Anda di halaman 1dari 14

CERITA PAK UDAK DAN MAK PER

Cerita ini bersumber dari cerita lisan dari kakek/ nenek ke orangtua kita kemudian diceritakan kepada kita sebagai dongeng sebelum tidur. Ada beberapa bagian cerita mungkin tak masuk akal, tetapi sebagai cerita dapat menghibur dan sebagai pengantar tidur ketika kita masih kanak-kanak. Cerita aslinya diceritakan berbahasa lisan dengan dialek melayu Bangka. Cerita bermula di suatu kampung di daerah Bangka, persisnya daerah mana tidak diketahui. Pak Udak dan Mak Per adalah sepasang suami istri. Cerita bermula dari Pak Udak dan Mak Per ingin membuka ladang di suatu hutan. Pak Udak ayo kita berkebun untuk dapat menanam padi sehingga akan menghasilkan beras. Pak Udak pergilah ke hutan di ujung kampung kita, siapsiaplah untuk kebun kita itu. Bawa parang untuk menebas hutannya. Kata Mak Per kepada Pak Udak. Baiklah , kata Pak Udak, sambil melangkah kearah hutan yang dimaksud. Tiba di hutan, rupanya karena terburu-buru Pak Udak lupa membawa parang. Apa yang harus dilakukan, pikir Pak Udak, mau pulang ke kampung lagi bertemu dengan istrinya. Istrinya Mak Per akan bertanya kok pulang terlalu cepat, apa tidak bekerja. Oh, baiklah, kata Pak Udak, aku akan melakukan perencanaan dulu. Kayu-kayu yang akan ditebang direncanakan tumbang atau rebahnya ke arah mana. Jadilah Pak Udak, merencanakan kayu pertama rebah ke kiri. Kayu kedua rebah ke kanan. Kayu seru rebah ke belakang. Kayu samak rebah ke depan. Sehingga seluruh kayu/ pohon yang akan dijadikan ladang sudah direncanakan tumbangnya kearah mana setelah ditebang. Sudah bekerja seperti itu Pak Udak pulanglah ke rumah, hitungannya dia sudah bekerja seharian. Pada hari yang lain, Mak Per ingin melihat hasil kerja Pak Udak. Yo, Pak Udak kita ke hutan bakal ladang kita. Yo, kata Pak Udak. Setiba di hutan Mak Per bertanya, Pak Udak mana kayu/ pohon yang telah ditebang, tidak sikok aben kelihatan, kata Mak Per. Maka diceritakanlah oleh Pak Udak. Kayu pertama rebah ke kiri. Kayu kedua rebah ke kanan. Kayu seru rebah ke belakang. Kayu samak rebah ke depan. Sehingga seluruh kayu/ pohon yang akan dijadikan ladang sudah direncanakan tumbangnya kearah mana setelah ditebang. Oh, Pak Udak bukan begitu caranya, langsung saja kita tebas, kita tebang pohon/ kayu. Yo, kita bekerja bersama-sama. Ketika sudah letih dan istirahat Pak Udak dan Mak Per duduk-duduk istirahat. Kata Mak Per, Pak Udak kita mau buat pondok tempat beteduh, dak usah besar-besar pondoknya cukup sebesar lulong asuk . Aoklah, kata Pak Udak. Ketika Mak Per tidak sempat ke ladang, Pak Udak merencanakan membuat pondok sebesar lulong asuk. Dalam pikir Pak Udak, asuk (anjing) yang selalu ikut mereka tersedia. Kemudian ditangkaplah oleh Pak Udak anjing mereka tersebut, 1

kemudian diambil lulong asuk tersebut. Lulong asuk tersebut ditarok Pak Udak diatas tunggul kayu, kata Pak Udak itulah pondok sebesar lulong asuk. Pada suatu hari Mak Per ingin melihat pondok buatan Pak Udak. Kata Mak Per, Pak Udak mana pondok yang sudah kamu buat. Jawab Pak Udak, itu di belakang tunggul kayu samak itu. Mak Per berjalan-jalan mencari pondok tersebut, tetapi tidak kelihatan. Kata Mak Per, Mana Pak Udak pondoknya?, Itulah dekat tunggul kayu itu, awas-awas hampir terinjak. Sudah dekat tunggul tersebut, barulah Mak Per tahu, pondok sebesar lulong asuk, rupanya lulong asuk benar. Pak Udak, maksudnya pondoknya dibuat tidak usah terlalu besar, kecil bae. Sudah kejadian anjing mereka jadi korban pondok sebesar lulong asuk. Kemudian Mak Per membuat pondok sebenarnya dengan rangka dari kayu-kayu yang ada di hutan. Kata Mak Per, Pak Udak kita mau mencari daun rumbia untuk atap pondok kita. Ayolah, kata Pak Udak. Pada hari yang disepakati Pak Udak dan Mak Per pergi ke hutan rumbia, untuk mengambil daun rumbia, pohon rumbia biasanya tumbuh di daerah yang berair. Tiba di pohon rumbia, Mak Per merasa ingin buang air besar. Pak Udak kumpulkan daun-daun rumbia, kemudian jika telah besar diikat ya. Aoklah, kata Pak Udak. Kemudian Pak Udak mengumpulkan daun rumbia sambil menyayatnya dari pelepah rumbia, Mak Per pergi buang air besar. Tetapi sesudah buang air besar Mak Per, merasa letih dan bersembunyi di dalam ikatan daun-daun rumbia. Ketika sudah selesai dan merasa cukup daun rumbianya, Pak Udak mencari-cari Mak Per tetapi tidak bertemu. Mak Per kemana, ok. Lambat gawe e, Mak Per ko pulang dulu ok, kata Pak Udak. Padahal Mak Per tidak kelihatan batang hidungnya. Ketika memikul ikatan daun rumbia, Pak Udak mengeluh, oh, berat juga daun rumbia ini. Pak Udak tidak tahu di dalam ikatan daun rumbia itu bersembunyi Mak Per. Tiba di rumah, ikatan daun rumbia dijatuhkan oleh Pak Udak, Aduh, berat nian daun ni. Setelah dijatuhkan keluarlah Mak Per dari ikatan daun rumbia, sambil tertawa. Ha..ha..seger nian ko dipikul Pak Udak sampai dirumah. Pak Udak marah-marah sambil berkata kepada Mak Per, Mak Per besok kita ngambil daun rumbia lagi, ko nek mayer sauh. Aoklah, kata Mak Per. Besoknya Pak Udak dan Mak Per pergi lagi ke hutan rumbia untuk mengambil daun rumbia. Seperti kejadian kemarin, Pak Udak pura-pura mau buang air besar, kemudian dia sembunyi di dalam ikatan daun rumbia Mak Per. Ketika Mak Per sudah berseru kepada Pak Udak ingin pulang, tapi Pak Udak tidak kelihatan. Sebelum mengangkat ikatan daun rumbia Mak Per berseru, Wah, ada rejeki ni di daun rumbia ini ada kulat. Kemudian kulat tersebut diiris Mak Per menggunakan parang. Menjeritlah Pak Udak, Aduh, ini bukan kulat tapi bilungko, kata Pak Udak. Dari kejadian itu keluarlah Pak Udak dari ikatan daun rumbia. Aku tidak tahu kata Mak Per, kukira kulat. Kemudian mereka pulang ke rumah dengan memikul ikatan daun rumbia masing-masing. Tidak terbayarlah sauh Pak Udak. Pak udak saya punya burung di dalam suatu gua di dalam hutan, kalau Pak Udak ingin memiliki burung tersebut ada syaratnya, kata mak Per. Apa syaratnya, kata Pak Udak. Oh, mudah . Pak 2

Udak bawa makanan untuk burung tersebut seperti bubur kacang, kue celepon, kue onde-onde, kue serabi dan sebagainya. Baiklah, kata Pak Udak. Kemudian Mak Per memberi tahu jalan menuju gua di hutan yang ada burung di dalamnya. Pada hari Pak Udak ingin menangkap burung tersebut, dia sudah menyiapkan makanan untuk burung tersebut. Mak per sudah pergi duluan ke gua di dalam hutan tersebut. Tiba di mulut gua yang dimaksud, Pak Udak berkata, Ini burung Pak Udak datang membawa makanan kesukaan burung. Ini bubur kacang, kemudian disuapkan Pak Udak ke mulut burung di dalam gua yang agak gelap. Maka makanlah burung dengan enaknya. Kemudian, ini kue celepon makanlah burung. Maka burung makan kue celepon dengan enaknya, sampai kue atau makanan terakhir habis. Maka kata Pak Udak, burung makanan sudah habis, mari kita pulang. Keluarlah burung tersebut, betapa terkejutnya Pak Udak yang keluarlah adalah Mak Per dari dalam gua. Ha..ha.. kenyang sudah perutku, teriak Mak Per. Aduh, kata Pak Udak rupanya kamu Mak Per. Besok Mak Per , ku bayar saoh. Maka Pak Udak merencanakan seperti skenario Mak Per minta bubur kacang, kue celepon dan sebagainya. Besok harinya Pak Udak sudah pergi duluan ke gua di dalam hutan. Pagi- pagi Mak Per buang air besar dan mencampurkan tahinya seperti bubur kacang. Sampai di depan gua di dalam hutan, Mak Per berkata , burung ini bubur kacang makanlah dulu. Ketika bubur kacang tersebut dirasakan Pak Udak, maka berteriaklah dia. Mak Per bubur kacangnya tidak enak, rasa pahit dan busuk . Maka keluarlah Pak Udak dari dalam gua, tidak terbayar saohnya. Keesokan pagi Mak Per mencari akal lagi. Dia sembunyi didalam kandang ayam Pak Udak , waktu pagi-pagi ayam berkukuruyuk, Mak Per menyela dalam kukuruyuk ayam tersebut dengan menyebutkan Pak Udak makan tai, Pak Udak makan tai. Sudah dua pagi teriakan sisipan Mak Per Pak Udak makan tai, Pak Udak makan tai. Kata Mak Per kepada Pak Udak, Pak Udak ayam kamu mencaci kamu, tahu bahwa kamu makan tahi di dalam gua burung di dalam hutan. Sebaiknya ayam tersebut disembelih saja untuk lauk makan kita. Demikian nasehat Mak Per kepada Pak Udak. Ya, kata Pak Udak, kurang ajar ayam ini, mencaci aku dan tahu aku makan tahi. Akhirnya ayam pak udak itu disembelih, dan dimakan bersama-sama dengan Mak Per. Pada hari yang lain Mak Per menyuruh Pak Udak untuk memulut burung punai di hutan. Pak Udak sebaiknya kamu memulut burung punai di hutan, ini sudah musim burung punai makan buah di hutan. Jika sudah mendapat burung punai tersebut, jangan lupa diikat agar burung punai tidak terbang lagi setelah dipulut, kata Mak Per. Baiklah, jawab Pak Udak. Kemudian pergilah Pak Udak ke hutan yang dimaksud dengan rencana memulut burung punai. Memulut adalah menggunakan batang lidi kabung (enau) dengan dilumuri getah sehingga bila burung punai hinggap di lidi tersebut, yang diletakkan di buah yang dimakan burung punai di pohon tersebut. Sehingga burung punai tidak dapat terbang, jatuh, karena sayapnya tertempel di getah pemulut. Setiba Pak Udak di hutan, kemudian memasang pemulut di atas pohon dekat buah pohon yang dimakan burung punai. Tidak lama kemudian datanglah burung-burung punai hinggap di pohon yang sudah dipasang pemulut burung tersebut. Dan berjatuhan burung punai di tanah kena lidi 3

pemulut Pak Udak. Dengan gembira Pak Udak menangkap burung punai tersebut, dan teringat pesan Mak Per diikat burung-burung punai tersebut dengan tali. Kemudian datang rombongan burung punai berikutnya, jatuh lagi kena pemulut Pak Udak, sehingga bertambah banyak jumlah burung punai yang didapat Pak Udak. Seperti yang pertama burung-burung punai tersebut diikat pak Udak jadi satu ikatan. Waktu Pak Udak mempersiapkan diri hendak pulang, karena merasa burung-burung punai yang didapat sudah banyak. Tapi apa hendak dikata, karena banyaknya burung-burung punai tersebut, sebagian besar sayapnya belum rusak benar, burung-burung punai tersebut sepakat terbang meninggalkan Pak Udak. Kata Pak Udak, burung-burung punai jangan lupa arah rumah kami, rumah Mak Per. Lurus kemudian belok kekiri, belok ke kanan dan lurus lagi, sehingga dekat kampung, tanya rumah Mak Per, teriak Pak Udak serentak denga n terbangnya burung-burung punai semakin tinggi. Karena merasa burung-burung punai sudah duluan pulang ke arah kampung, Pak Udak pun pulang ke rumahnya. Tiba di rumah, karena laparnya Pak Udak langsung menuju meja makan. Makan bersama-sama Mak Per, yang sudah ngelempah sayur dari pohon di hutan semacam pucuk idat dan lainnya, kelihatan sayur masakan tersebut kemerah-merahan. Sambil makan Pak Udak berkata, darahnya ada, bulunya ada, tapi isinya tidak ada. Mendengar ocehan Pak Udak tersebut, Mak Per bertanya, Pak Udak apa yang kau maksud, darahnya ada, bulunya ada, tapi isinya tidak ada. Kemudian Pak Udak bercerita apa yang dikerjakannya di hutan memulut burung punai tersebut. Oh, Pak Udak, kalau begitu memang terbanglah burung -burung punai tersebut. Lain kali memulut burung punai di hutan , setelah dapat burung-burung tersebut, diikat dipinggang Pak Udak, sehingga burung-burung tersebut tidak dapat terbang sendiri, kata Mak Per. Sesuai saran Mak Per, suatu hari Pak Udak memulut burung punai lagi. Pergilah Pak Udak ke hutan yang dimaksud dengan rencana memulut burung punai. Setiba Pak Udak di hutan, kemudian memasang pemulut di atas pohon dekat buah pohon yang dimakan burung punai. Tidak lama kemudian datanglah burung-burung punai hinggap di pohon yang sudah dipasang pemulut burung tersebut. Dan berjatuhan burung punai di tanah kena lidi pemulut Pak Udak. Dengan gembira Pak Udak menangkap burung punai tersebut, dan teringat pesan Mak Per diikat burungburung punai tersebut dipinggang Pak Udak. Kemudian datang rombongan burung punai berikutnya, jatuh lagi kena pemulut Pak Udak, sehingga bertambah banyak jumlah burung punai yang didapat Pak Udak. Seperti yang pertama burung-burung punai tersebut diikat pak Udak di pinggangnya jadi satu ikatan. Waktu Pak Udak mempersiapkan diri hendak pulang, karena merasa burung-burung punai yang didapat sudah banyak. Tapi saking banyaknya burung-burung punai tersebut membawa Pak Udak terbang ke atas. Kemudian terbang terus seperti orang terbang layang. Wah, kata Pak Udak, burung-burung mau dibawa kemana aku ini. Mana mengertilah burung-burung punai tersebut. Setelah beberapa lama, burung- burung punai kelelahan membawa Pak Udak, sehingga Pak Udak terjatuh di suatu kampung yang ramai. Setelah jatuh Pak Udak, burung- burung tersebut terlepas dari ikatannya dan terbang kembali ke hutan. Jatuh di kampung 4

tersebut, rupanya suatu kerajaan. Orang- orang keheranan ada orang jatuh dari langit ke tengah kampung mereka. Mereka beranggapan orang kahayangan yang jatuh dari langit. Kemudian Pak Udak di arak keliling kampung dianggap orang kahayangan yang jatuh dari langit. Peristiwa tersebut dilaporkan kepada raja mereka. Raja merasa Pak Udak memang orang kahayangan, sehingga raja berniat menjodohkan Pak Udak dengan Puteri Raja. Maka berlangsunglah pesta perkawinan Pak Udak dengan Puteri Raja. Pesta perkawinan berlangsung tujuh hari, tujuh malam. Maklum Puteri Raja menikah dengan Pak Udak yang dianggap orang kahayangan yang jatuh dari langit. Setelah malam pertama, istri Pak Udak Puteri Raja sudah tidur karena kelelahan, Pak Udak teringat kebiasaannya ingin makan belacan. Pak Udak berangkat dari tempat tidur menuju dapur kerajaan. Pak Udak mencari-cari dimana tabung belacan. Setelah mengendus- endus bau belacan. Rupanya belacan disimpan di tabung bambu. Belacan (terasi) adalah makanan khas di Bangka, berbahan udang laut, diolah sehingga menjadi terasi (belacan). Belacan dipakai sebagai bumbu masak berbagai masakan. Tapi Pak Udak kebiasaannya makan belacan mentah. Setelah ditemukan belacan di tabung bambu, Pak Udak dengan semangat memasukkan tanggannya ke dalam tabung bambu. Apa kejadian berikutnya? Karena tabung bambu tersebut pas- pasan untuk masuk tangan Pak Udak, tetapi tangan Pak Udak tidak dapat ditarik kembali dari tabung bambu belacan tersebut. Apa hendak dikata, penjaga dapur jadi terjaga dari tidurnya. Dengan cepat-cepat Pak Udak menyembunyikan tabung bambu belacan tersebut kedalam kain sarungnya. Setelah ditanya oleh penjaga, Pak Udak menjawab sambil gemetaran seperti orang kedinginan bahwa dia demam. Penjaga mengerti bahwa orang kahayangan juga lelah pesta tujuh hari, tujuh malam sehingga menjadi sakit seperti demam. Pak Udak kembali ke tempat tidur, sambil membawa tabung bambu berisi belacan. Lama- lama istrinya terbangun, dan menanyakan mengapa Pak Udak seperti orang demam. Ya, kata pak Udak saya demam. Keesokan paginya Pak Udak dibawa ke dukun kerajaan mau berobat. Pak Udak masih berakting seperti orang demam. Setelah dibawa ke dukun kerajaan, sang dukun mencium bau tak sedap. Bau apa ini Pak Udak? Baunya seperti belacan. Coba saya periksa badan kamu orang kahayangan , kata dukun kerajaan. Pak Udak tidak menghindar lagi. Akhirnya Pak Udak ketahuan maling belacan. Hukumannya Pak Udak diarak keliling kampung, dan diteriaki Pak Udak maling belacan. Akhirnya Pak Udak diusir ke hutan. Cerita lain dari Mak Per adalah sebagai berikut. Cerita ini kakek nenek yang sebagian besar umurnya dihabiskan di Kampung Penagan Kecamatan Mendo Barat. Kakek sebagai seorang nelayan, karena Penagan di pinggir laut Selat Bangka. Di sebuah desa di Penagan, hiduplah Mak Per yang terkenal sebagai seorang tukang nujum. Pasangannya Pak Udak. Mak Per adalah tukang nujum yang terkenal di kampung Penagan. Suami istri ini mencari nafkah dengan meramak nasib orang. Untuk kegiatan meramal nasib, Mak Per menggunakan alat berupa labu kuning dan parang kuting. 5

Cerita Mak Per sebagai tukang nujum terdengar oleh Raja Kotakapur yang terkenal dengan situs Kotakapur zaman kerajaan Sriwijaya dulu. Meskipun tidak percaya akan nujuman nasib dari Mak Per, sang Raja tetap ingin mengetahui kemampuan Mak Per. Pada suatu hari, Mak Per dipanggil menghadap Raja Kotakapur dan diminta untuk menebak isi dari suatu peti yang ada di Kapal Raja di laut Penagan. Jika dapat menebak isi peti itu, Mak Per akan diangkat menjadi raja menggantikan saya dan diberi sepuluh kapal layar sehingga dapat berlayar hingga ke Palembang. Tetapi sebaliknya jika tidak dapat menebak isi peti itu, Mak Per akan dihukum bunuh. Waktu untuk bersiap-siap menebak tujuh hari, kata Raja. Mendengar titah sang Raja Kotakapur, Mak Per menjadi pening kepalanya dan merasa takut, jangan-jangan jadi tak berhasil menebak jadi dihukum mati. Mak Per mencari akal agar dapat menebak isi peti raja tersebut. Setelah merenung dan berpikir di dapur yang hanya ada asapnya, sedangkan tidak ada masakan yang dimasak, maklum sebenarnya Mak Per dan Pak Udak adalah orang miskin sebenarnya, hidup sederhana, tidak seperti Raja hidup mewah. Akhirnya Mak Per menemukan cara, katanya dapat akal. Mak Per akan pergi ke kapal yang ada peti Raja itu untuk mencari tahu apa yang ada di dalam peti. Pada malam hari, berenanglah Mak Per ke laut Penagan dari arah kampung bawah masuk ke sungai kecil yang bermuara kelaut, dikiri- kanan tumbuh pohon bakau. Sampai di Kapal Raja, Mak Per berpegang pada tali tiang kapal, atau tali jangkar kapal. Mak Per mencuri dengar omongan anak buah kapal. Sampai enam hari Mak Per mencari-cari tahu tersebut menguping pembicaraan anak buah kapal, tetapi belum juga ada hasil. Waktu yang ditentukan Raja tinggal sehari lagi. Pada hari terakhir dari batas waktu, Mak Per pergi lagi ke kapal. Mak Per terus mendengarkan omongan anak buah kapal. Anak buah kapal mulai membicarakan nasib Mak Per, Besok pagi Mak Per akan dijemput pengawal Raja. Kalau dia tidak dapat menebak isi peti ini, Mak Per akan dihukum mati. Kasihan Mak Per, sebenarnya isi peti ini sangat sederhana, isinya ayam berbulu putih, balungnya merah, kakinya kuning. Bagaikan dapat rezeki dari langit, Mak Per pulang dengan gembira sambil bersiul-siul mirip siulan Pak Alimin dan tertawa-tawa sendiri. Pak Udak heran, mengapa Mak Per pulang dari laut Penagan padahal pergi dari rumah dengan muka merengut macam orang bini nek minta cerai, pulangpulang tertawa dan bersiul-siul macam orang kerasukan roh jahat dari laut. Dengar- dengar pula laut penagan ada buaya putih. Keesokan harinya Mak Per dipanggil Raja Kotakapur. Akan tetapi Mak Per masang lagak tidak mau datang ke istana Raja hanya dengan berjalan kaki. Aku kata Mak Per, hanya mau datang ke

istana Raja asal dipikul dengan tandu yang berlapis emas berkain sutra, kata Mak Per kepada utusan Raja. Utusan Raja kembali ke istana dan menyampaikan pesan Mak Per. Beberapa lama kemudian , utusan raja datang dengan tandu berlapis emas menuju rumah Mak Per di kampung Bawah Penagan. Mak per pun diusung dengan tandu berlapis emas berkain sutra dan orang-orang kampung melihat Mak Per sepanjang jalan kampung yang dilalui Mak Per. Dengan bangga dan belagak orang hebat, Mak Per memperlihatkan diri dan melambai-lambaikan tangan kepada orang-orang kampungnya. Ada orang yang nyeletuk, kelak mau mati Mak Per ni, macam orang mau pamitan. Sampai di Istana Raja di Kotakapur yang berjarak kira-kira empat kilometer dari Penagan, labu kuning dan parang kuting diletakkan di tempat yang sudah disiapkan.Mak Per mulai berkomatkamit membaca mantra macam dukun Derahim membaca mantra sambil mengayunkan parang kuting di atas labu kuning. Sebentar kemudian Mak Per berteriak- teriak macam orang kerasukan setan atau roh jahat. Ha....ha...ha...., isi peti ini tak lain dan tak bukan...... Mak Per menarik napas dulu, sementara itu, Raja dan rakyat yang menonton menanti dengan hati berdebar-debar. Sebentar kemudian Mak Per berkata lagi, Isi... peti.... ini, ayam ber. ..bulu pu...tih, balungnya merah, kakinya kuning, ha...ha....ha..... Raja jadi terkejut mukanya jadi pucat, alangkah hebatnya Mak Per dapat tahu isi peti ini. Buka! perintah Mak Per. Penonton, orang-orang kampung Penagan dan Kotakapur dengan berdebar-debar menyaksikan peristiwa itu. Ketika peti dibuka, ternyata isinya ayam putih, balungnya merah, dan kakinya kuning. Akhirnya Raja Kotakapur memenuhi janjinya, Raja menyerahkan istana dan 10 kapalnya kepada Mak Per. Kemudian Raja berlayar menuju Palembang. Ujung- ujungnya Pak Udak seperti jadi raja dan Mak Per sebagai permaisurinya. Mereka hidup berbahagia menikmati warisan Raja Kotakapur. Beberapa tahun kemudian Raja Palembang ingin menguji kepintaran Pak Udak dan Mak Per. Raja Palembang mengirim teka-teki yang sedikit rumit kepada Pak Udak dan Mak Per. Seperti ini tekatekinya. Pak Udak dan Mak Per punya kotak-kotak yang berbentuk persegi. Setiap baris dan kolom terdiri dari 7 kotak yang harus diisi dengan angka-angka dari 1 sampai 49. Karena ada 7x7 kotak. Syarat untuk dapat hadiah dari Raja Palembang berupa 2 kg emas, karena Raja Palembang cukup kaya adalah bahwa jumlah baris dan kolom kotak-kotak yang bersesuaian tersebut adalah 175. Ditambah lagi syarat bahwa jumlah diagonal dari kanan atas ke kanan bawah dan dari kanan 7

bawah ke kanan atas juga berjumlah 175. Karena soal ini sulit Raja Palembang memberi waktu 49 hari dari sejak diterima surat dari Raja Palembang. Pada hari ke 49 utusan Raja akan menagih jawaban dari Pak Udak dan Mak Per. Apabila Pak Udak dan Mak Per tidak menjawab dengan benar maka akan disebarluaskan berita bahwa Pak Udak dan Mak Per orang bodoh dari Penagan. Melihat hadiah yang begitu besar harganya 2 kg emas, cukup kata Pak Udak untuk biaya hidup sampai anak cucu. Tapi soalnya kelihatan tidak semudah yang dibayangkan Pak Udak. Raja Palembang hanya memberi kata kuncinya adalah apabila Pak Udak atau Mak Per berjalan awal dari tengah-tengah kampung, jangan lupa langkah kuda catur, seperti huruf L. Setelah itu berjalanlah mengarah ke arah Timur Laut. Setelah sampai tempat yang dituju, gunakan pula langkah kuda catur. Apabila mendapat rintangan arah Timur Laut mundur satu langkah, kemudian selesaikan perjalanan sampai km 49. Wah, pusing, kata Pak Udak. Pak Udak mencoba menyusun bilangan dari kotak pertama sampai kotak 49, kemudian Pak Udak menjumlahkan baris dan kolom yang didapat. Baris pertama berjumlah 28, baris kedua 77, baris ketiga 126, baris keempat 175, baris kelima 224, baris keenam 273, dan baris ketujuh 322.

1 8 15 22 29 36 43

2 9 16 23 30 37 44

3 10 17 24 31 38 45

4 11 18 25 32 39 46

5 12 19 26 33 40 47

6 13 20 27 34 41 48

7 14 21 28 35 42 49

Kemudian Pak Udak juga menjumlah kolom-kolomnya. Kolom pertama berjumlah 154, kolom kedua 161, kolom ketiga 168, kolom keempat 175, kolom kelima 182, kolom keenam 189 dan kolom ketujuh 196. Hasil pertama ini dilaporkan ke Mak Per. Mak Per melihat hanya satu baris dan satu kolom yang jumlahnya 175. Pak Udak kamu hanya dapat skor dua yaitu baris keempat dan kolom keempat yang jumlahnya 175, kata Mak Per kepada Pak Udak. Pak Udak coba gunakan petunjuk dari Raja Palembang bahwa apabila Pak Udak atau Mak Per berjalan awal dari tengahtengah kampung, jangan lupa langkah kuda catur, seperti huruf L. Setelah itu berjalanlah mengarah ke arah Timur Laut. Setelah sampai tempat yang dituju, gunakan pula langkah kuda catur. Apabila mendapat rintangan arah Timur Laut mundur satu langkah, kemudian selesaikan perjalanan sampai km 49. Coba Mak Per pula yang menjawab, sahut Pak Udak kesal. Kemudian Mak Per memperlihatkan usahanya yang pertama menjawab teka-teki Raja tersebut.

28 48 19 39 10 30 1

7 27 47 18 38 9 29

35 6 26 46 17 37 8

14 34 5 25 45 16 36

42 13 33 4 24 44 15

21 41 12 32 3 23 43

49 20 40 11 31 2 22

Coba Pak Udak kamu periksa dimana salahnya jawabanku ini, kata Mak Per. Wah, Mak Per jawaban kamu banyak benarnya, kata Pak Udak. Kolom pertama berjumlah 175, kolom kedua berjumlah 175, sampai kolom ketujuh benar berjumlah 175. Hitung yang benar Pak Udak,

jangan kita kirim dulu, kalau masih salah. Kita dicap oleh Raja Palembang orang bodoh dari Penagan. Malu diri kepada orang kampung kita, teliti Mak Per kepada Pak Udak. Benar Mak Per jumlah diagonal dari kanan atas ke kanan bawah 28 + 27 + 26 + 25 + 24 + 23 + 22 kan sama dengan 175, benar dak, kata pak Udak. Ya, benar, sahut Mak Per. Tapi coba Pak Udak lihat jumlah baris pertama, kedua dan seterusnya. Kemudian Pak Udak menghitung jumlah baris- baris tersebut. Pak Udak rupanya sudah pandai berhitung penjumlahan. Dalam hati Mak Per berkata, dak sia-sia Mak Per mengajar Pak Udak berhitung. O, Mak Per, masih salah jumlah baris-baris ni. Baris pertama berjumlah 196, baris kedua 189, baris ketiga 182, baris keempat 175, baris kelima 168, baris keenam 161 dan baris ketujuh 154. Itulah Pak Udak yang masih kupikir, dimana salah kita menempatkan angka-angka ini, kata Mak Per kepada Pak Udak. Beberrapa hari Mak Per sibuk ke ladang dan ke laut, untuk melihat padi yang di huma hampir masak. Kadang ke laut mencari ikan menggunakan sampan sambil masang puket di laut. Lumayan kata Mak Per daripada membeli ikan. Lah hampir batas waktu 49 hari, utusan raja Palembang akan datang ke Penagan menagih jawaban dari Pak Udak dan Mak Per terhadap teka- teki Raja Palembang. Mak Per berpikir keras apa salahnya dari jawaban yang terakhir. Dibaca lagi petunjuk dari Raja, apabila Pak Udak atau Mak Per berjalan awal dari tengah-tengah kampung, jangan lupa langkah kuda catur, seperti huruf L. Setelah itu berjalanlah mengarah ke arah Timur Laut. Setelah sampai tempat yang dituju, 9

gunakan pula langkah kuda catur. Apabila mendapat rintangan arah Timur Laut mundur satu langkah, kemudian selesaikan perjalanan sampai km 49. Mungkin maksud tengah-tengah kampung langkah pertama dari tengah-tengah yaitu baris atau kolom keempat. Pikir Mak Per. Setelah mencoba-coba kembali meletakkan bilangan 1 sampai 49 kedalam 49 kotak-kotak persegi Mak Per mendapatkan hasil sebagai berikut.

30 38 46 5 13 21 22

39 47 6 14 15 23 31

48 7 8 16 24 32 40

1 9 17 25 33 41 49

10 18 26 34 42 43 2

19 27 35 36 44 3 11

28 29 37 45 4 12 20

Kemudian Mak Per menyuruh Pak Udak untuk mengecek hasilnya benar dak berjumlah 175. Mak Per, kita akan dapat hadiah dari Raja Palembang, jawaban Mak Per benar. Cobalah baris pertama berjumlah 175, baris kedua berjumlah 175, sampai baris ketujuh. Kolom pertama berjumlah 175, kolom kedua berjumlah 175, sampai kolom ketujuh. Horee.. besok kita akan dapat hadiah, kata Pak Udak. Pak Udak, sudah dicek belum jumlah diagonalnya. O, iya, kata pak Udak. 30 + 47 + 8 + 25 + 42 + 3 + 20 = 175, benar. Satu lagi, 22 + 23 + 24 + 25 + 26 + 27 + 28 = 175, benar. Pada hari yang dijanjikan datanglah utusan Raja Palembang menagih jawaban dari pak Udak dan Mak Per. Setelah dilihat utusan Raja jawaban tersebut benar, maka dengan senang hati utusan menyerahkan hadiah 2 kg emas kepada Pak Udak dan Mak Per. Maka batallah gelar Pak Udak dan Mak Per orang bodoh dari penagan. Sebelum utusan pulang ke Palembang, Mak Per menitipkan teka-teki yang mirip kepada Raja Palembang, rupanya Mak Per mau menguji kepintaran Raja Palembang, Mak per hanya memberi waktu 7 jam dari sejak teka-teki dibaca oleh Raja, dan syaratnya kata Mak Per kirim kepadaku 10

lewat e-mail. Teka-tekinya adalah Raja Palembang punya kotak-kotak yang berbentuk persegi. Setiap baris dan kolom terdiri dari 9 kotak yang harus diisi dengan angka-angka dari 1 sampai 81. Karena ada 9x9 kotak. Jumlah baris dan kolom kotak-kotak yang bersesuaian tersebut adalah 369. Ditambah lagi syarat bahwa jumlah diagonal dari kanan atas ke kanan bawah dan dari kanan bawah ke kanan atas juga berjumlah 369. Setelah sampai di Palembang, Raja dapat menjawab teka-teki Mak Per, karena Raja sudah tahu kuncinya. Tapi syarat yang kedua Raja Palembang bingung, bagaimana mengirim jawaban lewat e-mail, sehingga tidak terkirimlah jawaban Raja Palembang tersebut.

Catatan : Kayu seru = pohon seru, yang banyak tumbuh di hutan belukar Bangka Kayu samak = pohon samak Sikok aben = satu pun Lulong asuk = dubur anjing Pohon rumbia = pohon yang tumbuhnya di rawa, daunnya dibuat atap. Atap rumbia. Aok = ok = ya Ko nek mayer saoh = aku mau membayar pembalasan Kulat = jamur Bilongko = telingaku. Parang kuting = parang tidak mempunyai hulu/ gagang.

11

BIODATA

Nama Jenis Kelamin Tempat Tanggal Lahir Status Agama Alamat

: Drs. Rachmad,MM : Laki-laki : Pangkalpinang , 14 Pebruari 1964 : Kawin : Islam : Jl.Jakfar Yusuf No 16 RT 07 RW 02 Pintu Air Pangkalpinang 33133

Nomor Telpon /HP e-mail Pendidikan

: 081373333264 : rachmad_rusli@yahoo.co.id : S 1 / A IV Pendidikan Matematika IKIP Bandung. Magister Manajemen Universitas Terbuka.

Pendidikan SD Pedindang , Kabupaten Bangka Lulus Tahun 1977 SMP Negeri 1 Pangkalpinang , Lulus Tahun 1981 SMA Negeri 1 Pangkalpinang , Lulus Tahun 1984 S 1 dan A IV Pendidikan Matematika IKIP Bandung Lulus Tahun 1988. Magister Manajemen Universitas Terbuka tahun 2013. Pekerjaan Guru SMA Negeri 1 Pangkalpinang Tahun 1989 s.d 2007 Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Pangkalpinang dari tahun 2007- 2010 Pengawas Pendidikan Sekolah Menengah (PSM) Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang
12

CERITA PAK UDAK DAN MAK PER

OLEH

Drs. RACHMAD, MM

JL. JAKFAR YUSUF NO 16 RT 07/RW 02 PINTU AIR PANGKALPINANG

13

14