Anda di halaman 1dari 84

FORMULASI TABLET EFFERVESCENT DARI EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.

) SEBAGAI ANTI HIPERTENSI

Oleh IFFA LUTHFIYA HIDAYATI F34102052

2007 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Iffa Luthfiya Hidayati. F34102052. Formulasi Tablet Effervescent dari Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Sebagai Anti Hipertensi. Di bawah bimbingan H. Abdul. Aziz Darwis dan Tri Marwati. 2007. RINGKASAN Kecenderungan untuk memanfaatkan bahan alami sebagai obat mulai digemari masyarakat. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi efek samping dari penggunaan obat-obatan sintetik. Daun belimbing wuluh merupakan salah satu bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Salah satu khasiat yang dimiliki daun belimbing wuluh adalah sebagai obat hipertensi. Dalam penelitian ini, pemanfaatan daun belimbing wuluh dikaji untuk dimanfaatkan sebagai obat anti hipertensi dalam bentuk sediaan tablet effervescent. Tablet effervescent dipilih sebagai sediaan obat karena sangat praktis dalam penggunaannya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik produk tablet effervescent dan mendapatkan formulasi tablet effervescent ekstrak daun belimbing wuluh terbaik dilihat dari karakteristik fisik dan sifat organoleptik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan konsentrasi effervescent mix (40%, 45%, 50% dan 55%). Ekstraksi daun belimbing wuluh dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol. Ekstrak kental yang dihasilkan dari proses maserasi diuji dengan menggunakan hewan uji (metode berdarah) sebagai anti hipertensi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak daun belimbing wuluh (dosis 30 mg/kg BB) dapat menurunkan tekanan darah. Dosis tersebut digunakan dalam formulasi tablet effervescent. Pembuatan tablet effervescent menggunakan ekstrak kering daun belimbing wuluh yang diperoleh dari hasil pengering semprot dengan penambahan maltodektrin 10%. Proses pembuatan tablet effervescent dilakukan dengan menggunakan metode granulasi basah. Pengujian yang dilakukan meliputi analisis granul dan analisis tablet effervescent. Hasil pengujian waktu alir, sudut diam dan kompresibilitas granul menunjukkan bahwa granul yang dihasilkan masih sesuai dengan kriteria (baik). Karakteristik tablet effervescent yang dihasilkan, memiliki nilai pH sebesar 4.555.20 (pH kontrol 4.5), kadar air sebesar 1.38-2.01% (kadar air kontrol 5.20%) dan kadar abu sebesar 21.64-23.89% (kadar abu kontrol 27.10%). Waktu larut tablet effervescent sekitar 3.93-4.75 menit (waktu larut kontrol 2.24 menit), kekerasan tablet berkisar 0.06-0.16/g.mm,dtk (kekerasan kontrol adalah 0 (keras)) serta diameter dan tebal tablet sebesar 2.79-2.84 cm dan 0.65-0.70 cm (diameter dan tebal tablet kontrol adalah 2.53 dan 0.66 cm). Warna tablet effervescent berdasarkan oHue menunjukkan warna yellow red (79.63-80.61o). Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap nilai pH, kadar air, kadar abu, waktu larut, kekerasan, diameter dan ketebalan tablet. Analisa non-parametik (Friedman test) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap penampakan tablet, warna, aroma dan rasa seduhan tablet effervescent. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa tablet effervescent yang paling disukai adalah tablet effervescent dengan konsentrasi effervescent mix 40% dengan perbandingan effervescent mix 18:28:54.

Iffa Luthfiya Hidayati. F34102052. Formulation of Effervescent Tablets From Bilimbi (Averrhoa bilimbi L.) Leaves Extract As Anti Hypertension. Supervised by H. Abdul Aziz Darwis and Tri Marwati. 2006. SUMMARY Utilization of natural resource as medicine become interesting scientists concern. It may reduce the negative effects by using of synthetic medicine. Bilimbi leaves was one of natural materials which was able to be exploited as medicine. One of the benefits from bilimbi leaves was used as hypertension medicine. In this research, exploring bilimbi leaves studied as hypertension medicine in the form of effervescent tablets. The chosen of effervescent tablet form was because its practical usage. The purposes of this research were to determine the effervescent tablets product characteristic and to obtain the best formulation of the effervescent tablets from bilimbi leaves extract based on its physical character and organoleptic test. The design of this research was completely randomized design with the variation of effervescent mix concentration (40%, 45%, 50% and 55%). Extraction of bilimbi leaves was conducted with maceration method using ethanol solvent. Viscous bilimbi leaves extract, which was the result from maceration process, was test by bloody method using animal experiment as anti hypertension substance. The result showed that bilimbi leaves extract (dosage of 30 mg/kg weight-body) can decrease blood tension. The dosage was used in the effervescent tablets formulation. The production of the effervescent tablets used dry bilimbi leaves extract produced by spray dryer with an addition of 10% maltodextrin. Effervescent tablets were made by wet granulation method. The effervescent tablets testing consist of granule analysis and effervescent tablets analysis. The result of flow time, silent angle and compressibility granule test showed that the effervescent granule has good characteristics. The effervescent tablet has pH value of 4.55-5.20 (control 4.5), water content of 1.38-2.01% (control 5.20%) and ash content of 21.64-23.89% (control 27.10%). Effervescent tablet dissolution time of 3.93-4.75 minute (control 2.24 minute), hardness tablets of 0.060.16/g.mm.dtk (control 0 (hard)) and also diameter and thickness tablets of 2.792.84 cm and 0.65-0.70 cm (control 2.53 and 0.66 cm). Effervescent tablet has yellow red color (79.63-80.61o) based on oHue colorimeter test. The ANOVA result showed that the variation of effervescent mix concentration significantly influenced the pH value, water content, ash content, dissolution time, hardness, diameter and thickness of tablet. Non-parametric analysis of organoleptic test showed that the variation of effervescent mix concentration significantly influenced the tablets appearance, color, flavor and taste. The organoleptic test result showed that the best panelist responded was for effervescent tablets with 40% effervescent mix concentration (comparison of effervescent mix was 18:28:54).

SURAT PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi dengan judul Formulasi Tablet Effervescent Dari Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Sebagai Anti Hipertensi adalah hasil karya saya sendiri dengan arahan dosen Pembimbing Akademik, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya.

Bogor, 2 Februari 2007 Yang membuat pernyataan,

Iffa Luthfiya Hidayati F34102052

FORMULASI TABLET EFFERVESCENT DARI EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) SEBAGAI ANTI HIPERTENSI

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh IFFA LUTHFIYA HIDAYATI F34102052

2007 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

FORMULASI TABLET EFFERVESCENT DARI EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) SEBAGAI ANTI HIPERTENSI

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh IFFA LUTHFIYA HIDAYATI F34102052

Dilahirkan pada tanggal 23 Februari 1984 di Ngawi

Tanggal lulus : 26 Januari 2007

Menyetujui, Bogor, 5 Februari 2007

Prof. Dr. Ir. A. Aziz Darwis, MSc Pembimbing Akademik I

Ir. Tri Marwati, MSi Pembimbing Akademik II

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ngawi pada tanggal 23 Februari 1984. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Drs. Imam Tauhid dan Siti Komariyah. Pada tahun 1996, penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD Muhammadiyah Ponorogo. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah menengah di SLTPN 1 Ponorogo pada tahun 1999. Kemudian penulis melanjutkan

pendidikan di SMUN 1 Ponorogo dan lulus pada tahun 2002. Penulis melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Institut Pertanian Bogor tahun 2002 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian. Selama kuliah di IPB, penulis pernah bekerja sebagai pengajar di Bimbingan Belajar DMC Bogor (2006). Penulis melaksanakan praktek lapang pada tahun 2005 dengan topik Mempelajari Aspek Teknologi Proses Kemasan dan Penyimpanan Wafer Cream di Selamat Biscuit Indonesia, Sidoarjo Jawa Timur. Untuk

menyelesaikan tugas akhir ini, penulis melakukan penelitian yang ditulis dalam skripsi berjudul Formulasi Tablet Effervescent Dari Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Sebagai Anti Hipertensi.

KATA PENGANTAR

Assalammu alaikum wr wb. Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi. Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian penulis selama delapan bulan di Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian, Cimanggu dan

Laboratorium Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Skripsi ini berjudul Formulasi Tablet Effervescent Dari Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Sebagai Anti Hipertensi. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknologi Pertanian di Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini menyajikan studi tentang pembuatan tablet effervescent dari ekstrak daun belimbing wuluh sebagai alternatif obat hipertensi. Tablet effervescent yang dihasilkan dilakukan pengujian karakteristik fisik dan organoleptik untuk mengetahui penerimaan konsumen terhadap produk. Hasil studi ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai acuan pustaka yang membantu dalam pembuatan tablet effervescent yang dapat berkhasiat sebagai obat. Wassalammu alaikum wr wb.

Bogor, 2 Februari 2007

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi berjudul Formulasi Tablet Effervescent Dari Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Sebagai Anti Hipertensi. Ucapan terima kasih ditujukan penulis kepada Ayah (Drs. Imam Tauhid), ibu (Siti Komariyah) serta adik-adikku (Arini Aula Rusydati dan Husna Umiyati Kholidah) yang telah memberikan doa, kasih sayang dan dukungan dalam pelaksanaan dan penyelesaian studi. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis telah mendapatkan banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Abdul Aziz Darwis, MSc selaku dosen pembimbing akademik atas bimbingannya selama penulis menyelesaikan studi di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Ir. Tri Marwati, MSi selaku pembimbing II dan Dr. Ir. Ani Suryani, DEA selaku dosen penguji yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hernani, Ibu Wiwin Winarni, para laboran di Balai Litbang Pasca Panen Pertanian, para laboran di Laboratorium TIN. Selain itu kepada Rini Budiarti, Fitriati, Andri Susanto, Rosi Cisadesi, Hari Soesanto, Farikin, Wahyudin dan Roza Cyntia sebagai teman satu penelitian, teman-teman TIN 39 dan teman-teman di Wisma Gajah dan Maharlika Atas serta semua pihak yang belum belum disebutkan, yang telah banyak membantu selama pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ika Christina, Nurul Catur Febriana, Ika Lailiana, Okiana Winarni, Fery Mutia, Inda Setyawati, Maria Ulfah, Jenni Eva dan Rahmi Oktarina atas bantuan yang diberikan kepada penulis, semangat dan dukungannya.

ii

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ........................................................................................ i

UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................... ii DAFTAR TABEL ............................................................................................... iv DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... v DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... vi I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 A. LATAR BELAKANG ............................................................................ 1 B. TUJUAN ................................................................................................. 2 II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 3 A. BELIMBING WULUH........................................................................... 3 B. KOMPOSISI KIMIA DAN KHASIAT BELIMBING WULUH ........... 4 C. TABLET EFFERVESCENT ................................................................... 5 1. Definisi .............................................................................................. 5 2. Bahan Baku ....................................................................................... 6 3. Pembuatan Tablet Effervescent ......................................................... 9 D. HIPERTENSI .......................................................................................... 10 III. BAHAN DAN METODE ............................................................................. 12 A. BAHAN DAN ALAT ............................................................................. 12 B. METODOLOGI ...................................................................................... 12 1. Ekstraksi Daun Belimbing Wuluh .................................................... 12 2. Penentuan Formulasi Tablet Effervescent ......................................... 14 3. Pembuatan Tablet Effervescent ......................................................... 14 a. Analisis granul ............................................................................ 16 b. Analisis tablet effervescent.......................................................... 17 c. Uji organoleptik .......................................................................... 19 C. RANCANGAN PERCOBAAN .............................................................. 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 20 A. ANALISA MUTU BAHAN ................................................................... 20 B. PEMBUATAN EKSTRAK KERING .................................................... 22 C. PENGUJIAN TABLET EFFERVESCENT ............................................ 24

iii

1. Analisis Granul ................................................................................. 24 2. Analisis Tablet Effervescent.............................................................. 27 3. Uji Organoleptik ............................................................................... 36 V. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 41 A. KESIMPULAN ....................................................................................... 41 B. SARAN ................................................................................................... 42 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 43 LAMPIRAN ........................................................................................................ 47

iv

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Klasifikasi hipertensi........................................................................... 11 Tabel 2. Formulasi tablet effervescent daun belimbing wuluh ......................... 14 Tabel 3. Hubungan antara sudut diam dan sifat alir.......................................... 16 Tabel 4. Kriteria kompresibilitas granul ........................................................... 17 Tabel 5. Kriteria warna berdasarkan oHue ........................................................ 18 Tabel 6. Hasil analisa proksimat daun belimbing wuluh .................................. 21 Tabel 7. Rendemen dan karakteristik fisik ekstrak kering daun belimbing wuluh ................................................................................................... 23 Tabel 8. Hasil pengujian waktu alir granul ....................................................... 25 Tabel 9. Hasil pengujian sudut diam granul...................................................... 26 Tabel 10. Hasil pengujian kompresibilitas granul............................................... 26 Tabel 11. Hasil pengujian diameter dan tablet effervescent................................ 31 Tabel 12. Hasil pengujian warna (colorimeter) .................................................. 35

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Reaksi asam-basa pada sediaan effervescent ................................... 6 Gambar 2. Diagram alir proses ekstraksi daun belimbing wuluh ..................... 13 Gambar 3. Diagram alir proses pembuatan tablet effervescent ......................... 15 Gambar 4. Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)................................. 20 Gambar 5. Bubuk daun belimbing wuluh ......................................................... 20 Gambar 6. Ekstrak kental daun belimbing wuluh ............................................. 23 Gambar 7. Ekstrak kering hasil pengering semprot .......................................... 24 Gambar 8. Granul effervescent .......................................................................... 24 Gambar 9. Tablet effervescent masing-masing formulasi ................................. 27 Gambar 10. Grafik pengujian nilai pH tablet effervescent .................................. 28 Gambar 11. Grafik pengujian kadar air tablet effervescent................................. 29 Gambar 12. Grafik pengujian kadar abu tablet effervescent ............................... 31 Gambar 13. Grafik pengujian kekerasan tablet effervescent ............................... 33 Gambar 14. Grafik pengujian waktu larut tablet effervescent............................. 34 Gambar 15. Histogram uji kesukaan terhadap penampakan tablet effervescent ...................................................................................... 37 Gambar 16. Histogram uji kesukaan terhadap warna seduhan tablet effervescent ...................................................................................... 38 Gambar 17. Histogram uji kesukaan terhadap aroma seduhan tablet effervescent ...................................................................................... 39 Gambar 18. Histogram uji kesukaan terhadap rasa seduhan tablet effervescent ...................................................................................... 40

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Analisa proksimat daun belimbing wuluh .................................... Diagram alir pengujian anti hipertensi ......................................... Contoh pembacaan kymograf pada pengujian anti hipertensi ...... Hasil analisis ragam pengujian granul effervescent...................... Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap pH tablet effervescent ......................................................................... Lampiran 6. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap kadar air tablet effervescent .................................................................... Lampiran 7. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap kadar abu tablet effervescent .................................................................. Lampiran 8. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap tebal tablet effervescent ................................................................ Lampiran 9. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap diameter tablet effervescent .......................................................... Lampiran 10. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap kekerasan tablet effervescent ........................................................ Lampiran 11. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap waktu larut tablet effervescent ................................................................. Lampiran 12. Lembar kuesioner uji kesukaan dan kode sampel ........................ Lampiran 13. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter penampakan tablet effervescent................................................................................... Lampiran 14. Hasil uji Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap parameter penampakan tablet effervescent ................................... Lampiran 15. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter warna seduhan tablet effervescent ................................................................................... Lampiran 16. Hasil uji Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap warna seduhan tablet effervescent ................................................ Lampiran 17. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter aroma seduhan tablet effervescent ................................................................................... Lampiran 18. Hasil uji Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap aroma seduhan tablet effervescent ................................................ Lampiran 19. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter rasa seduhan tablet effervescent ................................................................................... Lampiran 20. Hasil uji Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap rasa seduhan tablet effervescent .................................................... Lampiran 21. Perbandingan luas permukaan tubuh hewan percobaan untuk konversi dosis ............................................................................... Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. 48 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

vii

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Obat-obatan dikelompokkan dalam bentuk obat sintetik dan obat alami. Penggunaan obat sintetik dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya karena zat aktifnya berasal dari senyawa kimia sedangkan resiko penggunaan bahan alami relatif lebih kecil. Oleh karena itu terjadi kecenderungan untuk kembali menggunakan obat yang berasal dari alam. Salah satu sumber alami yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat adalah daun tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Daun belimbing wuluh dapat berkhasiat sebagai ekspektoran, antipiretik dan anti hipertensi. Menurut Hernani, et al. (2005), daun belimbing wuluh mengandung senyawa phytol yang terbukti dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Berdasarkan penelitian terdahulu, daun belimbing wuluh juga memiliki kadar kalium yang cukup tinggi, yaitu 1,689 0,007 % (b.k) (Winarni dan Marwati, 2005). Kalium tersebut merupakan mineral yang dapat melancarkan pengeluaran air seni (diuretik) sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Ketersediaan obat hipertensi saat ini kebanyakan berbentuk kapsul dan tablet. Obat berbentuk kapsul dan tablet membutuhkan waktu yang lama untuk diabsorbsi oleh tubuh dan rasanya kurang disenangi. Untuk mengurangi rasa obat yang kurang disukai oleh konsumen dapat dibuat bentuk sediaan yang menarik dan memiliki rasa yang manis. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, pemanfaatan daun belimbing wuluh diteliti untuk dimanfaatkan sebagai obat anti hipertensi dalam sediaan obat yang lebih praktis dalam bentuk tablet effervescent. Tablet effervescent adalah tablet yang menghasilkan gas (CO2) sebagai hasil reaksi kimia bahan-bahan penyusun tablet dengan cairan pelarutnya (air). Tablet effervescent merupakan tablet yang digunakan untuk membuat minuman ringan secara praktis. Kepraktisannya adalah tablet dapat melarut sendiri dengan adanya gas CO2 yang membantu proses pelarutan. Bentuk sediaan seperti ini dapat meningkatkan tingkat kesukaan produk dan mempengaruhi aspek psikologis konsumen. Disamping itu, kesannya sebagai

obat juga akan berkurang karena rasanya yang dapat menutupi rasa pahit sehingga dapat menarik minat konsumen yang tidak suka mengkonsumsi obatobatan. Pembuatan tablet effervescent dari ekstrak daun belimbing dilakukan dengan menyusun formula menggunakan berbagai bahan disamping daun belimbing wuluh itu sendiri. Formula yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif lain sediaan obat hipertensi.

B. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik produk tablet effervescent dan untuk mendapatkan formulasi tablet effervescent ekstrak daun belimbing wuluh terbaik dilihat dari karakteristik fisik dan sifat organoleptik yang disukai oleh konsumen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif sediaan obat hipertensi yang berasal dari bahan alam, sehingga dapat bermanfaat bagi bidang kesehatan dan farmasi serta menambah daya guna daun belimbing wuluh.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. BOTANI Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) termasuk pohon yang tingginya mencapai 10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan mempunyai garis tengah sekitar 30 cm. Pohon ini ditanam sebagai pohon buah. Pohon yang berasal dari benua Amerika ini membutuhkan tempat tumbuh yang cukup lembab dan tidak dinaungi oleh pohon lain. Klasifikasi ilmiah untuk belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) adalah : Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan) Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Dicotyledonae (biji berkeping dua) : Oxalidales :Oxalidaceae : Averrhoa : A. bilimbi L. (belimbing wuluh) wuluh mempunyai batang kasar berbenjol-benjol, Sub-divisi : Angiospermae (berbiji tertutup)

Belimbing

percabangan sedikit dan arahnya condong ke atas. Cabang muda berambut halus seperti beludru dan berwarna coklat muda. Daunnya berupa daun majemuk menyirip ganjil dengan 21-45 pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, bentuknya bulat telur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata dan mempunyai panjang 2-10 cm, lebar 1-3 cm, warnanya hijau, permukaan bawah hijau muda. Bunga berbentuk malai, berkelompok, keluar dari batang atau percabangan yang besar. Bunganya kecil-kecil berbentuk bintang dan warnanya ungu kemerahan. Buahnya berupa buah buni, bentuknya bulat lonjong bersegi, warnanya hijau kekuningan, bila masak berair banyak, rasanya asam dan bijinya berbentuk bulat telur serta gepeng (Arland, 2006).

B. KOMPOSISI KIMIA DAN KHASIAT BELIMBING WULUH Daun belimbing wuluh yang digunakan dalam penelitian mempunyai sifat khas seperti asam, kelat dan menetralkan (Anonim, 2006). Kandungan simplisia daun belimbing wuluh terdiri dari tanin, sulfur, asam format, peroksidase, calsium oksalat dan kalium sitrat (Forum Komunikasi Fakultas Pertanian UGM, 2006). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Winarti dan Marwati (2006), senyawa dengan limpahan tertinggi pada daun belimbing wuluh antara lain propil asetat, dietil phtalat, phytol dan asam ferulat, sedangkan senyawa minor terdiri dari asam kaprat, heksadekanoat dan etil palmitat. Komponen kimia lain yang teridentifikasi dalam daun belimbing wuluh adalah p-nitro-mmethylphenyl benzenesulfonate, acetic acid ethyl ester, acetic acid prophyl ester, butyl ethyl ether, methyl benzene dan 1,2-benzenedicarboxylilic acid diethyl ester (Cyntia, 2006). Bagian tanaman belimbing wuluh yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah bagian bunga, daun dan buah. Bagian buah dan bunga berkhasiat sebagai ekspektoran. Selain itu, buahnya dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional seperti, batuk, sariawan, gusi berdarah, jerawat, panu, tekanan darah tinggi (hipertensi) serta dapat memperbaiki fungsi pencernaan. Bagian daun berkhasiat sebagai antipiretik dan ekspektoran serta dapat digunakan sebagai obat rematik (Anonim, 2006). Khasiat lain yang terdapat dalam daun belimbing wuluh adalah sebagai penurun tekanan darah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hernani, et al (2005) dengan menggunakan hewan uji kucing teranestesi diketahui bahwa penggunaan ekstrak daun belimbing wuluh pada dosis 37.5 mg/kg BB dapat menurunkan tekanan darah kucing sebesar 75.88 mmHg. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hutahaean (2003) terhadap hewan uji tikus putih galur wistar jantan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuntikan dengan ekstrak daun belimbing wuluh secara intraperitoneal dapat menurunkan tekanan darah tikus dari tekanan darah normal (hipotensif). Dosis ekstrak yang digunakan adalah 1 ml/kg bb, 2 ml/kg bb, 4 ml/kg bb, dan

8 ml/kg bb, masing-masing dapat menurunkan tekanan arteri rata-rata sebesar 2.49 mmHg; 2.58 mmHg; 3.73 mmHg; dan 3.02 mmHg (Hutahean, 2003). Pemanfaatan daun belimbing wuluh sebagai obat hipertensi masih terbatas dan kebanyakan yang dimanfaatkan adalah buah belimbing wuluh. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hernani, et al (2005), pemberian ekstrak daun belimbing wuluh terbukti dapat menurunkan tekanan darah hewan uji dan terbukti lebih baik dibandingkan dengan pemberian ekstrak buahnya. Ketika ekstrak buah diinjeksikan terhadap hewan uji, daya kerja jantung meningkat dibandingkan bila menggunakan ekstrak daun.

C. TABLET EFFERVESCENT 1. Definisi Tablet adalah sediaan obat padat takaran tunggal. Sediaan ini dicetak dengan mesin bertekanan tinggi dengan bahan serbuk kering, kristal atau granulat dan umumnya dengan penambahan bahan pembantu. Bentuk sediaan tablet terbukti sangat menguntungkan karena harganya murah. Bentuk tablet takarannya tepat, pengemasannya mudah, tranportasi dan penyimpanannya praktis (stabilitas obatnya terjaga dalam sediaannya) (Voight,1994). Effervescent didefinisikan sebagai bentuk sediaan yang menghasilkan gelembung sebagai hasil reaksi kimia dalam larutan. Dalam ilmu kedokteran campuran effervescent sangat populer. Flavored beverage effervescent adalah sediaan effervescent yang digunakan unuk membuat minuman ringan secara praktis, yaitu dengan cara mencampurkan tablet effervescent ke dalam air. Gas yang dihasilkan saat pelarutan adalah karbondioksida (CO2) sehingga dapat memberikan efek sparkle atau rasa seperti air soda (Mohrle, 1989). Tablet effervescent merupakan tablet berbuih yang dibuat dengan cara kompresi granul yang mengandung garam effervescent atau bahanbahan lain yang mampu melepaskan gas ketika bercampur dengan air (Ansel, 1989). Reaksi yang terjadi pada pelarutan effervescent adalah reaksi antara senyawa asam dan senyawa karbonat untuk menghasilkan

gas CO2. CO2 yang terbentuk dapat memberikan rasa segar, sehingga rasa getir dapat tertutupi dengan adanya CO2 dan pemanis (Juniawan, 2004). Reaksi ini dikehendaki terjadi secara spontan ketika effervescent dilarutkan ke dalam air. Garam-garam effervescent biasanya diolah dari suatu kombinasi asam sitrat dan asam tartarat daripada hanya satu macam asam saja, karena penggunaan bahan asam tunggal saja akan menimbulkan kesukaran. Apabila asam tartarat sebagai asam tunggal, granul yang dihasilkan akan mudah kehilangan kekuatannya dan akan menggumpal. Asam sitrat saja akan menghasilkan campuran lekat dan sukar menjadi granul (Ansel, 1989). Reaksinya adalah sebagai berikut : H3C6H5O7.H2O + 3 NaHCO3
asam sitrat Na-bikarbonat

Na3C6H5O7 + 4 H2O + 3 CO2


Na-sitrat

H2C4H4O6
asam tartarat

+ 2 NaHCO3
Na-bikarbonat

Na2C4H4O6 + 2 H2O + 2 CO2


Na-tartarat

Gambar 1. Reaksi asam-basa pada sediaan effervescent (Ansel, 1989) Pemilihan tablet effervescent untuk sediaan karena tablet effervescent memiliki kelebihan dalam hal ketepatan dosis, stabilitas dan kepraktisannya. Keuntungan lain adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika yang mengandung dosis obat yang tepat (Banker dan Anderson, 1994). Tablet effervescent lebih praktis dan mudah digunakan (Lieberman, et al, 1989).

2. Bahan Baku Pada umumnya bahan baku tablet effervescent terdiri dari zat aktif dan bahan pembantu yang terdiri dari : a. Sumber asam Senyawa asam dapat diperoleh dari tiga sumber utama yaitu asam makanan, asam anhibrida dan garam asam. Asam makanan paling sering dan umum digunakan pada makanan serta secara alami terdapat pada makanan contohnya asam sitrat, asam tartarat, asam malat, asam fumarat, asam adipat dan asam suksinat (Mohrle, 1989).

Asam sitrat memiliki kelarutan yang tinggi dalam air dan mudah diperoleh dalam bentuk granular. Alasan inilah yang menyebabkan mengapa asam sitrat lebih sering digunakan sebagai sumber asam dalam proses pembuatan tablet effervescent (Rohdiana, 2002). b. Sumber basa Senyawa karbonat yang paling banyak digunakan dalam formulasi effervescent adalah garam karbonat kering karena kemampuannya menghasilkan CO2. Sumber karbonat yang yang biasa digunakan adalah natrium bikarbonat, natrium karbonat, kalium hydrogen karbonat dan kalium bikarbonat (Mohrle, 1989). c. Bahan pengisi Bahan pengisi diperlukan bila dosis obat tidak cukup untuk membuat bulk (penuh). Pengisi juga dapat ditambahkan karena alasan untuk memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memacu aliran (Banker dan Anderson, 1994). Bahan ini juga dimaksudkan untuk mencapai bobot tablet dan volume yang diinginkan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan pengisi adalah netral terhadap bahan yang berkhasiat, inert (stabil) secara farmakologi serta tidak boleh berbahaya atau tidak tercampur dengan bahan berkhasiat. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah mudah larut sehingga dapat membentuk larutan yang jernih (Banker dan Anderson, 1994). Beberapa contoh bahan pengisi adalah laktosa, laktosa anhidrat, laktosa spray dried, mannitol, sorbitol, sukrosa (Lieberman, et al, 1990). Laktosa merupakan bahan pengisi yang paling banyak digunakan karena tidak bereaksi dengan hampir semua bahan obat yang digunakan dalam bentuk hidrat atau anhidrat dan dapat larut air (Banker dan Anderson, 1994). d. Bahan pengikat Bahan pengikat berfungsi sebagai perekat yang mengikat komponen dalam bentuk serbuk menjadi granul sampai tablet pada

proses pengempaan (Rohdiana, 2002). Bahan pengikat juga berfungsi sebagai pengikat komponen-komponen tablet sehingga produk tidak pecah ketika dikempa. Pemakaian bahan pengikat disesuaikan dengan bahan aktif, dalam pembuatan tablet effervescent bahan pengikat yang biasa digunakan adalah PVP (Polivinil Pirolidon). Polivinil pirolidon adalah pengikat yang serbaguna dan salah satu yang paling banyak digunakan, mudah larut dalam air, alkohol dan pelarut organik lain. Polivinil pirolidon biasanya digunakan sebagai pengikat di dalam tablet effervescent dan tablet kunyah karena pembuatan dengan pengikat ini mempunyai daya simpan yang lebih lama (Mohrle, 1989). e. Bahan pelincir Bahan pelincir memenuhi fungsi berbeda, antara lain berfungsi sebagai bahan pengatur aliran, bahan pelincir dan bahan pemisah bentuk. Bahan pengatur aliran berfungsi memperbaiki daya luncur massa yang ditabletasi, bahan pelicin berfungsi untuk memudahkan pendorongan tablet ke atas dan ke ruang cetak melalui pengurangan gesekan antara dinding dalam lubang ruang cetak dan permukaan sisi tablet, sedangkan bahan pemisah bentuk berguna untuk menghindarkan lengketnya massa tablet pada stempel dan pada dinding dalam ruang cetak (Rohdiana, 2002). Zat pelincir yang paling banyak dipakai yaitu talk, asam stearat, garam stearat dan derivatnya. Bentuk garam yang paling banyak dipakai adalah kalsium dan magnesium stearat (Banker dan Anderson, 1994). Magnesium stearat [Mg(C18H38O2)2] merupakan salah satu zat pelincir yang digunakan dalam tablet. Antirekat (pelincir) yaitu zat yang meningkatkan aliran bahan memasuki cetakan tablet dan mencegah lekatnya bahan pada cetakan serta membuat tablet menjadi lebih bagus dan mengkilat (Lieberman, et al, 1989). f. Pemanis Pemberi rasa pada sediaan farmasi digunakan untuk bentukbentuk sediaan cair. Seluruh pengecap rasa dimulut berlokasi pada

lidah dan mengadakan respon dengan cepat terhadap sediaan yang diminum. Obat dalam bentuk cair berhubungan langsung dengan pengecap rasa. Penambahan zat pemberi rasa ke dalam sediaan obat dimaksudkan untuk menyembunyikan rasa obat yang tidak disukai. Pemanis yang biasa digunakan adalah sakarin, sukrosa dan aspartam (Ansel, 1989). Aspartam adalah senyawa metil ester dipeptida yang memiliki daya kemanisan 120 280 kali lebih manis dari gula tebu (Ansel, 1989). Aspartam merupakan salah satu bahan tambahan makanan yang telah mengalami test dan percobaan yang mendalam serta menyeluruh (Winarno dan Rahayu, 1994).

3. Pembuatan Tablet Effervescent Proses pembuatan tablet effervescent diperlukan kondisi yang berbeda dengan pembuatan tablet pada tablet konvensional. Pembuatan tablet effervescent diperlukan kondisi khusus yaitu pada kelembaban relatif kurang lebih 25% (Mohrle, 1989). Pembuatan tablet effervescent dibuat memakai dua metode umum yaitu metode granulasi basah dan metode granulasi kering. a. Metode granulasi basah Granulasi adalah suatu proses pengubahan partikel-partikel serbuk menjadi bulatan-bulatan dalam bentuk beraturan yang disebut granul. Butiran yang diperoleh memiliki daya lekat dan sifat alir yang baik. Ukuran granul biasanya berkisar antara ayakan 4-12, walaupun demikian granul dari macam-macam ukuran lubang ayakan dapat dibuat tergantung pada tujuan pemakaiannya (Ansel, 1989). Granul yang baik memiliki bentuk dan warna yang sedapat mungkin homogen, memiliki sifat alir yang baik, memiliki distribusi ukuran partikel yang sempit dan mengandung komponen berbentuk serbuk, menunjukkan kekompakan mekanis yang memuaskan dan tidak terlalu kering serta mudah hancur di dalam air (Voight, 1994). Metode ini adalah metode yang paling tua dan masih banyak digunakan. Metode ini digunakan bila bahan obat tidak dapat dicetak

langsung, misalnya karena sifat kohesif, sifat kompresibilitas dan sifat aliran yang kurang baik sementara dosisnya besar serta memerlukan penambahan pewarna dalam bentuk larutan sehingga dibutuhkan bahan pengikat (Ansel, 1989). Bahan yang akan dicetak dilembabkan dengan larutan pengikat sehingga serbuk terikat bersama dan terasa seperti tanah yang lembab. Kemudian serbuk tersebut dikeringkan dengan menggunakan oven, setelah kering ukurannya diperkecil dengan pengayakan dan siap untuk dicetak. Proses pembuatan tablet dengan metode ini meliputi beberapa tahap yaitu penimbangan, pencampuran awal, pembuatan larutan ikat, penambahan larutan ikat, pengayakan I, pengeringan, pengayakan II, pencampuran lubrikan dan pencetakan (Ansel, 1989). b. Metode granulasi kering Granulasi kering adalah proses granulasi tanpa menggunakan cairan dan panas. Proses granulasi kering dilakukan dengan mengkompresi bahan kering menjadi tablet. Pembuatan tablet dengan metode ini meliputi beberapa tahap yaitu penghalusan, pencampuran awal, pengempaan, granulasi, pencampuran akhir dan pengempaan menjadi tablet (Ansel, 1989).

D. HIPERTENSI Dalam istilah kedokteran tekanan darah tinggi sering disebut dengan nama hipertensi. Hipertensi dapat didefinisikan sebagai kenaikan tekanan darah arteri melebihi batas normal dan bertahan lama (Mutschler, 1991). Guyton dan Hall (1997) menjelaskan bahwa seseorang dinyatakan menderita hipertensi jika tekanan arteri rata-rata lebih tinggi daripada batas atas yang dianggap normal dalam keadaan istirahat, yaitu lebih tinggi dari 110 mmHg. Nilai tersebut terjadi jika tekanan sistoliknya lebih besar dari kira-kira 135 mmHg sampai 140 mmHg dan tekanan diastoliknya lebih besar dari 90 mmHg. Sedangkan menurut WHO, pada keadaan istirahat batas normal teratas untuk tekanan sistolik adalah 160 mmHg dan tekanan diastolik adalah 95

10

mmHg. Dalam mengukur tekanan darah untuk menentukan derajat klasifikasi hipertensi, terdapat beberapa batasan yang digunakan yaitu: Tabel 1. Klasifikasi hipertensi Kategori Tingkat I / Ringan Tingkat II / Sedang Tingkat III / Berat Tingkat IV / Sangat Berat

Tekanan Sistolik 140 159 MmHg 160 179 MmHg 180 209 MmHg 210 MmHg

Tekanan Diastolik 90 99 MmHg 100 109 MmHg 110 119 MmHg 120 MmHg

Sumber : The Joint National Committe-V, 1992

Tekanan darah adalah tekanan yang diperoleh darah untuk dapat mengalir melalui pembuluh darah. Ukuran tekanan darah dinyatakan dalam mmHg dimana Hg merupakan singkatan dari hydragyrum atau air raksa yang terdapat di dalam alat pengukur tekanan darah arteri yang disebut dengan alat Sphygmomanometer atau lebih dikenal dengan alat tensimeter (Wijayakusuma dan Dalimartha, 2000). Tekanan darah mempunyai dua komponen kekuatan, yang pertama kekuatan pendorong yang disebut tekanan sistolik yang mempengaruhi darah karena kontraksi otot jantung dan yang kedua kekuatan penahan yang disebut tekanan diastolik pada dinding pembuluh darah yang lebih kecil yang mengalirkan darah serta mempercepat jalannya darah pada waktu jantung berelaksasi (Tara dan Soetrisno, 2004). Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor genetik atau keturunan, stress, obesitas atau kegemukan serta adanya perubahan pola hidup masyarakat seperti mengkonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi serta mengkonsumsi makanan yang mengandung garam berlebihan.

11

III. BAHAN DAN METODE

A. BAHAN DAN ALAT Pada penelitian ini digunakan bahan baku daun belimbing wuluh yang dideterminasi dari Sukabumi. Bahan kimia yang digunakan adalah etanol, maltodekstrin, laktosa, asam sitrat, asam tartarat, kalium bikarbonat, aspartam, PVP (Polivinil Pirolidon) dan Mg-stearat. Disamping itu digunakan pula bahan untuk analisis adalah toluene, HCl 5N, air suling, etanol 90 persen, heksan, K2SO4, HgO, H2SO4 pekat, H3BO3 dan HCl 0,02N. Alat yang digunakan adalah alat pengaduk, corong, kertas saring, evaporator, erlenmeyer, gelas piala, gelas ukur, freeze dryer, spray dryer, sudip, ayakan, oven dan alat destilat. Alat yang digunakan untuk analisis adalah cawan porselin, cawan aluminium, tanur, labu bersumbat, labu kjedahl, labu lemak, bulk density tester, flowmeter, pH-meter, jangka sorong, pnetrometer dan alat-alat gelas.

B. METODOLOGI 1. Ekstraksi daun belimbing wuluh Daun belimbing wuluh terlebih dahulu dipisahkan dari tangkainya lalu dikeringkan dengan alat pengering (blower) selama 4 jam dengan suhu 40oC. Selanjutnya digiling halus dengan mesin penggiling dan diayak dengan ayakan 50 mesh. Bubuk yang dihasilkan dianalisa komposisi kimianya (Proksimat Analisis). Prosedur disajikan pada Lampiran 1. Bubuk daun belimbing wuluh dimaserasi secara berulang dengan menggunakan pelarut etil alkohol 70 persen. Proses maserasi dilakukan dengan alat ekstraksi yang terbuat dari stanless steel dan dilengkapi dengan agitator. Hasil ekstraksi disaring dan pelarutnya diuapkan dengan rotavapor sampai dihasilkan ekstrak kental. Ekstrak kental yang diperoleh dilakukan pengujian anti hipertensi dengan menggunakan metode berdarah (Lampiran 2). Dari ekstrak kental kemudian ditambahkan bahan pengisi

12

untuk dikeringkan dengan alat pengering semprot menjadi ekstrak kering. Proses ekstraksi daun belimbing wuluh dapat dilihat pada Gambar 2.

Daun belimbing wuluh Pengeringan (50oC, 4 jam) Penggilingan dan penyaringan (50 mesh) Pelarutan dengan etanol (1:5 b/v) Pengadukan (4 jam, 200rpm) Penyaringan Filtrat Pemekatan (rotary evaporator, 50oC) Ekstrak Kental Pengisian (homogenizer) Pengeringan (pengering semprot, 180oC) Ekstrak Kering Ampas

Gambar 2. Diagram alir proses ekstraksi daun belimbing wuluh (Hernani, et al, 2005)

13

2. Penentuan Formulasi Tablet Effervescent Penentuan formulasi tablet effervescent yang digunakan dalam penelitian merupakan modifikasi formulasi dari Juniawan (2004). Modifikasi dilakukan terhadap jenis ekstrak dan jumlah asam sitrat, asam tartarat dan kalium bikarbonat (effervescent mix). Ekstrak yang digunakan berdasarkan perhitungan : 30 mg/kg BB kucing dikonversi terhadap BB manusia = 13 (Lampiran 21) 30 x 2 = 60 mg x 13 = 780 mg : 70 kg = 11 mg/kg BB manusia Rata-rata BB manusia adalah 50 kg. 11 mg/ kg BB manusia x 50 kg = 550 mg = 0.55 g 0.5 g ekstrak Perlakuan yang dicobakan pada penelitian ini adalah konsentrasi effervescent mix terhadap berat total tablet. Perbandingan asam sitrat : asam tartarat : kalium bikarbonat yang digunakan pada formulasi adalah 18 : 28 : 54. Ada empat taraf formulasi yang dicobakan dengan formulasi terlihat pada Tabel 2. Tabel 2. Formulasi tablet effervescent daun belimbing wuluh. Bahan F1 (%) F2 (%) F3 (%) Ekstrak 3,4 3,4 3,4 Laktosa 55,3 50,3 45,3 Asam sitrat 7,2 8,1 9 Asam tartarat 11,2 12,6 14 Kalium bikarbonat 21,6 24,3 27 Mg stearat 0,1 0,1 0,1 Aspartam 1 1 1 PVP 0,2 0,2 0,2
Keterangan : F1 = konsentrasi effervescent mix 40% F2 = konsentrasi effervescent mix 45% F3 = konsentrasi effervescent mix 50% F4 = konsentrasi effervescent mix 55%

F4 (%) 3,4 40,3 9,9 15,4 29,7 0,1 1 0,2

3. Pembuatan Tablet Effervescent Pembuatan tablet effervescent dari ekstrak daun belimbing wuluh dimulai dengan pembuatan granul terlebih dahulu sebelum dikempa. Tablet effervescent dalam penelitian ini dibuat dengan menggunakan metode granulasi basah yang meliputi tahapan penimbangan, pencampuran

14

awal, penambahan larutan pengikat, pengayakan I, pengeringan, pengayakan II, pencampuran lubrikan dan pencetakan tablet. Proses pembuatan tablet effervescent dapat dilihat pada Gambar 3.

Ekstrak kering

Laktosa, aspartam, kalium bikarbonat

PVP

Pencampuran

Pengayakan ayakan no.12

Pengeringan (oven, 50oC, 18 jam)

Pengayakan ayakan no.14

Asam sitrat, asam tartarat

Granul kering

Granul effervescent

Pencetakan tablet

Tablet effervescent

Gambar 3. Diagram alir proses pembuatan tablet effervescent (Said, 2005) Pengujian yang dilakukan meliputi analisis granul dan analisis tablet effervescent. Oleh karena belum adanya standar untuk tablet effervescent, maka untuk menentukan formulasi terbaik digunakan kontrol tablet effervescent komersial. Kontrol yang digunakan adalah tablet effervescent komersial dengan merek A untuk obat panas dalam (tahun 2006).

15

a. Analisis granul 1) Uji Waktu Alir (Wells, 1987) Granul seberat 25 g dituang pelan-pelan ke dalam corong pengukur lewat tepi corong. Tutup corong dibuka pelan-pelan, granul dibiarkan mengalir keluar. Waktu dicatat dengan stopwatch sampai semua granul mengalir keluar. Waktu alir dihitung dengan satuan g/dtk. Pengukuran waktu alir menggunakan flowmeter. Waktu alir yang baik adalah kurang dari 10 g/dtk. 2) Sudut Diam (Wells, 1987) Granul yang jatuh dari sifat alir dan diukur tinggi kerucut yang terbentuk dan panjang dari granul kemudian diukur sudut diamnya dengan rumus : h tg a = r a = inv tg a = sudut diam h = tinggi kerucut r = jari-jari kerucut Tabel 3. Hubungan antara sudut diam dan sifat alir Sudut Diam Sifat Alir <25o Sangat baik 25-30o Baik o 30-40 Cukup >40o Buruk
Sumber : Wells (1987)

3) Kompresibilitas Granul(Wells, 1987) Granul seberat 50 g dituang pelan-pelan ke dalam gelas ukur dan dicatat sebagai Vo (ml). Gelas ukur dipasang pada alat bulk density tester dan motor dihidupkan. Perubahan volum dicatat setelah pengetapan (Vt) dengan t = 10, 50 dan 100 ketukan. Pengurangan volume granul akibat pengetapan dinyatakan dengan rumus :

16

(Vo - Vk) Kompresibilitas Granul = Vo Vo = Volume awal Vk = Volume setelah ketukan Tabel 4. Kriteria Kompresibilitas granul Nilai (%) Kriteria 5-15 Istimewa 12-16 Baik 18-21 Sedang 23-35 Jelek 33-38 Sangat jelek > 40 Sangat jelek sekali
Sumber : Wells (1987)

x 100%

b. Analisis tablet effervescent 1) Nilai pH (Modifikasi Khairani, 2002) Sebuah tablet dilarutkan dalam 200 ml air kemudian diambil 100 ml untuk diukur pH-nya menggunakan pH-meter. 2) Kadar Air Metode Oven (Apriyantono, et al, 1989) Bahan sebanyak 2 g yang telah digerus dan ditimbang, dimasukkan dalam cawan porselin yang telah ditera kemudian diratakan. Cawan kemudian dimasukkan dalam oven suhu 105oC selama 3 jam, ulangi pengerjaan sampai didapat bobot tetap. Kadar air dihitung terhadap sampel. berat awal berat akhir Kadar Air = berat awal 3) Kadar Abu (Depkes, 1989) Bahan sebanyak 2 g atau 3 g yang telah digerus dan ditimbang, dimasukkan dalam cawan porselin yang telah dipijarkan dan ditera kemudian diratakan. Zat kemudian dipijarkan perlahanlahan sampai arang habis kemudian didinginkan dan ditimbang. Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan, maka ditambahkan air panas dan disaring melalui kertas saring bebas abu. Sisa zat dan kertas saring dipijarkan kembali dalam cawan x 100%

17

yang sama. Filtrat dimasukkan dalam cawan dan diuapkan kemudian dipijarkan hingga bobot tetap dan ditimbang. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. berat abu (g) Kadar Abu = berat sampel (g) 4) Penampakan Tablet Sebuah tablet diukur diameter dan tebalnya menggunakan jangka sorong. Pengukuran dilakukan 3 kali di tempat yang berbeda. 5) Kekerasan tablet (Kailaku, 2002) Pengukuran kekerasan dilakukan dengan menggunakan pnetrometer. Sebuah tablet diletakkan di bawah jarum pnetro kemudian ditekan selama 10 detik dan dibaca hasilnya dalam skala. 6) Waktu Larut (Said, 2005) Sebuah tablet dimasukkan dalam air dengan volume 200 ml dalam gelas piala 500 ml. Waktu melarut tablet dicatat dengan stopwatch sampai tablet hancur dan larut. 7) Warna (Colorimeter) (Febriyanti, 2003) Pengukuran warna dilakukan dengan menggunakan colorimeter. Pengukuran warna dilakukan dua kali di tempat yang berbeda. Hasil yang didapat adalah nilai L, a, b dan oHue. Nilai
o

x 100%

Hue diperoleh dari rumus :


o

Hue = arc tg (b/a)

Tabel 5. Kriteria warna berdasarkan oHue o Warna Hue Red purple 342-18 Yellow red 54-90 Yellow green 126-162 Green 162-198 Blue green 198-234 Blue 234-270 Blue purple 270-306 Purple 306-342
Sumber : Huntching (1999)

18

c. Uji Organoleptik Uji organoleptik yang akan dilakukan adalah uji penerimaan dimana setiap panelis diharuskan mengemukakan tanggapan pribadinya terhadap produk yang disajikan. Uji penerimaan yang dilakukan adalah uji hedonik dengan menggunakan 30 panelis. Pada uji ini, panelis diminta mengungkapkan tanggapan pribadinya terhadap warna, aroma dan rasa dari sampel tablet effervescent yang diberikan. Tanggapan tersebut dapat berupa tanggapan suka maupun tidak suka. Skala kesukaan yang digunakan adalah 1-7, dimana angka 1 = sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = agak tidak suka, 4 = netral, 5 = agak suka, 6 = suka, 7 = sangat suka (Rahayu, 1998). Data yang diperoleh, ditabulasikan dan dianalisis dengan analisis statistik non-parametik Friedman.

C. RANCANGAN PERCOBAAN Model rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menggunakan empat taraf yaitu konsentrasi effervescent mix (40%, 45%, 50% dan 55%). Masing-masing taraf terdiri dari 2 kali ulangan. Model matematik : Yij = + i + ij Keterangan : Yij : variable yang akan dianalisis i j : 1,2,.k : 1,2,.n

: rataan umum i : efek blok ke-i i : efek perlakuan ke-i ij : error blok ke-i, perlakuan ke-j

19

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. ANALISIS MUTU BAHAN Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) yang digunakan adalah semua daun yang terdapat dalam satu pohon dan yang berwarna hijau. Daun belimbing wuluh dideterminasi dari Sukabumi. Tampilan daun belimbing wuluh dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Daun dipisahkan dari tangkainya dan dikeringkan kemudian digiling halus sambil diayak dengan ayakan 50 mesh. Proses penggilingan daun dapat mempengaruhi ekstraksi. Menurut Ketaren dan Suastawa (1994), daya ekstraksi akan semakin meningkat dengan semakin kecilnya ukuran bahan, karena kontak antara bahan dan pelarut merupakan proses osmosis yang berjalan lambat. Bubuk daun yang dihasilkan dianalisis komposisi kimianya (proksimat analisis). Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 5. dan tampilan bubuk daun dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Bubuk daun belimbing wuluh

20

Tabel 6. Hasil analisis proksimat daun belimbing wuluh. Karakteristik Daun Rendemen, % 64.26 Kadar air, % 8.80 Kadar abu, % 7.86 Kadar abu tak larut asam, % 0.35 Kadar sari larut dalam air, % 18.17 Kadar sari larut dalam alkohol, % 15.90 Lemak, % 1.72 Protein, % 9.57 Karbohidrat, % 72.05

Depkes (1989) Maks, 7.5 Maks, 1 Min, 18 Min, 11 -

Dari hasil pengujian dapat dilihat bahwa rendemen yang dihasilkan dari daun kering menjadi bubuk kering sebesar 64.26%. Kadar air yang terkandung dalam bahan cukup rendah yaitu sebesar 8.8%. Kadar air yang tinggi akan menyebabkan bahan menjadi mudah rusak ketika disimpan karena adanya pertumbuhan mikroba dan aktivitas enzim penyebab kerusakan. Batas kadar air minimal dimana mikroba masih dapat tumbuh adalah 14-15% (Fardiaz, et al, 1992). Penurunan kadar air sampai mencapai 8.8% melalui proses pengeringan yang memakan waktu relatif lama. Hasil analisis kadar abu yang diperoleh sebesar 7.86%. Nilai tersebut diatas standar yang ditentukan yaitu tidak lebih dari 7.5%. Kadar abu yang tinggi dapat disebabkan oleh tingginya kandungan mineral pada bahan yang dapat dipengaruhi pada lahan tanam atau proses pemupukan selama tanam. Komponen-komponen yang terdapat dalam abu (senyawa anorganik) alami adalah silikat, kalium, natrium, kalsium, magnesium, mangan, besi dan lainlain. Kadar abu merupakan parameter yang menunjukkan banyaknya bahan anorganik yang terdapat dalam bahan (Apriyantono, et al, 1989). Pengujian kadar abu tidak larut asam dilakukan untuk melihat adanya kandungan mineral yang tidak larut asam (HCl). Dari hasil pengujian diketahui bahwa kadar abu tidak larut asam dalam bahan sesuai dengan kriteria mutu (tidak lebih dari 1%) yaitu sebesar 0.35%. Nilai kadar abu tidak larut asam sesuai dengan kriteria mutu yang dapat disebabkan oleh pencucian air panas secara berulang-ulang sampai jernih sehingga menyebabkan kandungan mineral dalam bahan berkurang.

21

Hasil pengujian kadar sari yang larut dalam air sebesar 18.17%, dan nilai tersebut sesuai dengan kriteria mutu yang ditentukan yaitu tidak kurang dari 18%. Pada pengujian kasar sari yang larut etanol didapatkan nilai sebesar 15.9%. Nilai tersebut juga sesuai dengan kriteria mutu yang ditetapkan yaitu tidak kurang dari 11%. Nilai kadar sari larut air yang lebih besar menunjukkan zat-zat yang berkhasiat yang ada dalam daun belimbing wuluh dapat larut lebih baik dalam air dibandingkan dengan etanol. Kadar sari yang larut dalam air atau alkohol menunjukkan adanya zat berkhasiat yang dapat terlarut dalam pelarut yang digunakan. Semakin tinggi kadar yang dihasilkan berarti semakin tinggi kandungan zat berkhasiatnya (Gaman dan Sherington, 1992). Kadar lemak yang terdapat dalam daun belimbing wuluh tergolong cukup rendah yaitu sebesar 1.72%. Lemak atau minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Minyak nabati mengandung asam-asam lemak essensial seperti asam linoleat, linolenat dan arakhidonat yang dapat mencegah penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol dan minyak juga pelarut vitamin A, D, E dan K (Tejasari, 2003). Dari hasil pengujian diketahui bahwa kadar protein yang dihasilkan adalah sebesar 9.57%. Protein merupakan zat gizi yang berfungsi sebagai zat pembangun, zat pengatur dan penghasil kalori. Protein adalah kombinasi dari jumlah dan jenis asam amino. Kadar karbohidrat daun belimbing wuluh cukup tinggi yaitu sebesar 72.05%. Karbohidrat adalah kelompok nutrien yang penting dalam susunan makanan sebagai sumber energi yang mengandung unsur karbon, hidrogen dan oksigen (Gaman dan Sheringgton, 1992).

B. PEMBUATAN EKSTRAK KERING Pembuatan ekstrak kering dimulai dari proses ekstraksi yang menghasilkan ekstrak kental. Tampilan ekstrak kental daun belimbing wuluh disajikan pada Gambar 6.

22

Gambar 6. Ekstrak kental daun belimbing wuluh Ekstrak kental yang dihasilkan terlebih dahulu dilakukan pengujian antihipertensi terhadap hewan uji dengan metode berdarah (Djatmiko, 2001). Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun belimbing wuluh (dosis 30 mg/kg BB) dapat menurunkan tekanan darah (Hernani, et al, 2006). Contoh pembacaan kymograf pada pengujian anti hipertensi disajikan pada Lampiran 3. Ekstrak kental dikeringkan dengan menggunakan pengering semprot (spray dryer) dengan penambahan bahan pengisi (maltodekstrin) menjadi ekstrak kering. Suhu yang digunakan pada pengering semprot adalah suhu inlet 180oC dan suhu outlet 112oC (trial and error). Pada kombinasi kedua suhu ini, serbuk yang dihasilkan berwarna coklat tua dan tidak terlalu lengket. Jika suhu inlet yang dipakai lebih rendah dari suhu tersebut, ekstrak yang dihasilkan banyak yang lengket dalam alat sehingga dapat mengurangi rendemen. Rendemen dan karakteristik fisik ekstrak kering daun belimbing wuluh dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rendemen dan karakteristik fisik ekstrak kering daun belimbing wuluh Penambahan Rendemen Karakteristik fisik Maltodekstrin (%) 0% 11.27 warna coklat kehitaman, lengket 5% 37.83 warna hijau tua, tidak terlalu lengket 10% 37.90 warna hijau tua, tidak terlalu lengket Berdasarkan hasil pengujian, karakteristik ekstrak kering tanpa penambahan bahan pengisi adalah berwarna coklat dan lengket dalam alat sehingga mengurangi rendemen. Penggunaan bahan pengisi 5% dan 10% tidak

23

berbeda dilihat dari penampakan warna tetapi rendemen yang dihasilkan lebih banyak yang menggunakan bahan pengisi 10% sehingga konsentrasi ini (10%) yang dipilih untuk formulasi dalam pembuatan sediaan effervescent. Hal ini didasarkan pada keringnya serbuk yang dihasilkan sehingga akan

mempermudah pencampuran dan rendemen yang dihasilkan lebih banyak. Tampilan ekstrak kering disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7. Ekstrak kering hasil pengering semprot

C. PENGUJIAN TABLET EFFERVESCENT 1. Analisis Granul Secara visual granul tablet effervescent disajikan pada Gambar 8. Analisis granul dilakukan untuk mengetahui baik tidaknya granul sebelum dikempa dengan alat cetak.

Gambar 8. Contoh granul effervescent Granul yang baik adalah granul yang seragam ukurannya dan berbentuk granulat. Pada Gambar 8. menunjukkan bahwa granul yang dihasilkan seragam ukurannya dan berbentuk granulat tetapi warna granul masih kurang seragam. Granul yang seragam menunjukkan sifat alir yang sesuai dengan kriteria Wells (1987). Keseragaman granul akan meningkatkan laju alir dan kompresibilitas saat dilakukan evaluasi granul.

24

a. Waktu alir Pada penentuan waktu alir yang diukur adalah waktu yang diperlukan oleh sejumlah granul untuk mengalir melalui corong. Hasil pengujian waktu alir dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 8. Hasil pengujian waktu alir granul Konsentrasi effervescent mix Waktu alir (g/dtk) 40 % 6.66a 45 % 6.63a 50 % 6.54a 55 % 7.13a
Keterangan : superskrip yang sama pada kolom menunjukkan tidak berbeda nyata (p<0,05).

Dari hasil pengujian diketahui bahwa waktu alir granul berkisar dari 6.54 - 7.13 g/dtk. Hasil tersebut memenuhi syarat granul yang ditentukan oleh Wells (1987) yaitu kurang dari 10 g/dtk. Analisis ragam (Lampiran 4a) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix tidak berpengaruh nyata terhadap waktu alir (p > 0.05). Waktu alir yang pendek akan mempermudah proses transportasi bahan terhadap alat cetak. Kesempurnaan aliran akan menghasilkan bentuk dan bobot yang seragam dari tablet (Lachman, et al, 1989). Perbedaan laju alir granul effervescent dipengaruhi oleh keseragaman bentuk granul. Pencampuran bahan-bahan yang dilakukan secara homogen akan memberikan bentuk granul yang seragam. Selain itu pengayakan dua kali membantu memudahkan pembentukan campuran yang homogen. Semakin seragam bentuk granul maka akan semakin cepat waktu yang dibutuhkan granul ketika melewati corong alat flowmeter (Meirina, 2006).

b. Sudut diam Sudut diam merupakan sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel bentuk kerucut dengan bidang horisontal bila sejumlah serbuk atau granul dituang dalam alat pengukur. Besar kecilnya sudut diam dipengaruhi oleh bentuk, ukuran dan kelembaban granul (Lieberman,

25

et al, 1989). Sudut diam diperoleh dengan cara mengukur diameter dan tinggi tumpukan kerucut. Hasil pengujian sudut diam granul disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil pengujian sudut diam granul Konsentrasi effervescent mix 40% 45% 50% 55%

Sudut Diam (o) 25.36a 25.80a 26.45a 27.09a

Keterangan : superskrip yang sama pada kolom menunjukkan tidak berbeda nyata (p<0,05).

Dari hasil pengujian diketahui bahwa sudut diam yang dibentuk oleh granul berkisar 25.36o - 27.09o. Nilai ini termasuk dalam kriteria baik (Tabel 2). Berdasarkan analisis ragam (Lampiran 4b) diketahui bahwa variasi konsentrasi effervescent mix tidak berpengaruh nyata terhadap sudut diam (p > 0.05). Hal ini dapat disebabkan karena waktu alir yang diperoleh juga hampir sama pada masing-masing perlakuan. Sudut diam dan waktu alir saling berhubungan.

c. Kompresibilitas granul Kompresibilitas menunjukkan penurunan volume granul akibat ketukan atau getaran. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah bentuk, kerapatan dan ukuran partikel (Fudholi, 1983). Hasil pengujian kompresibilitas granul disajikan pada Tabel 10. Tabel 10. Hasil pengujian kompresibilitas granul Konsentrasi effervescent mix Kompresibilitas Granul (%) 40% 11.34a 45% 13.84a 50% 11.11a 55% 13.73a
Keterangan : superskrip yang sama pada kolom menunjukkan tidak berbeda nyata (p<0,05).

Nilai kompresibilitas granul berkisar dari 11.11 - 13.84%. Kompresibilitas ini termasuk ketentuan kriteria baik (Tabel 3). Analisis ragam (Lampiran 4c) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi

26

effervescent mix tidak berpengaruh nyata terhadap kompresibilitas granul (p > 0.05). Nilai kompresibilitas yang berbeda dapat disebabkan adanya larutan pengikat PVP yang mempunyai sifat dapat mempertahankan kestabilan dan kekompakan granul. Larutan pengikat pada jumlah yang sama pada keempat perlakuan yang berbeda memberikan indek kompresibilitas yang sama. Kompresibilitas yang jelek akan

berpengaruh pada saat pencetakan tablet, tablet akan kurang kompak pada saat dicetak (Hasanah, 2006).

2. Analisis Tablet Effervescent Granul yang telah homogen langsung dicetak sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan. Tablet yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Tablet effervescent masing-masing formulasi a. Nilai pH Makanan yang mempunyai pH rendah biasanya tidak dapat ditumbuhi bakteri, tetapi dapat menjadi rusak karena pertumbuhan khamir dan kapang. Dari hasil pengujian, pH tablet effervescent berkisar dari 4.55 - 5.20. Analisis ragam (Lampiran 5a) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap nilai pH (p <

27

0.05). Dengan uji lanjut Duncan (Lampiran 5b), dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi effervescent mix maka semakin tinggi nilai pH tablet effervescent. Nilai pH pada konsentrasi 40% berbeda nyata dengan konsentrasi 45%, 50% dan 55%. Nilai pH tertinggi terdapat pada konsentrasi effervescent mix 55% sebesar 5.20 dan nilai pH yang terendah terdapat pada konsentrasi effervescent mix 40% sebesar 4.55. Nilai pH tersebut masih sesuai dengan pH kontrol yaitu sebesar 4.5. Grafik pengujian nilai pH tablet effervescent disajikan pada Gambar 10.
5.40 5.20 Nilai pH 5.00 4.80 4.60 4.40 4.20 40 45 50 55 Konsentrasi effervescent mix (%)
Keterangan : superskrip yang berbeda pada grafik menunjukkan berbeda nyata (p<0,05).
4.55a 4.75b 5.00c

5.20d

Gambar 10. Grafik pengujian nilai pH tablet effervescent Kenaikan pH dapat disebabkan oleh pemakaian kalium bikarbonat yang terurai menjadi K+ bebas. Ion tersebut berikatan dengan asam organik dan membentuk garam sehingga aktivitas ion H+nya pada asam organik hilang. Hilangnya aktivitas ion H+ dalam larutan menyebabkan aktivitas ion OH- yang lebih dominan sehingga produk bersifat basa (Dede, 2005). Oleh karena itu makanan yang mempunyai pH yang relatif rendah lebih tahan selama penyimpanan dibanding dengan makanan yang mempunyai pH netral atau mendekati netral (Fardiaz, 1989).

28

b. Kadar air Kadar air merupakan salah satu parameter mutu yang penting bagi produk kering karena akan menentukan daya tahan dan daya simpan produk. Dari hasil pengujian diketahui bahwa kadar air dari tablet berkisar antara 1.38 - 2.01%. Analisis ragam (Lampiran 6a) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata pada kadar air (p < 0.05). Dengan uji lanjut Duncan (Lampiran 6b) menunjukkan bahwa konsentrasi 40% berbeda nyata dengan konsentrasi 55%. Semakin tinggi konsentrasi effervescent mix semakin tinggi pula kadar airnya. Nilai kadar air ini masih di bawah kontrol (5.20%), tetapi bukan berarti nilai kadar air kontrol tinggi. Hal ini dapat disebabkan karena terlalu lama tablet berhubungan dengan udara sekitar sehingga cepat meresap dalam tablet. Kadar air tertinggi terdapat pada konsentrasi effervescent mix 55% dan kadar air terendah terdapat pada konsentrasi effervescent mix 40%. Grafik pengujian kadar air tablet effervescent disajikan pada Gambar 11.
2.20 Kadar Air (%) 2.00 1.80 1.60 1.40 1.20 1.00 40 45 50 55 Konsentrasi effervescent mix (%)
Keterangan : superskrip yang berbeda pada grafik menunjukkan berbeda nyata (p<0,05).
1.57 ab 1.38 a 1.63 ab

2.01 b

Gambar 11. Grafik pengujian kadar air tablet effervescent Air dapat menyebabkan sistem effervescent menjadi tidak stabil. Kehadiran air dalam jumlah banyak dapat mengaktifkan sistem effervescent dan dapat bereaksi sebelum waktunya (Lieberman, et al, 1989). Senyawa dalam bentuk granul atau serbuk akan berubah

29

menjadi ion-ion dengan adanya air sehingga mudah bereaksi. Air menyebabkan tablet menjadi mengembang dan lembek. Menurut Lieberman, et al (1989), tablet effervescent bersifat mudah menyerap air dan akan menyerap cukup air sehingga memicu kerusakan jika tidak dikemas dengan benar.

c. Kadar abu Sebagian besar bahan makanan yaitu sekitar 90% terdiri dari bahan organik dan air. Sisanya terdiri atas unsur mineral (zat anorganik). Pada proses pembakaran, bahan organik terbakar tetapi zat anorganiknya tidak terbakar, oleh karena itu disebut abu. Kadar abu suatu bahan makanan menggambarkan banyaknya mineral yang terbakar menjadi zat yang tidak dapat menguap. Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa kadar abu tablet effervescent berkisar antara 21.64 - 23.89%. Analisis ragam (Lampiran 7a) diketahui bahwa variasi

konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap nilai kadar abu. Dengan uji lanjut Duncan (Lampiran 7b) menunjukkan bahwa konsentrasi 40% berbeda nyata dengan konsentrasi 50% dan konsentrasi 55. Kadar abu tablet effevescent tertinggi terdapat pada konsentrasi effervescent mix 55% dan kadar air terendah terdapat pada konsentrasi effervescent mix 40%. Nilai kadar abu tersebut masih sesuai dengan kontrol yaitu 27.10%. Grafik pengujian kadar abu tablet effervescent disajikan pada Gambar 12.

30

24.00 Kadar Abu (%) 23.50 23.00 22.50 22.00 21.50 21.00 40 45
21.64a 23.25ab

23.89b 23.48
b

50

55

Konsentrasi effervescent mix (%)


Keterangan : superskrip yang berbeda pada grafik menunjukkan berbeda nyata (p<0,05).

Gambar 12. Grafik pengujian kadar abu tablet effervescent Kadar abu semakin tinggi dengan semakin tinggi konsentrasi effervescent mix. Kenaikan kadar abu dapat disebabkan oleh kandungan mineral dalam tablet. Mineral yang ada dalam tablet effervescent dapat berasal dari ekstrak daun belimbing wuluh maupun dari bahan baku kalium bikarbonat. Semakin tinggi konsentrasi kalium bikarbonat maka jumlah kalium akan semakin besar (Khairani, 2002). Semakin besar kadar abu suatu bahan makanan maka semakin tinggi mineral yang terkandung didalamnya (Winarno, 1992).

d. Diameter dan tebal tablet Hasil pengukuran diameter dan tebal tablet disajikan pada Tabel 11. Alat untuk mengukur diameter dan tebal tablet adalah jangka sorong. Tabel 11. Hasil pengujian diameter dan tebal tablet effervescent Konsentrasi effervescent mix Diameter (cm) Tebal (cm) 40% 0.70a 2.79a b 45% 0.69 2.81a 50% 0.65b 2.81b c 55% 0.70 2.84a
Keterangan : superskrip yang berbeda pada kolom menunjukkan berbeda nyata (p<0,05).

31

Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa diameter tablet effervescent berkisar 2.79 - 2.84 cm. Nilai tersebut masih sesuai dengan kontrol yang memiliki diameter tablet sebesar 2.53 cm. Analisis ragam (Lampiran 8a) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap diameter tablet (p < 0.05). Dengan uji lanjut Duncan (Lampiran 8b), diperoleh hasil bahwa diameter tablet pada konsentrasi 40% berbeda nyata dengan semua variasi konsentrasi effervescent mix, konsentrasi 45% tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 50% dan konsentrasi 55% berbeda nyata dengan semua konsentrasi effervescent mix. Hal ini dapat disebabkan karena pengolesan Mg-stearat pada bagian dalam cetakan yang dilakukan dengan tangan. Tebal tablet effervescent yang diperoleh dari hasil pengujian berkisar 0.65 - 0.70 cm. Nilai tersebut masih sesuai dengan kontrol yaitu 0.66 cm. Analisis ragam (Lampiran 9a) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap tebal tablet (p < 0.05). Dengan uji lanjut Duncan (Lampiran 9b) diperoleh hasil bahwa konsentrasi 50% berbeda nyata dengan konsentrasi 40%, 45% dan 55%. Ketebalan tablet dipengaruhi tekanan pada saat mencetak tablet. Alat yang digunakan untuk mencetak tablet dibantu dengan tekanan tangan. Perbedaan diameter dan tebal tablet yang dihasilkan apabila dilihat dari segi fisik atau secara kasat mata tidak terlalu berpengaruh terhadap bentuk tablet.

e. Kekerasan Kekerasan bahan didefinisikan sebagai daya tahan terhadap deformasi. Sifat ini dipengaruhi oleh kadar air, suhu dan umur bahan. Hubungan kekerasan dan daya hancur serta kecepatan melarut obat sangat dekat. Dari hasil pengujian diketahui bahwa nilai kekerasan tablet berkisar 0.06 - 0.16/g.mm.dtk. Analisis ragam (Lampiran 10a) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap nilai

32

kekerasan. Berdasarkan uji lanjut Duncan (Lampiran 10b) dapat diketahui bahwa konsentrasi 55% berbeda nyata dengan konsentrasi 40%, 45% dan 50%. Nilai kekerasan tertinggi terdapat pada konsentrasi effervescent mix 55% dan nilai kekerasan terendah terdapat pada konsentrasi effervescent mix 40%. Nilai tersebut di atas standar kontrol yaitu sebesar 0 (keras). Grafik pengujian kekerasan tablet effervescent disajikan pada Gambar 13.
0.18 0.14
0.10a 0.16b

Kekerasan (/g.mm.dtk)

0.10
0.06a

0.08a

0.06 0.02 40 45 50 55 Konsentrasi effervescent mix (%)

Keterangan : superskrip yang berbeda pada grafik menunjukkan berbeda nyata (p<0,05).

Gambar 13. Grafik pengujian kekerasan tablet effervescent Perbedaan kekerasan dapat disebabkan karena perbedaan tekanan pada saat pencetakan tablet. Tablet effervescent daun belimbing wuluh dibuat dengan menggunakan cetakan manual yang ditekan dengan tangan sebanyak 10 kali untuk masing-masing tablet. Semakin tinggi konsentrasi effervescent mix, semakin lunak tablet yang dihasilkan. Tablet effervescent yang dihasilkan harus memiliki nilai kekerasan yang minimal agar dapat meningkatkan kecepatan melarut tablet (Said, 2005). Perbedaan nilai kekerasan tablet juga dapat disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi effervescent mix maka air yang terserap oleh tablet juga semakin banyak sehingga tablet menjadi lunak.

33

f. Waktu larut Waktu larut menunjukkan banyaknya waktu yang dibutuhkan oleh tablet dalam suatu ukuran saji (serving size) untuk dapat larut sempurna dalam volume tertentu air. Waktu larut tablet effervescent berkisar 4 - 5 menit. Analisis ragam (Lampiran 11a) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap daya larut tablet effervescent. Pada uji lanjut Duncan (Lampiran 11b), diperoleh hasil bahwa konsentrasi 40% berbeda nyata dengan konsentrasi 55%. Pada konsentrasi effervescent mix 40% memiliki waktu larut tercepat dan waktu larut terlama terdapat pada konsentrasi effervescent mix 55%. Waktu larut yang diperoleh termasuk lambat dibanding dengan kontrol (2.24 menit). Hasil pengujian waktu larut tablet effervescent disajikan pada Gambar 14.
5.00 Waktu Larut (menit)

4.75b 4.32ab

4.50
3.93a

4.26 ab

4.00

3.50 40 45 50 55 Konsentrasi effervescent mix (%)


Keterangan : superskrip yang berbeda pada grafik menunjukkan berbeda nyata (p<0,05).

Gambar 14. Hasil pengujian waktu larut tablet effervescent Waktu larut yang lambat dapat disebabkan pada saat

penambahan cairan pengikat selama proses granulasi telah terjadi reaksi karbonasi sehingga menyebabkan daya effervescing berkurang. Kelembaban udara disekitar tablet setelah dibuka kemasannya saat diuji juga akan menyebabkan menurunnya kualitas yang cepat dari produk terutama daya larut tersebut. Kekerasan tablet juga berpengaruh terhadap kekerasan, semakin lunak tablet yang dihasilkan

34

maka akan semakin lama daya larutnya. Perbedaan waktu larut tablet effervescent dapat disebabkan oleh semakin tinggi konsentrasi effervescent mix maka menyebabkan semakin banyak air yang terserap oleh tablet sehingga waktu larutnya menjadi lambat.

g. Warna Secara kuantitatif, pengukuran warna tablet effervescent dengan menggunakan colorimeter dapat dilihat pada Tabel 12. Pengujian warna kromatik bertujuan untuk mengetahui warna sampel secara teoritis. Nilai L menyatakan parameter kecerahan yang memiliki nilai 0 (hitam) sampai 100 (putih). Nilai a menyatakan campuran warna merah sampai hijau dengan nilai +a (0 sampai +100) untuk warna merah dan nilai a (0 sampai -100) untuk warna hijau. Nilai +100) untuk warna kuning dan b negatif (0 sampai -100) untuk warna biru. Tabel 12. Hasil pengujian warna (colorimeter) Konsentrasi Warna effervescent mix L a 40% 64.61 13.25 45% 66.07 12.50 50% 63.43 13.42 55% 61.97 14.54

Hue

b 69.61 74.79 81.09 83.77

79.03 80.51 80.61 80.16

Nilai L dari hasil pengukuran berkisar antara 61.97-66.07. Hasil ini menunjukkan bahwa kecerahan warna tablet effervescent semakin rendah dengan semakin tingginya konsentrasi effervescent mix. Dari hasil pengukuran, nilai a yang diperoleh berkisar 12.50-14.54. Peningkatan konsentrasi effervescent mix memberikan nilai a yang semakin besar. Nilai a yang positif ini menunjukkan bahwa warna tablet didominasi warna merah. Nilai b yang didapatkan dari hasil pengukuran berkisar antara 69.61-83.77. Nilai b semakin besar dengan meningkatnya
o

konsentrasi

effervescent

mix.

Nilai

positif

menunjukkan bahwa warna tablet didominasi warna kuning. Nilai Hue tablet effervescent berkisar 79.03-80.61 yang menghasilkan warna yellow red (Tabel 4). Nilai oHue didefinisikan sebagai warna

35

yang terlihat baik yang terdiri dari satu warna maupun campuran warna. Berdasarkan penampakan tablet (Gambar 10) juga dapat diketahui bahwa tablet effervescent yang dihasilkan didominasi oleh warna kuning.

3. Uji Organoleptik Uji organoleptik yang dilakukan adalah uji hedonik (kesukaan) pada tablet effervescent dengan perbedaan konsentrasi effervescent mix. Uji organoleptik ini dilakukan untuk mengetahui tanggapan kesukaan panelis terhadap penampakan umum tablet, warna, aroma dan rasa seduhan tablet effervescent. Format penilaian uji kesukaan dapat dilihat pada Lampiran 12. a. Penampakan tablet Penampakan umum tablet didasarkan pada semua permukaan tablet baik bentuk maupun teksturnya. Rekapitulasi nilai kesukaan terhadap penampakan umum tablet disajikan pada Lampiran 13. Analisis statistik non-parametrik Friedman (Lampiran 14a),

menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap penampakan tablet (p < 0.05). Analisis frekuensi kesukaan (Lampiran 14b) menunjukkan bahwa konsentrasi effervescent mix 40% mendapatkan nilai kesukaan tertinggi (sangat suka) sedangkan konsentrasi 55% mendapatkan nilai kesukaan terendah. Histogram uji kesukaan terhadap penampakan tablet disajikan pada Gambar 15.

36

100%

Frekuensi Kesukaan

7 80% 60% 40% 20% 0% 6 5 4 3 2 1

40%

45%

50%

55%

Konsentrasi effervescent mix


Skala kesukaan: 1 = sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = agak tidak suka, 4 = netral, 5 = agak suka, 6 = suka, 7 = sangat suka.

Gambar 15. Histogram uji kesukaan terhadap penampakan tablet effervescent Perbedaan kesukaan terhadap penampakan tablet dapat

disebabkan panelis lebih suka dengan tablet yang halus permukaan dan warnanya seragam. Penampakan tablet yang dihasilkan memiliki warna yang kurang seragam dan teksturnya kurang padat. Oleh karena itu, panelis lebih menyukai tablet pada konsentrasi effervescent mix 40% karena tablet yang dihasilkan memiliki warna yang seragam dan permukaan yang halus.

b. Warna Penilaian warna digunakan dalam pengujian organoleptik karena warna mempunyai peranan penting terhadap tingkat penerimaan produk secara visual. Rekapitulasi nilai kesukaan terhadap warna tablet dapat dilihat pada Lampiran 15. Analisis statistik non-parametrik Friedman (Lampiran 16a) terhadap warna seduhan tablet effervescent menunjukkan variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap skor warna (p < 0,05). Analisis frekuensi kesukaan (Lampiran 16b) menunjukkan bahwa konsentrasi 40% mendapatkan nilai kesukaan warna yang tertinggi (sangat suka) sedangkan tablet dengan konsentrasi 50% mendapatkan nilai kesukaan warna terendah. Histogram uji kesukaan terhadap warna seduhan tablet effervescent disajikan pada Gambar 16.

37

100%

Frekuensi Kesukaan

80% 60% 40% 20% 0%

7 6 5 4 3 2

40%

45%

50%

55%

Konsentrasi effervescent mix


Skala kesukaan : 1 = sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = agak tidak suka, 4 = netral, 5 = agak suka, 6 = suka, 7 = sangat suka.

Gambar 16. Histogram uji kesukaan terhadap warna seduhan tablet effervescent Warna tablet effervescent dipengaruhi oleh bahan baku terutama ekstrak yang mendominasi warna kuning. Warna merupakan ciri-ciri bahan yang dapat dikenali melalui indera penglihatan. Warna bahan tergantung pada pencampuran bahan tersebut. Selain itu juga tergantung pada kemampuan dari bahan tersebut untuk memantulkan, menyebarkan, menyerap dan meneruskan sinar tampak (Soekarto, 1981).

c. Aroma Aroma suatu produk dapat dinilai dengan cara mencium bau yang dihasilkan dari produk tersebut. Pembauan merupakan penilaian mutu produk pangan dalam jarak jauh atau disebut juga penciuman jarak jauh karena manusia dapat mengetahui enak atau tidaknya suatu produk pangan yang belum terlihat hanya dengan mencium baunya dari jarak jauh (Soekarto, 1981). Aroma yang digunakan adalah aroma minuman (tablet yang sudah dilarutkan dalam air). Rekapitulasi nilai kesukaan disajikan pada Lampiran 17. Analisis statistik nonparametrik Friedman (Lampiran 18a) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap skor aroma (p < 0.05).

38

Analisis frekuensi kesukaan (Lampiran 18b) menunjukkan bahwa konsentrasi 50% mendapatkan nilai kesukaan tertinggi (suka) dan konsentrasi 45% mendapatkan nilai kesukaan terendah. Histogram uji kesukaan terhadap aroma seduhan tablet effervescent disajikan pada Gambar 17.
100%

Frekuensi Kesukaan

80% 60% 40% 20% 0%

6 5 4 3 2 1

40%

45%

50%

55%

Konsentrasi effervescent mix


Skala kesukaan : 1 = sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = agak tidak suka, 4 = netral, 5 = agak suka, 6 = suka, 7 = sangat suka.

Gambar 17. Histogram uji kesukaan terhadap aroma seduhan tablet effervescent Aroma yang terdapat pada tablet effervescent dapat berasal dari aroma yang dihasilkan oleh ekstrak daun belimbing. Asam yang digunakan dalam bahan baku tablet effervescent juga dapat mempengaruhi aroma seperti asam dalam tablet.

d. Rasa Rasa dapat dinilai dengan adanya tanggapan kimiawi oleh indera pencicip. Rasa merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan keputusan akhir konsumen untuk menerima atau menolak suatu produk pangan. Rasa adalah komponen terakhir dalam menentukan enak atau tidaknya suatu produk. Rekapitulasi nilai kesukaan terhadap skor rasa tablet effervescent dapat dilihat pada Lampiran 19. Analisis statistik non-parametrik Friedman (Lampiran 20a) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh terhadap skor rasa (p < 0,05).

39

Analisis frekuensi kesukaan (Lampiran 20b) menunjukkan konsentrasi 40% dan 50% mendapatkan nilai kesukaan yang tertinggi (suka) sedangkan konsentrasi 45% mendapatkan nilai kesukaan yang terendah. Histogram uji kesukaan terhadap rasa seduhan tablet effervescent disajikan pada Gambar 18.
100% Frekuensi Kesukaan 80% 60% 40% 20% 0% 40% 45% 50% 55% Konsentrasi effervescent mix
Skala kesukaan : 1 = sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = agak tidak suka, 4 = netral, 5 = agak suka, 6 = suka, 7 = sangat suka.
6 5 4 3 2 1

Gambar 18. Histogram uji kesukaan terhadap rasa seduhan tablet effervescent Rasa yang dihasilkan dari tablet effervescent ini adalah rasa agak asam. Dari hasil uji kesukaan dapat dilihat bahwa panelis banyak yang lebih suka dengan rasa asam yang tidak kuat. Rasa asam berasal dari campuran asam sitrat dan asam tartarat. Rasa asam merupakan ciri khas dari minuman bersoda karena adanya asam bereaksi dengan karbonat untuk membentuk CO2 (Rohdiana, 2002).

40

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Tablet effervescent ekstrak daun belimbing wuluh dibuat dengan menggunakan metode granulasi basah. Pada pengujian granul effervescent diperoleh hasil bahwa variasi konsentrasi effervescent mix tidak berpengaruh nyata terhadap waktu alir, sudut diam dan kompresibilitas granul (6.54-7.13 g/dtk, 25.36-27.09o, 11.11-13.73%). Hasil pengujian granul effervescent sesuai dengan kriteria baik. Pengujian tablet effervescent menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap nilai pH, kadar air, kadar abu, diameter dan tebal tablet, kekerasan tablet dan waktu larut. Karakteristik tablet effervescent yang dihasilkan, memiliki nilai pH sebesar 4.55-5.20, kadar air sebesar 1.38-2.01% dan kadar abu sebesar 21.64-23.89%. Waktu larut tablet effervescent sekitar 3.93-4.75 menit, kekerasan tablet berkisar 0.060.16/g.mm.dtk serta diameter dan tebal tablet sebesar 2.79-2.84 cm dan 0.650.70 cm. Berdasarkan oHue, tablet effervescent mempunyai warna yellow red (79.03-80.61o). Hasil analisis statistik non-parametrik Friedman untuk uji organoleptik menunjukkan bahwa variasi konsentrasi effervescent mix berpengaruh nyata terhadap penampakan tablet, warna, aroma dan rasa seduhan tablet effervescent. Hasil uji organoleptik tablet effervescent yang paling disukai oleh konsumen berdasarkan penampakan tablet, warna dan rasa adalah tablet effervescent dengan konsentrasi effervescent mix 40%. Berdasarkan karakteristik fisik dan sifat organoleptik, formulasi terbaik tablet effervescent ekstrak daun belimbing wuluh adalah tablet effervescent dengan konsentrasi effervescent mix 40% (perbandingan asam sitrat : asam tartarat : kalium bikarbonat adalah 18: 28: 54).

41

B. SARAN Perlu dilakukan pengujian mengenai pengaruh tekanan yang digunakan untuk mencetak tablet. Waktu larut yang lambat dapat dikurangi dengan memenuhi persyaratan dalam proses pembuatan tablet yang dilakukan dalam ruangan dengan RH dan suhu yang rendah. Tablet ini dibuat sebagai alternatif obat hipertensi sehingga perlu dilakukan pengujian hipertensi terhadap tablet effervescent yang telah dibuat dengan metode oral terhadap hewan uji tikus (mencit).

42

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Belimbing Wuluh. http://www.idionline.org/05_infodk_obattrad2.htm (November, 2006). Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Terjemahan : Farida Ibrahim. Edisi IV. UI Press. Jakarta. Apriyantono, A., D. Fardiaz, N. L. Puspitasari dan S. Budiyanto. 1989. Analisis Pangan. IPB Press. Bogor. Arland. 2006. Iptek obat : Belimbing wuluh. Sumber data : Bppt. http://groups.google.co.id/group/keluargaislam/browse_thread/thread/1a74de2730058a4f/53fcadad5f6391fc%2353f cadad5f6391fc ( 19 Agustus, 2006). Banker, G. S. Dan N. R. Anderson. 1994. Tablet didalam L. Lachman, H.A. Lieberman, and J.L. Kanig. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Terjemahan : Siti Suyatmi. Jilid II. Edisi 3. UI Press. Jakarta. Cyntia, R. 2006. Pemisahan komponen kimia ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Laporan Magang. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor. Dede, Y. 2005. Studi kasus fisika pangan pembuatan tablet effervescenti sari buah tomat. Skripsi. FMIPA. IPB. Bogor. Depkes, RI. 1989. Materia Medika Indonesia. Jilid V. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta. Djatmiko, M., D. Suhardjono dan A. E. Nugroho. 2001. Uji praklinik efek farmakologi dan kisaran dosis jamu Tensigard sebagai obat anti hipertensi. Majalah Farmasi Indonesia. 12 (1) : 38-49. Fardiaz, S. 1989. Praktek Mikrobiologi Pangan. Lembaga Sumberdaya Informasi. IPB. Bogor. Fassihi, G. S. dan Anderson N. R. 1986. Effect of compresibility and powder flow properties on tablet weight variation. Drug Development and Industry Pharmacy. 2nd Edition. Marcel Dekker Inc. New York. Febriyanti. 2003. Formulasi minuman instan markisa (Passiflora edulis f.edulis Sims.)-terung Belanda (Cyphomandra betacea Sendt.) effervescen. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

43

Forum Komunikasi Fakultas Pertanian UGM. Tanaman obat keluarga : Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). http://www.ihconline.info/index2.php?option=content&do_pdf=1&id=62#search=%22ka lium%20belimbing%20wuluh%22, (17 April 2006). Fudholi, A. 1983. Teknologi dan formulasi sediaan obat bahan alam dan permasalahannya. Pharmacon : Jurnal Farmasi Indonesia 2(1). Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah. Surakarta. Gaman, P. M. dan K. B. Sherington. 1992. Ilmu Pangan : Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi. Gajah Mada Universitas Press. Yogyakarta. Guyton, A. C. dan J. E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Terjemahan : I. Setiawan. EGC, Jakarta. Hasanah, F. 2006. Formulasi granul effervescent berbahan baku yoghurt probiotik bubuk dengan metode granulasi basah. Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil Ternak. Fapet, IPB. Bogor. Hernani, T. Marwati dan C. Winarti. 2005. Teknologi pemanfaatan tanaman obat untuk bahan baku industri biofarmaka. Laporan akhir kegiatan penelitian. Balai Besar Penelitian dan pengembangan Pasca Panen Pertanian. Bogor. Hernani, T. Marwati dan C. Winarti. 2006. Teknologi pemanfaatan tanaman obat untuk bahan baku industri biofarmaka. Laporan akhir kegiatan penelitian. Balai Besar Penelitian dan pengembangan Pasca Panen Pertanian. Bogor. Huntching, J. B. 1999. Food Color and Apperance. Aspen Publishing Inc. Gaitersburg Mary Land. Hutahean, R. E. 2003. Pengaruh ekstrak daun Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap tekanan darah dan frekuensi denyut jantung Tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar jantan. Skripsi. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB. Bandung. Juniawan, H. 2004. Formulasi tablet effervescent ekstrak kencur (Kaempferia galanga L.) dengan variasi jumalh asam sitrat asam tartarat. Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Khairani, N. 2002. Pembuatan ganoderma effervescent. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor. Ketaren, S. Dan Suastawa I. G. M. 1994. Pengaruh Tingkat Mutu Buah Panili (Vanilla planifolia A.) dan Nisbah Bahan dengan Pelarut Terhadap Rendemen dan Mutu Oleoresin yang Dihasilkan. Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Vol 5(3). Fateta. IPB. Bogor.

44

Lachman L., H. A. Lieberman, and J. L. Kanig. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Terjemahan : Siti Suyatmi. Jilid II. Edisi 3. UI Press. Jakarta. Lieberman, H. A., L. Lachman, and J. B. Schwartz. 1989. Pharmaceutical Dosage Forms : Tablet. Volume I. Second Edition : Revised and Expanded. Marcel Dekker Inc. New York. Lieberman, H. A., L. Lachman, and J. B. Schwartz. 1990. Pharmaceutical Dosage Forms : Tablet. Volume II. Second Edition : Revised and Expanded. Marcel Dekker Inc. New York. Meirina, R. 2006. Pembuatan granul effervescent susu kambing dengan metode granulasi basah. Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil Ternak. Fapet, IPB. Bogor. Mohrle, R. 1989. Effervescent Tablet, in H. A. Lieberman, L. Lachman, and J. B. Schwartz. Pharmaceutical Dosage Forms : Tablet. Volume I. Second Edition : Revised and Expanded. Marcel Dekker Inc. New York. Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat : Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi. Edisi V. Terjemahan : W. B. Widianto dan A. S. Setiadi. Penerbit ITB. Bandung. Rahayu, W. P. 1998. Penuntun Praktikum Penilaian Organoleptik. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. IPB. Bogor. Rohdiana, D. 2002. Mengenali teknologi tablet effervescent. http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0403/10/cakrawala/lainnya2.htm. Said, N. 2005. Pembuatan tablet effervescent susu kambing dengan metode granulasi basah. Skripsi. Fakultas Peternakan, IPB. Bogor. Soekarto, S. T. 1981. Penilaian Organoleptik. Pusat Pengembangan Teknologi Pangan, IPB. Bogor. Tara, E. dan E. Soetrisno. 2004. Buku pintar Terapi Hipertensi. Restu Agung dan Taramedia, Jakarta. Tejasari. 2003. Nilai Gizi Pangan. Penerbit Graha Ilmu. Yogyakarta. The Joint National Committe. 1992. Didalam Farmakologi dan Terapi. S. G. Ganiswarna. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi V. Terjemahan : Soewandi N. Cetakan ke-2. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Wells, J. I. 1987. Pharmaceutical preformulation : the phsicochemical properties of drug substance. John Wiley and Sons, New York.

45

Wijayakusuma, H. dan S. Dalimartha. 2000. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Darah Tinggi. Cetakan 6. Penebar Swadaya, Jakarta. Winarno, F. G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia. Jakarta. Winarno, F. G. dan T. S. Rahayu. 1994. Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Winarti, C dan T. Marwati. 2006. Beberapa penelitian tanaman obat yang berkhasiat anti hipertensi. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Kelompok Kerja Tanaman Obat Indonesia XXIX tanggal 24-25 Mei 2006 di UNS, Solo.

46

LAMPIRAN

Lampiran 1. Analisis proksimat daun belimbing wuluh 1. Rendemen Rendemen merupakan perbandingan antara jumlah bubuk setelah digiling dengan jumlah daun belimbing kering. jumlah bubuk kering daun (g) Rendemen = jumlah daun belimbing wuluh kering (g) 2. Kadar Air (Voight, 1994) Sebanyak 5 g bahan dimasukkan ke dalam labu asah 250 ml kemudian ditambahkan 200 ml toluen. labu suling dipanaskan perlahan-lahan sampai toluen mendidih. Jika jumlah air tidak bertambah lagi, penyulingan dilanjutkan selama 15 menit. Selanjutnya penyulingan dihentikan dan alat dibiarkan dingin. Jika air dan toluen telah terpisah secara sempurna, volume dan persentase air dalam bahan dihitung. 3. Kadar Abu (Depkes, 1989) Bahan sebanyak 2 g atau 3 g yang telah digerus dan ditimbang, dimasukkan dalam cawan porselin yang telah dipijarkan dan ditera kemudian diratakan. Zat kemudian dipijarkan perlahan-lahan sampai arang habis kemudian didinginkan dan ditimbang. Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan, maka ditambahkan air panas dan disaring melalui kertas saring bebas abu. Sisa zat dan kertas saring dipijarkan kembali dalam cawan yang sama. Filtrat dimasukkan dalam cawan dan diuapkan kemudian dipijarkan hingga bobot tetap dan ditimbang. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. 4. Kadar Abu tidak Larut Asam (Depkes, 1989) Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu didihkan dengan 25 ml asam klorida encer (5 N) selama 5 menit. Bagian yang tidak larut asam dikumpulkan. Bagian yang telah dikumpulkan disaring melalui kertas saring kemudian dicuci dengan air panas dan setelah itu dipijarkan kembali hingga bobot tetap lalu ditimbang. Kadar abu yang tidak larut asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. x 100%

48

5. Kadar Sari yang Larut Dalam Air (Depkes, 1989) Serbuk yang akan dianalisa dikeringkan di udara, kemudian 5 g serbuk dimaserasi dengan 100 ml air menggunakan labu bersumbat selama 24 jam sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Setelah itu dilakukan penyaringan, sebanyak 20 ml filtrat yang diperoleh diuapkan hingga kering dalam cawan porselin yang telah ditara, sisa dipanaskan pada suhu 105 oC hingga bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam air dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. 6. Kadar Sari yang Larut Etanol (Depkes, 1989) Serbuk yang akan dianalisa dikeringkan di udara, kemudian 5 g serbuk dimaserasi dengan 100 ml etanol (95%) menggunakan labu bersumbat selama 24 jam sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Setelah itu dilakukan penyaringan cepat untuk menghindarkan penguapan etanol, sebanyak 20 ml filtrat yang diperoleh diuapkan hingga kering dalam cawan porselin yang telah ditara, sisa dipanaskan pada suhu 105 oC hingga bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam etanol dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. 7. Kadar Lemak (Metode Ekstraksi Soxhlet) Labu lemak yang akan digunakan dikeringkan dalam oven bersuhu 105110 oC, didinginikan dalam desikator dan ditimbang. Sampel dalam bentuk tepung ditimbang sebanyak 5 g dibungkus dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam alat ekstraksi yang telah berisi pelarut (heksana). Reflux dilakukan selama 5 jam dan pelarut yang ada dalam labu lemak didistilasi. Selanjutnya labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 105 didinginkan dalam desikator dan ditimbang. berat lemak (g) Kadar Lemak = berat sampel (g) x 100%
o

C sampai beratnya konstan,

49

8. Kadar Protein (Metode Kjedahl) Sebanyak 0.1-0.5 g sampel dimasukkan ke dalam labu kjedahl dan ditambahkan 1.9 g K2SO4, 40 mg HgO dan 2 ml H2SO4. Sampel didihkan selama 1-1.5 jam sampai cairan menjadi jernih. Sampel didinginkan dan ditambah sejumlah kecil air secara perlahan-lahan. Isi tabung dipindahkan ke alat destilat dan labu dibilas 5-6 kali dengan 1-2 ml air. Air cucian dipindahkan ke labu destilat dan didestilasi sampai diperoleh 15 ml destilat yang berwarna hijau. Destilasi dilakukan dengan meletakkan erlenmeyer berisi 5 ml larutan H3BO3 dan 2 tetes indikator (campuran 2 bagian merah methil 0.2% dalam alkohol dan 1 bagian metilen blue 0.2% dalam alkohol) dan ditambahkan NaOH-Na2S2O3 sebanyak 8-10 ml. Isi erlenmeyer diencerkan sampai kira-kira 50 ml kemudian dititrasi dengan HCl 0,02 N sampai terjadi perubahan warna. Penetapan untuk blanko juga dilakukan. (ml HCl ml blanko) x NHCl x 14,007 x 100 Kadar N = mg sampel Kadar Protein = %N x faktor konversi (6,25) 8. Kadar Karbohidrat by difference Kadar karbohidrat = 100% - (kadar air + kadar abu + kadar lemak + kadar protein)

50

Lampiran 2. Diagram alir pengujian anti hipertensi (Djatmiko, 2001) Hewan uji (kucing) Anastesi Pembukaan vena fumoralis pada paha Pembukaan arteri carotis pada leher Penyuntikan heparin Penyuntikan epineprin Penyuntikan larutan uji (ekstrak) Pembacaan kimograf

51

Lampiran 3. Contoh pembacaan kymograf pada pengujian anti hipertensi (Hernani, et al, 2006). Pola tekanan darah setelah penyuntikan epineprin
177 mmHg*

tekanan darah normal : 120 mmHg *Tekanan darah hewan uji saat mengalami hipertensi

Pola tekanan darah setelah penyuntikan ekstrak (0.25ml = 8mg/kg BB)


33.5 mmHg*

Pola tekanan darah setelah penyuntikan ekstrak (0.50ml = 15mg/kg BB)


38.5 mmHg*

Pola tekanan darah setelah penyuntikan ekstrak (0.75ml = 23mg/kg BB)


50 mmHg*

Pola tekanan darah setelah penyuntikan ekstrak (1ml = 30mg/kg BB)


52,5 mmHg*

*Penurunan tekanan darah setelah disuntikkan ekstrak daun belimbing wuluh

Keterangan : Dosis yang digunakan dalam formulasi tablet effervescent adalah dosis yang mampu menurunkan tekanan darah yang paling besar dari tekanan darah normal.

52

Lampiran 4. Hasil analisis ragam pengujian granul effervescent

Lampiran 4a. ANOVA terhadap waktu alir granul


ANOVA Waktu Alir Granul Sum of Squares .414 .844 1.258 df 3 4 7 Mean Square .138 .211 F .654 Sig. .621

Between Groups Within Groups Total

Lampiran 4b. ANOVA terhadap sudut diam granul


ANOVA Sudut Diam Sum of Squares 3.435 1.923 5.358 df 3 4 7 Mean Square 1.145 .481 F 2.382 Sig. .210

Between Groups Within Groups Total

Lampiran 4c. ANOVA terhadap kompresibilitas granul


ANOVA Kompresibilitas Granul Sum of Squares 19.680 101.130 120.811 df 3 8 11 Mean Square 6.560 12.641 F .519 Sig. .681

Between Groups Within Groups Total

53

Lampiran 5. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap pH tablet effervescent Lampiran 5a. ANOVA terhadap pH tablet effervescent
ANOVA pH Sum of Squares .710 .030 .740 df 4 5 9 Mean Square .178 .006 F 29.583 Sig. .001

Between Groups Within Groups Total

Lampiran 5b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)


pH Duncan
a

Perlakuan Kontrol "Jess Cool" 40% 45% 50% 55% Sig.

N 2 2 2 2 2

1 4.5000 4.5500

Subset for alpha = .05 2 3

4.7500 5.0000 .547 1.000 1.000 5.2000 1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.

54

Lampiran 6. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap kadar air tablet effervescent Lampiran 6a. ANOVA terhadap kadar air tablet effervescent
ANOVA Kadar Air Sum of Squares 18.656 .135 18.790 df 4 5 9 Mean Square 4.664 .027 F 172.865 Sig. .000

Between Groups Within Groups Total

Lampiran 6b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)


Kadar Air Duncan
a

Perlakuan 40 % 45 % 50 % 55 % Kontrol "Jess Cool" Sig.

N 2 2 2 2 2

Subset for alpha = .05 1 2 3 1.3800 1.5750 1.5750 1.6300 1.6300 2.0100 5.0250 .199 .050 1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.

55

Lampiran 7. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap kadar abu tablet effervescent Lampiran 7a. ANOVA terhadap kadar abu tablet effervescent
ANOVA Kadar Abu Sum of Squares 31.841 2.240 34.081 df 4 5 9 Mean Square 7.960 .448 F 17.765 Sig. .004

Between Groups Within Groups Total

Lampiran 7b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)


Kadar Abu Duncan
a

Perlakuan 40 % 45 % 50 % 55 % Kontrol "Jess Cool" Sig.

N 2 2 2 2 2

Subset for alpha = .05 1 2 3 21.6450 23.2500 23.2500 23.4800 23.8900 27.1000 .062 .394 1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.

56

Lampiran 8. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap diameter tablet effervescent Lampiran 8a. ANOVA terhadap diameter tablet effervescent
ANOVA Diameter Tablet Sum of Squares .128 .000 .128 df 4 5 9 Mean Square .032 .000 F 1594.250 Sig. .000

Between Groups Within Groups Total

Lampiran 8b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)


Diameter Tablet Duncan
a

Perlakuan Kontrol "Jess Cool" 40% 45% 50% 55% Sig.

N 2 2 2 2 2

1 2.5300

Subset for alpha = .05 2 3 2.7900 2.8050 2.8100

1.000

1.000

.314

2.8350 1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.

57

Lampiran 9. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap tebal tablet effervescent

Lampiran 9a. ANOVA terhadap tebal tablet effervescent


ANOVA Tebal Tablet Sum of Squares .005 .001 .006 df 4 5 9 Mean Square .001 .000 F 11.500 Sig. .010

Between Groups Within Groups Total

Lampiran 9b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)


Tebal Tablet Duncan
a

Perlakuan 50% Kontrol "Jess Cool" 45% 55% 40% Sig.

N 2 2 2 2 2

Subset for alpha = .05 1 2 .6450 .6550 .6900 .6950 .7000 .384 .395

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.

58

Lampiran 10. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap kekerasan tablet effervescent Lampiran 10a. ANOVA terhadap kekerasan tablet effervescent
ANOVA Kekerasan Sum of Squares .027 .002 .029 df 4 5 9 Mean Square .007 .000 F 17.964 Sig. .004

Between Groups Within Groups Total

Lampiran 10b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)


Kekerasan Duncan
a

Perlakuan kontrol "Jess Cool" 40 % 45 % 50 % 55 % Sig.

N 2 2 2 2 2

Subset for alpha = .05 1 2 3 .003400 .064350 .082000 .098400 .163800 1.000 .148 1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.

59

Lampiran 11. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap waktu larut tablet effervescent Lampiran 11a. ANOVA terhadap waktu larut tablet effervescent
ANOVA Waktu Larut Sum of Squares 7.621 .457 8.078 df 4 5 9 Mean Square 1.905 .091 F 20.831 Sig. .003

Between Groups Within Groups Total

Lampiran 11b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)


Waktu Larut Duncan
a

Perlakuan Kontrol "Jess Cool" 40 % 45 % 50 % 55 % Sig.

N 2 2 2 2 2

Subset for alpha = .05 1 2 3 2.2300 3.9300 4.2550 4.2550 4.3150 4.3150 4.7500 1.000 .270 .172

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.

60

Lampiran 12. Lembar kuesioner uji kesukaan dan kode sampel a. Lembar kuesioner uji kesukaan

UJI KESUKAAN

Tanggal Pengujian : Jenis Sampel : Tablet Effervescent

Nama No. Telp/HP

: :

Petunjuk : Nyatakanlah penilaian anda terhadap penampakan tablet, warna, aroma, dan rasa pada setiap sampel tanpa membandingkan sampel yang satu dengan yang lainnya. Berilah penilaian angka pada pernyataan yang sesuai dengan penilaian saudara dan sesuai dengan kode sampel. Sampel 256 354

PENILAIAN Penampakan tablet Warna Aroma Rasa

463

128

NB (bintik-bintik coklat pada tablet merupakan ekstrak dari bahan yang digunakan)

Keterangan : 1 = sangat tidak suka 2 = tidak suka 3 = agak tidak suka 4 = netral 5 = agak suka 6 = suka 7 = sangat suka b. Kode sampel uji kesukaan Kode Sampel 128 256 354 463 Konsentrasi Effervescent mix 40% 45% 50% 55%

61

Lampiran 13. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter penampakan tablet effervescent


Kode Sampel 256 354 2 2 5 5 2 3 3 6 3 4 4 5 3 4 3 4 3 3 4 3 6 5 5 3 3 3 3 4 4 5 5 5 3 3 4 5 4 4 2 3 4 4 4 5 4 4 1 2 3 4 6 6 3 3 3 3 3 3 2 6

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

463 2 3 2 3 2 4 2 4 2 3 4 5 3 3 3 1 3 5 4 2 4 3 5 2 4 5 3 3 3 5

128 5 6 3 6 6 6 3 5 4 4 6 6 3 3 5 7 3 5 4 5 5 5 5 3 4 7 5 3 4 5

62

Lampiran 14. Hasil statistik non-parametik Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap parameter penampakan tablet effervescent Lampiran 14a. Uji statistik non-parametik Friedman terhadap penampakan tablet
Friedman Test
Ranks Mean Rank Konsentrasi effervescent mix Skor Penampakan Tablet 1.27 1.73

Test Statisticsa N Chi-Square df Asymp. Sig. 120 31.360 1 .000

a. Friedman Test

Lampiran 14b. Uji frekuensi kesukaan terhadap penampakan tablet effervescent


Skor Penampakan * Perlakuan Crosstabulation Count 40% Skor Penampakan 1 2 3 4 5 6 7 Perlakuan 45% 50% 1 4 2 12 10 8 8 3 7 2 3 30 30 55% 1 7 11 6 5 Total 2 13 40 27 25 11 2 120

Total

7 5 10 6 2 30

30

63

Lampiran 15. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter warna seduhan tablet effervescent
Kode Sampel 256 354 4 4 6 6 6 6 6 6 5 5 2 3 5 4 4 4 5 3 3 3 5 4 6 6 3 3 4 4 4 4 5 6 5 6 5 4 6 5 2 2 5 4 4 4 4 4 4 6 3 2 6 5 3 3 4 3 5 5 6 6

PANELIS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

463 4 6 6 6 4 3 5 4 3 3 3 5 5 3 5 6 6 6 5 3 5 4 4 6 2 5 3 4 5 5

128 5 6 6 6 5 3 5 5 4 4 5 6 3 5 5 6 6 5 6 3 4 4 4 7 4 4 3 3 5 5

64

Lampiran 16. Hasil statistik non-parametik Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap warna seduhan tablet effervescent Lampiran 16a. Uji statistik non-parametik Friedman terhadap warna seduhan tablet effervescent
Friedman Test
Ranks Mean Rank Konsentrasi effervescent mix Skor Warna 1.14 1.86

Test Statisticsa N Chi-Square df Asymp. Sig. 120 69.774 1 .000

a. Friedman Test

Lampiran 16b. Uji frekuensi kesukaan terhadap warna seduhan tablet effervescent
Skor Warna * Perlakuan Crosstabulation Count 40% Skor Warna 2 3 4 5 6 7 0 5 7 10 7 1 30 Perlakuan 45% 50% 2 2 4 6 8 10 9 4 7 8 0 0 30 30 55% 1 7 6 9 7 0 30 Total 5 22 31 32 29 1 120

Total

65

Lampiran 17. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter aroma seduhan tablet effervescent
Kode Sampel 256 354 2 2 5 5 3 3 3 3 4 6 2 2 2 2 4 3 4 3 1 3 4 5 3 5 2 2 4 3 3 4 1 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 5 4 4 5 2 5 2 4 5 4 3 5 5 5 4 4 4 5

PANELIS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

463 2 4 4 3 5 2 2 3 5 4 4 6 2 3 4 1 4 4 4 4 5 3 4 4 2 4 4 4 4 4

128 2 4 4 3 4 2 2 4 3 4 4 4 2 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 5 3 4 3 4 4 2

66

Lampiran 18. Hasil statistik non-parametik Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap aroma seduhan tablet effervescent

Lampiran 18a. Uji statistik non-parametik Friedman terhadap warna seduhan tablet effervescent
Friedman Test
Ranks Mean Rank Konsentrasi effervescent mix Skor Aroma 1.27 1.73

Test Statisticsa N Chi-Square df Asymp. Sig. 120 34.087 1 .000

a. Friedman Test

Lampiran 18b. Uji frekuensi kesukaan terhadap aroma seduhan tablet effervescent
Skor Aroma * Perlakuan Crosstabulation Count 40% Skor Aroma 1 2 3 4 5 6 0 6 4 19 1 0 30 Perlakuan 45% 50% 2 0 6 6 5 6 13 9 4 8 0 1 30 30 55% 1 5 4 16 3 1 30 Total 3 23 19 57 16 2 120

Total

67

Lampiran 19. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter rasa seduhan tablet effervescent
Kode Sampel 256 354 5 3 5 5 2 3 2 2 5 6 2 5 2 2 3 4 4 4 5 1 4 3 3 3 2 2 4 5 3 3 1 5 5 5 4 4 5 3 2 3 6 5 5 5 4 4 3 2 1 3 4 5 5 4 3 3 3 4 5 5

PANELIS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

463 3 4 5 6 5 4 2 3 2 3 4 3 2 4 5 1 5 5 4 3 5 3 4 2 1 3 5 4 3 5

128 3 5 2 3 5 4 1 4 5 3 3 4 2 3 3 6 4 5 3 5 6 6 4 3 1 4 5 3 3 3

68

Lampiran 20. Hasil statistik non-parametik Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap rasa seduhan tablet effervescent Lampiran 20a. Uji statistik non-parametik Friedman terhadap rasa seduhan tablet effervescent
Friedman Test
Ranks Mean Rank Konsentrasi effervescent mix Skor Rasa 1.27 1.73

Test Statisticsa N Chi-Square df Asymp. Sig. 120 30.375 1 .000

a. Friedman Test

Lampiran 20b. Uji frekuensi kesukaan terhadap rasa seduhan tablet effervescent
Skor Rasa * Perlakuan Crosstabulation Count 40% Skor Rasa 1 2 3 4 5 6 2 2 11 6 6 3 30 Perlakuan 45% 50% 2 1 6 4 6 9 6 6 9 9 1 1 30 30 55% 2 4 8 7 8 1 30 Total 7 16 34 25 32 6 120

Total

69

Lampiran 21. Perbandingan luas permukaan tubuh hewan percobaan untuk konversi dosis (Laurence dan Bacharah, 1964).
20g mencit 1,0 0,14 0,08 0,04 0,03 0,016 0,008 0,0026 200g tikus 7,0 1,0 0,57 0,25 0,23 0,11 0,06 0,018 400g marmot 12,25 1,74 0,1 0,44 0,41 0,19 0,1 0,031 1,5kg kelinci 27,8 3,9 2,25 1,0 0,92 0,42 0,22 0,07 2,0kg kucing 29,7 4,2 2,4 1,08 1,0 0,45 0,24 0,076 4,0kg kera 64,1 9,2 5,2 2,4 2,2 1,0 0,52 0,16 12,0kg anjing 124,2 17,8 10,2 4,5 4,1 1,9 1,0 0,32 70,0kg manusia 387,9 56,10 31,5 14,2 13,0 6,1 3,1 1,0

20g Mencit 200g Tikus 400g Marmot 1,5kg Kelinci 2,0kg Kucing 4,0 Kera 12,0kg Anjing 70,0kg manusia

70