Anda di halaman 1dari 34

FARMAKO KINETIK OBAT BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Suatu obat yang diberikan secara oral untuk tujuan sistemik agar dapat memberikan efek, maka terlebih dahulu obat tersebut harus dapat diabsorpsi (1). Absorpsi zat aktif dari suatu sediaan erat kaitannya dengan disolusi zat tersebut dari sediaannya. Oleh karena itu semakin cepat zat aktif terdisolusi, makin cepat pula absorpsinya sehingga obat akan cepat memberikan efek . Untuk maksud tersebut diperlukan suatu usaha agar zat aktif dapat terlepas dan melarut dalam cairan saluran cerna secepat mungkin (2).

Tablet merupakan bentuk sediaan obat yang diberikan melalui mulut merupakan cara pemberian obat yang paling utama untuk memperoleh efek sistemik, dimana lebih dari 90 % persenyawaan obat diberikan melalui rute ini. Obat-obat yang diberikan secara per oral dalam bentuk sediaan farmasi sangat beragam dan mempunyai keuntungan masing-masing. Salahsatunya dalam bentuk tablet. Tablet merupakan bentuk sediaan obat yang paling sering digunakan, karena harganya murah dengan takaran yang tepat dan dapat dikemas secara baik. Tablet merupakan sediaan padat dan kompak yang dibuat dengan cara kempa atau dengan cetak. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai, zat pengikat, zat pelincir, zat pembsahan atau zat lain yang cocok. Untuk mendapatkan tablet yan optimal maka dibutuhkan suatu formula, untuk menghasilkan suatu formula yang optimal dalam proses pembuatan tablet diperlukan suatu studi awal sebelum memasuki tahap formula sesungguhnya. Proses suatu zat padat memasuki pelarut dan menghasilkan suatu larutan atau melarutnya zat padat disebut disolusi. Beberapa factor yang dapat mempengaruhi disolusi antara lain sifat fisikokimia obat, factor formulasi, anatomi fisiologi saluran cerna dan lain-lain. Jalur Proses disolusi suatu obat yaitu : Disintegrasi Deagregasi Tablet kapsul granul/agregat partikel halus Disolusi Disolusi Disolusi Obat dalam larutan (invitro/invivo) Absorpsi (in vivo) Obat dalam darah, cairan tubuh lainnya dan dalam jaringan Laju disolusi bahan obat dapat mempengaruhi kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi. Untuk bahan obat yang mudah larut dalam air, disolusi cenderung lebih cepat, namun kemampuan obat untuk menembus membrane sel tidak cepat. Dan sebagai tahap penentu laju adalah absorpsi melalui membrane pencernaan. Untuk obat yang tidak larut dalam air, mudah larut dalam lemak maka obat tersebut lebih mudah menembus membrane sel, kecepatan absorbsinya dibatasi oleh kecepatan disolusi dari obat yang tidak larut dari sediaan. Untuk menguji disolusi tablet maka diperlukan medium yang sesuai. Medium yang

digunakan dalam disolusi merupakan pelarut dengan karakteristik tertentu dan merupakan suatu medium pembanding bagaimana suatu zat aktif bekerja dalam tubuh. Air merupakan medium pelarut yang bersifat netral, dan dapar posfat dengan pH tertentu digunakan untuk memperkirakan nasib suatu obat di dalam usus. Dalam praktikum ini digunakan parasetamol tablet dari indo farma sebagai tablet yang akan diuji.selain itu, digunakan dapar fosfat pH 5,8 sebagai medium disolusi ditunjukan untuk mengasumsikan kerja parasetamol di usus agar sama seperti suasana pH didalam usus dan memahami profil disolusi obat. B. TUJUAN 1. Memahami profil disolusi obat dalam berbagai kondisi pH 2. Memahami pengaruh formulasi terhadap laju disolusi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Parasetamol 1. Umum Nama kimianya dikenal N-asetil-4-aminofenol dengan rumus molekul C8H9NO2. Parasetamol merupakan metabolit aktif fenasetin yang bertanggung jawab bagi efek analgesiknya. Ia menghambat prostaglandin yang lemah dan efek antiinflamasinya tidak bermakna. Asetaminofen di Indonesia dikenal dengan nama parasetamol dan diberikan secara per oral, parasetamol kurang mengiritasi lambung dan karena itu secara umum lebih disukai. 2. Sifat Fisika dan Kimia Parasetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0%, mempunyai rumus molekul C8H9NO2 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan, dengan bobot molekul 151,16. Parasetamol mempunyai bentuk hablur atau serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit, memiliki suhu lebur 169 C sampai 172 C. larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%)P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida. B. Disolusi Laju disolusi merupakan waktu yang diperlukan obat untuk melarut dalam cairan. Laju disolusi dinyatakan sebagai milligram zat yang dilarutkan permenit sentimeter persegi (mg/ menit/ cm2). Disolusi adalah suatu perubahan proses dari bentuk padat ke bentuk cairan atau larut, dimana dimulai dengan disintegrasi kemudian melarut sehingga menghasilkan bentuk larutan. Disolusi dapat mengakibatkan perbedaan aktifitas biologi dari suatu zat obat mungkin diakibatkan oleh laju dimana obat menjadi tersedia untuk diserap tubuh. Alat disolusi yang digunakan pada tablet parasetamol adalah alat tipe 2 dengan metode dayung, yang terdiri dari daun dan batang seperti pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu vertical wadah dan berputar halus tanpa goyangan. Pada praktikum uji disolusi tablet parasetamol menggunakan medium disolusi larutan dapar posfat. Dapar adalah senyawa-senyawa atau campuran senyawa yang dapat meniadakan perubahan pH terhadap penambahan sedikit asam atau basa, atau dikenal sebagai aksi dapar. Larutan dapar posfat digunakan sebagai media buatan untuk memperkirakan nasib obat dalam usus yang pada umumnya bersifat basa dengan pH sekitar 5-8.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju disolusi yaitu: 1. Sifat fisikokimia obat. a. Karakteristik fase padat. Laju disolusi dipengaruhi oleh bentuk amorf dan kristal. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa bentuk amorf dari obat lebih memberikan kelarutan yang besar dan laju disolusi yang lebih tinggi daripada bentuk kristal. b. Polimorfisme. Polimorf merupakan bentuk kristal obat yang terdiri lebih dari satu bentuk kristal. Polimorf menunjukkan kinetika pelarut yang berbeda meskipun memiliki struktur kimia yang identik. Beberapa laporan menunjukkan bahwa polimorfisme dalam bentuk hidrat, solvate atau kompleks secara nyata mempengaruhi karakteristik disolusi & obat. c. Karakteristik partikel. Laju disolusi secara langsung berhubungan dengan permukaan obat. Jika daerah permukaan diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel, laju disolusi menjadi tinggi disebabkan pengurangan ukuran partikel 2. Faktor formulasi a. Bahan tambahan. Laju disolusi suatu obat murni dapat berubah secara bermakna saat dicampur dengan berbagai bahan tambahan selama proses pencetakan bentuk sediaan. Bahan tambahan ini antara lain bahan pengisi, pengikat, penghancur, pelicin, dan sebagainya. b. Ukuran partikel. Untuk meningkatkan laju disolusi dipilih ukuran partikel optimal yaitu cukup kecil untuk memberikan luas permukaan spesifik yang berarti, tetapi tidak terlalu kecil agar kesulitan pembasahan yang disebabkan oleh muatan partikel yang terjadi selama penggerusan dapat dihindari. Uji Disolusi Tablet yaitu untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi (missal Farmakope) untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul gelatin lunak kecuali bila dinyatakan dalam masing-masing monografi. Persyaratan dipenuhi bila jumlah zat aktif yang terlarut dari sediaan yang diuji sesuai dengan table penerimaan. Lanjutkan pengujian sampai 3 tahap kecuali bila hasil pengujian memenuhi tahap S1 atau S2. Harga Q adalah jumlah zat aktif yang terlarut seperti tertera pada masingmasing monografi, dinyatakan dalam persentasi kadar pada etiket, angka 5% dan 15% dalam table adalah persentasi kadar pada etiket, dengan demikian mempunyai arti sama dengan Q. Berikut ini merupakan table penerimaan uji disolusi yang tertera pada Farmakope IV: Tahap Pengujian Jumlah satuan yang diuji Kriteria Penerimaan S1 6 Tiap unit sediaan tidak kurang dari Q+5% S2 6 Rata-rata dari 12 unit (S1 + S2) adalah sama dengan atau lebih besar dari Q dan tidak satu unit sediaan yang lebih kecil dari Q 15% S3 12 Rata-rata dari 24 unit (S1 + S2 + S3) adalah sama dengan atau lebih besar dari Q, tidak lebih dari 2 unit sediaan yang lebih kecil dari Q 15% dan tidak satu unitpun yang lebih kecil dari Q 25% BAB III METODE PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan Alat-alat : 1. Disolution tester

2. Spektrofotometer UV-VIS 3. Vial 12 pcs @ 15 ml Bahan-bahan: 1. Tablet parasetamol (generic dan paten) 2. HCl 0,1 N 3. Larutan dapar fosfat pH 5,8 dan 7,5 4. Aquadest B. Cara Kerja 1. Siapkan alat dissolution tester tipe 2 dan bahan. 2. Setiap kelompok menggunakan satu sampel uji dengan medium disolusi yang telah ditetapkan. 3. Penentuan panjang gelombang larutan parasetamol; buat larutan standar konsentrasi 10g/ml dan ukur serapannya pada panjang gelombang 220-350 nm. 4. Pembuatan kurva kalibrasi; buat larutan standar parasetamol dengan beberapa konsentrasi yaitu, 4, 6, 8, 10, 12, dan 14g/ml dan ukur serapannya pada panjang gelombang maksimum (hasil pengukuran pada no. 2). 5. Penentuan profil disolusi; wadah disolusi (chamber) diisi dengan medium disolusi sebanyak 900 ml. Tablet parasetamol dimasukkan dalam chamber yang telah terisi medium disolusi kemudian atur alat disolusi pada kecepatan 50 rpm. Ambillah larutan dalam chamber (melalui pemipetan) sebanyak 5 ml pada menit ke 0, 5, 10, 15, 20, dan 30 dan setiap pengambilan harus digantikan dengan medium lagi sejumlah yang sama. Masing-masing larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis, kemudian tentukan kadar parasetamol yang terdisolusi per satuan waktu menggunakan kurva kalibrasi.

BAB IV HASIL DAN PERHITUNGAN A. Hasil Dari hasil praktikum pada tanggal 20 Oktober 2009 di dapat hasil : 1. Kurva Kalibrasi Parasetamol Standar Konsentrasi Absorban 1. 4,000 0,191 2. 6,000 0,315 3. 8,000 0,436 4. 10,000 0,557 5. 12,000 0,665 2. Kurva Parasetamol Generik (PCT PT INDOFARMA) Menit Ke Konsentrasi absorban 0 menit 4,3055 0,213 5 menit 6,8316 0,363 10 menit 7,2910 0,391 15 menit 7,1105 0,380 20 menit 7,3197 0,392 30 menit 7,2007 0,385 3. Kurva Parasetamol Paten (PAMOL)

Menit Ke Konsentrasi absorban 0 menit 1,1478 0,025 5 menit 6,9916 0,373 10 menit 7,8405 0,423 15 menit 7,7954 0,421 20 menit 7,1987 0,385 30 menit 7,3607 0,395

B. Perhitungan 1. Parasetamol Generik (PCT PT INDOFARMA) a. Menit ke 0 - Y = a + bx 0,213 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,213 + 0,0432 X = 4,30588 g/ml = 0,00430588 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,00430588 mg/ml 900 ml = 387,5294 mg b. Menit ke 5 - Y = a + bx 0,363 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,363 + 0,278 X = 6,8268 g/ml = 0,0068268 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0068268 mg/ml 900 ml = 614,4201 mg c. Menit ke 10 - Y = a + bx 0,391 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,391 + 0,0432 X = 7,2974 g/ml = 0,007294 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0072974 mg/ml 900 ml = 656,7731 mg d. Menit ke 15 - Y = a + bx 0,380 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,380 + 0,0432 X = 7,1126 g/ml = 0,0071126 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0071126 mg/ml 900 ml = 640,1344 mg e. Menit ke 20 - Y = a + bx

0,392 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,392 + 0,0432 X = 7,3143 g/ml = 0,0073143 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0073143 mg/ml 900 ml = 658,2857 mg f. Menit ke 30 - Y = a + bx 0,0,385 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,385 + 0,0432 X = 7,1966 g/ml = 0,0071966 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0071966 mg/ml 900 ml = 647,6974 mg 2. Parasetamol Paten (PAMOL) a. Menit ke 0 - Y = a + bx 0,025 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,025 + 0,0432 X = 7,6807 g/ml = 0,0076807 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0076807 mg/ml 900 ml = 691,2630 mg b. Menit ke 5 - Y = a + bx 0,373 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,373 + 0,0432 X = 6,9949 g/ml = 0,0069949 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,006994 mg/ml 900 ml = 629,5410 mg c. Menit ke 10 - Y = a + bx 0,423 = 0,0423 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,423 + 0,0432 X = 7,8353 g/ml = 0,0078353 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0078353 mg/ml 900 ml = 705,1765 mg d. Menit ke 15 - Y = a + bx 0,421 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,421 + 0,0432 X = 7,8016 g/ml = 0,0078016 mg/ml

- Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0067597 mg/ml 900 ml = 702,1512 mg/ml e. Menit ke 20 - Y = a + bx 0,385 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,385 + 0,0432 X = 7,1966 g/ml = 0,0071966 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0071966g/ml 900 ml = 647,694 mg f. Menit ke 30 Y = a + bx 0,395 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,395 + 0,0432 X = 7,3647 g/ml = 0,0073647 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0073647 mg/ml 900 ml = 662,8235 mg

Menit Ke PCT Generik %Terdisolusi PCT PATEN % Terdisolusi 0 menit 77,9364 % 16,1832 % 5 menit 123,9972 % 93,2356 % 10 menit 133,1975 % 117,7816 % 15 menit 130,5811 % 123,5984 % 20 menit 134,9428 % 132,5063 % 30 menit 133,5447 % 136,2686 % BAB V PEMBAHASAN Ketersediaan hayati merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetic dan perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang diberikan. Ketersediaan hayati obat yang diformulasi menjadi sediaan farmasi merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut. Pegkajian terhadap ketersediaan hayati ini tergantung pada absorpsi obat ke dalam sirkulasi umum serta pengukuran dari obat yang terabsorpsi tersebut. Dalam menaksir ketersediaan hayati ada tiga parameter yang biasanya diukur yang an profil konsentrasi dalam darah dan waktu dari obat yang diberikan (Abdou, 1989). 1. Konsentrasi puncak (Cmax), menggambarkan konsentrasi obat tertinggi dalam sirkulasi sistemik. Konsentrasi ini tergantung pada konstanta absorbsi, dosis, volume distribusi dan waktu pencapaian konsentrasi obat maksimum dalam darah. Konsentrasi puncak sering kali dikaitkan dengan intensitas respon biologis dan harus di atas MEC dan tidak melebihi MTC. 2. Waktu untuk konsentrasi puncak (tmax) menggambarkan lamanya waktu tersedia untuk mencapai konsentrasi puncak dari obat sirkulasi sistemik. Parameter ini tergantung pada konstanta absorbs yang menggambarkan permulaan dari level puncak dari respon biologis

dan bias digunakan sebagai perkiraan kasar untuk laju absorbsi. 3. Luas daerah di bawah kurva (AUC), merupakan total area di bawah kurva konsentrasi vs waktu yang menggambarkan perkiraan jumlah obat yang berada dalam sirkulasi sistemik. Bila membandingkan suatu formulasi untuk acuan, parameter ini menggambarkan jumlah ketersediaan hayati dan biasa digunakan sebagai perkiraan kasar jumlah obat diabsorbsi. Ketersediaan hayati merupakan suatu penerapan baru yang kegunaannya tidak perlu diragukan lagi. Penerapan ketersediaan hayati berkembang dalam dua arah, yaitu: 1. Farmasi klinik yang berkaitan dengan rasionalisasi keadaan individu penderita, artinya penyesuaian pasologi yang tepat pada setiap penderita, dengan mempertimbangkan perubahan farmakokinetika in vivo, baik karena interaksi obat maupun karena fungsi fisiolagi. 2. Farmasetika yang berkaitan dengan rasionalisasi pengembangan suatu obat, yaitu penyesuaian optimal jalur pemberian obat dan bentuk sediaan terhadap karakteristik farmakokinetika zat aktif. Kedua arah pengembangan tersebut tercakup dalam lingkup penelitian biofarmasetika dan berkaitan dengan penyesuaian pada kurva profil kadar zat aktif dalam darah penderita dan efek yang diteliti. Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan: 1. Banyaknya obat yang diabsorbsi dari formulasi sediaan. 2. Kecapatan obat yang diabsorbsi. 3. Lama obat berada dalam cairan biologi atau jaringan dan dikorelasikan dengan respon pasien. 4. Hubungan antara kadar obat dalam darah dan efikasi klinis serta toksisitas. Metode penilaian ketersediaan hayati Penelitian ketersediaan hayati pada sukarelawan dapat dilakukan dengan beberapa metode: a. Metode dengan menggunakan data darah b. Data urin c. Data efek farmakologis d. Data respon klinis Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi, metode analisis untuk penetapan kadar obat dan sifat produk obat. Data darah dan data urin lazim digunakan untuk menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiat telah diketahui cara dann validitasnya. Jika cara dan validitasnya belum diketahui dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yang timbul dapat diukur secara kuantitatif, seperti efek pada kecepata denyut jantung atau tekanan darah yang dapat digunakan sebagai indeks ketersediaan hayati obat. Untuk evaluasi ketersediaan hayati menggunakan data respon klinis dapat mengalami perbedaan antar individu akibat farkokinetika dan farmakodinamik obat yang berbeda. Factor farmakodinamik yang berpengaruh meliputi: umur, toleransi obat, interaksi obat dan factor-faktor patofisiologik yang tidak diketahui. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan hayati oabat yang digunakan secara oral: 4. Sifat fisikokimia zat aktif. Paracetamol merupakan zat kimia yang mempunyai Panjang gelombang maksimum parasetamol dalam larutan dapar fosfat pH 5,8 menghasilkan panjang gelombang 243,8 nm. Pada pembuatan kurva kalibrasi parasetamol dalam larutan dapar pH 5,8 diperoleh persamaan regresi Y = -0,0432 + 0,0595X dan r = 0,9996.

BAB V KESIMPULAN

Uji yang dilakukan adalah uji disolusi pada tablet parasetamol 500 mg. Monografi tablet parasetamol, Media Disolusi : 900 ml larutan dapar posfat pH 5,8, Alat tipe 2 : 50 rpm, Waktu : 30 menit, dan panjang gelombang 243 nm. Toleransi dalam waktu 30 menit harus larut tidak kurang dari 80% (Q) C8H9NO2, dari jumlah yang tertera pada etiket.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: DEPKES RI. Hal 649 650. Ansel.C, Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press. Hal 118 124. Lachman, L, Lieberman, H, and Kanig, JL. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi II. Jakarta: UI Press. Hal 643 679. Siswandono., Soekarjo, Bambang. 1995. Kimia Medisinal Edisi I. Airlangga University Press. Surabaya.

KECEPATAN DISOLUSI I.TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk :1.Menent ukan kecep at an di sol usi suat u z at 2.Menggunakan alat penentuan kecepatan disolusi suatu zat3.Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat II.DASAR TEORIa . K e l a r u t a n Pelarutan merupakan proses dimana suatu bahan kimia atau obat menjadi terlarutdal am suat u p el arut . Dal am si st e m bi ol ogi pel arut an obat dal am m edi a aqueous merupakan suatu bagian penting sebelum kondisi sistemik. Laju pelarutan obat dengankelarutan dalam air sangat kecil dari bentuk sediaan padat yang utuh atau terdisintegrasid a l a m s a l u r a n c e r n a s e r i n g m e n g e n d a l i k a n l a j u a b s o r b s i

s i s t e m i k o b a t . D i s o l o s i merupakan tahapan yang membatasi atau tahap yang mengontrol laju bioabsorbsi obat-obat ya n g m e m pun yai kel arut an r endah, kar ena t ahapan i ni seri n gka l i m erupakan tahapan yang paling lambat dari berbagai tahapan yang ada dalam pelepasan obat dari bentuk sediaannya dan perjalanannya ke dalam sirkulasi sistemik (Izfilawati Z., 2009).Kadar obat dalam darah pada sediaan peroral dipengaruhi oleh proses absorpsi dankadar obat dalam darah ini menentukan efek sistemiknya. Obat dalam bentuk sediaan padat mengalami berbagai tahap pelepasan dari bentuk sediaan sebelum diabsorpsi.Tah apan t ers ebut m el i put i di si nt egrasi , dea gre gasi dan di sol usi . Kecepat an obat mencapai sistem sirkulasi dalam proses disintegrasi, disolusi dan absorpsi, ditentukanoleh tahap yang paling lambat dari rangkaian di atas yang disebut dengan rate limit ingstep. Kecepatan pelepasan obat sediaan lepas lambat, yaitu kecepatan disolusi dianggapselalu lebih lambat daripada kecepatan absorpsi, atau dengan kata lain kecepatan disolusimerupakan rate limiting step. Pengaturan absorpsi sistemik obat bentuk sediaan lepasl am bat d a pat di l akukan dengan m en gat ur k e cepat an di sol usi . S upa ya part i kel p adat terdisolusi maka molekul solut pertama-tama harus memisahkan diri dari permukaan padat, kemudian bergerak menjauhi permukaan memasuki pelarut. Tergantung pada kedua proses ini dan bagaimana cara proses transpor berlangsung maka perilaku disolusi dapat digambarkan secara fisika. Dari segi kecepatan disolusi yang terlibat dalam zatmurni, ada tiga dasar model fisika yang umum.a.Model lapisan difusi (diffusion layer model).Model ini pertama kali diusulkan oleh Nerst dan Brunner. Pada permukaan padatterdapat satu lapis tipis cairan dengan ketebalan , merupakan komponen kecepatann e g a t i f d e n g a n a r a h y a n g b e r l a w a n a n d e n g a n p e r m u k a a n p a d a t . R e a k s i p a d a permukaan padat-cair berlangsung cepat. Begitu model solut melewati antar mukal i qui d fi l m bul k fi l m , pencam pu ran sec ara cepat ak an t erj adi d an gradi en konsentrasi akan hilang. Karena itu kecepatan disolusi ditentukan oleh difusi gerakanBrown dari molekul dalam liguid film. b.Model barrier antar muka (interfacial barrier model).Model ini menggambarkan reaksi yang terjadi pada permukaan padat dan dalam halini terjadi difusi sepanjang lapisan tipis cairan. Sebagai hasilnya, tidak dianggapadanya kesetimbangan padatan-larutan, dan hal ini harus dijadikan pegangan dalammembahas model ini. Proses pada antar muka padat-cair sekarang menjadi pembataskecepatan ditinjau dari proses transpor. Transpor yang relatif cepat terjadi secaradifusi melewati lapisan tipis statis (stagnant).c.Model Dankwert (Dankwert model).M odel i ni ber anggapan b ahwa t r a nspor sol ut m enj auhi perm ukaan padat t erj adi m el al ui cara p aket m ak roskopi k pel arut m encap ai ant ar m uka padat -c ai r kar ena terjadi pusaran difusi secara acak (Martin et al, 1990).Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau senyawa obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu. Laju disolusi suatu obat adalahkecepatan perubahan dari bentuk padat menjadi terlarut dalam medianya setiap waktut ert ent u. J adi di sol usi m enggam bar kan kec epat an ob at l arut dal am m edi a di s ol usi . Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarutd a l a m p e l a r u t t e r t e n t u s e t i a p s a t u a n w a k t u . S u a t u h u b u n g a n y a n g u m u m menggambarkan proses disolusi zat padat telah dikembangkan oleh Noyes dan Whitneydalam bentuk persamaan berikut : () C Csh DS dt dM = dM.dt -1

: kecepat an di sol usi Lapisan Difusa Air C s CX=0X=hD : k o e f i s i e n d i f u s i S : l u a s p e r m u k a a n z a t C s : k e l a r u t a n z a t p a d a t C : k o n s e n t r a s i z a t d a l a m l a r u t a n p a d a w a k t u H : t e b a l l a p i s a n d i f u s i Dalam teori disolusi atau perpindahan massa, diasumsikan bahwa selama prosesdisolusi berlangsung pada permukaan padatan terbentuk suatu lapisan difusi air ataulapisan tipis cairan yang stagnan dengan ketebalan h. Bila konsentrasi zat terlarut didalam larutan (C) jauh lebih kecil daripada kelarutan zat tersebut (Cs) sehingga dapatdiabaikan, maka harga (Cs-C) dianggap sama dengan Cs. Jadi, persamaan kecepatandisolusi dapat disederhanakan menjadi hD Cdt dM Ss = Dalam teori disolusi atau perpindahan massa, diasumsikan bahwa selama prosesdisolusi berlangsung pada permukaan padatan terbentuk suatu lapisan difusi air ataul api san t i pi s cai ran ya n g st a gnan dengan ket eb al an h, sepert i t am pak pada gam ba r berikut. K O NSE NTR ASIZat padatLarutan

Ket ebal an h i ni m en ya t akan l api san p el a rut st asi oner di dal a m m ana m ol ekul -molekul zat terlarut berada dalam konsentrasi dari C s sampai C. dibelakang lapisan difusistatis tersebut, pada harga x yang lebih besar dari h, terjadi pencampuran dalam larutan,dan obat terdapat pada konsentrasi yang samaC pada seluruh bulk.Pada antarmuka permukaan padat dan lapisan difusi, x=0, obat dalam bentuk padat b e r a d a d a l a m k e s e i m b a n g a n d e n g a n o b a t d a l a m l a p i s a n d i f u s i . P e r b e d a a n , a t a u perubahan konsentrasi dengan berubahnya jarak untuk melewati

lapisan difusi adalahkonstan, seperti terlihat oleh garis lurus yang mempunyai kemiringan (slop) menurun.Dari persamaan tersebut di atas, tampak beberapa faktor yang dapat mempengaruhikecepatan disolusi suatu zat, yaitu:1 . S u h u Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang bersifat e n d o t e r m i k s e r t a m e m p e r b e s a r h a r g a k o e f i s i e n d i f u s i z a t . M e n u r u t E i n s t e i n , koefisien difusi dapat dinyatakan melalui persamaan berikut :D = rT k 6 Keterangan :D : k o e f i s i e n d i f u s i r : j a r i j a r i m o l e k u l k : k o n s t a n t a B o l t z m a n : v i s k o s i t a p e l a r u t T : s u h u 2 . V i s k o s i t a s Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi suatu zat sesuaidengan persamaan Einstein. Meningginya suhu juga menurunkan viskositas danmemperbesar kecepatan disolusi.3 . p H P e l a r u t pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang bersifat asam atau basa lemah. Untuk asam lemah () += + H KaCsC K dt d Jika (H + ) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. D e n g a n demikian, kecepatan disolusi zat juga meningkat. Untuk basa lemah () += + Ka H CsC K dt dc 1.. Jika (H + ) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. D e n g a n demikian, kecepatan disolusi juga meningkat.4 . P e n g a d u k a n Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). jika pengadukan berlangsung cepat, maka tebal lapisan difusi akan cepat berkurang.5 . U k u r a n P a r t i k e l Jika partikel zat berukuran kecil m a k a l u a s p e r m u k a a n e f e k t i f m e n j a d i b e s a r sehingga kecepatan disolusi meningkat.6 . P o l i m o r f i s m e Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme. Struktur internal zatyang berlainan dapat memberikan tingkat kelarutan yang berbeda juga. Kristal metastabil

umumnya lebih mudah larut daripada bentuk stabilnya, sehingga kecepatandisolusinya besar.7 . S i f a t P e r m u k a a n Z a t Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat hidrofob. Denganadanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan permukaan antar partikel zat dengan pel a rut akan m enurun s ehi n gga z at m udah t erbas ahi dan kec epat an di s ol us i n ya bertambah.Laju disolusi obat secara in vitro dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:a . S i f a t f i s i k a k i m i a o b a t . Sifat fisika kimia obat berpengaruh besar terhadap kinetika disolusi. Luas permukaanefektif dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel. Laju disolusi akan diperbesar karena kelarutan terjadi pada permukaan solut. Kelarutan obat dalam air j uga m em pen ga r uhi l aj u di sol usi . Obat berbent uk ga ram , pada um um n ya l ebi h m u d a h l a r u t d a r i p a d a o b a t b e r b e n t u k a s a m m a u p u n b a s a b e b a s . O b a t d a p a t m em bent uk sua t u pol i m orfi yai t u t e rdapat n ya beberap a ki net i ka p el arut an yan g berbeda meskipun memiliki struktur kimia yang identik. Obat bentuk kristal secaraumum lebih keras, kaku dan secara termodinamik lebih stabil daripada bentuk amorf,kondisi ini menyebabkan obat bentuk amorf lebih mudah terdisolusi daripada bentuk kristal. b . F a k t o r a l a t d a n k o n d i s i l i n g k u n g a n . Adan ya p erbed aan al at ya n g di gunakan dal am uj i di sol usi akan m en yebabk an perbedaan kecepatan pelarutan obat. Kecepatan pengadukan akan mempengaruhikecepatan pelarutan obat, semakin cepat pengadukan maka gerakan medium akan semakin cepat sehingga dapat menaikkan kecepatan pelarutan. Selain itu temperatur,vi skosi t as dan kom pos i s i dari m edi um , ser t a pen gam bi l an sam pel j uga dap a t mempengaruhi kecepatan pelarutan obat.c . F a k t o r f o r m u l a s i . Berbagai macam bahan tambahan y a n g d i g u n a k a n p a d a s e d i a a n o b a t d a p a t mempengaruhi kinetika pelarutan obat dengan mempengaruhi tegangan muka antaramedium tempat obat melarut dengan bahan obat, ataupun bereaksi secara langsungden gan bahan ob at . P engguna an bah an t am bahan yan g b ersi fat hi drofob sep ert i magnesium stearat, dapat menaikkan tegangan antar muka obat dengan mediumdisolusi. Beberapa bahan tambahan lain dapat membentuk kompleks dengan bahanobat, misalnya kalsium karbonat dan kalsium sulfat yang membentuk kompleks tidak larut dengan tetrasiklin. Hal ini menyebabkan jumlah obat terdisolusi menjadi lebihsedi ki t dan berp engaruh pul a t e rhad ap j um l ah obat ya n g di absorpsi (Ma rt i n et al ,1990).Menurut sumber lain, yang mempengaruhi kecepatan disolusi terbagi menjadi tiga.Yaitu: a.Faktor intrinsik obat Luas permukaan spesifik partikel Distribusi ukuran partikel Bentuk partikel Polimorfi

Bentuk asam, basa, garam b.Faktor lingkungan medium Temperatur Viskositas cairan Konsentrasi partikel yang terdisolusi Kecepatan mengalirnya cairan Komposisi medium disolusi : pH, kekuatan ionisasi, tegangan permukaan. c.Fakt or t eknol ogi Perbedaan metode yang digunakan dalam produksi turut mempengaruhi disolusi obat.Demikian pula pengunaan bahan-bahan tambahan dalam produksi. Contoh bahantambahan yang sering digunakan pensuspensi yang akan menurunkan laju disolusikarena kenaikan adalah kekentalan. Contoh lain adalah bah an pelicin yang bersifath i d r o f o b k a r e n a m a m p u m e n o l a k a i r s e h i n g g a m e n u r u n k a n l a j u d i s o l u s i o b a t (Isfilawati Z,2009).Penentuan kecepatan disolusi suatu zat dapat dilakukan melalui metode :1.Met ode S uspensi Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa pengontrolan eksak terhadapluas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlahzat yang larut ditentukan dengan cara yang sesuai.2.Metode Permukaan KonstanZat di t em pat kan dal am suat u wadah yan g di ket ahui l uasn ya se hi ngga v ari abl e perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan. Umumnya zat diubah menjaditablet terlebih dahulu, kemudian ditentukan seperti pada metode suspensi. Penentuan dengan metode suspensi dapat dilakukan dengan menggunakan alat ujidi sol usi t i pe da yun g s eper t i ya n g t erc ant um pada US P . S edangkan un t uk m et ode permukaan tetap, dapat digunakan alat seperti diusulkan oleh Simonelli dkk sebagai berikut.Dalam bidang farmasi, penentuan kecepatan disolusi suatu zat perlu dilakukankarena kecepatan disolusi merupakan sa lah satu faktor yang mempengaruhi absorbsiobat di dalam tubuh. Penentuan kecepatan disolusi suatu zat aktif dapat dilakukan pada beberapa tahap pembuatan suatu sediaan obat, antara lain :1.Tahap P ra Form ul asi Pada tahap ini penentuan kecepatan disolusi dilakukan terhadap bahan baku obatdengan tujuan untuk memilih sumber bahan baku dan memperoleh informasi tentang bahan baku tersebut.2.Tah ap Form ul asi Pada tahap ini penentuan kecepatan disolusi dilakukan untuk memilih formula sediaanyang terbaik.3 . T a h a p P r o d u k s i Pada tahap ini kecepatan disolusi dilakukan untuk mengendalikan kualitas sediaan obat yang diproduksi (Martin et al ,1990). b.As am S al i si l at Asam salisilat merupakan serbuk hablur halus putih, biasanya berbentuk jarumhalus, rasa agak manis, tajam dan stabil di udara. Bentuk sintetis warna putih dantidak berbau. Asam salisilat sukar larut dalam air dan dalam benzena, mudah larut

V I . P E M B A H A S A N Pada praktikum kali ini, dilakukan uji kecepatan disolusi yang bertujuan untuk m enent ukan ke cepat an di sol usi sua t u z at , m enggunakan al at penent uan ke cep at a ndi sol usi suat u z at , dan m ener an gkan f a kt or -fakt or ya n g m em pen garuhi kecep at an disolusi suatu zat.Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zatterlarut dalam pelarut tertent u setiap satuan waktu. Kecepatan disolusi suatu zat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu, viskositas, pH pelarut, pengadukan, ukuran partikel, polimorfisme, dan sifat permukaan zat (Tim Penyusun, 2009). Pada praktikumini, faktor yang diperhatikan dalam uji kecepatan disolusi adalah faktor pengadukan. P en guj i an kecep at an di s ol us i di l akukan terhadap asam sal i si l at dal am ai r. R um us molekul adalah C 7 H 6 O 3 dan rumus strukturnya sebagai berikut (Anonim c, 1979):Dari rumus struktur di atas, terlihat bahwa asam salisilat memiliki gugus polar dangugus nonpolar. Gugus polar dari asam salisilat adalah gugus OH dan gugus nonpolar pada asam salisilat adalah gugus cincin benzen. Struktur tersebut menyebabkan asamsalisilat larut pada sebagian pelarut polar dan sebagian pada pelarut non polar. Namun,karena memiliki gugus polar dan nonpolar sekaligus dalam satu gugus, asam salisilatsukar larut dengan sempurna pada pelarut polar saja atau pelarut nonpolar saja. Asam salisilat sukar larut pada air yang merupakan pelarut polar dan benzena yang merupakan p el arut no npol ar, t et api m udah l arut pada et anol dan et er ya n g m erupakan p el arut semipolar (Anonim a, 1995).M et ode yan g d i gunak an dal am pen ent uan kec epat an di sol usi adal ah m et odes uspensi , di m ana serbuk asam s al i si l a t di m asukkan ke dal am ai r t anpa m el akukan pengontrolan eksak terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktut ert ent u dan k a dar z at ya n g l arut di t ent ukan. Al at ya n g di gun akan ad al ah pen gaduk (shake r ) ya n g berup a S t i rre r S S 2. P ercobaan i ni di l aku kan seban ya k 2 kal i dengan kecepatan pengadukan yang berbeda untuk mengetahui pengaruh kecepatan pengadukanterhadap kecepatan disolusi.

asam salisilat pada pengadukan dengan kecepatan 300 ppm hanya m e n g a l a m i peningkatan sekali, yaitu pada menit ke-20. Hal ini disebabkan karena pada pengadukandengan kecepatan 100 ppm, laju disolusi asam salisilat dalam air lambat sehingga waktuyang dipelukan untuk menjenuhkan asam salisilat lebih lama. Karenanya konsentrasiasam salisilat dalam air semakin lama sema kin meningkat. Jika percobaan dilanjutkan,maka konsentrasi asam salisilat semakin lama akan meningkat hingga tercapai keadaan jenuh dan konsentrasinya akan tetap karena kelarutan asam salisilat dalam air tebatas.Pada pengadukan dengan kecepatan 300 ppm, konsentrasi asam salisilat dalam air tidak banyak mengalami peningkatan. Hal ini dapat disebabkan karena laju disolusi yang b es ar s ehi n gga m em percep at t erc ap ai n ya kondi si di m ana asam sal i si l at t el ah j enuh sehingga konsentrasi asam salisilat tidak banyak mengalami peningkatan. Dari sini dapatdi l i hat bahwa sem aki n cep at pen gaduk an sem aki n be sar l aj u

di s ol us i , begi t u pul a semakin lama dilakukan pengadukan semakin besar pula laju disolusi. V I I . K E S I M P U L A N 1.Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarutdalam pelarut tertentu setiap satuan waktu.2.S al ah sat u fakt or ya n g m em pengaruhi ke ce pat an di sol usi suat u z at adal ah fakt or pengadukan3.Pengadukan dengan kecepatan 300 ppm menghasilkan konsentrasi asam salisilat yanglebih besar dibandingkan pada kecepatan 100 ppm karena pengadukan yang semakincepat akan memperbesar laju disolusi.4 . P a d a p e n g a d u k a n dengan kecepatan 100 ppm, semakin lama p e n g a d u k a n menghasilkan konsentrasi asam salisilat yang semakin besar karena semakin lama pengadukan yang, semakin besar pula laju disolusi.5.P ada pen gaduk an dengan ke cepat an 3 00 ppm , konsent rasi asam sal i si l at han ya mengalami peningkatan sekali karena ada kemungkinan larutan asam salisilat yang terbentuk telah jenuh. DAFTAR PUSTAKA Anoni m a. 1995. Farm ak ope Indon es i a Edi si Keem pat . J a k a r t a : D e p a r t e m e n Kesehatan Republik IndonesiaAnonim b. 2009. Asam SalisilatAvailable at : http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_salisilatOpened at: 13 November 2009Anonim c. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Kedua . Jakarta : Departemen KesehatanRepublik IndonesiaAnonim d. 2009. Kecepatan disolusi. Available at : http://Otetatsuyasblog.htmlOpened at: 30 Oktober 2009Mar t i n, Al fred et al . 1990. Farmasi Fisik Edisi Ketiga Jilid I . J akart a : P enerbi t Universitas IndonesiaMa r t i n, Al fred et al . 19 90. Farmasi Fisik Edisi Ketiga Jilid II . J akart a : P enerbi t Universitas IndonesiaTim Penyusun. 2009. Petunjuk Praktikum Farmasi Fisika . Bukit Jimbaran : JurusanFarmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan AlamUnderwood, A. L, dan Da y, R . A. 1 981. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi Keempat .Surabaya : Penerbit Erlangga

FARMAKO KINETIK OBAT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tablet merupakan bentuk sediaan obat yang diberikan melalui mulut merupakan cara pemberian obat yang paling utama untuk memperoleh efek sistemik, dimana lebih dari 90 % persenyawaan obat diberikan melalui rute ini. Obat-obat yang diberikan secara per oral dalam bentuk sediaan farmasi sangat beragam dan mempunyai keuntungan masing-masing. Salahsatunya dalam bentuk tablet. Tablet merupakan bentuk sediaan obat yang paling sering digunakan, karena harganya murah dengan takaran yang tepat dan dapat dikemas secara baik. Tablet merupakan sediaan padat dan kompak yang dibuat dengan cara kempa atau dengan cetak. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai, zat pengikat, zat pelincir, zat pembsahan atau zat lain yang cocok. Untuk mendapatkan tablet yan optimal maka dibutuhkan suatu formula, untuk menghasilkan suatu formula yang optimal dalam proses pembuatan tablet diperlukan suatu studi awal sebelum memasuki tahap formula sesungguhnya. Proses suatu zat padat memasuki pelarut dan menghasilkan suatu larutan atau melarutnya zat padat disebut disolusi. Beberapa factor yang dapat mempengaruhi disolusi antara lain sifat fisikokimia obat, factor formulasi, anatomi fisiologi saluran cerna dan lain-lain. Jalur Proses disolusi suatu obat yaitu : Disintegrasi Deagregasi Tablet kapsul granul/agregat partikel halus Disolusi Disolusi Disolusi Obat dalam larutan (invitro/invivo) Absorpsi (in vivo) Obat dalam darah, cairan tubuh lainnya dan dalam jaringan Laju disolusi bahan obat dapat mempengaruhi kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi. Untuk bahan obat yang mudah larut dalam air, disolusi cenderung lebih cepat, namun kemampuan obat untuk menembus membrane sel tidak cepat. Dan sebagai tahap penentu laju adalah absorpsi melalui membrane pencernaan. Untuk obat yang tidak larut dalam air, mudah larut dalam lemak maka obat tersebut lebih mudah menembus membrane sel, kecepatan absorbsinya dibatasi oleh kecepatan disolusi dari obat yang tidak larut dari sediaan. Untuk menguji disolusi tablet maka diperlukan medium yang sesuai. Medium yang digunakan dalam disolusi merupakan pelarut dengan karakteristik tertentu dan merupakan suatu medium pembanding bagaimana suatu zat aktif bekerja dalam tubuh. Air merupakan medium pelarut yang bersifat netral, dan dapar posfat dengan pH tertentu digunakan untuk memperkirakan nasib suatu obat di dalam usus. Dalam praktikum ini digunakan parasetamol tablet dari indo farma sebagai tablet yang akan diuji.selain itu, digunakan dapar fosfat pH 5,8 sebagai medium disolusi ditunjukan untuk mengasumsikan kerja parasetamol di usus agar sama seperti suasana pH didalam usus dan memahami profil disolusi obat. B. TUJUAN 1. Memahami profil disolusi obat dalam berbagai kondisi pH 2. Memahami pengaruh formulasi terhadap laju disolusi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Parasetamol 1. Umum Nama kimianya dikenal N-asetil-4-aminofenol dengan rumus molekul C8H9NO2. Parasetamol merupakan metabolit aktif fenasetin yang bertanggung jawab bagi efek analgesiknya. Ia menghambat prostaglandin yang lemah dan efek antiinflamasinya tidak bermakna. Asetaminofen di Indonesia dikenal dengan nama parasetamol dan diberikan secara per oral, parasetamol kurang mengiritasi lambung dan karena itu secara umum lebih disukai. 2. Sifat Fisika dan Kimia Parasetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0%, mempunyai rumus molekul C8H9NO2 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan, dengan bobot molekul 151,16. Parasetamol mempunyai bentuk hablur atau serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit, memiliki suhu lebur 169 C sampai 172 C. larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%)P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida. B. Disolusi Laju disolusi merupakan waktu yang diperlukan obat untuk melarut dalam cairan. Laju disolusi dinyatakan sebagai milligram zat yang dilarutkan permenit sentimeter persegi (mg/ menit/ cm2). Disolusi adalah suatu perubahan proses dari bentuk padat ke bentuk cairan atau larut, dimana dimulai dengan disintegrasi kemudian melarut sehingga menghasilkan bentuk larutan. Disolusi dapat mengakibatkan perbedaan aktifitas biologi dari suatu zat obat mungkin diakibatkan oleh laju dimana obat menjadi tersedia untuk diserap tubuh. Alat disolusi yang digunakan pada tablet parasetamol adalah alat tipe 2 dengan metode dayung, yang terdiri dari daun dan batang seperti pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu vertical wadah dan berputar halus tanpa goyangan. Pada praktikum uji disolusi tablet parasetamol menggunakan medium disolusi larutan dapar posfat. Dapar adalah senyawa-senyawa atau campuran senyawa yang dapat meniadakan perubahan pH terhadap penambahan sedikit asam atau basa, atau dikenal sebagai aksi dapar. Larutan dapar posfat digunakan sebagai media buatan untuk memperkirakan nasib obat dalam usus yang pada umumnya bersifat basa dengan pH sekitar 5-8. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju disolusi yaitu: 1. Sifat fisikokimia obat. a. Karakteristik fase padat. Laju disolusi dipengaruhi oleh bentuk amorf dan kristal. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa bentuk amorf dari obat lebih memberikan kelarutan yang besar dan laju disolusi yang lebih tinggi daripada bentuk kristal. b. Polimorfisme. Polimorf merupakan bentuk kristal obat yang terdiri lebih dari satu bentuk kristal. Polimorf menunjukkan kinetika pelarut yang berbeda meskipun memiliki struktur kimia yang identik. Beberapa laporan menunjukkan bahwa polimorfisme dalam bentuk hidrat, solvate atau kompleks secara nyata mempengaruhi karakteristik disolusi & obat. c. Karakteristik partikel.

Laju disolusi secara langsung berhubungan dengan permukaan obat. Jika daerah permukaan diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel, laju disolusi menjadi tinggi disebabkan pengurangan ukuran partikel 2. Faktor formulasi a. Bahan tambahan. Laju disolusi suatu obat murni dapat berubah secara bermakna saat dicampur dengan berbagai bahan tambahan selama proses pencetakan bentuk sediaan. Bahan tambahan ini antara lain bahan pengisi, pengikat, penghancur, pelicin, dan sebagainya. b. Ukuran partikel. Untuk meningkatkan laju disolusi dipilih ukuran partikel optimal yaitu cukup kecil untuk memberikan luas permukaan spesifik yang berarti, tetapi tidak terlalu kecil agar kesulitan pembasahan yang disebabkan oleh muatan partikel yang terjadi selama penggerusan dapat dihindari. Uji Disolusi Tablet yaitu untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi (missal Farmakope) untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul gelatin lunak kecuali bila dinyatakan dalam masing-masing monografi. Persyaratan dipenuhi bila jumlah zat aktif yang terlarut dari sediaan yang diuji sesuai dengan table penerimaan. Lanjutkan pengujian sampai 3 tahap kecuali bila hasil pengujian memenuhi tahap S1 atau S2. Harga Q adalah jumlah zat aktif yang terlarut seperti tertera pada masingmasing monografi, dinyatakan dalam persentasi kadar pada etiket, angka 5% dan 15% dalam table adalah persentasi kadar pada etiket, dengan demikian mempunyai arti sama dengan Q. Berikut ini merupakan table penerimaan uji disolusi yang tertera pada Farmakope IV: Tahap Pengujian Jumlah satuan yang diuji Kriteria Penerimaan S1 6 Tiap unit sediaan tidak kurang dari Q+5% S2 6 Rata-rata dari 12 unit (S1 + S2) adalah sama dengan atau lebih besar dari Q dan tidak satu unit sediaan yang lebih kecil dari Q 15% S3 12 Rata-rata dari 24 unit (S1 + S2 + S3) adalah sama dengan atau lebih besar dari Q, tidak lebih dari 2 unit sediaan yang lebih kecil dari Q 15% dan tidak satu unitpun yang lebih kecil dari Q 25% BAB III METODE PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan Alat-alat : 1. Disolution tester 2. Spektrofotometer UV-VIS 3. Vial 12 pcs @ 15 ml Bahan-bahan: 1. Tablet parasetamol (generic dan paten) 2. HCl 0,1 N 3. Larutan dapar fosfat pH 5,8 dan 7,5 4. Aquadest B. Cara Kerja 1. Siapkan alat dissolution tester tipe 2 dan bahan. 2. Setiap kelompok menggunakan satu sampel uji dengan medium disolusi yang telah ditetapkan.

3. Penentuan panjang gelombang larutan parasetamol; buat larutan standar konsentrasi 10g/ml dan ukur serapannya pada panjang gelombang 220-350 nm. 4. Pembuatan kurva kalibrasi; buat larutan standar parasetamol dengan beberapa konsentrasi yaitu, 4, 6, 8, 10, 12, dan 14g/ml dan ukur serapannya pada panjang gelombang maksimum (hasil pengukuran pada no. 2). 5. Penentuan profil disolusi; wadah disolusi (chamber) diisi dengan medium disolusi sebanyak 900 ml. Tablet parasetamol dimasukkan dalam chamber yang telah terisi medium disolusi kemudian atur alat disolusi pada kecepatan 50 rpm. Ambillah larutan dalam chamber (melalui pemipetan) sebanyak 5 ml pada menit ke 0, 5, 10, 15, 20, dan 30 dan setiap pengambilan harus digantikan dengan medium lagi sejumlah yang sama. Masing-masing larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis, kemudian tentukan kadar parasetamol yang terdisolusi per satuan waktu menggunakan kurva kalibrasi.

BAB IV HASIL DAN PERHITUNGAN A. Hasil Dari hasil praktikum pada tanggal 20 Oktober 2009 di dapat hasil : 1. Kurva Kalibrasi Parasetamol Standar Konsentrasi Absorban 1. 4,000 0,191 2. 6,000 0,315 3. 8,000 0,436 4. 10,000 0,557 5. 12,000 0,665 2. Kurva Parasetamol Generik (PCT PT INDOFARMA) Menit Ke Konsentrasi absorban 0 menit 4,3055 0,213 5 menit 6,8316 0,363 10 menit 7,2910 0,391 15 menit 7,1105 0,380 20 menit 7,3197 0,392 30 menit 7,2007 0,385 3. Kurva Parasetamol Paten (PAMOL) Menit Ke Konsentrasi absorban 0 menit 1,1478 0,025 5 menit 6,9916 0,373 10 menit 7,8405 0,423 15 menit 7,7954 0,421 20 menit 7,1987 0,385 30 menit 7,3607 0,395

B. Perhitungan 1. Parasetamol Generik (PCT PT INDOFARMA)

a. Menit ke 0 - Y = a + bx 0,213 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,213 + 0,0432 X = 4,30588 g/ml = 0,00430588 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,00430588 mg/ml 900 ml = 387,5294 mg b. Menit ke 5 - Y = a + bx 0,363 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,363 + 0,278 X = 6,8268 g/ml = 0,0068268 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0068268 mg/ml 900 ml = 614,4201 mg c. Menit ke 10 - Y = a + bx 0,391 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,391 + 0,0432 X = 7,2974 g/ml = 0,007294 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0072974 mg/ml 900 ml = 656,7731 mg d. Menit ke 15 - Y = a + bx 0,380 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,380 + 0,0432 X = 7,1126 g/ml = 0,0071126 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0071126 mg/ml 900 ml = 640,1344 mg e. Menit ke 20 - Y = a + bx 0,392 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,392 + 0,0432 X = 7,3143 g/ml = 0,0073143 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0073143 mg/ml 900 ml = 658,2857 mg f. Menit ke 30 - Y = a + bx 0,0,385 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,385 + 0,0432 X = 7,1966 g/ml = 0,0071966 mg/ml

- Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0071966 mg/ml 900 ml = 647,6974 mg 2. Parasetamol Paten (PAMOL) a. Menit ke 0 - Y = a + bx 0,025 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,025 + 0,0432 X = 7,6807 g/ml = 0,0076807 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0076807 mg/ml 900 ml = 691,2630 mg b. Menit ke 5 - Y = a + bx 0,373 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,373 + 0,0432 X = 6,9949 g/ml = 0,0069949 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,006994 mg/ml 900 ml = 629,5410 mg c. Menit ke 10 - Y = a + bx 0,423 = 0,0423 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,423 + 0,0432 X = 7,8353 g/ml = 0,0078353 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0078353 mg/ml 900 ml = 705,1765 mg d. Menit ke 15 - Y = a + bx 0,421 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,421 + 0,0432 X = 7,8016 g/ml = 0,0078016 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0067597 mg/ml 900 ml = 702,1512 mg/ml e. Menit ke 20 - Y = a + bx 0,385 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,385 + 0,0432 X = 7,1966 g/ml = 0,0071966 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0071966g/ml 900 ml = 647,694 mg

f. Menit ke 30 Y = a + bx 0,395 = 0,0432 + 0,0595 X 0,0595 X = 0,395 + 0,0432 X = 7,3647 g/ml = 0,0073647 mg/ml - Massa zat aktif = X factor pengenceran = 0,0073647 mg/ml 900 ml = 662,8235 mg

Menit Ke PCT Generik %Terdisolusi PCT PATEN % Terdisolusi 0 menit 77,9364 % 16,1832 % 5 menit 123,9972 % 93,2356 % 10 menit 133,1975 % 117,7816 % 15 menit 130,5811 % 123,5984 % 20 menit 134,9428 % 132,5063 % 30 menit 133,5447 % 136,2686 % BAB V PEMBAHASAN Ketersediaan hayati merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetic dan perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang diberikan. Ketersediaan hayati obat yang diformulasi menjadi sediaan farmasi merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut. Pegkajian terhadap ketersediaan hayati ini tergantung pada absorpsi obat ke dalam sirkulasi umum serta pengukuran dari obat yang terabsorpsi tersebut. Dalam menaksir ketersediaan hayati ada tiga parameter yang biasanya diukur yang an profil konsentrasi dalam darah dan waktu dari obat yang diberikan (Abdou, 1989). 1. Konsentrasi puncak (Cmax), menggambarkan konsentrasi obat tertinggi dalam sirkulasi sistemik. Konsentrasi ini tergantung pada konstanta absorbsi, dosis, volume distribusi dan waktu pencapaian konsentrasi obat maksimum dalam darah. Konsentrasi puncak sering kali dikaitkan dengan intensitas respon biologis dan harus di atas MEC dan tidak melebihi MTC. 2. Waktu untuk konsentrasi puncak (tmax) menggambarkan lamanya waktu tersedia untuk mencapai konsentrasi puncak dari obat sirkulasi sistemik. Parameter ini tergantung pada konstanta absorbs yang menggambarkan permulaan dari level puncak dari respon biologis dan bias digunakan sebagai perkiraan kasar untuk laju absorbsi. 3. Luas daerah di bawah kurva (AUC), merupakan total area di bawah kurva konsentrasi vs waktu yang menggambarkan perkiraan jumlah obat yang berada dalam sirkulasi sistemik. Bila membandingkan suatu formulasi untuk acuan, parameter ini menggambarkan jumlah ketersediaan hayati dan biasa digunakan sebagai perkiraan kasar jumlah obat diabsorbsi. Ketersediaan hayati merupakan suatu penerapan baru yang kegunaannya tidak perlu diragukan lagi. Penerapan ketersediaan hayati berkembang dalam dua arah, yaitu: 1. Farmasi klinik yang berkaitan dengan rasionalisasi keadaan individu penderita, artinya penyesuaian pasologi yang tepat pada setiap penderita, dengan mempertimbangkan perubahan farmakokinetika in vivo, baik karena interaksi obat maupun karena fungsi fisiolagi. 2. Farmasetika yang berkaitan dengan rasionalisasi pengembangan suatu obat, yaitu

penyesuaian optimal jalur pemberian obat dan bentuk sediaan terhadap karakteristik farmakokinetika zat aktif. Kedua arah pengembangan tersebut tercakup dalam lingkup penelitian biofarmasetika dan berkaitan dengan penyesuaian pada kurva profil kadar zat aktif dalam darah penderita dan efek yang diteliti. Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan: 1. Banyaknya obat yang diabsorbsi dari formulasi sediaan. 2. Kecapatan obat yang diabsorbsi. 3. Lama obat berada dalam cairan biologi atau jaringan dan dikorelasikan dengan respon pasien. 4. Hubungan antara kadar obat dalam darah dan efikasi klinis serta toksisitas. Metode penilaian ketersediaan hayati Penelitian ketersediaan hayati pada sukarelawan dapat dilakukan dengan beberapa metode: a. Metode dengan menggunakan data darah b. Data urin c. Data efek farmakologis d. Data respon klinis Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi, metode analisis untuk penetapan kadar obat dan sifat produk obat. Data darah dan data urin lazim digunakan untuk menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiat telah diketahui cara dann validitasnya. Jika cara dan validitasnya belum diketahui dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yang timbul dapat diukur secara kuantitatif, seperti efek pada kecepata denyut jantung atau tekanan darah yang dapat digunakan sebagai indeks ketersediaan hayati obat. Untuk evaluasi ketersediaan hayati menggunakan data respon klinis dapat mengalami perbedaan antar individu akibat farkokinetika dan farmakodinamik obat yang berbeda. Factor farmakodinamik yang berpengaruh meliputi: umur, toleransi obat, interaksi obat dan factor-faktor patofisiologik yang tidak diketahui. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan hayati oabat yang digunakan secara oral: 4. Sifat fisikokimia zat aktif. Paracetamol merupakan zat kimia yang mempunyai Panjang gelombang maksimum parasetamol dalam larutan dapar fosfat pH 5,8 menghasilkan panjang gelombang 243,8 nm. Pada pembuatan kurva kalibrasi parasetamol dalam larutan dapar pH 5,8 diperoleh persamaan regresi Y = -0,0432 + 0,0595X dan r = 0,9996.

BAB V KESIMPULAN Uji yang dilakukan adalah uji disolusi pada tablet parasetamol 500 mg. Monografi tablet parasetamol, Media Disolusi : 900 ml larutan dapar posfat pH 5,8, Alat tipe 2 : 50 rpm, Waktu : 30 menit, dan panjang gelombang 243 nm. Toleransi dalam waktu 30 menit harus larut tidak kurang dari 80% (Q) C8H9NO2, dari jumlah yang tertera pada etiket.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: DEPKES RI. Hal 649 650. Ansel.C, Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press. Hal 118 124. Lachman, L, Lieberman, H, and Kanig, JL. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi II. Jakarta: UI Press. Hal 643 679. Siswandono., Soekarjo, Bambang. 1995. Kimia Medisinal Edisi I. Airlangga University Press. Surabaya.

BAB IPENDAHULUANA . Lat ar Bel ak an g Obat m erupak an sal ah sat u unsur pent i n g yan g m em pun ya i n i al i a s t r a t e g i s dalam upaya kesehatan. Sebagian besar upaya k e s e h a t a n menggunakan obat dan biaya yang digunakan untuk obat merupaan bagianyang cukup besar dari seluruh biaya kesehatan. (Sirait, 2001)Bidang farmasi merupakan salah satu bagian dari usaha kesehatan.Oleh karena itu usaha dibidang farmasi merupakan tanggung jawab bersamaant ar a pem eri nt ah d an m as ya rak at . Dal am hal i ni pem er i nt ah berper andal am m enet apkan k ebi j ak an -kebi j akan di bi dang f arm asi da n m el akukan p e m b i n a a n s e r t a m e n c i p t a k a n k o n d i s i y a n g s e h a t . S e h i n g g a d a p a t merangsang dan meningkatkan usahausaha dibidang farmasi.A k h i r - a k h i r i n i D e p a r t e m e n K e s e h a t a n R e p u b l i k I n d o n e s i a menganjurkan kepada mas yarakat untuk m e n g g u n a k a n o b a t g e n e r i k dibandingkan obat paten. Bukan hanya himbauan kepada masyarakat tetapikepada tenaga medis lain juga seperti dokter dan tenaga farmasi.Obat pat en m erupak an ob at den gan nam a da gang s esuai den ganpa bri k yan g m em produksi obat t ersebut . S edan gk an obat generi k sendi ri m erupakan ob at ya n g p enam a ann ya s esuai l i t erat ur sep er t i Farm akope Indone si a. Dan pad a um um n ya kedu a j eni s obat i ni m em i l i ki har ga yan g b e r b e d a . O b a t g e n e r i k j a u h l e b i h m u r a h d i b a n d i n g d e n g a n o b a t p a t e n padahal keduanya bisa saja memiliki khasiat yang sama. Oleh karena itu saya tertarik untuk meneliti tentang uji disolusi dank a d a r parasetamol pada kaplet Parasetamol OGB dan kaplet E m t u r n a s produksi PT. First Medipharma. B.R um us an Masal ah A p a k a h a d a p e r b e d a a n l a j u d i s o l u s i d a n k a d a r p a r a s e t a m o l p a d a kaplet Parasetamol OGB dan kaplet Emturnas produksi PT. First Medipharma? C.Tujuan 1.Tujuan umum

Untuk mengetahui perbandingan laju disolusi dan kadar parasetamolpada kapl et P aras et am ol OG B d an kapl et Em t urnas produksi P T. Fi rst Medipharma. 2.Tujuan khusus Untuk mengukur perbandingan laju disolusi dan kadar parasetamolpada kapl et P aras et am ol OG B d an kapl et Em t urnas produksi P T. Fi rst Medipharma. D.Manfaat 1.Bagi peneliti Sebagai penerapan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selamamengikuti pendidikan di Jurusan Farmasi.2 . B a g i i n s t i t u s i Sebagai bahan penambah kepustakaan bagi peneliti selanjutnya.3 . B a g i m a s y a r a k a t Sebagai bahan informasi mengenai obat generik dan obat paten. BAB IITINJAUAN PUSTAKAA . O b a t 1.Pengertian obat Obat adalah semua bahan tunggal atau campuran yang digunakan o l e h s e m u a m a h k l u k u n t u k b a g i a n d a l a m m a u p u n b a g i a n l u a r , g u n a mencegah, meringankan, maupun menyembuhkan penyakit.(Syamsuni, 2006). Obat juga digunakan dalam menetapkan diagnosa suatu penyakit. 2.P enge rt i an obat pa t en Obat pat en at au spe si al i t adal ah obat m i l i k suat u perusahaan dengan nama yang khas yang dilindungi hukum, yaitu merk terdaftar atau propertary name . (Tan dan Kirana, 2007, hal. 6) 3.P enge rt i an obat ge neri k obat generik adalah terapeutik ekivalen dengan produk patennya ( brand drug product ) dan mengandung zat aktif dalam kadar dan dalamsediaan yang sama. Tetapi yang mutlak adalah bioekivalennya pun harusi dent i k, yakni m em i l i ki kec epat an dan kadar abs o rpsi ya n g sam a ol eh tubuh dengan tujuan memberikan respons klinis yang sama dengan obatpatennya. (Tan dan Kirana, 2007, hal. 6) 4.Kom posi si Tabl et a. Zat Aktif S ecara l u as obat at a u bahan akt i f yan g d i beri kan sec ara o ral dalam bentuk tablet dikelompokkan menjadi: 1. Zat Aktif Tidak Larut Air (Insoluble Drugs) Zat ini cenderung digunakan untuk memberikan efek lokalpada saluran pencernaan (seperti antasida dan adsorben). 2. Zat Aktif Larut Air (Soluble Drugs) Z a t i n i c e n d e r u n g d i g u n a k a n u n t u k m e m b e r i k a n e f e k sistemik dengan terdisolusi dan terabsorpsi pada usus. Dalam hal obat di har apkan den gan m em beri kan e fek si s t em i k, rancan gan bentuk sediaan harus cepat terdisintegrasi dan terlarut. b. Eksipien (Bahan Pembantu) Eksipien adalah zat yang bersifat inert secara farmakologi yangd i g u n a k a n s e b a g a i z a t p e m b a n t u d a l a m f o r m u l a s i t a b l e t u n t u k m em perbai ki si fat z at akt i f,

m em bent uk t abl et dan m em perm udah teknologi pembuatan tablet. Eksipien harus memiliki kriteria sebagaiberikut : t i d a k t o k s i k ( m e m e n u h i p e r s y a r a t a n p e r a t u r a n d i s e t i a p negara). tersedia secara komersial dengan mutu yang dapat diterimaoleh semua negara tempat produk tersebut dikembangkan, harga relatif murah tidak kontraindikasi dalam suatu golongan populasi, inert secara fisiologis, stabil secara fisika dan kimia baik tersendirimaupun dalam kombinasi dengan zat aktif, bebas dari kandungan bakteri patogen, kompatibel dengan zat warna dan bahan lainnya, d a n t i d a k m e m b a w a p e n g a r u h y a n g b u r u k t e r h a d a p ketersediaan hayati dari zat aktif dalam sediaan.Eksipien berdasarkan fungsinya dapat digolongkan menjadi : 1.P engi s i (Di l uent ) Pengisi adalah zat yang ditambahkan untuk menyesuaikanb o b o t d a n u k u r a n t a b l e t j i k a d o s i s z a t a k t i f t i d a k c u k u p u n t u k membuat massa tablet, memperbaiki daya kohesi sehingga tabletdapat dikempa dengan baik, serta mengatasi masalah kelembaban yang mempengaruhi kestabilan zat aktif. Beberapa senyawa yangdapat digunakan sebagai pengisi antara lain : laktosa USP, laktosaU S P a n h i d r a t , l a k t o s a U S P spray dried, amilum untuk kempalangsung, amilum terhidrolisis, m a n i t o l U S P , s o r b i t o l , s e r b u k sukrosa US P , m i krokri st al in sel ul osa NF (Avi cel ), k al si um sul fat dihidrat NF, dekstrosa, Emdex dan Celutab. 2.Pengikat dan Perekat (Binders and Adhesives) P e n g i k a t a t a u p e r e k a t a d a l a h z a t y a n g d i g u n a k a n u n t u k menaikkan kekompakkan atau sifat kohesif dari serbuk sehinggad a p a t m e m b e n t u k g r a n u l . B e b e r a p a s e n y a w a y a n g d a p a t di gun akan s eba gai pen gi k at at au per ekat ant a ra l ai n : pol i m er alam, contohnya amilum, gom (akasia, tragakan), sorbitol, glukosa,gel at i n dan nat ri um al gi nat ; pol i m er si nt et i k, cont ohn ya deri vat selulosa seperti metil selulosa, karboksil metil selulosa (CMC), etilselulosa (Ethocel) poli metakrilat, polivinil pirolidon (PVP). 3. Penghancur (Disintegran) P enghan cur at au di si nt egr an adal ah z at ya n g di gun akan untuk memudahkan hancurnya tablet dalam cairan saluran cerna.Penghancur memiliki lima mekanisme sebagai berikut : i. Penguatan efek kapiler, yaitu dengan mempertahankan strukturpori tablet kempa dan menunjukkan tegangan permukaan yangr e n d a h t e r h a d a p c a i r a n , y a n g m e n y e b a b k a n t e r j a d i n y a penetrasi air yang cepat melalui pori tersebut. ii. Penarikan air ke dalam tablet, yang menyebabkan t a b l e t mengembang dan kemudian pecah menjadi fragmen-fragmen

yang sangat menentukan kelarutan selanjutnya sehingga dapattercapai ketersediaan hayati yang diharapkan. iii. P el epas an gas (t erut am a C O2), yan g d ap at m erusak st rukt ur tablet. Mekanisme penghancur seperti ini sering ditemui dalam tablet effervesen. iv. Pelelehan pada suhu tubuh. v. Perusakan pengikat oleh reaksi enzimatikB e b e r a p a s e n y a w a y a n g d a p a t d i g u n a k a n s e b a g a i pen ghan cur an t ara l ai n : am i l um dan deri v at n ya, s el ul os a dan d e r i v a t n y a , a l g i n a t , P V P , G u m ( a g a r , g u a r , k a r a y a , p e k t i n , tragakan), Povidone XL, dan campuran effervesen. 4.P el i nci r ( Lub ri kan ) a . L u b r i k a n M u r n i Lubrikan murni adalah zat yang digunakan untuk mengurangi g e s e k a n a n t a r a g r a n u l d e n g a n d i n d i n g c e t a k a n s e l a m a pengempaan dan pengeluaran tablet. Lubrikan dapat bekerjad en gan dua m ekani sm e, yai t u fl ui d l ubri cat i on dan boundar ylubrication. Fluid lubrication bekerja dengan memisahkan keduapermukaan granul dan dinding. Sedangkan boundary lubricationbekerja karena adanya penempelan dari bagian molekular yangmempunyai rantai karbon panjang, Berdasarkan kelarutannyadalam air, lubrikan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : i.Lubrikan larut air L u b r i k a n i n i u m u m n y a h a n y a d i g u n a k a n j i k a t a b l e t h a r u s sangat larut air (misalnya tablet effervesen) dan tergantungdari karakteristik disolusi yang diinginkan. Beberapa contohsenyawa yang dapat digolongkan sebagai lubrikan larut airantara lain : natrium benzoat, natrium asetat, natrium klorida,natrium oleat, natrium lauril sulfat, magnesium lauril sulfat,asam borat, Karbowax 4000, Karbowax 6000, polietilenglikol. ii.Lubrikan tidak larut air Lubrikan ini lebih efektif daripada yang larut air d a n di gun akan pad a konsent rasi yan g l e bi h rendah. Bebe rap aco nt oh s en ya wa ya n g dap at di gol on gkan seb a gai l ubri kan t i d a k l a r u t a i r a n t a r a l a i n : m a g n e s i u m s t e a r a t , k a l s i u m st ea rat , nat ri um st ear at , asam st ear at , S t erot ex , t al k, l i li n, Stearowet. b.Anti Lengket (antiadheren) Antiadheren adalah zat yang digunakan untuk m e n c e g a h menempelnya massa tablet pada punch dan untuk mengurangipenempelan pada dinding cetakan. Bahan ini sangat diperlukanu n t u k z a t z a t y a n g m u d a h m e n e m p e l , s e p e r t i v i t a m i n E . Bebe rapa cont oh s en ya wa ya n g dap at di gol on gkan seb a gai antiadheren antara lain : talk, pati jagung, Cab-O-Sil, DL-Leucin,natrium lauril sulfat. c.P erbai kan al i ran/ gl i dan Gl i dan adal ah z at ya ng di gunak an unt uk m em perbai ki al i ran granul dari hopper ke feeder dan ke lubang cetakan. Beberapa mekanisme kerja glidan, yaitu : dispersi muatan elektrostatikpada perm ukaan gr anul , di st ri busi gl i dan sel am a gr anul a si ,adsorpsi gas p ada gl i dan yan g berl awan an den gan gr anul asi , meminimalkan gaya van der Waals dengan pemisahan granul,m en gur an gi fri ksi ant ar part i kel dan m en gur angi

perm ukaan k a s a r g r a n u l d e n g a n p e n e m p e l a n g l i d a n s e l a m a g r a n u l a s i . B eber apa cont oh sen yaw a ya ng dap at di gol on gk a n seba gai glidan antara lain : talk, pati jagung, Cab-O-Sil, siloid, aerosol. 5.P em bas ah (surf akt an) Beberapa zat berkhasiat memiliki sifat hidrofob, yaitu sifat yang s u s a h u n t u k d i b a s a h i . Z a t b e r k h a s i a t y a n g d e m i k i a n a k a n m eni m bul kan m as al ah dal am w akt u hancurn ya, ol eh k arena i t u d i p e r l u k a n s u a t u z a t p e m b a s a h . Z a t p e m b a s a h m e m b a n t u m em percep at penet rasi cai r an ke dal am t abl et sehi n gga d apat terjadi kontak antara bahan cairan dengan zat penghancur yanglebih cepat. 6.Penyerap Cairan (adsorben) Ads orben ad al ah z at yan g di gun akan unt uk m en ye rap s ej um l ah besar cairan seperti minyak, ekstrak cair, dan lelehan eutektik yangd apat t eri nkopo r asi dal am t abl et t anpa perub ah an z at t ersebut m e n j a d i b a s a h . B e b e r a p a c o n t o h z a t y a n g d a p a t d i g o l o n g k a n menjadi adsorben antara lain : Cab-O-Sil, siloid, aerosol, tanah liat,b e n t o n i t , k a o l i n , m a g n e s i u m s i l i k a t , m a g n e s i u m k a r b o n a t , magnesium oksida, trikalsium fosfat, amilum. 7.Zat T am bahan (ad j uvant ) Adjuvan adalah zat tambahan dalam formula sediaan obat yangditambahkan dalam jumlah kecil untuk maksud pemberian warna,penawa r bau, r asa d an j uga unt uk m eni ngkat k an ket ers edi aanha ya t i suat u obat , sehi ngga sedi a a n Farm asi ya n g di bu at dapat memenuhi syarat dan mampu memberikan efek terapeutik yangdiharapkan.B . P a r a s e t a m o l C . D i s o l u s i 1 . P e n g e r t i a n Disolusi atau pelarutan didefinisikan sebagai proses melarutnyasuatu obat dari sediaan padat dalam medium tertentu (Wagner, 1971).Laju disolusi atau laju pelarutan merupakan kecepatan dari suatupadat an di dal am suat u m edi um t et rt ent u unt uk m el arut kan suat u z a t kimia atau senyawa obat.2 . G h j g s a k 3 . j s g a t h j D. S pekt rofot om et ri 1 . P e n g e r t i a n E . G d j f g F.Fhjgflf

Title: Pengujian Mutu Sediaan Tablet Parasetamol Generik Tak Berlogo Dibandingkan Dengan Generik Berlogo Dan Merek Dagang Secara In Vitro Authors: Pebriani, Mala Advisors: Chairul, Azhar Dlt Harun, Fathur Rahman Issue Date: 9-Jun-2010 Abstract: Pengujian mutu tablet Parasetamol generik tak berlogo telah dilakukan dan dibandingkan dengan sediaan tablet Parasetamol berlogo dan merek dagang secara in vitro. Pengujian mutu tablet dengan menggunakan parameter uji kekerasan dan uji friabilitas untuk persyaratan industri farmasi dan parameter uji waktu hancur, penetapan kadar, keseragaman bobot, dan uji disolusi menurut Farmakope Indonesia Edisi IV. Hasil dari pengujian yang diperoleh menunjukkan tablet parasetamol generik tak berlogo memenuhi persyaratan industri farmasi kecuali uji kekerasan. Hal yang sama juga diperoleh pada tablet berlogo dan merek dagang. Sebaliknya pengujian parameter menurut Farmakope Indonesia Edisi IV tablet generik tak berlogo semua memenuhi persyaratan. Pengujian hasil yang sama diperoleh juga dari tablet generik berlogo dan merek dagang. Keywords: Tablet Parasetamol

In Vitro URI: http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/17748 Appears in Collections:SP - General

BAB IPENDAHULUANI.1 Latar Belakang Dal am duni a kef arm asi an par a apot ek er dan pakar -pak ar k i m i a s e n a n t i a s a m e r a n c a n g s e d i a a n o b a t s u p a y a m a m p u menrancang terobosan baru dalam menciptakan suati produk yangb e r k u a l i t a s , b a i k d a r i s e g i k e s e t a b i l a n o b a t m a u p u n e f e k y a n g ditimbulkan. Sudah sepantasnya. Sebagai seorang farmasis kitaharus selalu menggali informasi terkini mengenai teknologi obatdari berbagai segi.D i s i n i y a n g p a l i n g d i t e k a n k a n y a i t u p a d a p r e f o r m u l a s i . Preformulasi merupakan metode perancangan suatu riset dalamr a n g k a m e n y u s u n k o n s e p b a r u y a n g n a n t i n y a h a r u s m a m p u menghasilkan suatu maha karya yang bernilai. Dibutuhkan kearifand a n k e c e r d a s a n y a n g m u m p u n i d a l a m m e n y u s u n p r e f o r m u l a s i suat u s edi aan. Te rut am a d al am m en genal m on ogr afi ,spesi fi kasi m e ncakup si fat s i fat s uat u z at dan r eaksi ya n g m un gki n t erj adi apabila bercampur dengan zat lain saat dikombinasikan.Diantara semua sifat dan reaksi yang penting untuk kita ketahuibersam a yan g pal i ng kam i sorot i d i si ni yai t u m engenai Di sol usi suatu zat. Dimana ini meerupakan suatu tahapan yang yang sangatberperan penting dalam menentukan hasil suatu efek obat dalamtubuh Manusia. Laju disolusi atau kecepatan melarut obat-obat yang relatif tidak larut dalam air telah lama menjadi masalah pada industri farmasi. Obat-obat tersebutumumnya mengalami proses disolusi yang lambat demikian pula laju absorpsinya.Dalam hal ini partikel obat terlarut akan diabsorpsi pada laju rendah atau bahkan tidak diabsorpsi seluruhnya. Dengan demikian absorpsi obat tersebut menjadi tidak sempurna 1.2R um usan m asal ah 1. Apa yang disebut dengan Disolusi? 2. Apa saja yang dapat mempengaruhi kecepatan disolusi? 3. Bagaimana metode penentuan kecepatan disolusi? 4. Bagaiman perhitungan dalam menentukan kecepatan disolusi? 5.

Bagaimana aplikasi pengaruh disolusi zat erhadap obat ? I.3 Tujuan Makalah Sesuai dengan rumusan makalah di atas makalah ini disusun untuk mengetahui a) Apa yang disebut dengan Disolusi? b) Apa saja yang dapat mempengaruhi kecepatan disolusi? c) Bagaimana metode penentuan kecepatan disolusi? d) Bagaiman perhitungan dalam menentukan kecepatan disolusi?e)Bagaimana aplikasi pengaruh disolusi zat erhadap obat ? I.4. Kegunaan Makalah Makalah ini disusun dapat memberikan manfaat. baik secara teoritis maupun secara praktis. Dimaksudkan juga untuk pengembangan konsep penelitian khususnya bagi dunia kefarmasiaan .I.5. Prosedur Makalah Makalah ini disusun dengan pendekatan kuantitatif . metoda yang digunakan adalah metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan secara jelas permasalahan dan komprehensif. Data dikumpulkan dengan teknik studi pustaka artinya penulis mengambil data melalui membaca literature, kemudian data tersebutdiolah menjadi sebuah makalah. BAB IIPEMBAHASAN2.1 Tinjauan Teori2.1.1 Definisi Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atausen ya w a obat d ari s edi aan pad at ke dal am suat u m edi um t ert ent u. Uj i di sol usi ber guna unt uk m engert ahui seb erap a ban yak ob at ya n g m el arut dalam medium asam atau basa (lambung dan usus halus) (Ansel, 1989).Laju disolusi suatu obat adalah kecepatan perubahan dari bentuk padat menjadi terlarut dalam medianya setiap waktu tertentu. Jadi disolusi menggambarkankecepatan obat larut dalam media disolusi.Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknyasuatu zat terlarut dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu. Suatu hubunganyang umum menggambarkan proses disolusi zat padat telah dikembangkan oleh Noyes dan Whitney dalam bentuk persamaan berikut (Astuti,2008) : () C Csh DS dt dM = dM.dt -1 :kecepatan disolusiD : k o e f i s i e n d i f u s i S : l u a s p e r m u k a a n z a t C s : k e l a r u t a n z a t p a d a t C : k o n s e n t r a s i z a t d a l a m l a r u t a n p a d a w a k t u H : t e b a l l a p i s a n d i f u s i Dalam teori disolusi atau perpindahan massa, diasumsikan bahwaselama proses disolusi

berlangsung pada permukaan padatan terbentuk suatulapisan difusi air atau lapisan tipis cairan yang stagnan dengan ketebalan h.Bila konsentrasi zat terlarut di dalam larutan (C) jauh lebih kecil daripadakelarutan zat tersebut (Cs) sehingga dapat diabaikan, maka harga (Cs-C)d i a n g g a p s a m a d e n g a n C s . J a d i , p e r s a m a a n k e c e p a t a n d i s o l u s i d a p a t disederhanakan menjadi hD Cdt dM Ss = Dari persamaan tersebut di atas tampak beberapa 2.1.2 Faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan disolusisuatu zat , yaitu:1 . S u h u Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang b e r s i f a t e n d o t e r m i k s e r t a m e m p e r b e s a r h a r g a k o e f i s i e n d i f u s i z a t . Menurut Einstein, koefisien difusi dapat dinyatakan melalui persamaan berikut (Astuti,2008) :D = rT k 6 Keterangan :D : k o e f i s i e n d i f u s i r : j a r i - j a r i m o l e k u l k : k o n s t a n t a B o l t z m a n : v i s k o s i t a p e l a r u t T : s u h u 2.Vi s k o s i t a s Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi suatuz a t s e s u a i d e n g a n p e r s a m a a n E i n s t e i n . M e n i n g g i n y a s u h u jugam en u r u n k an v i s k o s i t as d an m em p er b es a r k e cep at an d i s o l u s i (Astuti,2008).3 . p H P e l a r u t pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang bersifatasam atau basa lemah.Untuk asam lemah () += + H KaCsC K dt dc 1.. Jika (H + ) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. Dengandemikian, kecepatan disolusi zat juga meningkat.Untuk basa lemah () += + Ka H CsC K dt dc 1.. Jika (H + ) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. Dengandemikian, kecepatan disolusi juga meningkat (Astuti,2008). 4. PengadukanKecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). jika pengadukan b erl angsun g cep at , m aka t ebal l api san di fus i akan cepat berkurang (Astuti,2008).5.Ukuran P a rt i kel Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif menjadi besar sehingga kecepatan disolusi meningkat

(Astuti,2008).6 . P o l i m o r f i s m e Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme. Struktur int ernal z at ya n g ber l ai nan dapat m em be ri kan t i ngkat kel arut an yan g berbeda juga. Kristal meta stabil umumnya lebih mudah larut daripada bentuk stabilnya, sehingga kecepatan disolusinya besar (Astuti,2008).7.S i fat P erm ukaan Zat P ad a um um n ya z at -z at ya ng di gunak an seba gai bahan obat bers i fat hidrofob. Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan permukaanant ar part i kel z at dengan pel arut akan m enuru n sehi ngga z at m udah terbasahi dan kecepatan disolusinya bertambah (Astuti,2008). 2 . 1 . 3 L a j u d i s o l u s i o b a t s e c a r a i n v i t r o d i p e n g a r u h i beberapa factor Berikut dpat kita kletahui1. Sifat fisika kimia obat.Sifat fisika kimia obat berpengaruh besar terhadap kinetika disolusi. Luas permukaan efektif dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel.Laju disolusi akan diperbesar karena kelarutan terj adi pada permukaansolut. Kelarutan obat dalam air juga mempengaruhi laju disolusi. Obat b e r b e n t u k g a r a m , p a d a u m u m n y a l e b i h m u d a h l a r u t d a r i p a d a obat berbentuk asam maupun basa bebas. Obat dapat membentuk s u a t u polimorfi yaitu terdapatnya beberapa kinetika pelarutan yang berbeda m es ki pun m em i l i ki st rukt ur ki m i a yan g i dent i k. Obat bent uk kri st al secar a um um l ebi h keras, k aku dan sec ar a t erm odi nam i k l ebi h st abi l daripada bentuk amorf, kondisi ini menyebabkan obat bentuk amorf lebihmudah terdisolusi daripada bentuk kristal.2.Faktor alat dan kondisi lingkungan.A d a n y a p e r b e d a a n a l a t y a n g digunakan dalam uji disolusi akanmenyebabkan perbedaan k e c e p a t a n p e l a r u t a n o b a t . K e c e p a t a n pengadukan akan mempengaruhi kecepatan pelarutan obat, semakin cepat pengadukan maka gerakan medium akan semakin cepat sehingga dapatm en ai kkan ke cepat an p el arut an. S el ai n i t u t em perat ur, vi skosi t as dan k o m p o s i s i d a r i m e d i u m , s e r t a p e n g a m b i l a n s a m p e l j u g a d a p a t mempengaruhi kecepatan pelarutan obat.3.Fakt or form ul asi .Berb a gai m a cam bahan t am b ah an ya ng di gunak an pada s edi a an obat da pat m em pen garuhi k i net i ka pel arut an ob at den gan m em pengaruhi tegangan muka antara medium tempat obat melarut dengan bahan obat,ataupun bereaksi secara langsung dengan bahan obat. Penggunaan bahant a m b a h a n y a n g b e r s i f a t h i d r o f o b s e p e r t i m a g n e s i u m s t e a r a t , d a p a t menaikkan tegangan antar muka obat dengan medium disolusi. Beberapa b ahan t am bahan l ai n dap at m em bent uk kom pl eks dengan bah an ob at , misalnya kalsium karbonat dan kalsium sulfat yang membentuk komplekst i d a k l a r u t d e n g a n t e t r a s i k l i n . H a l i n i m e n y e b a b k a n j u m l a h o b a t terdisolusi menjadi lebih sedikit dan berpengaruh pula terhadap jumlahobat yang diabsorpsi. 2 . 1 . 4 P e n e n t u a n k e c e p a t a n d i s o l u s i s u a t u z a t d a p a t dilakukan melalui metode :1 . M e t o d e S u s p e n s i Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa pengontrolaneksak t e rhadap l uas p erm uka an part i kel n ya. S am pel di am bi l pada