Anda di halaman 1dari 13

Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan

Khusus (PDGK 4407)


MODUL 4
PENDIDIKAN ANAK TUNANETRA

Kelompok 3 :

1. Muhamad Solikhin ( 857692091 )


2. Puguh Fajar Pandega ( 857693742)
3. Yepi Indriya Fitriani ( 857691842 )

4. Sri Handayani( 857691082 )


Kegiatan Belajar 1
A. Definisi dan Klasifikasi Tunanetra
Orang tunanetra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang
masih memiliki sisa penglihatan, tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca tulisan biasa
berukuran 12 poin dalam keadaan cahaya normal meskipun dibantu dengan kacamata.
Terdapat sejenis konsesus internasional untuk menggunakan dua jenis definisi sehubungan dengan kehilangan
penglihatan :
Definisi legal ada dua aspek yang diukur
a. Ketajaman penglihatan (visual activity)
Cara yang paling umum untuk mengukur ketajaman penglihatan dengan menggunakan Snellen
Chart
b. Medan pandang (visual field)
Luasnya wilayah yang dapat dilihat orang tanpa menggerakkan matanya.

Definisi Seorang dikatakan tunanetra apabila untuk kegiatan pembelajarannya dia memerlukan alat bantu
edukasional / khusus, metode khusus/teknik tertentu sehingga dia dapat belajar tanpa penglihatan/dengan
fungsional penglihatan yang terbatas.
Ketunanetraan dibagi dalam 2 kelompok yaitu buta (blind) dan kurang awas (low vision)

B. Penyebab Terjadinya Ketunanetraan


Penyebab ketunanetraan itu kompleks, bervariasi dan selalu berubah-ubah. Ketunanetraan dapat terjadi sebelum kelahiran,
tak lama sesudah kelahiran dan pada masa kanak-kanak hingga masa dewasa
Kondisi umum yang dapat menyebabkan ketunanetraan :

1. Albinisme 6. Glaukoma 11. Ophtalmia Neonatorum 16. Sobeknya dan Lepasnya


2. Amblyopia 7. Katarak 12. Penyakit Kornea dan Retina
3. Buta Warna 8. Kelainan Mata Bawaan Pencangkokan Kornea 17. Strabismus
4. Cedera/Trauma dan 9. Myopia (Penglihatan 13. Retinitis Pigmentosa 18. Trakhoma
Radiasi Dekat) 14. Retinopati Diabetika 19. Tumor
5. Defisiensi Vitamin A - 10. Nistagmus 15. Retinopathy of 20. Uveitis
Xerophthalmia Prematurity

C. Pencegahan Terjadinya Ketunanetraan


WHO mempunyai satu strategi yang terdiri dari 3 langkah untuk memerangi kebutaan dan kurang awas :
1. Memperkuat program kesehatan dasar mata di dalam program pelayanan kesehatan dasar untuk menghapuskan factor
penyebabnya yang dapat dicegah
2. Mengembangkan pelayanan terapi dan pembedahan untuk menangani secara efektif gangguan maya yang dapat
disembuhkan
3. Mendirikan pusat pelayanan optic dan pelayanan bagi penyandang tunanetra

Strategi untuk mencegah ketunanetraan pada anak dikembangkan atas 3 tingkatan :


1. Pencegahan primer : pencegahan berjangkitnya penyakit
2. Pencegahan sekunder : pencegahan timbulnya komplikasi yang mengancam penglihatan serta kehilangan penglihatan
bila penyakit telah berjangkit
3. Pencegahan tersier : meminimalisasi ketunanetraan yang diakibatkan oleh penyakit / cedera yang telah dialami
Sepuluh strategi utama yang mungkin dapat memperjelas bagaimana perang modern melawan banyak factor yang
kompleks yang menentukan terjadinya gangguan yang mengakibatkan ketunanetraan :

a. Prophylaxis : Penggunaan prosedur yang sistematis dan jika perlu penggunaan medikasi untuk
pencegahan primer terhadap suatu gangguan (seperti gonorrhea)
b. Imunisasi : vaksinasi terhadap penyakit infeksi (campak, rubella, dsb )
c. Perawatan kehamilan yang : Strategi ini memerlukan pelayanan kesehatan yang maju dan sumber ekonomi
tepat
d. Perawatan neonatal : pemberian perawatan yang tepat bagi bayi yang baru lahir
e. Perbaikan gizi : pemberian vitamin A secara teratur
f. Pendidikan : pendidikan masyarakat melalui media massa/lebih spesifik pendidikan kesehatan
mengenai penyakit endemic lokal seperti campak
g. Penyuluhan genetika : belum dilaksanakan dalam skala besar
h. Perundang-undangan : ketentuan yang mengatur produksi dan pengedaran barang mainan yang berbahaya
i. Deteksi dan intervensi dini : (untuk meningkatkan interaksi dan perkembangan) serta perawatan bagi penyakit yang
berpotensi mengakibatkan ketunanetraan seperti katarak bawaan, glaucoma bawaan
j. Meningkatkan hygiene dan : terutama selama saat infeksi dan sakit
perawatan kesehatan
Kegiatan Belajar 2
2 mispersepsi yang saling bertentangan di kalangan masyarakat awam tentang keadaan yang mungkin terbentuk bila
orang kehilangan indra penglihatannya :
Pertama, banyak orang percaya bahwa bila orang kehilangan penglihatannya maka hilang pulalah semua persepsinya
Kedua, orang tunanetra akan mengembangkan indra ke-6 untuk menggantikan fungsi indra penglihatan
A. Proses Pengindraan
• Organ-organ pengindraan berfungsi memperoleh informasi dari lingkungan dan mengirimkannya ke otak untuk
diproses, disimpan dan ditindaklanjuti.
• Masing-masing organ pengindraan bertugas memperoleh informasi yang berbeda-beda.
• Informasi yang dipersepsi melalui organ pengindraan melewati 3 prosesor dan dikodekan dalam bentuk linguistic,
nonlinguistik atau afektif

B. Latihan Ketrampilan Pengindraan

1. Indra Pendengaran
Dengan dilatih, pendengaran akan peka terhadap bunyi kecil di rumah seperti tetesan air yang bocor, desau computer yang
lupa tidak dimatikan.
Dengan melatih ketrampilan pendengaran seperti ini, tanpa menggunakan indra penglihatan, seorang tunanetra dapat
menyadari apa yang sedang dilakukan oleh orang sekitar melalui sumber bunyi yang ada
2. Indra Perabaan
• Indra perabaan tidak terbatas pada tangan saja.
• Arus udara yang menerpa wajah dapat menginformasikan bahwa pintu / jendela telah dibiarkan terbuka.
• Kaki dapat belajar mendeteksi perbedaan antara karpet, tikar, dan permukaan lantai
• Bagi tunanetra, tongkat merupakan perpanjangan fungsi indra perabaan

3. Indra Penciuman
Indra penciuman dapat membantu seorang tunanetra dalam mengenali lingkungan.
Contohnya : Jika tidak bisa membedakan kunyit dan jahe, maka bisa dikenali lewat baunya

4. Sisa Indra Penglihatan


Sebagian besar orang yang dikategorikan sebagai tunanetra masih mempunyai sisa penglihatan. Tetapi tingkat sisa
penglihatan mereka itu sangat bervariasi, begitu pula kemampuan mereka untuk memanfaatkan sisa penglihatan tersebut.

C. Visualisasi, Ingatan Kinestetik, dan Persepsi Obyek


1. Visualisasi
Cara lain bagi individu tunanetra untuk mendapatkan kenyamanan di dalam lingkungannya dan membantunya
bergerak secara mandiri adalah dengan menggunakan ingatan visual (visual memory) atau visualisasi
2. Ingatan Kinestetik
Ingatan kinestetik adalah ingatan tentang kesadaran gerak otot yang dihasilkan oleh interaksi antara indra perabaan,
propriosepsi, dan keseimbangan (yang dikontrol oleh sistem vestibular) yang berpusat di bagian atas dari telinga bagian
dalam
3. Persepsi Obyek (Object Perception)
Suatu kemampuan yang memungkinkan individu tunanetra menyadari bahwa suatu benda hadir di sampingnya atau
di hadapannya meskipun dia tidak memiliki penglihatan sama sekali dan tidak menyentuh benda itu

D. Bagaimana Cara Membantu Tunanetra


• Tidak semua orang tunanetra berhasil mengoptimalkan pengembangan semua indranya dan tidak seluruh fungsi indra
penglihatan dapat digantikan dengan mengoptimalkan fungsi indra lain. Dalam situasi tertentu, orang tunanetra masih
memerlukan bantuan orang awas.
• Banyak orang memiliki persepsi yang salah tentang apakah orang tunanetra itu sedang membutuhkan bantuan atau
tidak. Oleh karena itu, sebelum memberikan bantuan sebaiknya bertanya dulu apakah dia membutuhkan bantuan anda

Ide tentang cara membantu seorang tunanetra :


Orang awas yang ingin membantu seorang tunanetra harus mengetahui cara membantunya yaitu meliputi :
1. Cara menuntun seorang tunanetra
2. Cara mengorientasikan seorang tunanetra
Kegiatan Belajar 3
Sebagian besar siswa tunanetra di Indonesia belajar di sekolah khusus bagi tunanetra yang disebut Sekolah Luar
Biasa bagian A (SLB/A). Sebagaimana halnya di negara lain, kini semakin banyak siswa tunanetra yang belajar di sekolah
umum bersama dengan siswa pada umumnya dalam setting pendidikan inklusif.
Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua
peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan dalam
satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya

A. Kebutuhan Khusus Pendidikan Siswa Tunanetra


Beberapa kebutuhan khusus pendidikan siswa tunanetra yaitu :
1. Pengembangan Konsep
Hill dan Blasch (1980-dalam Sunanto, 2008) mengklasifikasi jenis konsep yang diperlukan bagi anak tunanetra
menjadi 3 kategori dasar :
a. Konsep tubuh (body consepts)
b. Konsep ruang (spatial concepts)
c. Konsep lingkungan (environmental consepts)

2. Teknik Alternatif dan Alat Bantu Belajar Khusus


Indra pendengaran dan perabaan merupakan saluran penerima informasi yang paling efisien sesudah indra penglihatan.
Teknik alternatif pada umumnya memanfaatkan indra pendengaran/perabaan. Sejalan dengan hal itu, banyak alat bantu
belajar dan alat bantu kegiatan kehidupan sehari-hari lainnya dibuat timbul / bersuara
3. Ketrampilan Sosial / Emosional
• Di kalangan sebayanya, anak tunanetra memerlukan waktu untuk dapat diterima karena penerimaan sosial sering
didasarkan atas kesamaan. Anak cenderung mengalami penolakan sosial bila mereka dipersepsi sebagai berbeda dari
teman sebayanya (Asher et al-dalam Burton, 1986)
• Anak tunanetra cenderung mengarahkan kegiatan bermainnya lebih banyak kepada orang dewasa daripada teman
sebayanya. Anak tunanetra memilih untuk berinteraksi dengan orang dewasa karena interaksi ini mungkin lebih
bermakna dan menstimulasi daripada interaksi dengan teman sebayanya.
• Untuk dapat diterima oleh kelompok sosialnya, anak tunanetra membutuhkan bantuan khusus untuk mengatasi
kesulitannya dalam memperoleh ketrampilan sosial. Seperti ketrampilan untuk menunjukkan ekspresi wajah yang tepat,
menggelengkan kepala, melambaikan tangan.

4. Ketrampilan Orientasi dan Mobilitas


• Ketrampilan mobilitas yaitu ketrampilan untuk bergerak secara leluasa di dalam lingkungannya.
• Ketrampilan mobilitas sangat terkait dengan kemampuan orientasi yaitu kemampuan untuk memahami hubungan
lokasi antara satu obyek dengan obyek lainnya di dalam lingkungan (Hill&Ponder, 1976)

5. Ketrampilan Menggunakan Sisa Penglihatan


• Sebagian besar orang tunanetra masih memiliki sisa penglihatan yang fungsional
• Banyak diantara mereka masih dapat membaca dan menulis menggunakan tulisan biasa dengan pengaturan pada
satu/tiga aspek yakni :
1. Pencahayaan
2. Penggunaan kacamata
3. Magnifikasi (pembesaran tampilan tulisan)
B. Strategi dan Media Pembelajaran
1. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan optimal dari semua komponen yang
terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi tujuan, materi pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar
dan evaluasi.
Berbagai strategi pembelajaran yang didasarkan pada pertimbangan tertentu :
1. Berdasarkan pertimbangan pengolahan pesan ada dua macam strategi pembelajaran yaitu deduktif dan induktif
2. Berdasarkan pihak pengolah pesan, terdapat dua strategi pembelajaran yaitu ekpositorik dan heuristic
3. Berdasarkan pertimbangan pengaturan guru, ada strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu
4. Berdasarkan pertimbangan jumlah siswa, terdapat strategi pembelajaran klasikal, kelompok kecil, individual
5. Berdasarkan interaksi guru dan siswa, terdapat strategi pembelajaran tatap muka dan melalui media

Strategi yang dapat diterapkan pada pembelajaran anak tunanetra :

a. Strategi c. Strategi Modifikasi


b.Strategi Kooperatif
Individualisasi Perilaku

Guru harus memahami prinsip dasar dalam pembelajaran siswa tunanetra:

a. Prinsip Individual c. Prinsip Totalitas

b. Prinsip Kekongritan / pengalaman pengindraan langsung d. Prinsip aktivitas mandiri (self-activity)


2. Media Pembelajaran
Fungsi media pembelajaran adalah untuk memperlancar proses pembelajaran, memperjelas suatu konsep (termasuk
menghindarkan verbalisme,), serta membangkitkan minat dan perhatian terhadap pembelajaran
Menurut fungsinya, media pembelajaran dapat dibedakan menjadi
a. Media yang berfungsi untuk memperjelas penanaman konsep, yang sering disebut alat peraga
b. Media yang berfungsi untuk membantu kelancaran proses pembelajaran itu sendiri yang sering disebut alat bantu
pembelajaran

Jenis alat peraga dan alat bantu pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran anak tunanetra:

B. Alat Bantu Pembelajaran


A. Alat Peraga 1. Alat bantu untuk baca tulis antara lain : reglet &
1. Objek atau situasi yang sebenarnya pen (stylus), mesin ketik Braille, papan huruf, dan
Contoh : tumbuhan dan hewan asli / sebenarnya optacon (alat yang dapat merubah huruf cetak yang
2. Benda asli yang diawetkan dapat diraba/huruf timbul)
Contoh : binatang yang diawetkan 2. Alat bantu untuk membaca (bagi anak low vision) :
3. Tiruan (model) yang terdiri dari model tiga dimensi kaca pembesar, OHP, CCTV, dan slide proyektor
dan dua dimensi 3. Alat bantu berhitung : papan hitung (cubaritme),
abacus (sempoa), kalkulator bicara (talking
calculator)
4. Alat bantu audio yang sering digunakan anak
tunanetra : tape recorder
C. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi terhadap pencapaian hasil belajar pada siswa tunanetra pada dasarnya sama dengan yang dilakukan terhadap
siswa awas namun ada sedikit perbedaan yang menyangkut materi tes/soal dan teknik pelaksanaan tes.
Materi tes/pertanyaan yang diberikan kepada siswa tunanetra tidak mengandun unsur yang memerlukan persepsi visual
Kegiatan evaluasi dapat dilaksanakan melalui tes lisan, tertulis, dan perbuatan.

Dalam pelaksanaan tes tertulis (di sekolah terpadu) ada hal yang perlu diperhatikan yaitu :
Pertama, soal yang diberikan kepada siswa tunanetra yang tergolong buta, hendaknya dalam bentuk huruf braille,
sedangkan bagi siswa low vision dapat menggunakan huruf biasa yang ukurannya disesuaikan dengan kemampuan
penglihatannya

Kedua, harus obyektif dalam mengevaluasi pencapaian prestasi belajar siswa tunanetra/memberikan penilaian yang sesuai
dengan kemampuannya

Ketiga, waktu pelaksanaan tes bagi siswa tunanetra hendaknya lebih lama dibandingkan dengan pelaksanaan tes untuk
siswa awas
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai