Anda di halaman 1dari 8

Kondisi Ideal Apakah yang dimaksud dengan kondisi ideal dengan kepastian? Mungkinkah kondisi ideal terjadi?

Apakah laporan rugi laba masih diperlukan dalam kondisi ideal? Kondisi Ideal Dalam Keapastian Karakteristik kondisi ideal dalam kepastian (certainty) adalah arus kas masa depan dan tingkat bunga bebas risiko dipublikasi dan pasti. Apabila kedua hal ini terjadi maka disebut kondisi ideal. Dalam kondisi ideal: 1. Laporan keuangan dapat menghasilkan informasi yang relevan sekaligus reliabel. Relevan karena neraca merupakan gambaran dari prospek perusahaan. Reliabel karena (a) precision, yaitu bebas dari error atau noise (noise bisa muncul dari kesalahan dalam sistem akuntansi estimasi), serta (b) hardness, yaitu bebas dari bias dan manupulasi. 2. Laba bersih dapat dihitung dari perkalian tingkat bunga dengan nilai tunai awal aktiva yang disebut juga accretion of discount. Laba ini juga disebut ex ante net income (atau expected net income) karena diprediksi di tahun 0 atau awal tahun. Karena kondisi ideal, maka laba bersih ini akan sebesar laba yang terealisir yang disebut ex post net income (atau realized net income). 3. Walaupun laba dapat dihitung dengan sempurna, informasi laba bersih dalam laporan rugi laba tidak memiliki peran karena laba bersih sudah dapat ditentukan dari necara. 4. Nilai pasar aktiva akan sama dengan nilai tunai aktiva tersebut. Dalam kondisi ideal akan selalu terjadi harga ekuilibrium antara nilai pasar dan nilai tunai, karena itu proses arbitrage tidak bisa terjadi. Arbitrage juga bermaksud bahwa ada dua cara untuk menentukan nilai wajar aktiva, yaitu (a) dengan mendiskontokan nilai tunai arus kas masa depan (pendekatan ini disebut pendekatan langsung), dan (b) dengan menggunakan nilai pasar (pendekatan ini disebut pendekatan tidak langsung). 5. Kebijakan dividen tidak relevan (dividend irrelevancy) karena apabila investor menerima dividen dan menginvestasikannya dengan tingkat bunga yang sama, maka hasilnya akan sama dengan apabila dividen tersebut tidak diambil. Nilai tunai bagi investor akan sama saja. Dalam kondisi ideal juga dikenal first best. First best adalah tidak ada asimetri informasi. Berikutnya ada istilah second best, yaitu ada asimetri informasi, jadi lebih realistik. Dalam kondisi ideal, neraca mengandung semua informasi yang relevan, sehingga laporan rugi laba tidak diperlukan. Dalam kondisi ideal, laba bersih dapat dihitung dari perkalian tingkat bunga dengan nilai tunai awal aktiva yang disebut juga accretion of discount. Laba ini juga disebut ex ante net income (atau expected net income) karena diprediksi di tahun 0 atau awal tahun. Karena kondisi ideal, maka laba bersih ini akan sebesar laba yang terealisir yang disebut ex post net income (atau realized net income). Dalam kondisi ideal, laporan rugi laba hanya merupakan selisih antara dua neraca berurutan. Kondisi Ideal Dalam Ketidakpastian Apakah yang dimaksud dengan kondisi ideal dengan ketidakpastian? Apa perbedaan pokok antara kondisi ideal dengan kepastian dengan kondisi ideal dengan ketidakpastian? Kondisi ideal dengan ketidakpastian (uncertainty) memiliki karakteristik: 1. Tingkat suku bunga diketahui. 2. Kondisi ekonomi (state) dipublikasi dan lengkap. 1

3. Probabilitas terjadinya kondisi ekonomi diketahui. 4. Realisasi kondisi ekonomi dapat diobservasi Dalam kondisi ideal dengan ketidakpastian: a. Laporan keuangan dapat menghasilkan informasi yang relevan sekaligus reliabel. b. Expected net income tidak sama dengan realized net income. c. Informasi laba bersih dalam laporan rugi laba tidak memiliki peran karena laba bersih sudah dapat ditentukan dari necara. d. Nilai pasar aktiva dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu (a) dengan mendiskontokan nilai tunai arus kas masa depan, dan (b) dengan menggunakan nilai pasar. e. Kebijakan dividen tidak relevan (dividend irrelevancy) karena nilai tunai bagi investor akan sama saja Perbedaan pokok antara kondisi ideal dalam kepastian dan kondisi ideal dalam ketidakpastian terletak pada expected net income dan realized net income. Dalam kondisi kepastian, expected net income sama dengan realized net income. Sedangkan dalam kondisi ketidakpastian keduanya tidak sama. Dalam kondisi ideal, tidak ada kebutuhan untuk melakukan estimasi untuk perhitungan nilai tunai diharapkan (expected present value) karena dalam kondisi ideal arus kas dan tingkat bunga bebas risiko sudah diketahui dengan pasti. Dalam kondisi ideal, nilai pasar aktiva sama dengan diskonto arus kas masa depan aktiva tersebut, sehingga estimasi tidak diperlukan. Selain itu, dalam kondisi ideal laporan keuangan mengandung relevansi sekaligus reliabilitas. Relevan karena neraca disusun berdasarkan arus kas masa depan diharapkan. Reliabel karena kondisi ideal memberi keyakinan bahwa perhitungan nilai tunai sudah tepat (precise) dan tidak bias, sehingga tidak memungkinkan adanya kesalahan atau manipulasi manajemen. Seluruh kondisi mendatang yang relevan telah diantisipasi dan secara objektif dimasukkan dalam perhitungan nilai tunai diharapkan.

Decision Usefulness Aproach


Apa yang dimaksud dengan decision usefulness approach dalam teori akuntansi? Karena kondisi ideal tidak ditemukan dalam dunia nyata, maka metode nilai tunai tidak dapat digunakan. Penyediaan informasi keuangan historis agar lebih bermanfaat disebut decision usefulness approach. Pendekatan ini memiliki pandangan bahwa apabila kita tidak bisa menyiapkan laporan keuangan yang secara teoritis berkonsep benar, paling tidak kita dapat menyusun laporan keuangan historis lebih bermanfaat. Ada dua pertanyaan yang harus dijawab dalam penerapan pendekatan ini, yaitu: 1. Kita harus memahami betul siapa pemakai laporan keuangan. Banyak pemakai laporan keuangan, namun mereka dapat dikelompokkan menjadi investor, kreditor, manajer, serikat kerja, badan penyusun standar, dan pemerintah. Kelompok pemakai laporan keuangan ini disebut konstituen akuntansi. 2. Kita harus memahami apa permasalahan keputusan yang dihadapi oleh para pemakai laporan keuangan tersebut. Dengan memahami permasalahan keputusan tersebut, akuntan akan lebih mampu menyiapkan informasi yang dibutuhkan. Penyiapan informasi laporan keuangan yang sesuai 2

untuk kebutuhan tertentu akan mampu memperbaiki proses pengambilan keputusan dan dengan demikian laporan keuangan disebut lebih bermanfaat. Teori Yang digunakan adalah Single-person theory of decision yang menjelaskan tentang bagaimana seseorang mengambil keputusan yang rasional dalam kondisi ketidakpastian. Dalam teori ini dijelaskan konsep informasi dan bagaimana informasi tersebut mampu mempertajam keyakinan subjektif seseorang tentang manfaat masa depan (future payoff) atas keputusan yang diambil. Apa yang dimaksud dengan beta dan mengapa beta merupakan konsep yang penting dalam akuntansi keuangan? Beta menggambarkan besarnya perubahan harga suatu saham tertentu dibandingkan dengan perubahan harga pasar. Beta merupakan konsep yang penting dalam akuntansi keuangan karena beta menunjukkan risiko suatu perusahaan. Memahami beta perusahaan sama dengan memahami risiko perusahaan tersebut yang merupakan basis pengetahuan penting bagi akuntan. Selain itu, beta telah banyak digunakan dalam studi empiris tentang manfaat informasi akuntansi keuangan. Tuntutan terhadap pelaporan risiko perusahaan juga menunjukkan bahwa beta sangat berperan dalam akuntansi keuangan. Beta digunakan untuk menjawab tentang : 1. Risiko tidak sistematis adalah risiko yang dapat dikurangi dengan melakukan diversifikasi portofolio. Risiko ini terkait dengan saham tertentu dan akan tersebar pada semua saham yang dimiliki dalam portofolio. 2. Risiko sistematis adalah risiko yang tidak dapat didiversifikasi melalui portofolio. Risiko ini menggambarkan faktor ekonomi secara keseluruhan yang mempengaruhi semua sekuritas yang ada. Risiko sistematis disebut juga dengan beta. Beta adalah besarnya pengaruh perubahan harga suatu saham terhadap perubahan harga saham portofolio pasar

Efisian Market Hypothesis ( EMH )


Efficient Market Hypothesis (EMH) adalah Pasar sekuritas yang quickly dan fully reflect semua informasi relevan yang tersedia. Konsekuensi Pasar Efisien: Penyesuaian harga terjadi cepat atas kedatangan informasi baru. Harga sekuritas merefleksi semua informasi relevan yang tersedia. Informasi baru bersifat tidak terprediksi. Karena itu, perubahan harga dari waktu ke waktu terjadi secara independen satu dengan lainnya (random fashion)

Bentuk Pasar Efisien 1. Weak Form Harga sekuritas merefleksi semua data tentang harga masa lalu. Implikasinya adalah investor tidak dapat memperoleh abnormal return secara konsisten dengan menggunakan informasi harga masa lalu. Harga sekuritas menyesuaikan dengan data pasar secara quickly and fully Pengujian weak form meliputi: 3

Test for independence of stock price changes (random walk). Apabila independen, tren dalam perubahan harga tidak ada. Serial correlation (korelasi antara Rt and Rt-1) Test for profitability of trading rules 2. Semi Strong Form Harga merefleksi semua informasi publik yang tersedia. Implikasinya adalah investor tidak dapat secara konsisten mendapatkan abnormal return dengan menggunakan informasi publik yang tersedia. Investor tidak dapat bereaksi terhadap informasi publik baru setelah pengumuman informasi tersebut dan mengharapkan abnormal return. Pengujian semistrong form meliputi: Event Study. Menganalisis perilaku harga sekitar tanggal pengumuman, misalnya pengumuman laba, dividen, stock split, dan mergen. Performance of Portfolio Managers. Menguji apakah manajemen portofolio dapat secara konsisten mendapatkan abnormal return dengan menggunakan informasi publik. 3. Strong Form Harga merefleksi semua informasi, baik informasi publik maupun informasi privat. Implikasinya adalah investor tidak dapat secara konsisten mendapatkan abnormal return dengan menggunakan informasi publik dan informasi privat. Pengujian strong form meliputi: Private information. Specialists. Mutual Funds. EMH secara keputusan 1. Mechanistic Hypothesis Berdasarkan mechanistic hypothesis, reaksi pasar didasarkan pada ada tidaknya dampak perubahan metode akuntansi terhadap laba perusahaan. Apabila perubahan metode akuntansi menyebabkan laba meningkat, maka pasar bereaksi positif. Sebaliknya, apabila perubahan metode akuntansi menyebabkan laba menurun, maka pasar bereaksi negatif. 2. No-effect Hypothesis Berdasarkan no-effect hypothesis, reaksi pasar didasarkan pada ada tidaknya dampak perubahan metode akuntansi terhadap arus kas perusahaan (nilai perusahaan). Apabila perubahan metode akuntansi menyebabkan laba meningkat, tetapi arus kas tidak meningkat, maka pasar tidak bereaksi. 4

Apabila perubahan metode akuntansi menyebabkan laba meningkat, dan arus kas juga meningkat, maka pasar bereaksi positif. Apabila perubahan metode akuntansi menyebabkan laba menurun, tetapi arus kas tidak menurun, maka pasar tidak bereaksi. Apabila perubahan metode akuntansi menyebabkan laba menurun, dan arus kas juga menurun, maka pasar bereaksi negatif.

Anomali Pasar Efisien 1. Teori Prospek

Teori Prospek (Prospect Theory) (Kahneman dan Tversky,1979): Investor akan risk averse berkaitan dengan keuntungan dan risk taking berkaitan dengan kerugian. Penilaian terpisah antara prospek keuntungan dan kerugian menunjukkan perilaku yang irrasional. Apabila nilai investasi mulai meningkat, tingkat utilitas investor menurun dan investor berperilaku risk averse. Dalam menghadapi berita baik, investor memiliki probabilitas rendah akan semakin baiknya harga atau probabilitas tinggi harga akan semakin menurun karenanya investor merealisasi keuntungan. Dalam hal ini investor menghindari risiko. Apabila nilai investasi mulai menurun, tingkat utilitas investor meningkat dan investor berperilaku risk taking. Dalam menghadapi berita buruk, investor menahan sekuritas dan tidak mau merealisasi kerugian, bahkan membeli lebih banyak saham yang menurun karena investor memiliki probabilitas tinggi akan membaiknya sekuritas. Dalam hal ini investor menambah risiko. 2. Post Anounce Drift Post-Announcement Drift: Sekali laba perusahaan diketahui, kandungan informasi tersebut seharusnya digunakan oleh investor sesuai dengan teori efisiensi pasar modal. Namun, telah diketahui lama bahwa hal ini tidak terjadi seperti itu. Bagi perusahaan yang melaporkan berita baik pada laporan kuartalan, keuntungan abnormalnya cenderung tertunda (drift) hingga pada sekitar 60 hari setelah pengumuman. Begitu juga bagi perusahaan dengan pengumuman berita buruk, keuntungan abnormalnya cenderung juga tertunda sekitar 60 hari kemudian. Fenomena ini merupakan suatu anomali pasar modal efisien yang disebut dengan istilah postannouncement drift. Fenomena merupakan tantangan serius dan penting dalam pasar modal efisien.

3. Rasio Keuangan Rasio Keuangan: Berdasarkan teori pasar modal efisien, strategi investasi seharusnya didasarkan pada informasi yang tersedia bagi investor, yaitu informasi tentang rasio keuangan. Rasio keuangan seharusnya terkait dengan harga sekuritas. Karena itu, harga sekuritas sudah merefleksikan informasi rasio keuangan. Namun demikian, Ou dan Penman (1989) menemukan bukti bahwa rasio keuangan tidak segera digunakan oleh investor dan tidak segera terrefleksi dalam harga sekuritas. Hal ini merupakan suatu anomali pasar modal efisien. 5

4. Acrual Accrual: Teori pasar modal efisien menyatakan bahwa seharusnya pasar bereaksi lebih kuat terhadap berita baik tentang arus kas aktivitas operasi daripada berita baik tentang accrual. Hal ini diyakini karena arus kas dari aktivitas operasi lebih mungkin terulang kembali periode yang akan datang dibandingkan dengan accrual. Akan tetapi, Sloan (1996) menemukan bukti bahwa pasar bereaksi lebih kuat terhadap accrual daripada terhadap arus kas dari aktivitas operasi. Temuan ini menambah panjang adanya anomali pasar modal efisien.

Perspektif Informasi
Information perspective berkaitan dengan 1. penyamaan kegunaan (usefulness) informasi 2. kandungan informasi (information content). Information perspective pada pelaporan keuangan adalah suatu pendekatan yang mengakui tanggungjawab individual untuk memprediksi kinerja masa depan perusahaan yang berkonsentrasi pada penyediaan informasi yang bermanfaat untuk tujuan tersebut. Pendekatan ini mengakui bahwa pasar akan bereaksi terhadap informasi yang bermanfaat dari manapun sumbernya, termasuk laporan keuangan. Alasan Pasar Bereaksi Terhadap Informasi Apa alasan pasar bereaksi terhadap informasi keuangan? 1. Keyakinan sebelumnya (prior belief) investor yang didasarkan pada informasi yang telah tersedia tidak sama. Ketidaksamaan tersebut dipengaruhi oleh besar-kecilnya informasi yang diperoleh dan kemampuan untuk menginterpretasi informasi. 2. Dengan masuknya informasi baru berupa laba, sebagian investor menjadi lebih informed dan merevisi ekspektasinya (upward) dengan datangnya berita baik ini. Namun sebagian investor lain yang sebelumnya memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi mungkin akan menginterpretasikan informasi laba tersebut sebagai berita buruk (downward). 3. Investor yang merevisi ekspektasinya upward akan bersedia membeli sekuritas pada harga sekarang, sedangkan investor yang merevisi ekspektasinya downward akan melakukan sebaliknya. 4. Kita dapat mengobservasi jumlah sekuritas yang diperdagangkan dengan munculnya informasi baru berupa laba ini. Seharusnya volume perdagangan akan semakin besar dengan semakin besarnya perbedaan ekspektasi antara investor yang bersikap upward dengan yang bersikap downward. Pengujian Bal & Brown (1957 - 1965 ) 1. Narrow window, yaitu 1 bulan (dalam bulan Februari tersebut), investor mendapatkan keuntungan abnormal positif (keuntungan di atas rata-rata pasar) untuk pengumuman GN dan kerugian abnormal negatif (kerugian di bawah rata-rata pasar) untuk pengumuman BN. 2. Wider window tingkat keuntungan dan kerugian abnormal cenderung berkurang dengan bertambahnya dimensi waktu. Pada kasus ini, saham dengan pengumuman GN yang diperoleh 11 6

bulan sebelum pengumuman dan dijual akhir bulan ke 6 setelah pengumuman memperoleh keuntungan 6% di atas keuntungan rata-rata pasar. Sedangkan saham dengan pengumuman BN yang dibeli 11 bulan sebelum pengumuman dan dijual akhir bulan ke 6 setelah pengumuman memperoleh kerugian 9% di bawah pasar. Reaksi investor terhadap pengumuman berkurang dengan bertambahnya dimensi waktu.

Perspektif Pengukuran
Perspektif pengukuran (measurement perspective) terhadap pelaporan keuangan adalah suatu pendekatan yang menuntut akuntan untuk melaksanakan tanggungjawab memasukkan nilai wajar terhadap laporan keuangan pokok, dengan reliabilitas yang masih rasional, yang berarti meningkatnya tanggungjawab akuntan untuk membantu investor dalam memprediksi kinerja masa depan perusahaan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan relevansi laporan keuangan, tetapi jangan meninggalkan reliabilitasnya dalam rangka membantu investor mengambil keputusan. Measurement perspective dapat meningkatkan earnings quality dengan semakin relevannya informasi akuntansi. Apabila informasi akuntansi semakin relevan, maka reaksi investor terhadap informasi tersebut akan semakin besar. Namun demikian, measurement perspective juga dibatasi oleh reliabilitas. Metode fair value yang dapat dimasukkan dalam laporan keuangan pokok adalah metode yang tidak mengakibatkan menurunnya reliabilitas laporan keuangan tersebut. Measurement perspective berusaha untuk meningkatkan relevansi informasi akuntansi. Akuntan mengambil tanggungjawab untuk membantu investor dengan cara menggunakan pengukuran fair value terhadap laporan keuangan pokok. Akan tetapi, sesuai dengan SFAC 2 menyatakan bahwa ada dua kualitas informasi pokok, yaitu relevansi dan reliabilitas, yang harus dijaga keseimbangannya. Apabila hanya memperhatikan relevansi, maka reliabilitas akan berkurang dan menyebabkan laporan keuangan tidak bisa diaudit. Akuntan publik yang merupakan ujung tombak profesi akuntansi tidak lagi bisa berjalan karena laporan keuangan tidak bisa diaudit. Karena itu, batasan measurement perspective adalah berusaha untuk menggunakan pengukuran yang berorientasi pada fair value terhadap laporan keuangan pokok asalkan kualitas reliabilitas laporan keuangan pokok tersebut tidak berkurang. Measurement perspective bukan untuk mengganti historical cost. Apabila suatu measurement tidak reliabel, maka tetap menggunakan historical cost. Namun demikian, tidak mudah menggunakan fair value tanpa mengurangi reliabilitas. Batasannya adalah, kita menggunakan fair value untuk meningkatkan relevansi selama reliabilitas tidak terganggu. Mengapa? Unsur reliabilitas menjadi dasar untuk pelaksanaan audit oleh akuntan publik. Akuntan publik adalah gambaran pokok akuntansi dan menjadi ujung tombak akuntansi. Akuntan publik jangan ditempatkan pada posisi yang berisiko karena dituntut. Alasan Perspektif Pengukuran Mengapa measurement perspective mengusulkan untuk memasukkan informasi yang bernilai lebih relevan (more value-relevant information) dalam laporan keuangan pokok, padahal teori pasar modal efisien berimplikasi bahwa catatan kaki dan pengungkapan lain sudah cukup?

Historical Cost Berdasarkan information perspective, historical cost digunakan sebagai basis akuntansi dan mengandalkan pengungkapan penuh untukq meningkatkan manfaat informasi akuntansi bagi investor. Bentuk pengungkapan tidak penting, yang penting adalah bahwa diasumsikan banyak rational investor dan informed investor yang bereaksi cepat terhadap informasi akuntansi. Riset empiris tentang efisiensi pasar modal telah mengkonfirmasi bahwa setidaknya informasi laba bermanfaat bagi pasar. Akan tetapi, ada berbagai pertanyaan berkaitan dengan information pespective, seperti (1) laba hanya direaksi oleh pasar sebesar 2% - 5%, (2) pasar modal mungkin tidak seefisien yang diduga, dan (3) tuntutan tanggungjawab hukum oleh masyarakat terhadap akuntan meningkat. Ketiga alasan tersebut mendasari adanya kemungkinan bahwa measurement perspective dapat meningkatkan relevansi informasi akuntansi tanpa mengabaikan reliabilitas informasi akuntansi tersebut. Riset empiris Lev Dari sisi riset empiris, informasi laba hanya mampu menjelaskan sangat kecil tentang harga sekuritas. Lev (1989) menemukan bahwa respon pasar terhadap berita baik atau berita buruk tentang earnings sangat kecil. Variabilitas keuntungan abnormal dalam narrow window hanya 2% sampai 5% yang dijelaskan oleh informasi earnings, sisanya diakibatkan oleh faktor lain selain perubahan earnings. Menurut Lev, rendahnya respon pasar terhadap earnings disebabkan oleh earnings quality yang rendah. Collins, Kothari, Shanken, dan Sloan (1994) menyatakan bahwa rendahnya reaksi pasar terhadap informasi laba disebabkan oleh keterlambatan historical cost; yaitu historical cost menunggu terlalu lama untuk mengakui suatu kejadian yang relevan. Hal ini menuntut perlunya perbaikan earnings quality dengan pengenalan perspektif pengukuran terhadap laporan keuangan. Teori Pasar Efisien Dari sisi teori pasar modal efisien, pasar modal mungkin tidak efisien seperti dalam teori efisiensi pasar modal. Investor memerlukan bantuan bagaimana implikasi informasi akuntansi terhadap prediksi keuntungan masa depan. Hal ini diperkuat oleh Ohlsons clean surplus theory yang menekankan bahwa peran utama laporan keuangan adalah dalam penentuan nilai perusahaan, bukan perspektif informasi di mana laporan keuangan sebagai salah satu sumber informasi. Teori ini menuntut ke arah perspektif pengukuran. Praktek Akuntan Dari sisi praktis, dengan meningkatnya tuntutan terhadap tanggungjawab hukum, auditor dituntut untuk menggunakan nilai wajar dalam laporan keuangan. Tuntutan ini muncul karena kenyataan gagalnya perusahaan-perusahaan besar, khususnya lembaga keuangan.