzikri sebagai alat bukti.
81
Sumpah supletoir /pelengkap Ps 156
HIR, 182 RBG, 1940 BW.
3. Sumpah
confirmatoir Sumpah Decisoir/pemutus Ps 156 HIR,
sebagai alat Ps 183 RBG, 1930 BW.
bukti

Sumpah estimatoir / penaksir Ps 155


HIR, Ps 182 RBG, Ps 1940 BW.
afdal dzikri 82
4. TATA CARA SUMPAH SUPLETOIR

a. Diperintahkan oleh hakim kepada salah satu pihak


secara ex officio.
b. Harus ada bukti permulaan yg tidak cukup, dan
sudah tidak ada lagi bukti lain.
c. Apabila yg diperintahkan bersumpah melakukan
sumpah dia akan dimenangkan.
d. Apabila pihak yg diperintahkan sumpah, menolak
sumpah, maka dia akan dikalahkan.
e. Pihak yang diperintahkan oleh hakim untuk
bersumpah tidak boleh mengembalikan kepada
pihak lawan. afdal dzikri 83
f. Dengan adanya sumpah, maka perkara akan
menjadi selesai.
g. Kekuatan pembuktiannya sempurna, dan
menentukan akan tetapi masih dimungkinkan
adanya bukti lawan.
h. Apabila pihak lawan berpendapat bahwa sumpah
tersebut palsu, dia dapat membuktikan melalui
perkara pidana sumpah palsu.
i. Putusan pidana tentang sumpah palsu dapat dipakai
mengajukan peninjauan kembali.
afdal dzikri 84
5. TATA CARA SUMPAH
DECISOIR/PEMUTUS

a. Sumpah dilakukan atas permitantaan salah satu


pihak.
b. Pihak yg meminta bersumpah disebut DEFERENT,
sedang pihak yang harus bersumpah di sebut
DELAAT.
c. Dapat diperintahkan meskipun tidak ada bukti sama
sekali.
d. Lafal sumpah disusun oleh DEFERENT.
e. Hal yg dimintakan sumpah adalah berhubungan
dengan perbuatan yg dilakukan oleh pihak yg disuruh
sumpah.
f. Pihak yg disuruh sumpah ( relaat ) dapat
mengembalikan kepada DEFERENT.
afdal dzikri 85
g. Apabila relaat bersumpah, maka dia akan dimenangka
h. Apabila dia menolak bersumpah dan tidak
mengembalikan sumpah kepada deferent maka dia ak
dikalahkan.
i. Apabila relaat tidak bersumpah akan tetapi
mengembalikan sumpah maka ; Jika deferent bersump
maka dia akan dimenangkan. Jika deferent menolak
maka dia akan dikalahkan.
j. Sumpah decisoir menyelesaikan perkara.
k. Kekuatan sumpah mengikat, sempurna, menentukan d
pihak lawan tidak boleh membuktikan sumpah itu palsu
tanpa mengurangi tuntutan pidana sumpah palsu ( Ps
KUHP ). afdal dzikri 86
6. SUMPAH PENAKSIR.

a. Diperintahkan oleh hakim kepada penggugat.


b. Untuk menentukan jumlah uang ganti rugi.
c. Hakim tidak wajib tapi hanya berwenang untuk
memerintah sumpah.
d. Sumpah penaksir dapat diperintahkan setelah
penggugat membuktikan haknya, sedang jumlah ganti
rugi belum jelas/pasti.
e. tidak ada cara lain untuk membuktikan ganti rugi
tersebut kecuali dengan taksiran.
f. Kekuatan pembuktiannya sempurna dan menentukan
akan tetapi masih memungkinkan
afdal dzikri
bukti lawan. 87
7. KEKUATAN PEMBUKTIAN DAN BATAS
MINIMAL PEMBUKTIAN.

Kekuatan pembuktiannya; Mengikat, Sempurna,


Menentukan.
SUPLETOIR
Batas minimal pembuktian; Harus ada bukti pendahuluan yg
tdk cukup. Dengan adanya sumpah dan bukti pendahuluan
tersebut cukup tanpa diperlukan bukti tambahan.
Kekuatan pembuktiannya; Mengikat, Sempurna,
Menentukan.
DECISOIR
Batas minimal ; Cukup pada diri sendiri, Dapat berdiri
sendiri tanpa bantuan alat bukti lain.
afdal dzikri 88
X. PUTUSAN

1. PENGERTIAN :
Putusan adalah : suatu pernyataan oleh hakim
sebagai Pejabat Negara yg diberi wewenang
untuk itu diucapkan dalam persidangan yg
terbuka untuk umum dengan tujuan untuk
menyelesaikan suatu perkara atau sengketa
anatara pihak yg berperkara.

afdal dzikri 89
2. SUSUNAN PUTUSAN.
a. Kepala Putusan.
- Putusan.
- Nomor Perkara.
- Bismillahirrachmanirrahim
- Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan YME

afdal dzikri 90
b. IDENTITAS :
Nama, Umur, Pekerjaan, Tempat kediaman
dan Kedudukan sebagai pihak.

c. DUDUK PERKARANYA :
- Gugatan – Pengguagat.
- Jawaban – Tanggapan.
- Fakta kejadian dalam persidangan.
Bukti tertulis, Saksi,afdaldll.
dzikri 91
d. PERTIMBANGAN HUKUM.
- Maksud dan tujuan hukum.
- Pokok gugatan
- Pokok jawaban
- Bukti – Bukti
- Argumentasi
- Kesimpulan
- Dasar hukum
e. AMAR PUTUSAN.
f. PENUTUP.
afdal dzikri 92
3. MACAM PUTUSAN

a. Dilihat dari segi sifatnya.


1. Putusan declaratoir.
2. Putusan constitutif.
3. Putusan condemnatoir.

b. Dilihat dari segi jenisnya.


1. Putusan sela
2. Putusan Akhir
93
c. Dilihat dari segi isinya.

a. Putusan Niet Onvenkelijk Verklaar ( NO )


- Gugatan tidak berdasarkan hukum .
- Gugatan tidak mempunyai kepentingan hukum.
- Gugatan masih prematun.
- Gugatan nebis in idem.
- Gugatan eror in pesona.
- Gugatan telah lampau waktu.
- Gugatan tidak berwenang.
afdal dzikri 94
b. Gugatan dikabulkan.
c. Gugatan di tolak.
d. Gugatan didamaikan.
e. Gugatan digugurkan.
f. Gugatan dibatalakan.
g. Gugatan dihentikan ( aan hanging )

95
4. KEKUATAN PUTUSAN

a. Kekuatan pembuktian

b. Kekuatan mengikat

c. Kekuatan ekseforial
96
PENEMUAN HUKUM

Mengkonstafir Interpnetasi
- Subtantif
Hukum tertulis - Gramatikal
Sisitematis
5. Penemuan -

- Historis
hukum Mengkualifisir - Sosioligis.
oleh hakim

Tidak tertulis
Kontruksi
- Analogi
Mengkontituir - A’contrario 97
SEKIAN DAN TERIMA KASIH

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Oleh ;

Drs. Afdal Dzikri, SH. MH.


Afdal dzikri 98