Anda di halaman 1dari 8

PEMANFAATAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DALAM ANALISIS IDENTIFIKASI JAMU PALSU

Oleh : Shinta Mentari Fitriawati Nur Fajrianty Atnan Dj. Nirmala Riana Sari Ifa Fauzia Aldityra Cahya 10060310032 10060310033 10060310034 10060310035 10060310036

Asisten:

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG BANDUNG 20013

I.

Tujuan Percobaan
Memperkenalkan metode KLT untuk mendeteksi pemalsuan pada produk jamu yang beredar Memperkenalkan metode KLT sebagai bagian dalam standardisasi ekstrak melalui analisis sidik ragam KLT

II.

Teori Dasar Jamu yang termasuk sebagai salah satu obat tradisional yang selama ini sangat dipercaya keasliannya oleh konsumen ternyata menyimpan banyak misteri. Yang telah terkuak adalah penggunaan obat-obat kimia sebagai campuran dalam jamu. Tujuannya agar jamu yang dikonsumsi tersebut manjur alias langsung berkhasiat bila dikonsumsi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya bahan-bahan obat sintetik dalam produk jamu adalah dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis ( KLT ). Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat. Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet, alasannya akan dibahas selanjutnya. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. (Jim clark, 2009) Jel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan jel silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH. Jadi, pada permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si. Gambar ini menunjukkan bagian kecil dari permukaan silika.

Permukaan jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol..

III.

Alat dan Bahan Alat : Mikroskop Chamber KLT Lampu UV 254 dan 365 nm Penampak bercak Pipa kapiler Pengering (hair dryer) Jamu pegal linu Metanol Jamu simulasi dari asisten Plat KLT Rhei radix Zat kimia pembanding (parasetamol, deksametason, antalgin, fenilbutason, dan vitamin B1).

Bahan :

IV.

Prosedur Percobaan Identifikasi Pemalsuan Jamu

Siapkan jamu simulasi dan jamu pegal linu yang telah dibeli, kemudian lakukan pengamatan secara visual dan mikroskopis untuk mendeteksi kemungkinan partikel asing yang tercampur di dalam jamu. Bila pada pengamatan secara mikroskopis didapati Kristal, gambarlah bentuk kristal tersebut. Buat larutan sampel dan pembanding dengan cara melarutkan 0,5 mg jamu dalam 5 ml methanol dan pembanding 50 mg dalam 5 ml methanol. Setelah itu siapkan larutan pengembang berupa etil asetat atau pengembang lain yang cocok untuk zat kimia pembanding yang anda duga dengan mengacu pada pustaka. Totolkan larutan jamu yang telah dibeli, jamu simulasi, dan zat kimia pembanding (parasetamol dan antalgin) ke plat KLT. Kemudian elusi dengan pengembang hingga batas 1 cm dari ujung plat, keringkan dan amati secara visual dibawah sinar UV 254 nm, 365 nm dan menggunakan penyemprot bercak. Diskusikan hasil pengamatan yang telah didapat. V. Data Pengamatan Kelompok 2 Pembanding ( Parasetamol dan Antalgin ) Pelarut ( Methanol dan Ammonium kuat) = 356 nm Pembanding = Jamu simulasi = 8 (spot kuning) Rf = 8/10 = 0,8 Jamu sampel = 8 (spot kuning) Rf = 8/10 = 0,8 = 254 nm Pembanding : Parasetamol = 8 Rf = 8/10 = 0,8 Antalgin = 9 Rf = 9/10 = 0,9 Jamu simulasi = 8 Rf = 8/10 = 0,8

Jamu sampel : 1. Spot ungu = 8 Rf = 8/10 = 0,8 2. Spot ungu = 9 Rf = 9/10 = 0,9

VI.

Pembahasan Dalam percobaan kali ini dilakukan identifikasi pemalsuan jamu pegal linu yang dibandingkan dengan jamu simulasi yang telah disediakan. Sebelum plat dimasukkan kedalam chamber, pada plat KLT atau plat silika diberi garis terlebih dahulu dengan menggunakan pensil pada jarak 1 cm yaitu bagian bawah lempengan dan bagian atas lempengan, digunakan pensil karena pensil bersifat netral jadi tidak akan bercampur dengan pelarut. Penotolan dalakukan 5 kali pada simplisia dan jamu simulasi dengan menunggu penotolan pertama kering dan dilanjutkan pada penotolan selanjutnya. Diberikan penandaan pada garis di lempengan untuk menunjukkan posisi awal dari tetesan. Jika ini dilakukan menggunakan tinta, pewarna dari tinta akan bergerak selayaknya kromatogram dibentuk. Chamber diberi kertas saring kemudian diberi methanol dan ammonium kuat sebagai eluen yang bersifat non polar, sehingga pada saat zat yang telah ditotolkan akan tertarik/bergerak kearah eluen tersebut. Chamber diberi kertas saring dan ditutup agar kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut, sehingga mencegah penguapan pelarut. Dalam kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas) seperti pelarut yang digunakan yaitu methanol dan ammonium sulfat. Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. Dalam analisis Identifikasi Jamu Palsu ini digunakan kromatografi lapis tipis (KLT) karena KLT bersifat refersibel yaitu bisa diulang pada waktu, suhu, dan pelarut yang sama. Pelarut bergerak lambat pada lempengan, komponen-komponen yang berbeda dari campuran pewarna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak sebagai perbedaan bercak warna, atau berdasarkan perbedaan kepolaran, dipakai eluen campuran agar diperoleh kepolaran yang sama, jadi eluen

yang satu akan meningkatkan kepolaran eluen yang lain. Seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini : Gambar 1.Menunjukkan lempengan setelah pelarut bergerak setengah dari lempengan

Eluen dapat mencapai sampai pada bagian atas dari lempengan. Hal ini akan memberikan pemisahan maksimal dari komponen-komponen yang berwarna untuk kombinasi tertentu dari pelarut dan fase diam. Gambar 2. Contoh pengukuran nilai Rf

Setelah terjadi fase gerak dalam kromatografi barulah dapat dihitung nilai Rf (Retensi Faktor), yang merupakan penentuan prinsip dari KLT dengan pengukuran berdasarkan pada jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang tempuh oleh bercak warna masing-masing yang dapat diamati dibawah sinar UV. Dari hasil pengamatan diamati dibawah sinar UV pada panjang gelombang 356 nm, spot/bercak pembanding ( PCT, dan antalgin) tidak terlihat. Sedangkan jamu sampel dan simulasi terlihat bercaknya pada jarak 8 cm, sehingga Rfnya 0,8. Pada saat diamati dibawah UV dengan panjang gelombang 254 nm, pembanding menunjukkan nilai Rf, dimana Rf parasetamol adalah 0,8 dan antalgin adalah 0,9. Sedangkan Rf jamu simulasi 0,8 dan jamu sampel memiliki 2 titik yang pertama memiliki nilai Rf 0,8 dan yang kedua adalah 0,9 yang ditunjukkan dengan spot ungu. Dari hasil diatas dalam kandungan jamu simulasi terdapat parasetamol, dan pada jamu sampel terdapat parasetamol dan antalgin.

Jadi ada kemungkinan bahwa jamu tersebut mengandung senyawa-senyawa sintetik, dimana jamu ini bisa disebut dengan jamu palsu. Senyawa sintetik itu dapat berbahaya bagi kesehatan tubuh terutama efek samping yang terkandung pada parasetamol dan antalgin. Antalgin adalah obat analgetik dimana efeknya jauh lebih berbahaya dari parasetamol dan obat-obat analgetik lainnya. Diluar negeri antalgin ini sudah tidak diproduksi lagi. (Sutedjo,2008) VII. Kesimpulan Telah dilakukan analisis identifikasi keaslian jamu pegal linu yang memiliki efek analgetik menggunakan metode KLT dengan pembanding suatu Bahan Kimia Obat yaitu Antalgin dan parasetamol yang merupakan senyawa obat golongan anal getik. Dalam jamu simulasi terkandung parasetamol yang ditunjukkan dengan nilai Rf 0,8, dan pada jamu sampel terkandung kedua zat kimia tersebut yaitu parasetamol dan antalgin. Dimana antalgin ditunjukkan dengan nilai Rf 0,9. Jadi kemungkinan dalam jamu sampel maupun jamu simulasi terkandung senyawa obat-obat sintetik.

Daftar Pustaka

http://www.cespleng-id.com/index.php/index.php/berita-terkini/3-berita-terkini/23platforms-and-open-standards. (13 november 2009) Hermawan, Yan; 2003 Tantri; Obat Tradisional yang Mengandung Bahan Kimia Obat. Jakarta: Pusat Penyelidikan Obat dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan (PPOM-BPOM). Jim clark, 2009. http://www.Kromatografi Lapis Tipis/Chem-Is-Try.Org/Situs Kimia Indonesia_ htm (13 november 2009) Sutedjo.2008.Mengenal Obat-obatan Dengan Cara Yang Mudah. Yogyakarta: amara books.