Anda di halaman 1dari 4

Manajemen bedah Hernia

1.

Perawatan pre operasi Persiapan fisik dan mental pasien dan pasien puasa dan dilavamen pada malam sebelum hari pembedahan.
Hal-hal 1 . yang mesti di persiapkan dan diperiksa ( sebelum Hb) operasi darah : .

Pemeriksaan

Haemoglobin

Setiap pasien sebelum di operasi mesti ada informasi mengenai haemoglobin ini ...karena jika tidak ada informasi mengenai haemoglobin jelas akan beresiko jika terjadi perdarah yang menguras Hb ini. Masing - masing bagian dan masing masing operator telah memiliki standar tersendiri mengenai jumlah Hb tersebut. Sebagaimana di ketahui haemoglobin adalah bagian komponen darah yang berfungsi untuk membawa oksigen keseluruh tubuh . berdasar referensi yang ada dinyatakan bahwa kadar Hb minimal untuk terlaksananya kebutuhan oksigen minimal adalah 7 gr % dan ini adalah batas yang di anjurkan untuk dilakukan tranfusi jika kadar hb telah berada di bawah 7 gr % tersebut. Operasi akan berlangsung baik jika kadar hb ini tinggi sehingga perdarahan yang minimal masih bisa di tolerir oleh tubuh. Kadar hb yang optimal tentu sebaiknya di atas 10 gr % untuk operasi yang terencana . Sedang untuk keadaan darurat sebaiknya di atas 8 gr %. Jika operasi mesti di laksanakan dengan Hb di bawah ini dengan berbagai alasan yang tidak bisa di hindari maka banyak pertimbangan dan kehati-hatian yang mesti di lakukan seperti menghindari operasi dengan banyak perdarahan. 2 . Pemeriksaan Sel darah putih atau leukosit

Laboratorium sel darah putih selalu diperiksa oleh ahli bedah untuk mengetahui apakah kondisi pasien sedang infeksi atau tidak , atau bahkan dalam kondisi yang sepsis yaitu infeksi hebat yang cenderuk akan membahayakan jiwa pasien. Kadar atau jumlah sel darah putih yang wajar tentunya ada di antar 6000 s/d 10.000 /lpb. Jika leukosit berada di antara 10.000 20.000 /lpb ini menandakan suatu infeksi pada bagian tubuh tertentu dan jika diatas 20.000 /lpb maka ini tergolong infeksi berat dan potensial menjadi sepsis. Bagi operator ini tentu jadi pertimbangan khusus dan mempersiapkan diri sebelum melakukan tindakan operasi , termasuk inform konsern terhadap pasien dan keluarga bahwa operasi dengan kondisi ini sangat beresiko untuk hasil yang akan terjadi . 3 . Pemeriksaan kadar trombosit atau faktor pembeku darah

Trombosit adalah sel darah yang berperan penting dalam faktor pembeku darah . Sering kita mendengar bahwa penderita demam berdarah yang di periksa adalah thrombositnya jika kadar trombosit di bawah 100.000 gr % maka kondisi ini sudah awas waspada , pasien mesti di rawat dan di persiapkan untuk sewaktu-waktu mesti di tranfusi komponen darah trombosit. Jika trombosit sudah di bawah 20.000 maka akan muncul manifestasi perdarahan dari gusi atau dari saluran cerna saat seperti ini adalah saat kritis seorang penderita demam berdarah. Begitu juga pasien yang akan di operasi tentu kadar trombosit ini harus di periksa dan di pastikan di atas 150.000 . jika rendah ya di persiapkan untuk optimalisasi terlebih

dahulu.dengan

penambahan

atau

tranfusi

thrombosit.

keadaan di mana kadar trombosit di bawah 150.000 disebut dengan thrombositopenia dan jika kadar trombosit diatas 350.000 maka ini di sebut dengan thrombositosis. kedua kelainan ini tentu bermakna dan mempengaruhi suasana operasi dan mesti di sikapi dengan serius. 4 . Pemeriksaan CT ( Cloting time ) BT ( Bleeding Time )

Waktu pembekuan dan waktu perdarahan ini harus di periksa karena sering kita jumpai pasien dengan kelainan darah sulit di deteksi secara kasat mata jika tidak teliti akan di jumpai di meja operasi di mana perdarahan tidak bisa di hentikan sehingga sekecil apapun pembuluh darah yang ada akan selalu mengeluarkan dan mengalirkan darah . Jika di jumpai waktu perdarahan yang memanjang > 15 menit dan waktu pembekuan yang lama > 8 menit maka operasi akan berlangsung lama karena mengontrol perdarahan akan memakan banyak waktu dan perlu di ketahui operasi sekecil apapun akan berakibat fatal. 5 . Pemeriksaan Fungsi hati

Bermacam pemeriksaan liver fungsi test ( LFT ) yang terdiri dari SGOT dan SGPT serta alkali phosphatase adalah untuk menilai bagaimana kondisi fungsi hati pasien jika kadar enzimenzim hati tersebut masih dalam batas normal maka pasien dalam keadaan optimal untuk operasi. Namun jika kadar LFT nya meningkat ini tentu mesti di waspadai dalam pemberian obatobatan terutama obat anestesi yang sebagian besar di buang melalui hati. Sehingga di khawatirkan membahayakan terhadap pasiennya jika mesti di operasi. Atau di ganti dengan tehnik anestesi yang obat-obatnya tidak akan memperberat fungsi hati. 6 . Pemeriksaan Fungsi Ginjal

Pemeriksaan laboratorium fungsi ginjal yang sederhana meliputi pemeriksaan ureum dan creatinin , peningkatan kadar ureum diatas 40 gr dan angka creatinin diatas 1,6 maka mesti di waspadai bahwa penderita sudah mulai mengalami ggn pada ginjal . Memang mesti di pastikan kenaikan tersebut harus lebih tinggi seperti ureum 2-3 x kadar normal . Namun kita harus berjaga-jaga sebelum melakukan tindakan . Terkadang mungkin penderita mengalami kekurangan cairan yang mesti diresusitasi dulu dengan cairan sebelum di operasi. Sebab dalam keadaan dehidrasi sangat memungkinkan juga kedua indikator tadi meningkat sedikit. Jika memang ada gangguan fungsi ginjal yang sangat bermakna maka akan sangat beresiko di lakukan operasi , untuk optimasi mungkin perlu di lakukan pencucian darah sebelumnya atau sebisa mungkin menghindari obat-obat yang di buang melalui ginjal 7 . Pemeriksaan Kadar gula Darah

Kadar Gula Darah yang tinggi akan sangat mengganggu penyembuhan operasi , apalagi jika operasi yang akan di lakukan adalah operasi besar yang notabene jika sulit sembuh tentu akan membahayakan jiwa penderita. Untuk kasus operasi yang terencana sebaiknya kada gula darah ada di bawah 150 gr % untuk KGD sewaktu. 8 . Pemeriksaan Tekanan Darah

Tekanan Darah yang lebih dari normal atau di katakan mengidap tekanan darah tinggi , sebaiknya dikontrol terlebih dahulu sebelum operasi . Sebab tekanan yang tinggi akam

menyebabkan perdarahan juga akan sulit di kontrol sehingga akan menghabiskan banyak darah jadi tekanan darah optimal untuk operasi sebaiknya tidak lebih dari 140 / 90 mm Hg . Sehingga jika diatas itu ahli bedah akan berkonsultasi dengan ahli penyakit dalam untuk mengontrol dulu tekanan darah pasien sampai keadaan cukup ideal dan optimal untuk di operasi. 9 . Foto polos rongga dada ( Thorax X ray )

Ini adalah prosedur standar ahli bedah untuk memprediksi keadaan paru penderita sebab pembiusan umum dan operasi sangan berpengaruh pada pasien dengan kelainan pada paruparu seperti , Asma , TB paru , penumpukan cairan atau darah di paru-paru , bronchitis dll. Sehingga jika pasien mengalami peradangan pada paru seperti mengalami batuk atau sesak nafas kita konsultasikan dulu ke ahlinya untuk optimalisasi dan pernbaikan. 10. EKG ( Elektro Cardio Grafi )

Pemeriksaan pemindai jantung memang tidak begitu rutin pada usia di bawah 35 tahun , namun untuk pasien datas usia tersebut sebaiknya di lakukan pemeriksaan EKG ini . Pada usia muda di bawah 35 tahun akan di lakukan EKG juga jika di jumpai adanya kecurigaan kelainan jantung yang di dapat pada pemeriksaan anamnese dan pemeriksaan fisik untuk diagnostik. Jika di jumpai kelainan yang terdeteksi pada pemeriksaan EKG seperti MCI , angina pectoris , arrithmia dan lain-lain maka harus di informasikan sejelas-jelasnya terlebih dahulu dan di konsultasikan dengan ahlinya untuk optimasi hasil akhir operasi nantinya.

2.

Perawatan post operasi a. Hindari batuk, untuk peningkatan ekspansi paru, perawat mengajarkan nafas dalam.

b. Support scrotal dengan menggunakan kantong es untuk mencegah pembengkakan dan nyeri. c. Ambulasi dini jika tidak ada kontraindikasi untuk meningkatkan kenyamanan dan menurunkan resiko komplikasi post operasi.

d. Gunakan tehnik untuk merangsang pengosongan kandung kemih. e. Monitoring intake dan output. f. g. Palpasi abdomen dengan hati-hati. Intake cairan > 2500 ml/hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mencegah dehidrasi dan mempertahankan fungsi perkemihan.

h. Bila pasien belum mampu BAK, dapat dipasang kateter karena kandung kemih yang distensi dapat menekan insisi dan menyebabkan tidak nyaman. i. 3. Pemakaian celana suppensoar.

Discharge Planning : a. Hindari mengejan, mendorong atau mengangkat benda berat.

b. Jaga balutan luka operasi tetap kering dan bersih, mengganti balut steril setiap hari dan kalau perlu.

c.

Hindari faktor pendukung seperti konstipasi dengan mengkonsumsi diet tinggi serat dan masukan cairan adekuat.

Penatalaksanaan 1. Konservatif a. Istirahat di tempat tidur dan menaikkan bagian kaki, hernia ditekan secara perlahan menuju abdomen (reposisi), selanjutnya gunakan alat penyokong. b. Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan setelah 5 menit di evaluasi kembali. c. Celana penyangga

d. Istirahat baring e. Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit. f. Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan mengedan selama BAB, hindari kopi kopi, teh, coklat, cola, minuman beralkohol yang dapat memperburuk gejala-gejala.

2.

Pembedahan (Operatif) : a. Herniaplasty : memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang. b. Herniatomy : pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit ikat setinggi lalu dipotong. c. Herniorraphy : mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen dan menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan transversus internus dan muskulus ablikus internus abdominus ke ligamen inguinal.