Pedoman rujukan kasus kekerasan terhadap Anak

BAGI PETUGAS KESEHATAN

H US

A

K

TI

DA

BA

Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak, agar setiap anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan.
Pasal 44, UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan

05

KATA PENGANTAR SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BINA KESEHATAN MASYARAKAT SAMBUTAN DIREKTUR JENDRAL UNICEF BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pengertian Analisa Situasi

08

10 12 15 15 18 21 25 31 31 31 31 33 33 33 35

BAB 2 DASAR HUKUM BAB 3 TUJUAN DAN SASARAN
Tim Penyusun Lorem Ipsum, Dolor sit amet ; Lorem Ipsum, Dolor sit amet ; Lorem Ipsum, Dolor sit amet ; Lorem Ipsum, Dolor sit amet ; Lorem Ipsum, Dolor sit amet ; Lorem Ipsum, Dolor sit amet ; Fresh and Creative Design Gambar anak - anak diambil dari Hasil Konsultasi Anak Nasional tentang Kekerasan terhadap Anak 2005.

Tujuan Tujuan Umum Tujuan Khusus Sasaran Sasaran Langsung Sasaran Tidak Langsung

BAB 4 FAKTOR RISIKO DAN DAMPAK KEKERASAN TERHADAP ANAK

BAB 5 SISTEM DAN ALUR RUJUKAN KASUS KEKERASAN TERHADAP ANAK Bagan 1 Alur penanganan dan rujukan kasus kekerasan terhadap Anak di Puskesmas

41 44

Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan

07

Bagan 2 Alur penanganan dan rujukan kasus Kekerasan terhadap Anak di Rumah Sakit yang memiliki Pusat Krisis Terpadu (PKT) / Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Bagan 3 Alur penanganan dan rujukan kasus Kekerasan terhadap Anak di Rumah Sakit yang belum memiliki PKT / PPT Bagan 4 Alur penanganan dan rujukan kasus Kekerasan terhadap Anak di Rumah Sakit Bhayangkara

48

50

52

BAB 6 SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN Format 1 Format Pencatatan KTA untuk Puskesmas atau Rumah Sakit Format 2 Format Pencatatan KTA untuk Kabupaten / Kota Format 3 Format Pencatatan KTA untuk Propinsi Bagan Alur Pelaporan

55 56 58 60 62 65 67 69

BAB 7 PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Akhir-akhir ini kasus kekerasan terhadap anak di masyarakat cenderung meningkat. pemerintah telah berupaya mengatasi masalah tersebut dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.08 Kata Pengantar Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 09 K TI H US Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat NY A sehingga buku “Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan” dapat tersusun dengan baik. Buku pedoman ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi petugas kesehatan dalam menerima dan merujuk kasus kekerasan terhadap anak sesuai kondisi di lapangan. namun dalam penerapannya masih belum optimal. Dalam penanganan kekerasan terhadap anak diperlukan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan tentang penatalaksanaan korban dari aspek medis/mediko -Iegal maupun psikososial. April 2007 Direktur Bina Kesehatan Anak Dr. Saat ini. holistik dan terpadu oleh berbagai sektor terkait baik pemerintah. Kasus tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan keluarga. Rachmi Untoro. AD A BA Jakarta. LSM maupun swasta dan masyarakat. Masalah kekerasan pada anak merupakan masalah yang kompleks sehingga memerlukan penanganan secara komprehensif. Hal tersebut terlihat dari pemberitaan melalui media massa dan data yang ada di pusat-pusat pelayanan. MPH . tetapi juga di sekolah dan masyarakat dengan pelaku adalah orang-orang yang seharusnya memberikan perlindungan bagi anak. Masukan dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan buku Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak terkait yang telah berpartisipasi dalam penyusunan buku ini dan kepada Perwakilan UNICEF di Indonesia atas dukungan dan kerjasamanya.

Tak dapat dipungkiri bahwa kondisi anak saat ini akan menentukan masa depan bangsa dikemudian hari. Terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut akan berdampak positif terhadap kualitas hidup anak. April 2007 Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat AD A BA Dr. Hal ini dimungkinkan oleh karena terkait dengan faktor budaya. Anak (0 – 18 tahun) berada dalam proses tumbuh kembang. dan merujuk kasus kekerasan tersebut. Suparmanto. Angka kejadian kekerasan terhadap anak di masyarakat bervariasi dan cenderung meningkat. saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah menyumbangkan pemikirannya dalam menyusun buku Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan. dan menjadi aset yang berharga bagi suatu bangsa. tekanan ekonomi dalam keluarga serta masalah kemiskinan masyarakat pada umumnya. menyediakan sarana dan pra sarana maupun membangun jaringan kerja yang melibatkan semua unsur terkait termasuk LSM dan masyarakat.10 Sambutan Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 11 K TI H US sambutan Anak merupakan harta yang tak ternilai bagi suatu keluarga. sehingga status kesehatan anak perlu dipelihara dan ditingkatkan secara optimal. serta ketersediaan sistem rujukannya. Sri Astuti S. Tidak semua anak beruntung dan memperoleh kebutuhan dasarnya secara layak. akan meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap anak dalam rangka mendukung pemerintah mewujudkan anak Indonesia yang sehat dan berkualitas. yang dilakukan oleh orang-orang terdekat di lingkungannya seperti orang tua atau guru. asih dan asah. Semoga apa yang telah dihasilkan ini. yang sebenarnya harus memberikan perlindungan serta kasih sayang kepada mereka. Oleh karena itu. yang sangat dipengaruhi oleh tiga kebutuhan dasar yaitu asuh. Pada kesempatan ini. MPH . difokuskan pada daerahdaerah dengan potensi masalah besar dengan membentuk dan memperkuat sistem perlindungan anak baik dari aspek peraturan dan kebijakan. upaya pemerintah dalam pencegahan dan penanganggulangan kasus kekerasan terhadap anak. Petugas kesehatan di sarana kesehatan yang ada di masyarakat seringkali merupakan orang pertama yang dihadapkan dengan anak korban kekerasan. juga kepada Unicef selaku penyandang dana. Tentu saja keberhasilan penangulangan kasus kekerasan pada anak akan tergantung pada kemampuan petugas kesehatan dalam menemukan. akan tetapi dewasa ini sebagian anak mengalami perlakuan yang tidak wajar yaitu tindak kekerasan dan penelantaran. Jakarta.

Improb pary minuit. vel illum dolore eu fugiat nulla pariatur. Itaqe ne est. da but tuntung benevolent sib con et. Ut enim ad minim veniam. quis nostrud exercitation nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. sed diam zum nonnumy eiusmod incidunt ut labore et dolore magna aliqua erat volupat. aptissim est ad quiet. simil sunt it culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum et dolor fuga. et opes vel fortunag et ingen liberalitat magis conveniunt. quid est cu verear ne ad eam non possing accomodare nost ros quos tu paulom ante cum memorite tum etia ergat. Duis autem vel eum irure dolor ini reprehenderit in volupante velit esse molestaie consequat. olestias non potest fier ad augendas cum conscient to factor tum poen legum odiot. Jakarta. Et harumd dereud facilis est er expedit distinct. Lorem ipsum .12 Sambutan Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 13 sambutan Lorem ipsum dolor sit amet. Endium caritat praesert eum omning null sit caus peccand quaert en imigent cupidat a natura proficis facile explent sine julla inura autend inanc sunt is parend non est nihil enim desiders. consectetur adipiscing elit. Nam liber tempor cumet soluta nobis eligend optio comgue hinil impedit doming in quomaxit placeat facer possim omnis voluptas assumenda est. Nos amice et nebevol. Concupis plusque in inspinuria detriment est quam in his rebus quode emolument oariunt iniur. Invitat igitur vera ratio bene sanos ad iustitiam. At vero eos et accusam et iusto odiom dignissim qui blandit praesent luptatum delenit aigue duos dolor et se molestias exceptur sint occaecat cupiditat non provident. Hanc ego cum tene senteniam. Omnis dolor debi aut tum rerum necessit atib saepe eveniet ut er repudiand sint et recus. Et tamen in busdam neque pecun modut est neque nonor imper nedet libiding gen epular religuard cupiditat. Itaque earud rerum hic tenetury sapiente delectus au aut prefer endis dolorib asperiore repellat. aequitated fidem. quas nulla praid om umdamte. Neque hominy infant aut iniuste fact est cond qui neg facilites efficerd possit duo contenud notiner si effecerit. April 2007 Direktur Jenderal UNICEF Dr. potius inflammad ut coercend magist and et dom videantur.

mental. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. keluarga. sosial. dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua. tumbuh. perkembangan teknologi. seksual maupun penelantaran. budaya) dan wajib dijamin. pemerintah dan negara agar dapat hidup. Tambahan 3886). banyaknya anak dalam keluarga serta bencana alam yang akhir .Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 15 01 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Dampak globalisasi. . Menurut UU RI No 39 Tahun 1999 Tentang Hak Azasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 No 165. Di sisi lain kemiskinan yang belum teratasi. rendahnya tingkat pendidikan orang tua.akhir ini banyak terjadi di Indonesia merupakan faktor pemicu terjadinya peningkatan tindakan kekerasan terhadap anak baik fisik. masyarakat. berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. pengaruh negatif media massa mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai sosial budaya dimana masyarakat terbiasa dengan pola hidup konsumtif dan individual. ekonomi. politik. bahwa Hak anak merupakan bagian dari hak asasi manusia (sipil.

.16 Pendahuluan Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 17 Konvensi Hak Anak PBB yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Keputusan Presiden No. meliputi 4 (empat) prinsip dasar yaitu : . akan berdampak terhadap penurunan kualitas sumber daya manusia. Emosi dan kasih sayang (asih) merupakan ikatan yang erat. Hal ini harus dilakukan sedini mungkin. dan bermain/rekreasi. diberi contoh (bukan dipaksa). pangan. dilindungi. Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan anak di Indonesia diperlukan upaya pembinaan kesehatan anak yang komprehensif dan terarah pada semua permasalahan kesehatan akibat penyakit maupun masalah lainnya. bahkan pemimpin bangsa di masa depan. Keadaan ini jika tidak ditangani secara dini dengan baik.sandang. penuh kegembiraan. pengobatan). keinginan. dan lainlain. Immunisasi lengkap penimbangan teratur dan periodik. Kebutuhan Dasar Anak Fisik-Biologis (asuh) meliputi nutrisi. karena mereka akan berperan sebagai calon orang tua. Kebutuhan akan stimulasi mental dapat diberikan baik secara formal. ASI Eksklusif. budi luhur. . . kebersihan badan & lingkungan. Anak merupakan kelompok yang memerlukan perhatian dalam upaya pembinaan kesehatan masyarakat. Non diskriminasi Kepentingan Terbaik bagi Anak Hak Kelangsungan Hidup dan Tumbuh Kembang Penghargaan Pendapat Anak . informal maupun non-formal. diperhatikan (minat. Dalam Undang-undang No. dan sangat penting pada 4 tahun pertama kehidupan. perawatan kesehatan dasar (pemberian ASI ini. didorong. Pemberian stimulasi (asah) merupakan proses pembelajaran. tenaga kerja. moral dan etika. olahraga. koreksi (bukan ancaman/hukuman). Kekerasan dan penelantaran anak mengakibatkan terjadinya gangguan proses pada tumbuh kembang anak. kepribadian. serasi dan selaras antara ibu dan anak yang mutlak diperlukan pada tahun-tahun pertama kehidupan anak untuk menjamin tumbuh kembang fisik. . dan pelatihan kepada anak. Makanan pendamping ASI. pendapat). mental dan psikososial anak. kreativitas. . Stimulasi mental secara dini mengembangkan mental psikososial yaitu kecerdasan. produktivitas. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada Pasal 1 disebutkan bahwa “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan” . ketrampilan berbahasa. . dibantu. papan. meliputi: menciptakan rasa aman dan nyaman. kemandirian. dihargai. pendidikan. 36 tahun 1990.

menakut-nakuti. perkembangan emosional. mental. ekploitasi komersial atau eksploitasi lainnya. sikap tindak yang meremehkan anak. tumbuh kembang anak atau martabat anak. mendiskriminasi. Penelantaran anak adalah kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya. spiritual. tidak memperoleh kecukupan gizi. yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggungjawab. atau perlakuan lain yang kasar atau penolakan. Kekerasan emosional adalah suatu perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan atau sangat mungkin akan mengakibatkan gangguan kesehatan atau perkembangan fisik. Kekerasan seksual ditandai dengan adanya aktivitas seksual antara anak dengan orang dewasa atau anak lain. perawatan medis. mengejek atau menertawakan. kepercayaan atau kekuasaan. Kelalaian di bidang kesehatan seperti penolakan atau penundaan memperoleh layanan kesehatan. hubungan seksual. di mana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami. moral dan sosial. dan keadaan hidup yang aman yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau pengasuh. hubungan seksual yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan darah (incest). gangguan perkembangan fisik. nutrisi. memburukkan atau mencemarkan. pemaksaan anak untuk melihat kegiatan seksual. spiritual. gigi dan pada keadaan lainnya yang bila tidak dilakukan akan dapat mengakibatkan penyakit atau gangguan tumbuh kembang. yang mengakibatkan cidera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak. moral dan sosial. perkosaan. rumah atau tempat bernaung. Kekerasan seksual adalah pelibatan anak dalam kegiatan seksual. atau tidak mampu memberi persetujuan. Kekerasan fisik adalah kekerasan yang mengakibatkan cidera fisik nyata ataupun potensial terhadap anak sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi yang layaknya ada dalam kendali orang tua atau orang dalam hubungan posisi tanggung jawab. dan sodomi. Beberapa contoh kekerasan emosional adalah pembatasan gerak. perabaan. Kelalaian di bidang pendidikan meliputi pembiaran . pendidikan. Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual dalam prostitusi atau pornografi. Aktivitas tersebut ditujukan untuk memberikan kepuasan bagi orang tersebut. mengkambing hitamkan. penelantaran. mental. memperlihatkan kemaluan kepada anak untuk tujuan kepuasan seksual.18 Pendahuluan Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 19 PENGERTIAN Kekerasan terhadap anak merupakan semua bentuk tindakan /perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional. seperti: kesehatan. memaksa anak untuk memegang kemaluan orang lain. penyalahgunaan seksual. Penelantaran anak dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. stimulasi seksual. mental. mengancam. kelangsungan hidup anak.

atau kegagalan memenuhi kebutuhan pendidikan yang khusus. Kegiatan ini merusak atau merugikan kesehatan fisik dan mental. kekerasan terhadap pasangan di hadapan anak dan pembiaran penggunaan rokok.emosional anak. spiritual. jUmLAH KASUS Psikis 500 400 300 200 100 0 233 140 247 450 176 80 2004 2005 2006 . moral dan sosial . Kelalaian di bidang fisik meliputi pengusiran dari rumah atau penolakan sekembalinya anak dari kabur dan pengawasan yang tidak memadai. ANALISA SITUASI Gambaran situasi masalah kekerasan dan penelantaran pada anak di Indonesia dapat di lihat sebagai berikut: Data Kasus Kekerasan Dan Penelantaran Anak di Indonesia Tahun 2004 . Kelalaian di bidang emosional meliputi kurangnya perhatian atas kebutuhan kasih sayang.2006 . jUmLAH KASUS TAHUN Seksual 500 400 300 200 100 2006 2005 2004 0 . alkohol dan narkoba oleh anak. penolakan atau kegagalan memberikan. jUmLAH KASUS Fisik 250 200 150 100 50 2006 2005 2004 0 . perawatan psikologis. perkembangan pendidikan. termasuk pekerja anak dan prostitusi. jUmLAH KASUS TAHUN Penelantaran 150 131 426 327 235 125 100 75 50 25 0 10 2004 15 2005 2006 TAHUN TAHUN Sumber data: Pusdatin Komnas Perlindungan Anak . tidak menyekolahkan pada pendidikan yang wajib diikuti setiap anak.20 Pendahuluan Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 21 mangkir (membolos) sekolah yang berulang. Sistem Rujukan adalah suatu sistem di dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di mana terjadi pelimpahan tanggungjawab timbal balik atas kasus atau masalah kesehatan yang timbul. baik secara vertikal maupun horizontal. Eksploitasi anak adalah penggunaan anak dalam pekerjaan atau aktivitas lain untuk keuntungan orang lain.

Di Indonesia. sehingga tidak dilaporkan. Disamping itu faktor budaya masyarakat yang menganggap kasus kekerasan terhadap anak merupakan aib keluarga. nampak adanya kecenderungan peningkatan baik jumlah maupun jenis kasus. dimana gambaran data sangat bervariasi. serta unsur terkait lainnya perlu membangun jaringan kerjasama penanganan kasus kekerasan terhadap anak dalam mendukung upaya penemuan dan penanganan kasus secara komprehensif. masyarakat termasuk LSM dan unsur swasta.22 Pendahuluan Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 23 . Penderaan Anak 25 20 15 10 5 22 15 14 9 10 9 8 5 2004 2005 2006 0 2004 TAHUN 2005 2006 0 TAHUN Sumber data: PKT RSCM . jUmLAH KASUS Data Kasus Baru PKT RSCM Tahun 2004 . belum menggambarkan jumlah seluruh kasus yang ada di masyarakat karena tidak semua kasus yang terjadi dilaporkan. Untuk itu diharapkan pemerintah. keluarga. jUmLAH KASUS TAHUN Kekerasan Seksual lain anak perempuan (<18 tahun) 23 . sarana pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat dasar dan rujukannya di Rumah Sakit belum semuanya dikembangkan secara optimal untuk penanganan korban kekerasan terhadap anak. jUmLAH KASUS Kekerasan Seksual lain anak perempuan (<18 tahun) 150 148 120 129 105 66 125 100 75 50 25 2004 62 . Terbatasnya data kekerasan terhadap anak antara lain disebabkan karena belum tersedianya sarana pelayanan yang memadai termasuk sistem pencatatan dan pelaporannya. Hal ini dapat dilihat pada tabel tersebut di atas. Namun berdasarkan data Pusdatin Komnas Perlindungan Anak.2006 Perkosaan anak perempuan (<18 tahun) 150 125 100 75 50 25 2004 2005 2006 0 . jUmLAH KASUS TAHUN 2005 2006 0 Kasus-kasus kekerasan dan penelantaran anak yang teridentifikasi di pusat-pusat rujukan dan kepolisian merupakan fenomena gunung es.

. .Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 25 02 DASAR HUKUM Rujukan kasus kekerasan pada anak merupakan bagian dari upaya kesehatan dalam penanganan masalah kekerasan terhadap anak. Pasal 28B ayat (2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Beberapa landasan hukum yang berhubungan langsung dengan upaya tersebut antara lain: 1. Pasal 28H ayat (1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. yang pada hakekatnya adalah upaya pemenuhan hak anak terhadap kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak yang terbebas dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. . bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 288 tentang Hak Anak. tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Undang-undang nomor 39/1999 . . ” Pasal 9 Pemerintah bertanggung jawab untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. . Pasal 44 ayat (3) Upaya kesehatan yang komprehensif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya promotif. preventif. Undang-undang No. baik untuk pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan” .tentang Hak Azasi Manusia. c. Pasal 44 ayat (2) Penyediaan fasilitas & penyelenggaraan upaya kesehatan secara komprehensif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didukung oleh peran serta masyarakat.4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Keputusan Presiden no 88 tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak. melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga.26 Dasar Hukum Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 27 2. 3. Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. ” 5. menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga. . Pasal 62 Setiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial secara layak. sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental spiritualnya. . 8. Pasal 17 ayat (1) Kesehatan anak diselenggarakan utk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan anak” . b. melahirkan keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera 7. . kuratif. . d. dan rehabilitatif. . Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan. Keputusan Presiden no 87 tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (PESKA). . Pasal 4 Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga bertujuan a. agar setiap anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan. ” . Pasal 4 Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Anak Pasal 44 ayat (1) Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kesehatan yang komprehensif bagi anak. 4. 6. Undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Peraturan Menkes No 1045/Menkes/PER/ XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Depkes. . 11. Mensos RI No 75/Huk/2002.Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 29 9. 10. Menkes RI No 1329/Menkes/Skb/X/2002. 12. 13.Keputusan Menkes no 33 tahun1998 tentang Kesehatan Reproduksi. Kepala Kepolisian Negara RI No: B/3048/X/2002 Tentang Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Terhadap Anak Dan Perempuan. Surat Keputusan Menkes No 131/Menkes/ SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional. Surat Keputusan Menkes No 128/Menkes/ SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI No 14/Men PP/Dep V/X/2002.

4. 3. Tujuan Khusus 1. Meningkatnya jumlah dan jenis kasus kekerasan terhadap anak yang ditangani. . Meningkatnya kerjasama lintas program kesehatan dan sektor terkait serta masyarakat dalam penemuan dan rujukan kasus kekerasan terhadap anak. 2.Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 31 03 TUJUAN DAN SASARAN TUJUAN Tujuan Umum Meningkatkan jangkauan dan kualitas penanganan korban kekerasan terhadap anak. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan petugas kesehatan dalam rujukan kasus kekerasan terhadap anak. Meningkatnya kemampuan petugas kesehatan dalam melakukan pencatatan dan pelaporan kasus kekerasan terhadap anak.

. . . . . . . . Sasaran Tidak langsung Pengambil keputusan di semua jenjang administrasi Polisi Psikolog Guru Pekerja Sosial Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Keluarga korban Korban kekerasan Organisasi Profesi Lembaga Swadaya Masyarakat Lembaga Bantuan Hukum Satuan Polisi Pamong Praja Instansi terkait lainnya .Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 33 SASARAN Sasaran Langsung Petugas Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit baik pemerintah maupun swasta. . . . . .

Faktor orang tua/situasi keluarga a. Kurangnya pemahaman tentang agama. Cacat fisik. c. c. Faktor anak Anak dengan gangguan tumbuh kembang akan rentan terhadap risiko kekerasan. Bayi prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan gangguan perkembangan.Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 35 FAKTOR RISIKO DAN DAMPAK KEKERASAN TERHADAP ANAK FAKTOR RISIKO Faktor risiko terjadinya kekerasan terhadap anak meliputi : 1. Gangguan perilaku atau gangguan mental emosional. Riwayat stres berkepanjangan. b. antara lain bisa terjadi pada : a. 04 . dll). skizofrenia. b. Riwayat orang tua dengan kekerasan fisik atau seksual pada masa kecil. 2. depresi dan masalah kesehatan mental lainnya (ansietas.

Perkembangan emosi yg belum matang I. Kurangnya dukungan sosial bagi keluarga 3. Layanan sosial yang rendah g. Dukungan masyarakat yang rendah e. Nilai-nilai hidup yang dianut orang tua h. Masalah interaksi dengan lingkungan p. Pola asuh yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak g. Pendidikan orang tua rendah k. Riwayat penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat adiktif lainnya (NAPZA). Tingkat pengangguran yang tinggi c. Kehamilan yang tidak diinginkan r. alkohol dan rokok e. Tingkat kriminalitas yang tinggi d. Orang tua tunggal i.Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 37 d. Orang tua masih berusia remaja j. Kepadatan hunian (tempat tinggal) o. Kebiasaan yang salah di masyarakat dalam pengasuhan anak h. Faktor masyarakat/sosial a. Pengaruh negatif media massa . Kepercayaan diri yang rendah m. Kekerasan dalam rumah tangga f.Penghasilan/pendapatan keluarga yang rendah n. Tradisi di masyarakat memberikan hukuman fisik bagi anak I. Pengaruh pergeseran budaya f. Mempunyai banyak anak balita q. Kemiskinan b.

hiperaktif. menggunakan NAPZA. 2. cemas. kerusakan organ. Kekerasan Fisik kecacatan yang dapat mengganggu fungsi tubuh anggota tubuh b. robekan selaput dara. kepribadian ganda. seksual maupun emosional. . gangguan susunan syaraf pusat. Jangka Panjang Dampak jangka panjang dapat terjadi pada kekerasan fisik. keracunan. Kekerasan Emosional tidak percaya diri. antara lain: lebam. Jangka Pendek Dampak jangka pendek terutama berhubungan dengan masalah fisik. sukar bergaul. patah tulang. gangguan tidur/mimpi buruk. Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS. rasa malu dan bersalah. gangguan/kerusakan organ reproduksi c. menyendiri. Disamping itu seringkali terjadi gangguan emosi atau perubahan perilaku seperti pendiam. depresi. lecet. luka bakar. menangis. suka mengompol. gangguan pengendalian diri. psikosomatik. a. Kekerasan Seksual Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 39 DAMPAK Korban atau kasus anak yang mengalami kekerasan dapat berdampak jangka pendek ataupun jangka panjang 1. psikosis.

Penanganan dan rujukan kasus kekerasan terhadap anak perlu tindakan secara cepat dan tepat. Penyelenggaraan rujukan dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak merupakan proses kerjasama semua unsur terkait dalam sistem jaringan tersebut. oleh karena itu dibutuhkan kesiapan. Anak korban kekerasan pada umumnya datang ke fasilitas kesehatan diantar oleh orang tua. baik dari aspek medis/mediko-Iegal dan psikososial. sehingga perlu dibangun suatu jaringan kerja yang terdiri dari unsur masyarakat. 05 . pemahaman dan keterampilan tenaga kesehatan. institusi pemerintah dan non pemerintah terkait dalam pelayanan kesehatan.Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 41 SISTEM DAN ALUR RUJUKAN KASUS KEKERASAN TERHADAP ANAK Sistem perlindungan anak merupakan suatu sistem yang kompleks melibatkan berbagai unsur. pelayanan hukum dan pendidikan. LSM atau Polisi. karena cidera fisik akibat berbagai perlakuan kekerasan yang dialaminya. pelayanan sosial.

Syok 4. laserasi superfisialliebam) 3. antara lain: 1. celana dalam. Konseling 7 . Sepsis 8. yang meliputi antara lain: 1. Robekan anogenital 9. Sedangkan yang dapat ditangani di puskesmas adalah kasus kekerasan terhadap anak yang memiliki derajat ringan. Fraktur tertutup/terbuka ringan yang perlu tindakan P3K 6. Rujukan Untuk melakukan rujukan perlu dipersiapkan: surat pengantar rujukan. swab vagina. menangani kasus kekerasan terhadap anak atau apabila diperlukan merujuk ke Rumah Sakit atau institusi terkait lainnya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Pencatatan dan pelaporan kasus 8. Kejang-kejang 5. menangani kasus dan merujuk kasus. Malnutrisi Tindakan dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak di tingkat puskesmas diawali dengan anamnesa untuk identifikasi kasus dan pengisian lembar persetujuan pemeriksaan (informed concent). Pembuatan visum et repertum atas permintaan Polisi 9. Reposisi fraktur 3. Luka ringan 2. menerima rujukan kasus. Peran tenaga kesehatan dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak adalah menemukan kasus. Luka bakar luas 6. Sesak nafas 7 .42 Sistem dan Alur Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 43 Tenaga kesehatan harus sensitif gender dan mampu memberikan konseling. Fraktur multipel 3. Penanganan kasus kekerasan terhadap anak di fasilitas kesehatan ditentukan oleh ketersediaan sarana dan kemampuan tenaga yang ada. PUSKESMAS Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan dasar atau primer dapat menerima. kronologis singkat kasus dan bukti-bukti yang mendukung (pakaian. Cidera ringan/lnfeksi pada anus 5. Perdarahan berat 2. Perbaikan keseimbangan cairan tubuh (infus) 5. Stres berat . Stabilisasi pernafasan 4. Kasus-kasus yang memerlukan rujukan antara lain: 1. kotoran/debris pada kuku. Perawatan luka 2. Cidera ringan/lnfeksi pada organ/saluran reproduksi 4. rambut pubis. Trauma psikis ringan 7 . Cidera sederhana (Iuka bakar ringan. Pemberian nutrisi 6. dll).

Pencatatan dan Pelaporan Kunjungan rumah (Perkesmas) rujukan rumah Sakit IGd PKT/PPT ICU/ICCU rumah Perlindungan (Shelter) . rujuk Pulang Jika kondisi korban bisa ditangani di puskesmas. sehingga dapat ditegakkan diagnosa. selanjutnya penanganan kegawatdaruratan. kemudian dilakukan registrasi. Datang Sendiri Korban Kekerasan Terhadap Anak Diantar Rujukan PUSKESmAS registrasi Tindakan Kegawat daruratan Pemeriksaan Anamnesis Pemeriksaan Fisik dan Psikososial Pemeriksaan penunjang Diagnosa Tindakan Medis Konseling Korban datang sendiri ke Puskesmas atau diantar oleh Polisi/LSM/ keluarga. maka langkah-Iangkah yang dilakukan adalah: anamnesa. pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Bagi korban yang memerlukan dukungan sosial seperti perlindungan keamanan dapat dirujuk ke rumah perlindungan (Shelter). pemeriksaan fisik dan psikososial. serta dilakukan tindakan medis dan konseling. Petugas kesehatan di Puskesmas perlu melakukan pencatatan secara rinci dan lengkap sebagai rekam medis untuk pelaporan dan pembuatan visum et repertum jika diminta oleh Polisi. Jika kondisi korban telah membaik dapat dipulangkan dan dilakukan kunjungan rumah bila diperlukan. Namun jika kondisi korban memerlukan penanganan spesialistik atau penanganan lebih lanjut maka korban dirujuk ke Rumah Sakit.44 Sistem dan Alur Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 45 Bagan 1 Alur penanganan dan rujukan kasus Kekerasan terhadap Anak di Puskesmas Keterangan Bagan 1 Mekanisme penanganan rujukan kasus kekerasan terhadap anak di Puskesmas. Apabila kondisi korban tidak memungkinkan untuk ditangani di puskesmas maka segera dirujuk ke Rumah Sakit.

dapat memberikan pelayanan komprehensif dalam satu atap (one stop service) yang mencakup aspek pelayanan medis/mediko-Iegal. Untuk melakukan rujukan perlu dipersiapkan: surat pengantar rujukan. Rumah Sakit yang belum memiliki PKT/PPT kegiatan penanganan kasus penanganan kekerasan terhadap anak dilakukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). psikolog dan ahli hukum. perawat. hukum dan perlu bekerjasama dengan LSM. Pada kasus yang memerlukan pendampingan. kelas B atau kelas A. bantuan hukum. maka ruang konsultasi dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada namun perlu dijamin kerahasiaan. . pekerja sosial. kronologis singkat kasus. keamanan dan kenyamanan. kotoran/debris pada kuku. rambut pubis. Kasus kekerasan terhadap anak yang ditangani di Rumah Sakit mulai dari derajat ringan sampai berat sesuai dengan ketersediaan sarana. forensik) dan pemeriksaan penunjang serta bukti-bukti pendukung lainnya seperti pakaian. Oleh karena itu di dalam PKT/PPT diperlukan tim yang terdiri dari dokter. perlindungan. Tindakan dalam penanganan kasus penanganan kekerasan terhadap anak di Rumah Sakit diawali dengan anamnesa untuk identifikasi kasus dan pengisian lembar persetujuan pemeriksaan (informed concent). sosial. psikologis. dan merujuk ke Rumah Sakit yang lebih mampu atau institusi terkait lainnya apabila diperlukan. prasarana serta kemampuan tenaga di Rumah Sakit. tetapi berdasarkan tersedia atau tidaknya Pusat krisis Terpadu atau Pusat Pelayanan Terpadu. sosial dan hukum. Pusat Krisis Terpadu (PKT)/Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) adalah pusat pelayanan bagi korban kekerasan pada anak dan perempuan yang memberikan pelayanan komprehensif dan holistik meliputi penangan medis dan medikoIegal. celana dalam. Mekanisme rujukan kasus kekerasan terhadap anak di Rumah Sakit tidak dibedakan menurut kelas Rumah Sakit baik kelas C. Rumah Sakit yang sudah mempunyai PKT/PPT. penangan psikologis. pemeriksaan laboratorium (medis.46 Sistem dan Alur Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 47 RUMAH SAKIT Rumah Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan rawat inap dan rawat jalan dapat menerima. menangani kasus kekerasan terhadap anak. LBH yang tergabung dalam jaringan kerja penanganan kekerasan terhadap anak. Apabila tidak memungkinkan adanya ruang khusus. swab vagina. dan lain-lain dilakukan rujukan non medis ke institusi terkait lainnya. serta ruang konsultasi khusus.

. Keterangan Bagan 2 Mekanisme pelayanan kekerasan terhadap anak di Rumah Sakit yang memiliki PKT/PPT Korban datang sendiri ke Rumah Sakit atau diantar oleh Polisi/LSM/ keluarga. langsung ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) selanjutnya dilakukan registrasi dan triage untuk menentukan status korban. dibawa ke ruang otopsi untuk pembuatan visum et repertum bila diperlukan. Kritis Non Kritis Semi Kritis . Apabila pasien meninggal. . Kader) Rujukan dari Posyandu. konsultasi spesialis.48 Sistem dan Alur Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 49 Bagan 2 ALUR RUJUKAN DI RUMAH SAKIT YANG MEMILIKI PKT/PPT Datang sendiri KorBAN Diantar (Orangtua. Apabila kondisi korban tidak dapat ditangani di Rumah Sakit tersebut maka dirujuk ke Rumah Sakit yang mempunyai fasilitas lebih lengkap. selanjutnya kalau kondisi korban telah membaik dapat dikirim ke PKT/PPT. Apabila kondisi korban semi kritis atau kritis maka korban dikirim ke ruang ICU/HCU atau rawat inap untuk mendapat perawatan yang diperlukan. psikososial. dll. Klinik Swasta. serta visum et repertum bila diminta oleh Polisi. Selanjutnya pasien dapat dipulangkan/rawat jalan. Polisi. Puskesmas. rUmAH SAKIT INSTALASI GAWAT dArUrAT Registrasi Triage . LSM. LSM. Guru. konseling. PKT/PPT ICU/HCU ruang rawat Inap Pemeriksaan Psikososial Pemeriksaan fisik/mediko-legal Konseling/Konsultasi Spesialis Pulang/rawat jalan rujuk meninggal (ruang otopsi) . Apabila kondisi korban non kritis langsung dirujuk ke PKT/PPT untuk mendapatkan pelayanan medis/mediko-Iegal. Pekerja Sosial.

Polisi. selanjutnya jika kondisi korban telah membaik dapat dipulangkan/rawat jalan/rujukan non medis. LSM. dan visum et repertum bila diminta oleh Polisi. Apabila kondisi korban non kritis langsung ditangani di IGD untuk mendapatkan pelayanan medis. rUmAH SAKIT IGd Registrasi Triage . Apabila kondisi korban semi kritis atau kritis maka korban dikirim ke ruang ICU/HCU atau rawat inap untuk mendapat perawatan yang diperlukan. langsung ke IGD selanjutnya dilakukan registrasi dan triage untuk menentukan status korban. LSM. dibawa ke ruang otopsi untuk pembuatan visum et repertum bila diperlukan Non Kritis Semi Kritis Kritis Pulang/ rawat jalan ICU/HCU ruang rawat Inap . dll. Keterangan Bagan 3 Mekanisme pelayanan KTA di Rumah Sakit yang belum memiliki PKT/PPT Korban datang sendiri ke Rumah Sakit atau diantar oleh Polisi/LSM/ keluarga. Guru. Apabila kondisi korban tidak dapat ditangani di Rumah Sakit tersebut maka dirujuk ke Rumah Sakit yang mempunyai fasilitas lebih lengkap.50 Sistem dan Alur Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 51 Bagan 3 ALUR RUJUKAN DI RUMAH SAKIT YANG BELUM MEMILIKI PKT/PPT Datang sendiri KorBAN Diantar (Orangtua. Puskesmas. . Klinik Swasta. Kader) Rujukan dari Posyandu. . konsultasi spesialis. Selanjutnya pasien dapat dipulangkan/rawat jalanlrujukan non medis. rujuk meninggal (ruang otopsi) rujukan Non medis . Pekerja Sosial. Apabila pasien meninggal.

pelayanan hukum dan laboratorium forensik. Selanjutnya berdasarkan kondisi korban. konsultasi spesialis. Polisi. Pekerja Sosial. Apabila korban meninggal maka dikirim ke ruang autopsi untuk pembuatan visum et repertum. PPT atau ke ICU/ rawat inap. Kader) Rujukan dari Posyandu. Selanjutnya korban dapat dipulangkan atau dikirim ke rumah perlindungan (shelter) jika diperlukan. Tatalaksana kasus di PPT meliputi pemeriksaan medikoIegal. dll. lainnya LBH/pelayanan hukum Kritis/ rawat inap Rumah perlindungan/shelter Pulang/rawat jalan Meninggal . Klinik Swasta. Korban datang sendiri ke Rumah Sakit Bhayangkara atau diantar oleh Polisi/LSM/keluarga. IGd (Triage) Penanganan luka dan kedaruratan Lab forensik Pusat Pelayanan Terpadu Mediko-legal Psikiater/psikolog Obsgyn/bedah/interna/anak. Keterangan Bagan 4 Mekanisme pelayanan KTA di Rumah Sakit Bhayangkara. LSM.52 Sistem dan Alur Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 53 Bagan 4 ALUR RUJUKAN DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA Korban datang dengan/ tanpa pengantar Datang sendiri Diantar (Orangtua. Guru. LSM. Puskesmas. dapat dikirim ke laboratorium forensik. langsung ke IGO untuk dilakukan penanganan luka dan tindakan kedaruratan.

Format 3 Format Pencatatan KTA untuk Propinsi . sehingga memerlukan format pencatatan khusus serta mekanisme pelaporan tersendiri. Terdapat 3 jenis format pencatatan. Format 2 Format Pencatatan KTA untuk Kabupaten/Kota c.Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 55 06 SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN Sistem pencatatan dan pelaporan merupakan bagian penting dalam upaya penanggulangan KTA. yaitu : a. oleh karena melalui pencatatan dan pelaporan yang baik akan diperoleh data dasar untuk menentukan kebijakan dan pengembangan program selanjutnya. Puskesmas dan Rumah Sakit membuat pencatatan dan pelaporan berdasarkan rekam medis (format rekam medis). Sementara ini kasus KTA belum bisa dimasukkan ke dalam sistem pencatatan dan pelaporan kesehatan anak yang tersedia. Format 1 Format Pencatatan KTA untuk Puskesmas atau Rumah Sakit b.

......56 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 57 Format 1 FORMAT PENCATATAN KTA UNTUK PUSKESMAS ATAU RUMAH SAKIT PUSKESMAS/RUMAH SAKIT : KECAMATAN/KABUPATEN/KOTA : (di isi setiap bulan) Bulan Tahun PROPINSI : : : NO Rekam Medis Tgl Kunjungan NAMA ALAMAT 0 -11 BLN 1-4 THN UMUR 5-9 THN 10 ....................18 THN SEKSUAL L P L P L P L P L P PENCA BULAN PER KOSAAN EKS PLOITASI JENIS KEKERASA N PENANGANAN KET FISIK TUMPUL TAJAM LUKA BAKAR EKS PLOITASI EMOSI ONAL MENTAL EMOSIO NAL PENE LAN TARAN DI PUS KESMAS/ RS DIRUJUK LAIN LAIN 1 2 3 4 5 6 JUMLAH Penanggung Jawab KTA Puskesmas/Rumah Sakit .....14 THN 15 ....... ........

14 THN L P JUMLAH KEKERASAN EMOSIONAL 15 .14 THN L P 15 .19 THN L P 0 -11 BLN L P 1...19 THN L P JUMLAH YANG DITANGANI di Pus kesmas/ RS L P dirujuk lain lain L P 1 2 3 4 5 6 L P L P Penanggung Jawab KTA Puskesmas/Rumah Sakit ..........19 THN L P 0 -11 BLN L P 1.4 THN L P PENELANTARAN 5-9 THN L P 10 .....4 THN L P FISIK 5-9 THN L P 10 .58 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 59 Format 2 FORMAT PENCATATAN KTA UNTUK KABUPATEN / KOTA KECAMATAN/KABUPATEN/KOTA PROVINSI : : Bulan Tahun : : NO PUSKESMAS/ RS SEKSUAL 0 -11 BLN 1.......14 THN L P 15 .14 THN L P 15 ...............19 THN L P 0 -11 BLN L P 1. .4 THN L P 5-9 THN L P 10 ........4 THN L P 5-9 THN L P 10 .

14 THN L P 15 ....14 THN L P JUMLAH KEKERASAN EMOSIONAL 15 .14 THN L P 15 ....19 THN L P 0 -11 BLN L P 1.....4 THN L P FISIK 5-9 THN L P 10 ... .19 THN L P JUMLAH YANG DITANGANI di Pus kesmas/ RS L P dirujuk lain lain L P 1 2 3 4 5 6 L P L P Penanggung Jawab KTA Puskesmas/Rumah Sakit ....4 THN L P 5-9 THN L P 10 ...60 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 61 Format 3 FORMAT PENCATATAN KTA UNTUK PROPINSI PROVINSI : Bulan Tahun : : NO KAB/KOTA SEKSUAL 0 -11 BLN 1....4 THN L P PENELANTARAN 5-9 THN L P 10 ...4 THN L P 5-9 THN L P 10 .....19 THN L P 0 -11 BLN L P 1..19 THN L P 0 -11 BLN L P 1........14 THN L P 15 .........

sehingga pada akhirnya dapat dipakai sebagai data dasar dalam perencanaan program KTA di tingkat Kabupaten/Kota. Selain itu laporan tersebut akan di kirim ke Meneg Pemberdayaan Perempuan sebagai bahan laporan periodik Konvensi Hak-hak Anak (KHA) di tingkat internasional. 3. Kesra/ Bag. 2. Selanjutnya Puskesmas atau Rumah Sakit mengirim Format 1 ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Internasional Bahan Laporan Periodik KHA direktorat Bina Kesehatan Anak KPAI meneg PP rS/ PPT/PKT dinkes Propinsi Biro PP/KPAId rSUd/ PPT/PKT dinkes Kab/kota Bag. Di tingkat Pusat Rekapan data KTA dari Propinsi akan di analisa untuk bahan dasar pembuatan kebijakan dan pengembangan program. Sosial Puskesmas Tingkat masyarakat: . Berlaku juga bagi Lintas Sektor terkait. Kepolisian. 4.62 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 63 Bagan Alur Pelaporan Alur Pelaporan 1. Selanjutnya Format 2 dikirim ke Dinas Kesehatan Propinsi dengan tembusan ke lintas sektor terkait setempat yaitu : Bagian Kesejahteraan Rakyat/Bagian Sosial Pemerintah Daerah. Di tingkat Kabupaten / Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota membuat rekapan laporan yang masuk dari Puskesmas dan Rumah Sakit di wilayah kerja dengan menggunakan Format Pencatatan Kasus KTA untuk Kabupaten/Kota (Format 2). Di tingkat Propinsi Dinas Kesehatan Propinsi membuat rekapan hasil laporan dari semua Kabupaten/Kota dengan menggunakan Format Pencatatan KTA untuk Propinsi (Format 3) dan mengirimnya ke Direktorat Bina Kesehatan Anak Depkes RI dengan tembusan ke lintas sektor terkait setempat yaitu Biro Pemberdayaan Perempuan dan KPAID. Dinas Sosial dan Lembaga Swadaya Masyarakat.LSM -RPK -Polsek -Korban/ Keluarga korban . Di tingkat masyarakat Kasus KTA yang telah ditangani di Puskesmas atau Rumah Sakit Kabupaten/Kota dilaporkan dengan menggunakan Format Pencatatan Kasus KTA untuk Puskesmas atau Rumah Sakit (Format 1).

Buku pedoman ini diharapkan dapat diterapkan sesuai kondisi di lapangan dan merupakan salah satu sarana dalam upaya memenuhi kebutuhan hak anak. . Diperlukan dukungan politis yang kuat dari pemerintah daerah setempat dalam bentuk peraturan-peraturan daerah untuk dapat merealisasikan upaya penanggulangan kekerasan terhadap anak sesuai buku pedoman ini.Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 65 07 PENUTUP Rujukan kasus kekerasan di tingkat pelayan kesehatan dasar dan Rumah Sakit merupakan satu mata rantai dalam sistem penanganan masalah kekerasan pada anak. Mekanisme rujukan tersebut sangat dipengaruhi oleh tersedianya sarana prasarana serta kerjasama yang solid dari tim di dalam jaringan kerja penanganan korban kekerasan terhadap anak.

Jr. Pedoman Tatalaksana Korban Kekerasan Terhadap Perempuan Di PKG RSCM. Depkes RI. Buku Pedoman Deteksi Dini. Jakarta: 2000. Depkes RI. Buku Panduan Penanganan Korban. Panduan Penatalaksanaan Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) Dan Kekerasan Terhadap Anak (KTA) Di RS Jakarta. Jakarta: 2005. Jakarta: 2005. xix + 600 hal. . . IDI dan UNICEF . IDI dan UNICEF . .Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan 67 DAFTAR PUSTAKA . Buku Pandangan Tatalaksana Penganiayaan Dan Penatalaksanaan Anak. Buku Pedoman Deteksi Dini. . Depkes RI. Buku Pedoman Penanganan Pengaduan Dan Pelayanan Perlindungan Anak. Perempuan di Tingkat Pelayanan Dasar. Understanding Generalist Practice. Hull. Informasi Kesehatan Reproduksi. Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap . Jakarta: 2007 Ikatan Dokter Indonesia. Depkes RI. . Krist-Ashman. Pusat Krisis Terpadu (PKT) RSUPNCM. . Jakarta: 2003. Pelaporan Dan Rujukan Kasus Kekerasan Dan Penelantaran Anak Bagi Tenaga Kesehatan – Panduan Bagi Fasilitator. Jakarta: 2001. Karen K. . Jakarta: 2006. Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Grafton H. Pelaporan Dan Rujukan Kasus Kekerasan Dan Penelantaran Anak Bagi Tenaga Kesehatan – Bahan Bacaan. PKG RSCM. . Nelson Hall. Inc: 1993. .

LAMPIRAN .

... Keadaan korban lebih berat / ringan / sama dengan keadaan sekarang.......... Penganiayaan menggunakan / tidak menggunakan benda tajam / senjata...... .................................................... . ..... Pelaku kekerasan adalah orang yang sama / tidak sama............................... ................................................... Jam : ....DRAFT KOP PUSKESMAS REKAM MEDIS KEKERASAN TERHADAP ANAK Propinsi Kabupaten Kecamatan Puskesmas Terdaftar tanggal / jam Nomor terdaftar : : : : : : IDENTITAS KORBAN Nama Nama ayah / ibu Jenis kelamin Umur Agama Alamat Desa Kabupaten / Kota Pekerjaan : : : : : : : : : RT : RW : Cara penemuan : Diantar keluarga / teman Datang sendiri Diantar pamong / guru Diantar petugas kemanan / Polsek Lain ....................... ............ ........... ........ Ada / tidak ada keluarga korban yang lain ikut menganiaya...................................................................................... Ada / tidak ada keluarga korban yang lain ikut dianiaya....................lain Keterangan : Riwayat Kejadian : ..... Pernah / tidak pernah mengalami tekanan psikologi oleh pelaku kekerasan............................................ Bulan : ................................ ......... Riwayat sebelumnya / dahulu (beri lingkaran pada apa yang dialami) : Pernah / tidak pernah mengalami hal seperti ini.... Keadaan Umum Kesadaran Status Gizi / Ciri Korban ...................................................................................................................................................... ...................................... Tahun : ............ KEADAAN SEKARANG ( Tanggal : ....... : : ...........................) Pemeriksaan : I.............

... Vulnus ~~~ ~~~ 4............................... Suhu ............ Refleks pupil : : : : : /Denyut Jantung : III............. Fraktur / retak 5...... Tanda Vital ....................... Tanggal ...... Tensi ... ............ Konstusio Serebri..... Nadi ............... Dokter Periksa NIP/NRPTT....II.......... .. Ekskoriasi /Laserasi 3..... Bulla / luka bakar Kesimpulan Hasil Pemeriksaan : Korban diduga mengalami kekerasan ... Troaks.... Pernapasan .... Lukisan kelainan-kelainan pada gambar tubuh dengan gambar di bawah ini : 1...................... Abdomen 6.... ...... Hematom 2.......

.......................................... Pelapor............................................. Tempat puskesmas : ........................................................................................................ Tahun ...................................................................................................................................................................................................... : .................................................................................................................................................................... tahun : ........................ kali Kejadian ini adalah kejadian yang ke Jumlah kejadian sebelumnya dalams atu bulan terakhir Jumlah kejadian sebelumnya dalam enam bulan terakhir Jumlah kejadian sebelumnya dalam satu tahun terakhir Identitas pelaku (jika ketahuan) Nama : .................................................................................................................................................. : ............................................................................................................................................ (hari.... Derajat Luka : ringan / sedang / berat Tindakan yang sudah dilakukan di puskesmas : ......... ........................................................................ Agama : ......................... ... Suku bangsa : .............................. Alamat/Tlp: .............................................................................................................. ...................................................................................................... Nama : ...................... : .................................... : Belum kawin / kawin / hidup / hidup bersama / berpisah / cerai : ................ : .............. Deskripsi luka : ................................................................................... Umur : ........................................................................................................ Jabatan : .................................................................................................................................. : ............... .................... jam) : Dipukuli / ditampar / ditusuk / dibenturkan / lainnya : Ya / tidak Jika “Ya” ............................................ sebutkan : .......... Tanggal merujuk : ...................................................................... Tanggal periksa : ................................................................... kali : ........................................................................................................................................................... ...................................................................................... Puskesmas: ............. tanggal............................................... orang : Penganiayaan / pemerkosaan / pencabulan / pelecehan seksual : ............................................................................KOP PUSKESMAS Tanggal mendaftar : ............. kali : ............................................. ......... : .................................................................................................................................................................................................................................................. Nomor Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Status Pernikahan Lama hubungan Jumlah anak Jenis kasus Waktu kejadian Bentuk perilaku Menggunakan senjata : ................................................................ : . Jenis kelamin: L / P Hubungan dengan klien : ........... Dirujuk ke : .. : ......................................................... Jam periksa : ................................................................. .................................................................................................................................................................................................................................................................................. Pekerjaan : .... Telepon : ..............................................................................................

....................... Dokter Yang Merawat ( ) Catatan : Lembar 1 untuk Rifka Annisa WCC (LSM) Lembar 2 untuk Arsip .......... Mohon bantuan untuk penanganan lebih lanjut bagi Nama : Umur : Alamat : Masalah / Kasus : Hasil pemeriksaan : Pertolongan yang telah diberikan : Bantuan lebih lanjut yang diharapkan : Atas perhatian dan kerjasamanya yang baik............... : Rujukan Kepada Yth: Rifka Annisa WCC (LSM) Di ............................ ....... Tanggal ................. ........................ Dengan hormat........................KOP PUSKESMAS Ha.............................. ...................... Kami ucapkan terima kasih...................