Anda di halaman 1dari 16

Makalah Ikhtiologi Sistem Integumen

Disusun Oleh

Yulia Estmirar T. Reno Dwi Putro Firdausi Nurfalah Nizha Nirera Tria Mawardiani Sofyan Yusuf

230110090009 230110120089 230110120100 230110120112 230110120134 230110120123

Hermilita Anggia P. 230110120145

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran 2013

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Ikhtiologi. Makalah ini berjudul Sistem Integumen Ikan. Yang dimaksud dengan sistem integumen adalah kulit dan derivat-derivatnya. Kami sadar dalam penulisan makalah ini masih banyak terjadi kesalahan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran akan makalah yang kami tulis ini. Semoga makalah ini sedikitnya memberi manfaat bagi pembaca.

Jatinangor, Maret 2013 Penulis

Daftar Isi
Cover ................................................................................................................... 1 Kata Pengantar .................................................................................................... 2 Daftar Isi.............................................................................................................. 3 BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 4 1.2 Pengertian Ikhtiologi ..................................................................................... 4 1.3 Sejarah Ikhtiologi .......................................................................................... 4 BAB II Isi 2.1 Sistem Integumen .......................................................................................... 6 2.2 Kulit............................................................................................................... 6 2.3 Lendir ............................................................................................................ 7 2.4 Sisik ............................................................................................................... 8 2.5 Pewarnaan.12 2.6 Organ Cahaya...13 2.7 Kelenjar Beracun. 14 BAB III Kesimpulan 3.1 Kesimpulan...15

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Ilmu mengenai perikanan di Indonesia relatif masih baru. Akhir-akhir ini ilmu tentang perikanan banyak dipelajari mengingat ikan merupakan salah satu sumberdaya yang penting. Sebelum kita membahas lebih lanjut pengertian ikhtiologi, sebaiknya perlu diketahui tentang Apakah Ikan itu?. Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis, memiliki ciri khas pada tulang belakang, insang dan siripnya serta tergantung pada air sebagai medium untuk kehidupannya. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin. Dari keseluruhan vertebrata, sekitar 50,000 jenis hewan, ikan merupakan kelompok terbanyak di antara vertebrata lain memiliki jenis atau spesies yang terbesar sekitar 25,988 jenis yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo. Jenis-jenis ikan ini sebagian besar tersebar di perairan laut yaitu sekitar 58% (13,630 jenis) dan 42% (9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan. Jumlah jenis ikan yang lebih besar di perairan laut, dapat dimengerti karena hampir 70% permukaan bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan perairan tawar. 1.2 Pengertian Ikhtiologi Setelah kita mendefinisikan pengertian tentang ikan, dapatlah dimengerti mengapa ilmu tentang perikanan perlu dipelajari. Selain ikan merupakan salah satu sumberdaya yang penting, nilai-nilai kepentingan yanglain dari ikan antara lain dapat memberikan manfaat untuk rekreasi, nilai ekonomi atau bernilai komersial, dan ilmu pengetahuan untuk masayarakat. Ikhtiologi atau Ichthyology merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari ikan secara ilmiah dengan penekanan pada taksonomi dan aspek-aspek lainnya. Kata ikhtiologi berasal dari pengertian ichtio = ikan dan logos = ilmu, jadi di dalam ikhtiologi ini dicakup beberapa aspek baik mengenai aspek biologi maupun ekologi ikan. Dalam mempelajari ihktiologi ini tidak terlepas dari ilmu-ilmu yang lain karena saling berkaitan. Beberapa cabang ilmu pengetahuan yang sangat terkait dengan ikhtiologi ini antara lain Taksonomi Vertebrata, Morfologi dan Anatomi Hewan, Fisiologi, Genetika, dan Evolusi. 1.3 Sejarah Ikhtiologi Ikhtiologi pada awal diperkenalkan oleh Aristoteles (384-322 SM). Aristoteles melakukan observasi untuk membedakan dan membuat ciri-ciri ikan hingga diperoleh sekitar 115 jenis. Dalam penelitian tersebut, pertama kali dikemukakan tentang beberapa hal mengenai ikan misal kelamin ikan hiu dapat ditentukan dari struktur sirip perut. Setelah periode Aristoteles tidak banyak penelitian mengenai ikan, baru pada abad ke 16 muncul nama-nama beberapa peneliti antara lain Pierre belon (1517-1564), H. Salviani (1514-1572) dan G. Rondelet (1507-1557). P. Belon telah mempublikasikan tentang ikan pada tahun 1551, dengan mengklasifikasikan 110 jenis berdasarkan ciri-ciri anatomi ikan. Pada tahun 1554 hingga 1557, Salviani berhasil mempublikasikan 92 spesies ikan. Pada tahun 1554 dan 1555 Rondelet pertama kali mempublikasikan hasil penelitiannya dalam sebuah buku Ikhtiologi. Selanjutnya pengetahuan tentang ikan berkembang cukup pesat, dengan diterbitkannya buku Natural History of the Fishes of Brazil pada tahun 1648. Peter Artedi (1705-1735) membuat suatu system klasifikasi ikan yang diberi judul Father of Ichthyology.
4

Akhirnya Carolus Linnaeus berhasil membuat Systema Naturae dengan mengadopsi system klasifikasi Artedi dan menjadi dasar dari keseluruhan system klasifikasi ikan. Pada pertengahan abad ke 20 Iktiologi semakin berkembang dengan menggabungkan beberapa bidang ilmu seperti Ekologi, Fisiologi dan Tingkah laku dalam perkembangan anatomi dan sistematika ikan. Akhirnya beberapa ahli ikhtiologi seperti C.T Regan, Leo S Berg (18761905) dan Carl L Hubbs (1894-1982) memberikan sumbangan yang besar dalam bidang sistematika ikan. Pada tahun 1940 Berg membuat klasifikasi ikan (Classification of Fish) yang menjadi standar dalam pengklasifikasian ikan hingga sekarang.

BAB II ISI

2.1 Sistem Integumen Sistem Integumen atau penutup tubuh ikan terdiri dari kulit yang sebenarnya dan derivat-derivatnya. Sistem integumen pada seluruh makhluk hidup merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar tempat makhluk hidup tersebut hidup atau berada. Gigi pada ikan hiu, scute, keel dan beberapa tulang tengkorak pada ikan merupakan modifikasi dari sisik. Sistem integumen pada ikan, memiliki beberapa fungsi, antara lain: pelindung terhadap gangguan mekanis, fisis, organis atau penyesuaian diri terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupannya, termasuk pelindung terhadap hewan lain yang merupakan musuhnya; kulit juga digunakan sebagai alat ekskresi dan osmoregulasi dan sebagai alat pernapasan pada beberapa jenis ikan tertentu. 2.2 Kulit Pada phylum chordata dikenal dua tipe dasar dari integumen, yaitu tipe invertebrata dan tipe vertebrata. Tipe vertebrata ada sekalian hewan vertebrata terdiri dari beberapa lapisan, dengan dua lapisan utama, yaitu lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam yang disebut dermis (Gambar 1) Lapisan epidermis pada ikan selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang berbentuk piala yang terdapat di seluruh permukaan tubuhnya. Epidermis merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan.

Gambar 1. Struktur kulit ikan (Walker and Liem, 1994)

Integumen pada hewan merupakan lapisan protektif yang menjaga lalu lintas air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya secara bebas.
6

Epidermis bagian dalam terdapat lapisan sel yang disebut stratum germinativum (lapisan malphigi). Lapisan ini sangat giat dalam melakukan pembelahan untuk menggantikan sel-sel bagian luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh. Dermis yang di dalamnya terkandung pembuluh darah, syaraf dan jaringan pengikat memiliki struktur yang lebih tebal dan sel-sel yang susunannya lebih kompak dari pada epidermis. Derivat-derivat kulit juga dibentuk dalam lapisan ini. Lapisan dermis berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik, dan derivat-derivat kulit lainnya. Fungsi kulit antara lain : Sebagai pembalut tubuh Alat pertahanan pertama terhadap penyakit Keseimbangan cairan Perlindungan dan penyesuaian diri terhadap faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan ikan dengan cara memasukan dan mengeluarkan panas secara bergantian melalui aliran darah pada kulit (theoregulasi), dimana dalam kulit terdapat penerima rangsangan (sensory receptor) Alat eksresi dan Osmoregulasi Alat pernafasan tambahan pada beberapa jenis ikan terutamakelompok amphibian

2.3 Lendir Umumnya ikan yang tidak bersisik memproduksi lendir yang lebih banyak dan tebal dibanding dengan ikan yang bersisik. Ketebalan lendir yang meliputi kulit ikan dipengaruhi oleh kegiatan sel kelenjar yang berbentuk piala yang dapat menghasilkan suatu zat (semacam glycoprotein) yang dinamakan mucin. Jika zat tersebut bersentuhan dengan air maka akan berubah menjadi lendir, dan menyebabkan kulit pada bagian epidermis ini selalu basah. Kelenjar ini akan memproduksi lendir lebih banyak pada saat tertentu, misalnya pada saat ikan berusaha melepaskan diri dari bahaya/ genting dibanding pada saat atau keadaan normal. Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ia dapat berenang dengan lebih cepat, mencegah infeksi dan menutup luka, berperan dalam osmoregulasi sebagai lapisan semi-permiable yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit. Pada beberapa ikan tertentu menggunakan lendir sebagai alat perlindungan pada saat terjadi kekeringan, misalnya ikan paru-paru (Protopterus) yang menanamkan diri pada lumpur selama musim panas dengan membungkus tubuhnya dengan lendir hingga musim penghujan tiba. Sedangkan pada ikan belut lendir digunakan untuk mempertahankan diri dari mangsa khususnya manusia yang membuat tubuhnya licin dan sulit digenggam. Beberapa ikan yang menggunakan lendirnya untuk melindungi telur dari gangguan luar, misalnya anggota dari genus Trichogaster.

2.4 Sisik Bentuk, ukuran dan jumlah sisik ikan dapat memberikan gambaran bagaimana kehidupan ikan tersebut. Sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka macam, yaitu sisik ganoid merupakan sisik besar dan kasar, sisik cycloid dan ctenoid merupakan sisik yang kecil, tipis atau ringan hingga sisik placoid merupakan sisik yang lembut. Umumnya tipe ikan perenang cepat atau secara terus menerus bergerak pada perairan berarus deras mempunyai tipe sisik yang lembut, sedangkan ikan-ikan yang hidup di perairan yang tenang dan tidak berenang secara terus menerus pada kecepatan tinggi umumnya mempunyai tipe sisik yang kasar. Ikan yang bersisik keras biasanya ditemukan pada golongan ikan primitive, sedangkan pada ikan modern, kekerasan sisiknya sudah fleksibel. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis bahan yang dikandungnya. Sisik dibuat di dalam dermis sehingga sering diistilahkan sebagai rangka dermis. Ada beberapa jenis ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian tubuh tertentu saja. Seperti paddle fish, ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian operculum dan ekor. Dan adapula yang hanya ditemukan sepanjang linea lateralis. Ikan sidat (Anguilla) yang terlihat seperti tidak bersisik, sebenarnya bersisik tetapi sisiknya kecil dan dilapisi lendir yang tebal. Berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung di dalamnya, sisik ikan dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu Placoid, Cosmoid, Ganoid, Cycloid dan Ctenoid. a. Sisik Placoid Jenis sisik ini karakteristik bagi golongan ikan bertulang rawan (Chondrichthyes). Bentuk sisik tersebut menyerupai bunga mawar dengan dasar yang bulat atau bujur sangkar. Sisik macam ini terdiri dari keping basal yang letaknya terbenam di bagian dermis kulit, dan suatu bagian yang menonjol berupa duri keluar dari permukaan epidermis. Sisik tersebut merupakan struktur ekoskeleton yang primitive yang mempunyai titik perkembangan menuju ke lembaran sisik yang biasa terdapat pada osteichthyes yang terdiri atas lempeng dasar, tangkai sentral dan duri. Bagian yang lunak dari sisik ini (pulp) berisikan pembuluh darah dan saraf yang berasal dari dermis. Sisik placoid dibangunkan oleh dentine sehingga sering disebut dermal dentine yang di dalamnya terdapat rongga pulpa. Pertumbuhan dari sisik placoid menyerupai pertumbuhan gigi, yaitu dimulai dengan adanya pengelompokan dari selsel dermis yang seterusnya akan tumbuh menjadi lebih nyata membentuk papila dermis yang mendesak epidermis yang ada di sebelah permukaan.

Gambar 2 Type sisik placoid dan pada ikan hiu b. Sisik Cosmoid

Sisik ini hanya ditemukan pada ikan fosil dan ikan primitive yang sudah punah dari kelompok Crossopterygii dan Dipnoi. Sisik ikan ini terdiri dari beberapa lapisan, yang berturut-turut dari luar adalah vitrodentine, yang dilapisi semacam enamel, kemudian cosmine yang merupakan lapisan terkuat dan noncellular, terakhir isopedine yang materialnya terdiri dari substansi tulang. Pertumbuhan sisik ini hanya pada bagian bawah, sedangkan pada bagian atas tidak terdapat sel-sel hidup yang menutup permukaan. Tipe sisik ini ditemukan pada jenis ikan Latimeria chalumnae . c. Sisik Ganoid Jenis sisik ini dimiliki oleh ikan-ikan Lepidosteus (Holostei) dan Scaphyrynchus (Chondrostei). Sisik ini terdiri dari beberapa lapisan yakni lapisan terluar disebut ganoine yang materialnya berupa garam-garam an-organik, kemudian lapisan berikutnya dalah cosmine, dan lapisan yang paling dalam adalah isopedine. Pertumbuhan sisik ini dari bagian bawah dan bagian atas. Ikan bersisik type ini adalah antara lain, Polypterus, Lepisostidae, Acipenceridae dan Polyodontidae.

Gambar 4 Type sisik ganoid pada famili Acipenseridae (sturgeons)


9

d. Sisik Ctenoid dan Sisik Cycloid Sisik ini ditemukan pada golongan ikan teleostei, yang masing-masing terdapat pada golongan ikan berjari-jari lemah (Malacoptrerygii) dan golongan ikan berjari-jari keras (Acanthopterygii). Perbedaan antara sisik cycloid dengan ctenoid hanya meliputi adanya sejumlah duri-duri halus yang disebut ctenii beberapa baris di bagian posteriornya. Pertumbuhan pada tipe sisik ini adalah bagian atas dan bawah, tidak mengandung dentine atau enamel dan kepipihannya sudah tereduksi menjadi lebih tipis, fleksibel dan transparan. Penempelannya secara tertanam ke dalam sebuah kantung kecil di dalam dermis dengan susunan seperti genting yang dapat mengurangi gesekan dengan air sehingga dapat berenang lebih cepat. Sisik yang terlihat adalah bagian belakang (posterior) yang berwarna lebih gelap daripada bagian depan (anterior) karena bagian posteriornya mengandung butir-butir pigmen (chromatophore). Bagian anterior (terutama pada bagian tubuh) transparan dan tidak berwarna. Perbedaan antara tipe sisik cycloid dengan ctenoid adalah pada bagian posterior sisik ctenoid dilengkapidengan ctenii (gerigi kecil). Focus merupakan titik awal perkembangan sisik dan biasanya berkedudukan di tengah-tengah sisik.

Gambar 5 Type sisik ctenoid

10

Gambar 6 Type sisik cycloid

Gambar 7 Tipe sisik Cycloid dan Ctenoid

Gambar 8 Tipe sisik Placoid dan Ganoid

11

2.5 Pewarnaan Sel khusus yang memberikn warna pada ikan ada dua macam yaitu Iridocyte (leucophore dan guanophore) dan Chromatophora. Iridocyte dinamakan juga sel cermin karena mengandung bahan yang dapat memantulkan warna di luar tubuh ikan. Sel chromathiphora terdapat dalam dermis. Selini mempunyai butir-butir pigmen yang merupakan sumber warna sesungguhnya. Butir pigmen ini dapat menyebar keseluruh sel atau mengumpul pada suatu titik. Gerakan inilah yang menyebabkan perubahan warna pada ikan. Chromatophora dasar ada 4 jenis yaitu erythrophore (merah dan jingga), xanthopore (kuning), melanophore (hitam) dan leucophore (putih). Warna pada ikan sangat dipengaruhi oleh schemachrome (konfigurasi fisik) dan biochrome (pigmen pembawa warna). Schemachrome warna putih ditemukan pada rangka, gelembung renang, sisik dan testes; biru dan ungu pada iris mata; warna pelangi pada sisik, mata dan membrane anus. Sedangkan tergolong ke dalam biochrome adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Carotenoid (kuning, merah dan corak lainnya); chromolipoid (kuning sampai coklat); indigoid (biru, merah dan hijau); melanin (hitam dan coklat); flavin (fluoresensi kehijauhijauan); purin (putih atau keperak-perakan); pterin (putih, kuning, merah dan jingga).

Ikan-ikan yang hidup di perairan bebas seperti tenggiri (Scomberomorus commersoni) mempunyai warna tubuh yang sederhana, bertingkat dari keputih-putihan pada bagian perut, keperak-perakan pada sisi tubuh bagian bawah sampai warna kebirubiruan atau kehijauhijauan pada sisi atas dan kehitam-hitaman pada bagian punggungnya. Ikan yang hidup di daerah dasar, bagian dasar perutnya berwarna pucat dan bagian punggungya berwarna gelap. Misalnya pada kelompok ikan pari dan ikan sebelah. Ikan-ikan yang hidupnya di sekitar karang memiliki warna yang cerah dan cemerlang misalnya ikan-ikan family Chaetodontidae, Achanturidae, Apogonidae dan sebagainya. Pemiripan warna secara umum antara ikan dan latar belakangnya baik secara perlahan maupun cepat merupakan karakteristik dasar ikan untuk menyamai lingkungan atau habitat mereka berada. Ikan laut memiliki warna tubuh yang bertingkat, di bagian dorsal berwarna biru, bagian sisi keperak-perakan, dan putih di bagian perut. Perubahan warna sering terjadi berhubungan dengan kondisi lingkungan seperti siang dan malam, musim dan keadaan habitat. Perubahan warna tersebut diatur oleh intraksi saraf dan hormon. Pewarnaan terpecah merupakan suatu upaya ikan untuk mengaburkan pandangan terhadap tubuh ikan. Bila tubuh permukaan ikan mempunyai garis-garis warna atau corak kontras yang tidak teratur, maka garis-garis tersebut akan cenderung mengaburkan pandangan hewan lain. Pada ikan kupu-kupu (Forcipinger longirostris) yang hidup di daerah karang mampu memceahkan warna tubuhnya menjadi bentuk organ tubuh, warna demikian dipergunakan untuk memecah bentuk atau mengaburkan bentuk asli ikan. Selain fungsinya sebagai penyamaran dan penyembunyian, pada beberapa ikan bentuk
12

pewarnaannya justru cenderung sebagai pemberitahuan. Sejumlah anggota family Percidae yang terdapat di air tawar dan sejumlah famili yang ditemukan di laut memiliki corak warna yang terang dan cemerlang sebagai pengenalan seksual. 2.6 Organ Cahaya Cahaya yang dihasilkan ikan memiliki fungsi sebagai tanda pengenal individu yang sejenis, untuk mengikat mangsa, menerangi lingkungan, dan penciri ikan beracun. Umumnya ikan-ikan yang memiliki organ cahaya hidupnya pada daerah laut dalam (antara 300 1000 m ) dengan warna biru atau biru kehijau-hijauan yang biasa dikenal dengan bioluminescens . Namun telah ditemukan pula ikan laut yang hidup di perairan dangkal memiliki organ cahaya seperti, ikan leweri batu (Photoblepharon palpebratus) dan ikan leweri air (Anomalops katopron). Cahaya yang dikeluarkan berkedapkedip secara teratur yang dikendalikan oleh organ cahaya yang keluar masuk suatu kantong pigmen hitam di bawah mata. Terdapat dua kelompok ikan berdasarkan sumber cahaya yang dikeluarkannya yaitu, kelompok ikan yang cahaya dikeluarkan oleh sel pada kulit ikan itu sendiri (photophore=potocyt) misalnya pada golongan elasmobranchii (Etmopterus, Benthobatis dan Spinax) dan pada golongan ikan teleostei (Batrachoididae dan Stomiatidae). Kelompok kedua adalah ikan yang mengeluarkan cahaya dari bakteri yang bersimbiose dengannya, misalnya pada ikan-ikan family Monocentridae, Gadidae, Leognathidae, Serranidae dan Macroridae. Bakteri yang dapat mengeluarkan cahaya terdapat di dalam kantung kelenjar epidermis. Pemantulan cahaya yang dikeluarkan bakteri tersebut diatur oleh jaringan yang berfungsi sebagai lensa. Pada bagian yang berlawanan dengan lensa terdapat banyak pigmen yang berfungsi sebagai pemantul. Pemancaran cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh kontraksi pigmen yang berfungsi sebagai iris mata. Pada ikan-ikan yang hidup di laut dalam, pengeluaran cahayanya mempunyai peranan dalam pemijahan. Pada musim pemijahan, ikan jantan berusaha membimbing betina untuk mencari tempat yang baik untuk memijah. Cahaya yang dikeluarkan memiliki kekuatan panjang gelombang 400-600 m yang dapat menerangi sejauh 10 meter. Anglerfishes (Linophyrin brevibarbis) yang terdapat di laut dalam mempunyai tentakel yang bercahaya. Diduga pada tentakelnya mempunyai kultur bakteri yang terdapat pada kulitnya. Tentakel yang ujungnya mempunyai jaringan jaringan yang membesar itu digosokkan di atas kultur bakteri tersebut, sehingga bakteri yang bercahaya terbawa oleh tentakel untuk menarik perhatian mangsanya. Adapun fungsi organ cahaya pada ikan adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Sebagai tanda pengenal individu ikan sejenis Untuk memikat mangsa Menerangi lingkungan sekitar Mengejutkan musuh dan melarikan diri Penyesuaian terhadap ketiadaan sinar di laut yang merupakan sebagai ciri-ciri ikan beracun

13

2.7 Kelenjar Beracun Kelenjar beracun pada ikan merupakan derivate dari kulit yang merupakan modifikasi kelenjar yang mengeluarkan lendir. Ikan-ikan yang kelenjar integumennya mengandung racun umumnya dipergunakan ikan untuk mempertahankan diri, menyerang dan mencari makanan. Ikan-ikan yang sistem integumennya mengandung kelenjar racun antara lain ikan-ikan yang hidup di sekitar karang. Kelenjar racun umumnya dikeluarkan melalui jari-jari keras sirip punggung (dorsal fin) dan dada (fectoral fin). Pada ikan lepu (Synanceia verrucosa dan Pterois volitans) memiliki alat beracun pada daerah jari jari keras sirip punggung, sirip dubur dan sirip perut. Umumnya ikan lepu ini tinggal di dasar perairan yang dangkal berpasir atau berkarang dan pada daerah terdapat vegetasi lamun. Gerakannya lamban dengan warna permukaan tubuh yang mirip dengan dasar perairan menyebabkan ikan ini sulit untuk dilihat. Beberapa jenis dari ikan memiliki racun yang dapat mematikan manusia, misalnya jenis Synanceia horrida. Pada ikan pari (Dasyatis) kelenjar racunnya terdapat pada duri di ekornya. Duri ini tersusun dari bahan yang disebut vasodentine. Sepanjang kedua sisi duri tersebut terdapat gerigi yang bengkok ke belakang. Duri tersebut ditandai oleh adanya sejumlah alur dangkal yang sepanjang tepi alur terdiri celah berupa jaringan kelabu spongi, lembut meluas sepanjang celah panjang yang berfungsi sebagai jaringan tempat dihasilkannya racun. Ikan baronang (Siganus) memiliki kelenjar beracun yang terdapat pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 4 jari-jari keras sirip perut dan 7 jari-jari keras sirip dubur. Ikan-ikan yang sistem integumennya mengandung kelenjar beracun antara lain ikan lele dan sebangsanya (Siluroidea) dan golongan Elasmobranchii (Chimaeridae, Myliobathidae dan Dasyatidae). Beberapa jenis ikan buntal (Tetraodontidae) juga dikenal beracun, tetapi racunnya bukan berasal dari sistem integumennya, melainkan dari kelenjar empedu. Studi tentang racun ikan dikenal dengan ichthyotoxisme. Ilmu ini mempelajari tentang racun yang dikeluarkan oleh ikan serta gejala keracunan dengan aspekaspeknya. Ichthyotoxisme meliputi Ichthyosarcotoxisme yang mempelajari berbagai macam keracunan akibat makan ikan beracun dan Ichthyoacanthotoxisme yang mempelajari sengatan ikan berbisa.

14

BAB III Kesimpulan 3.1 Kesimpulan Sistem Integumen atau penutup tubuh ikan terdiri dari kulit yang sebenarnya dan derivat-derivatnya. Sistem integumen pada seluruh makhluk hidup merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar tempat makhluk hidup tersebut hidup atau berada. Yang termasuk pada system integumen ikan adalah kulit, sisik, lendir. Kelenjar beracun, pewarnaan dan organ cahaya. Kulit pada ikan di bagi menjadi dua lapisan yaitu lapisan epidermis dan lapisan dermis. Pada lapisan epidermis dapat menghasilkan lendir karena ada sel yang berbentuk seperti piala yang bernama mucin. Pada ikan yang tidak memiliki sisik akan menghasilkan lendir yang lebih banyak. Sisik pada ikan di bagi menjadi lima, yaitu sisik placoid, sisik ctenoid, sisik cycloid, sisik ganoid dan sisik cosmoid. Sisik placoid umumnya kasar dan tebal. Biasanya sisik placoid terdapat pada ikan yang sudah punah. Lalu sisik ctenoid dan cycloid yang memiliki struktur sama. Yang membedakannya adalah adanya ctenii pada sisik ctenoid. Ctenii adalah duri-duri pada sisik. Sel khusus yang memberikn warna pada ikan ada dua macam yaitu Iridocyte (leucophore dan guanophore) dan Chromatophora. Iridocyte dinamakan juga sel cermin karena mengandung bahan yang dapat memantulkan warna di luar tubuh ikan. Sel chromathiphora terdapat dalam dermis. Selini mempunyai butir-butir pigmen yang merupakan sumber warna sesungguhnya. Terdapat dua sumber cahaya yang dikeluarkan oleh ikan, dan semuanya terdapat pada kulit yaitu cahaya yang dihasilkan oleh bakteri yang hidup bersimbiosis dengan ikan dan cahaya yang dikeluarkan oleh ikan itu sendiri. Sel pada tubuh ikan yang dapat mengeluarkan cahaya disebut photophore. Kelenjar beracun pada ikan merupakan derivate dari kulit yang merupakan modifikasi kelenjar yang mengeluarkan lendir. Ikan-ikan yang kelenjar integumennya mengandung racun umumnya dipergunakan ikan untuk mempertahankan diri, menyerang dan mencari makanan.

15

Daftar Pustaka

http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/10/pengertian-ikhtiologi.html http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/10/sejarah-ikhtiologi.html http://goresanpenaseru.blogspot.com/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html http://krishnaeagles.blogspot.com/2012/04/sistem-integumen-dan-sistem-otot-pada.html

16