Anda di halaman 1dari 31

ABSTRAK Percobaan reaksi senyawa karbonil dengan karbanion bertujuan

memahami salah satu aspek penting dalam sintesis organik. Percobaan ini berdasarkan prinsip reaksi senyawa karbonil dengan karbanion dengan memanfaatkan sifat keasamaan hidrogen alfa. Reaksi-reaksi yang terjadi pada tahapan pembentukan asam sinamat yaitu pembentukan enolat atau karbanion, reaksi kondensasi, reaksi dehidrasi dan reaksi dekarboksilasi. Dalam percobaan menggunakan senyawa asam malonat sebagai pembawa karbanion dan benzaldehid dengan asam malonat dalam suasana basa menghasilkan asam sinamat. Hasil yang diperoleh adalah kristal asam sinamat yang berwarna putih dengan massa 2,0473 gram dan titik leleh sebesar 127 0C.

PERCOBAAN 6 REAKSI SENYAWA KARBONIL DENGAN KARBANION I. TUJUAN PERCOBAAN Memahami salah satu aspek penting dalam sintesis organik. II. TINJAUAN PUSTAKA II.1Karbonil

Senyawa karbonil antara lain: Senyawa Aldehid Keton Asam karboksilat Struktur Formula Umum RCHO RCOR' RCOOH RCOOR' RCONR'R''

Ester Amida

Enone RC(O)C(R')CR''R''' Alkil klorida RCOCl

Asam anhidrid II.2 Pembentukan karbanion

(RCO)2O

Dalam setiap senyawa organik seperti (1) yang memiliki ikatan C-H dapat berperan sebagai asam dalam pengertian klasik, yakni memberikan proton pada basa, sehingga asam konjugat (2) yang terjadi merupakan suatu karbanion. R 3C (1)
H

R 3C (2)

HX

Cara yang lazim untuk pembentukan karbanion adalah dengan penyingkiran suatu atom atau gugus X dari karbon, sehingga meninggalkan pasangan elektron ikatannya. R 3C
X

R 3C

XY

Suatu alkana mempunyai kecenderungan yang kecil untuk melepaskan proton dan membentuk karbanion, karena alkana tidak memiliki struktur yang dapat meningkatkan keasaman atom H atau memantapkan karbanion yang terjadi. (Hendayana,2002) Struktur R-H dipengaruhi oleh beberapa hal yang dapat meningkatkan penghilangan atom H oleh basa yaitu dengan membuatnya lebih asam atau dengan pemantapan karbanion yang terjadi, kemantapan karbanion disebabkan antara lain: 1. Peningkatan sifat S karbon karbanion Orbital s lebih dekat ke initi daripada orbital P dan energinya lebih rendah, pasangan elektron dalam orbital sp1 lebih dekat dan lebih erat ke atom karbon daripada pasangan elektron dalam orbital sp2 dan sp3, akibatnya elektronegativitas meningkat, hal ini membuat lepasnya atom , namun juga memantapkan karbanion yang terbentuk. 2. Pengaruh imbasan tarikan elektron 3. Konjugasi pasangan bebas karbanion dengan suatu ikatan rangkap 4. Aromatisitas (Hamada,2004)

2.3

Kondensasi Aldol Pada gugus karbonil pada molekul aldehid reaksi ini membentuk dasar

bagi kondensasi aldol yaitu reaksi pembentukan ikatan kation yang sangat bermanfaat. Kondensasi aldol merupakan suatu reaksi adisi dimana tak dilepaskan suatu molekul kecil. Kondensasi aldol paling sederhana adalah gabungan molekul sederhana yaitu dua molekul asetaldehid yang terjadi jika larutan aldehid diberi larutan basa.
O H 3C CH O OH O CH2CH

dari suatu aldehid

OH + H 3C
CH H 3C C H

asetaldehid

3-hidroksi butanal (asetaldol atau aldol) 50%

Reaksi menghasilkan aldol (dari kata aldehid dan alkohol). Kondensasi aldol dapat berlangsung jika asetaldehid diolah dengan natrium hidroksida (larutan) membentuk ion enolat dalam konsentrasi rendah. Reaksi itu reversibel karena ion enolat ini bereaksi akan terbentuk lagi yang baru.
O H 3C CH O O H 2C CH

OH

H 2C

CH

+ H2O

struktur resonansi untuk ion enolat Ion enolat bereaksi dengan suatu molekul aldehida yang lain dengan cara mengadisi kepada karbon karbonil untuk membentuk suatu ion alkoksida, yang kemudian merebut sebuah proton dari dalam air untuk menghasilkan aldol produk itu.
hidrogen alfa
O H3C CH + H2C O CH2 H3C O C H H2 C O CH OH O H2 C CH

H 2O

H3C

C H

+ OH

sebuah ion alkoksida

(Fessenden, 1999) 2.4 Kondensasi Knoevenagel Kondensasi Knoevenagel adalah reaksi antara sebuah aldehid dan suatu senyawa yang mempunyai hidrogen alfa terhadap dua gugus pengganti (seperti CO atau CN) dengan menggunakan ammonia atau suatu amina sebagai katalis. Contoh reaksi:
O (CH 3) 2CHCH2C

piperidin + CH2(CO2C2H5) 2 dietil malonat kalor


(CH 3) 2CHCH2CH2 CH(CO 2C 2H 5) 2

+ H2O

3-metil butanal

(Hart,1990) 2.5 Reaktivitas Hidrogen Alfa Sebuah hidrogen alfa terhadap suatu gugus karbonil adalah bersifat asam dan dapat disingkirkan oleh suatu basa kuat. Hidrogen alfa bersifat asam karena resonansi ion enolatnya:
H H3 C CH2 H CH2 O C CH3 H3 C H2 C O H

pKa= 50

pKa= 20

pKa= 10

Hidrogen alfa suatu ester lebih sukar disingkirkan daripada hidrogen alfa suatu aldehid atau keton karena oksigen karbonil berperan serta dalam delokalisasi suatu ester, oksigen karbonil telah mengemban muatan - dari delokalisasi elektron-elektron pada oksigen alkoksil. Oleh karena itu, gugus karbonil agak kurang mampu mendekolalisasi muatan negatif anionik dari enolat. Struktur resonansi dari suatu ester yang khas etil asetat adalah sebagai berikut:

O CH3 C OCH 3CH3

OCH2CH3

CH 2C OCHCH3 tidak disukai

HOCH 2CH3 etanol pKa= 16

etil asetat pKa= 29


O CH3 C OCH 2CH3 O

NH 3

CH2 CH OCHCH3

NH 3 pKa= 35

pKa= 25

disukai

Jika suatu hidrogen adalah alfa terhadap dua gugus karbonil muatan negatif pada anionnya dapat dilokalisasi oleh kedua gugus C=O. Hidrogen semacam itu lebih asam daripada hidrogen alkohol. Dapat diperoleh enolat dengan konsentrasi tinggi bila suatu senyawa dikarbonil diolah dengan suatu alkoksida.
O O O O

CH3 C CH2 CCH 3

2,4 pentanadion pKa= 9

OCH3

CH3C CHCHCH2 disukai

CH3OH pKa= 15,5

Struktur resonansi dari enolat:


O CH3C O CH 2CH CH3 H3 C OH C C H O C CH2 H3 C O C C H O C CH3

(Fessenden,1999) Ikatan-ikatan karbon biasanya stabil, non polar dan tidak bersifat asam. Dengan adanya gugus karbonil terjadilah hidrogen alfa yang bersifat asam. Jika suatu hidrogen berposisi alfa terhadap dua gugus karbonil, maka hidrogen ini cukup asam sehingga dapat dibentuk garam dengan mengolah senyawa itu dengan alkoksida. pKa etil asetat adalah 11, ester ini lebih asam daripada etanol (pKa=16) atau air (pKa=15,7). Pengolahan senyawa - dikarbonil ini dengan natrium etoksida (basa kuat lain seperti NaOH atau NaNH2) akan menghasilkan garam natrium. Biasanya natrium hidroksida tidak digunakan untuk keto ester karena gugus ester akan mengalami hidrolisis NaOH dan air.

O H2 C H C CH2

Na

O CH2CH3

CHCHCH 2

CH 3CH 2OH

tak disukai

O CH3 CCH H

O C O CHCH 3

Na OCH2CH3

CH 3CCHCOCH 2CH3 Na disukai

CH 3CH 2OH

Hidrogen yang posisinya alfa terhadap gugus karbonil bersifat asam karena: 1. Karbon alfa berdekatan dengan satu atau lebih atom karbon yang positif sebagian.Karbon alfa ikut juga mengambil sebagian muatan positif ini (efek induktif), sehingga ikatan C-H menjadi dilemahkan.
O C O

CH2

2. yang lebih penting adalah stabilitas dari ion enolat,yaitu anion yang terbentuk jika proton lepas. Dari struktur resonansi nampak bahwa muatan negatif diemban oleh oksigen-oksigen karbonil maupun oleh karbon alfa. Delokalisasi muatan ini menstabilkan ion enolat dan mendorong pembentukannya. Berdekatan dengan satu gugus karbonil :
alfa negatif
O H2 C C C H O C O H C

atau

CH 2

Berdekatan dengan dua gugus karbonil :

O C C H

O CH

O C C H2

O C

O C CH

O C

(Fessenden,1999) 2.6 Dehidrasi Aldol Suatu senyawa karbonil hidroksi, seperti suatu aldol mudah mengalami dehidrasi karena ikatan rangkap dalam produk berkonjugasi dengan gugus karbonilnya. Oleh karena itu, suatu aldehida tak jenuh , dapat dengan mudah diperoleh sebagai produk suatu kondensasi aldol.
OH O O

H encer CH3CH
CH2 CH

hangat

CH3 CH 3

CHCH

H 2O

3- hidroksi butanal

2- butenal

O CH

H encer hangat

O C H

OH

Bila dehidrasi menghasilkan suatu ikatan rangkap yang berkonjugasi dengan suatu cincin aromatik, seringkali dehidrasi itu langsung sertamerta (spontan), bahkan juga dalam larutan basa.
OH C H O CCH3 O

spontan
C H CHCH

+ H2O

3- hidroksi, 3-fenil propanal

2- fenil propenal (sinamaldehida)

(Fessenden,1999) 2.7 Reaksi dekarboksilasi

Suatu senyawa dengan suatu gugus karboksil beta terhadap suatu gugus karbonil akan mengalami dekarboksilasi (kehilangan CO2) bila dipanaskan temperatur yang dibutuhkan beranekaragam menurut macamnya senyawaan. Dekarboksilasi berlangsung lewat suatu keadaan transisi siklik.
H O RCH 3 O HC O O RCH C H2 H O C O

C H4

OH RCH3 CH2

O C O R

O C CH 3

Keadaan transisi mengharuskan hanya suatu gugus karboksil terhadap gugus karboksil. Gugusgugus karbonil ini tidak pada suatu gugus keton. Jika ester malonat (tersubstitusi maupun tidak) dihidroisis dalam larutan asam yang panas terbentuklah suatu dua asam dan dapat mengalami dekarboksilasi. (Fessenden,1999) 2.7. Kristalisasi Dalam proses kristalisasi ada beberapa cara yang dilakukan yaitu : a. Pendinginan Larutan yang dikristalakan didinginkan perlahan-lahan sehingga mengkristal. Metode ini digunakan untuk zat yang kelarutannya kecil bila suhu diturunkan. b. Penguapan solven Larutan yang dikristalisasi merupakan campuran antara solven dengan solut, setelah dipanaskan maka solven akan menguap yang tinggal adalah kristalnya. Metode ini dipakai bila penurunan suhu tidak begitu mempengaruhi kelarutan zat dalam pelarutnya. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah. c. Evaporasi Adiabatis

Dilakukan dalam ruamg vakum. Larutan panas dimasukkan ruang vakum dimana tekanan totalnya lebih rendah dari tekanan solvennya. Pada suhu saat larutan dimasukkan ke dalam ruang vakum solven akan menguap cepat dan penguapan akan menyebabkan pendinginan secara adiabatis. d. Salting Out Prinsipnya adalah menambah suatu zat untuk mengurangi daya larut zat yang akan dikristalkan. Zat ketiga harus mempunyai sifat menurunkan daya larut solven terhadap solut bila diaduk rata. Kristal akan tebentuk bila daya larut solven pada suhu tersebut turun. (Gibson, 1958) Langkah-langkah kristalisasi : pelarut Campuran senyawa yang akan dimurnikan dilarutkan dalam yang cocok pada temperatur dekat titik didihnya. Menyaring larutan panas untuk memisahkan zat pengotor yng tak terlarutkan. Mendinginkan filtrat sehingga senyawa mengkristal. Memisahkan kristal Kristal dari larutan. Mencuci kristal lalu mengeingkannya. (Cahyono, 1991) 2.8. Rekristalisasi Rekristalisasi adalah melakukan tahapan kristalisasi sekali lagi pada kristal yang telah dihasilkan. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang sukar larut dalam pelarut dan terdapat dalam jumlah banyak. Penambahan pelarut panas pada kristalisasi pertama hanya melarutkan sedikit kotoran tersebut dan setelah dingin kotoran akan mengkristal dan mengkontaminasi produk. Oleh karena itu, perlu dilakukan rekristalisasi. (Cahyono, 1991)

Seringkali senyawa padat yang kita inginkan masih tercampur dengan zat padat lain. Oleh karena itu, untuk mendapatkan zat padat tersebut perlu dimurnikan dulu caranya dengan rekristalisasi. Prinsip dasar rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan kelarutan zat yang tidak diinginkan. Campuran senyawa yang akan dimurnikan dilarutkan dalam pelarut yang cocok (untuk senyawa yang diinginkan), untuk memisahkan pengotor dilakukan pengeringan . Senyawa cair hasil saringan diuapkan hingga jenuh diamkan hingga mengkristal. Adapun cara memilih pelarut yang cocok adalah : a. Pelarut yang dipilih sebaiknya hanya melarutkan zat yang kita inginkan, pengotor tidak larut. b. Pelarut yang digunakan memiliki titik didih rendah, agar mempermudah prose pengeringan. Titik didih pelarut hendaknya lebih rendah daripada titik didih zat padat yang dilarutkan, agar zat tersebut tidak terurai saat penguapan. c. Pelarut harus inert, artinya tidak bereaksi dengan zat yang akan dimurnikan. (Cahyono, 1991) 2.9. Penentuan Titik Leleh Titik leleh suatu kristal zat padat adalah suhu dimana padatan itu mulai berubah menjadi cair di bawah takaran 1 atm ( keadaan seimbang antara zat padat dan cair). Untuk senyawa murni perubahan dari keadaan padat menjadi cair sangat tajam (dalam 0,5 C ). Oleh karena itu suhu ini baik untuk identifikasi. Titik leleh dipengaruhi dengan adanya senyawa lain dan karena itu titik leleh sangat penting untuk mempengaruhi kemurnian senyawa. Jika suatu cairan didinginkan akan terjadi padatan pada suatu suhu dan untuk senyawa murni titik leleh sama dengan titik beku. (Soebadi,1978) 2.10. Analisa Bahan 2.10.1. Piridin (N(CH)4CH)

Berbentuk cair, berwrna kuning pucat,berasa pedas, beracun, mudah terbakar,mudah meledak, dan larut dalam eter, alkohol, benzena, dan air, digunakan dalam pembuatan vitamin, obat-obatan, fungisida. Struktur piridin :

(Basri,1996)

2.10.2. Etanol (C2H5OH) Berbentuk zat cair, tidak berwarna, rasa dan baunya khas, titik didih = 70,5 C, sebagai pelarut, bahan bakar dan minuman, bila terbakar di udara berwarna biru. (Daintith,1994) 2.10.3. Aquades BM= 18,016 g/mol, massa jenis= 1,32 g/cm3, titik didih 100C, titik beku 0C, larut dalam dietil alkohol, sebagai pelarut, bersifat polar dengan momen dipol 1,84 D. (Basri,1996) 2.10.4. Asam klorida (HCl) BM= 36,47, kandungan Cl= 97,27 %, H= 2,76 %, titik didih= 85,05C, titik leleh= 144,22 C, densitas 1,268, tidak berwarna, korosif, gas yang tidak berwarna larut dalam metanol, air, dan eter. (Budaveri,1989) 2.10.5. Benzaldehida (C6H5CHO) Berbentuk zat cair, tidak berwarna, larut dalam campuran alkohol dan eter dan sedikit larut dalam air. Benzaldehida terdapat dalam buah badam dan ceri, digunkan sebagai pelarut, perasa makanan dan pewangi. Struktur benzaldehida :

O CH

(Basri,1996) 2.10.6. Asam malonat Asam dwikarboksilat berwujud kristal putih ,mempunyai titik leleh 132 C,Senyawa ini mengurai diatas titik lelehnya menjadi asam etanoat dapat digunakan untuk mensitesis asam dwikarboksilat lainnya Struktur asam malonat :
O C HO H2 C O C OH

(Daintith, 1994) 2.10.7. Piperidina Mempunyai titik didih : 106 C ,mempunyai titik beku -9 C Mempunyai pKa = 2.88 , Mempunyai Ka = 1,6 .10 -3 Struktur piperidina :

N H

(Daintith,1994) 2.10.8. Asam sinamat (C6H5CHCHCOOH) BM= 148,15; bentuk monoklin warna putih; berat jenis 1.384 (cis), 1,345 (trans); titik leleh 68C (cis), 133C (trans); titik didih 125C (cis), 300C (trans); larut dalam benzen, eter, aseton; tak larut dalam air; mudah terbakar. Struktur asam sinamat :
C H C H C O OH

(Pudjaatmaka,1990)

III. c.1

METODE PERCOBAAN Alat dan Bahan

c.1.1 Alat Erlenmeyer 150 mL Pengaduk Penyaring Corong gelas Penangas air Kompor listrik Gelas beker Gelas ukur Neraca Gelas arloji

Bahan Benzaldehida Piridin Asam Malonat Piperidin Asam Klorida (HCl) 5M Etanol Aquades Es

c.2

Skema kerja 2 gram benzaldehid + 3 gram asam malonat + 6 mL piridin + 4 tetes piperidin Gelas beker - Pemanasan dengan penangas air 1 jam Campuran - Pendidihan selama 10 menit - Pendinginan - Penambahan beberapa butir es - Penambahan HCl 5 M 50 mL - Penyaringan Residu Filtrat

-Pencucian dengan air es -Pengkristalisasi menggunakan air etanol

-Penghitungan randemen -Penentuan titik leleh

Hasil

IV.

DATA PENGAMATAN

NO PERLAKUAN HASIL KETERANGAN 1 Pemanasan campuran 2 ml Warna campuran Pemanasan benzaldehid, 3 gram asam sebelum pemanasan menggunakan penangas air malonat, 6 ml piridin dan 4 kuning kecoklatan setelah tetes piperidin selama 1 jam 1 jam pemanasan, warna campuran kekuningan. 2 Pendiaman, pendidihan campuran 10 menit Pendinginan 3 Penambahan air es + HCl 5M 50 ml Campuran mulai membentuk kristal-kristal halus 4 Penyaringan Filtrat berwarna kuning Pencucian dengan air es dan rekristalisasi dengan campuran air etanol sambil penyaringan Jernih, residu berwarna putih kecoklatan berbentuk gumpalan Residu merupakan produk kristal asam sinamat Warna campuran makin kecoklatan Produk kristal asam sinamat mulai terbentuk coklat

Perhitungan rendemen produk hasil reaksi

Massa kristal asam sinamat = 2,0473 gram Titik leleh asam sinamat = 1270C

Presentase rendemen 72,806 %

Penentuan titik leleh

PERHITUNGAN massa benzaldehida = 2 gram massa asam malonat = 3, 0131 gram BM asam sinamat = 148 g/mol massa asam sinamat yang diperoleh = 2,0473 gram mol benzaldehid =
2g 106 g/mol

= 0,019 mol

mol asam malonat = 3,0131 g = 0,029 mol 1064 g/mol O


O CH

+
HO

H2 C

O C OH C H C H C O OH

benzaldehida Mula-mula : 0.019 mo Reaksi Sisa : 0,019 mol : l

asam malonat 0,029 mol 0.019 mol 0,01 mol = 0,019 mol x 148 g/mol = 2,812 g

asam sinamat 0,019 mol 0,019 mol

Massa asam sinamat teoritis = mol x BM

Persentase Rendemen = massa nyata x 100% massa teoritis =


2,0473 g x 100% 2,812 g

= 72,806% V. PEMBAHASAN Percobaan reaksi antara senyawa karbonil dengan karbanion bertujuan memahami salah satu aspek penting dalam sintesis organik. Aspek penting dalam sintesis organik yang khusus dalam percobaan ini adalah kereaktifan karbanion. Senyawa karbonil merupakan senyawa yang memiliki gugus fungsi yang sangat penting dalam kimia organik, yaitu gugus karbonil. Gugus ini dimiliki oleh golongan senyawa aldehid, keton, asam karboksilat, ester, dan turunan lainnya. (Hart, 1990) Senyawa karbonil mendidih pada temperatur yang lebih tinggi daripada senyawa hidrokarbon, tetapi lebih rendah daripada senyawa alkohol dalam berat molekul yang dapat dibandingkan karena polar molekul senyawa karbonil cenderung untuk berasosiasi bagian positif dari suatu molekul tertarik ke bagian negatif dari molekul lain seperti alkohol. Senyawa karbonil dengan berat molekul rendah dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa hidroksil. (Hart,1990) Karbanion merupakan ion organik bermuatan negatif, terutama jika muatan itu berada pada salah satu atom karbonnya. (Hendayana,2002) Pada percobaan senyawa karbonil yang digunakan adalah senyawa benzaldehida sedangkan senyawa yang membentuk karbanion adalah dari senyawa asam malonat. Dalam hal ini benzaldehida digunakan untuk senyawa karbonil ini karena benzaldehida sp2 dan dihubungkan kesebuah atom oksigen dengan ikatan rangkap dua (sebuah ikatan sigma dan sebuah ikatan phi). Asam malonat dapat digunakan sebagai karbanion karena asam malonat memiliki gugus karbonil yang berposisi terhadap gugus asetat yang menyebabkan atom hidrogen yang berikatan atom karbon alfa bersifat sangat asidik sehingga mudah diserang oleh senyawa yang mempunyai pasangan elektron bebas, seperti piridina. Akibatnya, hidrogen alfa lepas dalam bentuk H+ yang langsung terikat dengan

piridina melalui pasangan elektron bebas piridina. Sehingga, asam malonat memiliki atom karbon bermuatan negatif yang selanjutnya disebut karbanion. Reaksi lengkap yang terjadi secara keseluruhan adalah :
+ HCl
O C H O

+
H

H2 C

O C OH

O C H C H C OH

CO 2 + H2O

(Fessenden, 1999) Sedangkan urutan reaksinya adalah sebagai berikut : 1. Reaksi pembentukan karbanion:
O C HO H C H C OH O O O

+
N HO

C H

C OH

+
N H

asam malonat

piridin

karbanion

(Fessenden, 1999)

Benzaldehid sebagai senyawa karbonil dapat bereaksi dengan karbanion dari asam malonat yang telah terbentuk melalui reaksi kondendasi Knoevenagel. Molekul benzaldehidehida dengan karbanion bergabung menjadi molekul yang lebih besar. Benzaldehida dapat bereaksi dengan cara resonansi elektron dalam ikatan rangkapnya dalam gugus karbonil. Elektron-elektron pada ikatan rangkap tertarik oleh elektron bebas atom oksigen yang juga lebih elektronegatif dari atom C. Elektron yang tertarik dari atom C menyebabkan atom C lebih bermuatan positif sehingga makin mudah pula berikatan dengan karbanion yang telah terbentuk. 2. Reaksi kondensasi

Reaksi kondensasi merupakan reaksi antara dua molekul atau lebih yang bergabung menjadi satu molekul yang lebih besar dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil seperti air. Reaksi kondensasi yang terjadi adalah reaksi kondensasi Knovenagel karena senyawa yang bereaksi adalah senyawa aldehid yang tidak mempunyai hidrogen alfa dan dengan senyawa yang mempunyai sebuah hidrogen alfa terhadap 2 gugus karbonil. Pemanasan campuran dilakukan selama 1 jam dengan tujuan untuk mereaksikan senyawa asam malonat, piridin, benzaldehida, dan piperidin karena dalam reaksi karbonil dengan karbanion memerlukan tambahan energi untuk melakukan reaksi. Proses pendidihan dilakukan 10 menit kembali setelah pendiaman sebentar tujuannya adalah untuk melepaskan CO 2 (proses dekarboksilasi) untuk proses pembentukan asam sianmat. Penurun suhu dilakukan untuk menghentikan reaksi-reaksi dan menurunkan kelarutan senyawa produk yang dihasilkan yaitu asam sinamat sedangkan penambahan HCl adalah untuk menetralisasi sifat campuran yang bersifat basa akibat adanya piridin dan piperidin yang telah ada dalam campuran. Piridin berfungsi sebagai basa lemah yang mengkatalisis reaksi pembentukan karbanion. Piridin digunakan karena merupakan basa lemah, apabila digunakan basa kuat maka tidak akan dihasilkan produk yang diinginkan. Jika digunakan basa kuat maka karbanion yang terbentuk bukan pada posisi atom C alfa, tetapi atom C pada posisi gugus karboksilat. Reaksi Kondensasi Knovenagel yang terjadi adalah :

O C

O CH C OH

+
H

HO

O C H C O C H OH C O OH

+
N H

OH C H H C C O

O C OH OH 2

+
N

(Fessenden, 1999) 3. Reaksi dehidrasi Selanjutnya, reaksi yang terjadi adalah reaksi dehidrasi yang merupakan proses penghilangan H2O untuk mengadakan ikatan rangkap antara atom C. Reaksi ini dikatalisis oleh HCl karena H+ dari HCl dapat mempercepat pelepasan H2O. Selain itu HCl juga untuk menetralkan basa yang telah ada pada reaksi sebelumnya, yaitu piridin maupun piperidin sehingga dalam pelepasan H2O dapat terjadi dalam suasana netral. Reaksi Dehidrasi yang terjadi :
OH C H CH C O O C OH OH

Cl

H H OH C H H C C O O C OH O OH

O C OH OH

- H2O

H C

C C

-H

O C H C C O C OH OH

+ HCl + H2O

(Fessenden, 1999) 4. Reaksi dekarboksilasi Kemudian reaksi Dekarboksilasi, adalah reaksi pelepasan CO 2. Reaksi ini terjadi karena stabilisasi resonansi antara gugus karboksilat pada produk antara. Hal itu karena adanya ikatan rangkap pada senyawa antara. Reaksi dekarboksilasi yang terjadi adalah :
O C H C C O C OH O H

-H - CO2

O C H C C OH

+ H

C H

C H

C O

OH

+ CO2

(Fessenden, 1999)
asam sinamat Penambahan air es bertujuan untuk asam proses rekristalisasi dengan 3 f enil propenoat

menurunkan kelarutan produk asam sinamat. Penurunan suhu dalam suhu ruangan terlebih dahulu dilakukan dengan tujuan agar proses pembentukan kristal asam sinamat dapat berlangsung dengan baik. Jika penurunan suhu langsung dengan pemberian air es, maka akan mengakibatkan laju pembentukan kristal lebih cepat daripada pembentukan inti kristal sehingga kristal yang terbentuk akan banyak. Sedangkan penambahan campuran air-etanol untuk melarutkan berbagai macam zat pengotor yang bersifat polar agar terlepas dari kristal. Menggunakan campuran air-etanol karena asam sinamat larut dalam pelarut etanol sedangkan dalam air

tidak larut sempurna sementara air dan etanol dapat saling bercampur, sehingga campuran air-etanol merupakan pelarut yang baik untuk proses kristalisasi asam sinamat. Pemurnian asam sinamat ini menggunakan prinsip yaitu zat yang akan dimurnikan larut sempurna dalam pelarut A dan tidak larut dalam pelarut B tetapi pelarut A dan B saling bercampur. Rendemen produk nyata yang diperoleh adalah 2,0473 gram. Persentase rendemennya adalah 72,806% . Dari persentase rendemen yang diperoleh , produk hasil reaksi masih belum murni dari pengotor, kemungkinan pengotorpengotornya berasal dari reagen yang masih belum sempurna bereaksi, misalnya piridin, HCl, benzaldehida, maupun asam malonat. Pada percobaan ini dilakukan pengukuran titik leleh sebesar 127C, sedangkan pada literatur titik lelehnya sebesar 133C. Hal ini terjadi kemungkinan karena masih terdapat pengotor di dalam kristal yang menyebbkan titik leleh produk lebih kecil dibandingkan dengan titik leleh dari literatur.

VI.

KESIMPULAN senyawa karbonil dengan karbanion.

VI.1. Salah satu aspek penting dalam sintesis senyawa organik adalah reaksi

VI.2. Sintesis asam sinamat melalui beberapa tahapan, yaitu tahap pembentukan enolat atau karbanion, tahap kondensasi, tahap dehidrasi, dan tahap dekarboksilasi. VI.3. Asam sinamat yang dihasilkan pada percobaan sebesar 2,0473 gram dengan rendemen 72,806% dan memiliki titik leleh sebesar 1270C.

VIII. DAFTAR PUSTAKA Basri, S, 1996, Kamus Kimia, Jakarta; Rineka Cipta.

Budaveri, S, 1959, The Merck Index, Second edition, The Merck Index Co; USA. Cahyono, B, 1991, Segi Praktis dan Metode Pemisahan Senyawa Organik, Semarang; Kimia MIPA Undip.

Christen, P, 1976, Oxidation of the Carbanion Intermediate of Transaldolase by Hexacyanoferrate(III), Chemistry; USA. hal.4220-4223, The Journal of Biological

Daintith, J, 1994, Kamus Lengkap Kimia, Oxford, edisi baru, Jakarta; Erlangga.

Fessenden, R, 1982, Organic Chemistry, 2nd edition, Wiliard Grant Press Publisher, USA.

Fessenden, 1984, Kimia Organik, Jakarta; Erlangga.

Fessenden, R, 1999, Organic Chemistry, Wiliard Grant Press Publisher; USA.

Gibson, C.S, 1958. Essensial Principles of Organic Chemistry. Chambridge of the University Press; London.

Hamada, H, 2004, Alkylated Isocomumarins from Pituranthus Scoparious, natural Product Research, 1-5.

Hart, H, 1990, Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat, edisi keenam, Jakarta; Erlangga.

Hartati, S, dkk, 2006, Dua Senyawa 4-fenilkumarin pada fraksi non polar dari ekstrak etil asetat batang Gracinia balica Miq.(Mundu Alas), Seminar Nasional Kimia VIII, hal 1-9.

Hendayana,S, dkk, 2002, Kimia analitik Instrumen, edisi 1, Semarang; IKIP Semarang Press.

Pudjaatmaka, H, 1990, Kamus Kimia Organik, Jakarta; Depdikbud.

Scott, dkk, 1993,Carbanion Hybridization of Thiophosphonamide-Stabilized Anion; Remarkable Steric and Solvation Effects, J. AM. Chem.. SOC, Vol. 115, No. 25, 12195-12196, American Chemical Society; Illionis.

Soebadi, A, 1978, Penuntun Percobaan Pengantar Kimia Organik, edisi 2, Bandung; PT. Karya Nusantara.

Sukamat, dkk, 2006,Dua Senyawa Santon Dari Kayu Batang Mundu Garcinia Dulcis (Roxb.) Kurz. Sebagai Antioksidan, Surabaya; Seminar Nasional Kimia VIII.

Usman, H, dkk, 2005, 2,4-Dihidroksi-3,5,6-Trimetoksi Calkon suatu Senyawa Antitumor dari Kulit Batang Tumbuhan Cryptocarya costata (Lauraceae), Jurnal Matematikan dan Sains, Vol.10 No.3, hal 97-100.

Usman, H, dkk, 2006, Senyawa Kalkon Baru Bersifat Anti-Bakteri dari Tumbuhan Cryptocarya costata (lauraceae), Berkala MIPA, hal 37-40.

wikipedia, 2008.

Wilcox, 1995, Experimental Organic Chemistry A Small Scale Approach, 2nd edition , Prentice Hall; New Jersey.

LAMPIRAN 1. Sebutkan semua sifat fisik reagen menurut literatur! Jawaban : 1.1. Asam klorida (HCl) BM= 36,47, kandungan Cl= 97,27 %, H= 2,76 %, titik didih= 85,05C, titik leleh= 144,22 C, densitas 1,268, tidak berwarna, korosif, gas yang tidak berwarna larut dalam metanol, air, dan eter. (Budaveri,1989) 1.2. Benzaldehida (C6H5CHO) Berbentuk zat cair, tidak berwarna, larut dalam campuran alkohol dan eter dan sedikit larut dalam air. Benzaldehida terdapat dalam buah badam dan ceri, digunkan sebagai pelarut, perasa makanan dan pewangi. Struktur benzaldehida :
O CH

(Basri,1996) 1.3. Etanol (C2H5OH) Berbentuk zat cair, tidak berwarna, rasa dan baunya khas, titik didih = 70,5 C, sebagai pelarut, bahan bakar dan minuman, bila terbakar di udara berwarna biru. (Daintith,1994) 1.4. Aquades

BM= 18,016 g/mol, massa jenis= 1,32 g/cm3, titik didih 100C, titik beku 0C, larut dalam dietil alkohol, sebagai pelarut, bersifat polar dengan momen dipol 1,84 D. (Basri,1996)

1.5.

Piridin (N(CH)4CH) Berbentuk cair, berwrna kuning pucat, berasa pedas, beracun, mudah

terbakar,mudah meledak, dan larut dalam eter, alkohol, benzena, dan air, digunakan dalam pembuatan vitamin, obat-obatan, fungisida. Struktur piridin :
N

(Basri,1996) 1.6. Asam malonat Asam dwikarboksilat berwujud kristal putih ,mempunyai titik leleh 132 C,Senyawa ini mengurai diatas titik lelehnya menjadi asam etanoat dapat digunakan untuk mensitesis asam dwikarboksilat lainnya Struktur asam malonat :
O C HO H2 C O C OH

(Daintith, 1994) 1.7. Piperidina Mempunyai titik didih : 106 C ,mempunyai titik beku -9 C Mempunyai pKa = 2.88 , Mempunyai Ka = 1,6 .10 -3 Struktur piperidina :

N H

(Daintith,1994)

2. Berikan contoh reaksi kondensasi lain yang melibatkan senyawa karbonil dengan karbanion! Sarankan mekanisme yang terjadi! Jawaban : Reaksi antara asam malonat dengan heksanon menggunakan piridin dan piperidin serta katalis HCl : a. Pembentukan karbanion

O C HO H C H C

O O

+
OH N HO

C H

C OH

+
N H

asam malonat

piridin

karbanion

b. Reaksi kondensasi
O O + H 2O C CH O C OH

H O O OH
+

OH O H C C C O OH

OH 2 + N

CH C C O OH

c. Reaksi dehidrasi

OH O H C C O H C C O O C OH OH O C OH OH

OH2

O C OH OH

Cl

H C C O

- H 2O

-H

C C O

C OH

OH

+ HCl

+ H2O

Reaksi dekarboksilasi H+
C C O O C OH O H

- CO2

C H

COOH