Modul Nyeri Kepala
Modul Nyeri Kepala
Nyeri Kepala
KELOMPOK 9
”
SKENARIO 1A
Kata Kunci
• Wanita, 21 tahun
• Nyeri Kepala Berdenyut, Kronik Rekuren
• Sejak 4 bulan lalu
• Nyeri Kepala Hilang Timbul
• Sisi kanan
• Mengganggu aktivitas
• Durasi nyeri 4-5 jam
• Kadang disertai mual
• Tidak ada demam
DEFINISI
Nyeri Kepala
Rasa nyeri pada daerah atas kepala memanjang dari orbita sampai ke
daerah belakang kepala (di atas garis orbitomeatal)
Nyeri Fasial
Rasa nyeri pada daerah muka (di bawah garis orbitomeatal)
STRESS
3. Geraghty S. Hemorrhagic and Ischemic Stroke: Medical, Imaging, Surgical and Interventional Approaches. Journal of Vascular and Interventional Radiology. 2012;3(9):1257
14 KLASIFIKASI
International Headache Society (IHS) 1988:
▹ Migrain dengan aura (Classic migraine) diawali dengan
adanya deficit neurologi fokal atau gangguan fungsi
saraf/aura, terutama visual dan sensorik bebauan.
▹ Migrain tanpa aura (Common migraine). Nyeri pada salah
satu bagian sisi kepala dan bersifat pulsatile dengan disertai
mual, fotofobi dan fonofobi, intensitas nyeri sedang sampai
berat, nyeri diperparah saat aktivitas dan berlangsung selama
4 sampai 72 jam.
Headache Classification Subcommitee of the International Headache Society. The International Headache
Classification Disorder: 2nd Edition. Cephalgia 2004; 24 Suppl 1:1-160.
15 PATOFISIOLOGI
Sjahrir, Hasan. Nyeri Kepala. Kelompok Studi Nyeri Kepala. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2004
Gambaran Patomekanisme Migrain
Sjahrir, Hasan. Nyeri Kepala. Kelompok Studi Nyeri Kepala. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2004
MANIFESTASI KLINIS
Suharjanti, Isti. Strategi Pengobatan Akut Migrain. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2013.
KRITERIA DIAGNOSTIK
18
Sjahrir, Hasan. Nyeri Kepala. Kelompok Studi Nyeri Kepala. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2004
KRITERIA DIAGNOSTIK
19
Sjahrir, Hasan. Nyeri Kepala. Kelompok Studi Nyeri Kepala. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2004
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Suharjanti, Isti. Strategi Pengobatan Akut Migrain. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2013.
ALGORITMA PENATALAKSANAAN MIGRAIN
22
Suharjanti, Isti. Strategi Pengobatan Akut Migrain. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2013.
23 PROGNOSIS
Tanda Vital
• Skala Nyeri
diagnosis klinis
29 Lima atau lebih episode nyeri kepala dengan kriteria:
a. Lokasi: nyeri hebat atau sangat hebat di orbita, supraorbita, dan
temporalis
b. Durasi: 15-180 menit bila tak diobati
c. Frekuensi: dari 1 kali setiap 2 hari sampai 8 kali per hari
d. Tidak berkaitan dengan gangguan lain
e. Nyeri kepala disertai setidaknya salah satu dari gejala berikut:
▸ Injeksi konjungtiva dan atau lakrimasi ipsilateral
▸ Kongesti nasal dan atau rhinorhoea ipsilateral
▸ Edema palpebra ipsilateral
▸ Dahi dan wajah berkeringat ipsilateral
▸ Miosis dan atau ptosis ipsilateral
▸ Perasaan gelisah atau agitasi
Panduan Praktik Klinis Neurologi . Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2016
Buku Ajar Neurologi. Departemen Neurologi Universitas Indoensia. Jakarta, 2017
KRITERIA DIAGNOSTIK
▹ Kriteria Diagnosis Nyeri Kepala Klaster Episodik:
1. Serangan-serangan yang memenuhi kriteria A-E untuk nyeri kepala klaster.
2. Paling sedikit dua periode klaster yang berlangsung 7–365 hari dan
dipisahkan oleh periode remisi bebas nyeri > 1 bulan.
Panduan Praktik Klinis Neurologi . Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2016
Buku Ajar Neurologi. Departemen Neurologi Universitas Indoensia. Jakarta, 2017
Pemeriksaan Penunjang
▹ CT Scan atau MRI Kepala + kontras atas indikasi bila didapatkan defisit
neurologi, atau bila diterapi belum membaik selama 3 bulan serta keluhan
makin memberat.
Panduan Praktik Klinis Neurologi . Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2016
TATALAKSANA
Terapi Akut
▹ Inhalasi oksigen (masker muka): oksigen 100% 7 liter/menit selama 15 menit
▹ Dihidroergotamin (DHE ) 0,5–1,5 mg i.v. akan mengurangi nyeri dalam 10
menit; pemberian i.m dan nasal lebih lama.
▹ Sumatriptan injeksi subkutan 6 mg, akan mengurangi nyeri dalam waktu 5-15
menit; dapat diulang setelah 24 jam. Kontraindikasi: penyakit jantung
iskemik, hipertensi tidak terkontrol. Sumatriptan nasal spray 20 mg (kurang
efektif dibanding subkutan). Efek samping: pusing, letih, parestesia,
kelemahan di muka.
▹ Anestesi lokal: 1 ml Lidokain intranasal 4%.
Panduan Praktik Klinis Neurologi . Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2016
Buku Ajar Neurologi. Departemen Neurologi Universitas Indoensia. Jakarta, 2017
Indikasi terapi profilaksis:
▹ Gagal terapi abortif (nyeri kepala klaster sulit hilang)
▹ Nyeri kepala klaster terjadi setiap hari dengan durasi >15 menit
▹ Farmakologi Profilaksis
▹ Verapamil (pilihan pertama) 120–160 mg 3-4 kali sehari
▹ Prednisolon (80–90% efektif untuk prevensi serangan), tidak boleh
diberikan dalam waktu lama. 50–75 mg setiap pagi dikurangi 10% pada
hari ketiga
Panduan Praktik Klinis Neurologi . Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2016
Buku Ajar Neurologi. Departemen Neurologi Universitas Indoensia. Jakarta, 2017
Preventif:
▹ Hindari konsumsi alkohol
▹ Batasi paparan zat volatil (ex: gasolin)
▹ Hati-hati bila berada di ketinggian
▹ Hindari rokok/asap rokok
▹ Hindari paparan sinar terang
▹ Hindari suara yang terlalu gaduh
Sekitar 80% pasien CH episodik akan tetap mengalami CH episodik sepanjang
hidupnya. Sementara itu, 4-13% pasien CH episodik bertransformasi menjadi
CH kronik. Tidak ada laporan mortalitas yang diakibatkan langsung oleh CH,
namun banyak pasien dikatakan mengalami depresi dan bunuh diri akibat
serangan CH yang periodik.
35
36 Nyeri kepala bilateral yang menekan (pressing/squeezing), mengikat, tidak
berdenyut, tidak dipengaruhi dan tidak diperburuk oleh aktivitas fisik, bersifat
ringan hingga sedang,tidak disertai (atau minimal) mual dan/atau muntah, serta
disertai fotofobia atau fonofobia.
ANSIETAS
TEKANAN DARAH TINGGI
Anurogo, Dito. 2014. Tension Type Headache. Neuroscience Department, Brain and Circulation Institute of
Indonesia (BCII). Surya University, Indonesia. Vol.4 (3). P.186
Patofisiologi
Anurogo, Dito. 2014. Tension Type Headache. Neuroscience Department, Brain and Circulation Institute of
Indonesia (BCII). Surya University, Indonesia. Vol.4 (3). P.186
PEMERIKSAAN
Pemeriksaan fisik :
▹ Pemeriksaan TTV
▹ pericranial tenderness
Pemeriksaan penunjang :
▹ Pencitraan (neuroimaging) otak atau cervical spine
▹ Analisis CSF :
Anurogo, Dito. 2014. Tension Type Headache. Neuroscience Department, Brain and Circulation Institute of
Indonesia (BCII). Surya University, Indonesia. Vol.4 (3). P.186
PENATALAKSANAAN
42
43
Anurogo, Dito. 2014. Tension Type Headache. Neuroscience Department, Brain and Circulation Institute of
Indonesia (BCII). Surya University, Indonesia. Vol.4 (3). P.186
Prognosis
Pada penderita TTH dewasa berobat jalan yang diikuti selama lebih
dari 10 tahun, 44% TTH kronis mengalami perbaikan signifikan, sedangkan
29% TTH episodik berubah menjadi TTH kronis.61 Studi populasi
potonglintang Denmark yang ditindaklanjuti selama 2 tahun mengungkapkan
rata-rata remisi 45% di antara penderita TTH episodik frekuen atau TTH
kronis, 39% berlanjut menjadi TTH episodik dan 16% TTH kronis.
Secara umum, dapat dikatakan prognosis TTH adalah Baik.
Anurogo, Dito. 2014. Tension Type Headache. Neuroscience Department, Brain and Circulation Institute of
Indonesia (BCII). Surya University, Indonesia. Vol.4 (3). P.186
TRIGEMINAL NEURALGIA
Definisi
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP)
Trigeminal neuralgia adalah nyeri yang tiba-tiba, biasanya unilateral,
tajam, hebat, singkat, dan berulang yang berdistribusi pada satu atau
lebih cabang dari saraf trigeminal atau saraf kranial kelima.
Etiologi
1. Idiopatik
2. Simptomatik
International Association for the Study of Pain, 2013, Global Year Against Orofacial Pain, hal. 01-04
Idiopatik
Kompresi saraf trigeminal pada area tempat
keluarnya saraf tersebut dari batang otak oleh
penyimpangan arteri atau vena, terutama
disebabkan oleh arteri cerebellar superior.
Kompresi neurovaskular yang terus-menerus
dapat menyebabkan rusaknya selubung myelin
pada syaraf, yang kemudian menyebabkan
perubahan fungsional pada akson, sehingga
syaraf semakin sensitif dan stimulasi sentuhan
ditafsirkan sebagai rasa sakit
James L., Nagaraj T., Irugu K., et al, Dual findings: A clinically symptomatic case of trigeminal neuralgia with incidental
radiographic finding of elongated styloid process: Arare case report and review of literature, Journal of Medicine, Radiology,
Pathology & Surgery, 2016, 3: 25-30.
Simptomatik
James L., Nagaraj T., Irugu K., et al, Dual findings: A clinically symptomatic case of trigeminal neuralgia with incidental radiographic finding
of elongated styloid process: Arare case report and review of literature, Journal of Medicine, Radiology, Pathology & Surgery, 2016, 3: 25-30.
Klasifikasi Trigeminal Neuralgia
▹ Classical trigeminal neuralgia (Idiopatik)
1. Classical trigeminal neuralgia paroksismal murni
2. Classical trigeminal neuralgia dengan nyeri wajah persisten
Zussman B.M., Moshel Y.A., Trigeminal Neuralgia: Case Report and Review, JHN Journal, 2012, 1-4.
Gambaran Klinik
▹ Nyeri yang timbul mendadak, sangat hebat, durasinya pendek (kurang dari
satu menit), biasanya unilateral, dan dirasakan pada satu bagian dari saraf
trigeminal.
▹ Sensasi nyeri yang dirasakan biasanya seperti kilatan, tersetrum listrik, atau
seperti sewaktu dibor dokter gigi.
▹ Pada saat rasa nyeri timbul, kulit dapat tampak berwarna merah, bengkak,
keringatan, dan salivasi bertambah
Pemeriksaan Penunjang
• CT-scan
• MRI
Penatalaksanaan
Obat Dosis Efek Samping
First line therapy
Carbomazepine ( Tegretol, Tegretol XL, 200-800 mg dosis dibagi menjadi 2-3 kali Mual, mengantuk, kelelahan, penurunan
Carbitol ) sehari, membutuhkan kerja darah secara ingatan, leukopenia, diplopia, disfungsi
periodik hati,dan hepatotoksisitas.
Oxcarbazepine (Tegretol, Tegretol XL, 300-1800 mg dosis dibagi menjadi 2-3 kali Pusing,sakit kepala, gangguan konsentrasi,
Carbitol ) sehari tremor, kelelahan, penurunan kadar natrium.
Baclofen ( Lioresal ) 40-80 mg dosis menjadi 2-3 kali sehari Kelelahan yang ekstrim, lemah, dan
mengantuk
Topiramate 200-400 mg dosis dibagi menjadi 2 kali sehari Kelelahan, penurunan berat badan, parastesia,
perubahan rasa kecap, batu ginjal, perasaan
depresi
Sodium valproate, divalproex sodium 500-2000 mg dosis dibagi menjadi 2 kali sehari Mual, gangguan pencernaan, sedasi, disfungsi
trombosit, rambut rontok, tremor, perubahan
kognisi, hepatotoksisitas, berat badan menurun
phenytoin 200-400 mg dosis 1 kali atau dibagi menjadi 2 kali Pusing, mengantuk, ruam pada kulit, indomnia,
sehari ataksia, gingivitis
Clonazepam 1,5-8 mg dosis dibagi menjadi 3-4 kali sehari Ataksia, sedasi, pengembangan toleransi, dan
sindrom withdrawal jika tiba-tiba dihentikan
Felbamate 1200-3600 mg dosis dibagi menjadi 3 kali sehari Anoreksia, muntah, insomnia, mual, pusing,
mengantuk, sakit kepala, dan beberapa interaksi obat
Pimozide Tergantung berat badan dan tidak lebih dari 10 mg Reaksi neuromuskular (ekstrapiramidal) dan
sehari beberapa interaksi obat
Zonisamide 200-400 mg dosis dibagi menjadi 2 kali sehari Mengantuk, anoreksia, pusing, sakit kepala, mual,
dan agitasi / mudah marah
Pregabalin 100-600 mg dosis dibagi menjadi 2 kali sehari Mengantuk, pusing, ataksia, kebingungan, astenia,
berpikir tidak normal, penglihatan kabur,
inkoordinasi, dan edema perifer
”
MIGRAIN CLUSTER TTH TRIGEMINAL
NEURALGIA
Jenis Kelamin Perempuan > Laki-laki Laki-laki > Perempuan Laki-laki=Perempuan Perempuan > Laki-laki
Intensitas nyeri Sedang atau berat Berat atau sangat berat Ringan atau sedang Berat atau sangat berat
Sifat nyeri Berdenyut Menusuk, panas Terasa seperti terikat Seperti kilatan, tersetrum listrik,
tertikam, tersayat.
Lokasi nyeri Unilateral, sering pada daerah fronto- Unilateral biasa disekitar mata atau Bilateral, oksipital lebih Unilateral, pada satu cabang atau
temporal disamping wajah sering lebih dari N.V
Durasi Nyeri 4-72 jam 15-180 menit 30 menit - 1 minggu <1 menit
Frekuensi Nyeri Berulang dengan frekuensi berubah Dari 1x/hari sampai 8x/hari Sering setiap hari Tak khas
ubah
Cara timbulnya Tiba-tiba/lambat laun Tiba-tiba Lambat laun Tiba-tiba
Faktor yang Aktivitas, Stress emosional, makanan Alkohol, berbaring Stress emosional Aktifitas sehari seperti makan,
memberatkan tertentu, stimulus sensorik, mencukur, bercakap cakap,
perubahan cuaca membasuh wajah atau
menggosok gigi
Faktor yang Istirahat Oksigen, ergotamin Analgetik Analgetik
meringankan
Gejala dan tanda Mual, muntah, sensitif terhadap suara Air mata keluar ipsilateral, hidung Nyeri tekan perikranial, Kulit dapat tampak berwarna
yang terkait atau cahaya, nyeri diperburuk oleh tersumbat dan berair, ptosis/miosis sensitif terhadap suara atau merah, bengkak, keringatan, dan
aktifitas cahaya salivasi bertambah