Anda di halaman 1dari 32

KETAHANAN TANAMAN TERHADAP PENYAKIT

Salah satu cara untuk menanggulangi kerugian tanaman yang disebabkan oleh penyakit adalah dengan melalui ketahanan genetik. Ketahanan genetik merupakan salah satu cara pengendalian penyakit tanaman yang sudah sejak lama dipergunakan orang. Sejak berabad-abad yang lalu para petani tanpa disadari memperbaiki ketahanan tanaman mereka dengan cara memilih tanaman-tanaman yang terbaik untuk kemudian digunakan sebagai bibit atau benih ditahun berikutnya.

MEKANISME KETAHANAN PENYAKIT PADA TANAMAN

Apabila suatu spora cendawan tiba pada permukaan tanaman pada kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi perkecambahan spora dan perkembangan selanjutnya , maka ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi.

1.Tidak terjadi hubungan antara tanaman dan parasit.


Pada tanaman-tanaman tertentu tampaknya parasit tidak mempunyai pengaruh. Jika spora berkecambah maka tabung kecambah tidak menembus tanaman inang dan parasit akan mati setelah persediaan makanan dalam spora habis terpakai. Tanaman demikian disebut tanaman bukan inang .

2. Tanaman antagonistik terhadap parasit.


Banyak jenis-jenis tanaman yang mengandung senyawa yang dapat mencegah parasit untuk menginfeksinya.

Contoh : Akar dari tanaman Crucifera mengandung senyawa yang dapat mencegah telur jenis nematoda tertentu dari menetas. Daun dari jenis tanaman tertentu juga mengandung senyawa phenolik yang dapat menghambat perkembangan parasit tertentu. Pada keadaan yang demikian ini parasit tidak mempunyai pengaruh nyata terhadap tanaman, tetapi tanaman mengandung bahan-bahan yang sifatnya antagonistik terhadap patogen.

3. Patogen antagonistik terhadap tanaman.


Beberapa jenis cendawan seperti Periconia circinata dapat hidup di tanah sebagai saprofit atau parasit lemah pada superficial dari akar tanaman. Cendawan ini menghasilkan suatu toxin ( periconin ) yang mengakibatkan penyakit pada kultivar sorghum yang peka. Ketahanan sorghum terhadap penyakit ini dihubungkan dengan ketidak pekaan terhadap periconin. Oleh karena itu terdapat kemungkinan bahwa ada

Organisme yang dapat berperan sebagai patogen tetapi tidak berfungsi sebagai parasit. Mereka dapat menyebabkan penyakit pada tanaman tetapi tidak mengambil atau mendapat keperluan nutrisinya langsung dari jaringan tanaman. 4. Antagonisme timbal balik antara tanaman dan patogen. Beberapa kombinasi tanaman inang patogen dapat mengakibatkan antagonisme timbal balik antara tanaman dan patogen. Sebagai contoh : ada jenis patogen yang menyebabkan reaksi hypersensitive pada tanaman inang di mana sel-sel tanaman menjadi nekrotik. Kehadiran dari reaksi hypersensitive itu tampaknya menghambat perkembangan patogen dan tidak jarang sebagai akibatnya patogen mati karena terisolasi.

5. Penyesuaian timbal balik antara tanaman dan patogen. Ada pula kombinasi antara tanaman dan patogen yang mengakibatkan terjadinya penyesuaian timbal balik atas kehadiran satu sama lain. Sebagai contoh : pada jenis jenis biotroph, patogen tidak segera mematikan tanaman inang, dan tampaknya tanaman inang memberikan tanggapan atas kehadiran patogen yang memungkinkan patogen untuk terus tumbuh dan berkembang biak. Kombinasi antara tanaman inang dan patogen seperti ini menunjukkan tipe infeksi peka.

Contoh hubungan antara tanaman dengan patogen

1. Tidak ada hubungan antara tanaman dan patogen.


Contoh : a. Spongospora subterrenea akibat kekebalan epidermis dan kutikula. b. Xanthomonas citri tidak dapat berkembang pada tanaman jeruk varietas Mandarin. c. Puccinia graminis tidak dapat berkembang akibat varietas gandum tahan. d. Streptomyces scabies tertahan akibat lenti sel tanaman inang.

2. Tanaman antagonistik terhadap parasit.


Contoh : a. Tanaman Chenopodium album, mengandung protein yang mempunyai berat molekul tinggi yang dapat menghambat aktivitas virus mosaik. b. Phytophthora infestans dapat dicegah dengan varietas kentang tahan yang mengeluarkan rishitin, lubinin dan phytotuberin. c. Monilinia fructicola dihambat oleh phytoalexin tanaman tertentu. d. Tanaman Phasseolus vulgaris terhadap cendawan karat dapat mengeluarkan : phaseolin, phaseolidin dan kieviton.

3. Patogen antagonistik terhadap tanaman.


Contoh : a. Cochliobolus victoriae mengeluarkan toxin victorin pada culticar oat. b. Alternaria sp. Mengeluarkan toxin alternaric acid. c. Pseudomonas tabaci mengeluarkan toxin wildfire pada tembakau. d. Fusarium sp. mengeluarkan toxin fusarial.

4. Antagonisme timbal balik antara tanaman dan patogen.


Contoh :

a. Puccinia recondita pada tanaman gandum. b. Puccinia graminis pada biji gandum yang sedang berkecambah. c. Cladosporium cucumerinum pada tanaman mentimun. d. Phytophthora infestans pada varietas kentang yang tahan.

5. Penyesuaian timbal balik antara tanaman dan patogen. Contoh : a. Bakteri Rhizobium. b. Mycorhiza. c. Patogen biotroph Phytophthora infestans. d. Venturia inaequalis.

Pada garis besarnya sistem kerja tanaman untuk menghalangi atau mencegah terjadinya infeksi oleh patogen dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1. Mekanisme ketahanan pasif. Mekanisme ketahanan pasif berhubungan dengan sifat fisik maupun kimia dari tanaman yang dapat mencegah patogen untuk masuk atau menginfeksi bagian-bagian tanaman.

2. Mekanisme ketahanan aktif . Mekanisme ketahanan aktif pada tanaman akan bekerja hanya setelah tanaman diserang oleh patogen

Tumbuhan tahan terhadap penyakit :


1. Tumbuhan mempunyai rintangan mekanis atau khemis. 2. Tumbuhan tersebut tidak cocok sebagai substrat patogen sebab kurangnya substansi yang dimiliki oleh tumbuhan yang diperlukan patogen. 3. Tumbuhan memiliki kedua hal tersebut diatas, untuk menahan patogen.

Rintangan mekanis terhadap infeksi.


Lapisan lilin dan kutikula. Permukaan lilin dan kutikula dapat mencegah permukaan tumbuhan dari kebasahan selama musim hujan , dan juga dapat mencegah beberapa bakteri , jamur untuk masuk jaringan , dan menempelnya spora pada permukaan tumbuhan.

Untuk bakteri patogen, kutikula merupakan rintangan mekanis . Namun untuk jamur kurang tepat.

Rintangan mekanis terhadap patogen


Lubang alami. Beberapa patogen tidak dapat masuk melalui stomata jika

stomatanya membukanya kecil. Pseudomonas citri hanya akan memasuki stomata yang terbuka lebar, hal ini yang menyebabkan mengapa jenis jeruk Mandarin lebih tahan dibanding jenis jeruk lainnya.

Kanopi tanaman.
Bentuk daun mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap efisiensi inokulum yang menempel pada permukaan daun. Daun yang berbentuk horizontal memang cocok untuk pengendapan spora.

Mekanisme pertahanan aktif yang banyak diteliti dewasa ini adalah pembentukan Fitoaleksin ( phytoalexin ). Fitoaleksin berasal dari kata Yunani, phyton yang berarti tumbuhan dan alexin yang berarti senyawa penangkal atau penangkis. Fitoaleksin adalah senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh jaringan inang sebagai tanggapan terhadap invasi patogen. Kapri ( Pisum sativum ) menghasilkan pisatin. Buncis ( Phaseolus vulgaris ) menghasilkan faseolin & faseolidin. Ubi jalar ( Ipomoea batatas ) menghasilkan ipomeamaron.

Macam macam ketahanan tanaman : 1. Ketahanan mechanis. Tanaman mempunyai struktur - struktur morfologis yang menyebabkan tanaman sukar mengalami infeksi dari patogen. Misal mempunyai epidermis yang berkutikula tebal, mempunyai stomata yang jumlahnya sedikit.

Wax : permukaan cuticle yang berlilin dapat mencegah permukaan tanaman menjadi basah pada waktu hujan. Dengan tidak adanya air maka spora cendawan tidak dapat berkecambah pada permukaan tanaman, juga patogen seperti bakteri dan nematoda tidak dapat berenang menuju titik-titik masuk pada tanaman. Mulut daun : Penyebab penyakit kanker pada tanaman jeruk ( Xanthomonas citri ), umumnya dapat masuk lewat mulut daun yang lebar pada tanaman jenis grapefruit yang peka, tetapi bakteri tersebut tidak mampu menginfeksi jenis mandarin disebabkan oleh struktur mulut daunnya yang lebih kecil atau sempit dibandingkan grapefruit

Diduga pula bahwa pada kultivar gandum yang tahan terhadap penyakit karat, hampir sepanjang siang hari mulut daunnya tertutup dan oleh karenanya dapat mencegah masuknya Puccinia graminis.

Lenti sel : lenti sel yang mengalami proses suberisasi dengan cepat diduga dapat mencegah masuknya patogen seperti Streptomyces scabies penyebab penyakit common scab pada tanaman kentang.

2. Ketahanan kimiawi.

Ketahanan kimiawi ini kurang banyak diketahui secara mendalam. Meskipun demikian pada umumnya orang percaya bahwa ketahanan kimiawi ini memegang peranan yang lebih penting dari pada macam ketahanan lainnya. Dalam beberapa hal pertahanan kimiawi telah lama diketahui. Misal Walker ( 1923 ) mengetahui bahwa Colletotrichum circinans tidak menyerang umbi lapis bawang ( onion ) yang mempunyai kulit luar kemerah-merahan atau kekuning-kuningan . Tapi jika kulit yang berwarna dihilangi, semua jenis bawang dapat diserangnya. Jika zat warna dari kulit berwarna tadi diekstrasi, ternyata jamur tidak dapat berkembang normal jika ditumbuhkan pada ekstrak tersebut, padahal jamur ini dapat tumbuh biasa dalam ekstrak bawang yang kulitnya putih.

Setelah dilakukan analisis diketahui bahwa substansi toksik tadi adalah asam protokatekuat ( protocatecuat acid ) dan katekol ( catechol ). Zat warna merah pada rosella merah ( Hibiscus sabdariffa ) menyebabkan tanaman tahan terhadap penyakit busuk kaki hitam ( Phytophthora parasitica ). Penyelidikan di Amerika menunjukkan bahwa ada korelasi antara kandungan riboflavin daun kacang tanah dengan ketahanannya terhadap penyakit becak daun ( Cercospora arachidicola ).

3. Ketahanan fungsional.
Seringkali tumbuhan tidak terserang oleh patogen , tetapi bukan disebabkan karena adanya struktur morfologi atau adanya zat-zat kimia yang menahan melainkan karena pertumbuhan yang sedemikian rupa sehingga dapat menghindari penyakit, meskipun tumbuhan itu sendiri sebenarnya rentan. Tumbuhan melewati fase rentannya pada saat tidak ada patogen atau pada waktu lingkungan tidak cocok untuk infeksinya. Ketahanan ini sering disebut ketahanan palsu.

Beberapa jenis tanaman membuka stomatanya dalam jangka waktu yang lebih pendek , hingga tanaman tampak lebih tahan terhadap parasit tertentu yang mengadakan infeksinya lewat stomata.

Klon tebu POJ 2967 tahan terhadap pokahbung, yang mengadakan infeksi melalui titik tumbuh karena daun mudanya tidak lama membentuk corong.

Ketahanan horisontal : ketahanan tanaman terhadap beberapa penyakit tetapi ketahanannya rendah. Ketahanan vertikal : ketahanan tanaman terhadap satu penyakit saja tetapi ketahanannya tinggi.

Pengukuran Penyakit

Pengukuran penyakit dapat dilakukan dengan menghitung jumlah atau persen tanaman sakit, atau organ sakit, atau jaringan sakit. Hal ini dilakukan bilamana tanaman sakit atau bagian tanaman sakit menyebabkan kehilangan hasil total, atau bilamana tanaman sakit memberikan kehilangan hasil yang sama dengan apabila sebagian tanaman sakit.

Jumlah tanaman / organ sakit Rumusnya : P = --------------------------------------- ------ X 100 % Jumlah keseluruhan tanaman / organ

Pengukuran penyakit dengan menghitung intensitas serangan, bilamana tingkat serangan berbeda pada bagian tanaman tersebut.

Menilai kerusakan karena penyakit di lapangan

Apabila kita datang di suatu daerah yang sedang terkena oleh sesuatu penyakit, sering kita mengalami kesukaran untuk menilai besarnya kerusakan yang yang ditimbulkqan oleh penyakit tadi. Sering pula kita lalu mengambil jalan mudah dengan cara menduga yang tidak dilandasi dengan suatu dasar yang dapat dipertanggungjawabkan atau secara kasarnya dapat dikatakan dengan menembak. Lalu diperoleh angka serangan 10 persen, 15 persen, 50 persen dan sebagainya. Adalah sangat ideal sekali , bila kita dapat menghitung dengan tepat besarnya kerusakan yang dialami oleh tanaman dengan mengadakan pengukuran-pengukuran , misalnya luas total dari bercak-bercak nekrotik pada daun dibandingkan dengan seluruh permukaan daun dari tanaman contoh. Tetapi hal ini kiranya sukar /tidak mungkin untuk dikerjakan dilapangan, karena terlalu banyak memakan waktu dan tenaga. Sehingga dicarikan jalan lain untuk keperluan penilaian kerusakan ini yang lebih praktis tetapi tidak menyimpang terlalu jauh dari kenyataan dan secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Suatu cara yang telah banyak digunakan untuk menilai penyakit di lapangan adalah dengan menggunakan metode estimasi yang didasarkan kepada ratings. Ratings ini biasanya dibagi dalam lima atau enam kelas. Pada dasarnya, klasifikasi ini dapat dibuat menurut peneliti masing-masing dengan pengertian , bahwa klasifikasi ini dapat digunakan untuk membedakan tingkat-tingkat serangan dengan diberi keterangan yang jelas mengenai tiap-tiap kategori dengan klasifikasi tersebut sehingga orang akan mengerti / memahami tiap-tiap kelas yang dimaksud. Dan klasifikasi dapat berlaku untuk daerah-daerah dan musim yang berlainan maupun bagi pengamat yang berbeda, selai itu harus sederhana dan mudah untuk dilaksanakan. Dalam hal ini diperlukan suatu pengalaman mengenai perkembangan gejala dari suatu jenis penyakit tertentu. Apakah klasifikasi ini dibagi menjadi 3, 4, 5, 6, ataupun 10 kategori, tergantung kepada keperluan dari masing masing pembuatnya ( peneliti ).

Yang digunakan dalam metode ini yaitu formula dari :

(nxv) P = ---------------- X 100 % ZxN P = persentase infeksi atau kerusakan disebut juga : indeks infeksi, indeks kerusakan, n = jumlah tanaman tiap kategori koefisien infeksi. v = harga numerik dari tiap kategori Z = harga numerik dari kategori tertinggi N = jumlah tanaman yang diamati
Bercak Cercospora pada kacang tanah. Skala serangan: 0 = tidak ada daun terserang 1 = luas daun terserang 1 25 % 2 = luas daun terserang 26 50 %

3 = luas daun terserang 51 75 % 4 = luas daun terserang 76 100 %.

Sclerospora maydis Penyakit bulai pada jagung.

0 = tak ada infeksi 1 = infeksi sangat lemah ( hanya 1/8 daun yang terserang ) 2 = infeksi lemah ( sampai 1/6 daun yang terserang ) 3 = infeksi cukupan ( sampai daun yang terserang ) 4 = infeksi berat ( sampai daun yang terserang ) 5 = infeksi sangat berat ( lebih dari daun yang terserang )

Alternaria solani pada tanaman kentang.


0 1 2 3 4 5 6 = = = = = = = tidak ada serangan < 10 % luas permukaan daun yang terserang 10 20 % luas permukaan daun yang terserang >20 -30 % luas permukaan daun yang terserang >30 - 40 % luas permukaan daun yang terserang >40 -50 % luas permukaan daun yang terserang > 50 % luas permukaan daun yang terserang

Bercak daun Cercospora 0 1 2 3 4 5 = = = = = = tidak ada bercak sama sekali jumlah bercak sedikit sekali ( > 0 20 % ) jumlah bercak sedikit ( > 21 40 % ) jumlah bercak cukupan ( > 41 60 % ) jumlah bercak banyak sekali ( > 61 80 % ) daun mati.

Di alam ketahanan terhadap penyakit adalah merupakan suatu hal yang wajar, sedangkan kepekaan terhadap penyakit merupakan suatu kekecualian. Wingard ( 1953 ). Memberikan batasan resistance sebagai suatu kemampuan dari tanaman untuk dapat bertahan, melawan, mengurangi atau mengatasi serangan dari patogen. Schafer (1971), Memberi batasan tolerance untuk kasus-kasus dimana tanaman terkena penyakit cukup parah tetapi tanpa kerugian hasil ataupun kualitas yang berarti. Kultivar yang toleran tidak membatasi perkembangan patogen, tetapi kerusakan yang diderita oleh tanaman tersebut kurang apabila dibanding dengan yang diderita oleh tanaman yang peka.

Dari segi epidemiologi, perbedaan antara toleran dan ketahanan pada tanaman cukup penting, karena suatu kultivar yang toleran terhadap penyakit akan dapat menjadi tempat simpanan inokulum bagi kultivar lain yang peka (Shaner, 1981). Toleransi biasanya diukur berdasarkan karakter dari tanaman, sedangkan ketahanan diukur berdasarkan kemampuan dari tanaman untuk menghalangi atau menekan pertumbuhan dan perkembangan patogen.