Anda di halaman 1dari 32

Kewirausahaan

Pendidikan Kewirausahaan dan Pelatihan

Ada beberapa universitas ataupun tempat kursus yang memberikan


mata kuliah enterpreneurship sebagai bentuk mata kuliah umum
ataupun dalam bentuk konsentrasi program studi, termasuk di
antaranya beberapa universitas/tempat kursus di daerah Eropa dan
Amerika Serikat, yang dimana di sana telah berkembang pesat
pendidikan dan pelatihan kewirausahaan. Adapun tujuan diberikannya
mata kuliah ini adalah:
• mengerti apa peranan perusahaan dalam sistem perekonomian
• keuntungan dan kelemahan berbagai bentuk perusahaan
• mengetahui karakteristik dalam proses kewirausahaan
• mengerti perencanaan produk dan proses pengembangan produk
• mampu mengidentifikasi peluang bisnis dan menciptakan kreativitas
serta membentuk organisasi kerjasama
• mampu mengidentifikasi dan mencari sumber-sumber
• mengerti dasar-dasar: marketing, financial, organisasi, produksi
• mampu memimpin bisnis, menghadapi tantangan masa depan
Dorongan Merintis Usaha

Dorongan merintis usaha pada dasarnya sering kita rasakan sehari-hari.


Tuntutan kehidupan membuat kita berpikir keras bagaimana caranya untuk
mencapai kesejahteraan hidup tanpa harus membebani orang lain. Di
Amerika ada budaya keinginan seseorang untuk menjadi bos sendiri,
memiliki peluang individual, menjadi sukses dan menghimpun kekayaan,
ini semua merupakan aspek yang utama dalam mendorong berdirinya
kegiatan kewirausahaan.
Di negara lain mungkin motivasi mendirikan bisnis bukan mencari uang
yang utama akan tetapi ada motif-motif lain di balik itu, salah satu di
antaranya adalah motivasi yang didorong oleh lingkungan. Hal ini banyak
dijumpai diberbagai macam perusahaan di daerah Silicon Valley
(California). Lingkungan seperti ini sangat mendorong pembentukan
kewirausahaan.
Lanjut…

Di lingkungan Silicon Valley banyak dijumpai ratusan perusahaan kebanyakan


bergerak dalam bidang komputer dan elektronik yang selalu menghasilkan
produk-produk baru. Mereka bersaing secara rutin, dan kondisi mereka selalu
stabil, mereka tidak terorganisasi dalam alam birokrasi.
An adhocracy ia an organization in which tehre are few specialized jobs and title
required adherence to the chain of command. Organization charts are usually
avoided. Decision making is decentralized. In these firms there is usually a set of
common beliefs and a sense of common purpose-a “culture.” This culture helps
hold the employees together and helps ensure that the work of the firm is done
effectively. (schoell, 1993:235)
Situasi organisasi semacam ini oleh para ahli diistilahkan dengan ‘adhocracy’
sebagai lawan dari birokrasi. Ada pekerjaan spesialis, sedikit ikatan komando,
tidak ada struktur organisasi yang jelas. Pengambilan keputusan bersifat
desentralisasi. Mereka memiliki budaya kerja tinggi, saling percaya, penuh
keyakinan. Semua ini membuat pekerjaan sangat efektif.
Lanjut…

Dalam aspek lain, keberanian membentuk


kewirausahaan didorong oleh guru sekolah, sekolah
yang memberikan mata pelajaran kewirausahaan yang
praktis dan menarik dapat membangkitkan minat
siswa untuk berwirausaha, seperti yang terjadi pada
alumni MIT, Harvard University dan beberapa
perguruan tinggi lainnya.
Dorongan membentuk wirausaha juga datang dari
teman sepergaulan, lingkungan keluarga, sahabat
dimana mereka dapat berdiskusi tentang ide
wirausaha masalah yang dihadapi dan cara-cara
mengatasi masalahnya.
Pendidikan formal dan pengalaman bisnis kecil-kecilan
yang dimiliki oleh seseorang dapat menjadi potensi
utama menjadi wirausaha yang berhasil. Oleh sebab itu
dikatakan entrepreneur are not born-they develop.
(Hisrich-Peters, 1995)
Latar Belakang Wirausaha

Ada 5 latar belakang wirausaha, yakni:

A. Lingkungan Keluarga Semasa Kecil. Ini dilihat dari anak nomor


berapa, orang tua, pekerjaan, dan status sosial. Misalnya, para
eksekutif muda cenderung berasal dari anak nomor satu dari sekian
bersaudara, mereka ini memperoleh perhatian istimewa sewaktu kecil,
dan self confidencenya tinggi. Lingkungan dalam bentuk “role
models” juga berpengaruh terhadap minat berwirausaha. Role models
ini biasanya melihat kepada orang tua, saudara, keluarga yang lain
(kakek, paman, bibi, anak), teman-teman, pasangan, atau pengusaha
yang sukses yang diidolakannya.
B. Pendidikan. Banyak orang mengatakan bahwa tingkat
pendidikan para wirausaha , agak rendah dibandingkan
dengan rata-rata populasi masyarakat. Namun ini tidak
begitu signifikan, karena tingkat pendidikan juga penting
bagi wirausaha, terutama dalam menjaga kontuinitas
usahanya dan mengatasi segala masalah yang dihadapi
diperlukan tingkat pendidikan yang memadai. Saat
memulai usaha, tingkat pendidikan tidak begitu penting,
malahan banyak di antara pengusaha adalah orang-orang
drop out seperti Andrew Carnegie, William Durant, Henry
Ford. Menurut Hisrich hampir 70% dari wanita pengusaha
pernah mengenyam pendidikan diploma atau S1,
kebanyakan adalah bahasa Inggris, Psikologi, bidang
Pendidikan, dan Sosiologi ada pula yang berasal dari
disiplin engineer, science dan matematik.
C. Nilai-nilai (values) Personal. Dari segi personal values agak
sulit membedakan keberhasilan seorang pengusaha
dengan pengusaha gagal. Namun menurut Hisrich ada
value yang bersifat umum yang dapat diamati sebagai
karakteristik keberhasilan dalam berwirausaha yaitu:
1. keinginan menghasilkan superior produk
2. layanan berkualitas terhadap konsumen
3. fleksibel, serta kemampuan menyesuaikan diri terhadap
perubahan pasar
4. kemampuan dalam manajemen, (high calibre
management)
5. Memiliki sopan santun dan etika dalam berbisnis
4. Perbedaan Wanita Wirausaha dan Pria Wirausaha

Wanita pengusaha bertumbuh sangat pesat di Amerika, terutama di segmen


bisnis kecil. Wanita membuka bisnis dua kali lipat banyaknya dari pria. Pada saat
ini wanita memiliki sepertiga dari semua bentuk bisnis, dan diharapkan akan
bertumbuh menjdi 50% wanita pengusaha pada tahun 2000. kebanyakan
sekarang ini 80 % wanita menggeluti bidang retailing dan jasa pelayanan.
Sedangkan pria menjalankan banyak usaha pabrik, konstruksi, transportasi, dan
pertambangan. (Zimmer & Scarborough, 1996:9)
Walaupun antara pengusaha pria dan wanita pada umumnya sama namun
dalam beberapa hal ada perbedaan tingkat motivasinya dalam membuka bisnis.
Perbedaan-perbedaan ini antara lain :

- Wanita pengusaha dimotivasi untuk membuka bisnis karena ingin


berprestasi dan adanya frustasi dalam pekerjaan sebelumnya. Dia merasa
terkekang tidak dapat menampilkan kebolehannya dan mengembangkan
bakat-bakat yang ada pada dirinya.
- Dalam hal permodalan dalam bisnis pria pengusaha lebih leluasa
memperoleh sumber modal sedangkan wanita pengusaha memperoleh
sumber modal dari tabungan, harta pribadi, dan pinjaman pribadi. Agak sulit
wanita pengusaha memperoleh pinjaman perbankan dibandingkan kaum
pria.
- Mengenai karakteristik kepribadian wanita pengusaha mempunyai sifat
toleransi dan fleksibel, realistik dan kreatif, antusias dan enerjik dan mampu
berhubungan dengan lingkungan masyarakat dan memiliki medium level of
selve convidence, kaum pria self confidencenya tinggi dari kebanyakan wanita.
- Usia memulai usaha pria rata-rata umur 25-35, sedangkan wanita di Amerika
berusia 35-45.
- Kerabat yang menunjang pada pengusaha wanita adalah keluarganya, suami,
organisasi wanita dan kelompol-kelompok sepergaulannya.
- Bentuk bisnis yang dibuka pada pria pengusaha lebih banyak ragamnya akan
tetapi pada wanita pengusaha kebanyakan berhubungan dengan bisnis jasa,
pendidikan, konsultan, dan public relations
Bagaimana perbandingan wanita wirausaha dan pria wirausaha
di Indonesia, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian
dapat di fokuskan ke arah aspek-aspek besarnya usaha, sumber
permodalan, motivasinya, kekuatan, kelemahannya, pengaruhnya
terhadap pembinaan keluarga, inovasinya dan sebagainya.
Intrapreneurship
1. Pengertian dan Manfaat

Suasana perusahaan yang lebih leluasa, ceria, bebas terkendali, membuka


peluang bagi orang-orang kreatif mengembangkan talenta, kemampuan daya pikir
dan daya ciptanya. Mereka bisa mengembangkan secara bertanggung jawab apa
yang diinginkan yang dianggap baik yang mengarah kepada hal-hal yang positif
sehingga menguntungkan bagi perusahaan. Jika kesempatan ini tidak terbuka pada
sebuah perusahaan maka bagi seseorang yang kreatif, mereka akan merasa
terkekang, akhirnya cenderung tidak produktif dan frustasi. Hisrich menyatakan :
Intrapreneurship is one method stimulating and then capitalizing on individuals is
an organization who think that something can be done differently and better. Jadi ini
merupakan satu metode mendorong serta memberikan fasilitas, membuka
kesempatan bagi sesorang dalam organisasi untuk menciptakan, mengerjakan
sesuatu yang beda dari yang lain secara lebih baik dan bertanggung jawab.
Terbukanya peluang semacam ini sangat menjanjikan satu kemajuan bagi sebuah
perusahaan karena munculnya kreatifitas, inovasi.
Dalam organisasi yang biasa, aktivitas semacam ini sulit muncul, karena
suasana yang kaku, tidak ada kebebasan berkreasi bagi karyawannya. Bagi
sebuah organisasi sangat perlu mengembangkan spirit entrepreneurship ini,
inilah yang dimaksdukan dengan istilah intrapreneurship. Spirit ini akan
mengembangkan produk, diversifikasi, dan meningkatkan produktivitas.
2. Perbedaan Perusahaan Tradisional dengan Intrapreneurship

Pada perusahaan tradisional, pokok-pokok aturan yang berlaku biasanya :


• Harus mengikuti peraturan secara ketat, sesuai dengan yang telah
digariskan.
•Tidak boleh menyimpang, berbuat kesalahan, tidak boleh gagal.
•Tidak boleh membuat inisiatif sendiri tapi tunggu instruksi atasan.

Kondisi persyaratan ketat seperti ini sangat tidak kondusif munculnya


kreatifitas, fleksibilitas, independensi dan keberanian karyawan.

Dalam Intrapreneurship kita jumpai suasana :


•Karyawan bisa mengembangkan visinya, tujuan dan kegiatannya
• Ada pemberian hadiah untuk pemikiran dan kegiatan yang positif seperti
pengajuan usul, eksperimen, pengembangan ide, dan tanggung jawab.
Ada lagi perbedaan dalam values norms yang berlaku. Dalam
organisasi tradisional, organisasinya bersifat hirarkis, prosedur
standar, sistem pelaporan baku, ada garis lini dan tanggungjawab, ada
instruksi, wewenang, sistem kontrol. Dalam budaya organisasi
intrapreneur dijumpai situasi yang berbeda (sebaliknya ) struktur
organisasi bersifat flat, mengembang ke samping bukan ke atas
hirarkis, ada jaringan kerja, ada kelompok kerja, ada mentor,
hubungan dekat satu sama lain, iklim kerja tidak kaku, saling
percaya, banyak pemikiran dan usul, sehingga terjadi cross-
fertilization of ideas (saling memupuk, saling bantu sesama karyawan
dalam mengembangkan ide).
Tabel perbandingan antara tradisional managers, enterpreneur, dan intrapreneur

Sifat Tradisional Managers Enterpreneur Intrapreneur

•Motif Utama Mengharapakan promosi dan Ada kebebasan, ada Ada kebebasan dan peluang
hadiah, ada kantor, peluang berkreasi dan mengembangkan bakat dan
kekuasaan dan staff dapat uang ada hadiah dari
perusahaan

•Kegiatan Mendelegasikan, dan banyak Terlibat secara langsung Lebih banyak terlibat
pengawasan ketimbang mendelegasikan
kepada orang lain

•Resiko Sangat hati-hati Lebih moderat dalam Bersifat moderat dalam


mengambil resiko menngambil resiko

•Status Sangat memperhatikan Tidak peduli dengan simbol Tidak terlalu


status memperhatikan status,
hanya ingin keleluasaan

•Kesalahan& Berusaha menghindari Terbiasa dengan Mencoba tidak


kegagalan kesalahan kesalahan&kegagalan membicarakan kesalahan
sampai ia berhasil
Lingkungan atau Iklim Organisasi yang
Mendorong Intrapreneurship

Untuk mendorong adanya intrapreneurship maka diperlukan suasana


kepemimpinan yang menunjang:

1. Adanya penerapan
teknologi dalam
organisasi yang dapat
membangkitkan
keberanian, dan 2. Terbuka peluang
menunjang ide-ide eksperimen, tidak takut
pada kegiatan trial and
baru, sehingga
error. Biasanya untuk
karyawan tidak jadi mendapatkan produk
penakut baru, ditempuh beberapa
kegagalan, sampai
memperoleh bentuk
produk baru yang
sempurna, ini memakan
waktu, berevolusi.
3. Tidak ada ukuran
atau parameter baku
untuk suatu keberhasilan
4. Harus tersedia
dana yang cukup 6. Spirit intrapreneurship
untuk melakukan tidak berdasarkan pada
kebebasan perseorangan, tapi atas
pengembangan ide. dasar sukarela dan sistem
hadiah. Hadiah perlu
diberikan untuk semua
energi, usaha yang
dikeluarkan untuk
penciptaan yang baru.

5. Harus
dikembangkan tim
multidisiplin dan
kerjasama 7. Akhirnya aktivitas
antarbidang. spirit ini harus mendapat
support dari top
management baik secara
fisik maupun dalam
bentuk finansial.
Karakteristik Kepemimpinan Intrapreneurship.
Seorang wirausahawan harus memahami lingkungan baik internal maupun eksternal secara
utuh, dia harus mengetahui segala aspek, dia harus kreatif agar dapat mendorong spirit
intrapreneurship. Adapun karakteristik kepemimpinan itu adalah:

1. Dia harus seorang visioner leader, seseorang atau a person who dreams great dreams.
Dikatakan oleh Histrich bahwa a leader is like a gardener. Seorang tukang kebun, apabila
ingin menghasilkan tomat, maka harus cari bibit, tanam, kasih pupuk, beri air. Anda
jangan masukkan tomat ke pabrik, tapi tugas anda tanam dan pupuk tomat itu. Definisi
lain mengatakan : leadership is the ability to dream graet thinks and communicate these in
such a way that people say yes to being a part of the dream. Jadi coba yakinkan orang
lain, bahwa mimpi anda bagus sehingga mereka tertarik dan meng-iya-kan lalu mereka
menyokong mewujudkan mimpi tersebut. Kadang-kadang perusahaan tertentu muncul ide-
ide gila. Ide gila ini pada awalnya mungkin tidak masuk akal, tapi setelah ditelaah ada juga
peluang kemungkinan berhasil. Apabila seseorang mempunyai suatu ide maka ia harus
meyakinkan banyak orang bahwa idenya ini bagus sekali. Jika ada yang membantah maka
ia berusaha mengatasi bantahan itu dan kembali orang yang membantah berbalik
menyokong idenya. The intrapreneurial leader must have a dream and overcome all the
obstacles to achieve it by selling the dream to other.
2. Pemimpin intrapreneur harus fleksibel dan menciptakan manajemen yang memberi
kebebasan kreativitas
3. Mendorong munculnya teamwork, dengan pendekatan multidisiplin dari berbagai keahlian,
seperti engineering, produksi, marketing, keuangan dan sebagainya. Harus diciptakan
diskusi terbuka untuk mencari sesuatu yang baru.
Membangun Iklim Intrapreneurship dalam Organisasi
Untuk membangun suasana Intrapreneurship, maka sebuah organisasi harus
menerapkan prosedur yang menunjang. Kadangkala perlu minta bantuan
konsultan untuk menciptakan suasana tersebut.
Namun yang penting adalah komitmen dari seluruh jajaran manajemen, dari
top, upper dan middle management. Komitmen dan rencana ini di sosialisasikan
dalam bentuk kegiatan internal marketing pada seluruh karyawan. Dengan
demikian iklim intrapreneurship akan bergema di seluruh kegiatan organisasi.
Pimpinan orgnisasi harus pula menjelaskan ide apa, sasaran bagaimana yang
hendak dicapai oleh organisasi dalam periode tertentu. Selanjutnya gunakan
fasilitas teknologi yang menunjang iklim intrapreneurship. Organisasi harus tetap
dekat dengan hati konsumen, harus belajar lebih produktif dengan menggunakan
sumber-sumber seefisien mungkin.
Jadi berilah kebebasan pada karyawan namun tetap terkendali dan
bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Sifat-sifat yang perlu Dimiliki
Wirausaha

Seseorang wirausahawan haruslah seseorang


yang mampu melihat ke depan. Melihat
kedepan bukan melamun kosong, tetapi
melihat, berfikir dan penuh perhitungan,
mencari pilihan dari berbagai alternatif
masalah dan pemecahannya. Dari berbagai
penelitian di Amerika Serikat, untuk menjadi
wirausahawan, seseorang harus memiliki ciri-
ciri sebagai berikut:
(BN. Marbun, 1993: 63)
Ciri-ciri Watak

• Percaya diri - kepercayaan (keteguhan)


- ketidaktergantungan, kepribadian mantap
- optimisme
• Berorientasikan tugas dan hasil - kebutuhan atau haus akan prestasi
- berorientasi laba atau hasil
- tekun dan tabah
- tekad, kerja keras, motivasi
- enerjik
- penuh inisiatif
• Pengambil resiko - mampu mengambil resiko
- suka pada tantangan
• Kepemimpinan - mampu memimpin
- dapat bergaul dengan orang lain
- menanggapi saran dan kritik
• Keorisinilan - inovatif (pembaharu)
- kreatif
- fleksibel
- banyak sumber
- serba bisa
- mengetahui banyak
• Berorientasi ke masa depan - pandangan ke depan
- perseptif
1. Percaya Diri

Sifat-sifat utama di atas dimulai dari pribadi yang mantap, tidak mudah
terombang-ambing oleh pendapat dan saran orang lain. Akan tetapi, saran-saran
orang lain jangan ditolak mentah-mentah, pakai itu untuk masukan untuk
dipertimbangkan, kemudian anda harus memutuskan segera. Anda harus optimis,
orang optimis asal tidak ngawur, Insya Allah bisnisnya akan berhasil.
Orang yang tinggi percaya dirinya adalah orang yang sudah matang jasmani
dan rohaninya. Pribadi semacam ini adalah pribadi yang independen dan sudah
mencapai tingkat maturity (lihat uraian pada bab tentang Kepribadian ).
Karakteristik kematangan seseorang adalah ia tidak tergantung pada orang lain,
dia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, obyektif, dan kritis. Dia tidak begitu
saja menyerap pendapat atau opini orang lain, tetapi dia mempertimbangkan
secara kritis. Emosionalnya boleh dikatakan sudah stabil, tidak gampang
tersinggung dan naik pitam. Juga tingkat sosialnya tinggi, mau menolong orang
lain, dan yang paling tinggi lagi ialah kedekatannya dengan khaliq sang pencipta,
Allah Swt. Diharapkan wirausahawan seperti ini betul-betul dapat menjelaskan
usahanya secara mandiri, jujur, dan disenangi oleh semua relasinya.
2. Berorientasi pada Tugas dan Hasil

Orang ini tidak mengutamakan prestise dulu, prestasi kemudian.


Akan tetapi, ia gandrung pada prestasi baru kemudian setelah berhasil
prestisenya akan naik. Anak muda yang selalu memikirkan prestise lebih
dulu dan prestasi kemudian, tidak akan mengalami kemajuan. Pernah ada
seseorang mahasiswa yang mengikuti praktik perniagaan di suatu
perguruan, ia malu menjinjing barang belanjaannya ke atas angkot. Dia
menjaga gengsinya dengan mencarter mobil taksi. Kebanyakan anak
remaja tidak mau berbelanja ke pasar menemani ibunya karena gengsi.
Padahal dengan ikut menemani ibu dan melihat suasana pasar, karena
pengalaman bisa diperoleh.
Berbagai motivasi akan muncul dalam bisnis jika kita berusaha
menyingkirkan prestise. Kita akan mampu bekerja keras, enerjik, tanpa
malu dilihat teman, asal yang kita kerjakan itu pekerjaan halal.
3. Pengambilan Resiko

Anak muda sering dikatakan selalu menyenangi tantangan. Mereka tidak


takut mati. Inilah salah satu faktor pendorong anak muda menyenangi olah raga
yang penuh dengan resiko dan tantangan, seperti balap motor di jalan raya,
kebut-kebutan, balap mobil milik orang tuanya, tetapi contoh-contoh tersebut
dalam arti negatif. Olahraga beresiko yang positif ialah olah raga bela diri, dan
sebagainya.
Ciri-ciri dan watak seperti ini dibawa ke dalam wirausaha yang juga penuh
dengan resiko dan tantangan, seperti persaingan, harga turun naik, barang tidak
laku, dan sebagainya. Namun semua tantangan ini harus di hadapi dengan
penuh perhitungan. Jika perhitungan sudah matang, membuat pertimbangan
dari segala macam segi, maka berjalanlah terus dengan tidak lupa berlindung
kepada-Nya.
4. Kepemimpinan

Sifat kepemimpinan memang ada dalam diri amsing-masing individu.


Namun sekarang ini, sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan dilatih.
Ini tergantung kepada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri
dengan organisasi atau orang yang ia pimpin.
Ada pemimpin yang disegani oleh bawahan, mudah memimpin
sekelompok orang, ia diikuti, dipercaya oleh bawahannya. Namun adapula
pemimpin yang tidak disenangi bawahan, atau ia tidak senang dengan
bawahannya, ia banyak curiga kepada bawahannya, ia mau mengawasi
bawahannya tetapi tidak ada waktu untuk itu. Menanam kecurigaan kepada
orang lain, pada suatu ketika kelak akan berakibat tidak baik pada usaha yang
sedang dijalankan. Pemimpin yang baik harus mau menerima kritik dari
bawahan, ia harus bersifat responsif.,
5. Keorisinilan

Sifat orisinil ini tentu tidak selalu ada pada diri


seseorang. Yang dimaksud orisinil disini ialah ia tidak
hanya mengekor pada orang lain, tetapi memiliki
pendapat sendiri, ada ide yang orisinil, ada
kemampuan untuk melaksanakan sesuatu.
Orisinil tidak berarti baru sama sekali, tetapi
produk tersebut mencerminkan hasil kombinasi baru
atau reintegrasi dari komponen-komponen yang sudah
ada, sehingga melahirkan sesuatu yang baru. Bobot
kreativitas orisinil suatu produk akan tampak sejauh
manakah ia berbeda dari apa yang sudah ada
sebelumnya.
6. Berorientasi ke Masa Depan

Seseorang wirausaha haruslah perspektif,


mempunyai visi ke depan, apa yang hendak ia lakukan,
apa yang ingin ia capai? Sebab sebuah usaha bukan
didirikan untuk sementara, tetapi untuk selamanya. Oleh
sebab itu, faktor kontinuitasnya harus dijaga dan
pandangan harus ditujukan jau ke depan. Untuk
menghadapi pandangan jauh ke depan, seseorang
wirausaha akan menyusun perencanaan dan strategi yang
matang, agar jelas langkah-langkah yang akan
dilaksanakan
13. Kepemimpinan

1. Pentingnya Kepemimpnan
Ada suatu keunggulan wirausaha yang sukses dibandingkan dengan wirausaha yang gagal
atau bangkrut yaitu terletak pada dinamika dan efektifitas kepemimpinan.
Peter F. Drucker Points out that managers (business leader) are the basic and scarcest
resource of any business enterprice (Hersey & Blanchard, 1977; 83)
Pimpinan perusahaan merupakan unsur pokok dan sumber yang langka didalam setiap
perusahaan. Statistik perkebangan perusahaan menunjukkan bahwa setiap 100 perusahaan
yang baru berdiri , kira-kira 50% gagal dalam tempo 2 tahun dan pada akhir tahun kelima
hanya tiggal 30% yang masih jalan. Pada umumnya kegagalan itu disebabkan oleh
kepemimpinan yang tidak efektif, mereka tidak mampu memimpin karyawan, tidak bisa
bekerja sama dengan orang lain atau mereka tidak bisa menguasai, mengendalikan diri sendiri.
Berbagai kekeliruan terjadi dibawah kepemimpinannya. Misalnya karyawan tidak bisa
dimotivasi untuk bekerja lebih baik, kurang disiplin, demikian pula dengan relasi perusahaan
tidak terjalin kerja sama yang baik, dan juga perilaku pemimpin sendiri yang tidak bisa menjadi
contoh. Seseorang wirausaha yang baik adalah pemimpin dalam bisnis, haruslah orang yang
dapat menguasai dan mengembangkan diri sendiri, dan juga mampu menguasai serta
mengarahkan dan mengembangkan para karyawannya.
Banyak definisi diberikan tentang kepemimpinan, antara lain;
George R. Terry, Leadership isthe activity of influencing people to strive willingly for group
objectives.I
Harol Koontz and Cyril O’Donnell state that leadership is influencing people to follow in the
achievement of a common gol. (Hersey & Blanchard, 1977; 84)
Banyak lagi defenisi tentang kepemimpinan, sama seperti banyaknya orang yang membuat
definisi itu.
Berdasarkan beberapa definisi di atas maka ada 3 variabel utama yang tercakup di dalam
kepemimpinan ;
1.Kepemimpinan melibatkan orang lain seperti bawahan atau para pengikut. Seorang
wirausaha akan berhasil apabila dia berhasil memimpin karyawannya atau pembantu-pembantu
yang mau bekerja sama dengan dia untuk memajukan perusahaan. Jadi wirausaha harus pandai
merangkul dan melibatkan para karyawan dalam segala aktifitas perusahaan. Untuk melibatkan
para karyawan ini kemungkinan pemimpin harus menggunakan berbagai cara misalnya
memberi hadiah, memberi nasehat, memberi imbalan yang cukup kepada karyawan dan
sebagainya.
2.Kepemimpinan menyangkut distribusi kekuasaan. Para wirausaha mempunyai otoritas
untuk memberikan sebagian kekuasaan kepada karyawan atau seorang karyawan diangkat
menjadi pemimpin pada bagian-bagian tertentu. Dalam hal ini eorang wirausaha telah
membagikan kekuasaannya kepada karyawan lain untuk bertindak atas nama dia. Selanjutnya
segala macam informasi sebagai hasil dari pengawasan dan pelaksanaan pekerjaan dapat
dimonitor oleh pimpinan.
3.Kepemimpinan menyangkut penanaman pengaruh dalam rangka mengarahkan para
bawahan. Seorang wirausaha tidak hanya mengatakan apa yang harus dikerjakan oleh karyawan
untuk berperilaku dan bertindak untuk memajukan perusahaan. Seorang wirausaha juga harus
dapat memberi contoh yang baik bagaimana melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang
diperintahkan.
2. Dua pendekatan utama kepemimpinan

Untuk mempelajari kepemimpinan, ada tiga pendekatan utama yaitu ;


1)Pendekatan sifat-sifat
Antara pemimpin dan bukan pemimpin dapat dilihat dengan mengidentifikasi sifat-sifat
kepribadiannya. Pendekatan psikologis ini untuk sebagian besar didasarkan atas pengakuan
hukum bahwa perilaku individu untuk sebagian ditentukan oleh struktur kepribadian (Oteng
Sutisna, 1982; 241)
Pendekatan sifat-sifat menyatakan bahwa terdapat sifat-sifat tertentu pada pemimpin antara
lain; memiliki kekuatan fisik dan keramahan. Seorang pemimpin memiliki tingkat intelegensi yang
tinggi. Hanya dalam mengungkapkan sifat-sifat ini seringkali muncul pertentangan sifat seperti
dinyatakan seorang pemimpin harus ramah tapi tegas, suka merenung tapi aktif, orangnya haurs
stabil emosional tapi fleksibel, berkeras hati tapi kooperatif. Ada sifat keprbadian yang dapat
dipandang berhubungan positif dengan perilaku pemimpin dan mempunyai korelasi tinggi ialah;
popularitas, keaslian,adaptabiitas, ambisi, ketekunan, status sosial, status ekonomi, mampu
berkomunikasi.
Memang sifat-sifat seperti diatas kita amati sangat menonjol pada para pemimpin atau para
wirausaha. Seorang pemimpin merupakan seseorang yang populer dilingkungannya, dia memunyai
banyak inisiatif, kreatifitas dan iini menunjukkna sebagai hasil untuk maju,