Anda di halaman 1dari 10

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

BAB 1 PENDAHULUAN

Studi kelayakan adalah penelitian tentang layak tidaknya suatu gagasan atau usulan proyek diwujudkan menjadi kenyataan. Hal ini dikaitkan dengan tingkat keberhasilan yang hendak diraih. Melihat kegunaannya yang strategis, yaitu sebagai bahan pengambilan keputusan, maka suatu studi kelayakan haruslah mencakup berbagai aspek yang terkait serta memperhatikan mutu dan jangkauan pengkajian. Kriteria studi kelayakan ini secara umum dibagi menjadi dua, yaitu untuk Pemerintah dan lainnya untuk Pihak Swasta. Bagi Pemerintah, keberhasilan dikaitkan dengan manfaat sosial ekonomi. Aspek ini didasarkan pada landasan yang luas, yang melihat biaya dan manfaat investasi dari sudut kepentingan sosial atau masyarakat secara menyeluruh, yang bisa dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan sumberdaya yang melimpah di tempat itu, bisa juga dikaitkan dengan penghematan devisa atau penambahan devisa yang diperlukan oleh pemerintah. Bagi Pihak Swasta, keberhasilan utamanya ditinjau terhadap aspek finansial. Peninjauan dikaitkan dengan tujuan finansial usaha sektor swasta yang menginginkan peningkatan kekayaan perusahaan. Investor akan lebih

memperhatikan prospek usaha, yakni tingkat keuntungan yang diharapkan beserta risiko investasi. Semakin tinggi risiko investasi akan semakin tinggi tingkat keuntungan yang diminta oleh para investor. Dalam penerapannya, sulit menentukan suatu kerangka umum yang memuat sistematika dan ketentuan aspek apa yang mendapat sorotan dalam suatu studi kelayakan oleh karena beraneka ragamnya proyek. Oleh karena itu, pengkajian hendaknya disesuaikan dengan jenis proyek serta tujuan yang spesifik.

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

BAB 2 HASIL WAWANCARA


2.1. Konsultan 2.1.1. Feasibility Study yang Pernah Dilakukan
Studi kelayakan yang pernah dilakukan Dinas Pekerjaan Umum Karanganyar sudah sangat banyak, antara lain pembangunan talud di Matesih, Tawangmangu. Rehabilitasi sekolah dan bangunan-bangunan tua dan studi kelayakan pada pemasangan pipa saluran air di Gondosuli Tawangmangu serta studi kelayakan pembangunan Fly Over Palur. Dalam laporan kali ini kami mengambil hasil studi kelayakan pembangunan Fly Over Palur. Dewasa ini, kecenderungan globalisasi dan regionalisasi membawa

tantangan dan sekaligus peluang baru bagi proses pembangunan nasional dan daerah. Seiring berkembangnya kemajuan industri, khususnya industri otomotif, semakin banyak pula jumlah moda transportasi yang diproduksi. Akan tetapi, bertambahnya jumlah moda transportasi ini tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur jalan yang memadai. Dampaknya, terjadilah permasalahan kepadatan, kemacetan dan

kesemrawutan lalu lintas. Sebagai contoh di kota Solo, tepatnya di perlintasan kereta api Palur dengan jalan raya tidak mampu lagi melayani volume lalu lintas yang ada serta terdapat 3 titik konflik lalu lintas yang berasal dari pertemuan sebidang. Pada saat jam sibuk pukul 06.00 s/d 18.30 jumlah kendaraan bermotor / tidak bermotor meningkat, serta ditambah dengan saat KA melintas, maka muncul permasalahan sebagai berikut : a. Terjadinya hambatan perjalanan ( traffic congestion ). b. Terjadinya kesemrawutan kendaraan ( traffic crowded ). c. Terjadinya antrean pada perlintasan jalan rel (queueing flow ).
2

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

Saat ini pembangunan jalan tembus Tawangmangu Sarangan sudah mulai dilaksanakan yang dalam waktu dekat sudah berfungsi, maka jumlah arus kendaraan bus, mobil penumpang, sepeda motor, dll akan meningkat. Pada waktuwaktu tertentu akan terjadi kemacetan lalu lintas atau bahkan kecelakaan di perlintasan KA. Oleh karena itu, perlu segera diantisipasi, agar kejadian yang tidak diinginkan tersebut tidak terjadi, yaitu dengan mempercepat pelaksanaan pembangunan Fly Over Palur. Manfaat Pembangunan Fly Over antara lain : a. Meningkatkan kelancaran arus lalu lintas di Simpang Palur, karena semua lalu lintas yang melewati persimpangan dapat berjalan dengan relatif tanpa hambatan. b. Menunjang perkembangan kawasan wisata dan industri di Kabupaten Karanganyar. c. Mengembangkan potensi daerah Jawa Tengah bagian timur. d. Meningkatkan kuantitas penerbangan pada bandara internasional Adi Sumarmo dari Kabupaten Magetan, dan sekitarnya. e. Meningkatkan potensi agrobisnis dan perekonomian masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut agar tidak terjadi kemacetan, kecelakaan lalu lintas dan memberikan layanan yang memadai kepada masyarakat, maka pemerintah Kabupaten Karanganyar akan merencanakan pembangunan Fly Over yang saat ini sedang dilaksanakan kegiatan studi kelayakannya. Tujuan : 1. Peningkatan pelayanan mobilitas kepada masyarakat. 2. Mengantisipasi kemungkinan terjadinya kemacetan yang mungkin timbul akibat peningkatan kepadatan arus lalu lintas. 3. Mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Sasaran : 1. Menyusun laporan hasil Feasibility Study, yang diperlukan untuk pengambilan keputusan pembangunan Fly Over.
3

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

2. Mengusulkan rencana desain Fly Over, apabila berdasarkan hasil Feasibility Study dinyatakan layak untuk dibangun.

2.1.2. Jenis-jenis Studi Kelayakan yang Pernah Dikerjakan


Jenis-jenis studi kelayakan antara lain : 1. Evaluasi kelayakan Cost Recovery 2. Evaluasi kelayakan non-Cost Recovery Berdasarkan hasil wawancara dengan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Karanganyar, proyek Cost Recovery sejauh ini belum pernah dilaksanakan.

2.2. Kriteria Proyek


Kriteria proyek yang membutuhkan studi kelayakan antara lain 1. Aspek Lingkungan Proyek yang berdampak besar terhadap lingkungan, misalnya study kelayakan dalam pembuatan gedung pemerintahan, harus memperhatikan aspek lingkungan yaitu, polusi yang mungkin terjadi dalam pembangunannya, baik polusi udara dan suara. 2. Aspek Sosial Dalam proses pembangunan tetap juga harus memperhatikan sosial, sebagai contoh dalam pembangunan sekolah, juga harus memperhatikan masyarakat sekitar. Proses pembangunan sekolah dapat melibatkan masyarakat sekitar, misalnya penyerapan tenaga kerja lokal dalam proses pembangunan. Setelah bangunan sekolah jadi, akan banyak masyarakat yang menyekolahkan anakanaknya di sekolah tersebut dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat, selain itu, juga menimbulkan kesempatan bagi masyarakat untuk berdagang.

3. Aspek Finansial Untuk proyek-proyek pemerintah, umumnya tidak menggunakan aspek finansial sebagai tolak ukur, karena proyek yang dikerjakan adalah untuk kepentingan orang banyak dan demi kesejahteraan masyarakat.
4

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

Contohnya pembangunan jalan , tidak memikirkan keuntungan finansial yang akan didapat, namun lebih kepada misi sosial demi kesejahteraan masyarakat yang menggunakan jalan tersebut.

2.3. Penggunaan Hasil Studi Kelayakan


Hingga saat ini, hasil Studi Kelayakan Pembangunan Jembatan Fly Over Palur yang dilakukan pada tahun 2007 belum digunakan dikarenakan adanya berbagai kendala, sehingga pembangunan Jembatan Fly Over Palur baru akan dikerjakan pada saat ini.

2.4. Parameter Studi Kelayakan


Parameter yang digunakan dalam Studi Kelayakan Pembangunan Jembatan Fly Over Palur yaitu

1. Benefit Cost Ratio (BCR) Benefit adalah keuntungan yang diterima oleh masyarakat akibat diselenggarakannya suatu proyek, baik berupa peningkatan penghasilan, mendapatkan lapangan pekerjaan, memperoleh kemudahan untuk pelaksanaan pekerjaannya, atau bentuk lain. Disbenefit atau beban adalah kerugian yang ditanggung oleh masyarakat akibat adanya suatu proyek. Sebagai contoh, terjadinya pencemaran udara akibat asap, atau kebisingan yang dihasilkan oleh instalasi industri hasil proyek. Biaya adalah pengeluaran yang harus diadakan untuk pelaksanaan proyek, operasi, serta pemeliharaan instalasi hasil proyek. Contoh; biaya pembangunan bendungan, mengoperasikannya dan memeliharanya. BCR adalah perbandingan antara nilai ekuivalen dari Benefit (manfaat) dengan ekuivalen dari Cost (biaya) pada suatu titik waktu yang sama.
BCR Nilai sekarang Benefit (PV)B Nilai sekarang Biaya (PV)C

Apabila : BCR 1 maka proyek layak untuk dilaksanakan. BCR < 1 maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan.
5

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

2. Net Present Value (NPV) NPV adalah jumlah dari keseluruhan manfaat (benefit) dikurangi dengan keseluruhan biaya (cost) pada suatu titik waktu yang sama, misalkan harga sekarang harga yang akan datang ataupun harga tahunan.

NPV

n (C)t (Co)t t t t 0 (1 i) t 0 (1 i)

Apabila : NPV bernilai positif atau > 0, maka proyek layak untuk dilaksanakan. NPV bernilai negatif atau < 0, maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. 3. Analisis Internal Rate of Return (IRR) IRR adalah arus pengembalian yang menghasilkan Net Present Value. Aliran kas masuk sama dengan aliran kas keluar.

(C)t t t 0 (1 i)

(1 i)
t 0

(Co)t
t

Indikasi : IRR > arus pengembalian (diskonto) yang diinginkan, usulan proyek diterima. IRR < arus pengembalian yang diinginkan, usulan proyek ditolak.

4. Present Equivalent (PE) Indeks profitabilitas menunjukkan kemampuan mendatangkan laba per satuan nilai proyek.

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

Indikasi:

Indek Profitabil itas

(C)t t t 0 (1 i)

IP >1 : Usulan diterima IP <1 : Usulan ditolak

5. Payback Period Periode pengembalian diartikan sebagai jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal suatu proyek, dihitung dari aliran kas bersih per tahun. Periode pengembalian dinyatakan dalam tahun. Proyek dengan periode pengembalian lebih cepat akan lebih disukai. Perusahaan perlu menentukan batasan maksimum waktu pengembalian. Lewat waktu tersebut usulan akan ditolak.

Keuntungan: Metode ini banyak digunakan, khususnya dalam analisis pendahuluan oleh karena: a. Sederhana, menghitungnya tidak sulit, dan memberikan pengertian yang mudah tentang waktu pengembalian modal. b. Bagi proyek yang memiliki risiko makin lama makin tinggi, atau perusahaan yang peka terhadap masalah likuiditas padamasa awal proyek, dengan mengetahui kapan pengembalian modal selesai, akan amat membantu untuk memutuskan disetujui tidaknya proyek tersebut. Jadi berlaku seperti indeksi risiko bagi investor.

Keterbatasan: a. Tidak memberikan gambaran bagaimana situasi aliran kas sesudah periode pengembalian selesai. b. Tidak mempertimbangkan nilai waktu dari uang, berarti tidak mengikuti prinsip dasar analisis aspek ekonomi financial dalam mengkaji kelayakan suatu proyek (proyek) c. Tidak memberikan indikasi profitabilitas dari unit usaha hasil proyek.

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

2.5. Pelaksanaan Studi Kelayakan untuk Bangunan Publik


Studi kelayakan diimplementasikan setelah disesuaikan dengan keputusan menteri dan disetujui oleh petinggi setempat. Studi kelayakan dalam

implementasinya bersesuaian dengan keinginan masyarakat.

2.6. Kesulitan-kesulitan dalam Pelaksanaan Studi Kelayakan


Dalam penyusunan Studi kelayakan biasanya mengalami kendala dan kesulitan-kesulitan, antara lain : 1. Survei tempat yang membutuhkan waktu lama 2. Kesulitan dalam pengumpulan data, contohnya pengambilan sampel yang tidak mudah 3. Setelah di telaah lebih lanjut, terkadang kondisi di lapangan berubah, sehingga tidak sesuai lagi dengan hasil survei, akibatnya harus melakukan survei ulang. 4. Sulitnya mendapatkan persetujuan dari pusat atas studi kelayakan yang dilakukan. Terkadang studi kelayakan yang dilakukan tidak diterima oleh pusat dengan berbagai alasan.

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

BAB 3 PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan kondisi nyata di lapangan saat ini dan kecenderungan peningkatan kesejahteraan yang diikuti oleh peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan bermotor, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kelompok komoditas transportasi di Kabupaten Karanganyar merupakan kelompok komoditas dengan tingkat inflasi paling tinggi. Tingginya biaya transportasi dapat secara tidak langsung mendorong peningkatan biaya produksi barng/jasa, sehingga kemampuan produksi melemah dan memicu naiknya harga umum. Dengan lancarnya distribusi barang dan jasa inflasi pada komoditas transportasi dapat ditekan. 2. Kajian dari aspek finansial untuk alternatif 1 maupun alternatif 2 (benefit cost Ratio/BCR, Net Present Value/NPV, dan Internal Rate of Return/Irr) menunjukan bahwa pembangunan jembatan Palur Karanganyar adalah layak. 3. Masyarakat sekitar kawasan pembangunan jembatan layang Palur Kabupaten Karanganyar telah memeiliki persepsi yang negatif terhadap rencana pembangunan jembatan layang Palur Karanganyar. Hal itu terjadi akibat timbulnya trauma pembangunan di waktu yang lalu ataupun di tempat yang lain. 4. 5. Frekuensi lintasan kereta api terlalu tinggi dalam kurun waktu jam kerja. Frekuensi kemacetan lalu lintas terlalu tinggi (terlalu sering terjadi kemacetan) dalam kurun waktu jam kerja. 6. Durasi kemacetan saat ini terlalu panjang, karena pengguna jalan harus menunggu loama untuk melewati Simpang Palur, bahkan pernah membutuhkan waktu sampai 15,75 menit.

Laporan Hasil Wawancara Feasibility Study Pembangunan Fly Over Palur

7.

Polusi udara dan suara yang timbul akibat kemacetan tentu tidak dapat diterima, baik sekatrang maupun di waktu yang akan datang.

8.

Pemborosan BBM yang pasti besar akibat kemacetan, jika dihitung berdasarkan total durasi kemacetan harian dan jumlah kendaraan tang terjebak dalam kemacetan itu.

Oleh karena itu PERLU DIBANGUN FLY-OVER PADA SIMPANG PALUR atau dengan perkataan lain PEMBANGUNAN FLY-OVER PADA SIMPANG PALUR dinilai SUDAH FEASIBLE.

3.2. Saran
Atas dasar kajian dari sisi sosial ekonomi dan finansial jembatan layang (Fly-Over) Palur perlu dibangun, karena kajian tersebut menunjukan bahwa jembatan layang (Fly-Over) Plur adalah layak. Hal tersebut berarti secara sosial ekonomi dan finansial jembatan layang (Fly-Over) akan memberikan manfaat. Terkait dengan persepsi negatif yang sudah terbentuk, jembatan layang Palur Kabupaten Karanganyar jadidibangun, maka perlu sosialisasi secara intensif dan terintegrasi, terutama untuk meyakinkan masyarakat bahwa pembangunan jembatan layang (Fly-Over) Palur akan mampu memberikan kehidupan yang lebih baok. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalkan gejolak yang mungkin terjadi terkait dengan rencana pembangunan jembatan layang (Fly-Over) Palur. Oleh karena itu, disarankan agar FLY-OVER YANG AKAN DIBANGUN dapat memenuhi persyaratan- persyaratan berikut ini : 1. 2. 3. 4. Tidak menimbilkan kerugian masyarakat dari segala lapisan Tidak membutuhkan dana yang terlalu besar. Tidak merusak keindahan lokasi. Tidak memperparah kondisi mutu suara dan udara (dapat mereduksi tingkat polusi udara dan suara) 5. Tidak menimbulkan masalah sosial dan hukum kelak di kemudian hari.

10