Anda di halaman 1dari 4

DENVER / DDST Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) menjelaskan bahwa balita kependekan dari anak di bawah lima

tahun yaitu dari usia 12 sampai 59 bulan. Berdasarkan periode usia perkembangan, masa kanak-kanak awal (satu sampai enam tahun) terbagi menjadi dua periode menurut Potter dan Perry (2005) yaitu toddler (satu sampai tiga tahun) dan pra sekolah (tiga sampai enam tahun). Batita atau toddler adalah sekelompok penduduk berusia kurang dari tiga tahun atau penduduk yang belum merayakan ulang tahunnya yang ketiga dan menjadi sasaran pelayanan program kesehatan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009). Umur anak di bawah 5 tahun merupakan periode emas yang mennetukan kualitas hidupnya di masa yang akan datang. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan merupakan masalah yang sering di jumpai di masyarakat, tetapi terkadang kurang mendapatkan penanganan yang tepat. Banyak orang tua yang menunda penanganan keterlambatan perkembangan mengakibatkan prognosis yang kurang baik (Ariani & Mardhani, 2012). Proses pertumbuhan dan perkembangan anak mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan. Prinsip-prinsip tersebut menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009), meliputi: 1. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Anak akan memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak melalui belajar. 2. Pola perkembangan dapat diramalkan Semua anak memiliki pola perkembangan yang sama, sehingga perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak menurut Hidayat (2005), yaitu faktor herediter dan lingkungan. Faktor herediter meliputi genetik/bawaan, jenis kelamin, ras/etnik dan umur. Faktor lingkungan meliputi lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal. Lingkungan prenatal merupakan lingkungan dalam kandungan, mulai konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil, lingkungan mekanis (posisi janin

dalam uterus, zat kimia atau toksin), radiasi, infeksi dalam kandungan, stres, faktor imunitas, kekurangan oksigen pada janin. Lingkungan postnatal merupakan lingkungan setelah lahir yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, seperti budaya lingkungan, sosial ekonomi keluarga, nutrisi, iklim atau cuaca, olahraga, posisi anak dalam keluarga, dan status kesehatan. Sedangkan menurut Al-Hassan dan Lanford (2009) status sosial ekonomi dapat ditunjukkan dengan pendapatan keluarga, tingkat pendidikan ayah dan tingkat pendidikan ibu serta pekerjaan orang tua. DDST yaitu suatu tes untuk melakukan skrining/pemeriksaan terhadap perkembangan anak usia satu bulan sampai dengan enam tahun menurut Denver. Denver II adalah revisi utama dari standarisasi ulang dari DDST dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDSTR). DDST merupakan salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Tujuan DDST adalah mengkaji dan mengetahui perkembangan anak yang meliputi motorik kasar, bahasa, adaptif-motorik halus dan personal sosial pada anak usia satu bulan sampai dengan enam tahun (Saryono, 2010). Fungsi DDST yaitu untuk mengkaji dan mengetahui tingkat perkembangan anak, menstimulasi perkembangan anak, pedoman dalam perawatan perkembangan anak dan mendeteksi dini keterlambatan perkembangan anak. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit. Aspek Perkembangan yang dinilai terdiri dari 125 tugas perkembangan. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas dan menurut Saryono (2010) ada empat sector perkembangan yang dinilai, yaitu: 1. Perilaku Sosial Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. 2. Gerakan Motorik Halus Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. 3. Bahasa Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan.

4.

Gerakan Motorik Kasar Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

MTBS Menurut Depkes (2000), Manajemen Terpadu Balita Sakit adalah manajemen untuk menangani balita sakit yang bersifat terpadu yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Terpadu berarti mencari dan mengobati dengan dipandu buku bagan MTBS untuk beberapa penyakit yang menyebabkan kematian bayi dan balita seperti pneumonia, diare, malaria, campak, gizi buruk dan masalah lainnya ke dalam satu episode pemeriksaan. Dimulai dari penilaian berupa pemeriksaan gejala dan tanda-tanda yang muncul, pembuatan klasifikasi, pemberian tindakan dan kemudian diakhiri dengan melakukan konseling. Pemberian intervensi pun terpadu pula dengan melibatkan tiga komponen utama yaitu pengobatan (kuratif), pencegahan (preventif) serta promosi (promotif). Keterlibatan beberapa program inilah yang membedakan dengan strategi yang lain yang bersifat terkotak-kotak secara vertikal seperti manajemen ISPA, program pemberantasan malaria, program pemberantasan diare, penanganan gizi buruk dan lain sebagainya. Menurut WHO-UNICEF (2003), Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) sebagai strategi yang penting untuk memperbaiki kesehatan anak. MTBS ini memusatkan pada penanganan anak bawah lima tahun (balita), tidak hanya mengenai status kesehatannya namun juga penyakit-penyakit yang menyerang mereka. Fokusnya memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan pada fasilitas tingkat pelayanan dasar (balai pengobatan dan pelayanan rawat jalan) dengan menggunakan standar serta pendekatan yang terintegrasi untuk pelayanan kesehatan. Menurut WHO (1998), ide keterpaduan ini didasari pada kenyataan di lapangan bahwa sebagian besar balita sakit yang datang seringkali menunjuk gejala klinis yang saling tumpang tindih dan bahkan tidak spesifik sehingg menimbulkan kesulitan dalam menegakkan diagnosis

tunggal dan atau melakukan pendekatan penyakit secara spesifik sehingga berdampak pada membengkaknya biaya pengobatan. Pengertian terpadu dalam MTBS merujuk pada sejumlah strategi tertentu yang ditambahkan dalam pendekatan manajemen, bertujuan agar Balita mendapatkan pelayanan menyeluruh baik itu di rumah maupun di fasilitas kesehatan. MTBS dikatakan terpadu sebab memadukan bersama-sama pelayanan promosi, pencegahan, serta pengobatan dalam satu strategi, yang dikelola dan dikoordinir oleh tim yang melibatkan manajer dan para petugas yang mempunyai keahlian yang beragam. Penerapan MTBS menggunakan manajemen kasus untuk menangani masalah-masalah kesehatan masyarakat yang utama melalui standarisasi dan pendekatan terpadu didasarkan pada buku bagan yang diberikan pada paket pelatihan MTBS Strategi yang digunakan dalam pendekatan MTBS adalah menggabungkan perbaikan tatalaksana balita sakit dengan aspek nutrisi, imunisasi dan hal lain yang berpengaruh pada kesehatan anak, termasuk kesehatan ibu. Beberapa kendala dijumpai pada penerapan MTBS, seperti waktu pelayanan yang relatif lebih lama, masyarakat cenderung malas untuk melakukan kunjungan ulang. Sebagaimana kita ketahui kunjungan ulang seharusnya dilakukan dua hari setelah pemberian antibiotika, untuk keperluan penilaian efek antibiotika yang diberikan.

Depkes WHO,

RI. (1998).

(2000) Integrated

Pedoman Management

Manajemen of the

Terpadu Childhood

Balita Illness,

Sakit. UNICEF.

WHO. (2003) Component of IMCI, Toward Better Child Health And Development,