Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.

X
DENGAN KEJANG DEMAM DI RUANG
KEMUNING RSD GUNUNG JATI CIREBON
TAHUN 2018.
BAB I PENDAHULUAN
◦ Latar Belakang

Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering terjadi pada anak, 1 dari
25 anak akan mengalami satu kali kejang demam. Hal ini dikarenakan, anak yang masih
berusia dibawah 5 tahun sangat rentan terhadap berbagai penyakit disebabkan sistem
kekebalan tubuh belum terbangun secara sempurna. (1)
Angka kejadian kejang demam di Indonesia sendiri mencapai 2 - 4% tahun 2008 dengan
80% disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan. Di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2012
Penderita dengan kejang demam di Rumah Sakit berjumlah 2.220 untuk umur 0-1 tahun,
sedangkan berjumlah 5.696 untut umur 1-4 tahun. Di Bandung tepatnya Di Rumah Sakit
Umum Daerah Kota Bandung didapatkan data pada tahun 2010 dengan kejang demam
yaitu 2,22%. (6)
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada An M
dengan kejang demam di Ruang Kemuning RSD Gunung Jati Cirebon Tahun 2018?”

Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah agar penulis mampu berpikir secara logis dan ilmiah dalam
memberikan asuhan keperawatan pada Pasien dengan kejang demam dengan menggunakan pendekatan asuhan
keperawatan yang komprehensif dan berkesinambungan sesuai dengan standar keperawatan secara professional.

Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian pada klien anak dengan masalah kejang demam
2) Menegakkan perumusan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien anak dengan kejang demam
3) Menyusun intervensi keperawatan pada klien anak dengan kejang demam
4) Melakukan implementasi keperawatan pada klien anak dengan kejang demam
5) Melakukan evaluasi pada klien anak dengan kejang demam.
Sasaran
Subyek dalam studi kasus ini yaitu Pasien dengan kejang demam

Tempat
Subyek dalam stStudi kasus ini dilakukan di RSD Gunung Jati Kota Cirebon.
udi kasus ini yaitu Pasien dengan kejang demam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Kejang Demam
Kejang demam adalah gangguan neurologis yang paling sering ditemukan pada anak, hal ini terutama pada
rentang usia 4 bulan sampai 4 tahun. Berbagai kesimpulan telah dibuat oleh para peneliti bahwa kejang
demam bisa berhubungan dengan usia, tingkatan suhu tubuh serta kecepatan peningkatan suhu tubuh,
termasuk faktor hereditas juga berperan terhadap bangkitan kejang demam lebih banyak dibandingkan
dengan anak normal.(8)

Klasifikasi Kejang Demam


Kejang demam sederhana
Kejang demam kompleks
Etiologi
Demam itu sendiri yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroentritis, dan infeksi saluran
kemih.

Efek produk toksik dari pada mikroorganisme.

Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.

Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Ensefalitis viral (radang otak akibat virus)(11)

Manifestasi Klinis Kejang Demam


Kejang demam menpunyai kejadian yang tinggi pada anak yaitu 34%

Kejang biasanya singkat, berhenti sendiri, banyak dialami oleh anak laki - laki

Kejang timbul dalam 24 jam setelah suhu badan naik diakibatkan infeksi disusunan saraf pusat seperti otitis media dan bronkitis

Bangkitan kejang berbentuk tonik klonik

Takikardi: pada bayi, frekuensi sering di atas 150 -200 kali permenit(10)
Komplikasi
1. Kerusakan neorotransmiter
2. Lepasnya muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel ataupun membrane
sel yang menyebabkan kerusakan pada neuron.
3. Epilepsi
4. Kerukan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama
dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsy yang sepontan
5. Kelainan anatomi di otak
6. Serangan kejang yang berlangsung lama yang dapat menyebabkan kelainan diotak yang lebih banyak
terjadi pada anak berumur 4 bulan sampai 5 tahun
7. Kecacatan atau kelainan neorologis karena disertai demam(12)
Pemeriksaan Penunjang
1. Elektro encephalograft (EEG)
2. Pemeriksaan cairan cerebrospinal
3. Darah

Penatalaksanaan
1. Pengobatan
2. Pencegahan
Patofisiologi
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
2. Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan
pathway
Pengkajian
1. Data subyektif
2. Data Obyektif

Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermia b.d proses penyakit (peningkatan suhu Tubuh)
2. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d trauma di otak
3. Risiko cidera b.d kejang/ perubahan kesadaran
4. Risiko keterlambatan pertumbuhan b.d kejang berulang
5. Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi (15)
Intervensi Keperawatan
Intervensi :
Diagnosa keperawatan : Hipertermia b.d
peningkatan suhu tubuh NIC Fever Treatment
◦ monitor suhu sesering mungkin
NOC Thermoregulasion Setelah
◦ monitor tekanan darah, nadi, dan RR
dilakukan asuhan Keperawatan 2x24
jam, suhu tubuh anak dalam batas ◦ . Monitor tingkat kesadaran
normal dengan ◦ Kolaborasi pemberian cairan intravena
Kriteria Hasil : ◦ Berikan antipiretik
◦ Suhu tubuh dalam batas normal
Temperature regulation
◦ Nadi dan RR dalam rentang normal ◦ Monitor suhu minimal tiap 2 jam
◦ Tidak ada perubahan warna kulit dan ◦ Monitor tanda-tanda hipertermia
tidak ada pusing ◦ Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
◦ Monitor kualitas nadi
Diagnosa Keperawatan: Risiko ketidakeektifan perfusi jaringan otak b.d
trauma di otak
NOC
Circulation status Tissue prefusi:cerebral
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan status sirkulasi baik, dengan Kriteria hasil:
Tekanan sistolikdan diastolic dalam batas yang diharapkan
Berkomunikasi dengan jelas
NIC
Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul
Kolaborasi pemberian analgetik
Monitor adanya tromboplebitis
Berikan oksigen jika diperlukan
Monitor Tanda-tanda vital
Monitor tingkat kesadaran
Diagnosa keperawatan : Risiko cidera b.d kehilangan kesadaran
NOC Risk control Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan dalam 1x24 jam diharapkan resiko cidera
dapat dihindari dengan kriteria :
◦ Klien terbebas dari cidera
◦ Mampu mengenali perubah status kesehatan
◦ Mampu menjelaskan factor resiko

NIC
Manajemen Lingkungan
Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
Identifikasi kebutuhan keamanana
Pasien sesuai dengan kondisi pasien
Hindai lingkungan yang berbahaya
Sediakan tempat tidur nyaman dan bersih
Anjurkan keluarga untuk menemani pasien
Diagnosa keperawatan: Risiko keterlambatan pertumbuhan b.d
kejang berulang
NOC
Growth and development delayed Family coping
Setelah dilakukan Asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan resiko keterlambatan dan pertumbuhan dapat
dihindari dengan criteria:
◦ Perubahan normal fisik yang biasanya terjadi seiring penuaan usia
◦ Kematangan fisik wanita dan pria
◦ Makanan dan asupan cairan bergizi
◦ Kondisi gizi adekuat • Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
• Ciptakan lingkungsn ysng aman
NIC • Manajeman nutrisi
• Kaji keadekuatan nutrisi
• Peningkatan perkembangan anak • Tentukan makanan yang disukai anak
• Pantau kecenderungan kenaikan dan penurunan berat badan(15)
• Ajarkan kepada orang tua tentang penanda perkembangan normal

• Ajarkan tentang perilaku yang sesuai dengan usia anak

• Identifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk menfasilitasi perkembangan anak yang optimal

• Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil


Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi

NOC

Tujuan Panjang :

Pengetahuan keluarga mengenai penyebab penyakit klien bertambah

Tujuan Pendek:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan keluarga klien menunjukan pengetahuan penyebab klien

dengan kriteria hasil:

1. Mengetahui penyebab penyakit anaknya

2. Keluarga klien tidak lagi cemas dengan penyakit anaknya


Implementasi
Implementasi dalam discharge planning adalah pelaksanaan rencana pengajaran referal.
Seluruh pengajaran yang diberikan harus didokumentasikan pada catatan perawat dan ringkasan
pulang (discharge summary).

Evaluasi
Kartu SOAP(data subjektif, data objektif, analisis/assessment, dan
perencanaan/plan) dapat dipakai untuk mendokumentasikan evaluasi dan
pengkajian ulang.
Kartu SOAPIER sesuai sebagai catatan yang ringkas mengenai penilaian diagnosis
keperawatan dan penyelesaiannya. SOAPIER merupakan komponen utama
dalam catatan perkembangan yang terdiri atas: