Anda di halaman 1dari 21

BAB I Pendahuluan 1.

1 Latar Belakang Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Salah satu elemen penting yang mendukung kemajuan tersebut adalah pendidikan, sebab pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa.

Apabila output dari proses pendidikan itu berhasil maka kemajuan pun ada di depan mata. Kenyataan menunjukkan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Berbagai masalah masih sering terjadi, mulai dari sarana yang tidak memadai, membengkaknya anak putus sekolah, kurikulum yang selalu berubah, ketidakprofesionalan para pendidik, hingga kepribadian peserta didik yang kurang terpuji. Namun hal yang paling menambah buramnya pendidikan di negara ini adalah masalah mahalnya biaya pendidikan sehingga tidak terjangkau bagi masyarakat miskin. Memang di zaman sekarang untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas baik biasanya harus menelan biaya yang tidak sedikit. Tidak diingkari bahwa tiap tahunnya, hampir semua jenjang pendidikan terus mengalami kenaikan biaya. Selain itu, akreditasi yang ditetapkan oleh negara dijadikan ajang kompetisi untuk membangun lembaga pendidikan berperspektif komersil. Akhirnya, mahalnya biaya pendidikan ini pun menjadi paradoks bagi konstitusi negara ini.

Bukankah seharusnya pendidikan merupakan hak seluruh rakyat Indonesia seperti yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi salah satu tujuan negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan disebutkan pula dalam Undang - Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat 1 berbunyi : Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan (UUD 45.Surabaya:Serbajaya) Bagaimana mungkin tetap mencapai tujuan nasioanal tersebut jika memperoleh pendidikan saja terhalang masalah biaya. Dalam salah satu tujuan pembukaan Undang Undang Dasar 1945 diatas, ini mempunyai konsekuensi bahwa Negara harus

menyelenggarkan dan menfasilitasi seluruh rakyat untu memperoleh pengajaran dan pendidikan yang layak. Tentu saja Negara dalam hal ini pemerintah harus mengusahakan agar pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan merupakan faktor kebutuhan yang paling utama dalam kehidupan. Biaya pendidikan sekarang ini tidak murah lagi karena dilihat dari penghasilan rakyat Indonesia setiap harinya. Mahalnya biaya pendidikan tidak hanya pendidikan di perguruan tinggi melainkan juga biaya pendidikan di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas/kejuruan walaupun sekarang ini sekolah sudah mendapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) semuanya masih belum mencukupi biaya pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu.

Tak jarang terdengar istilah komersialisasi pendidikan di lingkungan masyarakat Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin tingginya biaya pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah (SMP dan SMA). Masih adanya pungutan-pungutan biaya pendidikan bagi siswa SD dan SMP dianggap menyimpang dari aturan yang ada, disebabkan untuk biaya pendidikan SD dan SMP mendapat anggaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah karena sudah termasuk dalam program Wajib Belajar Sembilan Tahun. Tak hanya SD hingga SMA, pendidikan di tingkat perguruan tinggi (PT), baik negeri maupun swasta, biayanya juga ikut melambung tinggi sehingga seringkali dirasa sangat memberatkan bagi sebagian besar masyarakat dan menjadi salah satu halangan bagi lulusan SMA/sederajat untuk melanjutkan pendidikan mereka di bangku perkuliahan. Tetapi penggunaan dana BOS yang dicanangkan tidak sesuai harapan. Yang seharusnya bisa digunakan untuk memfasilitasi sarana prasarana pendidikan, malah digunakan untuk yang tidak sebaiknya digunakan. Ini salah satu yang menyebabkan lembaga pendidikan zaman sekarang menjadi dikomersialisasikan.

1.2 Tujuan 1. Mengetahui pengertian komersialisasi pendidikan 2. Mengetahui dampak dari kompersialisasi pendidikan. 3. Untuk mengetahui solusi alternatif penanggulangan komersialisasi pendidikan

1.3 Manfaat 1. Untuk mengetahui pengertian komersialisasi pendidikan 2. Untuk mengetahui dampak dari komersialisasi pendidikan. 3. Untuk mengetahui solusi alternatif penanggulangan komersialisasi pendidikan.

BAB II PERMASALAHAN

2.1 Apa pengertian komersialisasi pendidikan ? 2.2 Apa dampak dari komersialisasi pendidikan ? 2.3 Apa solusi alternatif penanggulangan komersialisasi pendidikan ?

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pengertian Pendidikan Pendidikan (wikipedia.org) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya diri, untuk memiliki kekuatan kecerdasan, spiritual akhlak keagamaan, mulia, serta

pengendalian

kepribadian,

keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat Pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

diperlukan dirinya dan masyarakat. Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata didik dan mendapat imbuhan pe dan akhiran an, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan

manusiamelalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional

Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Dapat disimpulkan dari beberapa pengertian pendidikan diatas bahwa pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi tingginya.

3.2 Kendala dalam Dunia Pendidikan

Kendala yang dihadapi dalam dunia pendidikan kita saat ini tak lain disebabkan oleh beberapa hal yang sangat urgen dan sangat mendasar bagi masyarakat, seperti:

1. Tingginya biaya pendidikan menyebabkan masyarakat kurang mampu tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini berakibat pada kehidupan sosial mereka dalam masyarakat, sebab kondisi ini menyulitkan mereka untuk dapat berkompetisi secara global melalui pendidikan. Untuk mengatasi hal ini masyarakat yang kurang mampu harus diberi jalan untuk mendapat pendidikan yang lebih tinggi dengan konsekuensi menggalakkan Gerakan Orang Tua Asuh (GNOTA), pemerintah mengeluarkan kebijakan yang ditujukan bagi perusahaan yang ada di Indonesia untuk mengeluarkan 1% dari keuntungan mereka per tahun bagi dana pendidikan.

2. Mengejar dan mengagungkan gelar akademis telah menjadi budaya di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Hal ini mengakibatkan

masyarakat melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan gelar akademis tersebut seperti jalan pintas tanpa melalui proses praktik

pembelajaran

dengan

mengandalkan

uang

sehingga

komersialisasi pendidikan semakin subur. Budaya ini harus diberantas dengan cara adanya kebijakan pemerintah yang tegas untuk menutup
6

lembaga pendidikan yang telah melakukan kecurangan pendidikan yang dapat mengurangi kualitas mutu pendidikan. Di samping itu lembagalembaga pemerintah maupun swasta yang ada harus tegas untuk tidak merekrut atau mempromosikan mereka yang memperoleh gelar akademis melalui jalan pintas tersebut, dan diharapkan juga adanya sebuah kontrol sosial dari masyarakat. 1.3 Penyebab Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah. Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000,- sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite

Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, "sesuai keputusan Komite Sekolah". Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
7

Kemunculan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan perubahan status empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) membuat bertambahnya masalah. Perubahan status tersebut

merupakan salah satu bentuk pelaksanaan privatisasi di bidang pendidikan yang selama ini marak diterapkan dalam bidang

perekonomian dan pasar. Akibat yang ditimbulkan dari privatisasi diantaranya adalah komoditasi kampus dan kenaikan biaya

operasional yang efeknya langsung dirasakan oleh para mahasiswa. Pada tahun 2009, bentuk BHMN digantikan dengan Badan Hukum Pendidikan Pemerintah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan. UU tersebut kemudian dibatalkan oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11-14-21-126136/PUU-VII/2009 tanggal 31 Maret 2010, yang membuat pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 yang mengembalikan status perguruan tinggi BHMN menjadi perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Seluruh perguruan tinggi BHMN ini akan dikembalikan statusnya menjadi perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Saat ini, masa transisi pengalihan status masih berlangsung hingga tahun 2013. Meskipun begitu, kurangnya pengawasan pemerintah terkait tingginya biaya yang dipatok perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, menjadi salah satu penyebab masih rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia. Karena faktor tersebut merupakan salah satu halangan bagi masyarakat yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.

3.4 Aspek-Aspek yang Memunculkan Komersialisasi Pendidikan

a. Aspek Politik

Pendidikan yang merupakan kebutuhan dasar manusia dan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia juga memiliki aspek politik karena dalam pengelolaan harus berdasarkan ideologi yang dianut negara. Adapun ideologi pendidikan kita adalah ideologi demokrasi Pancasila, yaitu setiap warga negara mendapat kebebasan dan hak yang sama dalam mendapat pendidikan. Dalam Pembukaan UUD 45 pada alinea ke4 , hal ini pun tercermin ada kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Atas dasar itu sudah seharusnya pemerintah dalam menetapkan setiap kebijakan pendidikan merujuk pada ideologi negara. Akan tetapi dalam kenyataannya melalui pemerintah mengeluarkan peraturan (PP) No. 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum, pemerintah telah memberikan otonomi pada perguruan tinggi dalam mengelola pendidikan lembaganya termasuk pencarian dana bagi biaya operasionalnya. Apabila pendidikan tetap mahal dan dikomersialisasikan,

masyarakat yang kurang mampu tidak akan dapat meningkatkan status sosial mereka, dan ironisnya komersialisasi pendidikan ini didukung oleh tatanan sosial dan diterima oleh masyarakat. Akibat longgarnya sanksi social dan kurangnya kontrol pemerintah, komersialisasi pendidikan tumbuh subur serta membentuk social gap atau diskriminasi dalam pendidikan antara masyarakat yang mampu dengan yang tidak mampu.

b. Aspek Budaya

Budaya bangsa kita mengagungkan gelar akademis dan sebagai contoh dihampir setiap dinding rumah yang keluarganya berpendidikan selalu terpajang foto wisuda anggota keluarga lulusan dari universitas manapun. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa kita masih menganut budaya yang degree minded. Budaya berburu gelar ini berkembang pada lembaga pemerintah yang mengangkat atau mempromosikan pegawai yang memiliki gelar sarjana tanpa terlebih dahulu diteliti dan dites kemampuan akademik mereka.

Ironisnya program pendidikan seperti ini banyak diminati oleh pejabat-pejabat. Dengan komersialisasi pendidikan berarti ideologi

kapitalisme telah masuk kampus. Ideologi ini memberikan kebebasan pada individu atau kelompok untuk berusaha, sementara intervensi pemerintah harus berkurang. Akibat masuknya ideologi ini akan dapat menggeser pendidikan demokrasi Pancasila kalau pemerintah tidak cepat tanggap dalam hal ini.

c. Aspek Ekonomi

Ekonomi sudah pasti kita akan membicarakan aspek ekonomi terkait dengan masalah biaya. Biaya pendidikan nasional seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, akan tetapi dengan keluarnya UU No. 20 Tahun 2003 pada bab XIV pasal 50 ayat 6 dinyatakan bahwa perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola mampuan pendidikan pemerintah lembaganya. membiayai Hal ini menunjukkan nasional, ketidak

pendidikan

khususnya

pendidikan tinggi yang dulu mendapat subsidi dari pemerintah sebanyak 75% dan 25% lagi berasal dari biaya masyarakat termasuk dana SPP.

10

Namun subsidi 75% dicabut dan kemudian pemerintah memberikan status BHMN (Badan Hukum Milik Negara) kepada beberapa perguruan tinggi negeri agar mengelola keuangannya masing-masing. Berbagai program pendidikan ditawarkan oleh pengelola perguruan tinggi untuk memaksimalkan potensi intuisinya dalam mencari sumber pendanaan. Beberapa perguruan tinggi ternama membuka jalur khusus dalam penerimaan mahasiswa baru dengan tarif mulai dari Rp.15 juta sampai dengan Rp.150 juta.

Hal ini terjadi akibat dari lepasnya tanggung jawab pemerintah dalam membiayai pendidikan sehingga berdampak pada komersialisasi pendidikan di perguruan tinggi negeri (berstatus BHMN), yang tentu saja menguntungkan. Alasan untuk menciptakan pendidikan yang bermutu perlu biaya besar dan mahal bagi kalangan masyarakat yang kehidupan ekonominya lemah, maka status BHMN akan menjadi momok yang menakutkan.

d. Aspek Sosial

Aspek sosial terkait dengan dari hubungan dengan manusia. Pendidikan sangat menentukan perubahan strata sosial seseorang, yaitu semakin tinggi pendidikan seseorang, akan semakin meningkat pula strata sosialnya, begitu juga sebaliknya. Sesuai dengan pendapat Kartono (1997: 97) yang menyatakan: tingginya tingkat pendidikan dan tingginya taraf kebudayaan rakyat akan menjadi barometer bagi pertumbuhan bangsa dan negara yang bersangkutan. Akan tetapi bagaimana orang dapat, mencapai pendidikan tinggi apabila biaya pendidikan tersebut mahal dan hanya dapat dinikmati oleh masyarakat golongan ekonomi mapan saja.lantas bagaimana dengan masyarakat golongan ekonomi lemah.

11

e. Aspek Teknologi

Dengan berkembang pesatnya teknologi maka semakin menuntut sekolah-sekolah untuk menunjang berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Tapi, tak jarang lembaga pendidikan menjadikannya sebagai tameng untuk melakukan komersialisasi pendidikan. Biasanya lembaga pendidikan berujar, Ini dilakukan agar para peserta didik bisa mengikuti perkembangan teknologi yang dari hari ke hari semakin maju.

Oleh karena, uang masuk ataupun SPP di sekolah ataupun perguruan tinggi semakin mahal, implikasinya peserta didik yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah tidak bisa menyanggupinya. Ujungujungnya, mereka ketinggalan dalam hal teknologi. Padahal dengan perkembangan teknologi bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan, dan kehidupan bangsa.

3.5 Sumber Pendanaan Pendidikan Menurut Undang - Undang Tertera pada Undang Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XIII Pendanaan Pendidikan Bagian Kesatu Tanggung Jawab Pendanaan pasal 46 ayat 2, Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyediakan anggaran pendidikan sebagaimana diatur dalam pasal 31 ayat 4 Undang Undang Dasar 1945. Berati jelas dana untuk pendidikan pada dasarnya berasal dari pemerintah. Bahkan pada pasal 31 ayat 4 mengamanatkan bahwa negara harus memprioritaskan sekurang-kurangnya 20% dari APBN untuk membiayai pendidikan. Ini dipertegas pada Undang Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bagian Keempat Pengalokasian Dana Pendidikan pasal 49 ayat 1, Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD
12

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Pengertian Komersialisasi Pendidikan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komersialisasi diartikan sebagai perbuatan menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan Komersialisasi pendidikan dapat bermakna memperdagangkan

pendidikan,karena menurut kamus, kata komersial atau commercialize berarti memperdagangkan. Komesialisasi pendidikan dimaknai sebagai sebuah manajemen pendidikan yang menempatkan lembaga pendidikan sebuah institusi komersial. Sebagai lembaga komersial, maka lembaga pendidikan akan mengimplementasikan prinsip prilaku produsen, dalam literatur ekonomi liberal, tujuan produksi adalah untuk Profit Maximilizing dalam hal ini dimaknai secara finansial. Adapun istilah komersialisasi pendidikan mengacu pada dua pengertian yang berbeda, yaitu:

1. Komersialisasi pendidikan yang mengacu lembaga pendidikan dengan program serta perlengkapan mahal. Pada pengertian ini, pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat, sehingga lembaga seperti ini tidak dapat disebut dengan istilah komersialisasi karena mereka memang tidak memperdagangkan pendidikan. Komersialisasi

pendidikan jenis ini tidak akan mengancam idealisme pendidikan nasional atau idealisme Pancasila, akan tetapi perlu dicermati juga, karena dapat menimbulkan pendiskriminasian dalam pendidikan nasional.

13

2. Komersialisasi pendidikan yang mengacu kepada lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang gedung saja, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan. Komersialisasi pendidikan ini biasanya dilakukan oleh lembaga atau sekolah-sekolah yang menjanjikan pelayanan pendidikan tetapi tidak sepadan dengan uang yang mereka pungut dan lebih mementingkan laba.

Itu hal yang lebih berbahaya lagi, komersialisasi jenis kedua ini dapat pula melaksanakan praktik pendidikan untuk maksud memburu gelar akademik tanpa melalui proses serta mutu yang telah ditentukan sehingga dapat membunuh idealisme pendidikan Pancasila. Komersialisasi ini pun telah berdampak pada tingginya biaya pendidikan. Secara gamblang, masyarakat disuguhi sesuatu yang

(seolah-olah) mengamini kondisi tersebut. Contoh sederhana dapat dilihat ketika memasuki tahun ajaran baru. Tak terbayangkan betapa banyaknya orang tua yang mengeluh akibat buku pelajaran yang digunakan tahun ajaran sebelumnya tidak lagi dapat digunakan di tahun ajaran berikutnya. Kondisi ini tentu sangat memberatkan masyarakat yang sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Siswa dipaksa

menggunakan buku pelajaran baru sebagai pengganti buku lama yang konon tidak layak dipakai acuan lagi, dengan harga yang relatif tinggi. Padahal jika dicermati, materi atau pokok bahasan di dalamnya sama persis, tanpa ada ilmu baru yang dicantumkan. Di sisi lain, pengelolaan dunia pendidikan kita juga masih

menggunakan konsep liberal. Artinya, konsep dunia pendidikan ini lebih mengutamakan kompetisi daripada persamaan hak untuk memperoleh pendidikan. Jika tetap mengedepankan pola ini, bagaimana nasib siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu.

14

4.2 Dampak Komersialisasi Pendidikan Rakyat kalangan bawah yang menginnginkan pendidikan, tak mampu untuk me-realkan keinginannya dikarenakan biaya

pendidikan yang mahal. Memperkaya pihak pihak tertentu. Biaya yang dibayar oleh wali murid/wali mahasiswa/i tidak sebanding dengan sarana prasarana yang diterima. Biaya yang dibayar tidak sebanding dengan kualitas lulusan suatu lembaga pendidikan formal informal. Menimbulkan kesenjangan sosial kelompok orang orang kaya dan kelompok orang orang miskin. Komersialisasi Pendidikan tanpa adanya alternatif lain untuk mengimbanginya akan menyebabkan orang berlomba lomba untuk memperoleh pendidikan di Universitas atau Sekolah yang terkenal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ujungujungnya bagi kelompok kaya, ada yang mencari jalan pintas agar dapat gelar S2 dan S3 dari Universitas atau Sekolah begengsi dengan mengucurkan dana yang besar agar mendapatkan kemudahan kemudahan.

15

4.3 Solusi alternatif penanggulangan komersialisasi pendidikan

Munculnya komersialisasi pendidikan adalah sebagai akibat dari pelepasan tanggung jawab pemerintah yang telah mencabut subsidi pembiayaan terutama pada perguruan tinggi dan pemberian hak otonomi serta status BHMN pada perguruan tinggi negeri. Perlu diketahui banyak dari para pe-bisnis menjadikan dunia pendidikan sebagai salah satu tonggak utama usaha mereka dengan membuka yayasan-yayasan pendidikan tentu saja dengan tujuan mendapatkan keuntungan bukan lagi mencerdaskan kehidupan bangsa seperti tertera pada UUD 1945. Prinsip nirlaba mestinya menjadi roh dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Sehingga diharapkan bisa mencegah terjadinya praktek komersialisasi dan kapitalisasi dunia pendidikan. Karena prinsip nirlaba dalam penyelenggaraan pendidikan, menekankan bahwa kegiatan pendidikan tujuan utamanya tidak mencari laba, melainkan sepenuhnya untuk kegiatan meningkatkan kapasitas dan/atau mutu layanan

pendidikan. Dewasa ini seperti yang sudah diketahui dana APBN sebesar 20% tidak dapat mencegah makin maraknya komersialisasi pendidikan di Indonesia, belum lagi pendidikan yang seyogyanya dijadikan jasa yang dapat dinikmati setiap orang seolah-olah menjadi komoditas utama yang dapat bahkan harus dijual dengan harga tinggi.

16

Berikut solusi alternatif penanggulangan komersialisasi pendidikan : Pembentukan lembaga non pemerintah yang diberi kewenangan untuk mengawasi jalannya sistem pendidikan. Alasan mengapa lembaga ini harus bersifat non pemerintah adalah agar dalam pelaksanaannya, lembaga ini tidak terpengaruh dan tidak tertekan oleh pihak manapun. Lembaga ini nantinya diharapkan mampu bersikap mandiri dan independen, sehingga ketika terjadi penyimpangan, mereka berani melaporkan apa yang sebenarnya terjadi tanpa takut akan ancaman apapun dan dari siapapun. Lembaga ini berhak melakukan evaluasi terkait kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, seperti dana BOS dan sekolah dengan status RSBI, agar dapat berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun bersifat non pemerintah, dalam melaksanakan tugasnya, lembaga ini tetap harus berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan untuk mencapai tujuan mulia bersama.

Pemberian beasiswa yang lebih gencar kepada para pelajar yang berprestasi dan tidak mampu dalam hal biaya. Upaya ini sebagai antisipasi agar para pelajar yang berprestasi dan

tidak mampu dapat terus melanjutkan pendidikan tanpa harus terbebani biaya dan termotivasi untuk belajar lebih baik. Meski begitu, dalam distribusinya nanti, perlu ada survey terlebih dahulu terkait kondisi pelajar yang sesungguhnya agar pemberian beasiswa tersebut dapat tepat sasaran dan penggunaan. Selain survey, juga perlu adanya sosialisasi terkait segala bentuk beasiswa, karena kurangnya akses informasi bagi pelajar yang tidak mampu, menjadikan mereka seringkali tidak begitu paham tentang berbagai informasi terkait beasiswa tersebut.

17

Pencanangan program Wajib Belajar 12 Tahun. Pada program ini, nantinya SMA/sederajat memperoleh aliran dana

BOS, sehingga biaya pendidikan dapat ditanggung oleh pemerintah dan tidak begitu memberatkan bagi orangtua/wali murid. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi komersialisasi dan komoditasi pendidikan di jenjang SMA, dan biaya tinggi tak lagi menjadi alasan bagi mereka yang tidak mampu untuk berhenti belajar di sekolah. Pemeriksaan rutin transaksi keuangan di seluruh lembaga pendidikan (tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi), baik negeri maupun swasta, oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah. Dari lembaga pemerintah dapat diwakilkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sedangkan dari lembaga non pemerintah dapat diwakilkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli dengan dunia pendidikan. Solusi ini diambil sebagai langkah antisipasi terjadinya penggunaan dana yang tidak tepat serta penyelewengan dana oleh oknum-oknum tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari proses pendidikan. Penarikan uang untuk biaya sekolah seharusnya disampaikan dengan jelas dan terinci. Biasanya modus penarikan untuk pendidikan yang bermacam macam. Diantaranya pembayaran ekstrakulikuler, dana untuk keselamatan, dana untuk membeli gorden kelas, biaya wisuda, serta biaya untuk membeli LKS dan seragam. Pungutan tersebut semestinya tidak perlu. Mengingat Dinas Pendidikan (Dindik) sudah mempunyai anggaran khusus. Wajib belajar 9 tahun pun telah dibebaskan biaya malalui penyaluran BOS daerah dan BOS nasional.

18

Mengadakan rapat komite sekolah yang terbuka, tidak transparan, dan akuntabilitasnya terjamin Komite sekolah seharusnya terbuka tentang program sekolah.

Untuk merumuskan kebutuhan, sekolah juga bisa melibatkan siswa, karena yang tahun kebutuhannya adalah siswa sendiri. Dalam rapat komite sekolah harus jelas dan transparan sehingga tidak ada wali murid yang keberatan adannya tarikan dana. Penggunaan dana BOS dengan sasaran yang tepat. Adanya dana BOS dari Dinas Pendidikan seharusnya digunakan dengan sebaik baiknya untuk menunjang sarana prasarana lembaga pendidikan. Tak hanya biaya sekolah yang mahal tetapi fasilitas yang didapat tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Biaya yang besar dikeluarkan juga mempengaruhi kualitas dari peserta didik. Semakin mahal sekolah maka semakin baik kualitas pendidikan ditempat tersebut. Apakah hal ini dapat dibenarkan, tentu saja tidak. Hal ini tidak menjamin. Pengawasan ketat dari pihak Diknas Pendidikan terhadap lembaga pendidikan. Pengawasan ini digunakan untuk mencapai penggagalan komite sekolah yang nakal. Penggunaan uang penarikan dari siswa digunakan tidak semestinya. Yang mengakibatkan tindak korupsi. Sudah banyak orang yang terlibat dalam lembaga pendidikan yang terjerat tindak korupsi. Ini yang menyebabkan adanya rapat komite yang tertutup. Pengaliran dana tidak jelas.

19

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Komersialisasi pendidikan mengacu pada dua hal yaitu komersialisasi dalam arti : 1. Komersialisasi pendidikan yang mengacu lembaga pendidikan dengan program serta perlengkapan mahal. 2. Komersialisasi pendidikan yang mengacu kepada lembaga

pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang gedung saja, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan

Dari

kedua

acuan

diatas,

komersilisasi

dianggap

sangat

menguntungkan pihak pihak tertentu saja. Tidak memikirkan kerugian yang akan dialami pihak terkait. Ilmu dan pendidikan menjadi barang komoditi yang bisa

diperjualbelikan, sedangkan manusia diposisikan sebagai konsumen.

20

5.2 Saran Perlu adanya badan pengawas intensif yang benar benar mengawasi jalannya dana untuk lembaga pendidikan. Tentu diikuti oleh anggota badan pengawas sendiri yang tidak nakal. Yang akan mengakibatkan kerugian Negara. Dan jika mengimpikan sebuah proses pendidikan yang murah didalam kondisi saat ini. Maka salah satu jalan adalah dengan membuat sebuah model pendidikan baru, yaitu model pendidikan alternatif. Model pendidikan yang berpihak kepada kaum menengah kebawah. Model pendidikan yang bertujuan untuk membebaskan dari segala bentuk ketertindasan. Impian hanya menjadi khayalan jika kita berharap bisa mengubah system pendidikan formal sekarang ini, tanpa membentuk sebuah sistem pendidikan alternatif sebagai bentuk perlawanan.

21