Anda di halaman 1dari 3

Kedudukan Adab dalam Islam

Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan Al-Akhlaq Al-Karimah. Dalam Islam, masalah adab dan akhlak mendapat perhatian serius yang tidak didapatkan pada tatanan manapun. Hal ini dikarenakan syariat Islam adalah kumpulan dari aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan. Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara tersebut, misalnya akhlak, maka akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya.

Pembagian Adab
Pembahasan adab sangat luas cakupannya. Tidak terbatas pada masalah adab terhadap manusia saja. Bahkan pembahasan adab mencakup: 1. Adab terhadap Allah Subhanahu wa Taala.

Yakni dengan seseorang memercayai berita-Nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta bersabar atas takdir-Nya. Di dalam dirinya tertanam sikap cinta, berharap, dan takut hanya kepada-Nya. Segala ucapan dan perbuatannya mencerminkan pengagungan dan penghormatan kepada-Nya. Namun adab terhadap Allah Subhanahu wa Taala tidak terealisasi dengan baik kecuali dengan mengenal nama-nama Allah Subhanahu wa Taala dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Demikian pula dengan mengenal syariat-Nya, hal-hal yang dicintai Allah Subhanahu wa Taala dan yang dibenci-Nya, serta (yang tak kalah penting) adanya kesiapan jiwa untuk menerima kebenaran secara total. Ini adalah pokok dari adab. Manakala hal ini tidak ada pada diri seseorang maka tidak ada kebaikan pada dirinya. 2. Adab terhadap Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Yaitu dengan berserah diri terhadap keputusannya, tunduk kepada perintahnya, dan memercayai beritanya tanpa mempertentangkannya dengan apapun, baik pendapatpendapat manusia, keragu-raguan, kias (analogi) yang batil, atau dengan menyimpangkan ucapannya dari maksud yang sesungguhnya. Termasuk adab terhadap beliau Shallallahu alaihi wa sallam adalah tidak mendahului keputusannya dan tidak mengangkat suara di sisinya lebih dari suaranya. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedang kamu tidak menyadari. (Al-Hujurat: 2) Jika mengangkat suara lebih dari suara Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bisa menjadikan 3. batal amal kebaikan seseorang, terhadap bagaimana kiranya orang yang lain. menentang sabdanya dengan akal semata atau pendapat-pendapat manusia?! Adab orang Yaitu bermuamalah (bergaul) bersama manusia dengan perbedaan status mereka sesuai kedudukannya. Terhadap orangtua, ada adab yang khusus baginya. Bersama orang alim dan penguasa, ada adab yang patut untuk mereka. Dengan tamu, ada adab yang tidak sama dengan keluarga sendiri. Demikian seterusnya. 4. Misalnya Adab adab yang ketika safar, umum bermajelis, sesuai makan dan keadaan. minum.

Walhasil, beradabnya seorang pertanda kebahagiaan dan kesuksesannya. Lihatlah, bagaimana seseorang dilepaskan dari marabahaya karena baik adabnya terhadap orangtua, setelah sebelumnya terkurung dalam goa yang tertutup pintunya oleh batu besar. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 5974) Namun sebaliknya, seorang ahli ibadah dari bani Israil yang bernama Juraij tatkala kurang adabnya terhadap ibunya, dia mendapat doa kejelekan dari ibunya. Juraij mendapat musibah dengan dituduh berbuat zina sehingga dia ditangkap dan diarak dengan tangan terikat. Bahkan tempat ibadahnya pun dihancurkan. (lihat pembagian adab dan penjelasannya dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim rahimahullahu, 2/375-392 cet. Maktabah As-Sunnah)

Ciri dan Keistimewaan Adab Islami daripada Adab-adab selainnya


Adab-adab Islamiah memiliki keistimewaan besar di antaranya: 1. Bersifat menyeluruh, di mana syariat Islam telah mengatur segala sisi kehidupan muslimin dari yang terkecil hingga yang terbesar. Baik sebagai pribadi, di dalam keluarga, ataupun di tengah masyarakat. Sebagaimana kewajiban untuk berhias diri dengan adab Islam meliputi seluruh muslimin baik tua atau muda, laki-laki maupun perempuan. 2. Kokoh bersamaan dengan kokohnya nilai-nilai Islam.

Misalnya mengucapkan salam, berjabat tangan, jujur dan yang lainnya, termasuk adab-adab Islam yang tidak berubah dengan pergeseran waktu dan tempat.

3. Peduli terhadap orang lain. Adab-adab Islam mendidik seorang muslim untuk memiliki kepekaan dan perhatian terhadap masyarakat sekitarnya dan manusia secara umum. Di dalam pergaulan seseorang dilarang untuk bersikap egois dan acuh tak acuh. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Bukan seorang mukmin yang dia kenyang sementara tetangganya kelaparan. (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 82) Tidak cukup seseorang hanya menahan dirinya dari mengganggu orang, sampai ia berbuat baik kepada orang lain. Bahkan berbuat baik kepada yang berbuat jelek kepada kita. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan) denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jelek kepadamu, dan ucapkanlah yang haq (benar) walau mengenai dirimu. (HR. Ibnu An-Najjar, dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami no. 3769) 4. Adab-adab Islam dijalankan dengan sepenuh ketaatan. Seorang muslim berpegang dengannya semata-mata ingin mencari ridha Allah Subhanahu wa Taala dan dalam rangka menyambut perintah-Nya. Bukan karena peraturan manusia atau undang-undang yang dibuat oleh mereka yang menyelisihi Al-Qur`an dan hadits. AllahSubhanahu wa Taala berfirman menjelaskan tentang orang-orang yang baik: Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (Al-Insan: 8-9) Wallahu alam bish-shawab.