Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS DIARE DAN DISPEPSIA

Disusun Oleh :

Fahmi Rusnanta Elfikri Asril Anggia Widyasari Dea Adena Ambartyas Niken Fauzi Agung Jason Hugh Untario

0806323946 0806323933 0806323744 0806323864 0706258630 0706259091 0606138934

Narasumber : dr. Kaka Renaldi, SpPD dr. Wawaimuli Arozal

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA 2013

SURAT PERNYATAAN Kami yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa tugas Presentasi Kasus Diare dan Dispepsia ini kami susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Indonesia. Jika di kemudian hari ternyata kami melakukan tindakan plagiarisme, kami akan bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Universitas Indonesia kepada kami.

Jakarta, 28 Maret 2013

Fahmi Rusnanta

Elfikri Asril

Anggia Widyasari

Dea Adena

Ambartyas Niken

Fauzi Agung

Jason Hugh U

BAB I PENDAHULUAN

Buang air besar dengan tinja yang berbentuk cair atau setengah cair, kandungan air tinja lebih banyak daripada biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam disebut diare. Definisi lain memakai kriteria frekuensi yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Dispepsia menggambarkan keluhan atau kumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, sendawa dan rasa panas yang menjalar di dada. Semua keluhan tersebut didasari oleh berbagai penyakit. Diare dan dispepsia merupakan keluhan yang sering membawa pasien hingga berobat ke pelayanan kesehatan khususnya di Indonesia. Tidak hanya pada anak-anak, diare dan dispepsia ini sering pula terjadi pada pasien usia dewasa maupun lanjut usia, mulai dari gejala yang ringan hingga yang mengancam nyawa. Atas dasar tersebut, setiap praktisi bidang kesehatan haruslah memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam menangani kasus diare dan dispepsia ini. Makalah kasus ini membahas mengenai kasus penyakit khususnya dispepsia dan diare. Diharapkan melalui sajian kasus ini para penulis serta mahasiswa lainnya dapat meningkatkan pengetahuan serta memiliki gambaran mengenai pendekatan etiologi, diagnosis, dan menatalaksana pasien secara komprehensif.

BAB II ILUSTRASI KASUS

Identitas Nama Jenis kelamin Tanggal lahir Usia Alamat Agama Perkawinan Pekerjaan No. RM : Ny. SA : Perempuan : 17 Mei 1957 : 55 Tahun : Kampung Jembolan RT 003/002 : Islam : menikah : Ibu Rumah Tangga : 01118834

Tanggal Pemeriksaan : 14 Maret 2013

Anamnesis (autoanamnesis) Keluhan Utama: Buang air besar cair sejak 18 jam SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang: Sejak 18 jam sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh BAB cair 10 kali. Awalnya BAB terdapat ampas namun kemudian didominasi cairan, setiap BAB setengah gelas aqua, berwarna kuning, tidak terdapat lendir, tidak terdapat darah, dan tidak berbau. Selain itu, pasien juga mengeluhkan muntah 5 kali sejak 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Muntah didahului oleh mual, berisi air dan makanan yang baru dimakan, tidak terdapat muntah berwarna hijau, dan tidak terdapat muntah bercampur darah. Muntah timbul sewaktuwaktu terutama bila pasien makan. Pasien juga merasa perutnya begah. Selama di rumah, pasien tidak minum obat-obatan, hanya minum daun jambu namun tidak membaik. Pasien merasa lemas dan haus (masih banyak minum), tidak ada penurunan kesadaran, penurunan berat badan tidak diketahui. Saat di IGD RS.Persahabatan, pasien merasa haus dan lemas, tidak ada penurunan kesadaran, BAK diakui berkurang (hanya 2x dalam sehari), volume sedikit, dan warna urin menjadi lebih kuning pekat. 3

Sejak dua hari sebelum masuk rumah sakit pasien mulai merasa tidak enak badan. Terdapat demam yang dirasa tidak terlalu tinggi (suhu tidak diukur), demam dirasa timbul mendadak, demam tidak berpola, tidak di beri pengobatan apapun. Keluhan keluar air dari telinga, batuk, pilek, sesak napas, nyeri saat berkemih, berpergian keluar kota, makan/jajan sembarangan, kontak dengan genangan air atau kebanjiran, minum antibiotik jangka waktu lama, keluarga dengan keluhan serupa semua disangkal oleh pasien. Selama dalam perawatan pasien diberikan cairan RL 500 cc/6 jam, insulin, captopril 3 x 25 mg, omeprazol 2x20 mg, dan domperidon 3x10 mg. Saat ini, keluhan BAB cair sudah berkurang menjadi 2 kali sehari dengan isi yang didominasi oleh ampas, berwarna kuning, tidak terdapat darah maupun lendir, setiap BAB setengah gelas aqua. Keluhan mual dan muntah sudah tidak dirasakan pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat hipertensi, DM, asma, alergi, kuning, dan jantung disangkal, riwayat operasi saluran cerna disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat hipertensi, jantung dan DM pada keluarga disangkal.

Riwayat Sosial, Ekonomi, dan Kebiasaan Pasien seorang ibu rumah tangga yang terkadang membuat kerajinan tangan bersama warga sekitar rumah. Pasien tinggal bersama kedua anaknya di kawasan padat penduduk. Pasien mengaku jarang makan makanan dari luar dan selalu memasak sendiri. Sumber air minum dari air minum isi ulang.

Pemeriksaan Fisis (14 Maret 2013)

Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu

: Tampak sakit ringan : compos mentis : 120/80 mmHg : 88 x/menit, reguler, kuat, isi cukup. : 36,50 C aksila

Pernapasan Berat badan Tinggi badan IMT Keadaan gizi Kepala Rambut Kulit Mata

: 18 x/menit, reguler, kedalaman cukup : 58 kg : 154 cm : 24,47 kg/m2 : over weight : normosephal, tidak ada deformitas, tidak ada nyeri tekan : hitam, penyebaran merata, tidak mudah dicabut : kuning langsat, turgor kulit baik : tidak tampak cekung, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, refleks cahaya langsung dan reflex cahaya tidak langsung positif

Telinga

: liang telinga lapang, tidak terdapat serumen maupun sekret, tidak ada nyeri tekan tragus dan mastoid, kedua membran intak dan refleks membran timpani pasotif

Hidung Tenggorokan Gigi dan mulut

: tidak ada deformitas, tidak ada sekret, konka tidak hiperemis : faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tidak hiperemis : mukosa mulut basah, oral hygiene baik, tidak terdapat stomatitis, gigi bolong maupun gigi tanggal

Leher Paru :I

: tidak teraba pembesaran KGB dan kelenjar tiroid, JVP 5-2 cmH2O : tidak tampak sesak, pergerakan dinding dada simetris saat statis dan dinamis P : ekspansi dinding dada kanan sama dengan kiri, fremitus kanan sama dengan kiri P A : sonor dikedua lapang paru : vesikuler, tidak terdapat ronki dan wheezing : iktus kordis tidak terlihat : iktus kordis teraba pada sela iga 4-5 linea midklavikula kiri, tidak teraba heaving, tapping, thrilling, lifting P : batas jantung kanan sela iga 4 linea sternalis kanan, batas jantung kiri sela iga 5 linea midklavikula kiri, pinggang jantung pada sela iga 3 linea parasternalis kiri A : bunyi jantung I-II normal, murmur dan gallop tidak ada : datar, tidak ada venektasi, tida ada massa : lemas, tidak ada nyeri tekan, hepar dan limpa tidak teraba, ballotement negatif, turgor cukup 5

Jantung

:I P

Abdomen

:I P

P A Punggung :I P P A Alat kelamin Anus Ekstremitas

: timpani, shifting dullnes negatif : bising usus normal 8x/menit : tidak terdapat deformitas dan massa : ekspansi kanan simetris kiri, fremitus kanan sama dengan kiri : sonor/sonor : vesikuler, tidak terdapat ronki dan wheezing : tidak diperiksa : tidak diperiksa : akral hangat, CRT < 2, tidak ada edema

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium (14 Maret 2013) Hemoglobin Hematokrot Eritrosit Trombosit MCV MCH MCHC RDW-CV : 13,8 g/dL : 38% : 4,63 juta : 383.000 : 82,3 fl : 29,8 % : 36,2 % : 13,1% Leukosit Neutrofil Limfosit Monosit Eosinofil Basofil : 14020 : 87,7% : 10% : 2,1 % : 0,0 % : 0,2 %

Kimia Klinik GDS Na K Cl : 122 g/dL : 136 : 2,9 : 103 Ur Cr Aseton : 17 : 0,6 : negatif

Laboratorium (15 Maret 2013) Protein total Albumin Globulin SGOT SGPT : 7,3 g/dL : 4,3 g/dL : 3 g/dL : 20 u/L : 31 u/L

Ringkasan Pasien perempuan usia 55 tahun, perawatan hari ke-4, mengeluh BAB cair sejak 18 jam SMRS tidak berlendir dan tidak berdarah dengan frekuensi yang berkurang selama perawatan dari 10x/hari menjadi 2x/hari. Keluhan disertai muntah yang diawali mual, perut terasa begah, muntah berisi makanan dengan frekuensi 5x/hari, setelah perawatan keluhan muntah tidak ada. Pada pemeriksaan fisis tanda vital dan status generalis dalam batas normal, tidak dijumpai tanda dehidrasi. Dari pemeriksaan laboratorium didapat leukositosis, dan hipokalemia.

Daftar Masalah 1. Gastroenteritis akut perbaikan 2. Dyspepsia perbaikan 3. Hipokalemia

Pengkajian 1. Gatroenteritis Akut Perbaikan Atas dasar : Anamnesis : frekuensi BAB cair yang berkisar 10 x/hari berkurang menjadi 2x/hari. Konsistensi yang mulanya didominasi cairan, menjadi didominasi ampas, BAB berwarna kuning, tidak berlendir maupun berdarah. Pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan tanda-tanda dehidrasi seperti mata cekung, mukosa mulut kering dan turgor kulit menurun. Tidak ditemukan tanda hiperperistaltik usus, yaitu pada pasien bising usus normal. Dari hasil laboratorium didapatkan leukositosis yang mungkin disebabkan oleh inflamasi pada gaster atau usus halus. Rencana pemeriksaan Rencana terapi Nonfarmakologi :Edukasi mengenai penyakit Edukasi untuk banyak minum seperti sari buah, teh, dan makan makanan mudah cerna seperti pisang, dan sup. Hindari konsumsi minuman bergas, beralkohol dan kafein Diet lunak 1700 kkal Farmakologi : IVFD NaCl 0,9% 500cc/6 jam 7 : Kultur tinja

Diatab (atapulgite) 2 tablet tiap BAB cair

2. Dyspepsia perbaikan Atas dasar: Anamnesis : pada awal keluhan berupa mual, muntah, nyeri ulu hati, perut terasa begah, meskipun saat ini sudah tidak dikeluhkan lagi. Rencana diagnostik Rencana Terapi nonfarmakologi :edukasi untuk menghindari makanan dan minuman :-

bergas, asam, pedas dan beralkohol, serta mengandung kafein farmakologi :Omeprazole (PPI) 2x20mg PO Domperidon (antiemetic) 3x10 mg PO

3. Hipokalemia Atas dasar pemeriksaan elektrolit darah kalium pasien sebesar 2,9 (normal 3,55,5). Dipikirkan hipokalemi akibat hilangnya elektrolit karena diare dan muntah. Rencana diagnosis Rencana terapi Nonfarmakologi pisang Farmakologi Kesimpulan Perempuan usia 56 tahun hari perawatan ke-4 datang dengan keluhan BAB cair sejak 18 jam sebelum masuk rumah sakit. Dengan diagnosa saat ini gastroenteritis akut perbaikan, dispepsia perbaikan dan hipokalemia. Pasien mendapat pengobatan atalpugite, domperidon dan omeprazole. Pada pasien direncanakan untuk pulang. Prognosis Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : bonam : bonam : bonam 8 : Kalium oral 40-60 meq : edukasi untuk makan makanan tinggi kalium seperti : cek elektrolit ulang pasca terapi

BAB III PEMBAHASAN


1. Diare Akut Diare didefinisikan sebagai buang air besar dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair, kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Pada definisi lain, diare diartikan sebagai buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari.1 Pengklasifikasian diare dapat didasarkan atas beberapa hal yaitu : Lama waktu diare : akut atau kronik Mekanisme patofisiologis : osmotic atau sekretorik Berat ringan diare : kecil atau besar Penyebab infeksi atau tidak Organic atau fungsional Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines 2005 diare akut merupakan pasase tinja yang cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari. Diare akut dapat disebabkan oleh banyak penyebab, seperti yang terangkum dalam table di bawah ini.1

Patogenesis Diare Akut Factor utama yang berperan dalam terjadinya diare akut yaitu factor pejamu (host) dan factor kausal (agent). Factor pejamu adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap organism yang dapat menimbulkan diare akut sedangkan factor kausal yaitu daya pentrasi yang dapat merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin, dan daya lekat kuman. Pathogenesis diare karena infeksi bakteri/parasit teridiri atas1 : Diare karena bakteri non invasive (enterotoksigenik) Bakteri yang tidak merusak mukosa missal ETEC dan C.perfringens. bakteri bakteri tersebut menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan kgiatan berlebihan nikotinamid adenine dinukleotid pada dinding sel usus, sehingga meningkatkan kadar adenosine 3,5-siklik monofosfat (siklik AMP) dalam sel yang menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam lumen yang diikuti oleh air, ion bikarbonat, kation natrium dan kalium Diare karena bakteri/parasit invasive (enteroinvasif) Antara lain salmonella, shigella dan EIEC. Diare disebbakan oleh kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi. Diare bersfiat sekretorik eksudatif. Tabel Korelasi antara Patogenesis dan Gejala Diare Infeksi

10

Diagnosis Evaluasi pasien diare akut terangkum dalam algoritme berikut:

Penatalaksanaan pada diare akut antara lain : Rehidrasi Rehidrasi berdasarkan pada keadaan umum pasien. Apabila keadaan umum pasien baik, tidak ada dehidrasi, maka asupan cairan dapat dicapai dengan minuman ringan, sari buah, sup dan keripik asin. Pasien dengan dehidrasi ditatalaksana dengan pemberian ciran intravena atau rehidrasi oral dengan cairan elektrolit. Prinsip menentukan jumlah cairan yang akan diberikan dapat berdasarkan beberapa metode yaitu BJ plasma, metode pierce, dan metode Daldiyono.

Diet Pasien tidak dianjurkan puasa, kecuali muntah muntah hebat. Pasien dianjurkan untuk minum seperti sari buah, teh, dan makan makanan mudah cerna seperti pisang, dan sup. Hindari konsumsi minuman bergas, beralkohol dan kafein.

11

Obat anti-diare Obat yang paling efektif adalah derivate opioid yaitu loperamide, difenoksilat-atropin dan tinktur opium. Loperamid lebih disukai karena tidak adiktif dan memiliki efek samping kecil. Jenis obat lain yaitu obat yang mengeraskan tinja (misalnya atapulgite 4x2 tab/hari), dan obat anti sekretorik misalnya hidrasec 3x1 tab/hari.

Obat antimikroba Pengobatan empiric tidak dianjurkan untuk semua pasien karena kebanyakan pasien memiliki penyakit yang ringan. Pengobatan empiric diindikasikan untuk pasien yang diduga mengalami infeksi bakteri invasive, diare turis (travelers diarrhea), atau imunosupresif. Obat pilihannya yaitu kuinolon (missal ciprofloksasin 500 mg 2x/hari selama 2-7 hari). Metronidazol 250 mg 3x/hari selama 7 hari diberikan bagi yang dicurigai giardiasis.

Pada pasien ini dipikirkan mengalami diare akut karena pasien memiliki keluhan BAB cair lebih dari 3 kali/hari yang berlangsung 2 hari. Diare akut pada pasien ini dipikirkan akibat infeksi, atas dasar : o Keluhan pasien yaitu bab cair yang disertai dengan keluhan nausea, muntah, nyeri abdomen, demam, dan frekuensi defekasi yang sering mengarah ke karakteristik keluhan diare akibat infeksi. o Kemungkinan penyebab diare lain dapat disingkirkan melalui anamnesis yaitu pasien tidak memiliki penyakit imunodefisiensi, pasien tidak sedang mendapat terapi anitibiotik atau kemoterapi sebelumnya, pasien tidak memiliki riwayat operasi saluran cerna, tidak ada riwayat alergi susu atau makanan tertentu, tidak ada gangguan malabsorpsi karbohidrat, tidak ada riwayat makan atau jajan sembarangan sebelum diare.

Diare akut pada pasien ini dipikirkan akibat infeksi enteral atas dasar tidak terdapat tanda tanda infeksi parenteral pada pasien ini yaitu tidak ada nyeri telinga dan otorea (otitis media akut) dan tidak ada batuk, pilek, sesak napas (pneumonia).

Diare akut pada pasien ini dipikirkan akibat infeksi bakteri non-invasif atas dasar : o Keluhan pasien yang terdapat bab cair dengan frekuensi mencapai 10 kali/hari, konsistensi cair dan tidak berdarah, disertai mual dan muntah yang mencapai 5 kali/hari, nyeri abdomen, serta demam yang tidak terlalu menonjol mengarah pada karakteristik diare infeksi akibat organism penghasil toksin (noninvasif) seperti 12

yang tercantum dalam table korelasi pathogenesis dan gejala diare infeksi. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya leukositosis dan netrofilia (87,7).

Berbeda dengan diare akibat infeksi organism invasive dimana keluhan demam dan nyeri abdomen lebih menonjol dibanding mual dan muntah.

Berdasarkan korelasi gejala dan penyebab diare infeksi, kemungkinan bakteri penyebab diare pada pasien ini adalah ETEC, s. aureus, c. perfringens, vibrio cholera, klebsiella pneumonia. C. perfringens dapat disingkirkan karena pasien tidak memiliki riwayat keracunan makanan, vibrio cholera disingkirkan karena diare tidak seperti cucian beras, Kemungkinan bakteri yang menginfeksi pasien ini adalah

enterotoksigenic e coli (ETEC). Pasien mendapat terapi rehidrasi dengan cairan isotonic. Saat ini pemasangan IVFD pada pasien untuk pemberian cairan maintenance. Kebutuhan cairan maintenance pasien berdasarkan rumus holiday hegar sebesar 128 cc/jam. Dengan ditambah intake oral yang sudah membaik pemberian IVFD NaCl 0,9% 500 cc/6 jam sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan cairan tersebut dan akan segera dilepas. Pasien tidak mendapat terapi antibiotic karena tidak semua diare membutuhkan pengobatan empiric. Pengobatan empiric diindikasikan pada pasien yang mengalami infeksi bakteri invasive, diare turis, atau imunosupresif. Pada pasien ini, terbukti

13

selama perawatan diare berkurang, serta keluhan nyeri perut, mual muntah juga mereda.

2. Dispepsia Dispepsia merupakan suatu sindroma atau kumpulan gejala yang terdiri atas nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati, kembung, mual, muntah, sendawa, perasaan cepat kenyang, perut terasa penuh atau begah. Oleh karena itu, dispepsia bukanlah merupakan sebuah penyakit, melainkan sesuatu yang memiliki penyebab dibaliknya.2,3 Etiologi dari dispepsia bermacam-macam yaitu adanya gangguan atau penyakit dalam lumen saluran cerna, seperti tukak gaster/duodenum, gastritis, tumor, dan infeksi H. pylory. Beberapa penyakit di luar system gastrointestinal dapat pula bermanifestasi dalam bentuk sindrom dyspepsia seperti gangguan kardiak, penyakit tifoid, dan sebagainya. Selain itu, beberapa obat-obatan juga dapat menyebabkan sindrom dispepsia ini timbul. Obat-obatan yang dapat menyebabkan timbul sindroma dispepsia, antara lain, obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS), aspirin, beberapa jenis antibiotic, digitalis, teofilin, dan masih banyak lagi. Penyakit pada hati, pankreas, dan sistem bilier pun dapat menyebabkan terjadinya sindroma dispepsia. Penyakit sistemik yang dapat menyebabkan sindroma dispepsia, antara lain diabetes mellitus, penyakit tiroid, penyakit jantung koroner. Sindroma dispepsia juga dapat bersifat fungsional dimana tidak ditemukannya kelainan organik pada pasien2.

14

Pada pasien ini dipikirkan mengalami dyspepsia Karena terdapat keluhan mual, muntah, nyeri perut, dan begah. Diduga dyspepsia yang dialami pasien diakibatkan oleh gastroenteritis akut. Pasien mendapat pengobatan untuk dyspepsia ini berupa omeprazole (proton pump inhibitor)2x20 mg, dan antiemtik domperidon 3x10 mg untuk meringankan gejala.

3. Hipokalemia Kalium merupakan kation yang memiliki jumlah yang sangat besar dalam tubuh dan terbanyak berada di intrasel. Kalium berfungsi dalam sintesis protein, kontraksi otot, konduksi saraf, pengeluaran hormone, transport cairan, perkembangan janin. Kadar kalium dalam plasma normalnya berkisar antara 3,5-5 meq/L. Kadar kalium dibawah 3,5 disebut hipokalemia sedangkan diatas 5 disebut hiperkalemia. Kedua keadaan ini dapat menyebabkan kelainan irama jantung (artimia). Penyebab hipokalemia dapat dibagi menjadi4: asupan kalium yang kurang pengeluaran kalium yang berlebihan melalui : o saluran cerna, misalnya pada keadaan muntah, diare atau pemakaian pencahar o ginjal, misalnya pada pemakaian diuretic, kelebihan hormon

mineralokortikoid primer/hiperaldosteronisme primer. o Keringat, misalnya terjadi bila dilakukan latihan berat yang panas sehingga produksi keringat mencapai 10 L. kalium yang masuk ke dalam sel, dapat terjadi pada alkalosis ektrasel, pemberian insulin, peningkatan aktivitas beta-adrenergik, dan hipotermia. Koreksi hipokalemia4 Indikasi mutlak, pada keadaan pasien sedang dalam pengobatan digitalis, pasien dengan ketoasidosis diabetic, pasien dengan kelemahan otot pernapasan, pasien dengan hipokalemia berat (K<2 meq/L) Indikasi kuat, kalium harus diberikan dalam waktu tidak terlalu lama yaitu pada keadaan insufisiensi koroner/iskemia otot jantung, ensefalopati hepatikum, pasien memakai obat yang dapat menyebabkan perpindahan kalium dari ekstra ke intrasel. Indikasi sedang, pemberian kalium tidak perlu segera seperti pada hipokalemia ringan (antara 3-3,5 meq/L).

15

Pemberian kalium lebih disenangi dalam bentuk oral oleh karena lebih mudah. Pemberian 4060 meq dapat menaikan kadar kalium sebesar 1-1,5 meq/L, sedangkan pemberian 135-160 meq dapat menaikan kadar kalium sebesar 2,5-3,5 meq/L. Pemberian kalium intravena dalam bentuk KCl disarankan melalui vena yang besar dengan kecepatan 10-20 meq/jam. KCl dilarutkan sebanyak 20 meq dalam 100 cc NaCl isotonik. Bila melalui vena perifer, KCl maksimal 60 meq dilarutkan dalam NaCl isotonic 1000 cc, sebab bila melebihi ini dapat menimbulkan rasa nyeri dan dapat menyebabkan sklerosis vena. Pasien ini mengalami hipokalemia ringan (K 2,9) akibat diare dan muntah yang dialaminya. Tatalaksana pada pasien ini diberikan edukasi tentang diet yang mengandung banyak kalium contohnya pisang. Kemudian, diberikan kalium oral 40-60 meq sesuai dengan teori dimana pemberian kalium oral lebih mudah dan dengan dosis 40-60 meq dapat meningkatkan kadar kalium sebesar 1-1,5 meq/L.

Obat-obatan yang diberikan pada pasien

1. DOMPERIDON Indikasi :

Pengobatan simtomatik untuk gangguan motalitas saluran cerna bagian atas :

Kontraindikasi -

Hipersensitivitas Perdarahan gastrointestinal, obstruksi atau perforasi Prolactin-releasing pituitary tumor

Mekanisme kerja : Antiemetik agents dan prokinetic agents Efek antiemetik ini disebabkan oleh blocking reseptor dopamin periferal. Selain itu juga meningkatkan peristalsis esofagus dan meningkatkan tekanan sfingter esofagus. meningkatkan motalitas dan peristalsis lambung, juga meningkatkan koordnasi gastroduodenal. Eksresi Menyiapkan pengosongan lambung dan menurunkan waktu transit pada usus halus : feses 66%, urin 31% 16

Metabolisme Peak plasma time Half time eliminasi

: melalui hepar dengan N-deakylation (CYP3A4) dan hydroksilasi. : 30 menit : 7 jam. 5

2. OMEPRAZOLE

Merupakan golongan penghambat pompa proton yang berguna menghambat sekresi asam lambung. Obat ini membutuhkan suasana asam untuk aktivasinya. Produksi asam lambung dapat menurun 80%-90%. Hambatan ini bersifat ireversibel, produksi asam baru dapat kembali terjadi setelah 3-4 hari pengobatan dihentikan. Obat ini dimetabolisme di hati oleh sitokrom P450 (CYP) terutama CYP2C19 dan CYP3A4. Indikasi obat ini pada orang dengan tukak peptik. Efek samping yang terjadi umumnya berupa mual, nyeri perut, konstipasi,n dan diare. Interaksi obat pada PPI mempemgaruhi eleminasi beberapa obat antara lain dengan warfarin, diazepam, dan siklosporin. Omeprazol menghambat aktivitas enzim CYP2C19 sehingga menurunkan klirens disulfiram dan fenitoin. Selain itu omeprazole juga meningkatkan klirens imipramin, obat antipsikotik, teoilin dan takrin. 6

3. DIATAB (ATTALPUGITE)

Merupakan obat antidiare yang bekerja dengan cara mengabsorbsi cairan dari usus dan mengurangi cairan dalam feses. Attapulgite merupakan magnesium alumunium silicate. Lama kerja 12-15 jam. Efek samping yang sering dikeluhkan dispepsia, konstipasi ringan, dan mual. Kontraindikasi pemberian obat ini terutama pada hipersensitivitas, obstruksi usus, demam tinggi, disentri, terdapat darah dalam feses, gout, hemofili. 5

Berdasarkan obat-obat yang diberikan kepada pasien, tidak ditemukan adanya interaksi yang signifikan.

17

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan Perempuan usia 56 tahun hari perawatan ke-4 datang dengan keluhan BAB cair sejak 18 jam sebelum masuk rumah sakit. Dengan diagnosa saat ini gastroenteritis akut perbaikan, dispepsia perbaikan dan hipokalemia. Selama perawatan keluhan membaik dengan pemberian obat obat atalpugite, proton pump inhibitor dan domperidon. Tidak terdapat interaksi yang signfikan antar obat yang diberikan pada pasien ini.

Prognosis Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : bonam : bonam : bonam

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Simadibrata M, Daldiyono. Diare Akut dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi V. Jakarta: InternaPublishing, 2009. Hal 548-56. 2. Djojoningrat A. Dispepsia fungsional dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Edisi V. Jakarta: Interna Publishing 2009.hal 529-31 3. Talley NJ, Vakil M. Guidelines for The Management of Dyspepsia in American Journal of Gastroenterology.Blackwell Publishing, 2005. pg 2334-7. Avaiable from

http://s3.gi.org/physicians/guidelines/dyspepsia.pdf 4. Siregar P. Gangguan kesimbangan cairan dan elektrolit dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Edisi V. Jakarta: Interna Publishing 2009.hal 181-82 5. Drugs in Medscape. Diunduh dari http://reference.medscape.com/drug/ pada tanggal 27 maret 2013 pukul 21.00 wib
6. Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, Eysabth. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5.

Jakarta:Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2007.

19