Anda di halaman 1dari 11

PATOLOGI BIROKRASI

Apa itu patologi birokrasi? - Istilah Patologi diadopsi dari ilmu kedokteran, yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan penyakit dan seluk beluknya. - Patologi birokrasi (bureopathology) berarti himpunan atas ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam jalannya sistem dan mekanisme birokrasi - Victor A Thompson menggambarkan fitur patologi birokrasi (bureopathology) sebagai sebuah sikap menyisih berlebihan, pemasangan taat pada aturan atau rutinitas-rutinitas dan prosedur-prosedur, perlawanan terhadap perubahan, dan desakan picik atas hak-hak dari otoritas dan status - Patologi birokrasi kerap kali muncul di negara-negara berkembang Karakter Birokrasi di negara-negara berkembang a. administrasi publiknya bersifat elitis, otoriter, menjauh atau jauh dari masyarakat dan lingkungannya serta paternalistik. b. birokrasinya kekurangan sumber daya manusia (dalam hal kualitas) untuk menyelenggarakan pembangunan dan over dalam segi kuantitas c. birokrasi di negara berkembang lebih berorientasi kepada kemanfaatan pribadi ketimbang kepentingan masyarakat d. ditandai adanya formalisme. Yakni, gejala yang lebih berpegang kepada wujud-wujud dan ekspresi-ekspresi formal dibanding yang sesungguhnya terjadi e. birokrasi di negara berkembang acapkali bersifat otonom. Artinya lepas dari proses politik dan pengawasan publik. Administrasi publik di negara berkembang umumnya belum terbiasa bekerja dalam lingkungan publik yang demokratis. Sebab Patologi Birokrasi - Secara umum terdapat dua penyebab: a. Faktor internal dalam birokrasi b. Faktor eksternal yang berpengaruh - Faktor eksternal 1. Bureocratic Patrimonial Andrew Mc Intyre : elit memberi hadiah kepada bawahan untuk melanggengkan kekuasaannya. Gagasan ini diibaratkan sebagai sebuah piramida yang mengandung unsur patronclient. 2. Politisasi birokrasi Birokrat larut dengan kepentingan-kepentingan politik dan rezim yang berkuasa. Contohnya ialah birokrasi pada masa Orde Baru. - Faktor internal 1. Kesalahan dalam sistem rekrutmen Terdapat kecurangan dalam sistem rekrutmen (hubungan kekeluargaan, nepotisme dsb) 2. Lemahnya pengawasan

3. Faktor uang (Hasrat kepentingan pribadi vs kepentingan rakyat) Setiap satuan di dalam birokrasi public harus mampu menghayati bahwa mofunction ( Bentuk-bentuk Patologi - Sondang P Siagian (1988) membagi patologi birokrasi menjadi 11 penyakit, antara lain: Penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab Pengaburan masalah Indikasi korupsi, kolusi dan nepotisme Indikasi mempertahankan status quo Empire bulding (membina kerajaan) Ketakutan pada perubahan, inovasi dan resiko Ketidakpedulian pada kritik dan saran Takut mengambil keputusan Kurangnya kreativitas dan eksperimentasi Kredibilitas yang rendah, kurang visi yang imajinatif, Minimnya pengetahuan dan keterampilan, dll Bentuk Patologi lain: - Red Tapeprosedur memutar dan panjang berbelit-belit. - KKN yang tersistem rapi dan berulang-ulang - Abuse of Power Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely ( Lord Acton) - Wrong StaffingPenempatan kerja yang tidak sesuai dengan kompetensinya dapat menimbulkan masalah pada manajemen kantor serta dapat mengakibatkan kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi overleaping tugas pokok dan fungsi Terjadi penumpukan dan penggandaan kerja dalam lingkup yang sudah ditetapkan. Kemudian ditambah dengan adanya beban kerja yang tidak dibagi habis ke seluruh staf, sehingga ada staff yang tidak memiliki tugas atau job desk yang jelas. pengelolaan anggaran hanya bersifat sebagai catatan administrasi saja, jadi sering tidak sesuai operasional - Contoh kasus:Potret Buram Penerimaan CPNS - Pola rekrutmen CPNS dipenuhi dengan tindakan KKN - Birokrasi terlibat dalam jual beli kursi, main mata harga jabatan, dan penyelewengan kekuasaan - KKN tidak dilakukan secara terbuka, namun dilakukan dengan mekanisme tertutup (reureunceupan) dengan mekanisme sama-sama mengerti. - Akibatnya birokrasi lemah dari segi kualitas intelektual dan mentalitas. - Alih-alih menjadi abdi masyarakat yang melayani publik dengan baik, yang terjadi sebaliknya birokrasi menjadi pemeras hak-hak publik Sebagai renungan 1. identifikasi kebutuhan PNS berdasarkan keahlian dan keterampilan dan kualifikasi perekrrutan yang sesuai dengan formasi dan kualitas. 2. jadikanlah penerimaan CPNS yang akan datang sebagai bagian dari reformasi

birokrasi, atau revolusi budaya kerja birokrasi. 3. mau tidak mau seleksi penerimaan CPNS baru, perlu memperhatikan aspek kompetensi nyata, baik untuk kepentingan bangsa Indonesia hari ini, maupun kebutuhan bangsa Indonesia di masa yang akan datang

BIROKRASI DAN POLITIK


BIROKRASI DAN LINGKUNGAN POLITIK - Lingkungan politik acap kali menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi perilaku birokrasi (Andrew Macintyre, 1990). - Dalam lingkungan politik, relasi negara dan masyarakat serta tipologi rezim mempunyai kontribusi terhadap posisi birokrasi. - Untuk konteks negara dunia III, situasi masyarakat yang bersifat prismatik juga punya kontribusi yang signifikan terhadap posisi dan perilaku politik. TIPOLOGI REZIM DAN KARAKTER BIROKRASI - Secara gineologis, ada beberapa konsep yang dapat digunakan untuk memetakan tipologi rezim politik dengan birokrasi, antara lain: 1. Bureaucratic Polity dan Patrimonial Cluster. 2. Bureaucratic Pluralism. 3. Bureaucratic-Authoritarianism. BUREAUCRATIC POLITY DAN PATRIMONIAL CLUSTER - Secara umum, kajian tentang bureaucratic polity mempunyai relasi signifikan dengan konsep patrimonialisme (Roth, 1968 dan Eisenstadt, 1973). - Birokrasi yang menyelenggarakan negara bekerja berdasarkan model patrimonial yang berbasiskan pada konsepsi tradisional. - Relasi internal birokrasi sering kali didasarkan pada pola patron-client. BUREAUCRATIC POLITY DAN PATRIMONIAL CLUSTER - Proses pengambilan kebijakan dalam birokrasi lebih mencerminkan perebutan sumber daya yang didasarkan pada klik internal yang asimetris. - Kebijakan yang diambil bukan hasil dari sebuah tarik-menarik isu yang substantif. - Elit birokrasi terlihat tidak dibatasi oleh kepentingan masyarakat dalam menentukan kebijakan. - Refleksi dari konsep ini, terpetakan melalui perilaku birokrasi dalam Orde Baru dimana proses pengambilan kebijakan hanya melibatkan para birokrat senior baik di wilayah sipil dan militer (Karl D. Jackson, 1986) BUREAUCRATIC PLURALISM - Konsep ini merupakan respons terhadap konsepsi bureaucratic polity. - Proses pengambilan keputusan dalam birokrasi tidak hanya mencerminkan perebutan sumber daya, namun juga mengakomodasi perdebatan substansial berkaitan dengan isu-

isu yang substansif. - Proses pembuatan kebijakan dalam birokrasi masih mengakomodasi kepentingan kelompok di luar birokrasi (Donald Emmerson, 1983). BUREAUCRATIC-AUTHORITARIAN - Konsepsi bureaucratic-authoritarianism, secara ginealogis, dibangun atas dasar pengalaman Amerika Latin. - Bureaucratic-authoritarianism merupakan sebuah tipologi rezim yang berusaha untuk mengontrol partisipasi masyarakat melalui instrumen korporatisme. - Secara umum, bureaucratic-authoritarianism dicirikan oleh adanya komitmen terhadap perbaikan ekonomi dan pembangunan, dimana, birokrasi harus mempunyai peran yang bersifat teknokratis. TYPOLOGI OF APPOINTMENT STRATEGIES 1. Civil Service Reform: Birokrasi puncak dilakukan oleh orang-orang yang direkrut langsung politisi dengan berbasiskan kepada kompetensi dan loyalitas. Rekrutmen yang bersifat meritokrasi dengan pengaturan yang sentralistis dan promosi yang didasarkan pada performance birokrasi. Rekrutmen partisan dikendalikan langsung oleh politisi dan para pembantu terdekatnya. 2. Compartmentalization: Birokrasi puncak dilakukan oleh orang-orang yang direkrut langsung politisi dengan berbasiskan kepada kompetensi dan loyalitas. Rekrutment bersifat informal meritokrasi dengan promosi yang berbasiskan pada performance agency dari birokrasi. Rekrutmen partisan melalui saluran patronase yang dikontrol oleh politisi dan para pembantunya. 3. Partisan: Birokrasi puncak dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari partai politik dan koalisinya. Rekrutmen yang bersifat informal meritokrasi dengan kandidat berasal dari partai politik dan koalisinya. Rekrutmen partisan juga langsung di bawah kendali partai politik dan koalisinya. 4. Immediate survival: Birokrasi puncak dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai kompetensi. Rekrutmen di berbagai level pembuatan keputusan dikontrol oleh para pelamar. Rekrutmen partisan dikontrol oleh para pendukung politisi.

KONSEPSI DASAR BIROKRASI


POSTULAT GAETANO MOSCA - Postulat Gaetano Mosca tentang birokrasi berbasiskan pada teori elit yang dirumuskannya. - Dalam bukunya Sulla Teorica, Mosca menyatakan bahwa masyarakat terbagi menjadi dua kelas, yaitu: 1. Kelas yang berkuasa (the ruling class). 2. Kelas yang diperintah (the ruled class). - Pada The Ruling Class, Mosca membagi pemerintah menjadi: 1. Pemerintahan feodalstruktur sederhana, menjalankan wewenang secara langsung dan tidak ada pembagian kerja. Contoh: Manorial System. 2. Pemerintahan birokratisada pembagian kerja dan kewenangan, elit yang memerintah digaji. POSTULAT ROBERT MICHELS - Postulat Michels tentang birokrasi merupakan hasil pengembangan dari postulat Mosca. - Dalam bukunya Political Parties, Michels menyatakan bahwa birokrasi merupakan kebutuhan bagi negara modern. - Pada birokrasi, kelas-kelas yang secara politik dominan akan menjaga kedudukan mereka. Adapun kelas menengah yang tidak terjamin akan mencari jaminan dalam pekerjaan. - Evolusi kekuasaan birokrasi: 1. Sebuah badan atau organisasi yang mengurus ribuan kepentingan merasa perlu untuk merekrut tenaga-tenaga profesial. 2. Tenaga profesional dipekerjakan secara full time dan memperoleh pendapatan melalui sistem penggajian. 3. Para tenaga profesional tersebut mempunyai kompetensi khusus dan membangun budaya yang spesifik, sehingga kepentingan mereka acap kali terlepas dari kepentingan masyarakatnya. 4. Para tenaga profesional cenderung saling melindungi dari potensi destruktif dari luar komunitas mereka. POSTULAT HEGEL - Negara merupakan sarana untuk kepentingan umum dimana didefinisikan sebagai suatu kepentingan yang berbeda dari kepentingan yang terpisah dan bersifat khusus dari para anggota masyarakat. - Tugas eksekutif adalah menjalankan keputusan tentang hakikat kepentingan umum tersebut. - Tugas untuk menjalankan kepentingan umum tersebut dipikul oleh birokrasi yang terdiri dari panitia penasehat kolegial, para pejabat negara yang bekerja dengan prinsip

pembagian kerja dan prinsip hierarkis dalam sejumlah organisasi pemerintahan, seperti departemen-departeman. POSTULAT KARL MARX Kelas sosial, oleh Lenin, didefinisikan sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. - Adapun Marx, mengidentifikasikan kelas sosial sebagai: - Gejala khas masyarakat pasca feodal. - Kelas, secara epistemik, bisa diterima jika bukan hanya secara obyektif merupakan golongan sosial dengan kepentingan tersendiri, melainkan juga secara subyektif menyadari diri sebagai kelas, sebagai golongan khusus dalam masyarakat yang mempunyai kepentingan-kepentingan spesifik serta mau memperjuangkannya. Pada dasarnya, Karl Marx membagi kelas dalam tiga kategori, yaitu: - Kaum buruhmereka yang hidup dari upah. - Kaum pemilik modalmereka yang hidup dari laba. - Kaum pemilik tanahmereka yang hidup dari rente tanah. - Setiap kelas bertindak sesuai dengan kepentingannya dan kepentingannya ditentukan oleh situasi yang obyektif. - Pengaruh struktural mempunyai peran sentral dibandingkan segi kesadaran dan moralitas dari manusia. - Kepentingan borjuis dan proletar senantiasa bertentangan, sehingga mereka akan mengambil sikap dasar yang berbeda terhadap perubahan sosial. Borjuis cenderung konservatif, sedangkan proletar cenderung revolusioner. - Dialektika kelas menentukan kemajuan dalam susunan masyarakat. Kemajuan masyarakat, oleh kelas proletar, hanya dapat dicapai melalui revolusi. - Birokrasi muncul untuk mengadvokasi kepentingan kelas borjuis, sebab negara hanya merupakan instrumen dari para borjuis untuk melakukan eksploitasi pada kelas proletar. POSTULAT WEBER - Birokrasi merupakan suatu mekanisme sosial yang memaksimalkan efisiensi dan juga sebagai suatu bentuk organisasi sosial yang memiliki ciri-ciri yang khas. - Kedua kriteria ini bukan merupakan bagian dari sebuah definisi, sehingga birokrasi weberian sering disebut sebagai organisasi yang memaksimalkan efisiensi dan administrasi. DASAR POSTULAT WEBER - Adanya keyakinan tentang legitimasi sebagai dasar dari otoritas yang sah, sehingga: 1. Peraturan yang sah menuntut kepatuhan dari para anggotanya. 2. Hukum merupakan rujukan untuk kasus yang spesifik, sedangkan administrasi merupakan instrumen untuk menajalankan organisasi dalam batas-batas hukum. 3. Manusia yang menjalankan otoritas juga mematuhi tatanan impersonal tersebut. 4. Hanya anggota yang taat yang mematuhi hukum. 5. Kepatuhan tidak ditujukan pada individu yang memegang otoritas, melainkan kepada

tatanan impersonal. DASAR POSTULAT WEBER - Berdasarkan postulat tersebut, birokrasi sebagai otoritas legal mempunyai sifat: 1. Adanya aturan yang berkesinambungan. 2. Adanya pembagian tugas 3. Adanya hierarki. 4. Adanya aturan yang bersifat teknis dan legal (legal rational). 5. Adanya karakter impersonal, sehingga anggotanya tidak bertindak atas nama individu. 6. Pemegang jabatan tidak sama dengan jabatannya. 7. Adanya administrasi yang didasarkan pada sumber dokumen tertulis. 8. Sistem otoritas legal bisa mengambil bentuk yang variatif, namun tetap berada dalam lingkup administrasi birokrasi.

BIROKRASI PERWAKILAN
KONSEPSI DASAR - Dalam ranah konseptual, birokrasi perwakilan acap kali diasumsikan berkarakter pasif. - Sifat pasif dari perwakilan dimaknai sebagai kondisi dimana birokrasi dalam pemerintahan mewakili konfigurasi sosial yang ada dalam ranah masyarakat. - Studi tentang birokrasi perwakilan pertama kali dilakukan oleh Mosher dengan memfokuskan diri pada pelayanan pendidikan etnis African-American dan Hispanic. - Temuan dari studi Mosher memperlihatkan bahwa mayoritas dari etnis ini tidak memperoleh layanan pendidikan yang memadai manakala layanan pendidikan dilakukan oleh etnis di luarnya. - Padahal etnis African-American dan Hispanic juga merupakan pembayar pajak serta mempunyai komposisi jumlah yang relatif besar. - Akhirnya, sebagai respons dari temuan studi tersebut, ditawarkan sebuah konsep birokrasi perwakilan. Orientasi dasar dalam mengoperasionalkan konsepsi birokrasi perwakilan: 1. Untuk menjawab problema pelayanan di tingkatan street level bureaucracy. 2. Untuk meretas konflik sosial di tingkatan masyarakat baik yang berbasiskan pada etnis, agama maupun pengelompokan gender. 3. Untuk merepresentasikan afirmative policy dalam merespons social instability. Konsepsi representasi aktif - birokrasi tidak harus mewakili konfigurasi sosial dalam masyarakatnya, namun harus mempunyai empati dan psicological engaggement dengan kelompok masyarakat yang dilayaninya. - Argumentasi: 1. Birokrasi harus profesional dalam menjalankan tugas pokoknyapublic service,

regulator, empowerment. 2. Birokrasi bekerja berdasarkan kompetensi dan tidak berdasarkan pada logika perwakilan. 3. Birokrasi terlibat dalam policy implementation yang jauh dari logika perwakilanwhen politics ends, administration begin. Posted by IQBAL BASYARI at 18:57 0 comments Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Labels: BIROKRASI

KEKUASAAN BIROKRASI: SEBUAH DILEMA BAGI DEMOKRASI


THESIS I: BIROKRASI SEBAGAI DILEMA BAGI DEMOKRASI - Birokrasi merupakan sebuah ancaman bagi demokrasi, sebab, birokrasi dapat bertindak sebagai alat untuk perluasan dominasi negara dan represi negara. - Peningkatan kapasitas birokrasi dan monopoli informasi dapat menembus domain individu yang akan memberikan otonomi dan kebebasan lebih luas kepada birokrasi. - Kekuatan monopoli birokrasi dalam hal keahlian dan informasi dapat membebaskan mereka dari kontrol politisi dan melindungi lingkup penugasan birokrasi. THESIS II: DEMOKRASI SEBAGAI DILEMA BAGI BIROKRASI - Beberapa dilema bagi penugasan birokrasi: 1. Birokrasi diharapkan dapat dikontrol politisi, tapi juga diminta bebas dari intervensi. 2. Birokrasi diharapkan menjadi subyek dari pertanggungjawaban kementerian, tapi juga diminta untuk bertanggungjawab pada tindakan yang mereka ambil. 3. Birokrasi diharapkan menjadi pelaksana kebijakan yang diambil para politisi, tapi juga diminta untuk terlibat dalam formulasi kebijakan. 4. Birokrasi diharapkan terlibat dalam formulasi kebijakan, tapi juga diminta untuk netral secara politik. THESIS II: DEMOKRASI SEBAGAI DILEMA BAGI BIROKRASI - Eva Etziony-Halevy menyatakan: - Bureaucracy is expected to be politicized and non-politicized at one and the same time. THESIS III: DILEMA BIROKRASI DAN PERSELISIHAN POLITIK - Kontradiksi dan ambigunitas dari peran birokrasi, dalam banyak hal, menyebabkan perselisihan politik antara birokrat senior dengan politisi senior. - Perselisihan dan konflik politik, acap kali, juga disebabkan oleh peran birokrasi yang tidak pernah didefinisikan secara jelas, baik dalam ranah politik maupun dalam ranah non politik. KONTEKS KETERLIBATAN POLITIK 1. Birokrasi sebagai sumber keuntungan tertentu. - Birokrasi acap kali dijadikan sebagai mesin politik dalam sejumlah kampanye politik. - Birokrasi digunakan untuk menjembatani proses artikulasi kepentingan. - Birokrasi merupakan instrumen untuk menjawab janji politik.

2. Birokrasi sebagai sumber patronase dan keuntungan politik dalam menginisiasi keijakan. - Dalam proses pembuatan kebijakan, birokrasi sering dijadikan sebagai instrumen untuk melakukan tukar-menukar keuntungan politik. - Bentuk tukar-menukar keuntungan dapat berupa konsesi kebijakan, janji kebijakan dan konsesi proyek dalam implementasi kebijakan. 3. Birokrasi sebagai sumber loyalitas politik. - Dalam berbagai proses politik, politisi relatif menggunakan janji politik untuk membangun loyalitas dan komitmen dengan birokrasi. - Namun demikian, pada saat yang bersamaan, birokrasi sering digunakan sebagai instrumen untuk mendistribusikan sejumlah political rewards kepada para pendukung politisi. 4. Birokrasi sebagai instrumen untuk membangun kebijakan yang efektif. - Sebuah dukungan politik memerlukan proses kebijakan yang efektif, sehingga keberlanjutan dukungan politik sangat bergantung: Pembuatan kebijakan ekonomi yang kompeten. Kemajuan dalam penyediaan barang publik. Penarikan pajak yang adil dan efektif. Alokasi yang rasional terhadap sektor privat. Posted by IQBAL BASYARI at 18:56 0 comments Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Labels: BIROKRASI

STREET-LEVEL BUREAUCRACY
DEFINISI UMUM - Birokrat street-level adalah para pegawai pelayanan publik yang terlibat secara langsung dengan warga negara dalam pekerjaannya dan memiliki keleluasaan secara substansial untuk mengeksekusi kebijakan (Lipsky, 1980). - Birokrasi street level merupakan lembaga penyelenggara pelayanan publik yang mempekerjakan birokrat dalam jumlah yang signifikan dalam kerangka pelaksanaan tugasnya (Lipsky, 1980). - Contoh birokrat street level adalah guru, polisi, pekerja jawatan sosial, hakim, pekerja medis dan paramedis. DILEMA STREET-LEVEL BUREAUCRACY 1. Konflik yang terkait dengan jangkauan dan substansi dari pelayanan publik: - Street level bureaucracy memunculkan peningkatan personel dalam penyelenggaraan pelayanan publik dan perluasan pelayanan publik. - Dalam ranah fiskal, peningkatan jumlah personel dan perluasan pelayanan publik mempunyai fungsi positif pada peningkatan kapasitas fiskal. - Peningkatan jumlah personel dan perluasan pelayanan publik, jika tidak diikuti dengan peningkatan kapasitas fiskal akan memunculkan krisis fiskal, sehingga mengganggu keberlanjutan pelayanan publik.

2. Konflik yang terkait dengan interaksi antar warga negara: - Keputusan street level bureaucracy mempunyai implikasi langsung dan krusial pada warga negara. - Setiap keputusan yang diambil oleh street level bureaucracy bisa direspons secara positif maupun negatif oleh warga negara. - Street level bureaucracy mempunyai peran dalam melakukan kontrol sosial terhadap masyarakat yang melingkupinya. KARAKTER DASAR STREET LEVEL BUREAUCRACY SEBAGAI EKSEKUSI KEBIJAKAN - Secara umum, dalam melakukan eksekusi kebijakan, street level bureaucrcy mempunyai dua karakter dasar, yaitu: keleluasaan yang tinggi dan relatif otonom dari otoritas organisasi. - Keleluasaan yang tinggimempunyai keleluasaan untuk menentukan konteks serta kualitas keuntungan dan sanksi yang diselenggarakan oleh lembaga dimana mereka bekerja. Contoh: tindakan polisi dan para hakim untuk menentukan sanksi pidana. - Relatif otonom dari otoritas organisasidalam menjalankan tugasnya street level bureaucracy cenderung mempunyai otonomi untuk membuat tafsiran dalam melakukan eksekusi kebijakan. Contoh: tawar-menawar kepentingan dalam pengambilan keputusan para hakim. Posted by IQBAL BASYARI at 18:56 0 comments Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Labels: BIROKRASI

AKUNTABILITAS DAN NETRALITAS PENYELENGARAAN PEMERINTAHAN


AKUNTABILITAS Akuntabilitas, acap kali, diartikan sebagai: Kewajiban para pemegang mandat (pejabat publik) untuk mempertanggungjawabkan segala aktivitasnya yang mengatasnamakan publik. TIGA ELEMEN DASAR AKUNTABILITAS 1. Elemen right of authority; bahwa akuntabilitas merupakan respon terhadap otoritas yang diberikan. Sehingga pihak yang berkewajiban melakukan akuntabilitas adalah mereka yang memang diberi otoritas. 2. Elemen answerability: bahwa karena kewenangan yang melekat pada dirinya tersebut maka sudah menjadi kewajiban orang yang diberi kewenangan tsb untuk menginformasikan & menjelaskan apa yang mereka lakukan kepada instansi terkait dan publik. 3. Elemen enforcement; bahwa dalam akuntabilitas ada kapasitas untuk menjatuhkan sanksi dan memberikan reward kepada para pemegang otoritas tsb. Dengan demikian ada unsur pihak eksternal dalam elemen ini. Pihak eksternal tsb merupakan pihak yang memberikan penilaian.

PROBLEMA AKUNTABILTAS DAN NETRALITAS BIROKRASI Karakter patrimonial society yang tidak mempunyai kapasitas untuk melakukan kontrol dan mengawal mandat dari birokrasi (Roth, 1968 dan Eisenstadt, 1973). Karakter birokrasi patrimonial: 1. Dominan. 2. Otonom. 3. Parkinsonism. 4. Inkompeten. 5. Elitis. KARAKTER DOMINAN BIROKRASI Dominan dan Otonombirokrasi cenderung bekerja untuk kepentingannya sendiri dan terpisah dari masyarakatnya (Hamza Alavi dan Robert Michel). Parkinsonismwilayah kerja birokrasi semakin luas dan membesar namun tidak terkontrol.Inkompetenukuran dasar yang dijadikan rujukan suatu penugasan tidak berdasarkan pada kompetensi dan cenderung mempergunakan relasi dasar patrimonial yang berbasiskan pada pola hubungan patron-client. Elitisbirokrasi berubah menjadi bagian dari elit tertentu (Gaetano Moscha). PROBLEMA AKUNTABILTAS DAN NETRALITAS BIROKRASI Implikasi dari kondisi di atas, memunculkan: 1. Netralitas kurang bisa dijaminbirokrasi sering dijadikan sebagai instrumen politik dan instrumen ekonomi. 2. Kontrol birokrasi tidak dapat maksimal baik yang bersifat formal maupun informal. 3. Patologi birokrasi relatif akutpenyalahgunaan kewenangan. 4. Di level masyarakat, kepercayaan terhadap birokrasi menjadi menurun.