Anda di halaman 1dari 53

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan disajikan beberapa dasar teori yang berkaitan dengan topik

penelitian ini, mulai dari pembahasan mengenai gempa bumi, kebencanaan, konsep mitigasi, penelitian yang terdahulu, serta sintesis dasar teori yang akan digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian ini. Adapun tinjauan pustaka ini bertujuan sebagai penentuan atas tindakan yang akan diambil dalam mengerjakan penelitian ini. 2.1 Kebencanaan 2.1.1 Definisi Bencana Bencana merupakan suatu rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana). Definisi lain tentang bencana menurut Carter (1991) dalam Kodoatie dan Sjarief (2010):Hal.5354) mendefinisikan bencana sebagai suatu kejadian alam atau buatan manusia, terjadi secara tiba-tiba atau progressive, yang menimbulkan dampak yang dahsyat, sehingga manusia yang terdampak atau terpengaruh harus merespon dengan tindakantindakan yang luar biasa. Sementara, menurut UNDP/UNDRO (1992), bencana merupakan semua fenomena atau situasi yang berpotensi menimbulkan kerusakan atau kehancuran pada manusia, jasa, dan lingkungan. Menanggapi banyaknya definisi mengenai bencana, Carter (1991), dalam Bambang (2012) menyimpulkan bahwa sebagian besar definisi bencana mencerminkan karakteristik : i) gangguan terhadap kehidupan 13

normal; ii) efek terhadap manusia, seperti timbulnya korban, luka/cacat, gangguan kesehatan; iii) efek terhadap struktur social; dan iv) kebutuhan masyarakat. Menurut Departemen ESDM dalam Buku Pedoman Analisis Risiko Bahaya Alam (Hal. 82), bencana sering digambarkan sebagai kombinasi paparan terhadap bahaya, yaitu dimana keadaan kerentanan (vulnerability) yang ada dan kurangnya kapasitas (capacity) atau langkah-langkah untuk mengurangi atau mengatasi yang membawa akibat negatif. Dampak bencana bisa mencakup kehilangan nyawa, terluka, penyakit dan berbagai dampak negatif terhadap fisik, mental, dan kesejahteraan sosial manusia, sekaligus mengakibatkan kerusakan pada harta, aset, hilangnya pelayanan, terganggunya fungsi sosial dan ekonomi, dan kerusakan lingkungan. 2.1.2 Definisi dan Risiko Bencana Menurut BAKORNAS PB dalam Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana di Indonesia dan Mitigasinya (2005) dijelaskan bahwa interaksi antara tingkat kerentanan (vulnerability) daerah dengan ancaman bahaya (hazards) yang ada dinamakan sebagai risiko bencana. Risiko bencana merupakan akumulasi dari faktor-faktor bahaya (hazards), kerentanan (vulnerability) dan kemampuan (capacity) masyarakat dan daerah yang bersangkutan pada tingkatan resiko yang berbeda. Semakin tinggi ancaman bahaya di suatu daerah, maka semakin tinggi pula risiko daerah tersebut terkena bencana, demikian pula semakin tinggi tingkat kerentanan masyarakat maka semakin tinggi pula risikonya. Tapi sebaliknya, semakin tinggi tingkat kemampuan masyarakatnya, maka tingkat risiko terkena bencana semakin kecil.

14

Definisi risiko bencana menurut UU No. 24 tahun 2007 adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. Terdapat beberapa macam definisi dan formulasi tentang risiko bencana serta indikatornya. Berikut adalah beberapa definisi dan formulasi beserta indikatornya yang dihimpun dari berbagai sumber : BAKORNAS Penanggulangan Bencana (2007), merumuskan indikator risiko bencana sebagai interaksi antara kerentanan (vulnerability), bahaya (hazards), dan kapasitas (capacity): Kerentanan (Vulnerability) : Suatu kondisi masyarakat yang menyebabkan ketidakmampuan menghadapi ancaman bahaya. Bahaya (Hazards) : Suatu fenomena alam atau buatan yang berpotensi mengancam kehidupan manusia, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan. Kapasitas (Capacity) : Kemampuan yang dimiliki masyarakat untuk bertahan terhadap setiap ancaman. Vicente dan de Mesa (2008) dalam Risk Mapping Towards Saving Lives in Bicol memformulasikan risiko sebagai kombinasi dari bahaya (hazards), Eksposure (exposure), dan kerentanan (vulnerability) : 15

: Dampak fisik gangguan. : Sifat Keterbukaan suatu komunitas dan prasarana fisik terhadap kemungkinan bencana, karena keberadaanya di lokasi rawan bencana. Kerentanan (Vulnerability) : Tingkat kemudahan manusia, sosio-ekonomi, kapasitas stakeholder dan komunitas untuk mempersiapkan (prepare), menyerap (absorb), serta pulih (recover) dari bahaya. Dalam IIRR Hazard Assesment, Bimas Rusty merumuskan risiko bencana sebagai kombinasi dari bahaya (hazards), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity) : Bahaya (Hazards) : Suatu kekuatan yang dihasilkan ketika kekuatan tersebut sedang bergerak. Kerentanan (Vulnerability) : Lokasi elemen yang terkena risiko bahaya [(Lokasi elemen yang terkena risiko) / (Jarak dan Waktu)] Kapasitas (Capacity) : Kemampuan suatu masyarakat maupun organisasi yang dimiliki (fisik, keuangan, dll) untuk bertahan terhadap suatu bencana. 16

Bahaya (Hazards) Eksposur (Exposure)

The Assessment Regionalization of Flood/Waterlogging Disaster Risk in Middle and Lower Reaches of Liao River of Northeast China, Hui Zhang et all, menggunakan formula untuk menentukan risiko bencana, yakni : Risk = HazardExposureVulnerabilityEmergency response and recovery capability Emergency response and recovery capability merupakan serangkaian tindakan proyek dan non-proyek yang digunakan untuk mengurangi kerugian akibat bencana, tindakan evakuasi dan penampungan, mobilitas evakuasi muncul ketika bencana terjadi, serta sumber daya yang tersedia untuk keadaan darurat dan pemulihan kapasitas dipertimbangkan. Tabulasi indikator penelitian dari sumber pustaka diatas disajikan dalam tabel berikut : Tabel 2.1. Kajian Teori Risiko Bencana Sumber BAKORNAS PB (2007) Indikator Penelitian dalam Teori Bahaya (Hazards) Kerentanan (Vulnerability) Kapasitas (Capacity) Bahaya (Hazards) Eksposur Indikator Penelitian yang akan Diteliti Bahaya (Hazard) Kerentanan (Vulnerability)

Vicente dan de Mesa

17

(Exposure) Kerentanan (Vulnerability) Bimas Rusty Bahaya (Hazards) Kerentanan (Vulnerability) Kapasitas (Capacity) The Assessment Bahaya (Hazards) Regionalization of Eksposur Flood/Waterlogging (Exposure) Disaster Risk in Kerentanan Middle and Lower (Vulnerability) Reaches of Liao Tanggap Darurat River of Northeast dan Kemampuan China, Hui Zhang Pemulihan dkk. (Emergency Response and Recovery Capability) Sumber : Kajian Teori, 2013 Dari ketiga kajian teori risiko beserta indikatornya, dapat disintesiskan bahwa penerapan definisi risiko bencana beserta indikatornya menurut Bimas Rusty dalam IIRR Hazard Assesment dan Vicente dan de Mesa (2008), diindikasikan dapat menjadi hambatan dalam pengaplikasiannya pada penelitian ini, hal ini disebabkan oleh : 1. Penjabaran definisi tentang indikator exposure secara umum telah masuk ke dalam indikator kerentanan (vulnerability). Karena pengaplikasianya dalam penelitian ini kurang efisien, sehingga indikator exposure tidak digunakan dalam penelitian ini. 18

(2008)

2. Data yang dibutuhkan untuk memenuhi indikator capacity terlalu mikro, seperti data alat peringatan dini, data jalur evakuasi, Organisasi Penanggulangan bencana di masayarakat, desa yang pernah mendapatkan pelatihan penanggulangan bencana, dan desa yang memiliki kebijakan penanggulangan bencana. Sehingga, jika indikator tersebut digunakan dalam penelitian ini dapat menemui hambatan, dikarenakan memerlukan waktu yang relatif lama untuk menelitinya dan minimnya data di kedinasan terkait. Mengingat waktu penelitian yang terbatas, maka dari itu dalam penelitian ini, faktor kapasitas tidak digunakan. 3. Faktor Emergency Response and Recovery Capability diasumsikan bahwa langkah-langkah evakuasi dan penampungan dianggap sama terjadi di seluruh wilayah penelitian, sehingga tidak digunakan dalam penelitian. Sesuai dengan definisi risiko bencana, yakni potensi kerugian yang ditimbulkan dari adanya bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu. Kerugian yang ditimbulkan dari adanya bencana dibentuk dari dua indikator yang saling berhubungan dan saling melengkapi, yakni indicator bahaya (hazard) dan indikator kerentanan (vulnerability). Karena bahaya dalam suatu bencana tidak akan menimbulkan kerugian jika tidak ada kerentanan pada obyek yang terdampak bencana, sebaliknya obyek yang memiliki kerentanan tidak akan mengalami kerugian jika tidak ada objek kerentanan yang terkena bencana. Secara skematis, hubungan antara risiko, bahaya, kerentanan, dan kejadian bencana dapat digambarkan sebagai berikut :

19

Bahaya (Hazard)
RISIKO BENCANA

Trigger Factor

BENCANA

Kerentanan (Vulnerability )

Gambar 2.1. Skema hubungan bahaya, kerentanan, risiko, dan bencana (BAKORNAS PB, 2007) Berdasarkan kajian tentang paradigma risiko bencana di atas, maka dapat disimpulkan bahwa indikator penelitian dari risiko bencana gempa bumi di wilayah penelitian yang efektif dan relevan pada penelitian ini adalah kombinasi dari keduanya, yaitu indikator hazard (bahaya) dan indikator vulnerability (kerentanan). Pada penelitian ini tidak melakukan pengkajian hazard (bahaya), karena indikator ini sudah dilakukan oleh pemerintah (given), sehingga dalam pembahasan di bab selanjutnya membahas mengenai indikator hingga variabel mengenai indikator vulnerability (kerentanan). Definisi dan sub-indikator vulnerability (kerentanan) akan dijelaskan pada sub-bab selanjutnya. 2.1.3 Gempa Bumi 2.1.3.1 Definisi Gempa Bumi Gempa bumi adalah peristiwa goncangan bumi karena penjalaran gelombang seismik dari suatu sumber gelombang kejut (shock wave) yang diakibatkan oleh pelepasan akumulasi tekanan di bawah permukaan bumi secara tiba-tiba. Sumber gempa yang paling umum ada dua, yaitu : (1) Pergerakan (slip) pada zona patahan aktif yang disebut sebagai gempa tektonik dan (2) Pergerakan magma pada aktifitas gunung api yang disebut 20

sebagai gempa vulkanik. Jenis gempa yang berkekuatan besar dan merusak adalah gempa patahan/tektonik, sedangkan gempa vulkanik biasanya kecil. Dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah mengenai gempa tektonik. Gempa bumi tektonik terjadi karena pergerakan pada bidang patahan di dalam bumi yang kemudian menghasilkan gelombang gempa yang menjalar ke sekitarnya. Titik atau wilayah episenter adalah proyeksi bidang patahan gempa pada permukaan bumi. Gempa bumi tektonik terjadi karena gesekan antar lempeng-lempeng tektonik di bawah permukaan bumi. Pergesekan ini mengeluarkan energi yang luar biasa besar dan menimbulkan goncangan di permukaan. Ketika pergeseran ini terjadi, timbul getaran yang disebut gelombang seismik. Gelombang ini menjalar menjauhi fokus gempa ke segala arah di dalam bumi. Ketika gelombang ini mencapai permukaan bumi, getarannya dapat merusak bangunan dan struktur tanah dimana bangungan berdiri. Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Pada umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 015 cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi. (PERKA BNPB No. 4 Tahun 2008, Bab 1, Hal. 1)

21

Gambar 2.2. Ilustrasi hubungan antara patahan yang ada di bumi dengan gempa bumi yang dihasilkanya. (BNPB, 2008) 2.1.3.2 Patahan Aktif Patahan adalah bidang atau zona rekahan pada kerak bumi dimana bagian bumi di kedua sisi rekahan tersebut bergerak relatif terhadap satu dengan yang lainnya. Dua bagian bumi pada kedua sisi patahan tersebut terekat satu sama lain oleh tekanan dan gaya friksi permukaannya sehingga ketika dua sisi itu bergerak secara perlahan-lahan namun zona patahannya tetap merekat sehingga tekanan pada bidang patahan ini akan terus meningkat sampai akhirnya akumulasi tekanan yang terjadi melampaui gaya rekatnya sehingga bidang rekahan tersebut pecah dan bergerak secara tiba-tiba melepaskan semua tekanan. Peristiwa pecah dan pergerakan tiba-tiba pada bidang patahan ini menimbulkan gelombang kejut (shock waves) yang kemudian menjalar ke semua arah dan menggetarkan bumi di sekitarnya yang dikenal sebagai gempa bumi. Perlu digarisbawahi bahwa 22

sumber gempa bumi tektonik adalah sebuah bidang patahan bukan berupa titik ledak. 2.1.3.3 Kekuatan dan Intensitas Gempa Bumi Besarnya gempa bumi diukur dari kekuatan dan intensitas-nya. Kekuatan atau magnitudo gempa merupakan skala gempa berdasarkan besarnya (dimensi) sumber. Skala magnitudo ini banyak dikenal oleh masyarakat sebagai Skala Richter (SR). Sebetulnya Skala Richter adalah skala magnitudo yang pertama kali dipakai yang diciptakan oleh Prof. Richter di California Instutute of Technology. Skala Richter (SR) saat ini sudah sangat jarang dipakai, namun diganti dengan parameter yang lebih modern. Dalam Skala Richter (SR), besarnya kekuatan gempa dibandingkan dengan besarnya amplitudo gelombang gempa yang terekam pada alat seismograf. Ukuran skala Richter dapat dilihat pada Tabel 2.2. Skala magnitudo yang sekarang umum dipakai yang langsung adalah magnitudo momen (Moment Magnitude, Mw), yang mana memperlihatkan perbandingan antara besarnya kekuatan gempa dengan besarnya dimensi patahan gempa dan pergerakan atau slip (displacement)-nya. Tabel 2.2. Klasifikasi Kekuatan Gempa Bumi menggunakan Skala Richter (SR) Klasifikasi Magnitudo Efek Frekuensi Kejadian Gempa (SR) Merusak di Dunia per tahun Gempa 8 Kerusakan 1x per 5-10 tahun Besar sangat besar Gempa 7.0 - 7.9 Kerusakan 3 Utama Besar Gempa 6.0 - 6.9 Kerusakan 5 23

Kuat

SedangBesar Gempa 5.0 - 5.9 Kerusakan 800 Sedang KecilSedang Gempa 4.0 - 4.9 Kerusakan 6.200 Ringan Kecil Gempa 3.0 - 3.9 Terasa, 49.000 Minor namun tidak merusak Gempa < 3.0 Tidak 350.000-3.000.000 Mikro terasa Sumber : Patrick L. Abbott, Natural Disaster (2004) Intensitas gempa menyatakan besarnya (efek) getaran/guncangan yang terjadi atau dirasakan di suatu lokasi. Besarnya guncangan tanah ini sebanding dengan besarnya kekuatan sumber gempa dan jaraknya dari sumber gempa ke lokasi tersebut. Jadi, walaupun kekuatan sumber gempanya kecil tapi kalau letaknya dekat maka guncangannya bisa besar. Sebaliknya walaupun kekuatan sumber gempanya besar tapi kalau jaraknya jauh sekali maka guncangan yang dirasakan kecil karena proses penjalaran gempa sewaktu menempuh jarak tersebut secara umum akan meredam (amplitudo) gelombang gempa menjadi semakin kecil. Skala intensitas yang biasa dipakai di Indonesia adalah skala MMI (Modified Mercalli Intensity). Skala ini adalah deskripsi guncangan dan efek gempa secara kualitatif atau hanya berdasarkan pengamatan/laporan dari efek yang dilihat/dirasakan masyarakat. Untuk ukuran yang kuantitatif biasanya yang dipakai

24

adalah besaran akselerasi tanah (Peak Ground Acceleration PGA). Tabel 2.3. Klasifikasi Kekuatan Gempa Bumi menggunakan skala MMI Skala PGA (% Efek Merusak MMI g) Sangat jarang/hampir tidak ada orang <0,1-0,19 I dapat merasakan, tapi tercatat pada alat seismograf. Terasa oleh sedikit sekali orang terutama <0,1-0,19 yang ada di gedung tinggi, sebagian II besar orang tidak dapat merasakan. Beberapa benda seperti lampu gantung terayun. Terasa oleh sedikit orang, khususnya 0,2 - 0,49 yang berada di gedung tinggi. Mobil III yang parkir sedikit bergetar, getaran seperti akibat truk yang lewat. Pada siang hari akan terasa oleh banyak 0,5 - 1,9 orang dalam ruangan, dilaur ruangan hanya sedikit yang bisa merasakan. Pada IV malam hari sebagian orang bisa terbangun. Piring, jendela, pintu, dinding mengeluarkan bunyi retakan, lampu gantung bergoyang. Dirasakan hampir oleh semua orang, 0,5 - 1,9 pada malam hari sebaian besar orang tidur akan terbangun, barang di atas V meja terjatuh, plesteran tembok retak, barang-barang yang tidak stabil akan roboh, pendulum jam dinding akan berhenti. VI Dirasakan oleh semua orang, banyak 2 - 9,9 25

VII

VIII

IX

XI

orang ketakutan/panik, berhamburan keluar ruangan, banyak perabotan yang berat bergeser, plesteran dinding retak dan terkelupas, cerobong asap pabrik rusak Setiap orang berhamburan keluar ruangan, kerusakan terjadi pada bangunan yang desain konstruksinya jelek, kerusakan sedikit sampai sedang terjadi pada bangunan dengan desain konstruksi biasa. Bangunan dengan konstruksi yang baik tidak mengalami kerusakan yang berarti. Kerusakan luas pada bangunan dengan desain yang jelek, kerusakan berarti pada bangunan dengan desain biasa dan sedikit kerusakan pada bangunan dengan desain yang baik. Dinding panel akan pecah dan lepas dari frame-nya, cerobong asap pabrik runtuh, perabotan yang berat akan terguling, pengendara mobil terganggu. Kerusakan berarti pada bangunan dengan desain konstruksi yang baik, pipa bawah tanah putus, timbul keretakan pada tanah. Sejumlah bangunan kayu dengan desain yang baik rusak, sebagian besar bangunan tembok rusak termasuk fondasinya. Retakan pada tanah akan semakin banyak, tanah longsor pada tebing-tebing sungai dan bukit, air sungai akan melimpas di atas tanggul. Sangat sedikit bangunan tembok yang masih berdiri, jembatan putus, rekahan

2 - 9,9

10 19-9

20 99-9

> 100

> 100

26

pada tanah sangat banyak/luas, jaringan pipa bawah tanah hancur dan tidak berfungsi, rek KA bengkok dan bergeser. Kerusakan total, gerakan gempa terlihat > 100 XII bergelombang di atas tanah, bendabenda beterbangan ke udara. Sumber : Patrick L. Abbott, Natural Disaster (2004) Skala magnitudo gempa bumi digunakan untuk memperkirakan besaran tenaga yang dilepaskan selama gempa bumi berlangsung. Perbandingan antara dampak yang ditimbulkan antara masyarakat dan bengunan-bangunan berdasarkan besaran skala Richter dan Mercalli dapat dilihat pada Tabel 2.4. Tabel 2.4. Klasifikasi Kekuatan Gempa Bumi menggunakan skala MMI Richter Mercalli Dampak yang PGA Magnitude Intensity dirasakan (%g) 2 I II Umumnya tidak <0,1-0,19 terasa oleh banyak orang 3 III Dirasakan orang 0,2-0,49 dalam ruangan 4 IV V Dirasakan banyak 0,5-1,9 orang 5 VI VII Dirasakan banyak 2-9,9 orang, bangunan banyak yang rusak 6 VII - VIII Orang ketakutan; 10-19,9 kerusakan sedang 27

Kerusakan mayoritas 20-99,9 Kerusakan hampir > 100 keseluruhan Sumber : Patrick L. Abbott, Natural Disaster (2004) 2.1.3.4 Kategori Bencana Gempa Bumi Berikut adalah klasifikasi gempabumi dari berbagai aspek: 1) Berdasarkan Gelombang/Getaran Gempa a. Gempa Gelombang Primer (gelombang longitudinal), Gelombang/getaran merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara 7-14 km/detik. Getaran ini berasal dari hiposentrum. b. Gempa Gelombang Sekunder (gelombang transversal), Gelombang atau getaran merambat,seperti gelombang primer dengan kecepatan yang sudah berkurang, yakni 4-7 km/detik. Gelombang sekunder tidak dapat merambat melalui lapisan cair. c. Gempa Gelombang Panjang, Gelombang panjang adalah gelombang yang merambat melalui permukaan bumi dengan kecepatan 3-4 km/detik. Gelombang ini berasal dari episentrum.dan gelombang inilah yang banyak menimbulkan kerusakan di permukaan bumi. 2) Berdasarkan Faktor Penyebab a. Gempabumi vulkanik (Gunung Api), Gempa bumi ini terjadi akibatadanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempabumi.. Gempabumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut. 28

7 8

IX-X X - XII

b. Gempa bumi tektonik, Gempabumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempabumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh perlepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tektonik plate (plat tektonik) menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik. 3) Berdasarkan Magnitude Gempa a. Gempabumi sangat besar dengan magnitude lebih besar dari 8 SR. b. Gempabumi besar magnitude antara 7 hingga 8 SR. c. Gempabumi merusak magnitude antara 5 hingga 6 SR. d. Gempabumi sedang magnitude antara 4 hingga 5 SR. e. Gempabumi kecil dengan magnitude antara 3 hingga 4 SR. f. Gempabumi mikro magnitude antara 1 hingga 3 SR. g. Gempabumi ultra mikro dengan magnitude lebih kecil dari 1 SR. 29

4) Berdasarkan Kedalaman Sumber a. Gempabumi dalam h > 300 Km. b. Gempabumi menengah 80-300 Km. c. Gempabumi dangkal h < 80 Km. 5) Berdasarkan Bentuk Episentrum: a. Gempa sentral : episentrumnya berbentuk titik b. Gempa linear : episentrumnya berbentuk garis 6) Berdasarkan Jaraknya a. Gempa sangat jauh : jarak episentrum lebih dari 10.000 km b. Gempa jauh : jarak episentrum sekitar 10.000 km. c. Gempa lokal : jarak episentrum kurang 10.000 km. 7) Berdasarkan Lokasinya a. Gempa daratan : episentrumnya di daratan. b. Gempa lautan : episentrumnya di dasar laut. Input data sumber gempa 2.1.3.5 Dampak Bencana Gempa Bumi Bencana yang dapat timbul oleh gempa bumi ialah berupa kerusakan atau kehancuran bangunan (rumah, sekolah, rumah sakit, dan bangunan umum lain) dan konstruksi prasarana fisik (jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan laut/udara, jaringan listrik dan telekomunikasi, dli), serta bencana sekunder yaitu kebakaran dan korban akibat timbulnya kepanikan (PERKA BNPB No. 4 Tahun 2008, Bab III, Hal. 9). Goncangan/getaran bumi yang dirasakan adalah fenomena gempabumi yang paling dikenal masyarakat. Efek merusak dari goncangan gempa karena penjalaran gelombang seismik ini bisa sampai radius ratusan kilometer dari sumbernya, tergantung dari besar kekuatan sumber. Makin besar magnitudo sumber akan makin besar dan jauh efek guncangan yang terjadi. 30

Itulah salah satu fakta kenapa efek penjalaran gelombang gempabumi ini paling dikenal dan diperhitungkan, yaitu karena wilayah yang terkena dampaknya bisa sangat luas, tidak hanya wilayah yang berdekatan dengan atau pada jalur patahan gempanya saja. Peta Bahaya Seismik (Seismic Hazard Map) adalah peta yang memperlihatkan estimasi besarnya goncangan tanah yang dapat terjadi di berbagai wilayah pada peta. Estimasi besar goncangan tanah ini dapat dihitung berdasarkan beberapa metoda yang akan dijelaskan dalam bab selanjutnya. Informasi tentang perkiraan bahaya goncangan gempa bumi ini dapat dipakai untuk mendesain struktur bangunan tahan (goncangan) gempa agar bangunan tidak akan mengalami kerusakan yang parah kalau digoncang sampai tingkat goncangan yang diperkirakan tersebut. Semakin tinggi tingkat ancaman bahaya di suatu daerah, maka semakin tinggi risiko daerah tersebut terkena bencana. Demikian pula semakin tinggi tingkat kerentanan masyarakat atau penduduk, maka semakin tinggi pula tingkat risikonya. Tetapi sebaliknya, semakin tinggi tingkat kemampuan masyarakat, maka semakin kecil risiko yang dihadapinya. Berdasarkan PERKA BNPB No. 4 Tahun 2008, perkiraan dampak yang terjadi dari peristiwa bencana gempa bumi, antara lain : Jumlah korban jiwa; Kerugian harta benda, meliputi rumah, bangunan perkantoran kantor, dll; Kerusakan prasarana dan sarana, meliputi jalan, jembatan, saluran air bersih, gas, listrik, telekomunikasi, dll; Cakupan luas wilayah yang terdampak bencana; dan Dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. 31

2.1.3.6 Proses Terjadinya Bencana Gempa Bumi Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).

Gambar 2.2. Jalur Lempeng Tektonik Bumi (www.bmkg.go.id/bmkg_pusat) Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya 32

sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati (collision), dan saling geser (transform). Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi. 2.1.4 Kerentanan (Vulnerability) Bencana Gempa Bumi Kerentanan (vulnerability) adalah tingkat kemungkinan suatu objek bencana yang terdiri dari masyarakat, struktur, pelayanan atau daerah geografis yang mengalami kerusakan atau gangguan akibat dampak bencana atau kecenderungan sesuatu benda yang rusak dan mahkluk yang menjadi korban akibat bencana (Sutikno, 1994; UNDP/UNDRO, 1992). Tingkat kerentanan (vulnerability) perkotaan di Indonesia adalah suatu hal penting untuk diketahui sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya bencana, karena bencana baru akan terjadi bila bahaya terjadi pada kondisi yang rentan, seperti yang dikemukakan Awotona (1997:1-2): ... natural disasters are the interaction between natural hazards and 33

vulnerable condition. Tingkat kerentanan dapat ditinjau dari kerentanan fisik (infrastruktur), sosial, kependudukan, dan ekonomi. Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, kerentanan bencana adalah suatu kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang berkurang kemamapuanya dalam mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemamapuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. Anderson dan Woodrow dalam Badar (2012) mengelompokkan kerentanan kedalam 3 kelompok, yaitu kerentanan fisik (physical/material vulnerability), kerentanan Sosial/organisasi (social/organizational vulnerability), dan kerentanan motivasi/tingkah laku (motivational/attitudinal vulnerability). Maskrey (1998) dalam Ariquint (2011), mengelompokkan kerentanan (vulnerability) kedalam 9 aspek kerentanan, diantaranya : 1. Physical Vulnerability, yakni komunitas yang berada di lokasi yang memiliki kecenderungan bahaya. 2. Technical Vulnerability, yakni struktur dan infrastruktur yang tidak mampu bertahan (rusak) ketika bencana terjadi, misalnya: rumah, jalan, jembatan, saluran irigasi, dll. 3. Economic Vulnerability, yakni ketidakcukupan aset dan cadangannya untuk mengatasi kerugian/ kerusakan yang diderita; berkurangnya pembedaan ekonomi.

34

4. Enviromental Vulnerability, yakni berkurangnya keanekaragaman hayati; ketidakmampuan ekosistem untuk bertahan dan pemulihan diri (recovery). 5. Social Vulnerability, yakni ukuran keluarga, eksistensi komunitas organisasi dan mekanisme pendukung sosial; struktur umur komunitas; perbedaan gender; diskriminasi ras, etnik, dan agama, dll. 6. Political Vulnerability, yakni tingkat partisipasi dalam perumusan keputusan, eksistensi kegiatan kesewenangwenangan dan korupsi, kejahatan politik, dan mekanisme resolusi keadilan dan konflik. 7. Cultural Vulnerability, yakni sistem kepercayaan dan perhatian terhadap bahaya, kerentanan, dan bencana. 8. Educational Vulnerability, yakni berkurangnya informasi atau mis-informasi perhatian terhadap skenario resiko. 9. Institutional Vulnerability, yakni menurunnya pelayanan publik, perencanaan, persiapan darurat, dan respon, dll. Menurut BAKORNAS PB dalam Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia (2007), tingkat kerentanan dapat ditinjau dari kerentanan fisik (infrastruktur), sosial kependudukan, ekonomi, dan lingkungan. 1. Kerentanan fisik (infrastruktur), menggambarkan suatu kondisi fisik yang rawan terhadap faktor bahaya (hazard) tertentu. Melihat dari berbagai indikator sebagai berikut : persentase kawasan terbangun; kepadatan bangunan; persentase bangunan konstruksi darurat; jaringan listrik; rasio panjang jalan; jaringan telekomunikasi; jaringan PDAM; dan jalan KA. 2. Kerentanan sosial, menggambarkan kondisi tingkat kerapuhan sosial dalam menghadapi bahaya (hazard). Pada 35

kondisi sosial yang rentan maka jika terjadi bencana dapat dipastikan akan menimbulkan dampak kerugian yang besar. Dari beberapa indikator antara lain kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, persentase penduduk usia tuabalita, dan penduduk wanita. 3. Kerentanan ekonomi, menggambarkan besarnya kerugian atau rusaknya kegiatan ekonomi (proses ekonomi) yang terjadi bila terjadi ancaman bahaya. Indikator yang dapat kita lihat menunjukkan tingginya tingkat kerentanan ini misalnya adalah persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan dan persentase rumah tangga miskin persentase rumah tangga miskin. 4. Kerentanan lingkungan, menggambarkan hidup suatu masyarakat sangat mempengaruhi kerentanan. Masyarakat sangat mempengaruhi kerentanan, Masyarakat yang tinggal di daerah yang rentan dari segi kondisi lingkungan yang mudah terkena bencana. Menurut PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana, kerentanan (vulnerability) merupakan suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam mengahadapi ancaman bencana. Kerentanan ini dapat berupa : 1. Kerentanan Sosial Kondisi sosial masyarakat juga mempengaruhi tingkat kerentanan terhadap ancaman bahaya. Kondisi social ini terdiri dari kondisi kepadatan penduduk, rasio jenis kelamin, rasio kemiskinan, rasio orang cacat, dan kelompok umur. 2. Kerentanan Ekonomi 36

Kemampuan ekonomi berhubungan dengan suatu individu atau masyarakat sangat menentukan tingkat kerentanan terhadap ancaman bahaya. Kondisi ekonomi terdiri dari PDRB per sektor dan kondisi penggunaan lahan kawasan budidaya produktif. 3. Kerentanan Fisik Secara fisik bentuk kerentanan yang dimiliki masyarakat berupa daya tahan menghadapi bahaya tertentu, misalnya kepadatan bangunan, kepadatan fasilitas umum, ketersediaan fasilitas kritis. 4. Kerentanan Lingkungan Indikator yang digunakan untuk kerentanan lingkungan adalah kondisi penutupan lahan kawasan lindung, seperti hutan lindung, hutan alam, hutan bakau, dan semak belukar. Menurut PERKA BNPB No. 4 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana, kerentanan (vulnerability) merupakan suatu keadaan atau sifat/perilaku manusia atau masyarakat yang menyebabkan ketidakmampuan menghadapi bahaya atau ancaman. Kerentanan ini dapat berupa : 1. Kerentanan Fisik Secara fisik bentuk kerentanan yang dimiliki masyarakat berupa daya tahan menghadapi bahaya tertentu, misalnya kepadatan bangunan rumah bagi masyarakat yang berada di daerah rawan gempa. 2. Kerentanan Ekonomi Kemampuan ekonomi suatu individu atau masyarakat sangat menentukan tingkat kerentanan terhadap ancaman bahaya. Pada umumnya masyarakat atau daerah yang miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya, 37

karena tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana. 3. Kerentanan Sosial Kondisi sosial masyarakat juga mempengaruhi tingkat kerentanan terhadap ancaman bahaya. Dari segi pendidikan, kekurangan pengetahuan tentang risiko bahaya dan bencana akan mempertinggi tingkat kerentanan, demikian pula tingkat kesehatan masyarakat yang rendah juga mengakibatkan rentan menghadapi bahaya. 4. Kerentanan Lingkungan Lingkungan hidup suatu masyarakat sangat mempengaruhi kerentanan. Masyarakat yang tinggal di daerah yang kering dan sulit air akan selalu terancam bahaya kekeringan. Penduduk yang tinggal di lereng bukit atau pegunungan rentan terhadap ancaman bencana tanah longsor akibat gempa bumi dan sebagainya. Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (PU) No.21/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi, kerentanan (vulnerability) merupakan suatu kondisi atau karakteristik biologis, geografis, sosial, ekonomi, politik, budaya, dan teknologi masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan menanggapi dampak bahaya/bencana alam tertentu. Kerentanan dikaitkan dengan kemampuan manusia untuk melindungi dirinya dan kemampuan untuk menanggulangi dirinya dari dampak bahaya/bencana alam tanpa bantuan dari luar. Tabulasi sub-indikator penelitian dari sumber pustaka diatas disajikan dalam table berikut : 38

Tabel 2.5. Kajian Teori Indikator Kerentanan Bencana Gempa Bumi Sub-Indikator Sub-Indikator Penelitian Sumber Penelitian Yang Akan dalam Teori Digunakan UU No. 24 Geologis Lingkungan Tahun (Enviromental Biologis 2007 Vulnerability) Hidrologis Fisik (Physical Klimatologis Vulnerability) Geografis Sosial (Social Sosial Vulnerability) Budaya Ekonomi Politik (Economic Ekonomi Vulnerability) Teknologi Anderson dan kerentanan fisik Woodrow (physical/material (1989) vulnerability) kerentanan sosial/organisasi (social/organizatio nal vulnerability) kerentanan motivasi/tingkah laku (motivational/ attitudinal vulnerability). Maskrey (1998) Physical dalam Ariquint Vulnerability (2011) Technical Vulnerability Economic 39

BAKORNAS PB, 2007

PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012 PERKA BNPB No. 4 Tahun 2008 PERMEN PU No.21/PRT/ M/2007

Vulnerability Enviromental Vulnerability Social Vulnerability Political Vulnerability Cultural Vulnerability Educational Vulnerability Institutional Vulnerability Fisik (Infrastruktur) Sosial Kependudukan Ekonomi Lingkungan Sosial Ekonomi Fisik Lingkungan Fisik Ekonomi Sosial Lingkungan Biologis Geografis Sosial Ekonomi Politik Budaya 40

Teknologi Sumber : Kajian Teori, 2013 Dari sub-indikator dalam indicator kerentanan (vulnerability) tersebut, dapat disintesakan bahwa : Sub-Indikator kerentanan lingkungan secara umum telah meliputi kerentanan ekologi. Secara umum meliputi subindikator kerentanan geologis, kemiringan tanah, dan penggunaan lahan. Sub-indikator kerentanan fisik secara umum telah meliputi sub-indikator kerentanan struktur, dan infrastruktur. Sub-indikator kerentanan biologis, budaya, politik, teknologi, motivasi, pengetahuan, dan institusi adalah subindikator yang kurang berpengaruh terhadap penelitian ini, karena secara umum konteks kerentanan bencana gempa bumi tidak memiliki keterkaitan dengan sub-indikator tersebut. Sub-indikator lingkungan, fisik, sosial, dan ekonomi adalah sub-indikator yang berpengaruh dalam penentuan tingkat kerentanan gempa bumi di wilayah penelitian, karena bencana gempa bumi berdampak pada aspek lingkungan, fisik, sosial, dan ekonomi pada wilayah penelitian. Berdasarkan karakteristik umum bencana gempa bumi dapat disimpulkan bahwa sub-indikator dalam indicator kerentanan (vulnerability) bencana gempa bumi yang relevan untuk diaplikasikan pada penelitian ini adalah sub-indikator lingkungan, fisik, sosial, dan ekonomi. Definisi dan penjelasan sub-indikator turunan dari indikator kerentanan (vulnerability) akan dijelaskan pada sub - bab selanjutnya.

41

2.1.4.1 Variabel Kerentanan Lingkungan, Penyebab Suatu Daerah Rentan terhadap Bencana Gempa Bumi Menurut BAKORNAS PB dalam Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia (2007), Kerentanan lingkungan menggambarkan hidup suatu masyarakat sangat mempengaruhi kerentanan. Masyarakat sangat mempengaruhi kerentanan, Masyarakat yang tinggal di daerah yang rentan dari segi kondisi lingkungan yang mudah terkena bencana. Aspek lingkungan berkaitan dengan kerentanan lokasi penelitian yang dipengaruhi oleh kondisi kemiringan tanah (slope), geologi, dan jenis penggunaan lahan. Kondisi topografi berkaitan dengan kondisi kemiringan lahan terkait dengan kelandaian bentuk permukaan tanah. Kondisi geologi berkaitan dengan sifat fisik dan jenis tanah. Lalu yang terakhir yaitu Kondisi penggunaan lahan, yang berkaitan dengan jenis peruntukan lahan yang digunakan sebagai kawasan budidaya maupun kawasan lindung. Menurut PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Kajian dan Pemetaan Risiko Bencana, Indikator yang digunakan untuk kerentanan lingkungan adalah kondisi penutupan lahan kawasan lindung, seperti hutan lindung, hutan alam, hutan bakau, dan semak belukar. Berdasarkan Peraturan Menteri PU Nomor 21/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi, tingkat kerentanan (vulnerability) kawasan rawan gempa bumi dibentuk berdasarkan indicator diantaranya adalah kondisi geologi, kondisi kemiringan tanah (slope), dan penggunaan lahan. 1. Kondisi Geologi (Sifat Fisik Batuan) Merupakan pencerminan dari kondisi kekuatan batuan didalam menerima beban dan tekanan. Semakin 42

kuat suatu batuan di dalam menerima beban dan tekanan, maka akan semakin stabil terhadap kemungkinan longsor dan amblasan, terutama pada saat terjadi goncangan kawasan rawan gempa bumi. Selain itu aspek sifat fisik batuan dilihat juga dari sisi kekompakannya, kekerasannya maupun material pembentuknya. Untuk itu ada beberapa kelompok jenis batuan yang dibedakan berdasarkan pengkelasan tersebut. Urutan pertama menunjukkan kelompok batuan yang relatif kompak, lebih resisten terhadap gempa dan lebih stabil terhadap kemungkinan longsoran dan amblasan. Urutan selanjutnya nilai kemampuannya semakin mengecil. Kelompok batuan tersebut yaitu : a. Kelompok A : Andesit, Granit, Diorit, Metamorf, dan Breksi Volkanik, b. Kelompok B : Aglomerat, Breksi Sedimen, dan Konglomerat. c. Kelompok C : Batupasir, Tuf Kasar, Batulanau, Arkose, Greywacke, dan Batu Gamping d. Kelompok D : Pasir, Lanau, Batu Lumpur, Napal, Tuf Halus, dan Serpih e. Kelompok E : Lempung, Lumpur, Lempung Organik, dan Gambut. 2. Kondisi Kemiringan Tanah (Slope) Kemiringan lereng dapat memberikan gambaran tingkat stabilitas terhadap kemungkinan terjadinya longsoran atau runtuhan tanah dan batuan, terutama pada saat terjadi kawasan rawan gempa bumi. Semakin terjal lereng maka potensi untuk terjadinya gerakan tanah dan batuan akan semakin besar, walaupun jenis batuan yang menempatinya cukup berpengaruh untuk tidak terjadinya 43

longsoran. Informasi kemiringan lereng yang dipakai untuk zonasi kerawanan bencana ini, memakai klasifikasi lereng yang dibuat oleh Van Zuidam (1988), yaitu: a. 0-8 : datar (almost flat) b. 8-15 : landai (gently sloping) c. 15-25 : miring (sloping) d. 25-45 : curam (steep) e. >45 : terjal (extremely steep) Wilayah dengan kemiringan lereng antara 0% hingga 15% akan stabil terhadap kemungkinan longsor, sedangkan di atas 15% potensi untuk terjadi longsor pada saat kawasan rawan gempa bumi akan semakin besar. 3. Kondisi Penggunaan Lahan Untuk mengetahui kaitan antara kerentanan lokasi penelitian yang dipengaruhi oleh jenis penggunaan lahan, pada Peraturan Menteri PU Nomor 21/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi, terdapat arahan peraturan zonasi untuk masing-masing tipe kawasan rentan akan bencana gempa bumi, mulai dari : a. Tipe A Pada kawasan rawan gempa bumi tipe A untuk kawasan perkotaan dapat juga dikembangkan kegiatan perdagangan dan perkantoran, permukiman, hutan kota, pariwisata, serta industri dengan tingkat kerentanan rendah. Begitu pula dengan kawasan rawan gempa bumi di perdesaan. Kegiatan pertanian, perikanan, pertambangan rakyat, permukiman, perdagangan dan perkantoran, perkebunan, dan 44

b.

c.

d.

e.

kehutanan dapat dilakukan syarat-syarat tingkat kerentanan rendah. Tipe B Kawasan rawan gempa bumi tipologi B dapat dikembangkan untuk kegiatan budi daya seperti pada kawasan rawan gempa bumi tipologi A namun harus memenuhi syarat-syarat tingkat kerentanan sedang dan rendah. Tipe C Kawasan rawan gempa bumi tipologi C juga dapat dikembangkan untuk kegiatan budi daya seperti pada kawasan rawan gempa bumi tipologi A maupun B, namun kegiatan pertambangan tidak boleh dilakukan pada kawasan tipologi C. Syaratsyarat tingkat kerentanan yang harus dipenuhi pada kawasan rawan gempa bumi tipologi ini adalah tingkat kerentanan sedang dan tinggi. Tipe D Pada kawasan rawan gempa bumi tipologi D tidak diperbolehkan mengembangkan kegiatan budi daya mengingat tingkat kerawanan akibat gempa dapat membahayakan. Namun kegiatan pariwisata (wisata sosiokultural dan agro-kultural) masih dapat dikembangkan secara terbatas dengan ketentuan bangunan tahan gempa, (kerentanan sedang dan tinggi). Tipe E Kawasan rawan gempa bumi tipologi E tidak dapat dikembangkan untuk kegiatan budi daya mengingat tingkat bahaya yang diakibatkan sangat tinggi. Kawasan ini mutlak harus dilindungi. 45

f.

Tipe F Seperti pada kawasan rawan gempa bumi tipologi E, kawasan rawan gempa bumi tipologi F juga tidak dapat dikembangkan untuk kegiatan budi daya mengingat tingkat bahaya yang diakibatkan sangat tinggi. Untuk itu penggunaan ruang diutamakan sebagai kawasan lindung.

Tabel 2.6. Kajian Teori Sub-Indikator Kerentanan Lingkungan Suatu Daerah Rentan terhadap Gempa Bumi Variabel Variabel Penelitian Sumber Penelitian yang Digunakan dalam Teori BAKORNAS Kemiringan Kemiringan tanah PB (2007) tanah (slope), (slope) Geologi Geologi (sifat fisik batuan) Jenis penggunaan Jenis penggunaan lahan. lahan. Patahan PERKA BNPB Penutupan lahan No. 2 Tahun kawasan lindung, 2012 (hutan lindung, hutan alam, hutan bakau, dan semak belukar) Peraturan Kemiringan Menteri PU tanah (slope), Nomor Geologi 21/PRT/M/2007 Jenis penggunaan lahan. Sumber : Kajian Teori Penulis, 2013 46

Dari beberapa variabel diatas dapat disintesakan bahwa : Variable kemiringan tanah (slope) dipilih karena sangat berpengaruh terhadap ketahanan struktur tanah dan jenis penggunaan lahan diatasnya. Jika semakin curam (steep) suatu permukaan tanah, semakin tinggi pula tingkat kerentananya terhadap bencana gempa bumi. Variabel geologi dipilih karena berpengaruh terhadap komposisi batuan terhadap ketahanan (kestabilan) batuan apabila bencana gempa bumi terjadi. Variabel jenis penggunaan lahan dipilih karena dapat mempengaruhi tingkat kerusakan yang ditimbulkan dari bencana gempa bumi, khususnya jenis penggunaan lahan budidaya dan lindung. Variabel patahan tidak dipilih, karena sudah tercantumkan dalam peta bahaya (hazard).

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa variabel kerentanan lingkungan bencana gempa bumi yang relevan untuk diaplikasikan pada penelitian ini adalah variable kemiringan tanah, geologi, dan jenis penggunaan lahan. 2.1.4.2 Variabel Kerentanan Fisik, Penyebab Suatu Daerah Rentan terhadap Bencana Gempa Bumi Menurut Federal Emergency Management Agency (2004) dalam buku pedoman Using HAZUS-MH for Risk Assessment, menjelaskan alur yang berbeda dengan konsep kerentanan (vulnerability) sebelumnya yang disusun hanya berdasarkan pada prakiraan kerugian yang ditanggung suatu wilayah. Parameter kerentanannya secara umum dijabarkan sebagai aset-aset yang dimiliki oleh suatu wilayah (inventory assets), yang 47

berpotensi terkena dampak bencana. Variabel kerentanan tersebut mencakup bangunan yang meliputi, fasilitas penting (essential facilities), sepertii : fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, pemerintahan, keamanan, dan olahraga), fasilitas khusus (berupa gudang penyimpanan material berbahaya, dan bangunan yang memiliki nilai historis), jalur transportasi dan utilitas, dan statistik demografi wilayah. Menurut PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012 Tentang Panduan Pemetaan dan Kajian Risiko Bencana, indikator yang digunakan dalam kerentanan fisik meliputi jenis bangunan permukiman (permanen, semi permanen, dan non-permanen) dan ketersediaan bangunan/fasilitas umum. Berdasarkan Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana di Indonesia dan Mitigasinya (2005), kerentanan teknik (struktur dan infrastruktur) menggambarkan perkiraan tingkat kerusakan terhadap fisik bila ada indikator berbahaya (hazard) tertentu, yang dapat dilihat dari berbagai variabel sebagai berikut: Persentase kawasan terbangun Kepadatan pemukiman / bangunan Jaringan listrik Rasio panjang jalan Jaringan telekomunikasi Jaringan PDAM Jalan KA Tabel 2.7. Kajian Teori Sub-Indikator Kerentanan Fisik Suatu Daerah Rentan terhadap Gempa Bumi Variabel Penelitian Variabel Penelitian Sumber dalam Teori yang Digunakan Federal Fasilitas penting Jenis konstruksi Emergency 48

Management Agency (2004)

PERKA BNPB No 2 Tahun 2012

Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana di Indonesia dan Mitigasinya (2005)

Fasilitas khusus Jalur transportasi Jalur utilitas Statistik demografi wilayah Jenis konstruksi permukiman (permanen, semi permanen, dan nonpermanen) Ketersediaan bangunan/fasilitas umum Persentase kawasan terbangun Kepadatan pemukiman/ bangunan Rasio panjang jalan Jaringan telekomunikasi Jaringan listrik Jaringan PDAM Jalan KA

permukiman (permanen, semi permanen, dan non-permanen) Kepadatan permukiman Rasio panjang jalan

Sumber : Kajian Teori Penulis, 2013 Dari beberapa variable diatas dapat disintesakan bahwa : Variable kepadatan permukiman memiliki fungsi dan peran yang sama dengan persentase area terbangun, maka variable tersebut dianggap sama dengan variabel persentase area terbangun, sehingga dalam penelitian ini digunakan salah satunya yakni kepadatan bangunan.

49

Variabel jenis konstruksi permukiman, kepadatan bangunan, dan rasio panjang jalan, merupakan variable yang dapat diukur untuk diperkirakan tingkat kerusakanya bila terjadi bencana gempa bumi. Variabel jalan KA tidak dipilih, karena pada wilayah penelitian tidak terdapat lintasan rel KA. Variabel jaringan listrik, jaringan telekomunikasi, dan jaringan PDAM tidak digunakan dalam penelitian ini karena minimnya dampak pada gangguan bencana gempa bumi terhadap utilitas tersebut. Maka, variable jaringan listrik, telekomunikasi, dan jaringan PDAM diasumsikan tidak berpengaruh pada penelitian ini dan tidak digunakan dalam penelitian ini. Variabel statistik demografi wilayah tidak dipilih karena variabel tersebut akan digunakan dan dibahas pada kelompok variabel kerentanan sosial. Variabel Fasilitas umum dan fasilitas penting tidak dipilih, karena memiliki peran dan fungsi sama dengan variable penggunaan lahan dalam sub-indikator kerentanan lingkungan. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa variabel kerentanan fisik bencana gempa bumi yang relevan untuk diaplikasikan pada penelitian ini adalah variable jenis konstruksi permukiman (permanen, semi permanen, dan nonpermanen), Kepadatan permukiman, dan Rasio panjang jalan. 2.1.4.3 Variabel Kerentanan Sosial, Penyebab Suatu Daerah Rentan terhadap Bencana Gempa Bumi Berdasarkan dari Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana di Indonesia dan Mitigasinya (2005) kerentanan social menunjukkan perkiraan tingkat kerentanan terhadap keselamatan 50

jiwa kesehatan penduduk apabila ada bahaya dari beberapa subindikator antara lain: kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, persentase penduduk usia tua-balita dan penduduk wanita. Serupa dengan teori sebelumnya, dalam PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012 tentang Panduan Pemetaan Kajian Risiko Bencana, Indikator yang digunakan untuk kerentanan sosial adalah kepadatan penduduk, rasio jenis kelamin, rasio kemiskinan, rasio penduduk cacat, dan rasio kelompok umur. Menurut modul Penilaian Resiko (2005), dijelaskan bahwa kerentanan (vulnerability) adalah sekumpulan kondisi atau suatu akibat keadaan (faktor fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan) yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Adapun indikatorindikator yang berpengaruh dalam kondisi sosial adalah pendidikan, kesehatan, politik, hukum, dan kelembagaan. Tabel 2.8. Kajian Teori Indikator Kerentanan Sosial Suatu Daerah Rentan terhadap Gempa Bumi Variabel Penelitian Variabel Penelitian Sumber dalam Teori yang Digunakan Panduan Kepadatan Kepadatan Pengenalan penduduk, penduduk Karakteristik Laju pertumbuhan Laju pertumbuhan Bencana di penduduk penduduk Indonesia dan Persentase Persentase Mitigasinya penduduk usia tua penduduk usia (2005) balita tua-balita dan wanita Penduduk wanita Persentase PERKA BNPB Kepadatan penduduk No. 2 Tahun penduduk penyandang cacat. 2012 Persentase jenis 51

kelamin Persentase kemiskinan, Persentase penduduk cacat Rasio kelompok umur Penilaian Resiko Pendidikan, (2005) Kesehatan Politik Hukum Kelembagaan. Sumber : Kajian Teori Penulis, 2013 Dari beberapa sub-indikator diatas dapat disintesakan

bahwa : Kepadatan penduduk dipilih karena apabila semakin padat penduduk wilayah tersebut maka semakin rentan keselamatan jiwa para penduduk tersebut. Presentase penduduk usia tua-balita, wanita dan penyandang cacat dipilih karena semakin banyak suatu daerah berpenduduk usia tua-balita dan penyandang cacat maka daerah tersebut semakin rentan terhadap bahaya (hazard) yang ditimbulkan. Sedangkan untuk variable penduduk wanita dipilih, karena secara fisik wanita lemah. Hal ini berhubungan dengan upaya penyelamatan diri (self escape). Laju pertumbuhan penduduk dipilih karena untuk mengetahui tingkat laju pertumbuhan penduduk, apabila semakin tinggi lajunya, maka semakin rentan pula wilayah tersebut akan dampak bahaya gempa bumi. 52

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa variabel kerentanan sosial bencana gempa bumi yang relevan untuk diaplikasikan pada penelitian ini adalah sub-sub-indikator kepadatan penduduk, Presentase penduduk usia tua-balita, penduduk wanita, dan penyandang cacat, serta laju pertumbuhan penduduk. 2.1.4.4 Variabel Kerentanan Ekonomi, Penyebab Suatu Daerah Rentan terhadap Bencana Gempa Bumi Dalam Modul Penilaian Resiko (2005), dijelaskan bahwa kerentanan (vulnerability) adalah sekumpulan kondisi atau suatu akibat keadaan (faktor fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan) yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Adapun variabel-variabel yang berpengaruh dalam kondisi ekonomi adalah kemiskinan, penghasilan dan nutrisi. Sedangkan, menurut Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana di Indonesia dan Mitigasinya (2005), menunjukan perkiraan tingkat kerentanan terhadap keselamatan jiwa atau komunitas yang beraktifitas di lokasi yang rentan terhadap bahaya. Sub-indikator yang dapat menunjukkan tingginya tingkat kerentanan ini misalnya adalah persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan (jenis pekerjaan yang terkena dampak negatif dari adanya bencana gempa bumi, misalnya : pertambangan). Serupa dengan teori sebelumnya, dalam PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012 tentang Panduan Pemetaan Kajian Risiko Bencana, Indikator yang digunakan untuk kerentanan ekonomi adalah luas lahan produktif (sawah, perkebunan, lahan pertanian, dan tambak) dan PDRB.

53

Tabel 2.9. Kajian Teori Indikator Kerentanan Ekonomi Suatu Daerah Rentan terhadap Gempa Bumi Variabel Variabel Sumber Penelitian Penelitian dalam Teori yang Digunakan Modul Penilaian Kemiskinan Kemiskinan Resiko (2005) Penghasilan Presentase rumah tangga yang Nutrisi bekerja di sektor Panduan Persentase rumah rentan. (tambang) Pengenalan tangga yang Karakteristik bekerja di sektor Bencana di rentan Indonesia & Mitigasinya (2005) PERKA BNPB luas lahan No. 2 Tahun produktif 2012 PDRB Sumber : Kajian Teori Penulis, 2013 Dari beberapa sub-indikator diatas dapat disintesakan bahwa : Variabel kemiskinan dipilih karena berkaitan dengan tingkat pengetahuan penanganan bencana, simulasi ketika bencana dating. Selain itu juga berkaitan dengan keadaan ekonomi, dimana menggambarkan kemampuan seseorang (rumah tangga) untuk dapat pulih akibat dampak yang ditimbulkan akibat bencana gempa bumi tersebut. Variabel persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan dipilih karena indikator tersebut relevan terhadap penelitian, dimana bencana gempa bumi diindikasikan memiliki dampak terhadap beberapa jenis pekerjaan 54

tertentu, dalam hal ini jenis pekerjaan pertambangan. Sehingga jika bencana gempa bumi terjadi, maka dapat menimbulkan kerugian jiwa dan materi Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa variabel kerentanan sosial bencana gempa bumi yang relevan untuk diaplikasikan pada penelitian ini adalah variabel kemiskinan dan persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan. 2.1.5 Konsep Mitigasi Bencana Menurut Sudiharjo (2010), dengan merujuk pada literaturliteratur tentang mitigasi bencana dinyatakan bahwa mitigasi (bencana) adalah bagian dari manajemen bencana (disaster management) atau manajemen darurat (emergency management). Manajemen bencana meliputi : persiapan, dukungan, dan pembangunan kembali suatu masyarakat yang terkena bencana alam (natural disaster) atau bencana buatan (man-made disaster). Manajemen bencana adalah suatu proses yang harus diselenggarakan terus menerus oleh segenap pribadi, kelompok, dan komunitas dalam mengelola seluruh bahaya (hazards) melalui usaha-usaha meminimalkan akibat dari bencana yang mungkin timbul dari bahaya tersebut (mitigasi). Menurut PERKA BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penaggulangan Bencana, Upaya atau kegiatan dalam rangka pencegahan dan mitigasi yang dilakukan, bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana serta mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bencana. Tindakan mitigasi dilihat dari sifatnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu mitigasi pasif dan mitigasi aktif. 55

Tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi pasif antara lain adalah: 1. Penyusunan peraturan perundang-undangan 2. Pembuatan peta risiko bencana dan pemetaan masalah. 3. Pembuatan pedoman/standar/prosedur 4. Pembuatan brosur/leaflet/poster 5. Penelitian /pengkajian karakteristik bencana 6. Pengkajian / analisis risiko bencana 7. Internalisasi PB dalam muatan lokal pendidikan 8. Pembentukan organisasi atau satuan gugus tugas bencana 9. Perkuatan unit-unit sosial dalam masyarakat, seperti forum 10. Pengarus-utamaan PB dalam perencanaan pembangunan Sedangkan tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi aktif antara lain: 1. Pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan, bahaya, larangan memasuki daerah rawan bencana dsb. 2. Pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan tentang penataan ruang, ijin mendirikan bangunan (IMB), dan peraturan lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana. 3. Pelatihan dasar kebencanaan bagi aparat dan masyarakat. 4. Pemindahan penduduk dari daerah yang rawan bencana ke daerah yang lebih aman. 5. Penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat. 6. Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur evakuasi jika terjadi bencana. 7. Pembuatan bangunan struktur yang berfungsi untuk mencegah, mengamankan dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana, seperti: tanggul, dam, penahan erosi pantai, bangunan tahan gempa dan sejenisnya. 56

Ada kalanya kegiatan mitigasi ini digolongkan menjadi mitigasi yang bersifat non-struktural (berupa peraturan, penyuluhan, pendidikan) dan yang bersifat struktural (berupa bangunan dan prasarana). Sedangkan menurut buku Panduan Mitigasi Bencana yang dikeluarkan oleh UNDP, mitigasi bencana adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk pada semua tindakan untuk mengurangi dampak dari satu bencana yang dapa dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakantindakan pengurangan risiko jangka panjang. Mitigasi bencana mencakup baik perencanaan dan pelaksanaan tindakan-tindakan untuk mengurangi risiko-risiko yang terkait dengan bahayabahaya karena ulah manusia dan bahaya alam yang sudah diketahui, dan proses perencanaan untuk respon yang efektif terhadap bencana-bencana yang benar-benar terjadi. Mitigasi bencana yang efektif harus memiliki 3 unsur utama, yaitu penilaian bahaya, peringatan, dan persiapan (Ella Yulaelawati dan Umar Syihab, 2008) 1. Penilaian Bahaya (Hazard Assesment) Penilaian bahaya diperlukan untuk mengidentifikasi populasi dan aset yang terancam, serta tingkat ancaman. Penilaian ini memerlukan pengetahuan tentang karakteristik sumber bencana, probabilitas kejadian bencana, serta data kejadian bencana di masa lalu. Tahapan ini menghasilkan peta bencana yang sangat penting untuk merancang kedua unsur mitigasi lainnya; Peta potensi bencana harus dibuat berdasarkan analisis peta-peta yang tersedia. Peta yang paling lazim sebagai peta dasar adalah peta topografi atau Peta Rupabumi Indonesia (RBI). Peta RBI selalu berisi data kontur yang dapat dipakai untuk menghitung lereng. Peta RBI juga selalu berisi data hidrografi (sungai, danau, pantai), jaringan transportrasi 57

(termasuk jaringan listrik dan komunikasi), vegetasi (hutan, sawah), pemukiman (termasuk gedung dan bangunan), batas administrasi dan nama-nama geografis (toponim). 2. Peringatan (Warning) Tahap peringatan diperlukan untuk memberi peringatan kepada masyarakat tentang bencana yang akan mengancam (seperti bahaya tsunami yang diakibatkan oleh gempa bumi, aliran lahar akibat letusan gunung berapi, dsb). Sistem peringatan didasarkan pada data bencana yang terjadi sebagai peringatan dini serta menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk memberikan pesan kepada pihak yang berwenang maupun masyarakat. Peringatan terhadap bencana yang akan mengancam harus dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan dipercaya. 3. Persiapan (Preparedness) Kegiatan kategori ini tergantung kepada unsur mitigasi sebelumnya (penilaian bahaya dan peringatan), yang membutuhkan pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena bencana dan pengetahuan tentang sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus melakukan evakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman. Selain itu jenis persiapan lainnya adalah perencanaan tata ruang yang menempatkan lokasi fasilitas umum dan fasilitas sosial di luar zona bahaya bencana (mitigasi non struktur), serta usahausaha keteknikan untuk membangun struktur yang aman terhadap bencana dan melindungi struktur akan bencana (mitigasi struktur). Berdasarkan teori tentang mitigasi tersebut, perumusan zonasi risiko bencana gempa bumi merupakan suatu upaya mitigasi atau upaya penanggulangan bencana dalam bentuk non58

struktural agar masyarakat dan pemerintah daerah memiliki gambaran tentang tingkat risiko bencana gempa bumi pada kawasan tersebut, sehingga dapat meminimalisir dampak bencana gempa bumi yang terjadi. 2.2 Studi-Studi Terkait Bencana Gempa Bumi A. Makrozonasi dan Mikrozonasi Kerentanan Bencana Gempa Bumi di Wilayah Ende sebagai Data Dasar Perencanaan dan pengembangan Wilayah Saputra, Suhami, dan Mulyasari (2010) melakukan penelitian tentang penerapan makrozonasi dan mikrozonasi kerentanan bencana gempa bumi ke dalam bidang peraturan zonasi di tingkat kabupaten dan kota sebagai data dasar penilaian bencana gempa bumi untuk peraturan zonasi yang dimanfaatkan dalam pedoman pengendalian pemanfaaatn ruang dan pengembangan wilayah. Dalam paper penelitiannya, disebutkan bahwa di Kota Ende, Flores terdapat sesar aktif yang dikenal dengan sesar naik bawah permukaan laut Busur Belakang Flores. Sesar aktif ini berpotensi menimbulkan gempa bumi yang merusak. Tercatat berintensitas maksimum antara VII-IX MMI, dimana intensitas tersebut dapat menimbulkan cirri kerusakan luas pada bangunan, cerobong asap pabrik roboh, dan keretakan tanah. Metode yang digunakan dalam penelitian Saputra, Suhami, dan Mulyasari yakni dimulai dari evaluasi kebencanaan gempa bumi yang sifatnya regional yang terdiri dari kondisi geologi dan penilaian risiko bencana gempa berdasarkan kebolehjadian bencana gempa. Lalu dilakukan analisis kebencanaan gempa bumi menggunakan model percepatan probabilistic (Seis Risk III) dan model atenuasi Fukushima dan Tanaka (1990).

59

Selain itu Penilaian kebencanaan gempa bumi lokal terdiri atas determinasi sifat fisik dan respon spektrum batuan dan tanah (mikrotemor) secara regional (kabupaten) dan lokal (kota dan kecamatan). Selanjutnya yang langkah terakhir berupa penilaian risiko geologi (bencana dan kerentanan) serta implementasinya. Saputra, Suhami, dan Mulyasari, menyimpulkan Mikrozonasi (periode dominan, amplifikasi, dan kerentanan) Kota Ende dapat digunakan sebagai data dasar kerentanan bencana untuk evaluasi penilaian risiko tingkat kota dan zona kerentanan bencana gempa bumi dapat dijadikan parameter dan informasi untuk pembuatan peraturan zonasi rencana tata ruang dan wilayah ke dalam. B. Mikro-Zonasi Tingkat Potensi Resiko Bencana Gempa Bumi di Wilayah Pesisir Provinsi Bengkulu untuk Mendukung Mitigasi Bencana Arif Ismul Hadi, M. Fauzi, Jefrizon dan M. Farid (2013), melakukan penelitian tentang potensi resiko gempa bumi di Provinsi Bengkulu. Menurut Peneliti peta yang dapat menggambarkan zonasi tingkat potensi resiko gempa bumi adalah peta persepatan getaran maksimum (PGA/Peak Ground Acceleration). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai PGA sebagai parameter kekuatan getaran tanah akibat gempa bumi di beberapa titik disepanjang pesisir Provinsi Bengkulu dengan cara zonasi, lalu membuat peta kontur sebaran nilai PGA, dan menganalisa tingkat resiko bencana. Adapun variable-variabel yang peneliti gunakan adalah percepatan getaran tanah permukaan (gal), periode dominan tanah titik pengamatan, magnitude gempa (SR), sejarah kejadian gempa (1912-2013), dan Jarak Hiposentrum. 60

Wilayah yang menjadi objek penelitian adalah wilayah di sepanjang pesisir Provinsi Bengkulu yang meliputi: Kabupaten (Kab.) Muko-muko, Kab. Bengkulu Utara, Kab. Bengkulu Tengah, Kota Bengkulu, Kab. Seluma, Kab. Bengkulu Selatan, dan Kab. Kaur. Penentuan titik zonasi penelitian dilakukan mengacu pada wilayah kecamatan yang ada di masing-masing kabupaten dan kota di sepanjang pesisir Provinsi Bengkulu dengan bantuan Software Google Earth. Dari masing-masing kecamatan tersebut diambil titik-titik data yang meliputi data posisi dan ketinggian dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) serta data periode dominan tanah di lokasi tersebut secara mikrozonasi dengan menggunakan Seismometer portable TDL-303. Rekaman data seismik dianalisis spektrum gelombangnya dengan menggunakan Software Datapro dan Geopsy, sehingga diperoleh data frekuensi diri dominan tanah maupun periode dominan tanah. Data historis gempa dan periode dominan tanah digunakan sebagai parameter input untuk menentukan nilai percepatan getaran tanah maksimum di masing-masing lokasi. Nilai PGA pada permukaan di tiap lokasi dipilih satu nilai PGA tahunan yang terbesar berdasarkan persamaan. Selanjutnya dibuat peta kontur mikro-zonasi PGA dengan Software ArcMap GIS versi 9.3. Berdasarkan peta kontur sebaran nilai PGA di wilayahwilayah tersebut, tingkat potensi resiko bencana untuk periode gempa 25 tahun, 50 tahun, dan 75 tahun beresiko sedang tiga s.d. resiko sangat besar satu pada skala intensitas (MMI) antara skala VI s.d. VIII. Untuk periode 100 tahun tingkat potensi resiko gempa berada pada resiko sedang tiga s.d. resiko sangat besar dua pada skala intensitas (MMI) antara skala VI s.d. IX. Tingkat potensi resiko gempa bumi untuk daerah yang mempunyai nilai 61

PGA besar mempunyai dampak resiko sangat besar terhadap kejadian gempa bumi. 2.3 Sintesis Tinjauan Pustaka Berdasarkan hasil tinjauan teoritis menunjukkan bahwa bencana gempa bumi merupakan kejadian di alam yang terjadi karena adannya peristiwa alam maupun manusia yang mengakibatkan beberapa kerugian dan ancaman, sehingga mengganggu kehidupan normal masyarakat serta memberikan efek gangguan. Sebagai upaya meminimalkan dampak tersebut diperlukan pengetahuan mengenai bahaya dan kerentanan agar dapat dirumuskan zonasi risiko bencana gempa bumi di Kecamatan Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Dampit, Tirtoyudo, dan Ampelgading; Kabupaten Malang sebagai upaya mitigasi bencana, dimana pemetaan daerah rawan bencana ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan sebagai upaya penanggulangan bencana. Sesuai dengan sasaran penelitian yang ingin dicapai, maka paradigma risiko bencana, mitigasi bencana dan teori-teori mengenai gempa bumi dapat disintesiskan menjadi beberapa indikator dalam pentuan zonasi risiko (risk) gempa bumi. Dalam merumuskan risiko bencana penelitian ini hanya memperhatikan indikator bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability) saja, hal ini dikarenakan indikator kemampuan (capacity) memerlukan waktu yang lama untuk menelitinya dan data yang ada lapangan sangat terbatas, sehingga penentuan variabel yang diambil dari sintesis tinjauan pustaka adalah penentuan zona kerentanan (vulnerability) ditentukan oleh sub indikator kerentanan lingkungan, fisik, sosial, dan kerentanan ekonomi.

62

Sub-indikator kerentanan lingkungan berkaitan dengan kerentanan lokasi penelitian yang dipengaruhi oleh variabel kemiringan lahan terkait dengan kelandaian bentuk permukaan tanah, kondisi geologi (jenis bebatuan), kondisi guna lahan terkait dengan jenis peruntukan lahan yang digunakan sebagai kawasan budidaya maupun kawasan lindung. Dalam sub-indikator kerentanan fisik, dalam penelitian ini menggunakan variabel jenis konstruksi bangunan, kepadatan bangunan, dan variabel rasio jalan yang terdampak. Dimana variabel jenis konstruksi bangunan, terdiri dari jenis bangunan permanen, semi permanen, dan tidak permanen, lalu untuk variabel kepadatan bangunan ini dapat mewakili keberadaan areal yang rawan terhadap kemungkinan bencana tersebut. Sedangkan variabel jaringan jalan terkait dengan rasio panjang jalan yang terkena efek kerusakan gempa bumi, yang berhubungan dengan kerugian material. Dalam sub-indikator sosial menggunakan dalam penelitian ini menggunakan variabel kepadatan penduduk, persentase penduduk usia tua-balita, penduduk wanita, dan persentase penduduk penyandang cacat. Kepadatan penduduk merupakan hal yang mutlak dalam penilaian kerentanan bencana. Hal ini karena dengan semakin padatnya suatu kawasan yang rawan terhadap bencana, maka jelas akan semakin rentan masyarakat yang ada di kawasan tersebut. Dengan semakin rentan masyarakat yang ada di wilayah tersebut tentunya akan berdampak pula terhadap kerentanan wilayah tersebut. Lalu, untuk penggunaan variabel persentase penduduk usia tua dan balita terkait dengan upaya evakuasi penyelamatan jika terjadi bencana gempa bumi, 63

hal serupa juga berhubungan dengan persentase penduduk wanita dan penduduk penyandang cacat. Sedangkan dalam sub-indikator kerentanan ekonomi, variabel yang digunakan adalah sektor pekerja yang bekerja di sektor rentan dan persentase rumah tangga miskin, dimana yang dimaksud dengan sektor rentan dalam penelitian ini, contohnya adalah pekerja yang bekerja di sektor pertambangan. Untuk variabel persentase rumah tangga miskin, terkait dengan ketidakmampuan suatu keluarga untuk menghindar dari suatu bencana dan kemampuan untuk pulih kembali dari keadaan setelah bencana.

Tabulasi indikator dan sub-indikator yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 2.10. Sintesa Tinjauan Pustaka SubIndikator Variabel yang Akan No. Sumber Penelitian Diteliti yang Akan Diteliti 1. Mengidentifikasi karakteristik kerentanan (vulnerability) Bencana Gempa Bumi Kerentanan 1. Kemiringan tanah UndangLingkungan (slope) Undang 2. Jenis penggunaan Nomor 24 lahan Tahun 2007; 3. Geologi (jenis Bakornas batuan) Penanggulanga Kerentanan 1. Jenis konstruksi n Bencana Fisik bangunan (2007) 2. Kepadatan 64

permukiman 3. Rasio panjang jalan Kerentanan 1. Kepadatan Sosial Penduduk (jiwa/ha) 2. Laju pertumbuhan penduduk 3. Perbandingan Usia Tua- Balita 4. Penduduk Wanita 5. Persentase penduduk penyandang cacat. Kerentanan 1. Persentase rumah Ekonomi tangga miskin 2. Persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan 2. Merumuskan Zonasi Risiko (risk) Bencana Gempa Bumi Panduan Bahaya Peta Karakteristik Pengenalan (Hazard) Bahaya Bencana Karakteristik Gempa Bumi bencana dan Kerentanan Peta Karakteristik Mitigasinya di (vulnerability) Bahaya Bencana Indonesia, 2007 Gempa Bumi Sumber : Kajian Teori, 2013

Peraturan Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2008

65