Anda di halaman 1dari 19

Critical Review:

HUBUNGAN MODAL INTELEKTUAL DAN KINERJA KEUANGAN : PENGUJIAN EMPIRIS PADA PERUSAHAAN IRAN
Reza Gharoie Ahangar

BAB 1 PENDAHUUAN

Dalam pandangan tradisional tanah, tenaga kerja, dan modal merupakan aset yang paling bernilai dalam ekonomi. Dalam konvensional aset fisik dipertimbangkan sebagai penentu utama dari kinerja suatu aktivitas ekonomi. Tetapi dengan perkembangan yang begitu cepat dari ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dengan globalisasi dapat mengubah bentuk dan struktur dari sistem produksi. Sistem produksi yang baru lebih utama utama didorong oleh teknologi, ilmu pengetahuan, keahlian, hubungan dengan pemangku kepentingan dan hal-hal lain yang secara kolektif bisa dijelaskan sebagai Modal Intelektual. Dalam sistem ekonomi yang baru, yang dikenal sebagai knowledge economy, aktiva tidak berwujud atau aset intelektual telah diakui menjadi sumber daya utama. Perusahaan seperti perusahaan perangkat lunak, keuangan, farmasi, perbankan, hotel dan lain-lain bergantung pada sebuah batasan tertentu atas Modal Intelektual untuk pendapatan laba. Perusahaan produksi atau manufaktur menggunakan Modal Intelektual dengan aktiva fisik untuk meningkatkan kemampuan bersaingnya. Borneman et al. (1999) menemukan perusahaan yang mengelola modal intelektualnya dengan baik, memperoleh keunggulan bersaing yang lebih kuat dari pada perusahaan pada umumnya. Mereka juga menyatakan bahwa perusahaan yang memperkuat manajemen modal intelektualnya memiliki kinerja yang lebih baik

dibandingkan perusahaan lainnya. Brennan dan Connell (2000) mengklaim bahwa manajemen modal intelektual memainkan peran yang penting pada kinerja bisnis jangka

panjang dari suatu perusahaan. Dalam penelitian ini peneliti mencoba untuk menemukan apakah Modal Intelektual atau Modal Fisik secara signifikan bisa mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan atau tidak.

BAB II RESUME JURNAL Definisi modal intelektual Istilah modal intelektual termasuk penemuan, ide, pengetahuan umum, pendekatan desain, program komputer dan publikasi. Mantan editor majalah bisnis "Fortune", Thomas Stewart menjelaskan modal intelektual sebagai "sesuatu yang tidak bisa disentuh, namum hal itu secara perlahan membuat kamu kaya". Jacob Ben-Simchon, (2005) istilah 'modal intelektual' digunakan untuk menyertakan semua aktiva tidak berwujud atau aset non fisik dan sumber daya sebuah organisasi begitu juga prakteknya, hak paten, pengetahuan implisit anggota, mitra dan kontrak jaringan mereka. Stewart (1997) mendefinisikan sebagai 'paket pengetahuan yang berguna', Sullivan (2000) mendefinisikan sebagai 'pengetahuan yang dapat diubah menjadi keuntungan', Roos et al (1997) mendefinisikan sebagai 'jumlah pengetahuan' anggotanya yang secara praktis diterjemahkan pengetahuan ini ke dalam merek, merek dagang dan sebagai suatu proses. Edvinsson dan Malone (1997) mendefinisikannya sebagai kepememilikan pengetahuan, pengalaman aplikasi, teknologi organisasi, hubungan pelanggan dan keterampilan profesional yang tersedia bagi sebuah perusahaan dengan keunggulan kompetitif di pasar. Salah satu model yang paling populer untuk mengklasifikasikan modal intelektual (IC) adalah Saint-the Onge, H. (1996) model yang dikembangkan pada awal 1990-an. Ia membagi modal intelektual menjadi tiga bagian: Human capital, Modal struktural, dan modal Pelanggan. sedikit Varian dari model tersebut dikembangkan oleh Dr Nick Bontis dengan menyatakan kembali Modal pelanggan sebagai modal relasional untuk memasukkan hubungan dengan pemasok. Modal manusia diakui sebagai yang terbesar dan aset tidak berwujud yang paling penting dalam suatu organisasi yang akhirnya ia menyediakan barang atau jasa yang

pelanggan butuhkan atau solusi untuk masalah mereka. Ini mencakup pengetahuan kolektif, kompetensi, pengalaman, keterampilan dan bakat orang yang ada dalam suatu organisasi. Ini juga mencakup kemampuan kreatif organisasi dan kemampuannya untuk menjadi inovatif. Meskipun investasi dalam modal manusia terus tumbuh, tetapi masih belum ada standar ukuran efektivitasnya dalam neraca perusahaan. Modal struktural adalah infrastruktur yang mendukung bagi manusia, modal itu adalah modal yang tetap di pabrik atau kantor ketika karyawan meninggalkan pada akhir hari. Ini mencakup kemampuan organisasi, proses, data dan paten. Berbeda dengan modal manusia, ini adalah properti perusahaan dan dapat diperdagangkan, direproduksi dan dibagi oleh organisasi tersebut. Modal relasional adalah hubungan perusahaan dengan pelanggan dan dengan jaringan pemasok, mitra strategis dan pemegang saham. Nilai aset ini ditentukan oleh reputasi atau citra perusahaan (Pedoman MERITUM). Unsur-unsur dari IC diringkas dalam definisi CIMA (2001) "IC merupakan kepemilikan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan profesional, hubungan baik, serta kapasitas teknologi, yang bila diterapkan akan memberikan organisasi keunggulan kompetitif.

Pengukuran Modal Intellektual Perusahaan asuransi Skandinavia, Skandia AFS, adalah pelopor dalam pengukuran dan pelaporan Modal Intelektual. Perusahaan ini telah menyediakan Informasi modal intelektual dalam sebuah pernyataan pelengkap yang dilaporkan dalam Laporan Tahunan sejak tahun 1994. Pernyataan tambahan telah dikembangkan untuk memunculkan fokus manusia, fokus pelanggan saat ini dan Proses fokus struktural perusahaan. Selain itu, pengembangan masa depan Informasi terkait yang disediakan di samping data keuangan yang historis. Namun demikian berbagai pendekatan untuk mengukur Modal Intelektual dikelompokkan ke dalam

empat pendekatan pengukuran E.E.Sveiby (2007). Kategori ini adalah adalah perluasan dari klasifikasi yang disarankan oleh Luthy (1998) dan Williams (2000). yaitu; (i) Metode Modal Intelektual Langsung (DIC): Perkirakan nilai Rupiah-aset tidak berwujud dengan mengidentifikasi berbagai komponennya. Setelah komponen ini diidentifikasi, mereka dapat dievaluasi secara langsung, baik secara individu atau sebagai kelompokkan. Metode ini mencakup The Value Explorer, Intellectual Asset Valuation, Total Value Creation (TVC), Accounting for the future (AFTF) dan lain-lain. (ii) Metode Kapitalisasi Pasar (MCM): menghitung perbedaan antara kapitalisasi pasar perusahaan dan nilai buku sebagai nilai modal intelektual atau aset tidak berwujud. Markets to Book Value, Tobin Q contoh metode ini. (iii) Return on Assets methods (ROA). Ini adalah kapitalisasi pendapatan industri di atas ratarata dengan rata-rata biaya modal perusahaan. Laba Industri di atas rata-rata adalah perkalian kelebihan ROA perusahaan atas ROA industri dengan rata-rata aset berwujudnya. Metode ini meliputi Knowledge Capital Earnings, Economic Value Added (EVATM), Calculated Intangible Value (CIV), Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM) dan lain-lain. (iv) Metode Scorecard (SC). Berbagai komponen aset tidak berwujud atau modal intelektual diidentifikasi dan diindikatorkan dengan indeks yang dihasilkan dan dilaporkan dalam Scorecard atau dengan grafik. Contoh metode ini adalah National Intellectual Capital Index (NICI), IC Rating TM, ICdVAL TM, Value Chain Scoreboard dan lain-lain.

Pengaruh modal intelektual pada kinerja perusahaan Davenport dan Prusak (1998) mencatat bahwa kemajuan dalam teknologi pengolahan data, komunikasi, transportasi, serta permintaan pelanggan dan strategi perencanaan telah membuat perekonomian dunia berubah sangat cepat. Teese (2000) menyatakan bahwa aset tidak berwujud perusahaan dan IC adalah kunci untuk mencapai keunggulan kompetitif yang

berkelanjutan merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi (Drew, 1999). Reed (2000) menemukan bahwa modal intelektual adalah prediktor kuat dari kinerja perusahaan. Bontis et al (2000) meneliti tiga unsur modal intelektual, yaitu elemen manusia, struktural dan pelanggan, serta antar hubungan mereka. Kesimpulan utama yang dapat ditarik dari penelitian tersebut dimana modal manusia dan pelanggan adalah faktor signifikan dalam cara di mana bisnis dijalankan dan modal struktural memiliki pengaruh positif pada kinerja bisnis. Riahi-Belkaoui (2003) telah menguji hubungan antara modal intelektual dan kinerja perusahaan yang dipilih dari perusahaan multinasional-nasional Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa modal intelektual secara positif terkait dengan kinerja keuangan. Saudah Sofia (2005) mengkaji dampak dari derajat dan bentuk IC pada praktik akuntansi manajemen, khususnya, pengukuran kinerja dan kinerja perusahaan. Hasil menunjukkan bahwa IC berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Ming-Chin Chen et al., (2005) telah mencoba untuk memeriksa hubungan antara efisiensi penciptaan nilai, penilaian pasar dan kinerja keuangan perusahaan. Mereka telah menemukan bahwa modal intelektual memiliki pengaruh positif pada nilai pasar dan kinerja keuangan. Paula Kujansivu dan Antti Lnnqvist (2005) mencoba untuk menemukan hubungan antara nilai moneter Modal Intelektual dan nilai efisiensi penciptaan Modal Intelektual perusahaan Finlandia. Hasil studi menunjukkan nilai IC dan efisiensi IC bagaimanapun juga terkait. Maria do Rosrio Cabrita dan Jorge Landeiro Vaz (2005) menguji hubungan dan pengaruh antara interaksi komponen komponen modal intelektual dan kinerja organisasi dalam konteks perbankan Portugal. Hasil penelitian itu menunjukkan hubungan yang signifikan antara modal intelektual dan kinerja organisasi. Syed Najibullah (2005) menyelidiki secara empiris efisiensi penciptaan nilai Modal Intelektual dan penilaian pasar kinerja dan keuangan 22 Bank Banglades yang tercatat di Bursa Efek Dhaka. Hasil studi

mendukung peran positif Modal intelektual dalam menciptakan nilai perusahaan. Norma Juma (2006) mencoba untuk menemukan hubungan antara Modal intelektual dan Kinerja Usaha Baru dalam perusahaan teknologi tinggi di Amerika Serikat, Temuan studi ini menunjukkan bahwa modal manusia adalah komponen IC yang paling penting ketika memprediksi kinerja operasi perusahaan berteknologi tinggi, sementara kekayaan intelektual merupakan komponen penting ketika memprediksi kinerja berbasis pasar. Hong Pew Tan et al., (2007) telah melaporkan hubungan positif antara modal intelektual perusahaan dan kinerja keuangan mereka. G Barathi Kamath (2007), telah menganalisis modal manusia dan modal fisik 98 bank komersial India, dan telah meneliti dampaknya terhadap kinerja berbasis nilai selama periode lima tahun 2000-2004. Studinya menegaskan bahwa ada perbedaan yang cukup besar pada segmen berbeda dari kinerja bank India terutama karena perbedaan mendasar di HC. Flavio L. Richieri (2007) membuat penelitian dengan saham IC (CIA) dan efisiensi IC (ICE) serta kinerja keuangan perusahaan sebagaimana yang diukur dengan ROA, ROE dan ROS dari 1000 perusahaan terbesar Brasil. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara kedua CIV dan ICE serta variabel dependen ROE, ROA dan ROS. Ranjith Appuhami (2007) menyelidiki dampak dari nilai efisiensi penciptaan Modal Intelektual pada investor capital gain atas saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Thailand. Penelitian empiris menemukan bahwa modal intelektual perusahaan memiliki hubungan positif yang signifikan dengan capital gain investor pada saham. Penelitian tersebut di atas jelas menunjukkan kegunaan modal intelektual dan hal ini memotivasi peneliti saat ini untuk melakukan studi empiris pada dampak dari modal intelektual pada kinerja keuangan perusahaan India. Makki dan Lodhi (2009) menguji hubungan antara modal intelektual dan return on investment (ROI) dengan menggunakan VAIC dikembangkan oleh Ante Pulic (1998). Hasil studi mengindikasikan, efisiensi IC dapat digunakan sebagai patokan dan indikator strategis untuk mengarahkan sumber daya keuangan dan intelektual ke

arah yang tepat terutama untuk meningkatkan nilai perusahaan. G. Bharathi Kamath (2010) mengukur kinerja bank di Pakistan pada dimensi baru modal intelektual. Penelitian ini memperkirakan nilai tambah modal intelektual (VAIC) dari bank di Pakistan untuk jangka waktu 2 tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bank-bank swasta itu melakukan banyak hal dan lebih baik daripada semua bank lain di Pakistan pada tingkat efisiensi modal intelektual. Kinerja yang baik dikaitkan dengan penggunaan yang efisien serta pengelolaan sumber daya manusia.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS Menurut pandangan berbasis sumber daya, perusahaan dapat memperoleh keunggulan kompetitif dan kinerja keuangan yang superior melalui akuisisi, holding dan berikutnya penggunaan aset strategis (Wernerfelt, 1984; Lev, 1987). Kedua aset berwujud dan tidak berwujud dianggap sebagai potensi aset strategis (Riahi dan Belkaoui, 2003;). Salah satu aset yang tak terlihat, Modal Intelektual umumnya dianggap sebagai aset strategis yang vital. Menurut Riahi dan Belkaoui (2003), modal intelektual itu dimaksudkan dengan pengetahuan spesifik dan berharga yang dimiliki oleh organisasi. Kualifikasi modal intelektual sebagai aset strategis berpijak pada potensi hubungan antara modal intelektual di satu sisi serta kinerja perusahaan pada sisi yang lain (Seethamraju, 2000). Selanjutnya, banyak peneliti sekarang berpendapat bahwa dibandingkan dengan sumber daya yang nyata modal intelektual atau sumber daya tidak berwujud lebih cenderung menjadi sumber utama bagi banyak perusahaan yang membantu mereka dalam memperoleh kebutuhan dalam persaingan dan keuntungan atau memastikan dominasi pasar (Brernan dan Connell, 2000; Marr, 2004). Menurut Patton (2007), produktivitas perusahaan terletak lebih banyak pada ICnya dan kemampuan sistem daripada aset keras-nya. Bontis (2001) berpendapat bahwa memanfaatkan aset pengetahuan adalah kunci untuk kemakmuran perusahaan. berdasarkan

penelitian ini, oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa perusahaan dengan kinerja modal intelektual yang lebih tinggi diharapkan memiliki tingkat profitabilitas yang lebih tinggi dan juga mungkin mengalami produktivitas serta pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi. Dengan demikian, peneliti memprediksi hubungan positif antara kinerja keuangan yang diukur dengan profitabilitas, produktivitas dan pertumbuhan pendapatan serta kinerja modal intelektual. Oleh karena itu, hipotesis dalam penelitian ini adalah: H1: Semakin besar kinerja modal manusia perusahaan akan menjadi semakin besar kinerja keuangan perusahaan. H2: Semakin besar kinerja modal struktural perusahaan, akan menjadi semakin besar kinerja keuangan perusahaan H3: Semakin besar kinerja modal fisik perusahaan akan menjadi semakin besar kinerja keuangan perusahaan

METODELOGY Bagian pertama dari seksi ini menjelaskan proxy yang digunakan untuk mengukur variabel terikat, variabel bebas dan variabel pengendali. Persamaan regresi berganda diuraikan pada bagian akhir dari seksi ini. Menggunakan prosedur purposive sampling, laporan tahunan, khususnya Laporan Laba Rugi dan Neraca suatu perusahaan bisnis terkenal di Iran selama 30 tahun, (1980-2009) yang telah di pilih dalam penelitian ini.

Pengukuran variabel dependen Untuk tujuan keperluan analisis dalam penelitian sekarang, tiga variabel dependen diambil untuk dihitung, yaitu keuntungan, produktivity dan pertumbuhan dalam pendapatan. Sekarang, tidak ada pandangan teori khusus atau bukti empiris memadai yang mendukung

keunggulan setiap proxy pengukuran atas pengukuran yang lain. Oleh karena itu, diputuskan untuk tujuan penelitian ini, secara umum digunakan proxy pengukuran yang akan di aplikasikan. Maka proxy pengukuran untuk setiap variabel dependen didefinsikan sebagai berikut: (1) Profitabilitas (ROA): - Profitabilitas menampilkan tingkat kelebihan pendapatan perusahaan dari pada biaya. Hal itu merupakan rasio laba bersih (dikurangi deviden) yang ditentukan dengan nilai buku total aset sebagaimana dilaporkan dalam laporan tahuanan; (Williams and Firer, 2003; Chen, Cheng and Hwang, 2005) (2) Produktivitas pekerja (EP): Produktivitas pekerja diukur dari penjualan bersih per pekerja, yang merefleksikan kemampuan produktivitas karyawan (Chen, Cheng and Hwang, 2005; S Najbullah, 2005). Hal itu dihitung sebagai berikut: EP = penjualan bersih untuk satu periode / jumlah karyawan. Di dalam analisis regresi saya menggunakan log EP (LEP). (3) Pertumbuhan penjualan (GR): Pertumbuhan penjualan menghitung perubahan penjualan tahun berjalan perusahaan dari pada penjualan tahun lalu. Peningkatan penjualan merupakan sinyal bahwa perusahaan memiliki prospek pertumbuhan ((Chen, Cheng and Hwang, 2005; S Najbullah, 2005). GR = (penjualan tahun berjalan penjualan tahun lalu) / penjualan tahun lalu x 100

Pengukuran variabel independen Value Added Intellectual Coefficient (VAIC) metode yanng dikembangkan oleh Ante Pulic (1998) bentuk pengukuran pokok yang menjadi dasar bagi variabel dependen dalam penelitian ini. Dalam pernyataannya VAIC adalah sebuah prosedur analisis yang dibuat untuk manajemen, pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya yang relevan untuk secara efektif memonitor dan mengevaluasi efisiensi dari VA yang dihasilkan oleh seluruh

sumber daya perusahaan dan setiap komponen sumber daya utama. VAIC merupakan gabungan dari penjumlahan dua indikator yaitu: (1) Capital Employed Efficiency (CEE) indikator efisiensi VA dari modal karyawan; (2) Intellectual Capital Efficiency (ICE) indikator efisiensi VA bedasarkan modal intelektual perusahaan. Intellectual Capital Efficiency adalah gabungan dari (a) Human Capital Efficiency (HCE) indikator efisiensi VA dari modal manusia; dan (b) Structural Capital Efficiency (SCE) indikator efisiensi VA dari modal struktural. Dua sub komponen VAIC dari variabel independen dalam penelitian ini. Persamaan (1) menunjukkan hubungan matematis VAIC: VAICi Dimana: VAICi = koefisien intelektual VA untuk perusahaan i, CEEi = koefisien efisiensi = CEEi + HCEi + SCEi..........(Persamaan (1))

modal karyawan untuk perusahaan /, HCEi = koefisien efisiensi modal manusia untuk perusahaan i dan SCEi = koefisien efisiensi modal struktural untuk perusahaan i. Pulic (1998) menyatakan makin tinggi koefisien VAIC, makin baik efisiensi dari VA oleh keseluruhan sumber daya perusahaan. Langkah pertama menghitung CEE, HCE dan SCE adalah menentukan total VA perusahaan. Perhitungan ini didefinisikan oleh persamaan matematis berikut: VAi = Ii + DPi + Di + Ti + Mi + Ri + Wsi...............(Persamaan (2))

Dimana: VA perusahaan i dihitung sebagai jumlah dari beban bunga (Ii); beban depresiasi (DPi); dividen (Di); pajak perusahaan (Ti); Ekuitas pemegang saham minoritas dalam laba bersih subsidiari (Mi); dan laba yang dihasilkan selama satu tahun (Ri) gaji dan upah. VA juga bisa dihitung dengan cara lain yaitu dengan mengurangi beban operasi (bahan, pemeliharaan, biaya eksternal lainnya) dari pendapatan operasi. (Pulic 1998).

(Pulic 1998) menyatakan CEE adalah rasio total VA yang ditentukan dengan jumlah Modal karyawan (CE) dimana modal karyawan didefinisikan sebagai nilai buku dari aset bersih perusahaan. Persamaan (3) menampakkan hubungan matematis CEE: CEEi = VAi/CEi .................Persamaan (3)

Dimana: CEEi = koefisien efisiensi modal karyawan untuk perusahaan i, VAi = VA perusahaan i; dan CEi = nilai buku dari aset bersih untuk perusahaan i. Konsisten dengan pandangan penelitian IC terdahulu ( contohnya, Edvinsson, 1997; Sveiby, 2001), Pulic (1998) berpendapat total biaya gaji dan upah merupakan indikator modal manusia perusahaan (HC). HCE, oleh karena itu dihitung sebagai rasio total VA yang ditentukan dengan jumlah gaji dan upah yang dibayarkan oleh perusahaan kepada karyawannya. Persamaan (4) memperlihatkan hubungan matematis ini: HCEi = VAi/Hci .................Persamaan (4)

Dimana: HCEi = koefisien efisiensi modal manusia untuk perusahaan i, VAi = VA untuk perusahaan i, dan HCi = total biaya gaji dan upah untuk perusahaan i. Untuk menghitung SCE, pertama diperlukan untuk menentuka nilai modal struktural (SC). Pulic (1998) mengemukakan total VA perusahaan dikurangi modal manusia perusahaannya sebagai proxy yang sesuai untuk SC peusahaan. Yaitu: SCi = VAi HCi ............(Persamaan (5))

Dimana: SCi = Modal struktural perusahaan i, VAi = VA untuk perusahaan i dan HCi = total pengeluaran gaji dan upah untuk perusahaan i. Sekarang ini, metode VAIC merupakan metode yang populer dikalangan peneliti untuk pengukuran kemampuan intellectual perusahaan. Schneider (1999) mendukung adopsi teknik ini sebagai metode yang efektif untuk mengukur efisiensi modal intelektual karena: (a) VAIC menempatkan titik berat pada nilai karyawan, komponen kunci dari modal intelektual.

(b)VAIC bisa memberikan sekumpulan bukti bahwa adanya pengaruh modal intelektual yang menjadi kunci suksesnya suatu proses. (c) VAIC sangat mudah untuk dihitung menggunakan informasi akuntansi yang sudah di laporkan perusahaan dalam laporan tahunan dan ini meminimalkan setiap tambahan biaya untuk penyiap laporan dan pemangku kepentingan; (d) Metodelogi perhitungan yang digunakan di VAIC relatif mudah dan kemungkinan besar lebih dipahami.

Variabel Pengendali Untuk tujuan analisis empiris penilitian ini menggunakan korelasi dan persamaa regresi berganda sebagai pengujian statistik utama. Dalam melakukan analisis regresi berganda dimasukkan variabel pengendali berikut. 1. Leverage (Lev): Leverage keuangan dan struktur utang sebagai ukuran yang ditentukan dengan nilai buku total aset digunakan untuk mengendalikan pengaruh pembayaran utang atas kinerja perusahaan dan penciptaan kekayaan (Riahi and Belkaoui, 2003) 2. Physical capital intensity (PC): Physical capital intensity sebagai ukuran sebuah rasio aset tetap perusahaan terhadap total asetnya (Firer and Stainbank, 2003; Firer and Williams, 2003) yang digunakan untuk mengendalikan pengaruh aset tetap atas kinerja perusahaan. Asumsinya bahwa aset tetap perusahaan mempunyai pengaruh signifikan atas kinerja keuangan perusahaan. 3. Assets turnover ratio (ATO): adalah rasio total perputaran terhadap total aset. Rasio ini digunakan untuk mengendalikan pengaruh total aset terhadap kinerja perusahaan.

Regresi linear berganda Untuk analisis hubungan masing-masing variabel yang didefinisikan dalam bagian sebelumnya, analisis regresi linear berganda ditunjukkan bedasarkan model berikut ini: ROA = + 1 (HCE) + 2 (SCE) + 3 (CEE) + 4 (PC) + 5 (DER) + 6 (ATO) + Persamaan (1) EP = + 1 (HCE) +2 (SCE) + 3 (CEE) +4 (PC) + 5 (DER) + 6 (ATO) + Persamaan (2) SG = +1 (HCE) +2 (SCE) + 3 (CEE) + 4 (PC) + 5 (DER) + 6 (ATO) + Persamaan (3) Dimana; HCE = Kinerja modal manusia diukur dengan rasio nilai tambah modal intelektual, CEE = Kinerja modal karyawan diukur dengan rasio nilai tambah modal karyawan, PC = Physical capital intensity diukur dengan aset tetap dibagi dengan total aset, ATO = Produktifitas perusahaan diukur dengan rasio debt-equity, ROA = Profitabilitas perusahaan diukur dengan tingkat pengembalian aset perusahaan, SG = Pertumbuhan penjualan diukur dengan rasio kelebihan penjualan tahun berjalan terhadap penjualan tahun lalu, EP = Produktivitas karyawan yang diukur dengan penjualan per karyawan.

Statistik Deskriptif Tabel 1 menampilkan statistik deskriptif semua variabel penelitian. Statistik deskriptif berisi nilai minimum dan nilai maksimum. Profitabilitas keseluruhan perusahaan ditampilkan sebagai pendapatan laba rata-rata pada tingkat 19% selama periode penelitian. Pertumbuhan penjualan perusahaan sebesar 31 % selama periode penelitian. Nilai rata-rata HCE mengindikasikan modal manusia perusahaan lebih efektif dalam menciptakan nilai dari pada SCE dan CEE selama periode penelitian. Tingkat resiko perusahaan sangat tinggi

sebagaimana direfleksikan tingginya nilai rasio debt-equity.Yang terakhir rasio perputaran aset perusahaan mengindikasikan penggunaan yang efisien dari total aset.

PEMBAHASAN HASIL Tabel 2, 3 dan 4 memperlihatkan hasil regresi tiga model kinerja perusahaan. Tabel 2 menampakkan hasil regresi linear berganda profitabilitas deng HCE, SCE dan CEE dan variabel pengendali lainnya, dalam tabel ini Adj. R2=0.373 and Sig=0.008<0.01) hasil empiris menunjukkan hanya HCE secara signifikan berhubungan dengan profitabilitas perusahaan yang diukur dengan Return on Asset. (Karena Sig (SCE) =0.894>0.1 and Sig (CEE) =0.696>0.1) Bagaimanapun, Rasio perputaran aset, menggunakan modal utang dan penggunaan modal fisik dalam total aset juga secara signifikan mempengaruhi profitabilitas perusahaan. (Karena (Sig) ATO=0.000<0.01) Dari hasil empiris tabel 3 menunjukkan bahwa Human Capital Efficiency (HCE), Physical Capital Efficiency (CEE) dan Assets Turnover Ratio (ATO) secara signifikan mempengaruhi kinerja perusahaan yang diukur dengan pertumbuhan penjualan. Karena Sig (HCE) =0.045<0.05 dan Sig (CEE) =0.012<0.05 dan Sig (ATO) =0.011<0.05). Tetapi Physical Capital Efficiency berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan (Karena = 1.985). Dalam tabel 3 Adj. R2=0.349 dan sig=0.012<0.05). Dari hasil empiris tabel 4 terbukti bahwa employee productivity (EP) dan human capital efficiency (HCE) secara signifikan dan berhubungan positif (Karena Sig (HCE) =0.000<0.01 dan (HCE) =0.390>0). Tetapi efisiensi penciptaan nilai modal fisik perusahaan secara signifikan berpengaruh negatif dengan variabel dependent. Karena Sig (CEE) =0.000<0.01 dan (CEE) = -9.790<0). Dalam tabel 4 ini, Adj. R2=0.696 dan Sig=0.000<0.01). Dengan demikian variabel produktifitas karyawan memiliki korelasi kuat daripada Profitabilitas dan Pertumbuhan Penjualan. Temuan empiris menemukan hubungan yang kuat

antara efisiensi nilai tambah modal manusia perusahaan dan kinerja perusahaan tetapi gagal untuk menemukan hubungan yang kuat antara efisiensi nilai tambah oleh dua komponen utama lainnya dari sumber daya dasar perusahaan (yaitu, Modal Struktural dan Modal Fisik) serta kinerja perusahaan. Oleh karena itu, Hasil regresi sesungguhnya hanya mendukung hipotesis pertama saja. Temuan dari analisis regresi menyiratkan bahwa pertumbuhan penjualan, profitabilitas masa depan dan produktivitas per karyawan dapat ditingkatkan dengan manajemen yang efisien dari modal manusia. Kesimpulan lain dapat ditarik dari analisis empiris bahwa investasi perusahaan dalam modal manusia memberikan kinerja keuangan yang memuaskan. Hasil penelitian gagal menemukan hubungan yang kuat antara modal struktural dan kinerja perusahaan. Modal struktural dari perusahaan merupakan aset tidak berwujud perusahaan yang dilindungi secara hukum seperti merek, merek dagang, paten dan lain-lain. Kelebihan 1. Pada penelitian ini untuk pengukuran modal intelektual perusahaan menggunakan metode Value Added Intellectual Capital (VAIC) merupakan metode yanng dikembangkan oleh Ante Pulic (1998) dan juga metode yang populer dikalangan peneliti untuk pengukuran kemampuan intelektual perusahaan. Schneider (1999) mendukung adopsi teknik ini sebagai metode yang efektif untuk mengukur efisiensi modal intelektual karena VAIC menempatkan titik berat pada nilai karyawan, komponen kunci dari modal intelektual. Kemudian VAIC bisa memberikan sekumpulan bukti bahwa adanya pengaruh modal intelektual yang menjadi kunci suksesnya suatu proses. Dan juga VAIC sangat mudah untuk dihitung menggunakan informasi akuntansi yang sudah di laporkan perusahaan dalam laporan tahunan dan ini meminimalkan setiap tambahan biaya untuk penyiap laporan dan pemangku kepentingan. Metodelogi perhitungan yang digunakan di VAIC relatif mudah dan kemungkinan besar lebih dipahami.

2.

Dalam analisis regresi berganda dimasukkan variabel pengendali berikut; pertama Leverage keuangan dan struktur utang digunakan untuk mengendalikan pengaruh pembayaran utang atas kinerja perusahaan dan penciptaan kekayaan (Riahi and Belkaoui, 2003). Kedua Physical capital intensity yang digunakan untuk mengendalikan pengaruh aset tetap atas kinerja perusahaan. Asumsinya bahwa aset tetap perusahaan mempunyai pengaruh signifikan atas kinerja keuangan perusahaan. Dan yang ketiga Assets turnover ratio (ATO), rasio ini digunakan untuk mengendalikan pengaruh total aset terhadap kinerja perusahaan.

3.

Penelitian ini mengukur tiga dimensi kinerja keuangan perusahaan. Tiga dimensi kinerja keuangan perusahaan adalah Return on Asset, Pertumbuhan Penjualan dan Produktivitas Karyawan. Jadi penilaian kinerja perusahaan menjadi lebih menyeluruh dan komprehensif.

Kelemahan 1. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah mengacu pada data dari sebuah perusahaan tunggal, Selain kemungkinan adanya keterbatasan data tunggal perusahaan, sampel yang relatif terfokus dan satu lokasi domestik yaitu satu perusahaan yang terkenal di Iran. 2. Dalam penelitian ini perusahaan yang diambil tidak bisa di lihat apakah perusahaan tersebut masuk ke dalam tersebut high-IC intensive industries dan low-IC intensive industries.

Kesimpulan

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki hubungan antara efisiensi nilai tambah dasar (modal fisik, modal manusia dan modal struktural) dan tiga dimensi kinerja keuangan perusahaan. Tiga dimensi kinerja keuangan perusahaan adalah Return on Asset, Pertumbuhan Penjualan dan Produktivitas Karyawan. Nilai tambah efisiensi diukur dengan menggunakan metodologi VAIC . Temuan empiris ini berdasarkan analisis regresi linier berganda, menunjukkan hubungan antara komponen efisiensi nilai tambah sumber daya utama dan tiga dimensi kinerja perusahaan tersebut. Dalam temuan umum empiris ini menunjukkan bahwa modal manusia sangat efisien dibandingkan dua jenis modal (struktural dan fisik) lainnya di dalam istilah efisiensi penciptaan nilai. Temuan dari penelitian ini menunjukkan jalan untuk penyelidikan lebih lanjut. Penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan metode lain untuk mengukur kinerja modal intelektual. Selain itu, analisis dalam penelitian ini mengacu pada data dari sebuah perusahaan tunggal, sehingga lebih lanjut penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan data dari berbagai sektor usaha. Selain kemungkinan adanya keterbatasan data tunggal perusahaan, sampel yang relatif terfokus dan satu lokasi domestik, penelitian ini menyediakan wawasan berharga mengenai hubungan antara modal intelektual dan kinerja perusahaan.