Anda di halaman 1dari 2

Opioid dan Turunannya Secara umum opioid dan turunannya bekerja dengan cara menurunkan motilitas intestinal, meningkatkan

kapasitas usus, memperpanjang kontak dan penyerapan . Namun, golongan opioid ini juga dapat mempengaruhi system saraf pusat dan perifer , terkecuali loperamide, yang hanya bertindak perifer. Penggunaan jangka panjang harus diperhatikan dan dilakukan pembatasan karena opiat dapat berpotensi memberikan efek kecanduan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah morfin, kodein, loperamid , difenoksilat, difenoksin, paregoric (tincture of opium) (Dipiro et al., 2008). Yang akan dijelaskan satu-satu sebagai berikut: 1. Morfin Morfin merupakan golongan opioid yang memiliki efek antimotilitas paling kuat. Morfin dapat memberikan efek yang cepat dan segera yaitu 2 sampai 3 jam setelah menggunakannya. Aksinya langsung pada otot polos intestinal dan absorbsinya cepat di GIT. Namun bila berada pada kombinasi dengan obat lain absorbsi peroralnya menjadi jelek dan BA-nya turun. Dapat menimbulkan efek samping berupa adiksi atau ketergantungan karenanya penggunaan obat ini sangat dibatasi (Dipiro et al., 2008). 2. Kodein Kodein merupakan golongan opioid yang memiliki efek motilitas yang lemah dibandingkan dengan morfin. 3. Loperamid Loperamid merupakan derivat dari opioid. Dia dapat berikatan dengan reseptor opiat di dinding GUT sehingga dapat menimbulkan efek antmotilitas. Digunakan untuk mengatasi diare akut dan kronis. Loperamid tergolong aman digunakan dan tidak menimbulkan efek adiksi atau ketergantungan karenanya loperamid dapat dibeli tanpa resep dokter. Namun demikian, beberapa efek samping seperti dizziness dan konstipasi dapat terjadi peda penggunaan obat ini. Loperamid dapat juga digunakan untuk mengobati travellers diare yaitu dengan dikombinasikan dengan bismut subgalat (Dipiro et al., 2008). 4. Difenoksilat Pada penggunaan difenoksilat dilaporkan jarang terjadi toksisitas. Namun difenoksilat tidak dianjurkan digunakan pada paseian yang beresiko terserang bakteri enteritis seperti E.coli, Shigella atau salmonella. Efek samping yang ditimbulkan pada penggunaan obat ini adalah atropinisme yaitu penglihatan kabur, mulut kering dan urinary hesitancy (Dipiro et al., 2008). 5. Difenoksin Difenoksin merupakan derivat dari meperidin. dikombinasikan dengan atropin (Dipiro et al., 2008). 6. Paregoric Pada penggunaannya biasanya

Paregoric merupakan tingtura dari opium. Digunakan untuk mengatasi diare yang bersifat akut dan kronik. Paregoric tidak diresepkan secara luas karena potensi penyalahgunaannnya (Dipiro et al., 2008).

Miscellaneous product Yang termasuk dalam golongan ini adalah: a. Preparat laktobasilus (lactinex granules) Merupakan agen probiotik yang berisi bakteri atau jamur atau asam laktat bakteri. Telah diguanakan sebagai suplemen diet selama bertahun-tahun. dengan menggunakan produk ini diharapkan dapat menggantikan mikroflora dari kolon sehingga dapat mengembalikan fungsi normal intestin dan dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme yang bersifat patogen. Efek samping yang mungkon timbul adalah flatus (Dipiro et al., 2008). b. Enzim laktase Enzim ini sangat membantu bila digunakan untuk pasien yang memiliki pengalaman diare sekunder yaitu diare yang disebabkan oleh intoleransi laktulosa (Dipiro et al., 2008).