Anda di halaman 1dari 37

TATALAKSANA

SIFILIS
PADA KEHAMILAN

dr. Dewi Lastya Sari, M. Ked(DV), Sp. DV


SIFILIS
• Penyakit sistemik
• Penyebab: bakteri Treponema pallidum
• Jika tidak diobati
– penyakit berkembang dalam stadium dengan gambaran klinis
yang bervariasi dan tidak khas
– komplikasi serius
• Jika diobati dini
– komplikasi sedikit
• Dapat mempermudah penularan HIV

2
Penularan SIFILIS
• Terutama ditularkan melalui
– kontak seksual (genito-genital, ano-genital, oro-genital atau
– dari ibu hamil kepada janin dalam kandungan
• Paling menular kepada pasangan seksual dalam stadium
primer dan sekunder
• Perkiraan: 3-10% tertular dalam satu kali hubungan
seksual dengan pasangan yang terinfeksi

3
Perjalanan penyakit SIFILIS
• Masa inkubasi: umumnya 21 hari, kisaran 10-90 hari
• Memperbanyak diri pada tempat inokulasi dan
membentuk luka / chancre  SIFILIS PRIMER
• Menyebar ke kelenjar getah bening setempat, kemudian
ke pembuluh darah  SIFILIS SEKUNDER
• Dapat mengenai banyak organ tubuh  SIFILIS
SEKUNDER & LATEN
• SIFILIS TERTIER  infeksi /inflamasi pembuluh darah
dalam susunan saraf pusat dan sistem kardiovaskular
atau membentuk lesi gumma

4
Perjalanan penyakit SIFILIS

5
Perjalanan penyakit SIFILIS

6
Klasifikasi SIFILIS (WHO)

7
SIFILIS pada ibu hamil
• Dapat tertular dari pasangan seksual
• Manifestasi klinis sama dengan pada orang tidak hamil
– Stadium PRIMER
– Stadium SEKUNDER
– Stadium LATEN
– Stadium TERSIER
• Risiko penularan pada janin / bayi dalam kandungan
– Sifilis KONGENITAL

8
SIFILIS Std PRIMER (S-1)
• Di lokasi inokulasi
– Ulkus durum/chancre:
– Berkembang dari makula – papul – ulkus
– KHAS: tidak nyeri, berindurasi, dasar bersih
– Sangat infeksius
– Dapat hilang spontan dalam 3-6 minggu
– Dapat terjadi lesi multipel
• Limfadenopati regional: kenyal, tidak nyeri, bilateral
• Tes serologi sifilis dapat non-reaktif pada sifilis primer
dini

9
SIFILIS Std PRIMER (S-1)

10
SIFILIS Std SEKUNDER (S-2)
• Lesi muncul beberapa minggu setelah lesi primer
muncul
• Dapat menetap sampai beberapa bulan
• Lesi S-1 dan S-2 dapat terlihat dalam waktu yang sama
• Paling sering  lesi mukokutan
• Tes serologi paling tinggi dalam stadium ini

11
SIFILIS Std SEKUNDER (S-2)

12
SIFILIS Std SEKUNDER (S-2)

13
SIFILIS Std LATEN (S-laten)
• Kategori:
– Laten dini (kurang dari 1 tahun)
– Laten lanjut (lebih atau sama dengan 1 tahun)
– Jika tidak diketahui awitan infeksi – dianggap S-laten lanjut
• Tidak tampak lesi  bukti: tes serologi reaktif
• Dapat terjadi:
– Di antara S-primer dan S-sekunder
– Sesudah S-sekunder
• 60-85% tetap asimtomatik selama bertahun-tahun tanpa
terapi

14
SIFILIS KONGENITAL
• Akibat infeksi transplasenta
• Manifestasi dari asimtomatik sampai fatal
• Manifestasi dini: abortus spontan, lahir mati, ensefalitis,
lesi kulit generalisata, rhinitis (snuffles nose), disfungsi
hepar, kegagalan multi organ
• Manifestasi lanjut: umumnya tidak tampak saat lahir,
termasuk osteitis tulang panjang, malformasi gigi (trias
Hutchinson) dan maksilofasial, keratitis, tuli
neurosensorik, gangguan neuropsikologis

15
SIFILIS KONGENITAL
Organ tubuh
janin yang
terkena sifilis:
Plasenta
Hepar
Paru-paru
Tr. Gastrointestinal
Ginjal
Pankreas
Susunan syaraf
pusat
Sistem tulang

16
SIFILIS KONGENITAL
• Definisi WHO:
– Lahir mati, lahir hidup atau janin mati pada usia kehamilan
lebih dari 20 minggu atau lebih dari 500 g, dari seorang ibu
seropositif sifilis tanpa pengobatan yang adekuat.
– Lahir mati, lahir hidup, atau anak usia kurang dari 2 tahun
dengan bukti terinfeksi sifilis secara klinis atau mikrobiologik
– Sifilis kongenital dengan bukti secara mikrobiologis:
• Mikroskop lapangan gelap: pada preparat tali pusat, plasenta, cairan
hidung atau lesi kulit  tampak T.pallidum
• IgM spesifik T.pallidum reaktif
• Titer serologi non treponema reaktif 4 kali lipat lebih tinggi
dibandingkan titer ibu.

WHO guidelines for the treatment of Treponema pallidum (syphilis). 2016


17
Diagnosis SIFILIS
• Secara KLINIS
– Sebagian besar tanpa keluhan dan gejala
– Lesi dini cepat hilang
– Lesi tidak tampak
• Infeksi laten
• Biasanya digunakan TES SEROLOGI

18
Tes SEROLOGI SIFILIS (TSS)
Tes NONTREPONEMA Tes TREPONEMA
• Antibodi ini dapat • Tes ini jarang memberikan hasil
timbul sebagai reaksi positif palsu.
terhadap infeksi sifilis, • Tes ini dapat memberi hasil
namun juga bisa positif/reaktif seumur hidup
memberikan banyak walaupun terapi sifilis telah berhasil
hasil positif palsu. • Contoh: TPHA (Treponema Pallidum
• Contoh: RPR (Rapid Haemagglutination Assay), TP-PA
Plasma Reagin) dan (Treponema Pallidum Particle
VDRL (Venereal Disease Agglutination Assay), FTA-ABS
Research Laboratory) (Fluorescent Treponemal Antibody
Absorption).

19
Peeling et al. Bulletin of the WHO, 2004:82(6)
20
TSS VDRL & TPHA
• KEUNTUNGAN
– Mudah dilakukan
– Dapat membedakan infeksi aktif dan infeksi masa lampau yang
sudah diobati
• KERUGIAN
– Memerlukan peralatan listrik untuk lemari es (menyimpan
reagen), rotator dan sentrifuge
– Tidak bisa menggunakan whole blood
– Hasil negatif palsu bisa terjadi karena antibodi berlebihan
(fenomena prozone)

21
Rapid Test for Syphilis (TP Rapid)
• Dapat menggunakan whole blood, serum atau plasma
• Dapat digunakan di layanan kesehatan sehingga pasien dapat
langsung diobati
• Mudah dilakukan, tidak memerlukan tempat penyimpanan
khusus atau transport - pada suhu <30o
• Mudah diinterpretasi, selesai dalam waktu sekitar 30 menit
• Tidak ada efek prozone
• Tidak dapat membedakan infeksi aktif dan infeksi masa lampau
yang sudah diobati

22
Alur Tes
Serologis
Sifilis bila
TERSEDIA
Tes Non
Treponema
dan
Treponema

23
Alur Tes Serologis
Sifilis Pada Ibu
Hamil Bila Hanya
Tersedia TP Rapid

24
Interpretasi Tes Serologi Sifilis
RPR atau TPHA atau INTERPRETASI
VDRL TP Rapid
Reaktif Non reaktif Tes skrining nontreponema positif palsu
Reaktif Reaktif  Sifilis yang belum diobati;
 Sifilis lanjut yang pernah diobati
 Frambusia
Non reaktif Reaktif  Sifilis sangat dini yang belum diobati;
 Sifilis dini yang pernah diobati
 Frambusia
Non reaktif Non reaktif  Bukan sifilis;
 Sifilis masa inkubasi;
 Sifilis sangat lanjut;
 Sifilis bersamaan dengan infeksi HIV dan
imunosupresi

25
Tatalaksana SIFILIS pada ibu hamil
• Sifilis DINI (S-1 dan S-2):
– Benzathin penicillin G 2,4 juta unit dosis tunggal injeksi
intramuskular ATAU
– Procaine penicillin G 1,2 juta unit injeksi intramuskular sekali
sehari selama 10 hari
– Bila alergi penisilin dan tidak memungkinkan untuk
desensitisasi, atau tidak tersedia:
• Eritromisin 4X500 mg per oral selama 14 hari ATAU
• Seftriakson injeksi intramuscular 1 g sekali sehari, selama 14 hari, ATAU
• Azitromisin 2g per oral dosis tunggal
• Catatan: ketiga obat dapat mengobati ibu hamil, namun tidak dapat
melewati sawar plasenta, sehingga tidak dapat mengobati janinnya

WHO guidelines for the treatment of Treponema pallidum (syphilis). 2016 26


Tatalaksana SIFILIS pada ibu hamil
• Sifilis LANJUT (termasuk S laten):
– Benzathin penicillin G 2,4 juta unit injeksi intramuskular sekali
seminggu selama 3 minggu berturut-turut (interval jangan
melebihi 14 hari) ATAU
– Procaine penicillin 1,2 juta unit injeksi intramuskular sekali
sehari selama 20 hari
– Bila alergi penisilin dan tidak memungkinkan untuk
desensitisasi, atau tidak tersedia:
• Eritromisin 4X500 mg per oral selama 30 hari
• Catatan: obat dapat mengobati ibu hamil, namun tidak dapat
melewati sawar plasenta, sehingga tidak dapat mengobati janinnya

WHO guidelines for the treatment of Treponema pallidum (syphilis). 2016

27
Reaksi Jarisch-Herxheimer
• Reaksi demam akut, seringkali disertai nyeri kepala,
mialgia, dan keluhan lain
• Biasanya terjadi dalam 24 jam pertama setelah
pemberian terapi awal apapun untuk sifilis dan
seringkali terjadi pada pasien sifilis dini, kemungkinan
karena bakteri masih sangat banyak dalam stadium dini

28
Reaksi Jarisch-Herxheimer
• Pasien harus diberi tahu mengenai kemungkinan ini
• Dapat diberikan antipiretik untuk mengurangi simtom,
namun tetap tidak dapat mencegah reaksi ini
• Reaksi Jarisch-Herxheimer dapat menginduksi partus
atau menyebabkan fetal distress pada perempuan
hamil, namun keadaan ini jangan menjadi alasan untuk
tidak mengobati atau menunda pengobatan

29
Tatalaksana PASANGAN SEKSUAL
PASANGAN SEKS dari pasien terinfeksi sifilis harus
dianggap BERISIKO dan DIOBATI, bila
• terjadi kontak seksual dengan pasien dalam waktu:
– 3 bulan DITAMBAH durasi simtom pasien SIFILIS PRIMER

– 6 bulan DITAMBAH durasi simtom pasien SIFILIS SEKUNDER

– 1 tahun untuk pasien SIFILIS LATEN DINI

30
Tatalaksana PASANGAN SEKSUAL
• Seorang yang terpajan dalam 90 hari sebelum pasangan
seksual didiagnosis sifilis primer, sekunder, atau laten
dini, dapat terinfeksi meskipun serologi negatif  obati
secara presumtif
• Seorang yang terpajan >90 hari sebelum pasangan
seksual didiagnosis sifilis primer, sekunder, atau laten
dini, dapat terinfeksi meskipun serologi negatif  obati
secara presumtif:
– Bila hasil tes serologi tidak segera didapatkan, dan
– Kemungkinan follow-up meragukan
31
Tatalaksana SIFILIS KONGENITAL
• BAYI dengan sifilis kongenital pasti, ATAU
• BAYI yang klinis normal dengan ibu menderita sifilis:
– yang tidak diobati ATAU
– diobati tidak adekuat (termasuk terapi dalam 30 hari
menjelang partus) ATAU
– diobati dengan rejimen bukan penisilin
Anjuran TERAPI:
• Aqueous benzyl penicillin 100.000-150.000 U/kg/hari secara IV
selama 10-15 hari ATAU
• Procaine penicillin 50.000/U/kg/hari sekali sehari IM selama 10-
15 hari

32
WHO guidelines for the treatment of Treponema pallidum (syphilis). 2016
Tatalaksana SIFILIS KONGENITAL
• BAYI yang secara klinis normal dengan ibu menderita
sifilis, telah diobati secara adekuat dan tidak
menunjukkan tanda-tanda infeksi ulang
• Anjuran:
– Bayi dipantau secara ketat
– Bila diobati juga, sebagai pilihan adalah benzathin penicillin G
50.000 U/kg/hari dosis tunggal injeksi IM

WHO guidelines for the treatment of Treponema pallidum (syphilis). 2016

33
MENYUSUI dan SIFILIS
• Tidak ada bukti penularan sifilis melalui ASI, tanpa lesi di daerah
payudara
• Seorang ibu menyusui yang menderita S-1 atau S-2 dengan lesi di
payudara, dapat menularkan bayinya melalui kontak lesi dengan
mukosa
– Bila terdapat lesi di payudara, terutama di daerah areola  kontraindikasi
untuk menyusui atau penggunaan susu yang “diperah” sampai
pengobatan selesai dan penyembuhan lesi
• Tidak ada kontraindikasi untuk menyusui setelah pengobatan
adekuat

Lawrence RA, Lawrence RM. Breastfeeding: a guide for the medical profession. 5 th Ed St Louis, MO:Mosby;1999: 563-616

34
Penutup
• Sifilis pada perempuan hamil:
– Didiagnosis lebih dini
– Diobati lebih dini
Dapat mencegah sifilis kongenital

35
TERIMA KASIH

36
37