Anda di halaman 1dari 103

Bagian Hukum

Naskah Akademik

Sekretariat Daerah Kabupaten Gresik


Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik

11

-+1NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN TAHUN 2011 CET BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan dalam Pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Gresik Administrasi berkewajiban Kependudukan, dan Pemerintah Kabupaten bertanggungjawab

menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan sesuai dengan kewenangannya. Bahwa untuk memberikan perlindungan, pengakuan, penentuan status pribadi dan status hukum atas setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dialami oleh pendudukan daerah Kabupaten Gresik perlu dilakukan pengaturan tentang Administrasi Kependudukan. Administrasi Kependudukan menjadi semakin penting karena selalu bersentuhan dengan setiap aktivitas kehidupan di Indonesia. Diantaranya adalah saat Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden, Pemilu Kepala Daerah, mengurus surat-surat kendaraan, mengurus surat-surat tanah dan lain sebagainya. Apabila kita akan berdomisili pada suatu wilayah maka kita harus memiliki tanda domisili yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam rangka menyusun

Sistem Informasi Kependudukan yang akurat, terpercaya dan up to date perlu dioptimalkan. Dengan kemajuan teknologi saat ini tentu ini

bukan lagi masalah bagi Negara kita. Jika kita membuat sebuah sistem informasi terintregasi maka memungkinkan kita melakukan pengolahan data kependudukan secara cepat dan akurat. Misalkan KPU membutuhkan data DPT maka langsung saja koordinasi ke Dinas Kependudukan untuk mendapatkan data terbaru. Tidak sulit karena setiap elemen saling mendukung. Nomor Tanda Penduduk dapat dijadikan sebagai nomor untuk berbagai keperluan, misalnya dalam mengurus pajak penghasilan, pajak kendaraan bermotor, kepemilikan bangunan dan lain sebagainya. Dengan mengintegrasikan data secara nasional maka tidak akan terjadi seseorang yang memiliki KTP ganda, karena masing-masing penduduk akan memiliki ID unik yang dapat digunakan di seluruh Indonesia. Gagasan menyusun suatu sistem administrasi yang menyangkut seluruh masalah kependudukan, yang meliputi pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan data kependudukan, patut menjadi perhatian untuk mewujudkannya. Perwujudan suatu sistem memang sangat didambakan oleh masyarakat. Bahkan sebagai ciri dari penyelenggaraan Negara yang modern khususnya bidang pelayanan masyarakat. Untuk mewujudkan penyelenggaraan Administrasi Kependudukan di Kabupaten Gresik yang lebih berkualitas, yang menjamin hak-hak warga negara, dipandang perlu untuk membentuk Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan. B. Maksud dan tujuan 1. Maksud Pembentukan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik tentang

Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan,

dimaksudkan untuk

melakukan penyempurnaan atas Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor berbagai 1 Tahun materi 2009 tentang yang Penyelenggaraan terkait dengan Administrasi penetapan Kependudukan dan Pencatatan Sipil, khususnya penyempurnaan atas pengaturan Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil juga yang belum tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 1 Tahun 2009 yaitu penetapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan. 2. Tujuan Tujuan tentang pembentukan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik adalah

Penyelenggaraan

Administrasi

Kependudukan,

terbentuknya Peraturan Daerah sebagai landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan Administrasi Kependudukan dalam rangka memberikan perlindungan, pengakuan, penentuan status pribadi dan status hukum setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialami oleh Penduduk daerah Kabupaten Gresik.ETRO 4 C. Landasan penyempurnaan 1. Landasan filosofis Secara filosofis, pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Penyelenggaraan pelaksanaan Administrasi Administrasi Kependudukan Kependudukan dan diperlukan sebagai sebagai sarana peristiwa upaya pengaktualisasian nilai-nilai hak dan kewajiban penduduk. pengadministrasian pencatatan

kependudukan, antara lain perubahan alamat, pindah datang untuk menetap, tinggal terbatas, serta perubahan status orang asing Tinggal Terbatas menjadi tinggal tetap dan Peristiwa Penting lainnya antara lain kelahiran, lahir mati, kematian, perkawinan dan perceraian, termasuk pengangkatan, pengakuan dan pengesahan anak, serta perubahan status kewarganegaraan, ganti nama dan peristiwa penting lainnya. 2. Landasan Sosiologis

Pembentukan

peraturan

dearah

tentang

penyelenggaraan

administrasi kependudukan pada dasarnya tidak hanya bermakna filosofis, tetapi juga memiliki makna sosiologis. Penyelenggaraan administrasi kependudukan dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan dan penertiban kepada masyarakat di bidang pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil yang mana perlu dilakukan upayaupaya penyempurnaan dalam ketentuan penyelenggaraaan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil sehingga dapat diwujudkan penyelenggaraan administrasi kependudukan yang berkualitas. 3. Landasan Yuridis Pembentukan Administrasi Peraturan Daerah tentang pada Penyelenggaraan mandat konstitusi

Kependudukan

didasarkan

sebagai hukum dasar, baik sebagai hukum dasar dalam kaitan dengan kewenangan pembentukan Peraturan Daerah maupun sebagai hukum dasar dalam kaitan dengan materi muatan Peraturan Daerah. Khusus yang terkait dengan materi muatan Peraturan Daerah, pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan merujuk pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. D. Metode Pembentukan berikut: a. Evaluasi atas pelaksanaan Peraturan Daerah nomor 1 tahun 2009 tentang Administrasi Kependudukan; Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan

Administrasi Kependudukan

dilakukan dengan metode kerja sebagai

b. mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan; c. Implementasi Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil terhadap Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan administrasi kependudukan Tahun 2011; d. Pengkajian terhadap pasal-pasal dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2009 yang dinilai konsep mengandung teoritis kelemahan dan/atau bermasalah; e. Pengkajian terhadap tentang penyelenggaraan Administrasi Kependudukan yang ideal; f. Penyesuaian dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil; dan g. Analisis komprehensif dan penyusunan konsep pengaturan yang baru. E. Sistematika penulisan. Naskah Akademik ini ditulis dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Pendahuluan, berisi uraian tentang latar belakang, maksud dan tujuan, landasan penyempurnaan, metode, dan sistematika penulisan, Bab II Arah Dan Tujuan Serta Cakupan Penyempurnaan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan Dan Catatan Sipil. Bab III Problematika Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan Dan Catatan Sipil, berisi uraian tentang kondisi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 1 Tahun 2009 yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Bab IV Materi Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan, berisi uraian tentang materi penyempurnaan dan

susunan Rancangan Peratutan Daerah; dan Bab V Kesimpulan. Bagian akhir Naskah Akademik dilengkapi dengan daftar pustaka yang berisi referensi pendukung.

BAB II ARAH DAN TUJUAN SERTA CAKUPAN PENYEMPURNAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL. Pada dasarnya Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan Dan Catatan Sipil perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan masyrakat guna meningkatkan pelayanan yang cepet, efektif, efisien sebagai upaya mewujudkan tata pemerintahan yang efektif (effective governance). dan biaya ringan juga memberikan kepastian hukum bagi masyarakat terhadap dokumen hukum yang harus dimiliki sebagai hak keperdataan warga negara. Disamping itu masyarakat akan merasakan secara langsung kemudahan dalam mengakses informasi dan bagi aparatur Negara yang membidangi kependudukan dapat melakukan pengawasan dengan rentang kendali yang pendek. Bahwa dengan tujuan agar dapat memberikan perlindungan, pengakuan, pengakuan status pribadi dan status hukum atas setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dialami oleh penduduk di daerah. Bagi pemerintah merupakan kewajiban dan tanggung jawab dalam menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan sebagai amanat dari Undang-Undang.

BAB III

PROBLEMATIKA PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah berdampak pada Perubahan Peraturan Daerah tentang Retribusi Jasa Usaha, Jasa Umum dan Perizinan tertentu. Dengan adanya Peraturan Daerah tentang retribusi Jasa Usaha menimbulkan tumpang tindih aturan terutama pada Peraturan Daerah yang mengatur regulasi penyelenggaraan administrasi kependudukan dan catatan sipil. Hal lain yang menjadi persoalan dalam organisasi satuan kerja perangkat daerah bidang kependudukan dan catatan sipil tidak tepat apabila melekat pada organisasinya terutama bidang dan sosial. perlu Permasalahan sosial masyarakat sangat komplek

penanganan secara tersendiri dan komprehensif sehingga harus dilepaskan dari struktur organisasi pada Dinas Kependudukan Catatan Sipil dan Sosial menjadi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil saja, sedangkan Bidang Sosial seyogyanya berdiri sendiri dalam struktur organisasi dinas daerah yang lebih tepat lagi sebagai Dinas Sosial. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyesuaian peraturan daerah sekaligus perubahan struktur organisasi serta tugas pokok dan fungsi pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Gresik. Untuk pemberlakuan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK), sesuai peraturan perundang-undangan dan petunjuk teknis pelaksanaannya Pemerintah Daerah telah melaksanakan secara bertahap sejak bulan Agustus 2011. Untuk penerapan e-KTP sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2000 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Orang Pribadi Yang Akan Bertolak ke Luar Negeri dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan bahwa nomenklatur

Instansi pelaksana yang menangani Kependudukan dan pencatatan sipil harus secara khusus ditangani oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. BAB IV MATERI RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN.

Judul : PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GRESIK, Konsiderans : Menimbang: a. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 7 UndangUndang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan ketentuan Pasal 17 Peraturan Pemerintah tentang jawab Nomor 37 Tahun 2007 tentang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Administrasi Gresik Kependudukan, dan urusan Pemerintah bertanggung adminisrasi Kabupaten berkewajiban

menyelenggarakan

kependudukan sesuai dengan kewenangannya; b. bahwa untuk memberikan perlindungan, pengakuan, penentuan status pribadi dan status hukum atas setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang

dialami oleh penduduk daerah Kabupaten Gresik perlu dilakukan c. bahwa pengaturan tentang Administrasi di Kependudukan; pengaturan Gresik administrasi dengan kependudukan Peraturan Kabupaten 2009 Daerah

Kabupaten Daerah Tingkat Gresik Nomor 1 Tahun tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil sudah tidak sesuai dengan perkembangan, sehingga perlu disesuaikan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan Daerah sebagaimana tentang dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Peraturan Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan; Konsiderans : Mengingat : 1. 2. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Tahun 3. 1950 Daerah-Daerah Nomor 19, 1 Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur (Lembaran Negara Tambahan Tahun Lembaran tentang Negara Nomor 2930); Undang-Undang Nomor 1974 Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019); 4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209); 5. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 1992 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3474); 6. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886 Tambahan Lembaran Negara Nomor. ); 7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 4235) ; 8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan dengan tentang Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah 12 keduakalinya tahun 2008 Undang-Undang Nomor

Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan 9. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844) ; Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Tambahan Republik Indonesia Republik (Lembaran Indonesia Negara Republik Indonsia Tahun 2006 Nomor 63, Lembaran Negara Nomor 4634) ; 10. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Republik Tambahan Kependudukan Tahun Negara Lembaran (Lembaran 2006 Republik Negara 124, Indonesia Indonesia Nomor

Nomor 4674) ; 11. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik

Indonesia

Tahun

2009

Nomor

112,

Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038) ; 12. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234) ; 13. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258) ; 14. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Lembaran Kependudukan Negara Republik (Lembaran Indonesia Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 80, Tambahan Nomor 4736) ; 15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737) ; 16. Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pengesahan, Pengundangan dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-Undangan; 17. Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil; 18. Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan secara Nasional;

19. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 6 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Gresik (Lembaran Daerah Kabupaten Gresik Tahun 2007 Nomor 6); 20. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Gresik Organisasi (Lembaran Perangkat Daerah Daerah Kabupaten Kabupaten

Gresik Tahun 2008 Nomor 2);

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN GRESIK DAN BUPATI GRESIK MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN. Dalam rancangan peraturan daerah ini terdiri dari 11 Bab , 101 Pasal yang dapat diuraikan sebagai berikut. Hal BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V BAB VI BAB VII BAB VIII BAB IX KETENTUAN UMUM ........................................................... HAK DAN KEWAJIBAN PENDUDUK....................................... PENYELENGGARAAN KEWENANGAN ................................. PENDAFTARAN PENDUDUK ............................................... PENCATATAN SIPIL ........................................................... DATA DAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN ........................... SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN ........ PELAPORAN ...................................................................... PENYIDIKAN ....................................................................... 4 9 9 14 26 38 43 45 45 46 48

BAB X SANKSI ADMINISTRATIF........................................................... BAB XI KETENTUAN PENUTUP ............................................................

BAB V KESIMPULAN Bahwa Peraturan daerah Nomor 1 tahun 2009 tentang

Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan sehingga perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan.

LITERATUR a. Primer : Faturochman (ed), dkk, Dinamika Kependudukan Dan Kebijakan, Pusat Studi Kependudukan Dan Kebijakan UGM, Yogyakarta, 2004. Hadjon, Philipus M. et.al, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gajahmada University Press, Yogyakarta, 2005. Hendrastuti, Sri, Laporan Akhir Tim Penyusunan Naskah Akademis RUU Administrasi Kependudukan. Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia-BPHN, Jakarta, 2004. Rusli, Said, Pengantar Ilmu Kependudukan, LP3ES, Djambatan, Jakarta, 1996. Sadjijono, Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi, Laksbangsindo, Yogyakarta, 2008. Wignjosoebroto, Soetandyo, Wibowo, Eddi, dkk, Hukum Hukum, Paradigma, Metode dan dan Kebijaksanaan Politik, YPAPI, Dinamika Masalahnya, Elsam dan Huma, Jakarta, 2002 Yogyakarta, 2004. Darwin, Muhajir, Abaikan Kependudukan, Negara Terancam Gagal, Kompas, Tanggal 24 maret 2007. b. Sekunder :

Bahan 1. 2.

sekunder

diperoleh

dari

Peraturan

Perundang-

Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur; 3. 4. 5. 6. 7. 8. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan; Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana; Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian; Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia; Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 9. sebagaimana telah diubah 12 keduakalinya 2006 dengan tentang Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008; Undang-Undang Nomor Tahun Kewarganegaraan Republik Indonesia; 10. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan; 11. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik; 12. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan; 13. Peraturan 14. Peraturan Pemerintah Pemerintah Nomor Nomor 27 37 Tahun Tahun 1983 2007 tentang tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana; Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan; 15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota;

16. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota; 17. Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pengesahan, Pengundangan Undangan; 18. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik; 19. Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil; 20. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 6 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Gresik. NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK TENTANG PENYERTAAN MODAL PADA PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT BANK GRESIK dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara mengamanatkan pemerintah untuk melakukan investasi dengan tujuan memperoleh manfaat ekonomi, manfaat sosial, dan/atau manfaat lainnya. Investasi tersebut merupakan wujud dari peran pemerintah dalam rangka memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dimuat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 41 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, pengelolaan Investasi pemerintah daerah memerlukan dasar hukum yang ditetapkan dengan suatu peraturan pemerintah untuk menjamin terlaksananya tertib administrasi dan pengelolaan Investasi pemerintah daerah.

Dalam rangka meningkatkan Pertumbuhan perekonomian Daerah, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang permodalan yang belum terjangkau oleh Bank Umum serta sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah, perlu penataan dan penguatan modal Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik. Sesuai dengan maksud dan tujuan didirikannya Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik, yaitu untuk membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan pembangunan Daerah di segala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat perlu menambah penyertaan modal pada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik. Untuk memenuhi Modal Dasar PD. BPR Bank Gresik yang ditetapkan sejumlah Rp.20.000.000.000,00 (dua puluh milyar rupiah) berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik maka akan ditambahkan secara bertahap sampai dengan terpenuhinya modal dasar tersebut. Perlu diketahui, untuk setiap penyertaan modal yang dilakukan Pemda harus dilakukan melalui Peraturan Daerah. Kewajiban ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam Pasal 75 dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada Latar Belakang maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah diperlukan penguatan modal Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik? 2. Apakah penyertaan modal pemerintah daerah kepada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik perlu dibentuk dengan Peraturan Daerah? 3. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal kepada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik? 4. Apakah sasaran utama disertakannya modal kepada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik ?

C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik adalah sebagai berikut: 1. Merumuskan perlu atau tidaknya memberikan penguatan modal Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik. 2. Merumuskan dasar hukum pembetukan peraturan tentang penyertaan modal pemerintah daerah kepada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik. 3. Merumuskan dasar pertimbangan pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal kepada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik. 4. merumuskan sasaran utama disertakannya modal kepada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik. 5. Sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah.

D. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik ini adalah metode yuridis normatif dilakukan melalui studi pustaka yang menelaah data sekunder, baik yang berupa perundangundangan, hasil pengkajian dan referensi lainnya.

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS A. Kajian Teoritis Definisi secara umum penyertaan modal yaitu suatu usaha untuk memiliki perusahaan yang baru atau yang sudah berjalan, dengan melakukan setoran modal ke perusahaan tersebut. Penyertaan modal Pemerintah Daerah adalah pengalihan kepemilikan kekayaan Daerah yang semula merupakan kekayaan yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham daerah. Maksud Penyertaan Modal Pemerintah Daerah adalah upaya meningkatkan produktifitas pemanfaatan tanah dan/atau bangunan serta kekayaan lainnya milik Pemerintah Daerah dengan membentuk usaha bersama dan saling menguntungkan Tujuan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah adalah untuk meningkatkan : 1) sumber Pendapatan Asli Daerah; 2) pertumbuhan ekonomi; 3) pendapatan masyarakat; dan 4) penyerapan tenaga kerja. Untuk mencapai tujuan tersebut, Penyertaan modal pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi perusahaan yang transparan dan akuntabilitas. B. Praktek Empiris Penyertaan Modal Pemerintah Daerah merupakan bentuk Investasi jangka panjang pemerintah daerah yang dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran 2011 yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. 1. Perencanaan Perencanaan penyertaan modal pemerintah daerah yang diatur dalam Peraturan Daerah ini meliputi perencanaan penyertaan modal oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dan perencanaan kebutuhan penyertaan modal pemerintah daerah yang berasal dari APBD. Anggaran tersebut diambilkan dari kekayaan milik pemerintah daerah yang berasal dari Dana Bergulir yang ada di masyarakat dan telah dikelola oleh PD. BPR Bank Gresik.

Perencanaan penyertaan modal oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah diatur dengan prinsip kehati-hatian sehingga tujuan penyertaan modal pemerintah daerah terlaksana dengan efektif dan efisien. Perencanaan Penyertaan Modal pemerintah daerah memerlukan suatu koordinasi kelembagaan pada pengelolaan penyertaan modal pemerintah daerah dalam rangka pencapaian efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan penyertaan modal 2. Pelaksanaan penyertaan modal Penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik dilakukan sampai dengan terpenuhinya modal dasar pada PD. BPR Bank Gresik sebagaimana telah ditetapkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik yaitu Rp. 20.000.000.000,- (dua puluh milyar rupiah) Pelaksanaan penyertaan modal pemerintah daerah dilakukan oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah berdasarkan persetujuan Bupati. Untuk pelaksanaan penyertaan modal pemerintah daerah kepada PD BPR Bank Gresik akan dilakukan sesuai perencanaan dan telah dianggarkan dalam PAPBD tahun Anggaran 2011 sebesar Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah), berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan yang merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. 1. Prosedur pelaksaanannya adalah sebagai berikut : Dana bergulir yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah dikelola oleh PD. BPR Bank Gresik untuk kemudian dicatat sebagai Penerimaan Pembiayaan dalam APBD. Dana Bergulir yang dikelola melalui PD. BPR Bank Gresik dialihkan menjadi penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik. Penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik dianggarkan dalam APBD pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan. Dana Bergulir yang telah dialihkan menjadi penyertaan modal dikelola oleh PD. BPR Bank Gresik untuk pemberdayaan kelompok Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi. Penetapan suku bunga dari pengalihan dana bergulir ditetapkan maksimal sebesar 12% per tahun.

2.

3. 4.

5.

6. Penyertaan modal berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 7. Penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik dilakukan sampai dengan terpenuhinya pokok dana bergulir yang ada pada masyarakat. 8. Pemenuhan sebagian dari penyertaan modal dianggarkan dan diatur dalam peraturan daerah tentang APBD pada pos pembiayaan pengeluaran berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 3. Penatausahaan dan pertanggungjawaban Penyertaan modal Untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah, lembagalembaga yang terkait harus menyelenggarakan akuntansi atas pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah. Akuntansi atas pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah mengacu kepada Standar Akuntansi Keuangan. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Penyertaan modal pemerintah daerah, Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah menyusun laporan keuangan dan kinerja Penyertaan modal yang disampaikan kepada Bupati. Tahun buku PD. BPR Bank Gresik disamakan dengan tahun takwim. 4. Pembagian Keuntungan Bagian keuntungan dari Penyertaan Modal Pemerintah Daerah yang perhitungkan setiap akhir tahun buku BPR. Bank Gresik, sesuai dengan Pasal 95 Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik, adalah sebagai berikut : 1. Keuntungan PD. BPR Bank Gresik setelah dikurangi pajak dan telah disahkan Kepala Daerah, ditetapkan sebagai berikut: a. Bagian laba untuk daerah 50% b. Cadangan Umum 15%; c. Cadangan Tujuan 15 %; d. Dana Kesejahteraan 10 %; e. Jasa Produksi 10%.

2. Bagian laba untuk daerah dianggarkan dalam penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun anggaran berikutnya, 3. Dana kesejahteraan dianggarkan untuk tunjangan hari tua direksi dan pegawai, perumahan pegawai, kepentingan sosial dan lainnya. 4. Penggunaan Jasa Produksi ditetapkan oleh Direksi dengan persetujuan Kepala Daerah. 5. Bagian keuntungan disetorkan ke Kas Daerah yang merupakan komponen Pendapatan Asli Daerah. 5. Manajemen risiko Dalam rangka pengelolaan Penyertaan Modal pemerintah daerah disamping tingkat pendapatan yang diharapkan, hal penting yang harus diperhatikan adalah timbulnya potensi kerugian yang akan berpengaruh terhadap pendapatan dan modal Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, diperlukan penerapan manajemen risiko sebagai langkah antisipasi terhadap munculnya variabel-variabel risiko Penyertaan Modal pemerintah daerah.

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 Tentang Perusahaan Daerah, bahwa Perusahaan Daerah dapat dimiliki sepenuhnya oleh: (a) suatu daerah sepenuhnya, atau (b) dimiliki oleh suatu daerah bersama dengan perorangan atau badan hukum lainnya. Saham Perusahaan Daerah terdiri dari saham prioritet (prioritas) dan saham biasa. Saham prioritet hanya dapat dimiliki oleh daerah. Pemegang saham prioritet adalah Kepala Daerah. Penyertaan modal daerah pada perusahaan daerah pasar dapat berbentuk barang dan uang. Secara lebih spesifik, dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah serta untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah diperlukan upaya-upaya dan usaha untuk meningkatkan sumber pendapatan daerah. Berdasarkan ketentuan Pasal 157 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa sumber-sumber pendapatan Daerah terdiri atas : 1. Pendapatan Asli Daerah, yang terdiri dari : a. hasil pajak Daerah; b. hasil Retribusi Daerah; c. hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan; d. lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. 2. Dana Perimbangan; 3. lain-lain Pendapatan Daerah yang sah. Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 173 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah kedua dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Pemerintah Daerah dapat melakukan Penyertaan Modal pada Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. Penyertaan Modal tersebut dapat dikurangi, dijual kepada pihak lain dan/atau dapat dialihkan kepada Badan Usaha Milik Daerah, yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan Pasal 71 ayat (8) dan ayat (9) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan

Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, menyebutkan bahwa penyertaan modal dalam rangka pemenuhan kewajiban yang telah tercantum dalam peraturan daerah penyertaan modal pada tahun-tahun sebelumnya, tidak diterbitkan peraturan daerah tersendiri sepanjang jumlah anggaran penyertaan modal tersebut belum melebihi jumlah penyertaan modal yang telah ditetapkan pada peraturan daerah tentang penyertaan modal. Dalam hal pemerintah daerah akan menambah jumlah penyertaan modal melebihi jumlah penyertaan modal yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal, dilakukan perubahan peraturan daerah tentang penyertaan modal yang berkenaan. Selengkapnya Peraturan Perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukan Peraturan Daerah ini adalah : 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur 3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1969 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 6. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah keduakalinya dengan Undang undang Nomor 12 Tahun 2008 7. UndangUndang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah 8. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota 11. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah 12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah keduakalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011; 13. Peraturan Daerah kabupaten Gresik Nomor 10 Tahun 2006 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah

14. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Perubahan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS

1. Filosofis Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat, maka Pemerintah Daerah perlu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan perekonomian daerah serta menambah dan memupuk sumber-sumber pendapatan asli daerah. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan perekonomian daerah dan pemupukan sumber-sumber pendapatan daerah, diperlukan usaha nyata Pemerintah Daerah untuk mendorong peningkatan pergerakan perekonomian dan produktivitas sektor riil/perusahaan dengan melakukan penyertaan modal Pemerintah Daerah pada pihak lain. Bahwa maksud dan tujuan didirikannya Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik, yaitu untuk membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan pembangunan Daerah di segala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pengelolaan penyertaan modal pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini dilaksanakan dengan memperhatikan asas-asas sebagai berikut: a. asas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah di bidang penyertaan modal pemerintah daerah dilaksanakan oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Gresik, Badan Usaha, Pimpinan Lembaga sesuai fungsi, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing. b. asas kepastian hukum, yaitu penyertaan modal pemerintah daerah harus dilaksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. asas efisiensi, yaitu penyertaan modal pemerintah daerah diarahkan agar dana penyertaan modal digunakan sesuai batasanbatasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal.

d. asas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan penyertaan modal pemerintah daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. e. asas kepastian nilai, yaitu penyertaan modal pemerintah daerah harus didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai penyertaan modal dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dana, divestasi serta penyusunan laporan keuangan pemerintah. 2. Sosiologis Perkembangan Kabupaten Gresik sebagai salah satu kota penyangga perekonomian Jawa Timur, khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatan potensi daerah pada saat sekarang sangat membutuhkan adanya tindakan-tindakan pro aktif, terutama dari Pemerintah Daerah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di segala bidang. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dimana pemerintah daerah dituntut untuk mampu mengurus dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri, dengan demikian dibutuhkan adanya upaya dan kemauan yang keras serta kemampuan yang kuat dari Pemerintah Daerah untuk dapat menggali, mengelola dan mengembangkan segala potensi yang ada secara optimal untuk mendukung kemampuan keuangan daerah. Guna mendukung hal tersebut diperlukan adanya kiat-kiat khusus serta kejelian dari Pemerintah Daerah dalam melakukan investasi untuk membidik potensi usaha yang prospektif dan menghasilkan dengan menekan sekecil mungkin segala resiko. Tindakan proaktif tersebut diwujudkan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik dengan melakukan berbagai investasi/penyertaan modal pada badan-badan usaha dan perseroan yang diharapkan mampu memanfaatkan potensi daerah secara produktif dan diharapkan mampu memberikan kontribusi secara maksimal pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah untuk pembangunan dan kepentingan masyarakat luas di Kabupaten Gresik. Bahwa untuk memenuhi target penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik sejumlah Rp.20.000.000.000,00 ( dua puluh milyar rupiah) berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik, ditetapkan penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik sejumlah Rp.20.000.000.000,00 ( dua puluh milyar rupiah) yang akan disertakan secara bertahap. Pada tahun 2008 telah disertakan modal kepada PD. BPR Bank Gresik sebesar Rp.1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah) berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat

Bank Gresik yang dianggarkan pada Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008; Pada tahun 2010 telah disertakan modal kepada PD. BPR Bank Gresik sebesar Rp. 3.000.000.000,00 (Tiga Milyar Rupiah) yang berasal dari Dana Bergulir yang semula dikelola PD. BPR Bank Gresik kemudian dialihkan menjadi penyertaan modal Pemerintah Daerah kepada PD. BPR Bank Gresik Bahwa untuk memenuhi target penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik sejumlah Rp.20.000.000.000,00 ( dua puluh milyar rupiah), maka pada tahun anggaran 2011 perlu menyertakan modal pada PD. BPR Gresik Tahun 2011 yang ditetapkan sejumlah Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah), berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan. 3. Yuridis Untuk setiap penyertaan modal yang dilakukan Pemda harus dilakukan melalui Peraturan Daerah. Kewajiban ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam Pasal 75 dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan. Pasal 41 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah pada perusahaan negara/daerah/swasta ditetapkan dengan peraturan daerah. Mengacu pada Undang-undang ini, memang sudah tepat bila setiap penyertaan modal Pemda ke BUMD harus melalui Peratruan Daerah. Berdasarkan ketentuan Pasal 173 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah kedua dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 Pemerintah Daerah dapat melakukan Penyertaan Modal pada Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. Penyertaan Modal tersebut dapat dikurangi, dijual kepada pihak lain dan/atau dapat dialihkan kepada Badan Usaha Milik Daerah, yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan akan disertakannya modal pada PD. BPR Gresik Tahun 2011 yang ditetapkan sejumlah Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah), berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan, maka perlu payung hukum pelaksanaan proses ini. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka penetapan penambahan penyertaan modal daerah perlu ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gresik tentang Penyertaan Modal pada pada PD. BPR Bank Gresik.

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI PERATURAN DAERAH Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal Pemerintah daerah kepada PD. BPR Bank Gresik ditujukan untuk memberikan landasan terhadap pemenuhan sebagian target penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik sejumlah Rp.20.000.000.000,00 ( dua puluh milyar rupiah), yang pada tahun anggaran 2011 disertakan pada PD. BPR Gresik Tahun 2011 sejumlah Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah), yang berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan. A. Rumusan akademik mengenai pengertian istilah, dan frasa : 1. Daerah adalah Kabupaten Gresik. 2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. 3. Bupati adalah Bupati Gresik. 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah Kabupaten Gresik. 5. Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik yang selanjutnya disingkat PD. BPR Bank Gresik adalah Bank Perkreditan Rakyat milik Pemerintah Daerah yang modalnya baik seluruh maupun sebagian merupakan kekayaan Daerah yang dipisahkan 6. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.

7. Penyertaan Modal adalah penempatan dan/atau penambahan sejumlah dana dan/atau barang oleh Pemerintah Daerah untuk memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan/atau manfaat lainnya. 8. Dana bergulir adalah merupakan dana yang dipinjamkan untuk dikelola dan digulirkan kepada masyarakat oleh pengguna atau kuasa pengguna anggaran yang bertujuan meningkatkan ekonomi rakyat dan tujuan lain. 9. Tahun berjalan adalah waktu menurut perhitungan tahun anggaran yang sedang berlangsung.

B. Materi yang akan diatur dalam Peratruan daerah ini adalah penormaan tentang : 1. Penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik dilakukan sampai dengan terpenuhinya modal dasar pada PD. BPR Bank Gresik sebagaimana telah ditetapkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik; 2. Dana bergulir yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah dikelola oleh PD. BPR Bank Gresik untuk kemudian dicatat sebagai Penerimaan Pembiayaan dalam APBD. 3. Dana Bergulir yang dikelola melalui PD. BPR Bank Gresik dialihkan menjadi penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik. 4. Penyertaan modal pada PD. BPR Bank Gresik dianggarkan dalam APBD pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan. 5. Dana Bergulir yang telah dialihkan menjadi penyertaan modal dikelola oleh PD. BPR Bank Gresik untuk pemberdayaan kelompok Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi. 6. Penetapan suku bunga dari pengalihan dana bergulir ditetapkan maksimal sebesar 12% per tahun. 7. Penyertaan modal merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. 8. Penyertaan modal pada PD. BPR Gresik Tahun 2011 ditetapkan sejumlah Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah) yang berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan.

9. Penyertaan modal berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 10. Penyertaan modal pada PD. BPR Bank dilakukan sampai dengan terpenuhinya pokok dana bergulir yang ada pada masyarakat. 11. Pemenuhan sebagian dari penyertaan dianggarkan dan diatur dalam peraturan daerah tentang APBD pada pos pembiayaan pengeluaran berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 12. Penyertaan modal sebagaimana dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pada tahun berjalan. 13. Dalam hal administrasi pertanggungjawaban dan pelaporan keuangan atas pelaksanaan penyertaan modal tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan pada tahun berjalan. 14. Bagian keuntungan dari Penyertaan Modal Pemerintah Daerah yang perhitungkan setiap akhir tahun buku BPR. Bank Gresik, sesuai dengan Pasal 95 Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik. 15. Bagian keuntungan disetorkan ke Kas Daerah yang merupakan komponen Pendapatan Asli Daerah. 16. Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan dan agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Gresik.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Dalam rangka meningkatkan Pertumbuhan perekonomian Daerah, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang permodalan yang belum terjangkau oleh Bank Umum serta sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah, perlu penataan dan penguatan modal Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik. Sesuai dengan maksud dan tujuan didirikannya Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik, yaitu untuk membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan pembangunan Daerah di segala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat perlu menambah penyertaan modal pada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Gresik. . Dengan akan disertakannya modal pada PD. BPR Gresik Tahun 2011 yang ditetapkan sejumlah Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah), berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan, maka perlu payung hukum pelaksanaan proses ini. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka penetapan penambahan penyertaan modal daerah perlu ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gresik tentang Penyertaan Modal pada pada PD. BPR Bank Gresik.

B. Saran Bahwa berdasarkan uraian pada Naskah Akademik ini perlu disusun materi penormaan yang lengkap terhadap pelaksanaan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kepada PD. BPR Bank Gresik agar tujuan menjadikan Peraturan Daerah ini sebagai landasan hukum dalam pelaksanaan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kepada PD. BPR Bank Gresik dapat tercapai. Bahwa dengan disusunnya Naskah akademik ini, maka Rancangan Peratruan Daerah ini menjadi prioritas penyusunan Rancangan Peraturan Daerah dalam Program Legislasi Daerah Kabupaten Gresik Tahun 2011.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1969 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 5. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah keduakalinya dengan Undangundang Nomor 12 Tahun 2008 6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 8. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah 9. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Perubahan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah keduakalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011

NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK TENTANG PENYERTAAN MODAL PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN GRESIK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala bidang. Ketentuan pasal 33 ayat (3) Undang Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 sebagaimana telah empat kali diubah berbunyi Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar besar kemakmuran rakyat. Ini mengandung arti bahwa bumi, dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara harus diabadikan untuk kemakmuran rakyat dengan berkeadilan. Atas penguasaan oleh negara atas bumi, air dan kekayaan alam tersebut, negara harus menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi pemenuhan kebutuhan pokoknya seharihari dengan melakukan pengaturan untuk memperoleh air. Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong terjadinya perubahan nilai di masyarakat dengan terjadinya pergeseran paradigma dimana masyarakat tidak memandang air semata mata benda yang berfungsi sosial akan tetapi telah bergeser menjadi benda ekonomi. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gresik adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam menggerakkan ekonomi daerah, semakin penting fungsinya untuk menggerakkan perekonomian daerah sekaligus menjalankan fungsi pelayanan kepada masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan maupun peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Pelaksanaan peran BUMD tersebut dapat diwujudkan dalam kegiatan usaha yang mempunyai nilai strategis dan ekonomis. Maksud dan tujuan pendirian BUMD menurut Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 19 Tahun 2005 tentang Badan Usaha Milik Daerah adalah :

1.

Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian daerah; 2. Meningkatkan Pendapatan asli Daerah; 3. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajad hidup orang banyak; 4. Memperluas kesempatan berusaha dan lapangan kerja dalam rangka kesejahteraan masyarakat; 5. Mengejar keuntungan. Dalam rangka melakukan pembinaan dan mengoptimalkan kinerja PDAM Kabupaten Gresik, dalam memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Gresik guna mewujudkan sebuah PDAM yang sehat dan dapat lebih berdayaguna dan berhasilguna, maka perlu dilakukan penyertaan modal yang bertujuan untuk : 1. Terwujudnya sebuah perusahaan daerah yang sehat dan dapat lebih berdayaguna dan berhasilguna 2. PDAM Kabupaten Gresik bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lebih optimal ; 3. Memberikan kontribusi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik untuk menopang pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Gresik; bahwa dalam rangka mewujudkan pengelolaan Perusahaan Daerah Air Minum secara berdayaguna dan berhasilguna berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi perusahaan yang sehat untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan dan mutu pengelolaan air minum yang layak dikonsumsi masyarakat, maka perlu adanya dukungan dana yang memadai. Kebutuhan air yang semakin meningkat harus mampu disediakan oleh PDAM dengan memanfaatkan berbagai sumber air baku yang ada, baik air permukaan maupun air tanah. Apalagi mengingat pertumbuhan industri besar akan masih signifikan di tahun-tahun kedepan, maka PDAM Kabupaten Gresik harus memikirkan alternatif rencana penyediaan air bersih yang meliputi pencarian sumber-sumber air baku alternatif. Disamping itu tidak kalah penting adalah penyediaan modal yang cukup untuk pengembangan usaha penyediaan air bersih bagi masyarakat. PDAM Kabupaten Gresik adalah salah satu Perusahaan Daerah Air Minum yang diberi tugas mengelola air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Gresik yang tersebar baik didalam kota maupun di pedesaan. Tugas

pengelolaan ini cukup berat, karena salah satu sisi PDAM Kabupaten Gresik merupakan Badan Usaha yang sudah barang tentu mempunyai tujuan untuk memperoleh keuntungan (fungsi bisnis), dilain pihak PDAM Kabupaten Gresik diberi tugas oleh Pemerintah Daerah untuk memberi pelayanan kepada masyarakat sampai golongan bawah agar mendapatkan air bersih sesuai dengan standar kesehatan dengan tarif yang terjangkau oleh masyarakat bawah (fungsi sosial). Kedua masalah tersebut merupakan tantangan kedepan bagi PDAM Kabupaten Gresik. Untuk bisa mewujudkan kedua masalah tersebut, maka diperlukan kerja keras dan perencanaan yang matang yaitu suatu perencanaan strategis dalam rentang waktu (periode) tertentu. bahwa berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 9 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gresik, ditetapkan penyertaan modal pada PDAM Gresik sejumlah Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah) yang akan disertakan secara bertahap. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara mengamanatkan pemerintah untuk melakukan investasi dengan tujuan memperoleh manfaat ekonomi, manfaat sosial, dan/atau manfaat lainnya. Investasi tersebut merupakan wujud dari peran pemerintah dalam rangka memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dimuat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 41 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, pengelolaan Investasi pemerintah daerah memerlukan dasar hukum yang ditetapkan dengan suatu peraturan pemerintah untuk menjamin terlaksananya tertib administrasi dan pengelolaan Investasi pemerintah daerah. Perlu diketahui, untuk setiap penyertaan modal yang dilakukan Pemda harus dilakukan melalui Peraturan Daerah. Kewajiban ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam Pasal 75 dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada Latar Belakang dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

maka

dapat

1. Apakah diperlukan penguatan modal PDAM Kabupaten Gresik ? 2. Apakah penyertaan modal pemerintah daerah kepada PDAM Kabupaten Gresik perlu dibentuk dengan Peraturan Daerah? 3. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal kepada PDAM Kabupaten Gresik? 4. Apakah sasaran utama disertakannya modal kepada PDAM Kabupaten Gresik? C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik adalah sebagai berikut: 1. Merumuskan perlu atau tidaknya memberikan penguatan modal PDAM Kabupaten Gresik. 2. Merumuskan dasar hukum pembetukan peraturan tentang penyertaan modal pemerintah daerah kepada PDAM Kabupaten Gresik. 3. Merumuskan dasar pertimbangan pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal kepada PDAM Kabupaten Gresik. 4. merumuskan sasaran utama disertakannya modal kepada PDAM Kabupaten Gresik. 5. Sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah. D. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik ini adalah metode yuridis normatif dilakukan melalui studi pustaka yang menelaah data sekunder, baik yang berupa perundangundangan, hasil pengkajian dan referensi lainnya.

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS

A. Kajian Teoritis Definisi secara umum penyertaan modal yaitu suatu usaha untuk memiliki perusahaan yang baru atau yang sudah berjalan, dengan melakukan setoran modal ke perusahaan tersebut. Penyertaan modal Pemerintah Daerah adalah pengalihan kepemilikan kekayaan Daerah yang semula merupakan kekayaan yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham daerah. Maksud Penyertaan Modal Pemerintah Daerah adalah upaya meningkatkan produktifitas pemanfaatan tanah dan/atau bangunan serta kekayaan lainnya milik Pemerintah Daerah dengan membentuk usaha bersama dan saling menguntungkan Tujuan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah adalah untuk meningkatkan : 1) sumber Pendapatan Asli Daerah; 2) pertumbuhan ekonomi; 3) pendapatan masyarakat; dan 4) penyerapan tenaga kerja. Untuk mencapai tujuan tersebut, Penyertaan modal pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi perusahaan yang transparan dan akuntabilitas.

B. Praktek Empiris Penyertaan Modal Pemerintah Daerah merupakan bentuk Investasi jangka panjang pemerintah daerah yang dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran 2011 yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

1. Perencanaan Perencanaan penyertaan modal pemerintah daerah yang diatur dalam Peraturan Daerah ini meliputi perencanaan penyertaan modal oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dan perencanaan kebutuhan penyertaan modal pemerintah daerah yang berasal dari APBD.

Perencanaan penyertaan modal oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah diatur dengan prinsip kehati-hatian sehingga tujuan penyertaan modal pemerintah daerah terlaksana dengan efektif dan efisien. Perencanaan Penyertaan Modal pemerintah daerah memerlukan suatu koordinasi kelembagaan pada pengelolaan penyertaan modal pemerintah daerah dalam rangka pencapaian efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan penyertaan modal

2. Pelaksanaan penyertaan modal bahwa berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 9 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gresik, ditetapkan penyertaan modal pada PDAM Gresik sejumlah Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah) yang akan disertakan secara bertahap; bahwa penyertaan modal tahap kesatu tahun 2009 sebesar Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) yang dianggarkan pada Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2009 dan sebesar Rp5.000.000.000,00 yang dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010; Pelaksanaan penyertaan modal pemerintah daerah dilakukan oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah berdasarkan persetujuan Bupati. Untuk pelaksanaan penyertaan modal pemerintah daerah kepada PDAM Gresik akan dilakukan sesuai perencanaan sebesar Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah), dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan yang merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. Prosedur pelaksaanannya adalah sebagai berikut : 1. Penyertaan modal pada PDAM Gresik dianggarkan dalam APBD pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan. 2. Penyertaan modal kepada PDAM Gresik digunakan untuk pengembangan usaha penyediaan air bersih kepaa masyarakat. 3. Penyertaan modal berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 4. Penyertaan modal pada PDAM Gresik dilakukan sampai dengan terpenuhinya penyertaan modal pada PDAM Gresik sejumlah

Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah) berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 9 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gresik.. 5. Pemenuhan sebagian dari penyertaan modal dianggarkan dan diatur dalam peraturan daerah tentang APBD pada pos pembiayaan pengeluaran berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 3. Penatausahaan dan pertanggungjawaban Penyertaan modal Untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah, lembagalembaga yang terkait harus menyelenggarakan akuntansi atas pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah. Akuntansi atas pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah mengacu kepada Standar Akuntansi Keuangan. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Penyertaan modal pemerintah daerah, Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah menyusun laporan keuangan dan kinerja Penyertaan modal yang disampaikan kepada Bupati. Tahun buku PDAM Gresik disamakan dengan tahun takwim. 4. Manajemen risiko Dalam rangka pengelolaan Penyertaan Modal pemerintah daerah disamping tingkat pendapatan yang diharapkan, hal penting yang harus diperhatikan adalah timbulnya potensi kerugian yang akan berpengaruh terhadap pendapatan dan modal Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, diperlukan penerapan manajemen risiko sebagai langkah antisipasi terhadap munculnya variabel-variabel risiko Penyertaan Modal pemerintah daerah.

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 Tentang Perusahaan Daerah, bahwa Perusahaan Daerah dapat dimiliki sepenuhnya oleh: (a) suatu daerah sepenuhnya, atau (b) dimiliki oleh suatu daerah bersama dengan perorangan atau badan hukum lainnya. Saham Perusahaan Daerah terdiri dari saham prioritet (prioritas) dan saham biasa. Saham prioritet hanya dapat dimiliki oleh daerah. Pemegang saham prioritet adalah Kepala Daerah. Penyertaan modal daerah pada perusahaan daerah pasar dapat berbentuk barang dan uang. Secara lebih spesifik, dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah serta untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah diperlukan upaya-upaya dan usaha untuk meningkatkan sumber pendapatan daerah. Berdasarkan ketentuan Pasal 157 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa sumber-sumber pendapatan Daerah terdiri atas : 1. Pendapatan Asli Daerah, yang terdiri dari : a. hasil pajak Daerah; b. hasil Retribusi Daerah; c. hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan; d. lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. 2. Dana Perimbangan; 3. lain-lain Pendapatan Daerah yang sah. Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 173 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah kedua dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Pemerintah Daerah dapat melakukan Penyertaan Modal pada Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. Penyertaan Modal tersebut dapat dikurangi, dijual kepada pihak lain dan/atau dapat dialihkan kepada Badan Usaha Milik Daerah, yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan Pasal 71 ayat (8) dan ayat (9) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, menyebutkan bahwa penyertaan modal dalam rangka pemenuhan kewajiban yang telah tercantum dalam peraturan daerah penyertaan modal pada tahun-tahun sebelumnya, tidak diterbitkan peraturan daerah tersendiri sepanjang jumlah anggaran

penyertaan modal tersebut belum melebihi jumlah penyertaan modal yang telah ditetapkan pada peraturan daerah tentang penyertaan modal. Dalam hal pemerintah daerah akan menambah jumlah penyertaan modal melebihi jumlah penyertaan modal yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal, dilakukan perubahan peraturan daerah tentang penyertaan modal yang berkenaan. Selengkapnya Peraturan Perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukan Peraturan Daerah ini adalah : 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur 3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 6 Tahun 1969 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 6. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah keduakalinya dengan Undangundang Nomor 12 Tahun 2008 7. UndangUndang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah 8. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 9. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum 10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota 12. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah 13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah keduakalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011; 14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2007 tentang Organ dan Kepegawaian Perusahaan Daerah Air Minum;

15.

Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 4 Tahun 1986 tentang Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Daerah Tingkat II Gresik 16. Peraturan Daerah kabupaten Gresik Nomor 10 Tahun 2006 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah 17. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 9 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gresik 18. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Perubahan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011

BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS

1. Filosofis Air adalah salah satu sumber daya nasional dan merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh anggota masyarakat yang diantaranya adalah kebutuhan akan air minum. Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, diamanatkan bahwa pengembangan sistim penyediaan air minum merupakan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang diselenggarakan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan menjamin standar kebutuhan pokok air minum bagi masyarakat yang memenuhi syarat kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Demikian pula dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pelayanan air minum kepada masyarakat merupakan urusan wajib yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten / Kota dan kebijakan pelaksanaannya dilaksanakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), sehingga Pemerintah Kabupaten / Kota adalah regulator dalam penyediaan kebutuhan air minum kepada masyarakat sedang PDAM adalah selaku operator. PDAM selaku operator dengan misi utama menyediakan pelayanan air minum kepada masyarakat yang memenuhi syarat kualitas, kuantitas dan kontinuitas sesuai dengan standar kesehatan yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI, yaitu Kep No. 492/MENKES/PER/IV/2010, Tanggal 19 April 2010 Tentang persyaratan kualitas air minum Yang harus dikelola dengan baik sesuai prinsip-prinsip ekonomi perusahaan dan good corporate governance agar dapat menghasilkan tingkat keuntungan yang mencukupi guna menjaga kesinambungan dan secara terusmenerus meningkatkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas pelayanan kepada masyarakat, dengan tetap memperhatikan fungsi sosial. Pengelolaan penyertaan modal pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini dilaksanakan dengan memperhatikan asas-asas sebagai berikut: a. asas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah di bidang penyertaan modal pemerintah daerah dilaksanakan oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan

b.

c.

d.

e.

Aset Daerah Kabupaten Gresik, Badan Usaha, Pimpinan Lembaga sesuai fungsi, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing. asas kepastian hukum, yaitu penyertaan modal pemerintah daerah harus dilaksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. asas efisiensi, yaitu penyertaan modal pemerintah daerah diarahkan agar dana penyertaan modal digunakan sesuai batasanbatasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal. asas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan penyertaan modal pemerintah daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. asas kepastian nilai, yaitu penyertaan modal pemerintah daerah harus didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai penyertaan modal dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dana, divestasi serta penyusunan laporan keuangan pemerintah.

2. Sosiologis Air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus tetap tersedia setiap saat. Aktifitas manusia setiap hari tidak bisa lepas dari air bersih, utamanya untuk kebutuhan minum, makan, mencuci dll. Kebutuhan air bersih masyarakat tidak sama. Masyarakat yang mempunyai kemampuan secara ekonomi bisa mendapatkan air dengan cara membeli atau berlangganan ke PDAM sebagai penyedia air bersih untuk memenuhi segala kebutuhan air bersih. Sedangkan masyarakat yang mempunyai ekonomi terbatas (kurang mampu) akan berusaha mendapatkan air bersih sedapat mungkin tidak dengan cara membeli, yaitu menggunakan sumber-sumber lain yang dapat dimanfaatkan jika ada. Namun apabila sumber lain sudah tidak ada lagi, maka masyarakat golongan ini untuk mendapatkan air bersih harus membeli juga, sehingga air bersih yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan dasarnya. Kegiatan operasional Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Gresik lima tahun terakhir yaitu tahun 2006, 2007, 2008, 2009 (telah diaudit) dan tahun 2010 (per agustus) dapat meningkatkan jumlah pelayanan terpasang rata-rata sebanyak 3.000 unit per tahun, dimana pada tahun 2006 SR terpasang sebanyak 53.140 pelanggan dan pada tahun 2010 (per Agustus) telah terpasang sebanyak 63.961 pelanggan sehingga tingkat cakupan pelayanan yang telah tercapai saat ini adalah sebesar 27,59 % terhadap jumlah penduduk Kabupaten (18 Kecamatan) dan 41,96 % terhadap jumlah

penduduk di wilayah pelayanan (9 Kecamatan). Bila ditinjau dari sasaran / target nasional bahwa tingkat cakupan pelayanan yang harus dicapai adalah sebesar 80% penduduk diwilayah perkotaan dan 60% di wilayah pedesaan pada tahun 2015 mendatang (Millenium Development Goal), maka tingkat cakupan pelayanan saat ini masih jauh di bawah target nasional. Untuk dapat mencapai sasaran / target yang diharapkan dibutuhkan pendanaan yang sangat besar, dimana untuk pengembangan cakupan pelayanan air bersih dengan penambahan-penambahan sambungan rumah diperlukan sarana dan prasarana phisik yang mendukung diantaranya pemenuhan kebutuhan kapasitas produksi mulai dari ketersediaan dan pengambilan air baku sampai dengan pengolahannya, jaringan distribusi perpipaan mulai dari instalasi pengolahan sampai ke lokasi pelanggan yang tersebar diseluruh wilayah meliputi pipa distribusi utama, sekunder dan tertier. Kondisi cekungan air tanah di kabupaten gresik Sesuai Kepmen ESDM 716.K/40/MEM/2003 adalah Di kabupaten Gresik terdapat 2 ( dua ) macam cekungan air tanah (CAT) yaitu : Potensi (juta m3/tahun) N Air Nama CAT Wilayah Adminstrasi o Air tanah tanah tertekan bebas 1 Surabaya - Kot. Surabaya, Kab. 843 37 Lamongan Bojonegoro, Kab. Tuban, Kab. Lamongan, Kab. Gresik. 2 Panceng Kab. Gresik, Kab. Lamongan. 27 41 Dengan banyaknya perubahan kondisi lahan di daerah resapan, maka potensi tersebut perlu pengawasan dan dievaluasi kembali dengan melakukan penelitian potensi. Kebutuhan air bersih untuk Kabupaten Gresik sampai akhir tahun perencanaan dapat dilihat sebagai berikut: Alokasi Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Kabupaten Gresik Tahun 2010 2030
Jumlah Tahun Penduduk (Orang) 1.127.127 1.321.060 1.564.851 1.874.897 Persentase Pelayanan (%) 75,00 75,00 75,00 75,00 Kebutuhan Air penduduk (L/det) 1.467,61 1.720,13 2.037,57 2.441,27 Kran umum (L/det) 111,97 122,15 133,65 146,72 Kebutuhan Air domestik (L/det) 1.579,59 1.842,28 2.171,22 2.587,99 Kebutuhan Kehilangan Total air non kebutuhan air domestik air (L/det) (L/det) (L/det) 394,90 493,62 2.468,11 460,57 575,71 2.878,56 542,81 678,51 3.392,53 647,00 808,75 4.043,74

2010 2012 2017 2022

Jumlah Tahun Penduduk (Orang) 2.273.776

Persentase Pelayanan (%) 75,00

Kebutuhan Air penduduk (L/det) 2.960,65

Kran umum (L/det)

Kebutuhan

2030

Air domestik (L/det) 159,21 3.119,86

Kebutuhan Kehilangan Total air non kebutuhan air domestik air (L/det) (L/det) (L/det) 779,96 974,96 4.874,78

Sumber: RTRW Dari perhitungan diketahui perkiraan kebutuhan air bersih pada tahun 2010 dan tahun 2030 berturut-turut sebesar 2468,11 liter/detik 4874,78 liter/detik. Kebutuhan air sebesar ini harus mampu disediakan oleh PDAM dengan memanfaatkan berbagai sumber air baku yang ada, baik air permukaan maupun air tanah. Apalagi mengingat pertumbuhan industri besar akan masih signifikan di tahun-tahun kedepan, maka PDAM Kabupaten Gresik harus memikirkan alternatif rencana penyediaan air bersih yang meliputi pencarian sumber-sumber air baku alternatif. Disamping itu harus dicatat bahwa perkiraan kebutuhan air di atas belum memperhitungkan kebutuhan air untuk proses produksi industri. Kebutuhan air semacam ini tidak bisa diprediksi karena besarnya sangat tergantung pada jenis proses produksi itu sendiri, tetapi harus tersedia secara kontinyu. Oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan air ini, industri-industri pada umumnya menggunakan air tanah. Penggunaan air tanah harus sepengetahuan dan dibawah pengawasan dinas yang terkait untuk mencegah akibat negatif dari pengambilan air tanah yang berlebihan seperti perubahan kualitas, serta terganggunya keseimbangan air dalam tanah yang berdampak intrusi air laut. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pengawasan dan pengendalian dalam pemanfaatan pemakaian air di wilayah Kabupaten Gresik harus dilakukan dengan baik agar ketersediaan sumber daya air di kabupaten Gresik dapat selalu terjaga. Perkembangan Kabupaten Gresik sebagai salah satu kota penyangga perekonomian Jawa Timur, khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatan potensi daerah pada saat sekarang sangat membutuhkan adanya tindakan-tindakan proaktif, terutama dari Pemerintah Daerah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di segala bidang. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dimana pemerintah daerah dituntut untuk mampu mengurus dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri, dengan demikian dibutuhkan adanya upaya dan kemauan yang keras serta kemampuan yang kuat dari Pemerintah Daerah untuk dapat menggali, mengelola dan mengembangkan segala potensi yang ada secara optimal untuk mendukung kemampuan keuangan daerah.

Guna mendukung hal tersebut diperlukan adanya kiat-kiat khusus serta kejelian dari Pemerintah Daerah dalam melakukan investasi untuk membidik potensi usaha yang prospektif dan menghasilkan dengan menekan sekecil mungkin segala resiko. Tindakan proaktif tersebut diwujudkan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik dengan melakukan berbagai investasi/penyertaan modal pada badan-badan usaha dan perseroan yang diharapkan mampu memanfaatkan potensi daerah secara produktif dan diharapkan mampu memberikan kontribusi secara maksimal pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah untuk pembangunan dan kepentingan masyarakat luas di Kabupaten Gresik. 3. Yuridis Untuk setiap penyertaan modal yang dilakukan Pemda harus dilakukan melalui Peraturan Daerah. Kewajiban ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam Pasal 75 dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan. Pasal 41 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah pada perusahaan negara/daerah/swasta ditetapkan dengan peraturan daerah. Mengacu pada Undang-undang ini, memang sudah tepat bila setiap penyertaan modal Pemda ke BUMD harus melalui Peraturan Daerah. Berdasarkan ketentuan Pasal 173 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah kedua dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 Pemerintah Daerah dapat melakukan Penyertaan Modal pada Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. Penyertaan Modal tersebut dapat dikurangi, dijual kepada pihak lain dan/atau dapat dialihkan kepada Badan Usaha Milik Daerah, yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan akan disertakannya modal pada PDAM Gresik Tahun 2011 yang ditetapkan sejumlah Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah), berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan, maka perlu payung hukum pelaksanaan proses ini. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka penetapan penambahan penyertaan modal daerah perlu ditetapkan dalam

Peraturan Daerah Kabupaten Gresik tentang Penyertaan Modal pada pada PDAM Gresik.

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI PERATURAN DAERAH

Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal Pemerintah daerah kepada PDAM Gresik ditujukan untuk memberikan landasan terhadap pemenuhan sebagian target penyertaan modal pada PDAM Gresik sejumlah Rp.15.000.000.000,00 ( lima belas milyar rupiah), yang pada tahun anggaran 2011 disertakan pada PDAM Gresik sejumlah Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah), yang berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan. A. Rumusan akademik mengenai pengertian istilah, dan frasa : 1. Daerah adalah Kabupaten Gresik. 2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. 3. Bupati adalah Bupati Gresik. 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah Kabupaten Gresik. 5. Perusahaan Daerah Air Minum yang selanjutnya disebut PDAM adalah Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Gresik. 6. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah. 7. Penyertaan Modal adalah penempatan dan/atau penambahan sejumlah dana dan/atau barang oleh Pemerintah Daerah untuk memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan/atau manfaat lainnya. 8. Tahun berjalan adalah waktu menurut perhitungan tahun anggaran yang sedang berlangsung. B. Materi yang akan diatur dalam Peraturan daerah ini adalah penormaan tentang : 1. Penyertaan modal pada PDAM bertujuan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan tetap memperhatikan

fungsi pelayanan sosial, pertumbuhan dan perkembangan perekonomian daerah dan meningkatkan pendapatan daerah. 2. Untuk mencapai tujuannya maka penyertaan modal dilaksanakan berdasarkan prinsip ekonomi yang menguntungkan. 3. Penyertaan modal pada PDAM ditetapkan dalam bentuk uang yang dianggarkan dalam APBD. 4. Penyertaan modal pada PDAM merupakan bentuk kekayaan daerah yang dipisahkan. 5. Penyertaan modal pada PDAM tahun 2011 ditetapkan sejumlah Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah) yang dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011. 6. Penyertaan modal dimaksudkan untuk pemenuhan sebagian dari penyertaan modal sejumlah Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah) sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 9 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gresik. 7. Penyertaan modal dilakukan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 8. Pemenuhan sebagian dari penyertaan modal dianggarkan dan diatur dalam peraturan daerah tentang APBD pada pos pembiayaan pengeluaran berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 9. Penyertaan modal dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pada tahun berjalan. 10. Dalam hal administrasi pertanggungjawaban dan pelaporan keuangan atas pelaksanaan penyertaan modal tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan pada tahun berjalan. 11. Bagian keuntungan dari Penyertaan Modal Pemerintah Daerah yang perhitungkan setiap akhir tahun buku PDAM, menjadi hak daerah. 12. Bagian keuntungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disetorkan ke Kas Daerah yang merupakan komponen Pendapatan Asli Daerah. 13. Bagian keuntungan disetorkan ke Kas Daerah yang merupakan komponen Pendapatan Asli Daerah. 14. Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan dan agar setiap orang mengetahuinya

memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Gresik. BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gresik adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam menggerakkan ekonomi daerah, semakin penting fungsinya untuk menggerakkan perekonomian daerah sekaligus menjalankan fungsi pelayanan kepada masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan maupun peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Pelaksanaan peran BUMD tersebut dapat diwujudkan dalam kegiatan usaha yang mempunyai nilai strategis dan ekonomis. Dengan akan disertakannya modal pada PDAM Gresik Tahun 2011 yang ditetapkan sejumlah Rp2.000.000.000,00 (dua milyar Rupiah), berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan, maka perlu payung hukum pelaksanaan proses ini. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka penetapan penambahan penyertaan modal daerah perlu ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gresik tentang Penyertaan Modal pada pada PDAM Gresik. B. Saran Bahwa berdasarkan uraian pada Naskah Akademik ini perlu disusun materi penormaan yang lengkap terhadap pelaksanaan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kepada PDAM Gresik agar tujuan menjadikan Peraturan Daerah ini sebagai landasan hukum dalam pelaksanaan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kepada PDAM Gresik dapat tercapai. Bahwa dengan disusunnya Naskah akademik ini, maka Rancangan Peratruan Daerah ini menjadi prioritas penyusunan Rancangan Peraturan Daerah dalam Program Legislasi Daerah Kabupaten Gresik Tahun 2011.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1969 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 5. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah keduakalinya dengan Undangundang Nomor 12 Tahun 2008 6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 8. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah 9. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Perubahan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah keduakalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 11. Sejarah Bank Jatim http://www.bankjatim.co.id

NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK TENTANG PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK KEPADA BANK JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peranan Bank dalam mendukung kegiatan dunia usaha kecil dan menengah sangat besar. Perbankan bekerja untuk membantu dan mendorong kegiatan ekonomi. Perkembangan dunia perbankan merupakan bagian utama dari sisi keuangan kita, tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pemerintah dalam menggalakkan sistem perkreditan bagi masyarakat. Jasa yang diberikan bank adalah jasa lalu lintas peredaran uang. Melalui bank kita dapat memperoleh kredit atau pinjaman uang untuk operasi usaha kecil dan menengah yang dijalankan. Tujuan daripada Perbankan Indonesia yaitu, menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan dari kesejahteraan rakyat banyak. Berdasarkan dari uraian ini, dapat disimpulkan bahwa dunia Perbankan tidak akan terlepas dari pembangunan Nasional Negara kita. Selanjutnya peran bank dalam mendukung kegiatan bisnis pasti akan sangat besar pula. Dimana kita ketahui, bahwa bank bekerja dalam menyalurkan kredit bagi masyarakat. Kredit bank diperlukan bagi pengusaha kecil, pengusaha menengah, dan juga pengusaha yang telah memiliki modal besar. Semakin berkembangnya perekonomian suatu daerah maka pengajuan kreditnya juga semakin tinggi, dengan begitu modal Bank Jawa timur tidak mencukupi untuk menyalurkan kredit tersebut. Maka disinilah andil Pemerintah Daerah untuk menyertakan modal yang dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Bahwa dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah, Pemerintah Kabupaten Gresik telah melakukan investasi dalam bentuk penyertaan modal kepada Bank Jawa Timur.

Bahwa mencermati deviden yang selama ini diterima oleh Pemerintah Kabupaten Gresik dari tahun ke tahun mengalami banyak peningkatan, sehingga penyertaan modal Pemerintah Kabupaten Gresik kepada Bank Jawa Timur mempunyai prospek bisnis yang menguntungkan. Oleh karena itu, nilai penyertaan modal tersebut layak untuk terus ditingkatkan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara mengamanatkan pemerintah untuk melakukan investasi dengan tujuan memperoleh manfaat ekonomi, manfaat sosial, dan/atau manfaat lainnya. Investasi tersebut merupakan wujud dari peran pemerintah dalam rangka memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dimuat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 41 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, pengelolaan Investasi pemerintah daerah memerlukan dasar hukum yang ditetapkan dengan suatu peraturan pemerintah untuk menjamin terlaksananya tertib administrasi dan pengelolaan Investasi pemerintah daerah. Perlu diketahui, untuk setiap penyertaan modal yang dilakukan Pemda harus dilakukan melalui Peraturan Daerah. Kewajiban ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam Pasal 75 dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada Latar Belakang maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah diperlukan modal Bank Jatim ? 2. Apakah penyertaan modal pemerintah daerah kepada Bank Jatim perlu dibentuk dengan Peraturan Daerah? 3. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal kepada Bank Jatim? 4. Apakah sasaran utama disertakannya modal kepada Bank Jatim? C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik adalah sebagai berikut:

1. Merumuskan perlu atau tidaknya memberikan modal Bank Jatim. 2. Merumuskan dasar hukum pembetukan peraturan tentang penyertaan modal pemerintah daerah kepada Bank Jatim. 3. Merumuskan dasar pertimbangan pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal kepada Bank Jatim. 4. merumuskan sasaran utama disertakannya modal kepada Bank Jatim. 5. Sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah. D. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik ini adalah metode yuridis normatif dilakukan melalui studi pustaka yang menelaah data sekunder, baik yang berupa perundangundangan, hasil pengkajian dan referensi lainnya.

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS

A. Kajian Teoritis Definisi secara umum penyertaan modal yaitu suatu usaha untuk memiliki perusahaan yang baru atau yang sudah berjalan, dengan melakukan setoran modal ke perusahaan tersebut. Penyertaan modal Pemerintah Daerah adalah pengalihan kepemilikan kekayaan Daerah yang semula merupakan kekayaan yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham daerah. Maksud Penyertaan Modal Pemerintah Daerah adalah upaya meningkatkan produktifitas pemanfaatan tanah dan/atau bangunan serta kekayaan lainnya milik Pemerintah Daerah dengan membentuk usaha bersama dan saling menguntungkan Tujuan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah adalah untuk meningkatkan : 1) sumber Pendapatan Asli Daerah; 2) pertumbuhan ekonomi; 3) pendapatan masyarakat; dan 4) penyerapan tenaga kerja. Untuk mencapai tujuan tersebut, Penyertaan modal pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi perusahaan yang transparan dan akuntabilitas.

B. Praktek Empiris Penyertaan Modal Pemerintah Daerah merupakan bentuk Investasi jangka panjang pemerintah daerah yang dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran 2011 yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. 1. Perencanaan Perencanaan penyertaan modal pemerintah daerah yang diatur dalam Peraturan Daerah ini meliputi perencanaan penyertaan modal oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dan perencanaan kebutuhan penyertaan modal pemerintah daerah yang berasal dari APBD.

Perencanaan penyertaan modal oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah diatur dengan prinsip kehati-hatian sehingga tujuan penyertaan modal pemerintah daerah terlaksana dengan efektif dan efisien. Perencanaan Penyertaan Modal pemerintah daerah memerlukan suatu koordinasi kelembagaan pada pengelolaan penyertaan modal pemerintah daerah dalam rangka pencapaian efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan penyertaan modal 2. Pelaksanaan penyertaan modal Bahwa dengan Peraturan daerah ini ditetapkan penyertaan modal kepada Bank Jatim dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Gresik sebesar Rp. 15.000.000.000,00 (Lima Belas Milyar Rupiah) yang akan disertakan secara bertahap. Bahwa sampai dengan Tahun Anggaran 2010, Pemerintah Daerah telah melakukan Penyertaan Modal kepada Bank Jatim secara kumulatif sebesar Rp3.211.000.000,00 (tiga milyar dua ratus sebelas juta rupiah), dengan rincian sebagai berikut: 1. Sampai dengan tahun anggaran 2009 secara kumulasi berjumlah Rp3.011.000.000,00 (tiga milyar sebelas juta rupiah); 2. Tahun anggaran 2010 sebesar Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Penyertaan modal pada Bank Jatim Tahun 2011 ditetapkan sejumlah Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta Rupiah) yang dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan yang merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. Prosedur pelaksaanannya adalah sebagai berikut : 1. Penyertaan modal pada Bank Jatim dianggarkan dalam APBD pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan. 2. Penyertaan modal kepada Bank Jatim digunakan untuk pengembangan usaha perbankkan yang dilakukan oleh Bank Jatim. 3. Penyertaan Modal Daerah bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di daerah dan dalam rangka menggali potensi Pendapatan Asli Daerah. 4. Untuk mencapai tujuan Penyertaan Modal Daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip profit oriented. 5. Penyertaan modal berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati.

6. Penyertaan modal pada Bank Jatim dilakukan sampai dengan terpenuhinya penyertaan modal pada Bank Jatim sejumlah Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah). 7. Pemenuhan sebagian dari penyertaan modal dianggarkan dan diatur dalam peraturan daerah tentang APBD pada pos pembiayaan pengeluaran berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 8. Paling lambat 3 (tiga) hari setelah realisasi Penyertaan Modal Daerah dilakukan dan/atau setelah modal disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham, maka Bank Jatim wajib menerbitkan Setifikat Kepemilikan Saham Pemerintah Kabupaten Gresik. 3. Penatausahaan dan pertanggungjawaban Penyertaan modal Untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah, lembagalembaga yang terkait harus menyelenggarakan akuntansi atas pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah. Akuntansi atas pelaksanaan Penyertaan modal pemerintah daerah mengacu kepada Standar Akuntansi Keuangan. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Penyertaan modal pemerintah daerah, Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah menyusun laporan keuangan dan kinerja Penyertaan modal yang disampaikan kepada Bupati. Tahun buku Bank Jatim disamakan dengan tahun takwim. 4. Manajemen risiko Dalam rangka pengelolaan Penyertaan Modal pemerintah daerah disamping tingkat pendapatan yang diharapkan, hal penting yang harus diperhatikan adalah timbulnya potensi kerugian yang akan berpengaruh terhadap pendapatan dan modal Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, diperlukan penerapan manajemen risiko sebagai langkah antisipasi terhadap munculnya variabel-variabel risiko Penyertaan Modal pemerintah daerah.

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 Tentang Perusahaan Daerah, bahwa Perusahaan Daerah dapat dimiliki sepenuhnya oleh: (a) suatu daerah sepenuhnya, atau (b) dimiliki oleh suatu daerah bersama dengan perorangan atau badan hukum lainnya. Saham Perusahaan Daerah terdiri dari saham prioritet (prioritas) dan saham biasa. Saham prioritet hanya dapat dimiliki oleh daerah. Pemegang saham prioritet adalah Kepala Daerah. Penyertaan modal daerah pada perusahaan daerah pasar dapat berbentuk barang dan uang. Secara lebih spesifik, dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah serta untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah diperlukan upaya-upaya dan usaha untuk meningkatkan sumber pendapatan daerah. Berdasarkan ketentuan Pasal 157 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa sumber-sumber pendapatan Daerah terdiri atas : 1. Pendapatan Asli Daerah, yang terdiri dari : a. hasil pajak Daerah; b. hasil Retribusi Daerah; c. hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan; d. lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. 2. Dana Perimbangan; 3. lain-lain Pendapatan Daerah yang sah. Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 173 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah kedua dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Pemerintah Daerah dapat melakukan Penyertaan Modal pada Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. Penyertaan Modal tersebut dapat dikurangi, dijual kepada pihak lain dan/atau dapat dialihkan kepada Badan Usaha Milik Daerah, yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan Pasal 71 ayat (8) dan ayat (9) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, menyebutkan bahwa penyertaan modal dalam rangka pemenuhan kewajiban yang telah tercantum dalam peraturan daerah penyertaan modal pada tahun-tahun sebelumnya, tidak

diterbitkan peraturan daerah tersendiri sepanjang jumlah anggaran penyertaan modal tersebut belum melebihi jumlah penyertaan modal yang telah ditetapkan pada peraturan daerah tentang penyertaan modal. Dalam hal pemerintah daerah akan menambah jumlah penyertaan modal melebihi jumlah penyertaan modal yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal, dilakukan perubahan peraturan daerah tentang penyertaan modal yang berkenaan. Selengkapnya Peraturan Perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukan Peraturan Daerah ini adalah : 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur 3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 6 Tahun 1969 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 6. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah keduakalinya dengan Undangundang Nomor 12 Tahun 2008 7. UndangUndang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah 8. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 9. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas 10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota 12. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah 13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah keduakalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011; 14. Peraturan Daerah kabupaten Gresik Nomor 10 Tahun 2006 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah

15.

Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Perubahan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011

BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS

1. Filosofis Pembangunan nasional yang dilaksanakan selama ini merupakan upaya pembangunan yang berkesinambungan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Guna mencapai tujuan tersebut, pelaksanaan pembangunan harus senantiasa memperhatikan keserasian, keselasaran, dan keseimbangan berbagai unsur pembangunan, termasuk di bidang ekonomi dan keuangan. Perkembangan ekonomi nasional dewasa ini menunjukkan arah yang semakin menyatu dengan ekonomi regional dan internasional yang dapat menunjang sekaligus dapat berdampak kurang menguntungkan. Pengelolaan penyertaan modal pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini dilaksanakan dengan memperhatikan asas-asas sebagai berikut: a. asas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah di bidang penyertaan modal pemerintah daerah dilaksanakan oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Gresik, Badan Usaha, Pimpinan Lembaga sesuai fungsi, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing. b. asas kepastian hukum, yaitu penyertaan modal pemerintah daerah harus dilaksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. asas efisiensi, yaitu penyertaan modal pemerintah daerah diarahkan agar dana penyertaan modal digunakan sesuai batasanbatasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal. d. asas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan penyertaan modal pemerintah daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. e. asas kepastian nilai, yaitu penyertaan modal pemerintah daerah harus didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai penyertaan modal dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dana, divestasi serta penyusunan laporan keuangan pemerintah.

2. Sosiologis Perkembangan Kabupaten Gresik sebagai salah satu kota penyangga perekonomian Jawa Timur, khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatan potensi daerah pada saat sekarang sangat membutuhkan adanya tindakan-tindakan proaktif, terutama dari Pemerintah Daerah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di segala bidang. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dimana pemerintah daerah dituntut untuk mampu mengurus dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri, dengan demikian dibutuhkan adanya upaya dan kemauan yang keras serta kemampuan yang kuat dari Pemerintah Daerah untuk dapat menggali, mengelola dan mengembangkan segala potensi yang ada secara optimal untuk mendukung kemampuan keuangan daerah. Guna mendukung hal tersebut diperlukan adanya kiat-kiat khusus serta kejelian dari Pemerintah Daerah dalam melakukan investasi untuk membidik potensi usaha yang prospektif dan menghasilkan dengan menekan sekecil mungkin segala resiko. Tindakan proaktif tersebut diwujudkan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik dengan melakukan berbagai investasi/penyertaan modal pada badan-badan usaha dan perseroan yang diharapkan mampu memanfaatkan potensi daerah secara produktif dan diharapkan mampu memberikan kontribusi secara maksimal pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah untuk pembangunan dan kepentingan masyarakat luas di Kabupaten Gresik. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, yang dikenal dengan sebutan Bank JATIM, didirikan pada tanggal 17 Agustus 1961 di Surabaya. Landasan hukum pendirian adalah Akte Notaris Anwar Mahajudin Nomor 91 tanggal 17 Agustus 1961 dan dilengkapi dengan landasan operasional Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor BUM.9-4-5 tanggal 15 Agustus 1961. Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan, pada tahun 1967 dilakukan penyempurnaan melalui Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 2 Tahun 1976 yang menyangkut Status Bank Pembangunan Daerah dari bentuk Perseroan Terbatas(PT) menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Secara operasional dan seiring dengan perkembangannya, maka pada tahun 1990 Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur meningkatkan statusnya dari Bank Umum menjadi Bank Umum

Devisa, hal ini ditetapkan dengan Surat Keputusan Bank Indonesia Nomor 23/28/KEP/DIR tanggal 2 Agustus 1990. Untuk memperkuat permodalan, maka pada tahun 1994 dilakukan perubahan terhadap Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1992 tanggal 28 Desember 1992 menjadi Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 26 Tahun 1994 tanggal 29 Desember 1994 yaitu merubah Struktur Permodalan/Kepemilikan dengan diijinkannya Modal Saham dari Pihak Ketiga sebagai salah satu unsur kepemilikan dengan komposisi maksimal 30%. Dalam rangka mempertahankan eksistensi dan mengimbangi tuntutan perbankan saat itu, maka sesuai dengan Rapat Umum Pemegang Saham Tahun Buku 1997 telah disetujui perubahan bentuk Badan Hukum Bank Pembangunan Daerah menjadi Perseroan Terbatas. Berdasarkan Pasal 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1998 tentang Bentuk Badan Hukum Bank Pembangunan Daerah, maka pada tanggal 20 Maret 1999 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur telah mensahkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur dari Perusahaan Daerah (PD) menjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur. Sesuai dengan Akte Notaris R. Sonny Hidayat Yulistyo, S.H. Nomor 1 tanggal 1 Mei 1999 yang telah ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman Nomor C2-8227.HT.01.01.Th tanggal 5 Mei 1999 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 25 Mei 1999 Nomor 42 Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 3008, selanjutnya secara resmi menjadi PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur. Bahwa mencermati deviden yang selama ini diterima oleh Pemerintah Kabupaten Gresik dari tahun ke tahun mengalami banyak peningkatan, sehingga penyertaan modal Pemerintah Kabupaten Gresik kepada Bank Jawa Timur mempunyai prospek bisnis yang menguntungkan. Oleh karena itu, nilai penyertaan modal tersebut layak untuk terus ditingkatkan. Bahwa sampai dengan saat ini Pemerintah kabupaten Gresik belum pernah mengatur keberadaan Penyertaan Modal yang telah dilakukan kepada Bank Jawa Timur dengan Peraturan daerah. Oleh Karana itu Peraturan daerah ini diharapkan menjadi dasar bagi penyertaan modal yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik Kepada Bank Jawa Timur. Bahwa dengan Peraturan daerah ini ditetapkan penyertaan modal kepada Bank Jatim dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Gresik sebesar Rp. 15.000.000.000,00 (Lima Belas Milyar Rupiah) yang akan disertakan secara bertahap.

Bahwa sampai dengan Tahun Anggaran 2010, Pemerintah Daerah telah melakukan Penyertaan Modal kepada Bank Jatim secara kumulatif sebesar Rp3.211.000.000,00 (tiga milyar dua ratus sebelas juta rupiah), dengan rincian sebagai berikut: Sampai dengan tahun anggaran 2009 secara kumulasi berjumlah Rp3.011.000.000,00 (tiga milyar sebelas juta rupiah); Tahun anggaran 2010 sebesar Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Penyertaan modal pada Bank Jatim Tahun 2011 ditetapkan sejumlah Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta Rupiah) yang dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Penambahan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah kepada PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur.

3. Yuridis Untuk setiap penyertaan modal yang dilakukan Pemda harus dilakukan melalui Peraturan Daerah. Kewajiban ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam Pasal 75 dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan. Pasal 41 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah pada perusahaan negara/daerah/swasta ditetapkan dengan peraturan daerah. Mengacu pada Undang-undang ini, memang sudah tepat bila setiap penyertaan modal Pemda ke BUMD harus melalui Peraturan Daerah. Berdasarkan ketentuan Pasal 173 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah kedua dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 Pemerintah Daerah dapat melakukan Penyertaan Modal pada Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. Penyertaan Modal tersebut dapat dikurangi, dijual kepada pihak lain dan/atau dapat dialihkan kepada Badan Usaha Milik Daerah, yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan akan disertakannya modal pada Bank Jatim Tahun 2011 yang ditetapkan sejumlah Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta Rupiah), berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan

dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan, maka perlu payung hukum pelaksanaan proses ini. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka penetapan penambahan penyertaan modal daerah perlu ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gresik tentang Penyertaan Modal pada pada Bank Jatim.

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI PERATURAN DAERAH Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal Pemerintah daerah kepada Bank Jatim ditujukan untuk memberikan landasan terhadap pemenuhan sebagian target penyertaan modal pada Bank Jatim sejumlah Rp.15.000.000.000,00 ( lima belas milyar rupiah), yang pada tahun anggaran 2011 disertakan pada Bank Jatim sejumlah Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta Rupiah), yang berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan. A. Rumusan akademik mengenai pengertian istilah, dan frasa : 1. Daerah adalah Kabupaten Gresik. 2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. 3. Bupati adalah Bupati Gresik. 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah Kabupaten Gresik. 5. Bank Jawa Timur, yang selanjutnya disebut Bank Jatim adalah PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, sesuai dengan Akte Notaris R. Sonny Hidayat Yulistyo, S.H. Nomor 1 tanggal 1 Mei 1999 yang telah ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman Nomor C2-8227.HT.01.01.Th tanggal 5 Mei 1999 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 25 Mei 1999 Nomor 42 Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 3008. 6. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah. 7. Penyertaan Modal adalah penempatan dan/atau penambahan sejumlah dana dan/atau barang oleh Pemerintah Daerah untuk memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan/atau manfaat lainnya. 8. Tahun berjalan adalah waktu menurut perhitungan tahun anggaran yang sedang berlangsung.

B. Materi yang akan diatur dalam Peraturan daerah ini adalah penormaan tentang : 1. Penyertaan Modal Daerah bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di daerah dan dalam rangka menggali potensi Pendapatan Asli Daerah. 2. Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyertaan Modal Daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip profit oriented. 3. Penyertaan modal kepada Bank Jatim ditetapkan sebesar Rp. 15.000.000.000,00 (Lima Belas Milyar Rupiah) yang akan disertakan secara bertahap. 4. Sampai dengan Tahun Anggaran 2010, Pemerintah Daerah telah melakukan Penyertaan Modal kepada Bank Jatim secara komulatif sebesar Rp3.211.000.000,00 (tiga milyar dua ratus sebelas juta rupiah), dengan rincian sebagai berikut: a. Sampai dengan tahun anggaran 2009 secara kumulasi berjumlah Rp3.011.000.000,00 (tiga milyar sebelas juta rupiah); b. Tahun anggaran 2010 sebesar Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). 5. Penyertaan modal pada Bank Jatim Tahun 2011 ditetapkan sejumlah Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta Rupiah) yang dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011. 6. Jumlah Penyertaan modal kepada Bank Jatim ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Gresik sampai dengan terpenuhinya jumlah Penyertaan Modal. 7. Penyertaan modal dilakukan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 8. Pemenuhan sebagian dari penyertaan modal dianggarkan dan diatur dalam Peraturan Daerah tentang APBD pada pos pembiayaan pengeluaran berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang pelaksanaan teknis penyertaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati 9. Penyertaan modal dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pada tahun berjalan. 10. Dalam hal administrasi pertanggungjawaban dan pelaporan keuangan atas pelaksanaan penyertaan modal tunduk pada

ketentuan berjalan.

peraturan

perundang-undangan

pada

tahun

11. Paling lambat 3 (tiga) hari setelah realisasi Penyertaan Modal Daerah dilakukan dan/atau setelah modal disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham, maka Bank Jatim wajib menerbitkan Setifikat Kepemilikan Saham Pemerintah Kabupaten Gresik. 12. Bagi hasil keuntungan dari Penyertaan Modal Daerah menjadi hak Daerah yang diperoleh selama tahun buku anggaran Bank Jatim. 13. Bagi hasil keuntungan disetor ke Kas Daerah dan dialokasikan dalam APBD sebagai Pendapatan Daerah. 14. Atas dasar kepemilikan modal Pemerintah Daerah kepada Bank Jatim, Bupati membentuk Tim yang berfungsi untuk melakukan kegiatan pembinaan, monitoring, dan/atau pengawasan yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati. 15. Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai aturan pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. 16. Bagian keuntungan disetorkan ke Kas Daerah yang merupakan komponen Pendapatan Asli Daerah. 17. Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan dan agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Gresik.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Bahwa sampai dengan saat ini Pemerintah kabupaten Gresik belum pernah mengatur keberadaan Penyertaan Modal yang telah dilakukan kepada Bank Jawa Timur dengan Peraturan daerah. Oleh Karana itu Peraturan daerah ini diharapkan menjadi dasar bagi penyertaan modal yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik Kepada Bank Jawa Timur. Bahwa dengan Peraturan daerah ini ditetapkan penyertaan modal kepada Bank Jatim dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Gresik sebesar Rp. 15.000.000.000,00 (Lima Belas Milyar Rupiah) yang akan disertakan secara bertahap. Dengan akan disertakannya modal pada Bank Jatim Tahun 2011 yang ditetapkan sejumlah Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta Rupiah), berasal dari Penerimaan Pembiayaan Dana bergulir dan dianggarkan dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 pada pos anggaran pengeluaran pembiayaan, maka perlu payung hukum pelaksanaan proses ini. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka penetapan penambahan penyertaan modal daerah perlu ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gresik tentang Penyertaan Modal pada pada Bank Jatim. B. Saran Bahwa berdasarkan uraian pada Naskah Akademik ini perlu disusun materi penormaan yang lengkap terhadap pelaksanaan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kepada Bank Jatim agar tujuan menjadikan Peraturan Daerah ini sebagai landasan hukum dalam pelaksanaan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kepada Bank Jatim dapat tercapai. Bahwa dengan disusunnya Naskah akademik ini, maka Rancangan Peratruan Daerah ini menjadi prioritas penyusunan Rancangan Peraturan Daerah dalam Program Legislasi Daerah Kabupaten Gresik Tahun 2011.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1969 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 5. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah keduakalinya dengan Undangundang Nomor 12 Tahun 2008 6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 8. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah 9. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Perubahan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah keduakalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 11. Sejarah Bank Jatim, http://www.bankjatim.co.id

NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN GRESIK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hakekat dari Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah adalah untuk membentuk wadah untuk melaksanakan tugas dan fungsi pemerintahan sesuai dengan urusan dalam kewenangan dan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena fungsi pemerintahan sebagai regulator dalam sistem kenegaraan, maka lembaga perangkat daerah dapat dibentuk untuk melaksanakan tugas-tugas yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut perlu dibentuk lembaga perangkat daerah yang secara spesifik melaksanakan tugas sesuai dengan kewenangannya. Bahwa berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Susunan organisasi perangkat daerah ditetapkan dalam Peraturan daerah. Berdasarkan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan yang menyebutkan bahwa Instansi Pelaksana Administrasi Kependudukan adalah perangkat pemerintah kabupaten/kota yang bertanggung jawab dan berwenang melaksanakan pelayanan dalam urusan Administrasi Kependudukan. Sedangkan Dalam menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan di kabupaten/kota, dibentuk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai Instansi Pelaksana yang diatur dalam Peraturan Daerah. Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial menyebutkan Negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas

kebutuhan dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari negara. Akibatnya, masih ada warga negara yang mengalami hambatan pelaksanaan fungsi sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan bermartabat. Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial merupakan upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial. Dengan terbentuknya Dinas Sosial di Kabupaten Gresik sebagai penyangga Kota Metropolis (Surabaya) permasalahan sosial yang timbul akibat dari perkembangan Kabupaten Gresik dapat diselesaikan. Pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan yang berkelanjutan merupakan suatu keharusan untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, dan bahan baku industri, memperluas lapangan kerja dan lapangan usaha, meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya petani, pekebun, peternak, nelayan, pembudi daya ikan, pengolah ikan, dan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan khususnya di perdesaan, menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan pendapatan nasional Untuk lebih meningkatkan peran sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas, andal, serta berkemampuan manajerial, kewirausahaan, dan organisasi bisnis sehingga pelaku pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan mampu membangun usaha dari hulu sampai dengan hilir yang berdaya saing tinggi dan mampu berperan serta dalam melestarikan lingkungan hidup sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan Salah satu upaya untuk menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas dilakukan melalui penyuluhan pertanian. Oleh karena itu penyuluhan pertanian merupakan suatu hal yang strategis dalam mencapai tujuan pembangunan pertanian karena penyuluhan pertanian merupakan upaya pemberdayaan petani dan pelaku usaha pertanian lain sebagai sumberdaya pelaku pembangunan pertanian. Pemerintah telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Dalam Undang-Undang tersebut diamanatkan kepada Kabupaten/Kota untuk membentuk Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Badan ini menjadi wadah

tunggal bagi Penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan di Kabupaten. Pembentukan Badan yang memfokuskan diri kepada tugas dan fungsi penyuluhan terutama dibidang pertanian, perikanan dan kehutanan sangat dibutuhkan sebagai manifestasi dari kehendak yang utuh dan terstruktur secara jelas untuk melaksanakan fungsifungsi pemerintahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan. Organisasi ini juga dibentuk berdasarkan pertimbangan efektivitas, efisiensi, dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan antara pusat daerah. Dengan berfungsinya organisasi perangkat daerah dalam bentuk Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan tersebut akan dapat menimbulkan berbagai kemudahan dalam sebuah tatanan baik dalam bentuk pelayanan, pengaturan atau regulasi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat menciptakan ketertiban umum untuk mencapai tujuan bersama. Bahwa dalam rangka melaksanakan amanat peraturan perundang-undangan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta menjaga pola hubungan antar lembaga, serta berdasarkan pemikiran tersebut diatas, maka perlu melakukan perubahan terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada Latar Belakang maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah diperlukan perubahan terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik ? 2. Apakah perubahan terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik perlu dibentuk dengan Peraturan Daerah? 3. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan pembentukan Peraturan Daerah tentang perubahan terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik? 4. Apakah sasaran utama perubahan terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik?

C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik adalah sebagai berikut: 1. Merumuskan perlu atau tidaknya mengubah Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik. 2. Merumuskan dasar hukum pembetukan peraturan tentang perubahan terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik. 3. Merumuskan dasar pertimbangan pembentukan perubahan terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik. 4. merumuskan sasaran utama perubahan terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik. 5. Sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah. D. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik ini adalah metode yuridis normatif dilakukan melalui studi pustaka yang menelaah data sekunder, baik yang berupa perundangundangan, hasil pengkajian dan referensi lainnya.

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS A. Kajian Teoritis . Lembaga adalah suatu sistem norma yang dipakai untuk mencapai tujuan atau aktivitas yang dirasakan penting, atau kumpulan kebiasaan dan tata kelakuan yang terorganisir yang terpusat dalam kegiatan utama manusia). Jadi, lembaga itu berupa norma-norma yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Dan norma-norma itu berupa kebiasaan (folkways) dan tata kelakuan (mores). Lembaga adalah proses yang terstruktur, yang dipakai orang untuk menyelenggarakan kegiatannya. Jadi, lembaga pemerintahan daerah adalah sistem aturan atau proses yang terstruktur, yang digunakan untuk menyelenggarakan pemerintahan daerah. Sistem aturan ini lalu dikonkritkan menjadi organisasi. Jadi, organisasi adalah wujud konkrit dari lembaga yang bersifat abstrak. Melalui wujud organisasi inilah, lembaga pemerintahan daerah menjalankan kegiatannya untuk mencapai tujuan. Sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi maka lembaga pemerintahan daerah terdiri atas kepala daerah dan DPRD. Masingmasing lembaga menjalankan peranannya sesuai dengan kedudukan, tugas, pokok dan fungsinya dalam sistem administrasi negara Indonesia. Dilihat dari administrasi publik, kedua lembaga tersebut merupakan kesatuan yang integral yang memberikan pelayanan publik sesuai dengan bidang tugasnya dalam rangka mencapai tujuan pemerintah daerah. B. Praktek Empiris Kebutuhan empiris ini merupakan suatu konsekuensi dari dinamisasi perkembangan yang terjadi di masyarakat seiring dengan berbagai tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat. Kebutuhan yang dewasa ini menjadi bagian dari pola kehidupan masyarakat antara lain kebutuhan terhadap penyediaan pelayanan publik yang lebih baik, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, kebutuhan terhadap informasi dan komunikasi, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang semakin berkembang dari hari ke hari. Dengan munculnya berbagai kebutuhan baru dan berkembangnya kebutuhan yang telah ada, pemerintah perlu memfasilitasi dan mengatur penyediaan kebutuhan tersebut yang

mana untuk menanganinya dibutuhkan suatu kelembagaan pemerintah. Penataan kelembagaan sesungguhnya merupakan proses yang tiada mengenal akhir karena penataan seiring dengan perubahan yang terjadi, baik lingkungan makro maupun mikro. Penataan kelembagaan merupakan salah satu langkah dalam menata sistem pemerintahan Dinamisasi perubahan lingkungan, baik pada skala makro maupun mikro, menuntut suatu organisasi untuk juga melakukan perubahan apabila organisasi tersebut ingin mempertahankan eksistensinya. Di sini, organisasai harus mampu menguasai cara-cara baru yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi, yaitu melakukan penyesuaian pola organisasi yang cenderung kaku menjadi lebih fleksibel. Dalam lingkup organisasi Pemerintahan Daerah, keluarnya PP No. 41 Tahun 2007 menuntut penyesuaian atau perubahan pada pola penataan kelembagaannya. Pada dasarnya, penataan kelembagaan merupakan suatu proses yang tidak berkesudahanan, dalam artian bahwa penataan kelembagaan dilakukan seiring dengan perubahan yang terjadi, baik di lingkungan makro maupun mikro. Penataan Kelembagaan sendiri merupakan salah satu langkah untuk menata suatu sistem yaitu sistem Pemerintahan Daerah. Oleh karenanya, agar sistem tersebut berjalan dengan harmonis dalam mencapai visi dan misi yang diembannya, penataan kelembagaan harus diimbangi dengan penataan pada elemen-elemen lain dari sistem tersebut, seperti penataan SDM, Penataan Keuangan, Penataan Kebutuhan Sarana dan Prasarana serta Penataan mekanisme hubungan kerja antara unit-unit organisasi. Di samping berkembangnya berbagai kebutuhan tersebut yang selanjutnya berimplikasi terhadap kebutuhan kelembagaan perangkat daerah, dalam kenyataan empiris juga muncul permasalahanpermasalahan yang membutuhkan penanganan segera. Oleh karenanya, perlu adanya pola organisasi yang memberikan kemungkinan untuk melakukan penanganan secara cepat dan tepat

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT

Untuk melihat bagaimana perubahan organisasi perangkat daerah dalam berbagai Undang-undang tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH Pasal 120 (1) Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah, sekretariat DPRD, dinas daerah, dan lembaga teknis daerah. (2) Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri atas sekretariat daerah, sekretariat DPRD, dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan, dan kelurahan. Pasal 128 (1) Susunan organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam Peraturan daerah dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (PP 41/2007) (2) Pengendalian organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk provinsi dan oleh Gubernur untuk kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (3) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Untuk melihat bagaimana Administrasi Kependudukan serta urusan Sosial diatur dalam berbagai Undang-undang tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: Amanat Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan Ketentuan Umum :

Instansi Pelaksana adalah perangkat pemerintah kabupaten/kota yang bertanggung jawab dan berwenang melaksanakan pelayanan dalam urusan Administrasi Kependudukan Pasal 27 (1) Dalam menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan di kabupaten/kota, dibentuk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai Instansi Pelaksana yang diatur dalam Peraturan Daerah. (2) Dalam menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dibentuk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Provinsi dan Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di kotamadya/kabupaten administrasi sebagai Instansi Pelaksana yang diatur dalam Peraturan Daerah. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial : Negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari negara. Akibatnya, masih ada warga negara yang mengalami hambatan pelaksanaan fungsi sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan bermartabat. Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi : rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan social Untuk melihat bagaimana penyuluhan diatur dalam berbagai Undang-undang tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN Pasal 8 (1)Kelembagaan penyuluhan terdiri atas:

a. kelembagaan penyuluhan pemerintah; b. kelembagaan penyuluhan swasta; dan c. kelembagaan penyuluhan swadaya. (2)Kelembagaan penyuluhan pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a: a. pada tingkat pusat berbentuk badan yang menangani penyuluhan; b. pada tingkat provinsi berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan; c. pada tingkat kabupaten/kota berbentuk badan pelaksana penyuluhan; dan d. pada tingkat kecamatan berbentuk Balai Penyuluhan. (3)Kelembagaan penyuluhan swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat dibentuk oleh pelaku usaha dengan memperhatikan kepentingan pelaku utama serta pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan setempat. (2)Kelembagaan penyuluhan swadaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat dibentuk atas dasar kesepakatan antara pelaku utama dan pelaku usaha. (3)Kelembagaan penyuluhan pada tingkat desa/kelurahan berbentuk pos penyuluhan desa/kelurahan yang bersifat nonstruktural. Pasal 13 (1)Badan pelaksana penyuluhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf c bertugas: a. menyusun kebijakan dan programa penyuluhan kabupaten/kota yang sejalan dengan kebijakan dan programa penyuluhan provinsi dan nasional; b. melaksanakan penyuluhan dan mengembangkan mekanisme, tata kerja, dan metode penyuluhan; c. melaksanakan pengumpulan, pengolahan, pengemasan, dan penyebaran materi penyuluhan bagi pelaku utama dan pelaku usaha; d. melaksanakan pembinaan pengembangan kerja sama, kemitraan, pengelolaan kelembagaan, ketenagaan, sarana dan prasarana, serta pembiayaan penyuluhan; e. menumbuhkembangkan dan memfasilitasi kelembagaan dan forum kegiatan bagi pelaku utama dan pelaku usaha; dan f. melaksanakan peningkatan kapasitas penyuluh PNS, swadaya, dan swasta melalui proses pembelajaran secara berkelanjutan.

(2)Badan pelaksana penyuluhan pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh pejabat setingkat eselon II dan bertanggung jawab kepada bupati/walikota, yang pembentukannya diatur lebih lanjut dengan peraturan bupati/walikota. Pasal 18 Ketentuan lebih lanjut mengenai kelembagaan penyuluhan pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) diatur dengan peraturan presiden. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH Pasal 120 (1) Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah, sekretariat DPRD, dinas daerah, dan lembaga teknis daerah. (2) Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri atas sekretariat daerah, sekretariat DPRD, dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan, dan kelurahan. Pasal 128 (1) Susunan organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam Peraturan daerah dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Pengendalian organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk provinsi dan oleh Gubernur untuk kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (3) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, kepala daerah perlu dibantu oleh perangkat daerah yang dapat menyelenggarakan seluruh urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh pemerintahan daerah, berdasarkan Pasal 128 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Susunan dan Pengendalian Organisasi Perangkat Daerah dilakukan dengan berpedoman pada peraturan pemerintah; PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH

Pasal 2 (1) Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah ditetapkan dengan peraturan daerah dengan berpedoman pada peraturan pemerintah ini. (2) Peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengatur mengenai susunan, kedudukan, tugas pokok organisasi perangkat daerah. (3) Rincian tugas, fungsi, dan tata kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan gubernur/bupati/walikota.

BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS 1. Filosofis Pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan yang berkelanjutan merupakan suatu keharusan untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, dan bahan baku industri, memperluas lapangan kerja dan lapangan usaha, meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya petani, pekebun, peternak, nelayan, pembudi daya ikan, pengolah ikan, dan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan khususnya di perdesaan, menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan pendapatan nasional. Pertanian sebagai sektor penting dalam perekonomian nasional memerlukan sumberdaya manusia yang berkualitas dan berdaya saing untuk dapat menghadapi berbagai tantangan global, pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Untuk membangun pertanian menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia perlu diselenggarakan penyuluhan pertanian yang efektif dan efisien. Salah satu upaya untuk menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas dilakukan melalui penyuluhan pertanian. Oleh karena itu penyuluhan pertanian merupakan suatu hal yang strategis dalam mencapai tujuan pembangunan pertanian karena penyuluhan pertanian merupakan upaya pemberdayaan petani dan pelaku usaha pertanian lain sebagai sumberdaya pelaku pembangunan pertanian. Untuk lebih meningkatkan peran sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas, andal, serta berkemampuan manajerial, kewirausahaan, dan organisasi bisnis sehingga pelaku pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan mampu membangun usaha dari hulu sampai dengan hilir yang berdaya saing tinggi dan mampu berperan serta dalam melestarikan hutan dan lingkungan hidup sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Bahwa untuk mewujudkan pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan, sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum merupakan hak asasi warga negara Republik Indonesia pemerintah berkewajiban menyelenggarakan penyuluhan di bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan. Pembangunan kesejahteraan sosial merupakan perwujudan dari upaya mencapai tujuan bangsa yang diamanatkan dalam

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sila kelima Pancasila menyatakan bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari negara. Akibatnya, masih ada warga negara yang mengalami hambatan pelaksanaan fungsi sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan bermartabat. Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan kewajiban negara untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Bagi fakir miskin dan anak terlantar seperti yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban negara dalam menjamin terpenuhinya hak atas kebutuhan dasar warga negara yang miskin dan tidak mampu 2. Sosiologis Pembentukan Badan yang memfokuskan diri kepada tugas dan fungsi penyuluhan terutama dibidang pertanian, perikanan dan kehutanan sangat dibutuhkan sebagai manifestasi dari kehendak yang utuh dan terstruktur secara jelas untuk melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan. Organisasi ini juga dibentuk berdasarkan pertimbangan efektivitas, efisiensi, dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan antara pusat daerah. Dengan berfungsinya organisasi perangkat daerah dalam bentuk Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan tersebut akan dapat menimbulkan berbagai kemudahan dalam sebuah tatanan baik dalam bentuk pelayanan, pengaturan atau regulasi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat menciptakan ketertiban umum untuk mencapai tujuan bersama. Badan pelaksana penyuluhan bertugas:

a. menyusun kebijakan dan program penyuluhan kabupaten/kota yang sejalan dengan kebijakan dan program penyuluhan provinsi dan nasional; b. melaksanakan penyuluhan dan mengembangkan mekanisme, tata kerja, dan metode penyuluhan; c. melaksanakan pengumpulan, pengolahan, pengemasan, dan penyebaran materi penyuluhan bagi pelaku utama dan pelaku usaha; d. melaksanakan pembinaan pengembangan kerja sama, kemitraan, pengelolaan kelembagaan, ketenagaan, sarana dan prasarana, serta pembiayaan penyuluhan; e. menumbuhkembangkan dan memfasilitasi kelembagaan dan forum kegiatan bagi pelaku utama dan pelaku usaha; dan f. melaksanakan peningkatan kapasitas penyuluh PNS, swadaya, dan swasta melalui proses pembelajaran secara berkelanjutan. Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial menyebutkan Negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari negara. Akibatnya, masih ada warga negara yang mengalami hambatan pelaksanaan fungsi sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan bermartabat. Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial merupakan upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial. Dengan terbentuknya Dinas Sosial di Kabupaten Gresik sebagai penyangga Kota Metropolis (Surabaya) permasalahan sosial yang timbul akibat dari perkembangan Kabupaten Gresik dapat diselesaikan. 3. Yuridis Pemerintah telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Dalam Undang-Undang tersebut diamanatkan kepada Kabupaten/Kota untuk membentuk Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Badan ini menjadi wadah tunggal bagi Penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan di Kabupaten.

Dari beberapa peraturan perundang-undangan terkait di atas, terdapat uraian mengenai pembentukan Badan sebagai organisasi perangkat daerah yang dalam pelaksanaannya menimbulkan persepsi yang berbeda-beda sehingga dimungkinkan adanya ketidaksatuan langkah dalam pembentukannya. Dalam hukum terdapat suatu asas penting, yang dikenal dengan lex specialis derogat legi generali. Secara sederhana hal ini berarti aturan yang bersifat khusus (specialis) mengesampingkan aturan yang bersifat umum (generali). Dengan asas ini maka aturan yang bersifat umum itu tidak lagi sebagai hukum ketika telah ada aturan yang bersifat khusus. Dengan kata lain, aturan yang khusus itulah sebagai hukum yang valid, dan mempunyai kekuatan mengikat untuk diterapkan terhadap peristiwa-peristiwa konkrit. Penerapan asas ini menyebabkan suatu aturan hukum termasuk ketika hal itu terdapat dalam ketentuan peraturan perundang-undangan, menjadi tidak mempunyai kekuatan mengikat. Disini berlaku juga asas yang menyatakan bahwa hukum yang lebih tinggi mengalahkan hukum yang ada dibawahnya (Lex superior derogat lex inferior). Maksudnya disini bahwa hukum yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi mengalahkan aturan hukum yang dibuat oleh penguasa yang posisinya lebih rendah atau dengan kata lain hukum yang lebih rendah tingkatannya tidak boleh bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi. Dalam hal ini perlu diketahui tata urutan peraturan perundang-undangan Indonesia yaitu : a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; d. Peraturan Pemerintah; e. Peraturan Presiden; f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. (Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan) Pada permasalahan ini harus dilihat bahwa pembentukan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah adalah menjalankan amanat Pasal 128 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sehingga pada dasarnya ketentuan yang diatur dalam PP Nomor 41 Tahun 2007 tidak bisa dianggap lebih rendah dari pada UU Nomor 16 Tahun 2006.

Dengan adanya asas lex specialis derogat legi generali, oleh karena esensi dari pengaturan tentang Pembentukan Organisasi Dan Tata Kerja Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan adalah ditetapkannya suatu norma yang mengatur tentang pembentukan suatu organisasi perangkat daerah baru, maka pembentukan Peraturan tersebut harus mengikuti kaidah-kaidah yang ada pada peraturan tentang pembentukan organisasi perangkat daerah yang lebih khusus, yang dalam hal ini adalah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Dan dengan adanya asas Lex superior derogat lex inferior maka apabila dalam peraturan yang akan dibentuk tersebut juga berisi kaidahkaidah lain selain pembentukan organisasi perangkat daerah, sebagai contoh tentang mekanisme dan hubungan kerja, sistem perencanaan, penyelenggaraan, monitoring dan evaluasi penyuluhan, maka diatur dengan mendasarkan pada ketentuan yang lebih tinggi yaitu UndangUndang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan dan peraturan pelaksana lainnya yang diamanatkan oleh undang-undang ini.

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI PERATURAN DAERAH Pembentukan Badan yang memfokuskan diri kepada tugas dan fungsi penyuluhan terutama dibidang pertanian, perikanan dan kehutanan sangat dibutuhkan sebagai manifestasi dari kehendak yang utuh dan terstruktur secara jelas untuk melaksanakan fungsifungsi pemerintahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan Organisasi ini harus dibentuk berdasarkan pertimbangan efektivitas, efisiensi, dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan antara pusat daerah sehingga pembentukan tersebut tidak semata-mata hanya ada karena ego sektoral sepihak, saat pemerintah memandang konsep sentralisasi program penyelenggaraan pemerintahan sangat efektif dan efisien dalam menunjang berbagai kebijakan dan meluaskan program. Bahwa esensi dari pengaturan tentang Pembentukan Organisasi Dan Tata Kerja Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan adalah ditetapkannya suatu norma yang mengatur tentang pembentukan suatu organisasi perangkat daerah baru, maka pembentukan Peraturan tersebut harus mengikuti kaidah-kaidah yang ada pada peraturan tentang pembentukan organisasi perangkat daerah yang lebih khusus, yang dalam hal ini adalah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah A. Rumusan akademik mengenai pengertian istilah, dan frasa : 1. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri atas sekretariat daerah, sekretariat DPRD, dinas daerah dan lembaga teknis daerah, kecamatan dan kelurahan. 3. Jabatan Struktural adalah suatu kedudukan yang menunjukan tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam rangka memimpin suatu satuan organisasi perangkat daerah. 4. Jabatan Fungsional adalah kedudukan yang menunjukan tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan/atau ketrampilan tertentu serta bersifat mandiri.

B. Materi yang akan diatur dalam Peraturan daerah ini adalah penormaan tentang : 1. Jumlah dinas ditambah 1 (satu) yaitu Dinas Sosial dan 1 (satu) badan yaitu Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan 2. Ketentuan perubahan Nomonklatur, dari nama Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil dan Sosial menjadi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil 3. Penormaan terhadap Tugas dan Fungsi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil 4. Pengaturan tentang perubahan susunan Organisasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, menjadi: 1. Kepala dinas. 2. Sekretariat, terdiri dari: a) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian; b) Sub Bagian Program dan Pelaporan; c) Sub Bagian Keuangan 3. Bidang Kependudukan, terdiri dari: a) Seksi Pendaftaran dan Penerbitan Dokumen Penduduk; b) Seksi Mutasi Penduduk; c) Seksi Mobilitas Penduduk. 4. Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil, terdiri dari: a) Seksi Kelahiran dan Kematian; b) Seksi Perkawinan, Perceraian dan Pengesahan Anak; c) Seksi Pengolahan dan Pemeliharaan Data. 5. Bidang Informasi Administrasi Kependudukan, terdiri dari: a) Seksi Pengumpulan dan Dokumentasi Data Penduduk; b) Seksi Pengendalian Sistem Informasi Kependudukan; c) Seksi Statistik dan Pengolahan Data Kependudukan. 6. Kelompok jabatan fungsional. 7. Unit Pelaksana Teknis Dinas. 5. Ketentuan perubahan salah satu tugas dan fungsi Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan dengan menghilangkan tugas penyuluhan pertanian 6. Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah Baru yaitu Dinas Sosial dengan penjelasan tugas dan fungsinya yaitu : a. melaksanakan urusan pemerintahan di bidang pembinaan sosial, rehabilitasi dan pelayanan sosial serta perlindungan sosial dan jaminan sosial. b. menyelenggarakan fungsi: 1. Penyusunan perencanaan dan kebijakan teknis dalam pelaksanaan urusan dibidang sosial.

2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang sosial; 3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas lingkup bidang sosial; 4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya 7. Penormaan Susunan Organisasi Dinas Sosial, terdiri dari: 1. Kepala dinas. 2. Sekretariat, terdiri dari: a). Sub Bagian Umum dan Kepegawaian; b). Sub Bagian Program dan Pelaporan; c). Sub Bagian Keuangan 3. Bidang Rehabilitasi Sosial, terdiri dari: a) Seksi Pemulihan; b) Seksi Pengembangan; 4. Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, terdiri dari: a) Seksi Perlindungan Sosial; b) Seksi Jaminan Sosial; 5. Bidang Pemberdayaan Sosial, terdiri dari: a) Seksi Pemberdayaan Kelembagaan Sosial; b) Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Individu; 6. Kelompok Jabatan Fungsional. 7. Unit Pelaksana Teknis Dinas. 8. Pembentukan Organisasi Perangkat daeh baru yaitu Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dengan tugas dan fungsinya : (1) membantu Bupati dalam melaksanakan penyuluhan di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan; (2) menyelenggarakan fungsi: a. Perumusan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang penyuluhan pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan; b. Penyelenggaraan kebijakan teknis dibidang penyuluhan pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan; c. Pembinaan dan pelaksanaan kebijakan dan strategi penyuluhan pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan; d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

9. Penormaan Susunan Organisasi Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Gresik, terdiri dari: 1. Kepala Badan; 2. Sekretariat, terdiri dari : a) Sub Bagian Perencanaan dan Pelaporan. b) Sub Bagian Keuangan. c) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian. 3. Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan; 4. Jabatan Fungsional Penyuluh Peternakan; 5. Jabatan Fungsional Penyuluh Perikanan; 6. Kelompok Jabatan Fungsional. 7. Unit Pelaksana Teknis Badan.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Penataan organisasi perangkat daerah merupakah hal yang biasa dalam suatu siklus organisasi, termasuk dalam organisasi pemerintah daerah. Penataan organisasi perangkat daerah merupakan bagian dari proses perubahan organisasi dalam upaya mengantisipasi berbagai kecenderungan yang berkembang. Melalui penataan organisasi tersebut, diharapkan kinerja pemerintah daerah menjadi lebih efektif dan efisien. Pada praktiknya, penataan organisasi perangkat daerah seringkali direduksi maknanya sebatas rasionalisasi struktur maupun pegawai. Akibatnya, terjadi tarikmenarik kepentingan yang bersifat politis dalam penataan organisasi perangkat daerah. Padahal, penataan organisasi tidak selalu harus berupa rasionalisasi karena bisa juga berupa penggabungan (merger) dari beberapa organisasi dengan fungsi sejenis/serumpun, bahkan pembentukan organisasi baru yang memang diperlukan untuk mendukung visi dan misi organisasi. Karena itu, paradigma baru yang seyogianya diterapkan dalam penataan organisasi perangkat daerah adalah mencari struktur dan fungsi yang proporsional (bukan sekedar miskin struktur, kaya fungsi) serta mendesain organisasi perangkat daerah secara benar bukan sekedar downsizing. Demikian pula dari sisi waktu, masa hidup suatu organisasi sangat beragam, ada yang dipertahankan untuk jangka waktu lama tetapi ada pula yang dibentuk untuk jangka waktu pendek untuk menangani masalah yang bersifat mendesak (crash program) atau ditujukan untuk mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk mendukung suatu program. Dengan kata lain, kontinuitas suatu organisasi ditentukan oleh peran yang akan dilakukan oleh organisasi itu. Untuk mengantisipasi berbagai perkembangan di masa mendatang yang akan berlangsung dengan cepat, diperlukan regulasi yang luwes dalam penataan organisasi perangkat daerah. Karena itu, disarankan agar pengaturan organisasi perangkat daerah diatur dalam bentuk Peraturan Daerah. B. Saran Dengan demikian, penyusunan desain kelembagaan OPD juga harus mempertimbangkan faktor-faktor lain agar desain yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan daerah dan dapat mengantisipasi berbagai kecenderungan perkembangan di masa

mendatang. Sejumlah dasar pemikiran yang perlu diperhatikan dalam penyusunan desain kelembagaan OPD, antara lain: 1. Kaidah perumpunan urusan. 2. Harmonisasi dengan peraturan perundang-undangan sektoral, 3. Akomodasi kepentingan nasional 4. Pertimbangan proporsionalitas beban kerja antar OPD. 5. Optimalisasi fungsi dinas dan lembaga teknis sebagai ujung tombak dalam pembangunan dan pelayanan. Prinsip-prinsip tersebut perlu menjadi dasar pertimbangan ketika menyusun desain organisasi perangkat daerah agar struktur yang dihasilkan tidak hanya efisien, tapi juga efektif. Sekalipun penataan organisasi perangkat daerah tidak dapat dilepaskan dari sejumlah pertimbangan politis, namun, orientasi terhadap pencapaian visi dan misi daerah dan peran pemerintah daerah perlu tetap menjadi faktor utama dalam menentukan desain yang akan diterapkan agar kesinambungan tata pemerintahan daerah dapat terus dipertahankan, bahkan dapat mengantisipasi berbagai perkembangan di masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA 1. Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4660) ; 2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1974 tentang Perubahan Nama Kabupaten Surabaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3038); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah; 8. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gresik (Lembaran Daerah Kabupaten Gresik Tahun 2008 Nomor 2);

NASKAH AKADEMIK TENTANG PERUSAHAAN DAERAH PASAR GRESIK

I. LATAR BELAKANG Pasar sebagai pusat bertemunya penjual dan pembeli baik barang maupun jasa menjadikan pasar sebagai potensi daerah yang memerlukan pengelolaan secara tepat, cepat dan profesional. Sebagai obyek potensial yang secara kultural terjadi secara alamiah dan menjadi bagian dari budaya setempat maka keberadaan pasar tradisional perlu dijaga kelestariannya. Untuk menghadapi tantangan kedepan keberadaan pasar harus mampu mengikuti perubahan dan tuntutan masyarakat untuk memenuhi hajat hidupnya khususnya dalam peningkatan sektor ekonomi. Sebagai salah satu bagian dari sarana pemenuhan kebutuhan konsumtif masyarakat, maka pasar juga dapat berfungsi sebagai media untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat agar perekonomian masyarakat menjadi tangguh. Agar pasar dapat menjalankan perannya dengan baik pengelolaan pasar harus mengutamakan azas manfaat yang berkeadilan dengan berorientasi pada aspek ekonomis dan dapat menguntungkan semua pihak. Pemerintah sebagai pemegang otoritas atas pengelolaan pasar daerah berkewajiban untuk mengatur dan mengelola potensi pasar melalui pola menejemen yang inovatif, kreatif dan produktif. Untuk memenuhi kepentingan tersebut maka pengelolaan pasar diatur dalam produk hukum daerah yang mampu menjangkau kepentingan pelaku pasar dalam memperoleh rasa aman, nyaman dan menjamin aktifitas usahanya. Pembentukan Perusahaan Daerah Pasar Gresik merupakan kebijakan strategis yang akan menciptakan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha ekonomi dan dapat menopang pemerintah daerah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah untuk pembiayaan pembangunan daerah. Pengelolaan pasar telah melewati masa-masa yang berliku seiring dengan adanya perubahan peraturan kelembagaan perangkat daerah yang ada. Perkembangan terakhir terjadi pada saat penataan Organisasi Perangkat Daerah. sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organiasi Perangkat Daerah yang selanjutnya ditindak lanjuti dengan Peraturan Bupati Gresik

Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Daerah di Kabupaten khususnya Pasal 41 dan Pasal 42 pengelolaan pasar merupakan tugas yang melekat pada Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik. Saat ini di Kabupaten Gresik terdapat 7 pasar yang secara operasional pengelolaanya dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar, Yaitu: UPTD Pasar Kota, UPTD Pasar Baru , UPTD Pasar Wilayah Gresik Selatan, UPTD Pasar Wilayah Gresik Utara. Pengelolaan pasar bila dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Daerah akan rentan terhadap perubahan sehingga tidak banyak berpihak pada pelaku pasar dan kurang produktif kontribusinya terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Hal ini menyebabkan beberapa pasar masih perlu disubsidi karena belum mampu menghidupi sendiri usahannya. Subsidi yang diberikan terus menerus memberikan gambaran bahwa pengelolaan yang dilakukan saat ini kurang optimal dan menyebabkan pasar tidak mandiri. Pada hakekatnya Pembentukan Perusahaan Daerah Pasar Gresik merupakan kehendak untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha ekonomi dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah.

II. MAKSUD DAN TUJUAN 1.2.1 Maksud Pembentukan Peraturan Daerah yang mengatur tentang Perusahaan Daerah Pasar Gresik dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dalam pengelolaan pasar sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang-undangan. Selanjutnya dalam pengelolaan pasar dapat memenuhi azas manfaat yang berkeadilan dan memberikan kontribusi yang positif terhadap pembangunan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah. 1.2.2 Tujuan Umum a. Untuk memberikan payung hukum dalam pengelolaan Pasar Daerah, dengan berorientasi pada pelayanan dan keuntungan. b. Untuk memberikan peluang dalam pengelolaan pasar secara profesional dalam menghadapi perubahan dan tuntutan masyarakat yang semakin maju. c. Untuk menjaga kelestarian pasar tradisional menjadi bagian integral kultur masyarakat Gresik.

1.2.3

Manfaat a. Untuk memberikan payung hukum dalam pengelolaan Pasar Daerah, dengan berorientasi pada pelayanan dan keuntungan. d. Untuk memberikan peluang dalam pengelolaan pasar secara profesional dalam menghadapi perubahan dan tuntutan masyarakat yang semakin maju. e. Untuk menjaga kelestarian pasar tradisional menjadi bagian integral kultur masyarakat Gresik.

III.

TINJAUAN FILOSOFIS Pada hakekatnya Pembentukan Perusahaan Daerah Pasar Gresik merupakan kehendak untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam usaha pengembangan perekonomian dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah sebagai modal Pembangunan. Bahwa pasar tradisional sebagai salah satu pilah kekuatan ekonomi masyarakat wajib di jaga keletarian baik secara fungsi maupun manfaat yang ditimbulkan. Ciri khas pasar yang terbuka untuk aktifitas ekonomi menjadikan pasar sebagai tempat strategis untuk memenuhi kebutuhan konsumtif sehari-hari. Menyadari bahwa sebagian besar masyarakat membutuhkan keberadaan pasar maka aktifitas pasar menjadi tinggi dan sarat akan permasalahan sebagai akibat dari gesekan kepentingan. Disisi lain pasar juga sebagai potensi ekonomi dan sumber pendapatan pemerintah bila dikelola secara profesional. Oleh karena itu pemerintah sebagai pemegang otoritas berkewajiban untuk mengatur dan mengelolan potensi pasar melalui pola menejemen yang tepat, proaktif dan produktif demi kepentingan bersama. Untuk memenuhi kepentingan tersebut maka pengelolaan terhadap pasar dengan potensi yang dimiliki, diperlukan adanya pengaturan yang mampu menjangkau setiap kepentingan pelaku pasar sehingga masyarakat memperoleh kepastian rasa aman dalam beraktifitas. Pembentukan Perusahaan Daerah Pasar Gresik merupakan kebijakan strategis yang akan menciptakan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha ekonomi dan dapat menopang usaha pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah sebagi kontribusi masyarakat dalam memanfaatkan potensi pasar.

Dengan dibentuknya Perusahaan Daerah Pasar Gresik, peran pemerintah untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat dalam menumbuh kembangan usaha ekonomi masyarakat dapat terwujud dan pengelolaan pasar Gresik lebih profesional. IV. KAJIAN HUKUM Bahwa Perusahaan Daerah Pasar Gresik dibentuk sebagai amanat undang-undang yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan potensi yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Gresik. Perusahaan Daerah Pasar Gresik dibentuk berdasarkan ketentuan peraturan perudangan yang meliputi : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 9); 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah jo Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pernyataan tidak berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1962 Nomor 10 Tambahan Lembaran Negara Nomor 238 jo Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2901); 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890); 4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 5. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang

Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 7. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4744); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1974 tentang Perubahan Nama Kabupaten Surabaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3038); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 12. Peraturan Presiden Nomor 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern; 13. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perdagangan dan Koperaso Nomor 56 Tahun 1971, Nomor 103/KP/V/1971 tanggal 17 Mei 1971 jo Nomor 92 Tahun 1979 dan Nomor 409/KPB/V/1979 tentang Ketentuan-ketentuan Kewenangan dalam Memberikan Izin Tempat Usaha Perdagangan; 14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1998 tentang Hukum Badan Usaha Milik Daerah; 15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 1999 tentang Kepengurusan Badan Usaha Milik Daerah; 16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 153 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Barang Daerah yang dipisahkan; 17. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern;

V.

TINJAUAN ASPEK OPERASIONAL 5.1. Kondisi Existing Pasar Gresik selama ini pengelolaannya telah mengalami berbagai perubahan, pada awalnya pengelolaan pasar merupakan bagian dari kewenangan Dinas Pendapatan Kabupaten Gresik. Dalam perkembangan berikutnya seiring dengan penataan Organisasi Perangkat Daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 84 tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2000 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah, pengelolaan pasar dikelola oleh Kantor Pengelolaan Pasar dan Pedagang Kaki Lima. Perkembangan berikutnya mengiringi diadakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang selanjutnya di ganti dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, pemerintah kabupaten Gresik melaksanakan penataan organisasisi dengan diterbitkannya Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organiasi Perangkat Daerah. Tindak lanjut dari peraturan daerah tersebut satu diantaranya disusun Peraturan Bupati Gresik Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Daerah di Kabupaten, pengelolaan pasar menjadi bagian dari unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan. Dalam Peraturan Bupati Gresik Nomor 61 tahun 2009 tentang Organiasi Perangkat Daerah pengelolaan pasar diatur secara khusus pada Pasal 41 dan Pasal 42. Pasar Gresik dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas yang terdiri dari : 1. Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pasar Kota di kecamatan gresik; 2. Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pasar baru di Kecamatan Gresik; 3. Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pasar wilayah Gresik Selatan di Kecamatan Kebomas, yang meliputi Pasar Sidomoro, Pasar Giri dan Pasar Driyorejo;

4. Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pasar wilayah Gresik Utara di Kecamatan Sidayu , yang meliputi Pasar Sidayu dan Pasar Dukun; Dengan semakin kompleksnya permasalahan dalam memenuhi tuntutan masyarakat, maka pengelolaan pasar membutuhkan penanganan secara khusus dan profesional agar pasar tradisional tetap lestari dan mampu menjawab tantangan dalam memenuhi tuntutan masyarakat. 5.2. Potensi Pasar Pasar yang ada di Kabupaten Gresik sangat potensial baik ditinjau dari sisi pengembangan ekonomi masyarakat maupun dari sisi peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Mengukur potensi pasar tidak akan terlepas dari luas suatu wilayah dan kondisi giografis serta pertumbuhan penduduk. Kabupaten Gresik bila ditinajudari dari sudut giografis terletak di antara 7 - 8 Lintang Selatan dan 112 - 113 Bujur Timur. Wilayahnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian 2 12 meter di atas permukaan laut. Hampir sepertiga bagian dari wilayah Kabupaten Gresik merupakan daerah pesisir pantai. Untuk luas wilayah Kabupaten Gresik, sekitar 1.191,25 km2 atau 119.125 ha, yang terdiri dari sebagai berikut : a. 2 Kecamatan seluas 196,20 km2 atau 19.620 ha, berada di Pulau Bawean; b. 16 Kecamatan seluas 995,05 km2 atau 99.505 ha, berada di dataran Pulau Jawa; Tingkat hunian penduduk di Kabupaten Gresik 864 per kilometer persegi artinya tingkat kepadatan penduduk dalam kategori yang cukup padat. Di Kabupaten Gresik terdapat 7 pasar milik pemerintah Kabupaten Gresik , yang selama ini pengelolaanya di lakukan oleh UPT yaitu UPT Pasar Baru, UPT Pasar Kota, UPT Pasar Gresik Selatan, UPT Pasar Gresik Utara. Kontribusi Pasar Gresik terhadap terhadap target yang ditentukan cukup bagus, namun demikian bila ditinjau dari potensi yang dimiliki dan peluang yang ada capaian target di banding dengan biaya operasional serta subsidi yang diberikan masih belum mencerminkan pengelolaan yang profesional. Dalam hal ini pengelolaan pasar masih belum mampu membiayai kebutuhan operasional dan perawatan pasar serta tuntutan terhadap kebutuhan masyarakat.

VI. TINJAUAN SOSIAL DAN EKONOMI 6.1. Aspek Sosial Dengan di bentuknya Perusahaan Daerah Pasar Gresik melalui Peraturan Daerah, maka diharapkan berpengaruh terhadap aspek sosial kemasyarakatan antara lain : 1. Masyarakat akan memperoleh kesempatan berusaha dalam meningkatkan ekonominya melalui pemanfaatan sarana dan prasarana pasar yang dikelola secara profesional; 2. Menimbulkan keyakinan bagi pelaku pasar terhadap kepastian hukum atas pemanfaatan sarana dan prasarana pasar, yang secara sosiologis menambah nilai tawar dalam mengembangkan akses di dunia usaha. 3. Menjamin kelangsungan pengelolaan pasar tradisional agar tetap mampu bersaing dalam tuntutan masyarakat dan pertumbuhan pasar modern. 6.2. Aspek Ekonomi Telah terbukti bahwa dengan perubahan dan krisis ekonomi yang terjadi baik ditingkat regional, nasional maupun global pelaku pasar tradisional masih tangguh dan tetap eksis dalam menopang ekonomi masyarakat . Sebagai pendukung aspek ekonomi dengan dilaksanakannya Peraturan daerah ini antara lain : 1. Terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan sarana dan prasarana usaha dalam meningkatkan ekonomi dengan memanfaatkan pasar yang dikelola secara profesional; 2. Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah sehingga dapat menunjang kelancaran pelaksanaan pembangunan di kabupaten Gresik; 3. Dengan pengelolaan pasar yang dilakukan secara profesional akan tercipta efisiensi sehingga beban pembiayaan yang dibebankan pada APBD akan berkurang; 4. Aset dan Modal yang dikelola Perusahaan Daerah merupakan kekayaan daerah yang disisihkan sehingga pertanggungjawaban atas pengelolaan pasar menjadi lebih transparan dan akuntabel.

VII PENUTUP

A. Kesimpulan Bahwa untuk lebih meningkatkan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Gresik, maka Pemerintah Kabupaten Gresik membentuk Badan Usaha Milik Daerah yang secara khusus menangani pengelolaan pasar dengan segala potensinya yang ada di Kabupaten Gresik. Bahwa seiring dengan adanya penataan Organisasi Perangkat Daerah sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka pengelolaan Pasar yang semula dilaksanakan oleh Kantor Pengelolaan Pasar dan Pedagang Kaki Lima sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2000 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah, yang selanjutnya diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organiasi Perangkat Daerah yang telah ditindak lanjuti dengan Peraturan Bupati Gresik Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Daerah di Kabupaten khususnya Pasal 41 dan Pasal 42 sudah tidak sesuai lagi untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam memperoleh pelayanan pengembangan perekonomian dan perubahan lingkungan strategis untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, diharapkan dapat lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan Perusahaan Daerah Pasar Gresik dapat dikelola secara lebih profesional, yang pada akhirnya dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah guna mendukung pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Gresik.