Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Anton M.

Moeliono, berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sebaliknya, mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. Bahasa yang baik dan benar itu memiliki empat fungsi : 1. Fungsi pemersatu kebhinnekaan rumpun dalam bahasa dengan mengatasi batas-batas kedaerahan; 2. Fungsi penanda kepribadian yang menyatakan identitas bangsa dalam pergaulan dengan bangsa lain; 3. Fungsi pembawa kewibawaan karena berpendidikan dan yang terpelajar; dan 4. Fungsi sebagai kerangka acuan tentang tepat tidaknya dan betul tidaknya pemakaian bahasa. Keempat fungsi bahasa yang baik dan benar itu bertalian erat dengan tiga macam batin penutur bahasa sebagai berikut : 1) Fungsinya sebagai pemersatu dan sebagai penanda kepribadian bangsa membangkitkan kesetiaan orang terhadap bahasa itu;

2) Fungsinya pembawa kewibawaan berkaitan dengan sikap kebangsaan orang karena mampu beragam bahasa itu; dan 3) Fungsi sebagai kerangka acuan berhubungan dengan kesadaran orang akan adanya aturan yang baku layak dipatuhi agar ia jangan terkena sanksi sosial. Berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan, berbahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah menggunakan bahasa Indonesia yang memenuhi norma baik dan benar. Norma yang dimaksud adalah ketentuan bahasa Indonesia, misalnya tata bahasa, ejaan, kalimat, dsb. Sehingga studi kalimat dianggap sangat penting dilakukan untuk mencapai kemahiran berbahasa atau mengarang. Unsur terkecil dalam berbahasa sehari-hari adalah kalimat bukan kata-kata. Kata-kata hanya, menjadi unsur dalam kalimat. Kalau pada suatu waktu waktu pemakai bahasa berurusan dengan aneka bentuk kata maka hal ini dilakukan karena berkaitan dengan proses pembentukan kalimat. Dengan kalimat-kalimatlah kita melakukan kegiatan tukar-menukar pikiran dengan orang lain. Bahasa yang baik, benar, dan tepat pada hakikatnya terwujud pada pembentukan atau pemakaian kalimat. Kita yang ingin mahir berbahasa (mengarang) hendaknya terlebih dahulu memiliki kecakapan menentukan ujaran (bentuk ketatabahasaan) yang berkriteria kalimat dan yang bukan kalimat. Kemampuan mengenal dan menggunakan berbagai ragam kalimat yang ada dalam bahasa patut dimiliki.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, makalah ini disusun dengan mengangkat tema tentang tata kalimat. Makalah ini akan membahas pengertian kalimat, alat-alat dan unsur -unsurnya, serta jenis-jenis kalimat. B. Rumusan Masalah 1. Apa definisi dari Kalimat? 2. Apa saja unsur unsur dari Kalimat? 3. Apa saja pola dasar Kalimat? 4. Apa saja jenis jenis Kalimat? 5. Apa makna dari Kalimat?

C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengatahui definisi dari Kalimat? 2. Untuk mengatahui apa saja unsur unsur Kalimat? 3. Untuk mengetahui apa saja pola dasar Kalimat? 4. Untuk mengetahui apa saja jenis jenis Kalimat? 5. Untuki mengetahui apa makna dari Kalimat?

D. Manfaat 1. Dapat mengetahui hal-hal tentang Kalimat Dalam Bahasa Indonesia secara meluas. 2. Sebagai bahan dalam memenuhi tugas dari dosen.

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Kalimat Kalimat oleh beberapa pakar didefinisikan atas berbagai pengertian, antara lain : 1. Sutan Takdir Alisyahbana menjelaskan bahwa kalimat adalah kumpulan kata kata yang terkecil yang mengandung pikiran lengkap. 2. Gorrys Keeraf, mengemukakan bahwa kalimat adalah bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan. Sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujara itu sudah lengkap. 3. Fahruddin A.E mendefinisikan bahwa kalimat adalah kelompok kata yang mempunyai arti tertentu, terdiri atas subjek dan predikat dan tergantung pada suatu konstruksi gramatikal yang lebih besar. Berdasarkan ketiga pengertian diatas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa kalimat adalah kumpulan kata yang memiliki pengertian lengkap dan dibangun oleh konstruksi fungsional dan tidak tergantung pada konstruksi gramataikal yang lebih besar. Misalnya: 1. Dua bangun runtuh rumah 2. Kue penuh kucing telah 3. Jumpa tidak 4. Nenek jatuh sakit

5. Warga madura mengungsi kemarin 6. Gusdur berangkat lagi ke Australia Ketiga contoh di atas (1-3) hanyalah merupakan kumpulan kata (bukan kalimat), karena tidak mengandung makna, sedangkan (4-6) adalah kalimat. B. Unsur - Unsur Kalimat 1. Predikat Adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku). Contoh: putrinya cantik jelita. 2. Subjek Adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), sesuatu hal, atau masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Contoh: yang berbaju batik dosen saya 3. Objek Adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat. Contoh : Nurul menimbang gula 4. Pelengkap dan komplemen Adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat. Contoh : Banyak orsospol berlandaskan Pancasila.

4. Keterangan Adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang bagian kalimat yang lainnya. Contoh : Anak yang baik itu rela berkorban demi orang tuannya ( ket. Tujuan ) C. Pola Dasar Kalimat Kalimat yang paling sederhana dalam bahasa Indonesia hanya mengandung dua unsur, yaitu S dan P. Subjek (S) dalam kalimat merupakan topik pembicaraan, sedangkan Predikat (P) merupakan bagian yang menjelaskan menerangkan, dan menyebutkan tentang subjek. Namun, kalimat kadang-kadang disertai dengan pelengkap yang disebut juga dengan objek (O) Perhatikan contoh kalimat berikut ini : Nurul tertidur Nurul menulis surat Kalimat pertama hanya berpola S/P saja, yaitu Nurul yang menjadi pokok pembicaraan (S), tertidur yang menjelaskan pokok pembicaraan tadi (P). Sedangkan pada kalimat kedua berpola S/P, yaitu yang menjadi pokok pembicaraan adalah Nurul (S), menulis berfungsi sebagai predikat (P), dan surat menjadi pelengkap kalimat tersebut atau objek (O).

D. Jenis Jenis Kalimat 1) Berdasarkan Pengucapan Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Kalimat Langsung Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang. Kalimat langsung juga dapat diartikan kaliamt yang memberitakan bagaimana ucapan dari orang lain (orang ketiga). Kalimat ini biasanya ditandai dengan tanda petik dua (.) dan dapat berupa kalimat tanya atau kalimat perintah. Contoh: - Ibu berkata: Rohan, jangan meletakkan sepatu di sembarang tempat! - Saya gembira sekali,kata ayah,karena kamu lulus ujian. 2. Kalimat Tak Langsung Kalimat tak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan atau perkataan orang lain. Kalimat tak langsung tidak ditandai lagi dengan tanda petik dua dan sudah dirubah menjadi kalimat berita. Contoh: - Ibu berkata bahwa dia senang sekali karena aku lulus ujian. - Kakak berkata bahwa buku itu harus segera dikembalikan. 2) Berdasarkan Jumlah Frasa (Struktur Gramatikal) Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1) Kalimat Tunggal Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas tanpa klausa terikat (Cook, 1971:38). Hal ini berarti bahwa konstituen untuk tiap kalimat hanyalah merupakan satu kesatuan. Dalam kalimat tunggal tentu terdapat semua unsur inti yang diperlukan, namun tidak tertutup kemungkinan munculnya unsur yang bukan inti seperti keterangan tempat, waktu, alat, dan sebagainya. Dengan demikian, maka kalimat tunggal tidak selamanya dalam wujudnya yang pendek, tetapi dapat berwujud panjang. Perhatikan contoh kalimat berikut : Suki tersenyum Tentor Bahasa Indonesia kami akan disekolahkan ke luar negeri. Wujud predikat kalimat tunggal dapat berupa frase nomina seperti pada contoh kalimat berikut ini : Dia dosen kami Kakak adalah pelaut Kedua contoh kalimat diatas mempunyai predikat frase nomina. Kalimat yang predikatnya nomina disebut kalimat ekuatif. Pada umumnya, jenis kalimat ini urutannya adalah frase nomina yang pertama adalah subjek, sedangkan frase yang kedua adalah predikat. Selain itu, wujud predikat kalimat tunggal dapat pula berupa adjectiva, seperti pada contoh kalimat berikut : Adiknya ulang tahun Penjelasan dari dosen itu sangat menarik

Kedua contoh kalimat diatas measing-masing mempunyai subyek yaitu adiknya dan penjelasan dari dosen itu.Sedangkan predikatnya adalah ulang tahun dan sangat menarik. Kalimat yang adjectiva disebut kalimat statif. Apabila kalimat statif kita dibandingkan dengan kalimat ekuatif, maka akan terlihat bahwa keduanya hanya memiliki 2 unsur fungsi inti. Akan tetapi ada perbedaan antara keduanya. Yaitu dalam bentuk ingkarnya. Kalimat ekuatif diingkarkan dengan kata bukan, sedangkan kalimat statif diingkarkan dengan kata tidak. Perhatikan contoh kalimat berikut : Andi bukan adik saya (ekuatif) Neneknya tidak meninggal (statif) Adapula kalimat tunggal yang mempunyai predikat verbal. Pada bagian ini dapat dibedakan antara verba transitif dengan intrasitif. Apabila verba yang mengikuti subyek tidak membutuhkan pelengkap, maka kalimat tersebut dinamakan kalimat intransitif. Perhatikan contoh berikut : Mobil itu tabrakan Ayu menyanyi Seperti halnya dengan kalimat tunggal yang lain, kalimat tunggal intransitif dapat diiringi oleh unsur bukan inti seperti keterangan waktu, tempat, cara, dan keterangan alat. Sedangfkan verba yang mengikuti subyek memerlukan pelengkap, maka kalimat tersebut dinamakan kalimat transitif. Perhatikan contoh berikut : Polisi itu menangkap pencuri

Iwan menangis atas kematian Ibunya. 2) Kalimat Majemuk Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas beberapa klausa bebas (Tarigan, 1983 : 7). Dalam mengadakan klasifikasi kalimat majemuk dasar yang digunakan adalah melihat hubungan antara pola-pola kalimat yang membentuknya. Apabila kalimat majemuk itu terjadi perluasan salah satu bagiannya, maka sudah jelas pola yang satu lebih rendah kedudukannya dengan pola yang sudah ada. Dan sebaiknya, jika kalimat mejemuk terjadi dari penggabungan 2 kalimat atau lebih maka sifat hubungannya akan setara. Dengan demikian dapatlah dibedakan kalimat mejemuk itu menjadi : a) Kalimat Majemuk Setara Kalimat majemuk stara adalah kalimat yang terjadi dari kalimatkalimta tunggal yang digabungkan dan masing-masing kalimat itu masih dapat berdiri sendiri sehingga pola-pola kalimatnya tetap sederajat. Adapun kata-kata yang dapat digunakan untuk membentuk kalimat majemuk setara ini dapat dibagi menjadi : Setara menggabungkan Fajar pergi kekampus dan Riri pergi ke sekolah Fitri bangun pagi, sesudah itu dia berolahraga Setara memilih Ari atau Adi yang akan menjemput Ibu di Pelabuhan ? Saya pergi sendiri atau kau menjemputku?

10

Setara mempertentangkan Bapaknya seorang hakim, sedangkan anaknya adalah tersangka Ayu bukan adik saya, melainkan teman saya b) Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang pola-pola tidak

sederajat. Salah satu polanya menduduki fungsi yang lebih tinggi dari pada pola yang lain. Bagian yang lebih tinggi kedudukannya ini disebut induk kalimat, sedangkan bagian yang lebih rendah kedudukannya disebut anak kalimat. Perhatikan contoh berikut ini : Hal itu sudah kau katakan kepadaku Katanya memang begitu Kedua contoh kalimat di atas dapat diperluas sehingga terbentuklah kalimat majemuk bertindak baik perluasan subjek maupun perluasan predikat. Perhatikan contoh perluasan dibawah ini : Bahwa engkau menolak cintanya, membuat dia kecewa (anak kalimat pengganti subjek) Katanya memang dia tidak berminat menghadiri pesta itu tadi malam. (anak kalimat pengganti predikat) Selain perluasan kedua gatra diatas (subyek dan predikat ) sering pula dijumpai perluasan gastra tambahan, seperti : Fitri menulis surat. Diperluas menjadi ; Fitri menulis surat temannya di Jakarta

11

3) Berdasarkan Isi atau Fungsinya Kalimat dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu: 1. Kalimat Perintah Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Kalimat perintah biasanya diakhiri dengan tanda seru (!) dalam penulisannya. Sedangkan dalam bentuk lisan, kalimat perintah ditandai dengan intonasi tinggi. Macam-macam kalimat perintah : * Kalimat perintah biasa, ditandai dengan partikel lah. Contoh : Gantilah bajumu ! * Kalimat larangan, ditandai dengan penggunaan kata jangan. Contoh Jangan membuang sampah sembarangan ! * Kalimat ajakan, ditandai dengan kata mohon, tolong, silahkan. Contoh : Tolong temani nenekmu di rumah ! 2. Kalimat Berita Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan sesuatu. Dalam penulisannya, biasanya diakhiri dengan tanda titik (.) dan dalam pelafalannya dilakukan dengan intonasi menurun. Kalimat ini mendorong orang untuk memberikan tanggapan.

12

Macam-macam kalimat berita : * Kalimat berita kepastian Contoh : Nenek akan datang dari Bandung besok pagi. * Kalimat berita pengingkaran Contoh : Saya tidak akan datang pada acara ulang tahunmu. * Kalimat berita kesangsian Contoh : Bapak mungkin akan tiba besok pagi. * Kalmat berita bentuk lainnya Contoh : Kami tidak taahu mengapa dia datang terlambat. 3. Kalimat Tanya Kalimat tanya adalah kalimat yang bertujuan untuk memperoleh suatu informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. Kalimat ini diakhiri dengan tanda tanya(?) dalam penulisannya dan dalam pelafalannya menggunakan intonasi menurun. Kata tanya yang dipergunakan adalah bagaimana, dimana, berapa, kapan. Contoh: - Mengapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan disainnya? - Kapan Becks kembali ke Inggris?

13

4. Kalimat Seruan Kalimat seruan adalah kalimat yang digunakan untuk mengungkapakan perasaa yang kuat atau yang mendadak. Kalimat seruan biasanya ditandai dengan intonsi yang tinggi dalam pelafalannya dan menggunakan tanda seru (!) atau tanda titik (.) dalam penulisannya. Contoh: - Aduh, pekerjaan rumah saya tidak terbawa. - Bukan main, eloknya. 4) Berdasarkan Unsur Kalimat Kalimat dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu: 1. Kalimat Lengkap Kalimat lengkap adalah kalimat yang sekurang-kurangnya terdiri dari satu buah subyek dan satu buah predikat. Kalimat Majas termasuk ke dalam kalimat lengkap. Contoh : - Mahasiswa berdiskusi di dalam kelas. . S P K

- Ibu mengenakan kaos hijau dan celana hitam. . S P O


14

2. Kalimat Tidak Lengkap Kalimat tidak lengkap adalah kalimat yang tidak sempurna karena hanya memiliki subyek saja, atau predikat saja, atau objek saja atau keterangan saja. Kalimat tidak lengkap biasanya berupa semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan dan kekaguman.Contoh: - Selamat sore - Silakan Masuk! - Kapan menikah? - Hei, Kawan 5) Berdasarkan Susunan S-P Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Kalimat Versi Kalimat versi adalah kalimat yang predikatnya mendahului subjeknya. Kata atau frasa tertentu yang pertama muncul akan menjadi kunci yang akan mempengaruhi makna untuk menimbulkankesan tertentu, dibandingkan jika kata atau frasa ditempatkan pada urutan kedua. Kalimat ini biasanya dipakau untuk penekanan atau ketegasan makna.Contoh: - Ambilkan koran di atas kursi itu! . P S

15

- Sepakat kami untuk berkumpul di taman kota. . S P K

2. Kalimat Inversi Kalimat inversi adalah kalimat yang susunan dari unsur-unsur kalimatnya sesuai dengan pola kalimat dasar bahasa Indonesia (S-P-O-K). Contoh: - Penelitian ini dilakukan mereka sejak 2 bulan yang lalu. . S P O K

- Aku dan dia bertemu di cafe ini. . S P K

6) Berdasarkan Bentuk Gaya Penyajiannya (Retorikanya) Kalimat dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Kalimat Yang Melepas Kalimat yang melepas terbentuk jika kalimat tersebut disusun dengan diawali oleh unsur utama (induk kalimat) dan diikuti oleh unsur tambahan (anak kalimat). Unsur anak kalimat ini seakan-akan dilepaskan saja oleh penulisnya. Jika unsur anak kalimat tidak diucapkan, kalimat itu sudah bermakna lengkap.

16

Contoh; - Saya akan dibelikan vespa oleh Ayah jika saya lulus ujian sarjana. - Semua warga negara harus menaati segala perundang-undangan yang berlaku agar kehidupan di negeri ini berjalan dengan tertib dan aman. 2. Kalimat yang Klimaks Kalimat klimaks terbentuk jika kalimat tersebut disusun dengan diawali oleh anak kalimat dan diikuti oleh induk kalimat. Kalimat belum dapat dipahami jika hanya membaca anak kalimatnya. Sebelum kalimat itu selesai, terasa masih ada sesuatu yang ditunggu, yaitu induk kalimat. Oleh karen itu, penyajian kalimat ini terasa berklimaks dan terasa membentuk ketegangan. Contoh: - Karena sulit kendaraan, ia datang terlambat ke kantornya. - Setelah 1.138 hari disekap dalam sebuah ruangan akhirnya tiga sandera warga negara Prancis itu dibebaskan juga.3. 3. Kalimat Yang Berimbang Kalimat yang berimbang disusun dalam bentuk kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk campuran, Struktur kalimat ini memperlihatkan kesejajaran yang sejalan dan dituangkan ke dalam bangun kalimat yang simetri. Contoh:

17

Bursa saham tampaknya semakin bergairah, investor asing dan

domestik berlomba melakukan transaksi, dan IHSG naik tajam. - Jika stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan tenang dan dapat beribadat dengan leluasa. 7) Berdasarkan Subjeknya Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Kalimat Aktif Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu

pekerjaan/tindakan.Kalimat ini biasanya memiliki predikat berupa kata kerja yang berawalan me- dan ber-. Predikat juga dapat berupa kata kerja aus (kata kerja yang tidak dapat dilekati oleh awalan mesaja), misalnya pergi, tidur, mandi, dll (kecuali makan dan minum). Contoh: - Mereka akan berangkat besok pagi. - Kakak membantu ibu di dapur. Kalimat aktif dibedakan menjadi 2, yaitu: 1.1 Kalimat Aktif Transitif

18

Kalimat aktif transitif adalah kalimat yang dapat diikuti oleh objek penderita (O1). Predikat pada kalimat ini biasanya berawalam me- dan selalu dapatt dirubah menjadi kalimat pasif. Contoh: . Eni mencuci piring. S P O1

1.2 Kalimat Aktif Intransitif Kalimat aktif intransitif adalah kalimat yang tidak dapat diikuti oleh objek penderita (O1). Predikat pada kalimat ini biasanya berawaln ber-. Kalimat yang berawalan me- tidak diikuti dengan O1. Kalimat ini tidak dapat dirubah menjadi kalimat pasif. Contoh: - Mereka berangkat minggu depan. . S P K

- Amel menangis tersedu-sedu di kamar. . S P K

1.3 Kalimat Semi Transitif Kalimat ini tidak dapat dirubah menjadi kal pasif karena disertai oleh pelengkap bukan objek. Contoh:

19

- Dian kehilangan pensil. . S P Pel.

- Soni selalu mengenderai sepeda motor ke kampus. . S P Pel K

2. Kalimat Pasif Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan/tindakan. Kalimat ini biasanya memiliki predikat berupa kata kerja berawalan di- dan terdan diikuti oleh kata depan oleh. Kalimat pasif dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: 2.1 Kalimat Pasif Biasa Kalimat pasif ini biasanya diperoleh dari kalimat aktif transitif. Predikat pada kalimat ini berawalan di-,ter-,ke-an. Contoh: - Piring dicuci Eni. . S P O2

2.2 Kalimat Pasif Zero Kalimat pasif zero adalah kalimat yang objek pelakunya(O2) melekat berdekatan dengan O2 tanpa disisipi dengan kata lain. Predikat pada kalimat ini berakhiran -kan dan akan terjadi penghilangan awalan di-. Predikatnya juga
20

dapat berupa kata dasar berkelas kerja kecuali kata kerja aus. Kalimat pasif zero ini berhubungan dengan kalimat baku. Contoh: - Ku pukul adik. . O2 P S

- Akan saya sampaikan pesanmu. . O2 P S

Cara mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif : 1. Subjek pada kalimat aktif dijadikan objek pada kalimat pasif. 2. Awalan me- diganti dengan di-. 3. Tambahkan kata oleh di belakang predikat. Contoh : Bapak memancing ikan. (aktif) . Ikan dipancing oleh bapak. (pasif)

4. Jika subjek kalimat akrif berupa kata ganti maka awalan me- pada predikat dihapus, kemudian subjek dan predikat dirapatkan. Contoh : Aku harus memngerjakan PR. (aktif) . PR harus kukerjakan. (pasif)

21

E. Makna Kalimat Pembahasan terdahulu membicarakan tentang kalimat ditinjau dari segi bentuknya. Pembahasan selanjutnya akan membicarakan kalimat ditinjau dari segi makananya (nilai komunikatifnya) dan ditinjau dari segi maknanya, kalimat dibedakan menjadi : 1. Kalimat berita Kalimat berita atau dekalratif adalah kalimat yang

memberitakan sesuatu kepada pembaca atau pendengar. Tadi malam terjadi kebakaran di jalan Jendral Sudirman. Memukau sekali penampilan kamu dipanggung tadi malam. Tahun ini film Gladiator mendapat peringkat sebagai film terbaik. 2. Kalimat perintah Kalimat perintah atau imperatif adalah kalimat yang maknanya memberikan perintah untuk melakukan suatu tindakan. Dalam bentuk bahasa tulis kalimat perintah diakhiri dengan tanda seru (!), sedangkan dalam bentuk bahasa lisan, nadanya agak naik. Perhatikan contoh berikut : Tolong ambilkan buku di kamar ! Buka pintu itu lebar lebar ! 3. Kalimat Tanya Kalimat tanya atau interogatif adalah kalimat yang isinya mengetahui sesuatu atau seseorang, atau kalimat yang ingin

22

mengetahui jawaban

terhadap suatu

masalah atau keadaan.

Pembentukan kalimat tanya dapat dilakukan dengan cara : Menggunakan kata tanya, misalnya : Siapakah aktor terbaik di Piala Oscar kemarin ? Bagaimana penampilan dia tadi malam ? Mengapa kamu tidak datang di pesta kemarin ?

Mengubah intonasi kalimat (bahasa lisan), misalnya : Dia berangkat ? Ini tas yang kau cari ?

Menggunakan partikel tanya kah, misalnya : Inikah jawaban yang kau berikan ? Beginikah orang yang kau bangga-banggakan ?

Kalimat berita dapat diubah menjadi kalimat tanya dengan menggunakan intonasi tanya. Untuk memperluas kalimat tanya maka partikel kah dapat ditambahkan pada tanya. 4. Kalimat Emfatik Kalimat emfatik adalah kalimat yang memberikan penegasan kepada subjek. Penegasan itu dilakukan dengan menambahkan partikel kah pada subjek, atau menambahkan kata sambung yang dibelakang subjek. Contoh : a. Ida penyebab kesalahpahaman itu. Ida lah yang menyebabkan kesalahpahaman itu. b. Buruh pabrik memprotes kebijakan upah maksimun regional

23

Buruh pabriklah yang memprotes kebijakan upah maksimun regional Adanya sbuah pertanyaan yang disampaikan itu tidak

memerlukan jawaban. Pertanyaan semacam itu dikenal dengan nama pertanyaan retoris, yang erat kaitannya dengan gaya bahasa yang digunakan oleh seseorang dalam berpidato atau dalam percakapan sehari-hari, karena sipenanya beranggapan bahwa pendengar sudah mengetahui jawabannya.Misalnya : Bukankah kebebasan yang kita inginkan selama ini sudah terpenuhi ? Terhadap pertanyaan semacam ini kita tidak perlu menjawabnya sebab pembicara mengajukan pertanyaan bukan untuk meminta jawaban melainkan untuk menegaskan saja.

24

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN

1. Kalimat adalah kumpulan kata yang memiliki pengertian lengkap dan dibangun oleh konstruksi fungsional dan tidak tergantung pada konstruksi gramataikal yang lebih besar. 2. Unsur unsur kalimat : subjek, predikat, objek, pelengkap dan komplemen serta keterangan 3. Jenis jenis kalimat: A. Berdasarkan Pengucapan B. Berdasarkan Jumlah Frasa (Struktur Gramatikal C. Berdasarkan Isi atau Fungsinya D. Berdasarkan Unsur Kalimat E. Berdasarkan Susunan S-P F. Berdasarkan Bentuk Gaya Penyajiannya (Retorikanya) G. Berdasarkan Subjeknya
B. SARAN

1. Makalah ini tentunya belum mencakup semua pembahasan mengenai kalimat dalam bahasa Indonesia, oleh karena itu untuk

melengkapinya perlu ditunjang dengan membaca dan mempelajari tentang kalimat dalam bahasa Indonesia dari berbagai buku-buku yang membahas tentang kalimat dalam bahasa indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

25

Kadir, Abdul.2008. Bahan Ajar Bahasa Indonesia.Makassar; Dipakai Dalam Lingkungan Sendiri Akhadiah, Sabarti, dkk.1993. Modul Pokok Bahasa Indonesia.Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Peningkatan Mutu Guru SD Setara D-II dan Pendidikan Kependidikan. E Zainal, Arifin. S.Amran. 2009.Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta;Akademika Pressindo. http:// jjkoe.blogspot.com /2008/01/ tata-kalimat-bahasa-indonesia.html.Diunduh tanggal 20Desember 2012 http:// www.scribd.com / ... / Kerangka-Bahan-Ajar-Bahasa-Indonesia -. Diunduh tanggal 20 Desember 2012 http:// community.gunadarma.ac.id / blog / view / id_ 10771 / title_menggunakanbahasa-indonesia-secara-baik-dan/.Diunduh tanggal 20 Desember 2012 http:// freezcha. wordpress. Com / 2010 /05 /08 / jenis-jenis-kalimat /.Diunduh tanggal 20Desember 2012 http://id.wikisource.org/wiki/Buku_Praktis_Bahasa_Indonesia_2/Kalimat.Diundu h tanggal 20 Desember 2012

26