Anda di halaman 1dari 10

Hasil Rangkuman Buku Diskursus Islam Politik dan Spiritual

Bab 1 Doktrin Islam Definisi Islam


Islam ialah agama yang diturunkan oleh Allah Subhannallahu Wataala kepada Nabi Muhammad saw. Untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesamanya. Definisi Islam diatas diambil dari beberapa nas, baik al-Quran maupun Hadist, berupa deskripsi yang bersifat Jmi (komprehensif) dan Mni (protektif), Jmi (komprehensif) karena mendeskripsikan bahwa Islam mendeskripsikan dengan jelas urusan mulai urusan dunia hingga akhirat, mulai dari akidah, ibadah, dan dosa, pahala, surge, neraka, hingga masalah ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, dan yang lain lain. Mni (protektif), definisi Islam diatas telah membatasi bahwa hanya Islam-lah yang diturunkan oleh Allah Subhannallahu Wataala dan hanya kepada Nabi Muhammad saw. Nas-nas yang membuktikan termasuk diantaranya QS: Ali imran: 19, QS: Al- Maidah: 3, dan QS: Ali imran: 85. Pada nas yang pertama, telah jelas bahwa, Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS: Ali imran: 19), jelas sekali ini menerangkan bahwa hanya Islam-lah yang benarbenar Allah turunkan kepada umat manusia. Hal ini diperkuat dengan nas selanjutnya, Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Aku cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, serta aku ridhai Islam sebagai agama kamu. (QS: Al-Maidah: 3) dan diperkokoh dengan nas, siapa saja

yang mencari selain Islam sebagai agama, sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat ia termasuk orang orang yang merugi. (QS: Ali imran: 85). Disini jelas sekali bahwa Islam ialah agama yang sudah sempurna, disempurnakan oleh Allah sendiri dan benar-benar meliputi aspek duniawi dan akhirat dari umat manusia.

Antara Islam dan kekufuran.


Jelas sekali apabila melogikakan bahwa turunnya agama Islam beserta berdasar dari nas Ali imran ayat 85, yang menjelaskan rugi-lah orang orang yang mencari agama selain Islam. Ada satu nas lagi yang menjelaskan bahwa Islam ialah agama penyempurna dan penutup agama sebelumnya, dan kami turunkan Kitab ini kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran untuk membenarkan kitab yang diturunkan kepadanya dan mengalahkannya. QS: Al- Maidah : 48. Jelas lah bahwa dapat dikategorikan pula orang-orang yang mencari agama selain Islam ialah kufur. Apakah kufur itu? Kufur ialah menolak sebagian ataupun seluruh hukum hukum yang Allah turunkan melalui Islam. Pertanyaan lainnya, pada konteks apakah seorang individu dikatakan kufur? Untuk menjawabnya, Allah menegaskan dalam QS: An-Nisa: 60, Tidakkah kamu melihat orang-orang yang mengira dirinya beriman kepada apa saja yang diturunkan kepadamu serta apa yang diturunkan sebelummu? Mereka ingin berhukum kepada Thagut, sedangkan mereka diperintahkan agar menolaknya. Sesungguhnya syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya. Dan pada nas lainnya, Apakah hukum jahiliyah yang mereka ambil? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang beriman? QS: Al- Maidah : 5

Sebagai penjelasan tambahan, agama dan mabda yang ada didunia ini, hanya sebagian tersudut pada Ruhiyyah (aspek spiritual) saja dan sebagian lain tersudut pada Syasiyyah (aspek duniawi) saja. Inilah yang menyebabkan bahwa agama selain Islam, dan mabda yang ada didunia ini, selain mabda Islam, tidaklah sempurna, inti dari hal ini ialah jelas, tegas, dan bias dibuktikan bahwa Islam ialah agama penyempurna dan penutup agama agama lain, dan benar-benar telah di-Ridhai Allah. Ini sudah dibuktikan dengan Islam benar-benar menjelaskan aspek spiritual dan aspek duniawi secara komprehensif, tepat sasaran, jelas, tegas, dan terproteksi. Kembali kepada kufur, maka dapat disimpulkan bahwa kufur ada dua. Yaitu kufur dari segi agama, yaitu terbagi dua lagi menjadi kufur Ahli Kitab, meliputi Yahudi dan Nasrani dan kufur musyrik, ialah meliputi agama selain Yahudi dan Nasrani, baik Hindu, Budha, Konghucu, Sintoisme, dan lain-lain. Kufur dari segi mabda , meliputi mabda Kapitalisme dan Sosialisme.

Antara Islam dan Mohammadenisme


Orientalis H.A.R. GIBB berasumsi bahwa ajaran islam tidak hanya berasal dari Allah semata. H.A.R. GIBB menyatakan bahwa Hadist, yang berisikan qawl, fil, dan taqrir (pernyataan, perbuatan, dan diam yang menunjukkan pengakuan) dimana H.A.R. GIBB berasumsi bahwa itu berarti Nabi Muhammad juga mendirikan islam. Dari sinilah muncul pemahaman atau gagasan Mohammadenisme. Gagasan ini ditujukan untuk melemahkan atau berusaha menolak bahwa Islam murni dari Allah Subhannallahu wataala. ada dua hal yang dapat digunakan sebagai sanggahan terhadap hal ini: 1. Posisi hadist, kedudukannya dimata Islam ialah sumber isi hadist ialah sama dengan sumber isi Al-Quran, yaitu merupakan Wahyu Allah

Subhannallahu Wataala, dimana perbedaannya hanya terletak pada susunan teks, dan gaya bahasa yang dipergunakan. Sungguh dalam AlQuran sendiri dibuktikan dalam ayat, aku tidak sekali-kali mengikuti selain apa yang diwahyukan kepadaku (QS: Al- Anam: 50). 2. kedudukan nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul, apakah diizinkan untuk ber-ijtihad? Tidak diizinkan karena apa yang selama Nabi Muhammad Salallahualaihi Wassalam lakukan ialah hanya menerapkan hukum yang sudah ada dan kemudian penerapan itu disempurnakan oleh Allah Subhannallahu wataala dengan menurunkan hukum yang lebih mendetail.

Ruang Lingkup Ajaran Islam


Pada bagian ini, islam sudah jelas merupakan agama yang mengurusi dua masalah yang jelas, dan tepat sasaran, yakni, spiritual dan duniawi. Sebagai agama dan mabda islam ialah ajaran yang meliputi akidah dan sistem. Akidah akan melahirkan pemikiran yang selalu mengikutkan paham bahwa Allah Subhannallahu Wataala ialah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Akidah juga menerangkan keimanan kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, Hari kiamat dan Qadha dan Qadar. Sistem, meliputi kumpulan hukum syara yaitu hukum hukum dari Allah Subhannallahu Wataala yang jelas untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah Subhannallahu Wataala, dengan diri manusia itu sendiri, dan dengan sesamanya.

Islam Agama Politik dan Spiritual


Pertama secara normatif, islam memiliki pemikiran dan metode Pemikiran: akidah islam, keimanan kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, Hari kiamat dan Qadha dan Qadar. Kedua: pemecahan masalah meliputi hukum syara dan hukum-hukum islam yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya, dan manusia dengan sesamanya. Metode: penerapan akidah dan hukum syara melalui Khilafah i slam yang akan menegakkan islam, pemertahanan akidah dan hukum syara melalui institusi pengadilan dan penerapan sanksi hukum sesuai hukum islam, dan pengembanan tugas untuk mengemban akidah dan hukum syara melalui dakwah dan jihad bagi seluruh elemen, jihad terbagi atas tiga fase: 1. Diseru untuk masuk islam, jika menerima akan dibiarkan dan harta, darah, dan kehormatannya dijaga islam. 2. Jika tidak setuju, diseru untuk mengikuti / tunduk kepada pemerintahan islam, kehidupan duniawiyah dalam islam (hubungan manusia dengan diri dan Tuhan tidak diserukan untuk mengikuti islam). 3. jika tidak setuju, akan diperangi habis-habisan hingga tunduk kepada islam.

Kedua, secara historis , semenjak khilafah Rasulullah hingga khilafah uthmaniyyah di turki, dan dalam buku sejarah sirah dan tarikh, dan sejarah pula mencatat selama 1300 tahun lebih, menunjukkan bahwa islam, pemikiran dan metodenya, telah membuat masyarakat dunia mengerti dan memahami bahwa ketakwaan yang timbul dari pemikiran dan metode islam telah menjadi kunci utama pengendalian individu dalam kehidupan. Melakukan amar maruf dan nahy munkar sebagai kontrol sosial agar berada

didalam jalan islam yang lurus. Ketiga secara empiris dalam buku Taqiyuddin an-Nabhani, ada gambaran khas tentang aspek yang ada dalam islam sebagai agama dan mabda yang jelas mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, yaitu lembaga pengadilan dan institusi pemerintahan. Dalam ilmu fiqih dan sumber-sumber buku fiqih, struktur pemerintahannya ialah : 1. Khilafah, 2. Wakil Khilafah, 3. Pembantu Administratif Khalifah, 4. Penguasa Wilayah dan Daerah, 5. Biro Administratif Umum, 6. Panglima Perang, 7. Majilis Ummat, dan 8. Pengadilan

Kedudukan Akhlak dalam Islam


Kedudukan akhlak dalam islam hanya dilihat dari dua hal, pertama tujuan perbuatan, apa perbuatan itu untuk mencari Ridha Allah atau Riya? dan kedua, standard dan balasan perbuatan, sesuaikah dengan hukum syara? apakah akibatnya? Dosa ataukah pahala? Inilah yang menyebabkan dasar kedudukan akhlak dalam islam. Benar-benar menentukan kejelasan atas perbuatan yang akan dilakukan oleh seorang individu.

Standar Kebenaran Agama dan Mabda

Hanya ada dua aspek dari standar kebenaran agama dan Mabda yaitu keserasian kaidah berfikirnya dengan fitrah manusia, dimana banyak agama selain islam dan mabda selain apabila dilihat dengan standar ini memang hanya menyangkut spiritual saja namun tidak mengatur duniawi dimana disebutkan sebelumnya, agama seharusnya mengatur hubungan antara manusia dengan penciptanya, dengan dirinya, dan dengan sesamanya. Islam menjawab semua hubungan ini. Yang kedua ialah asas yang menjadi landasannya, banyak agama dan Mabda yang ada selain islam menggambarkan hal-hal yang justru tidak masuk akal, misalkan penggambaran Tuhan dalam berbagai agama yang malah justu lebih menggambarkan bahwa pencipta jumlahnya ada banyak (terutama hindu budha), dan bahkan mampu (dengan mengada-ada dan kesalahan pemahaman, kekeliruan) menggambarkan wujud Tuhan tersebut. Juga perlu dipertimbangkan bahwa banyak agama dan mabda selain islam hanya setengah-setengah dalam mengatur manusia sehingga banyak yang akhirnya meninggalkan agama dan mabda tersebut.

Kesalahan Yahudi dan Nasrani


Yahudi mengatakan bahwa Uzayr ialah putra Allah. Nasrani mengatakan pula Isa Al-Masih ialah putra Allah, At Taubah ayat 30. Berdasarkan Ibn al-Jawzi, yang berakhir pada kesimpulan bahwa keduaduanya menganggap dan mengakui bahwa Allah memiliki anak, dan walaupun mereka menjelaskan bahwa konsepsinya ialah bukan anak, melainkan perwujudan dari wujud Allah, tetap salah. Mengapa, apabila ditinjau kembali dari segi fitrah manusia dan asas pemikiran jelas sekali terdapat kelemahan dari konsep ini. Pertama dari segi fitrah manusia yang

pasti membutuhkan sesuatu untuk dikultuskan, disucikan, dan diagungagungkan. Sesuatu tersebut haruslah tidak memerlukan kepada yang lain dan tidak mempunyai keterbatasan. Meskipun kalangan Yahudi dan Nasrani menganggap bahwa konsepsi perwujudan Tuhan dalam anak/ putra Allah itu benar menurut mereka, tetap dapat disimpulkan satu kesimpulan yaitu, mereka keliru atas hal tersebut, manusia yang mereka sebut, sebagai putra Allah tak lain ialah hanya sebagai penyampai wahyu dari Allah. Disinilah penyebab utama kekeliruan para Yahudi dan Nasrani yang menganggap perwujudan tersebut. Yang kedua ialah asas pemikirannya, disini dapat disimpulkan sebuah kekeliruan. Penjelasan atas kekeliruannya dalam memahami posisi sebenar-benarnya dari manusia manusia tersebut yang dianggap putra Allah, melainkan mereka sekali lagi hanya penyampai wahyu dari Allah Subhannallahu Wataala. Mereka keliru dalam memahami konteks penyampai dan kemudian mereka kemudian beranggapan bahwa penyampai itulah wujud dari Allah. Kemudian. Masalah lain ialah kedua agama ini hanya mengatur aspek spiritual individu dan tidak ada aspek duniawi yang diatur, yang menyebabkan mereka ada yang mengambil mabda kapitalisme dan ada yang mengambil mabda sosialisme dan akhirnya banyak yang menjadi ateis dan sekuler karena ketimpangan yang mereka dapatkan.

Kesalahan Kapitalisme dan Sosialisme


Kapitalisme berpendapat bahwa manusialah yang berhak mengatur hubungan manusia dengan manusia dengan asas manfaat. Kapitalisme juga terbentuk dari jalan kompromi dimana ia hanya memberikan solusi jangka pendek, lemah, dan terbatas. Kapitalisme menganggap agama masih ada tapi hanya untuk masalah spiritualitas individu dan tidak boleh ikut campur

dalam urusan manusia dengan manusia. Untuk merealisasikan hal ini maka kapitalisme menurunkan suatu turunan yaitu kebebasan. Masalahnya ialah banyak hal-hal terutama segi ekonomi misalkan, akibat dari sistem ini banyak terjadi ketimpangan sosial karena semua hal diatur berdasarkan hawa nafsu manusia dan bukan dari pertimbangan, pemikiran yang benar. bahkan apabila melihat mazhab ekonomi mulai dari Adam Smith hingga Neo-Klasik, jelas sekali dapat ditarik kesimpulan bahwa mabda ini hanya membuat manusia tidak jelas dalam aspek duniawi karena hanya berasaskan kompromi yang menimbulkan manfaat yang bersifat lemah, jangka pendek, berubah ubah, dan terbatas.

Sosialisme kemudian berpendapat bahwa agama ialah candu, agama mengurangi produktivitas, agama hanya akan membuat malas orang orang yang menganutnya, dan dalam Sosialisme, yang berasaskan materialis, mereka melihat bahwa sebenarnya materi, benda mati ialah asal segala wujud dan tidak ada yang lain. Mereka beranggapan bahwa makhluk hidup muncul dari materi, dan itu otomatis. Mabda ini memposisikan bahwa Allah Subhannallahu Wataala itu tidak ada, disinilah letak kelemahan mabda ini. Kedua mabda ini jelas sekali bertentangan dengan fitrah manusia dan asas pola pemikirannya. Kedua Mabda ini hanya mengatur duniawi saja tanpa memerhatikan aspek spiritual dimana pastinya sengala apa yang manusia perbuat pasti memperoleh balasan. Kedua mabda ini jelas-jelas menolak fitrah manusia dan akal manusia. Ini menjelaskan bahwa terlihat, mabda ini ialah hanya berasaskan ketidaktahuan, kompromi, pemisahan dan bersifat lemah, kacau, dan terbatas.

Potensi Islam Sebagai Agama dan Mabda Alternatif


Telah dapat disimpulkan bahwa islam memiliki dua sistem dasar yang menyeluruh terhadap aspek duniawi dan spiritual manusia. Ini dapat dibuktikan melalui muatan ajarannya, muatan ajaran islam yang berupa konsep ketuhanan yang benar. konsep ketuhanan tersebut ialah tauhid yang terbagi atas dua hal, yaitu Tauhid uhuliyyah dan Tauhid rubuhiyyah, dimana Tauhid uhuliyyah menjelaskan bahwa Allah Subhannallahu Wataala ialah satu-satunya Zat yang hanya patut disembah tanpa ada yang lain. Konsep selanjutnya, Tauhid rubuhiyyah menjelaskan bahwa Allah Subhannallahu Wataala ialah satu-satunya Zat Yang Maha Pencipta dan Mengatur segala apa yang ada dilangit dan dibumi, baik itu spiritual dan duniawi. Dimana manusia dan alam semesta benar benar bergantung kepada-Nya.