Anda di halaman 1dari 45

Tonsilektomi dengan

Anestesi Umum

KOAS ANASTESI FK USAKTI

LAPORAN KASUS Ida Ayu Putu Ratih S (03015087)


Ruth Astry Evangelia (03015171)
Aqdam Fauqo Al’adli (03014019)
Erianti Dian Ramadhani (03013056)
ILUSTRASI KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. J Diagnosis pre-op : Tonsilitis
Jenis Pembedahan : Tonsilektomi
Usia : 16 tahun
Jenis Anestesi : General Anestesi
Jenis Kelamin : Laki – laki Tanggal Masuk RS : 1 Juli 2019

Agama : Islam Tanggal Operasi : 2 Juli 2019

Status Perkawinan : Belum Kawin

Pendidikan Terakhir : SMA

Pekerjaan : Pelajar
ILUSTRASI KASUS

ANAMNESIS (Autoanamnesis)
TANGGAL : 2 JULI 2019

Keluhan Utama: Keluhan Tambahan:


Rasa mengganjal di tenggorokan  Nyeri ketika menelan

RPS: RPD: Riw ayat obat:


2 minggu SMRS…  (-)  (-)
 Ra s a m e ng ga nj a l di
t e n g g o ro ka n RPK:
 N ye r i hi l a ng t i m b u l ke t i ka  (-)
m e ne l a n seperti ditusuk-
tusuk
Riw ayat Kebiasaan :
 (-)
ILUSTRASI KASUS

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis Tanda Vital Antropometri
Keadaan umum : Baik  TD : 120/80 mmHg  Berat badan : 52 kg
 H R : 8 4 x / m e ni t  Tinggi badan : 170 cm
Kesan sakit : Sakit ringan
 Suhu : 36,5˚C  BMI : 18
Kesadaran : Compos mentis  RR : 20 x/menit  Status gizi : K u r a ng
(GCS 15)
STATUS LOKALIS
Kepala : Normocephali
Mata : CA -/-, SI -/-
Hidung : Bentuk normal, deviasi septum (-)
Telinga : Normotia, MT intak, liang telinga lapang, hiperemis -/-, edema -/-, serumen
prop -/-
Mulut : Hygiene baik, gigi utuh, gigi palsu (-)
Tenggorokan : Tonsil T3/T3, hiperemis (-/-),kripta melebar (-/-)
STATUS LOKALIS (2)
Leher : Pembesaran KGB dan tiroid (-)
Toraks : Gerak dada simetris, retraksi (-)
 Jantung : S1/S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
 Paru : SNV, Rh -/-, Wh -/-

Abdomen :
 Inspeksi : Distensi (-), venektasi (-), massa (-)
 Auskultasi : bising usus (+)
 Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), pembesaran hepar & lien (-)
 Perkusi : timpani pada 4 kuadran

Genitalia : Tidak diperiksa


Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)
ILUSTRASI KASUS

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi Rutin Nilai Satuan Nilai Rujukan

Hemoglobin 15,4 g/dL 13,0 – 17,0

Hematokrit 47 % 40,0 – 48,0

Eritrosit 5,3 10`6/uL 4,5 – 5,50

MCV 88 fL 82,0 – 92,0

MCH 29 pg 27,0 – 31,0

MCHC 33 g/dL 32,0 – 36,0

Leukosit 7,0 10`3/uL 5,00 – 10,00

Trombosit 215 10`3/uL 150 - 450


TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI PERNAFASAN
TINJAUAN PUSTAKA

FISIOLOGI PERNAFASAN

Saluran pernapasan atas: hidung,


orofaring, nasofaring
Saluran nafas bawah
:laringofaring, trakea, bronkus,
bronkiolus, dan alveolus
TINJAUAN PUSTAKA FISIOLOGI PERNAFASAN

Grup respirasi ventral


Pusat pernapasan  nervus intercostalis
terdiri dari : ke musculus
-kelompok respiratori intercostalis externus
dorsal dan musculus
-kelompok respiratori intercostalis internus.
ventral.
Grup respirasi dorsal
 nervus phrenicus
yang mempersarafi
Pusat respirasi terletak diafragma
di substansia retikuler
medulla oblongata.
TINJAUAN PUSTAKA

GENERAL ANESTHESIA

Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan rasa sakit,


hilangnya refleks otot, dan disertai hilangnya kesadaran yang
bersifat reversibel. Anestesi umum dapat dilakukan dengan
cara inhalasi dan intravena.(6)

VOLATIL NON-VOLATIL
Inhalasi Injeksi/parenteral

Agen anestesi umum dapat digunakan melalui injeksi, inhalasi, atau


melalui gabungan injeksi dan inhalasi.
TINJAUAN PUSTAKA

GENERAL ANESTHESIA

Indikasi General Anesthesia

1. Infant & anak usia muda


2. Dewasa yang memilih anestesi ummum
3. Pembedahannya luas / eskstensif
4. Penderita sakit mental
5. Pembedahan lama
6. Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan
7. Riwayat penderita tksik / alergi obat anestesi lokal
8. Penderita dengan pengobatan antikoagulantia
TINJAUAN PUSTAKA

GENERAL ANESTHESIA
TINJAUAN PUSTAKA

PERSIAPAN PRE ANESTESI

• Mencocokkan identitas pasien dan konfirmasi bagian tubuh yang akan di


operasi
• Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan riwayat penyakit sistemik, riwayat
asma, riwayat alergi, riwayat operasi, pemakaian gigi palsu,
• Riwayat operasi, riwayat alergi, riwayat penyakit
• Untuk anastesi umum, pastikan jam terakhir makan
• Klasifikasikan ASA untuk menggambarkan status kebugaran fisik pasien.
• Pemeriksaan mulut dengan Mallampati score
TINJAUAN PUSTAKA

KLASIFIKASI ASA (THE AMERICAN SOCIETY OF


ANESTHESIOLOGIST)

Kelas I : tidak ada gangguan organik, fisiologis, biokimia, atau psikiatri.


Kelas II : gangguan sistemik ringan hingga sedang, bisa atau tidak berpengaruh
terhadap alasan dilakukannya operasi.
Kelas III : gangguan sistemik berat yang bisa atau tidak berpengaruh terhadap alasan
dilakukannya operasi.
Kelas IV : gangguan sistemik berat yang membahayakan nyawa, dengan atau tanpa
operasi
Kelas V : pasien dengan kemungkinan hidup yang kecil namun tetap dioperasi sebagai
usaha terakhir (usaha resusitasi)
Kelas VI : pasien yang sudah dinyatakan mati batang otak dan organnya akan
digunakan untuk tujuan donor
E : huruf E ditambahkan pada nomor status pasien yang gawat darurat
PEMERIKSAAN MULUT
TINJAUAN PUSTAKA

PREMEDIKASI
- selektif terhadap reseptor antagonis 5-Hidroksi-Triptamin (5-HT3)
- mencegah mual dan muntah setelah operasi dan radioterapi.
Ondansetron - 4 mg IV (dosis maksimal 8 mg)
- Di eliminasi dengan cepat dari tubuh
- Efek samping yang umum ditemukan adalah konstipasi
TINJAUAN PUSTAKA
INDUKSI

- agonis sintetik opioid fenil piperidin


- 100x morfin
Fentanil -
-
Larut lemak dan menembu BBB
Metabolisme dai Hati
- Ekskresi melalui Ginjal
- 1- 3 mcg/kgBB -> Analgesi

- hipnotik-sedatif
- sukar larut dalam air atau bersifat hidrofobik, diformulasikan dalam bentuk
emulsi
- mula kerja/onset yang cepat (sekitar 3 menit setelah injeksi bolus) dan lama
kerja yang relatif lebih singkat
PROPOFOL - Efek Samping:
- menimbulakn nyeri saat injeksi Lidokain, Depresi Nafas, Hipotensi,
Bradikardi, Bronkospasme, Laringospasme
- di metabolisme di hati, ekskresi melalui ginjal
TINJAUAN PUSTAKA

OBAT EMERGENSI
- golongan adredergik (simpatomimerik)
- MK: mengaktivasi reseptor neurotransmitter norepinefrin α dan β
Efedrin - Indikasi : jika sistol < 90 mmHg
- Dosis dewasa; 2,5 mg/kgBB (IV)
- Reseptor α1 : kontraksi otot polos pemb darah  vasokonstriksi  TD naik

- Gol. Antikolinergik
- Dosis: 0,4 – 0,6 mg (IV)
Sulfas - Lama kerja : 4-6 jam
- Reseptor kolinergik merangsang saraf parasimpatis  sekresi kelenjar
atropin keringat, saliva, dan kelenjar bronkus meningkat, spasme bronkus,
menurunkan kontraktilitas jantung, dan menyebabkan efek hipotensi.
- Tujuan : untuk mengatasi bradikardi dan mengurangi hipersalivasi
TINJAUAN PUSTAKA

MAINTENANCE
bersifat anestetik lemah,
N2O tetapi analgesianya kuat

halogenasi eter yang pada dosis anestetik atau


ISOFLURAN subanestetik menurunkan laju metabolisme otak
terhadap oksigen, tetapi meninggikan aliran
darah otak dan tekanan intrakranial.
TINJAUAN PUSTAKA
ANESTESI INHALASI

1. Metode tetes terbuka (Open Drop System)


Cara: meneteskan cairan aanstetik dari botok khusus ke wsungkup muka.

2. Metode semi terbuka (Semi Open Drop Method)


hirupan kembali minimal, karena sebagian gas terbuang ke udara

3. Metode semi tertutup (Semi Closed Method)


Hirupan kembali hampir maksimal

4. Metode tertutup (Closed Method)


Hirupan kembali komplit
TINJAUAN PUSTAKA

ANESTESI INTRAVENA

Anestesi umum intravena adalah anestesi yang diberikan melalui jalur intravena,
baik untuk tujuan hipnotik, analgetik ataupun pelumpuh otot.

Indikasi anestesi intravena antara lain untuk:


1) induksi anestesia;
2) induksi dan pemeliharaan anestesi pada pembedahan singkat
3) menambahkan efek hipnosis pada anestesi inhalasi dan anestesi regional
4) menambahkan sedasi pada tindakan medik.
MESIN ANASTESI

Fungsi dari mesin anesthesia adalah menyalurkan gas atau campuran gas
anestetik yang aman ke rangkaian sirkuit anestetik yang kemudian akan dihirup
oleh pasien.
SISTEM LINGKAR (CIRCLE SYSTEM)

Sistem ini menggunakan dua katup ekspirasi, satu di dekat sungkup muka dan satu
lagi di dekat kantung cadang
Ada kanister berisi kapur soda yang berfungi sebagai penyerap CO2
Keuntungan dari sistem lingkar adalah aliran yang digunakan rendah sehingga lebih
ekonomis dan tingkat polusi udara rendah.
Kerugian dari sistem lingkar adalah resistensi tinggi.
SIRKUIT ANASTESI
Sirkuit anastesia ada beberapa macam yang telah digunakan yaitu sirkuit lingkat
(circle system), sistem tetes terbuka, sistem insuflasi, dan sistem maple.
CIRCULAR CIRCUIT SYSTEM
TINJAUAN PUSTAKA

TATALAKSANA PASCA ANESTESI

• Gangguan pernapasan
etiologi : obstruksi total atau parsial
• Gangguan kardiovaskular
hipertensi, hipotensi
• Gelisah
etiologi : hipoksia, hipotensi, kesakitan
• Nyeri
analgesik
• Mual muntah
anti emetik
• Mengigil
efek dari obat anastesi, suhu ruangan yang dingin, bedah abdomen
yang luas dan lama
ANALISIS KASUS
ANALISIS KASUS
Tn. J (16 tahun)
ASA 2, yaitu pasien dengan keluhan penyakit sistemik ringan
Akan dilakukan tonsilektomi dengan anastesi umum

Mengapa harus anastesi umum?


Daerah operasi di daerah kepala
Jika di anastesi , risiko cedera medulla spinalis besar
Jika di teknik anastesi epidural biayanya lebih mahal dan teknik lebih sulit.
ANALISIS KASUS
Pre Operative
Pada hari Selasa, 2 Juli 2019, Tn. J masuk ke ruang OK
Menunggu di ruang pre operative
Persiapan alat : Brain circuit anesthesia machine, monitor tekanan darah dan pulse
oximetry, Endotracheal tube, laringoskop, dan , hipafix/tape, guedel, sungkup muka,
zat volatile sevofluran, dan memastikan kabel alat-alat terpasang pada tempat
yang seharusnya.
Obat-obatan yang dipersiapkan adalah Efedrin HCl, sulfas atropine, ketamine,
traxenamid acid, fentanyl, dan propofol, ondansentron.
ANALISIS KASUS
INTRA OPERATIF
Monitoring awal: tekanan darah 120/80 mmHg dengan nadi 85x/menit,
saturasi oksigen 99%.
Obat Premedikasi : Ondansetron 4mg.
Intubasi : Endotracheal tube no. 7
Obat induksi : propofol 104 mg
Obat analgesik: fentanil150 mcg
Anastesi inhalasi: N2O 3L/mnt , O2 3L/mnt, isoflurane 3%
ANALISIS KASUS
POST OPERATIF
Tiba di RR :10.30 WIB
Monitoring tanda vital di ruang resusitasi
Pemberian oksigen 3 L/menit
Pasien sadar : 10.50 WIB
Pasien kembali ke bangsal : 11.00 WIB
ALDRETTE SCORE 10 No
1 Aktivitas motorik:

Kriteria

Mampu menggerakkan empat ekstremitas


Score

2
Nilai

 Mampu menggerakkan dua ekstremitas 1


 Tidak mampu menggerakkan ekstremitas 0

2 Respirasi:
 Mampu napas dalam, batuk dan tangis kuat 2
 Sesak atau pernapasan terbatas 1
 Henti napas 0

3 Tekana darah:
 Berubah sampai 20% dari prabedah 2
 Berubah 20%-50% dari prabedah 1
 Berbubah > 50% dari prabedah 0

4 Kesadaran:
 Sadar baik dan orientasi baik 2
 Sadar setelah dipanggil 1
 Tak ada tanggapan terhadap rangsangan 0

5 Warna kulit:
 Kemerahan 2
 Pucat agak suram 1
 Sianosis 0

Keterangan :
Pasien dapat dipindah ke ruangan jika jumlah nilai 10
LAPORAN ANESTESI
Pre Operatif

Surat Izin Operasi (+) Kesadaran : Compos mentis


Surat Izin Anestesi (+) Tanda vital :
Puasa (+) dari jam 12 malam TD : 120/80 mmHg
Nadi : 85x/menit
Tidak ada gigi goyang atau pemakaian gigi RR : 18x/menit
palsu
Suhu : 36,5o C
IV line terpasang dengan infus RL 500 cc
Premedikasi anestesi
Sebelum dilakukan tindakan anestesi diberikan ondansetron 4 mg bolus IV

Pemantauan selama anestesi


Selama operasi dilakukan monitoring secara konstan terhadap keadaan
pasien yaitu reaksi pasien terhadap pemberian obat anestesi khususnya
terhadap fungsi pernapasan dan jantung.
Kardiovaskular : Nadi dan Tekanan darah setiap 5 menit
Respirasi : Inspeksi pernapasan spontan dan saturasi oksigen
Cairan : Monitoring input cairan
Jam Tindakan Tek. Darah (mmHg) Nadi (x/menit) Saturasi O2 (%)

09.40 - Pasien dipindah ke meja operasi 120/80 85 99


- Pemasangan monitoring saturasi, nadi, tekanan darah.
- Ondansetron 4 mg bolus iv sebagai premedikasi

09.45 - Kondisi terkontrol dan terpantau 110/70 83 98


09.50 - Anestesi dimulai 100/60 80 98
- Pemberian Fentanyl 100 𝜇g secara IV bolus
- Pemberian Propofol 200mg secara IV bolus
- Pemberian Midazolam secara IV bolus
- Diberikan 02 3L/menit, N2O 3L/menit, dan Sevofluran
100cc
- Pemasangan Endotrakeal tube no.7
09.55 Kondisi terkontrol 84/50 58 98
10.00 - Operasi dimulai 92/56 62 99
- Kondisi terkontrol
10.05 - Kondisi terkontrol 108/78 78 98
10.10 - Kondisi terkontrol 80/65 83 98
- Pemberian Efedrin
10.15 - Kondisi terkontrol 100/80 87 99
10.20 - Kondisi terkontrol 110/55 85 99
10.25 - Kondisi terkontrol 95/60 80 99
10.30 - Operasi selesai 100/50 79 99
- Pemberian Ketorolac
- Alat monitoring di lepas, O2 dihentikan
- Pasien dipindah ke recovery room dan Diberikan O2 3
L/menit
Intra Operatif
• Tindakan operasi : Tonsilektomi
• Tindakan anestesi : General Anestesi
• Lama operasi : 60 menit (10.00 – 11.00)
• Lama Anestesi : menit (09.35 – ….)
• Jenis Anestesi : General Anestesi
• Posisi : Supine
• Pernafasan : Spontan
• Infus : Ringer laktat 500 cc
• Pramedikasi : Ondansetron 4 mg
• Induksi : Propofol 150 mg
• Rumatan : O2 3L
• Medikasi : - Fentanyl 100 mcg
- Propofol 200 mg
- Ketorolac
- Midazolam
• Cairan : Input RL 500 cc
Aldrette score
No Kriteria Score Nilai
1 Aktivitas motorik:
 Mampu menggerakkan empat ekstremitas 2
 Mampu menggerakkan dua ekstremitas 1
 Tidak mampu menggerakkan ekstremitas 0
2 Respirasi:
 Mampu napas dalam, batuk dan tangis kuat 2
 Sesak atau pernapasan terbatas 1
 Henti napas 0

3 Tekana darah:
 Berubah sampai 20% dari prabedah 2
 Berubah 20%-50% dari prabedah 1
 Berbubah > 50% dari prabedah 0
4 Kesadaran:
 Sadar baik dan orientasi baik 2
 Sadar setelah dipanggil 1
 Tak ada tanggapan terhadap rangsangan 0
5 Warna kulit:
 Kemerahan 2
 Pucat agak suram 1
 Sianosis 0
Keterangan :
Pasien dapat dipindah ke ruangan jika jumlah nilai 10
KESIMPULAN
• Pemeriksaan pra anastesi untuk mengetahui kondisi pasien dan
memperkirakan masalah yang mungkin timbul saat perioperatif.
• Tn. J dengan ASA II, dan mallampati 1, dengan teknik anestesi General
Anesthesia dengan menggunakan intubasi Endotracheal tube no. 07
• Dalam kasus Tn. J selama operasi berlangsung tidak ada hambatan
yang berarti baik dari segi anestesi maupun dari tindakan.
• Di recovery room, pasien kembali compos mentis dan dikirim ke
bangsal setelah memenuhi kriteria aldrette score
DAFTAR PUSTAKA
1. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan & Mikhail’s 8. Daabiss M. American society of anesthesiologists physical status classification.
Clinical Anesthesiology. 5th ed. Mc Graw Hill: United States. 2013; US National Library of Medicine. 2011;55(2):111-15.
793-863.
9. Brown EN, Lydic R, Schiff ND. General Anesthesia, Sleep, and Coma. US
2. Donohue C. An Introduction of Anesthesia. British Journal of Hospital
Medicine. 2013;4:(5):71-5. National Library of Medicine. 2010;363(27):2638-50. (dari no 7 yang
lama)
3. Baugh RF, Archer SM, Mitchell, RB, et al. Clinical Practice
Guideline: Tonsillectomy in Children. American Academy of 10. Desai, Arjun M. Anestesi. Stanford University School of Medicine. 2010. At:
Otolaryngology Head and Neck Surgery. 2011;144(IS) SI-S30.
http://emedicine.medcape.com (dari no 8)
4. Nurrobbi, Kusantri. Tonsilitis kronis. Jakarta. 2012 (diakses 11. Soenarjo, dkk. Anestesiologi. Semarang: Ikatan Dokter Anestesi dan
November 2012). Diunduh dari: URL: http://96570032-Tonsilitis-
Kronis.pdf Reanimasi Cabang Jawa Tengah. 2010 (dari no 9)

5. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Ed 6. Jakarta : 12. Brockwell RC, Andrews JJ. Inhaled Anesthetic Delivery Systems. In: Miller‟s
EGC. 2012. Anesthesia.7th ed. San Fransisco : Elsevier, 2010. ebook
6. Christopher D Press. General Anesthesia. 2015. At : 13. Eisenkraft JB, Longnecker DE, Brown DL, Newman MF, Zapol WM. Anesthesia
https://emedicine.medscape.com/article/1271543-overview.
Accesed May 20, 2018. Delivery System. In: Anesthesiology. New York : McGraw-Hill, 2008; 767 –
820
7. Lundstorm LH, et al. Poor prognostic value of the modified
Mallampati score : a meta analysis involving 177.088 patients. 14. Janet M, Torpy, Lynm C, Golub RM. General Anesthesia. JAMA Network.
Bristish Journal of Anesthesia. 2011;107(5):659-67.
2011;305(10):1050.
TERIMA KASIH