Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Peritoneum adalah membran serosa rangkap yang terbesar di dalam
tubuh yang terdiri dari dua bagian utama yaitu peritoneum parietal yang
melapisi dinding rongga abdominal, dan rongga peritoneum viseral yang
meliputi semua organ yang berada didalam rongga tersebut (Pearce,
2009).

Gambar 1: Anatomi Peritoneum


Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) memiliki peran besar pada
penatalaksanaan trauma tumpul abdomen. DPL paling berguna pada
pasien yang memiliki resiko tinggi cedera organ berongga, terutama jika
dari CT-scan dan USG hanya terdeteksi sedikit cairan, dan pada pasien
dengan demam yang nyata, peritonitis, atau keduanya. Keadaan ini
berlangsung selama 6-12 jam setelah cedera organ berongga.

1
B. INDIKASI
Prosedur diagnostic peritoneal lavage (DPL) dilakukan oleh tim bedah
dengan beberapa indikasi, yaitu:
1. Hemodinamik pasien tidak stabil
2. Pasien mengalami multiple trauma
3. Pasien mengalami perubahan sensorium akibat cidera kepala,
intoksikasi alkohol, penggunaan obat terlarang.
4. Pasien mengalami cidera pada struktur yang berdekatan yaitu pada
tulang iga bawah, tulang panggul, tulang belakang dari pinggang
bawah (lumbar spine).
Hasil pemeriksaan fisik meragukan. Pemeriksaan ini juga dapat
dilakukan pada pasien dengan status hemodinamik yang stabil dimana
fasilitas pemeriksaan ultrasonograpy dan computed tomograpy tidak
tersedia pada tempat pelayanan (Jehle et al, 2003). Pasien dikatakan
memiliki hemodinamik stabil bila tekanan sistole lebih dari 90 mmhg
dengan pemberian 2 liter ringer laktat dan tranfusi 2 bag darah (Garber et
al, 2000).

Secara tradisional, DPL dialakukan melalui 2 tahap, tahap pertama


adalah aspirasi darah bebas intraperitoneal (diagnostic peritoneal tap,
DPT). Jika darah yang teraspirasi 10 ml atau lebih, hentikan prosedur
karena hal ini menandakan adanya cedera intraperitoneal. Jika dari DPT
tidak didapatkan darah, lakukan peritoneal lavage dengan normal saline
dan kirim segera hasilnya ke lab utuk dievaluasi.

C. KONTRAINDIKASI
Salah satu kontraindikasi mutlak pelaksanaan tindakan diagnostik
peritoneal lavage adalah pada pasien yang memerlukan laparotomy atau
celiotomy segera. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pada saat
kateter dimasukkan akan dapat menimbulkan luka sekunder selain itu juga
akan menghalangi pengeluaran cairan diagnostik peritoneal lavage yang
telah dimasukkan. Sedang kontraindikasi relatif meliputi riwayat operasi
abdomen, infeksi abdomen, koagulopati, obesitas, hamil trimester 2 atau 3
dan bila hasil dari pemeriksaan ini tidak mengubah terapi. Test ini juga

2
tidak boleh dilakukan pada pasien yang tidak kooperatif dan pasien yang
sudah jelas tanda- tanda peritonealnya dan harus segera melakukan
operasi.
D. KEUNTUNGAN DPL/DPT
1. Triase pasien trauma multisistem dengan hemodinamik yang tidak
stabil, melalui pengeluaran perdarahan intapertoneal
2. Dapat mendeteksi perdarahan minor pada pasien dengan hemodinamik
stabil.

E. KELEMAHAN DAN KOMPLIKASI DPL / DPT


1. Infeksi lokal atau sistemik ( pada kurang dari 0,3% kasus)
2. Cedera intaperitoneal
3. Positif palsu karena insersi jarum melalui dinding abdomen dengan
hematoma atau pada gangguan hemostasis

F. INTERPERTASI DPL
Pada trauma tumpul abdomen, aspirasi darah sebanyak 10 ml atau
lebih pada DPT menunjukkan kecurigaan lebih dari 90% terhadap adanya
cedera intaperitoneal. Jika hasil lavage pasien yang dikirim ke lab
menunjukkan RBC lebih dari 100.000/mm 3 maka dapat dikatakan positif
untuk cedera intraabdominal. Jika hasil aspirasi positif dan adanya
peningkatan RBC pada lavage menunjukkan adanya cedera, terutama
viscera padat dan struktur vaskular, namun hal ini tidak cukup untuk
mengindikasikan laparotomi.
Pada pasien dengan fraktur pelvis, harus diwaspadai adanya
positif palsu pada DPL. Walaupun demikian pada lebih dari 85% kasus,
pasien fraktur pelvis dengan aspirasi positif pada DPT mengindikasikan
adanya cedera intraperitoneal. Aspirasi negatif pada pasien fraktur pelvis
dengan hemodinamik yang tidak stabil menunjukkan adanya perdarahan
retroperitoneal, jika demikian perlu dilakukan angiography dengan
embolisasi.
Peningkatan WBC baru terjadi setelah 3–6 jam setelah cedera,
sehingga tidak terlalu penting pada interpretasi DPL. Peningkatan
amilase juga tidak spesifik dan tidak sensitif untuk cedra pankreas.

3
Kriteria untuk trauma abdomen yang positif DPL berikut :

Index Positive Equivocal


Aspirate
Blood >10 Ml -
Fluid Enteric contents -
Lavage
Red blood cells >1.000.000 / mm3 >20.000 / mm3
White blood cells >1.000.000 / mm3 >500 / mm3
Enzyme Amylase >20 IU/L and Amilase >20
alkaline phosphatase >3 IU/L or alkaline
IU/L phosphatase >3
IU/L
Bile -
Tabel 1: Kriteria Trauma Abdomen Yang Positif DPL

G. PROSEDUR KERJA
DPL merupakan tindakan yang invasif dan dapat dilakukan dengan
menggunakan pendekatan tertutup maupun terbuka.
1. Persiapan Alat
a. Handsoon steril
b. Mess
c. Hand mess
d. Spuit
e. Kateter
f. Kantong kateter
g. Guidewire
2. Persiapan Pasien
a. Buat informed consent dengan keluarga
b. Pasien diposisikan rata dalam posisi terlentang
c. Kateter Foley dan selang nasogastrik dimasukkan untuk
mendekompresi kandung kemih dan perut.
d. Area periumbilical disiapkan secara bedah dan dibungkus luas.
e. Kombinasi anestesi lokal dan sedasi sadar intravena digunakan
pada pasien dengan hemodinamik normal. Anestesi lokal saja
sudah cukup pada pasien yang hemodinamik abnormal. Lidokain
1% dengan epinefrin digunakan untuk anestesi lokal untuk
mengurangi jumlah perdarahan kulit, yang dapat menyebabkan tes
positif palsu.
3. Tahap Kerja
a. Tehnik terbuka

4
1) Teknik terbuka membutuhkan kulit periumbilical untuk dibius
dan insisi garis tengah vertikal dibuat sekitar 2 cm di bawah
atau di atas umbilicus.
2) Lemak subkutan dibedah sampai linea alba diidentifikasi

Gambar 1: Gambaran linea alba dan fascia abdomen anterior


mengikuti insisi infraumbilikal midline untuk pendekatan terbuka
pada DPL.

3) Retraktor ditempatkan untuk memegang kulit dan jaringan


subkutan di lateral
4) Fasia digenggam dengan dua klip handuk atau hemostat di
kedua sisi garis tengah.
5) Jarum 18-gauge dimasukkan pada sudut 45 derajat ke fasia ke
arah panggul

5
Gambar 2: Sementara menggenggam dan mengangkat fasia perut
anterior, jarum 18-gauge dimasukkan pada sudut 45 derajat ke arah
panggul . Dua "muncul" dirasakan saat jarum melintasi fasia dan
peritoneum.

6) Sebuah guidewire dipasang melalui jarum ke dalam panggul.


7) Guidwire harus dilewati dengan mudah tanpa hambatan. Jika
guidwire bertemu dengan tahanan, lepaskan jarum dan
guidewire dan mulailah dari awal.
8) Jarum dilepaskan saat menjaga guidewire stabil. Sebuah dilator
dilewatkan melalui kawat dan melalui fasia dan kemudian
dihapus
9) Kateter DPL dimasukkan ke dalam rongga peritoneal yang
ditujukan ke panggul.

6
Gambar 3: Setelah penempatan guidewire melalui jarum, dilator dilewatkan
melalui fasia sebelum menempatkan kateter peritoneal.

10) Jarum suntik digunakan untuk aspirasi isi peritoneum. Jika


darah mengalir dengan mudah ke dalam syringe, maka
tindakan laparotomy haru segera di lakukan.
11) Setelah itu kateter DPL dihubungkan ke tabung hangat dan
masukkan cairan sebanyak 1000 cc dari Ringers Laktat atau
normal saline (NaCl) menggunakan tubing intravena standar.
Harus diperhatikan bahwa tabung tidak memiliki katup satu
arah yang tidak memungkinkan cairan mengalir dengan bebas
kembali ke dalam kantong cairan IV.
12) lakukan penekanan abdomen pasien dengan lembut untuk
memungkinkan pencampuran cairan dengan isi peritoneum.
13) Setelah tabung hampir kosong, letakkan di lantai dan biarkan
cairan intraabdominal kembali.

7
Gambar 4: Setelah cairan ditanamkan, kantong diletakkan ke lantai untuk
memungkinkan cairan intraabdominal kembali. 30% dari jumlah asli dari
cairan yang ditanamkan diperlukan untuk sampel yang memadai.

14) Hasil cairan tersebut akan diperiksa secara makroskopis untuk


melihat apakah ada isi pencernaan, sel darah merah, sel darah
putih dan cairan empedu. Tes dikatakan positif bila ditemukan
kadar sel darah merah lebih dari 100.000 ml, kadar sel darah
putih lebih dari 500 cc atau pada pewarnaan gram postif
ditemukan bakter pencernaan.
15) fasia insisi harus ditutup dengan jahitan.

b. Tehnik tertutup
1) Teknik tertutup bergantung pada akses jarum perkutan ke
rongga peritoneum
2) Kemudian diikuti oleh penyisipan kateter menggunakan teknik
Seldinger.

3) Jika teknik tertutup digunakan maka tidak diperlukan jahitan.

4) Metode tertutup lebih cepat, tetapi sering memiliki lebih


banyak komplikasi teknis seperti penempatan kawat dan
pengembalian cairan yang tidak memadai.

BAB III

8
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) memiliki peran besar pada
penatalaksanaan trauma tumpul abdomen.
Prosedur diagnostic peritoneal lavage (DPL) dilakukan oleh tim bedah
dengan beberapa indikasi, yaitu hemodinamik pasien tidak stabil, pasien
mengalami multiple trauma, pasien mengalami perubahan sensorium
akibat cidera kepala, intoksikasi alkohol, penggunaan obat terlarang.
pasien mengalami cidera pada struktur yang berdekatan yaitu pada tulang
iga bawah, tulang panggul, tulang belakang dari pinggang bawah (lumbar
spine).
Salah satu kontraindikasi mutlak pelaksanaan tindakan diagnostik
peritoneal lavage adalah pada pasien yang memerlukan laparotomy atau
celiotomy segera. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pada saat
kateter dimasukkan akan dapat menimbulkan luka sekunder selain itu juga
akan menghalangi pengeluaran cairan diagnostik peritoneal lavage yang
telah dimasukkan. Sedang kontraindikasi relatif meliputi riwayat operasi
abdomen, infeksi abdomen, koagulopati, obesitas, hamil trimester 2 atau 3
dan bila hasil dari pemeriksaan ini tidak mengubah terapi. keuntungan
Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) adalah triase pasien trauma
multisistem dengan hemodinamik yang tidak stabil, melalui pengeluaran
perdarahan intapertoneal, dapat mendeteksi perdarahan minor pada pasien
dengan hemodinamik stabil. kerugian DPL yaitu infeksi lokal atau
sistemik ( pada kurang dari 0,3% kasus), cedera intaperitoneal, positif
palsu karena insersi jarum melalui dinding abdomen dengan hematoma
atau pada gangguan hemostasis.
Pada trauma tumpul abdomen, aspirasi darah sebanyak 10 ml atau
lebih pada DPT menunjukkan kecurigaan lebih dari 90% terhadap adanya
cedera intaperitoneal. Jika hasil lavage pasien yang dikirim ke lab
menunjukkan RBC lebih dari 100.000/mm3 maka dapat dikatakan positif
untuk cedera intraabdominal.

9
B. SARAN
Sebagai seorang perawat sebaiknya harus mengetahui dan
memahami tindakan medis untuk masalah trauma abdomen. Sehingga
perawat dapat dengan cepat melakukan kolaborasi dengan tim medis
lainnya untuk penanganan yang tepat dalam masalah trauma abdomen.

DAFTAR PUSTAKA

10
Root HD, Hauser GW, McKinley CR, dkk. Diagnostik peritoneal
lavage. Operasi. 1965; 57 : 633.[ PubMed ]

Ceraldi CM, Waxman K. Computerized tomography sebagai indikator


cedera mesenterika yang terisolasi. Perbandingan dengan
peritoneal lavage. Am Surg. 1990; 56 : 806–810. [ PubMed ]

Klein, Y., Haider, H., Mckenney, M. G., Lynn, M., & Chon, S. M. (2003).
Diagnostic Peritoneal Lavage Through an Abdominal Stab Wound.
American Journal Of Emergency Medicine, 21(7), 559-560.

Meyer DM, Thal ER, Weigelt JA. Evaluasi computed tomography dan
diagnostik peritoneal lavage pada trauma tumpul abdomen. J
Trauma. 1989; 29 : 1168–1170. [ PubMed ]

Whitehouse, J. S., & Weigelt, J. A. (2009). Diagnostic Peritoneal Lavage :


a Review of Indications, Technique and Interpretation.
Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation and Emergency
Medicine, 17(13), 1-

11
12
13