Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH

Acara VI Kerangka Pemetaan Melalui Poligon Tertutup

Disusun Oleh : Nama NIM Hari/Jam Asisten : Anda kurnianto : 07/255722/DGE/530 : Sabtu, 07.00 11.00 WIB : 1. Farihah Mahmudah 2. Dwi Hendrawati 3. Meilinda Maharani 4. Ika Abrita Damayanti 5. Nurul Hidayah 6. Beti Setyarini

PROGRAM DIPLOMA PENGINDERAAN JAUH DAN SIG FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

Acara VI

I. Judul Kerangka Pemetaan Melalui Poligon Tertutup II. Tujuan Mahasiswa dapat memetakan suatu daerah melalui pembuatan kerangka pemetaan.

III. Alat dan Bahan 1. Theodolit T0. 2. Pita ukur. 3. Patok. 4. Unting-unting. 5. Alat tulis.

IV. Dasar Teori Pembuatan peta secara teresterial melalui kerangka pemetaan yang berupa polygon dilakukan melalui pengukuran sudut dan jarak secara simultan, artinya pengukurannya dilakukan secara bersama-sama. Sudut horizontal diukur dengan alat theodolit, dan jarak diukur dengan alat theodolit yang sama, pengukurannya dilakukan secara bersamaan. Pengukuran sudut-sudut dalam polygon dilakukan minimal 2 kali pengukuran yaitu teropong pada posisi Biasa (garis visir berada di atas) dan teropong pada posisi Luar Biasa (garis visir berada di bawah). Jarak-jarak sisi polygon diukur secara optis, minimal dua kali pengukuran, yaitu pengukuran ke muka dan pengukuran ke belakang. Hasil definitive pengukuran sudut polygon adalah rata-rata dari pengukuran Biasa an pengukuran Luar Biasa. Jarak definitive sisi-sisi polygon merupakan hasil rata-rata dari pengukuran ke muka dan pengukuran ke belakang.

Poligon Tertutup Poigon tertutup merupakan kerangka peta yang sangat sederhana, praktis dalam pengukuran dan hitungan, mudah dikontrol ada kesalahan, tetapi juga mempunyai ketelitian yang dapat diandalkan. Pada pemetaan untuk daerah yang lingkupnya kecil, dapat digunakan koordinat titik awal local, tetapi harus terikat azimuth awal yang handal. Azimuth handal yang dimaksud adalah azimuth bintang atau azimuth matahari (Azimuth Astronomis). Untuk pemetaan area yang luas minimal harus ada satu titik tetap sebagai titik tetap. Data-data yang diperlukan pada pengukuran polygon tertutup adalah: 1. Azimuth Awal Poligon. 2. Koordinat Lokal/Koordinat Tetap sebagai koordinat awal. 3. Jarak-jarak sisi polygon 4. Sudut-sudut dalam polygon tertutup.

Alat yang digunakan untuk pengukuran sudut dalam polygon, adalah alat ukur theodolit presisi, sedang untuk pengukuran jarak-jarak sisi polygon, dapat secara optis, langsung, atau elektronis (EDM).

1. Pengukuran azimuth Awal Polygon. Pengukuran azimuth awal sisi polygon, diukur secara teliti, dengan pertolongan matahari (pada praktikum sebagai latihan langsung digunakan azimuth magnetis). Azimuth awal polygon yang dimaksud adalah azimuth awal P1P2 sebagai azimuth awal sisi polygon. Harga azimuth awal tersebut adalah:

M = Matahari Az P1P2 = +

P1 P2

2. Koordinat Awal Poligon. Untuk peta perencanaan dapat dipakai koordinat local yaitu koordinat awal yang ditentukan. (sebagai contoh P1 (1000,1000) Pengambilan ini diperkirakan agar harga X dan Y, tidak ada yang bernilai negative. Pada peta yang sifatnya global diperlukan koordinat awal yang sifatnya tetap, artinya koordinat awal dari titik polygon terikat pada jaringan koordinat global. 3. Jarak-jarak sisi polygon Pada polygon yang presisi (teliti), jarak-jarak sisi diukur secara teliti minimal dua kali pengukuran. 4. Sudut-sudut dalam polygon tertutup. Sudut-sudut dalam polygon, diukur minimal dua kali pengukuran, yaitu rata-rata dari pengukuran Biasa dan Luar Biasa. Padsa polygon teliti dapat dipakai theodolit yang mempunyai ketelitian sudut horizontal sebesar 1 (atu detik). Pengukuran sudut dalam polygon tertutup, tidak mungkin mulus (tanpa kesalahan). Dalam arti matematisnya = (n-2) * 180 Setiap pengukuran pasti ada kesalahannya dalam arti (n-2) * 180 jadi perlu adanya koreksi, sebagai contoh : hasil pengukuran adalah sebesar 540020 dengan n = 5, 540, berarti ada koreksi sebesar 20 maksudnya tiap-tiap sudut mendapat koreksi sebesar 4

5. Penyusunan Azimuth Polygon Setelah sudut dalam dikoreksi, maka didapatkan sudut dalam polygon yang definitive, sehingga pekerjaan penyusunan azimuth dapat dillakukan. Penyusunan azimuth dapat dilihat seperti pada gambar berikut :

U P2P3 P3

P2 P1P2 P1 2

Menurut matematis pada gambar diatas, dapat disusun sebagai berikut : Azimuth P1P2 ( P1P2) merupakan Azimuth awal, hasil pengukuran yang definitive. P2P3 = P1P2 + 180 - 2 P3P4 = P2P3 + 180 - 3 PnPn+1 = Pn-1Pn + 180 - n dan seterusnya, sehingga didapat P1P2 = PnP1 + 180 - n yang kembali harga P1P2 hasiol dari pengukuran (Azimuth Awal) 6. Harga D sin (X) dan cos (Y) Harga-harga ini sebetulnya merupakan harga-harga penambahan absis dan penambahan ordinat mengacu pada suatu koordinat tertentu (dalam gambar koordinat titik P2 mengacu pada koordiant titik P1). U P2 D P1 D sin D cos

Harga-harga ini harusnya memenuhi persyaratan sebagai berikut : D sin = 0 dan D cos = 0 , dan jika tidak = 0 , berarti ada kesalahan pengukuran jarak, sehingga polygon tidak menutup atau disebut adanya kesalahan penutup jarak 9f), besarnya seoerti pada gambar di bawah ini.

Jika Harga D sin 0 dan D cos 0 berarti ada koreksi sebagai berikut : X1 = D1 x X D X2 = D2 x X D X3 = D3 x X D dst Y1 = D1 x Y D Y2= D2 x Y D Y3 = D3 x Y D dst

7. Perhitungan Definitive Koordinat polygon (X,Y) Perhitungan ini merupakan perhitungan final, sehingga didapat X dan Y yang definitive. Harga X dan Y ini secara matematis dapat dilihat pada gambar berikut : X2 = X1 + D1 sin + Koreksi ( U Y2 = Y1 + D1 cos + Koreksi () P2 (X2,Y2) ( X1, Y1) P1 D D1 sin D1 cos

Sehingga akan didapatkan formula sebagai berikut : Xn+1 = Xn + Dn sin + Xn Yn+1 = Yn + Dn cos + Yn Koordinat Z (Beda Tinggi) Selain perhitungan posisi secara horizontal (koordinat x & y) maka pemetaan juga dilakukan secara vertical (beda tinggi), sehingga juga perhitungan dilakukan sama seperti posisi horizontal (x,y). pada perhitungan beda tinggi ini juga mutlak tidak mulus tetapi juga mengalami koreksi, dimana posisi Z awal harus sama, ketika sudah melalui perhitungan. Beda tinggiyang digunakan adalah beda tinggi hasil pengukuran ke muka dan pengukuran ke belakang. Harga dari jumlah beda tinggi haruslah sama dengan 0 ( Z = 0) jika tidak sama dengan 0 maka harus melalui koreksi.

Dimana besarnya penyimpangan/jumlah koreksi ( Z) harus dibagikan secara rata melalui formula : Z1 = Z2 = Zn = Z1 |Z| Z2 |Z| Zn |Z| Perhitungan Definitif Koordinat Z Perhitungan ini merupakan perhitungan final, sehingga Z yang definitive . dengan perhitungan menggunakan formula : Zn+1 = Zn + BT + Zn xZ xZ xZ